Dismenore dan Tatalaksana

Dismenore (dysmenorrhea) berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu “dys” artinya sulit/nyeri, “meno” artinya bulan, “rrhea” artinya aliran/arus. Maka dismenore didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi saat menstruasi. Terdapat dua jenis dismenore, yaitu dismenore primer (nyeri menstruasi tanpa disertai kelainan panggul) dan dismenore sekunder (nyeri menstruasi disertai kelainan panggul).

Faktor risiko terjadinya dismenore antara lain menstruasi berat, siklus menstruasi tidak teratur, usia kurang dari 30 tahun, kekerasan seksual, haid pertama kali di usia <12 tahun, kurang gizi, obesitas, riwayat keluarga, dan merokok.

Dismenore primer dapat terjadi akibat produksi prostaglandin yang berlebihan oleh endometrium. Produksi prostaglandin ini dipengaruhi oleh kadar progesteron, yang meningkat pada saat atau segera setelah menstruasi dimulai. Prostaglandin ini menyebabkan kontraksi uterus sehingga dirasakan nyeri pada saat menstruasi. Dismenore sekunder dapat terjadi akibat endometriosis, adenomiosis, polip, tumor, infeksi, dan perlekatan.

Dismenore terjadi 6 – 12 bulan dari menstruasi pertama kali, selama siklus menstruasi, dan berlangsung selama 8 – 72 jam. Keluhan yang berkaitan dengan dismenore adalah nyeri punggung dan paha, sakit kepala, diare, mual dan muntah. Ada pula keluhan lain seperti nyeri saat berhubungan seksual, darah menstruasi yang terlalu banyak, perdarahan setelah senggama, dan perdarahan diantara jadwal menstruasi yang seharusnya.

Dokter akan mendiagnosis dismenore dengan menanyakan karakteristik nyeri menstruasi, riwayat infeksi atau keputihan, dan riwayat keluarga; dokter juga akan melakukan pemeriksaan panggul dan organ genital; bila perlu, dokter akan melakukan ultrasonografi transvaginal.

Tes lain yang berguna termasuk tes kehamilan gonadotropin chorionik manusia pada urin; usap vagina dan serviks, hitung darah lengkap, tingkat sedimentasi eritrosit pada urin, dan urinalisis. Sitologi serviks juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan keganasan. MRI dapat digunakan sebagai pilihan diagnostik lini kedua

Terapi utama adalah obat anti inflamasi non-steroid seperti asam mefenamat dan ibuprofen. Pengobatan harus dilakukan satu sampai dua hari sebelum onset menstruasi dan dilanjutkan dengan jadwal tetap selama dua sampai tiga hari. Selain itu, dapat juga digunakan kontrasepsi hormonal sebagai pengobatan dismenore. Terapi lain selain obat-obatan adalah dengan berolah-raga dan kompres hangat.

Referensi
1. Obstetrics and gynecology. 3th ed. Baltimore, MD: Lippincott Williams & Wilkins; 2016
2. aafp.org/Diagnosis and initial management of dysmenorrhea
3. PNPK. Tatalaksana Nyeri Haid pada Endometriosis. 2013

Posted in Obsgyn.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *