PERANAN SENAM DIABETES DALAM PREVENSI PRIMER

Diabetes Mellitus (kencing manis) merupakan penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah baik puasa maupun  setelah makan yang kadarnya melebihi nilai normal. Penyakit ini sudah lama dikenal, bahkan sejak 1500 tahun SM,  dan sekarang jumlah penderitanya semakin bertambah. Sebagai penyakit metabolik kronik, dapat diartikan bahwa selama metabolisme berlangsung maka akan selalu ada. Pendek kata penyakit ini dapat diderita seumur hidup, atau tidak dapat dikatakan sembuh, tetapi dapat dikontrol dengan baik tergantung pada penderitanya sendiri. Dokter, perawat, ahli gizi, edukator diabetes hanya memfasilitasi dan memotivasi agar pasien dapat mengelola diabetes dengan baik sehingga terhindar dari komplikasi.

Patofisiologi atau perjalanan penyakit diabetes ini pada dasarnya akibat dari berkurangnya pengeluaran insulin dari sel beta pankreas dan gangguan pada reseptor insulin di jaringan hati dan otot. Dengan demikian gula tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga kadarnya didapatkan meningkat dalam darah. Penyakit ini kadang tidak disertai dengan gejala, dan banyak kasus yang ditemukan secara kebetulan pada waktu periksa di pusat layanan kesehatan. Gejala klasik yang sering didapatkan adalah banyak kencing, terutama malam hari yang disebut poliuria, merasa lapar dan ingin makan terus yang disebut polifagia dan selalu merasa haus atau  polidipsia. Jumlah penderita ini semakin banyak ditemukan dan kejadiannya cenderung muncul di usia yang lebih muda. Perubahan pola hidup dan  pola makan sangat besar pengaruhnya. Di jaman yang serba digitalisasi aktifitas fisik cenderung berkurang, sedangkan keinginan makan cenderung meningkat. Ketidak seimbangan antara asupan karbohidrat dan aktifitas fisik inilah yang memicu munculnya penyakit diabetes.

Prinsip pengelolaan diabetes adalah dengan diet atau pengeloaan makan, exercise atau olah raga yang teratur minimal 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu, dan minum obat atau memakai insulin secara teratur. Banyak pengertian yang sering kali tidak tepat di masyarakat seperti misalnya penggunaan insulin, dianggap penyakitnya sudah parah atau akan ketergantungan seumur hidup,  kemudian adanya diabetes tipe kering dan tipe basah serta penggunaan obat kimiawi yang akan mempercepat kerusakan ginjal. Informasi tersebut perlu diluruskan agar pasien mendapatkan informasi yang benar. Penggunaan Insulin diperlukan apabila pasien dirawat di Rumah sakit untuk menjalani operasi, perawatan luka diabetes pada kaki, atau  pada penderita diabetes yang kurus. Ketergantungan pada insulin dari luar hanya  didapatkan pada penderita diabetes tipe 1 di mana sel beta pankreas penghasil insulin rusak secara total. Berbeda dengan diabetes tipe 2, yang kerusakannya hanya sebagian, sehingga pada diabetes tipe 2 dapat menggunakan obat penurun gula darah, insulin atau kombinasi keduanya. Pada diabetes yang terjadi pada saat kehamilan juga diperlukan insulin untuk mengendalikan gula darah. Kerusakan pada ginjal yang sering dianggap karena kebanyaan obat, sebenarnya akibat kerusakan pembuluh darah kecil pada ginjal (mikroangiopati) akibat tingginya kadar gula darah. Hal yang sama juga bisa terjadi pada mata yang disebut retinopati. Apabila bila kerusakan pembuluh darah terjadi pada pembuluh yang besar (makroangiopati), maka bisa muncul komplikasi stroke, penyakit jantung koroner maupun penyakit kaki diabetes,

Mengingat begitu banyak komplikasi dari diabetes, maka upaya pencegahan primer maupun upaya promotif perlu ditingkatkan. Edukasi secara kelompok maupun mandiri, penggunaan media sosial baik tulis maupun audiovisual sangat bermanfaat dalam upaya tersebut.

Olah raga atau senam diabetes sudah lama dikenal dan semakin banyak masyarakat yang turut aktif.  Senam diabetes bermanfaat karena dapat menurunkan kadar gula darah, mengaktifkan reseptor insulin pada otot, memperbaiki keluhan pada muskuloskeletal atau otot dan sendi, serta mengurangi kebutuhan obat maupun insulin. Olah raga atau senam pada diabetes seyogyanya memenuhi unsur-unsur, Continuous yang berarti dilakukan secara terus menerus, rhythmical yang berarti berirama di mana otot melakukan kontraksi dan relaksasi, interval yang berarti kadang cepat kadang lambat secara kontinyu, progresif yang artinya beban ditingkatkan secara bertahap dan endurance yang artinya dapat meningkatkan ketahanan dan kebugaran tubuh. RS Panti rapih memiliki kelompok senam diabetes yang dinamakan PIDD (Pusat Informasi Diabetes dan Dislipidemia), yang melakukan senam secara rutin tiap hari minggu jam 07.00-08.00 yang sementara ini bertempat di lobby Lt 2 Gedung Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih.  Pada peringatan Hari Diabetes sedunia (World Diabetes Day) tahun 2018 senam diselenggarakan di pelataran parkir embung Nglangeran dengan latar belakang Gunung api purba yang sangat mempesona. Kegiatan ini sekaligus memasyarakatkan senam di kalangan awam. Bagi pasien, keluarga atau anggota masyarakat dapat bergabung dengan kelompok senam tersebut dan terbuka untuk umum.

Rumah Sakit Panti Rapih memiliki juga Klub Diabetica dan Dislipidemia yang mengadakan pertemuan rutin setiap bulan genap hari Minggu ke-2 pukul 09.00.  Jika tertarik baik untuk mengikuti pertemuan Klub maupun mengikuti kegiatan senam, informasi lebih lanjut dapat ditanyakan melalui nomor telepon Rumah Sakit Panti Rapih (0274-563333).

 

Oleh:

dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD

(Dokter Spesialis Bagian Penyakit Dalam-Endokrinologi RS Panti Rapih)

Bayi Jo & Gangguan Pendengaran

Anak imut nan menggemaskan dan aktif itu bernama Johanes Arjuna Mahardika Sihombing, dia seperti anak kebanyakan aktif tidak mau diam dan lucu. Putera pertama dari Cesilia Kurnia dan Sabat Immanuel Sihombing ini seperti anak kebanyakan, tak ada yang menyangka anak tampan tersebut harus sudah memakai alat bantu pendengaran di kedua telinganya.

Sang Ayah yang berprofesi sebagai marketing sebuah produk mobil Jepang kenamaan mulai merasa ganjil saat mengamati putera kesayangannya tersebut, yang tidak pernah merasa terganggu dengan suara sekeras apapun, si kecil Jo tdk pernah menoleh ke asal sumber suara, beruntung ia memiliki ayah yang peka dengan perkembangannya.Diskusi panjang antara ayah dengan sang ibu yg juga Perawat RS Panti Rapih yang bertugas di ruang anak ini kemudian menghasilkan kesepakatan bahwa mereka harus melakukan cek up terhadap Putera kesayangan mereka.

Mereka membawa putranya ke RS Panti Rapih menemui dr. Agus Surono, PhD, M.Sc, Sp. THT – KL. Hasil konsultasi dan pemeriksaan, dokter menyarankan untuk pemeriksaan OAE. OAE (Oto Accoustic Emission) adalah skrining (deteksi dini) atau tes pendengaran bayi baru lahir yang menangkap emisi pada koklea, dan hasilnya adalah REFER yg artinya tidak ada respon suara sama sekali pada kedua telinganya. Tak dapat dipungkiri kekecewaan dan kesedihan meliputi hati orang tua Jo, bayi yang dilahirkan spontan pada tanggal 11 September 2017 dengan berat badan 2325 gr.

Orang tua Jo segera menempuh langkah langkah untuk penegakan diagnosa supaya gangguan pendengaran yang di alami putranya tidak menghambat tumbung kembang Jo.

Orang tua Jo menemui dr. Ashadi P, M.Sc, Sp. THT – KL di RS Panti Rapih, dan dokter menyarankan untuk pemeriksaan lanjutan BERA. Brain Evoked Response Auditory (BERA) adalah pemeriksaan pendengaran yang dilakukan pada anak umur 1-3 tahun dan ASSR (Auditory Steady-State Response) adalah sebuah pemeriksaan pendengaran objektif, hasilnya pun menunjukan bahwa Jo mengalami Profound Hearing Loss / Gangguan Pendengaran kategori Berat yaitu di tingkat >110 db pada telinga kanan maupun yg kiri.

Menurut Nia demikian ibu Jo biasa dipanggil, penyebab Jo mengalami gangguan pendengaran seperti penjelasan dokter adalah akibat terserang virus rubella saat masa kehamilan. Ibu Jo mengungkapkan selama masa kehamilan yang dirasakan adalah gatal – gatal diseluruh tubuh yang dialami selama 9 bulan penuh dimasa kehamilannya. Ibu muda berusia 30 thn ini mengatakan tidak mengetahui jika terdapat virus rubella saat mengandung Jo, ia merasa biasa – biasa saja, hingga kemudian ia menyadari putranya tersebut mengalami gangguan pendengaran.

Menurut beberapa sumber, hal yang sering menjadi penyebab gangguan pendengaran pada anak adalah saat hamil si ibu mendapat serangan virus misal campak, cacar, rubella, cacar air atau varicella dan virus-virus lain termasuk infeksi gondong. Jika salah satu atau beberapa virus ini menyerang ibu hamil, anak berisiko terkena total deafness atau gangguan pendengaran.
Gangguan pendengaran pada anak

umumnya sulit untuk disadari oleh orang tua maupun orang lain yang berinteraksi dengan si bayi. Orangtua seringnya tidak menyadari bayi mereka mengalami gangguan pendengaran hingga saat anak mulai bertambah usia mulai bertanya tanya kok anaknya sudah mulai besar tapi belum juga lancar bicara. Gangguan pendengaran sejak masa bayi atau balita akan berpengaruh pada kemampuan berbahasa, sosial, dan emosionalnya.

Menurut Nia, dr. Agus Surono, PhD, M.Sc, Sp. THT – KHL membenarkan bahwa gangguan pendengaran yang teratasi dengan alat bantu dengar seawal mungkin akan mencegah anak menjadi gagap dan bahkan bisu, namun tidak semua anak yang menggunakan alat bantu pendengaran bisa mendengar dan berbicara maksimal seperti yang diharapkan, ada solusi lain selain menggunakan ABD ( alat batu dengar ) yaitu dengan Operasi Implan Koklea, tetapi itupun juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Saat ini Jo pun telah memakai alat bantu dengar di kedua telinganya, orang tua Jo berharap tumbuh kembang putra mereka akan seperti anak – anak biasa lainnya. Maka mengapa alat bantu dengar sangat di perlukan sejak dini seperti halnya pada bayi Jo, yang sejak usia 12 bulan sudah memakai alat bantu dengar. Kini Jo bisa mendengar suara dan berisiknya dunia, dunia bayi lucu itu tidak lagi sunyi dan si bayi yang adalah harapan kedua orang tuanya akan tumbuh sehat sempurna sekalipun mengalami gangguan pendengaran.

Setiap tanggal 3 Maret diperingati sebagai World Hearing Day (WHD) atau Hari Pendengaran Sedunia. Pendengaran yang sehat berawal dari telinga sehat. Pendengaran yang sehat akan meningkatkan kualitas hidup dan produktifitas untuk mencapai kebahagiaan. Oleh sebab itu setiap orang tua hendaknya melakukan pemeriksaan/deteksi dini adanya gangguan pendengaran pada anak anak sejak dini.
Berdasarkan data WHO diperkirakan ada sekitar 360 juta (5.3%) orang di dunia mengalami gangguan cacat pendengaran, 328 juta (91%) diantaranya adalah orang dewasa (183 juta laki-laki, 145 juta perempuan) dan 32 juta (9%) adalah anak-anak (data Kemenkes 2018).

Bayi Jo dan bayi – bayi yang lain yang mengalami gangguan pendengaran dan dideteksi sejak dini diharapan bakal tumbuh normal seperti anak anak biasa, jika anak yg lain memerlukan kacamata dan memakainya , begitupula Jo memakai alat bantu dengarnya dan ia terlihat keren dan tetap lucu.

Semoga kelak jadi anak harapan orang tua dan Tuhan, Johanes Arjuna Mahardika Sihombing.

Saat ini Nia juga menjadi salah satu anggota komunitas Rumah Ramah Rubella, dimana komunitas ini menjadi ajang berbagi antar ibu – ibu yang memiliki pengalaman yang sama.

 

Oleh :
Katharina indah Aryanti
(Perawat RS Panti Rapih Yogyakarta)
Dari berbagai sumber

Penyintas Kanker

Kanker adalah sel-sel abnormal dalam tubuh yang membelah tak terkendali dan mampu menyerang jaringan lain. Sel-sel kanker dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh melalui darah dan sistem limfe.

Hari Kanker Sedunia dirayakan setiap tanggal empat Februari untuk meningkatkan kesadaran terhadap kanker dan mendorong pencegahan, deteksi, serta pengobatan kanker. Hari Kanker Sedunia dibentuk oleh Union for International Cancer Control untuk mendukung Deklarasi Kanker Dunia yang dibuat pada tahun 2008.

Deteksi dini penyakit kanker dapat meningkatkan kesembuhan pasien. Biaya tes deteksi dini pun jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya perawatan penderita kanker stadium lanjut yang menyebar ke organ tubuh lainnya. Karena itu, sangat penting bagi tiap orang untuk melakukan deteksi dini kanker.

Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer, terdapat sekitar 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian akibat sel kanker.

Ibu Sapti Pudyandari merupakan seorang penyintas kanker, ibu dua putra dan nenek satu cucu ini mengetahui dirinya terkena kanker serviks setelah melakukan check up karyawan di RS panti Rapih pada tahun 2016. Hasil pap smear menunjukan papanicolaou kelas tiga yang artinya harap cek ulang. Kemudian beliau memeriksakan ke dokter obsgyn dan ginekologi untuk melakukan pengecekan. Hasil papsmear yang di dapatkan adalah  papanicolaou kelas empat. Dokter menyarankan agar dikonsulkan dokter ginekologi onkologi RS Sardjito untuk dilakukan biopsi. Hasil biopsi didapatkan Ca serviks 1a. Dokter mengatakan bahwa jarang sekali menemukan pasien dengan stadium yang sangat awal karena pada umumnya pasien datang sudah pada stadium lanjut  dikarenakan sakit sering tidak dirasakan.

Bu Sapti yang berdinas di Instalasi Laboratorium RS Panti Rapih  ini kemudian menjalani serangkaian operasi dan kemoterapi. Berhubungan deteksi dini dilakukan sehingga kesembuhan bisa diraih dan bu Sapti kembali sehat tanpa kanker di tubuhnya.

Penyintas kanker yang lain adalah Rahayuningsih yang biasa dipanggil mbak Yayuk. Perawat IGD ini menemukan benjolan tidak normal di payudara kirinya dan segera mengkonsultasikan dengan dokter dan dianjurkan untuk dilakukan biopsi agar mengetahui sel kanker ganas atau bukan. Setelah terindikasi ganas, pengangkatan payudara dan serangkaian kemoterapi serta radiasi di lakukannya. Oleh karena terdeteksi dini, sehingga sel kanker belom menyebar ke organ tubuh lain. Kini mbak Yayuk ibu dari dua putra dan satu putri ini telah meraih kesembuhannya.

Masih banyak penyintas kanker lain yg berhasil sembuh karena mendeteksi dini penyakitnya. Waspada dan perhatikan perubahan tubuh anda, segera mencari tahu sejak awal apa yg sedang terjadi dalam tubuh anda tanpa menunggu terkulai lemah dan terlambat

Apakah anda merasa perlu mendeteksi dini status kesehatan anda? Jangan tunggu sakit dan parah, lakukan segera dan tetaplah sehat. Kunjungi dokter- dokter terpercaya di RS Panti Rapih yang akan dengan senang hati membantu anda. Tetaplah sehat mendampingi putra putri meraih masa depan dan panjang umur untuk hidup menjadi berkat. Semoga menginspirasi.

 

Oleh: Katharina Indah Aryanti

(Perawat RS Panti Rapih Yogyakarta)

Tuberculosis(TB) dan Pelayanan Pojok Dots RS Panti Rapih

Tanggal 24 maret adalah hari Tuberculosis (TB) sedunia, dan menderita penyakit TB bukanlah berakhirnya dunia, dengan semangat dan ketekunan serta kedisliplinan pengobatan niscaya TB dapat di sembuhkan.

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri Mycobakterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penularan kuman Mycobacterium Tuberculosis penyebab TBC (yang resminya disingkat TB) ditularkan melalui droplet atau bercak dahak dari pasien yang terinfeksi. Penularan hanya terjadi ketika daya tahan tubuh seseorang berada dalam kondisi sangat lemah. Kondisi sangat lemah tersebut seperti lansia, bayi, penderita HIV/AIDS, penderita Diabetes,penderita kanker dan penyakit penyakit yang menurunkan daya tahan tubuh.

Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan Cina. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar 140.000 kematian disebabakan oleh TB. Di Indonesia Tuberkulosis (TB) adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia.

Pentingnya edukasi kepada penderita untuk disiplin dalam pengobatan mampu mencegah penularan kuman yg resistensi terhadap OAT (Obat Anti TB). Apabila pasien yang menderita TB dan terpapar obat atau telah mendapat pengobatan namun kemudian belum sembuh sudah putus obat maka kuman yg akan di tularkan termasuk kuman yang resisten terhadap OAT (Obat Anti TB) dan hal ini akan mempersulit penyembuhan penderita TB. Penderita TB RO (TB Resisten Obat) inilah yg berisiko menularkan TB yang resisten obat dimana nanti OAT menjadi tidak efektif lagi. TB resisten bisa terjadi akibat pengobatan TB yang tidak tepat atau tidak standar. Misalnya akibat pasien tidak meminum obat dengan disiplin atau menghentikan pengobatan sebelum saatnya. Bisa pula akibat petugas kesehatan memberikan obat kurang tepat, seperti panduannya, dosis dan lama pengobatan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menjadi acuan menegakkan diagnosa apakah kita menderita TB atau tidak yaitu TBC dapat dideteksi melalui pemeriksaan dahak. Beberapa tes pendukung lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit menular ini adalah foto Rontgen dada, tes darah, atau tes kulit (Mantoux).Setelah kita benar benar terdiagnosa TB maka dokter akan memberikan kita OAT(obat anti TB), obat yang harus diminum rutin selama waktu tertentu dan dalam pantauan dokter.

Maka Pojok DOTS menjadi penting keberadaannya di setiap fasilitas kesehatan untuk memantau secara serius penderita penderita yang sedang dalam pengobatan TB.DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) adalah strategi penyembuhan TB jangka pendek dengan pengawasan langsung yang telah direkomendasikan oleh WHO sejak tahun 1993. DOTS adalah strategi yang paling efektif saat ini untuk menangani pasien TB, dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95 persen. Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung.

Pokok bahasan kali ini mengenai TB atau Tuberkulosis, yang di kenal sebagai TBC pada orang dewasa dan istilah flek pada anak anak dan pelayanan Pojok DOTS di RS Panti Rapih.

Menurut Ibu Sutini,AMd.Kep perawat Rumah Sakit Panti Rapih yang menggawangi Pojok DOTS, menyebut terdapat penderita baru sekitar. 50-70 penderita setiap tri wulan di setiap tahunnya. Menurut Ibu Sutini yang sudah berkarya sebagai perawat Rumah Sakit Panti Rapih sejak tahun 1989 ini, kasus terkait TB terus meningkat.

Pojok DOTS  di RS panti Rapih, dilayani oleh lima perawat terlatih di bawah koordinasi ibu Sutini,Amd.Kep perawat lulusan Akper Panti Rapih dan Pojok DOTS Panti Rapih telah melakukan pelayanan sejak Desember tahun 2000 bekerja sama dengan Dinas Kesehatan kota, Provinsi dan fasilitas pelayanan kesehatan lain sehingga semua penderita TB yang melakukan pengobatan terpantau dengan tujuan supaya tidak terputus obatnya.

Ibu Sutini menyebutkan pelayanan Pojok DOTS sudah berlangsung sekitar sembilan belas tahun ini, bisa dilakukan apabila pasien yg merasa menderita TB melakukan pemeriksaan ke dokter dan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk penegakan diagnose, dan kemudian setelah diagnosa pasti dokter akan merujuk ke Pojok DOTS untuk akses obat dan serangkaian edukasi dengan harapan kelak kemudian hari pasien tersebut tidak putus obat dan tidak menjadi sumber penularan kuman TBC yang tahan terhadap obat Anti TB.

Pasien yang telah didiagnosa TB akan masuk ke Pojok DOTS untuk mendapatkan penyuluhan tentang penyakit TB, hal-hal yang harus dilakukan untuk menghindari penularan kepada orang lain serta proses pengobatan untuk menuju kesembuhan.

Apakah anda atau keluarga anda merasa perlu untuk memastikan terkena TB atau tidak, segera datang ke RSPR menemui dokter dokter Spesialis Paru Paru terbaik, tegakkan diagnosa dan raih kesembuhan dan melanjutkan hidup sehat tanpa TB, TB bisa disembuhkan, bersama Panti Rapih sahabat untuk hidup sehat.

 

Penulis: Katharina Indah Aryanti

(Perawat Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Cegah Stroke! Jangan biarkan Anda Menjadi Salah Satu Penderita Stroke

Stroke merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia selain serangan jantung dan kanker. Stroke juga penyebab kecacatan yang paling sering. Kemajuan teknologi kedokteran diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kecatatan, teknologi mutahir saat ini sudah diterapkan sebagai salah satu metode kuratif (pengobatan) bagi pasien yg mengalami Serangan Jantung, Stroke dan Kanker.

Pengobatan kuratif tidak selalu dapat menjadi andalan. Karena tidak semua tindakan kuratif memberikan hasil yang baik atau kesembuhan yang sempurna. Pada kasus stroke bila sudah terjadi kematian sel otak akibat sumbatan pembuluh darah di otak, maka sel-sel ini tidak akan dapat membaik sehingga menimbulkan kecacatan bagi pasien.

Lain hal nya bila kita mencegah sebelum serangan itu terjadi. Tindakan prevensi atau mencegah lebih baik daripada mengobati karena tidak terdapat kerusakan sel atau jaringan yang dapat menimbulkan kecacatan. Tahun 2019 ini bertepatan dengan Hari Stroke Sedunia pada tanggal 29 Oktober mengajak semua orang untuk melakukan pencegahan serangan stroke pada diri masing-masing. Tema yang diangkat adalah Dont be the one. Tema ini diangkat karena kegelisahan dunia bahwa 1 dari 4 orang dapat terjadi serangan stroke. Bila ditarik ke tahun 2012 dimana saat ini risiko stroke adalah 1 dari 6, maka saat ini kejadian stroke lebih banyak dibandingkan tahun 2012.

Stroke adalah sebuah final dari pejalanan penyakit. Penyakit-penyakit yang berjalan inilah yang menjadi faktor risiko terjadinya stroke. Faktor risiko stroke terbagi menjadi 2 bagian yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat diubah anatara lain Jenis kelamin, Umur dan Ras. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak terserang stroke daripada wanita. Umur lebih dari 40 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi daripada umur yang lebih muda.

Faktor risiko yang dapat diubah melekat erat dengan gaya hidup kita sehari-hari. Faktor risiko ini antara lain kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, obesitas, merokok, minum minuman beralkohol, kurang olah raga, dan riwayat penyakit stroke atau penyakit jantung sebelumnya.

Saat ini gaya hidup yang tidak sehat sering dijumpai dalam masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan dan aktivitas harian yang padat menyebabkan semua orang menjadi kurang bergerak dan memilih segala sesuatu yang mudah dan cepat saji. Kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol dan obesitas dipengaruhi oleh pola diit yang kurang baik meskipun juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Memilih diit yang instan dengan kalori tidak terukur dapat menyebabkan masalah-masalah di atas.

Tekanan darah harus dijaga dibawah 140/90 mmHg. Kolesterol total dibawah 200mg/dl. LDL kolesterol dibawah 150 mg/dl pada orang normal dan dibawah 100mg/dl pada orang yang pernah mengalami stroke sebelumnya. Gula darah juga harus menjadi perhatiaan utama karena penderita Diabetes di Indonesia terus meningkat. Gula puasa sebaiknya kurang dari 126 mg/dl dan gula 2 jam setelah makan tidak lebih dari 200mg/dl.

Merokok dan minum minuman beralkohol juga menjadi salah satu penyebab stroke. Merokok merupakan salah satu faktor risiko yang sering ditemukan pada pasien stroke usia muda (kurang dari 40 tahun). Seseorang yang pernah mengalami stroke atau serangan jantung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadi serangan stroke ulang.

Prinsip dasar mencegah serangan stroke adalah mengendalikan semua faktor risiko stroke yang ada. Karena pencegahan kejadian stroke lebih baik daripada mengobati pasien yang mengalami stroke. Pencegahan selalu dimulai dari diri kita masing-masing, apabila kita menyadari adanya faktor-faktor risiko stroke dalam diri kita maka jangan diabaikan, kerena serangan stroke tidak dapat diprediksi kapan akan datang. Oleh sebab itu, lakukan pencegahan mulai sekarang. Jangan biarkan kita menjadi salah satu pasien stroke.

 

Oleh: dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc. Sp.S
RS Panti Rapih Yogyakarta

Nyeri Tengkuk

Leher dan shoulderpain dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Beberapa orang hanya mengalami sakit leher atau hanya nyeri bahu, sementara yang lain mengalami nyeri di kedua daerah.

Apa Penyebab Nyeri Leher?

Penyebab nyeri leher meliputi:

  • Kelainan pada tulang atau sendi
  • Trauma
  • Sikap tubuh yang buruk
  • Penyakit degeneratif
  • Tumor
  • Ketegangan otot

Apa Penyebab Nyeri Bahu?

Bahu adalah bola dan soket bersama dengan berbagai macam gerakan. Seperti sendi ponsel cenderung lebih rentan terhadap cedera. Nyeri bahu dapat berasal dari satu atau lebih penyebab berikut:

  • Strain karena kelelahan
  • Tendonitis dari berlebihan
  • Bahu ketidakstabilan sendi
  • Dislokasi
  • Patah tulang lengan atas atau kerah
  • Bahu beku
  • Saraf terjepit (juga disebut radiculopathy)

Bagaimana Apakah Leher dan Bahu Nyeri Didiagnosis?

  • Sinar-X: Plain X-ray dapat mengungkapkan penyempitan ruang antara dua tulang belakang, arthritis-seperti penyakit, tumor, menyelipkan cakram, penyempitan kanal tulang belakang, patah tulang dan ketidakstabilan tulang belakang.
  • MRI: Magnetic Resonance Imaging adalah prosedur non-invasif yang dapat mengungkapkan detail dari saraf (saraf terkait) unsur, serta masalah dengan tendon dan ligamen.
  • Myelography / CT scan: Kadang-kadang digunakan sebagai alternatif untuk MRI.
  • Studi Electrodiagnostic: Elektromiografi (EMG)dan kecepatan konduksi saraf (NCV) kadang-kadang digunakan untuk mendiagnosa leher dan nyeri bahu, nyeri lengan, mati rasa dan kesemutan.

Bagaimana Apakah Leher dan Bahu Nyeri Diobati?

Perlakuan leher jaringan lunak dan nyeri bahu sering mencakup penggunaan obat anti-inflamasi seperti ibuprofen (Advil atau Motrin) atau naproxen (Aleve atau Naprosyn). Penghilang rasa sakit seperti acetaminophen (Tylenol) juga mungkin dianjurkan. Tergantung pada sumber rasa sakit, obat-obatan seperti otot dan bahkan antidepresan mungkin bisa membantu. Nyeri juga dapat diobati dengan aplikasi lokal panas lembab atau es. Injeksi kortikosteroid lokal sering membantu untuk arthritis bahu. Untuk kedua leher dan nyeri bahu gerakan, latihan dapat membantu. Untuk kasus di mana akar saraf atau sumsum tulang belakang yang terlibat, prosedur bedah mungkin diperlukan. Dokter Anda dapat memberitahu Anda apa perawatan terbaik untuk Anda.

sumber

Fisioterapi Panti Rapih merupakan  bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau  kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan  fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis) pelatihan fungsi dan komunikasi. Dalam mengatasi nyeri tengkuk tersebut, Fisioterapi RS Panti Rapih dapat menjadi solusi bagi Anda.

Link Terkait : Fisioterapi

 

Informasi Terkait

Fisioterapi Rumah Sakit Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta

Metode Carbing Untuk Mengendalikan Gula Darah

Salah satu metode dalam terapi gizi medis untuk mengendalikan gula darah (GD) adalah carbohydrate counting atau CARBING.

Caranya adalah sbb:

1) Tentukan dahulu kebutuhan energi anda dari makanan. Anda bisa bertanya pada dokter atau ahli gizi anda.

2) Tentukan jumlah karbohidrat (KH) yang anda butuhkan. Biasanya kebutuhan kita akan KH antara 45% sampai 60%.

3) Ubah jumlah KH dari kilokalori (kcal) menjadi gram.

4) Ubah jumlah KH dari gram menjadi satuan Carbing. 1 Carbing ~ 15 g KH.

5) Distribusikan jumlah Carbing ke sarapan (20%), makan siang (30%) dan malam (20%) serta 3 kali snack (3 x 10%).

6) Ubah satuan Carbing menjadi ukuran rumah tangga (URT) setiap bahan makanan yang mengandung KH dengan mengacu kepada tabel. Tabel dapat ditemukan lewat internet seperti pada www.low-carb-news.com atau searching for carbohydrat counting di Google.

7) Hitung kebutuhan makanan yang tidak mengandung KH yaitu protein hewani dan lemak/minyak.

8) Jika anda masih belum mampu menentukan jumlah makanan yang harus anda makan tiap hari, anda dapat mengikuti pelatihan atau seminar “Metode Carbing” yang akan diselenggarakan di RS Panti Nugroho dengan pembicara dr Andry Hartono, DAN.SpGK dari klinik MCU/Gizi RS Panti Rapih Yogyakarta.

Sup 5 Warna Pencegah Kanker

Kesaksian dr Kazu Tateishi yang ditulis dalam bukunya, Kesehatan dalam Sup Sayuran, dan juga Prof Chuang Shu Qi dari Taiwan, seharusnya membuat kita  mawas diri apakah kita akan mempertahankan hidup sehat dengan makanan alami asli Indonesia ataukah mengorbankan kesehatan kita dengan junk foods dari negara Barat ? Paling tidak pilihan makanan alami dapat menetralkan efek buruk junk foods.

MAKANAN ALAMI

Makanan alami terdiri dari sayuran & buah, beras merah dan kacang-kacangan dengan beragam warna. Sup tradisional kita yang dinamakan sayur asem juga merupakan salah satu makanan alami terbaik warisan nenek moyang kita.

Membiasakan diri makan nasi beras merah dengan sayur asem dan lauk pepes ikan segar sebetulnya merupakan salah satu cara alami untuk menghilangkan pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh junk foods jika kita tidak dapat menghindari pola makan modern ini. Tetapi sayangnya menu alami tradisional di Jawa tersebut kurang disukai anak-anak dan remaja, khususnya menu sayur asem dan sayuran lainnya.

MEMBUAT SUP SEHAT ANTIKANKER

Dr Kazu dan Prof Chuang membuat resep sayuran 5 warna berikut ini sebagai sup pencegah kanker di Jepang dan Taiwan:

1. Bahan dasarnya 5 jenis sayuran: lobak putih 600 gram, sayuran atau daun lobak yang hijau 250 gram, wortel (merah) 250 gram, gobo (burdock root; kuning) 250 gram dan jamur hitam (hioko) 3 – 5 buah atau shitake 50 gram.

2. Sayuran dicuci bersih tanpa membuang kulitnya. Direbus dengan air yang banyaknya 3 kali jumlah sayuran. Rebus sampai mendidih setelah itu, api dikecilkan dan ditunggu selama satu jam.

3. Rebusan sayuran ini bisa diminum dengan bubur/rebusan beras merah asalkan ada selang waktu lebih dari 15 menit. Cara membuat bubur beras merah: 180 gram beras direbus dengan 1 1/5 liter air.

4. Sup sayuran (airnya) dapat disimpan dalam lemari es sebagai minuman kesehatan.

5.Untuk membersihkan pestisida dari sayuran, kita dapat merendam sayuran  selama 30 menit. Kemudian sayuran tsb dicuci dengan air garam selama 5 sampai 10 menit, dibilas dan baru kemudian direbus.

PENUTUP

Untuk mencegah kanker, kita memang harus menghindari zat-zat karsinogenik dalam makanan yang gosong karena dibakar atau digoreng  seperti nitrosamin dalam daging merah, benzpiren dalam lemak dan dietilstilbestrol yang dipakai untuk menggemukkan ternak. Selain itu, pestisida dan zat kimia seperti formalin, borax, pewarna textil, TBHA, plastik dalam makanan juga bersifat karsinogenik jika termakan secara berlebihan. Karena itu, daging berlemak yang dibakar atau digoreng harus dihindari. Begitu juga makanan sumber karbohidrat yang digoreng seperti kentang goreng karena makanan ini mengandung akril amida yang juga karsinogenik.

Untuk mencegah kanker, selain makanan atau minuman alami yang sehat, kehidupan yang rileks tanpa distres atau stres patologis juga dapat mencegah pembentukan kanker. Stres emosional, perilaku (tergesa-gesa, perfeksionis) dan fisik (kurang istirahat, makan tidak teratur, banyak merokok, minuman keras dan obat, perubahan cuaca dll.) semuanya dapat mengakibatkan distres. Konsekuensi distres adalah peningkatan kortisol dan penurunan antibodi secretory-IgA yang menurunkan daya tahan tubuh. Kenaikan adrenalin dengan penurunan kadar serotonin dalam otak juga menyebabkan tekanan darah meningkat, gula darah naik, fibromialgia/pegal linu yang kronis dan sakit kepala sehingga kita semakin stres.

Catatan: karena burdock root tidak ada di Indonesia, saya menggantinya dengan sayuran berwarna kuning.

Diringkas dari situs www.nutrimax.organic.com

Terapi Gizi Medik

Terapi gizi medik (TGM) dahulunya dikenal dengan istilah terapi diet (dietary treatment). Diet sendiri berarti “pengaturan jumlah serta jenis makanan dan jadual makan setiap hari.” Jika dirancang bersama pasien dengan bimbingan dietisien, terapi diet juga dapat dinamakan Perencanaan Menu atau Makan/PM (Menu Planning). PM ini mempertimbangkan pula faktor-faktor nonnutrisi seperti adat istiadat, habit, kultur, psikologi, dan ekonomi.

TGM

Istilah TGM digunakan karena terapi diet dapat pula disertai terapi gizi lain seperti suplementasi. Karena beberapa formula enteral misalnya formula susu diabetes (diabetasol, dianeral, nutren diabetes, glucerna) atau nutraceuticals misalnya kombinasi vitamin B, asam folat dgn zink dan kromium (diabetone, glucobion) atau fitokimia pangan misalnya antosianin/zeaxanthin serta bahan berkhasiat lain misalnya cinnulin sering digunakan sebagai suplemen lewat penulisan resep yang merupakan priviledge medis, maka digunakan istilah terapi gizi medik atau TGM.

Sejarah

Diet DM pertama kali diperkenalkan oleh dr Bouchardat pada tahun 1870an ketika beliau mengamati diabetisi yang makanannya dicatu akibat kelangkaan bahan pangan pasca-perang Perancis Prussian. Diabetisi yang makanannya dicatu ternyata memiliki kadar gula darah yang lebih rendah sehingga beliau menerapkan diet sebagai terapi untuk mengendalikan gula darah (ingat pada tahun itu, insulin dan OHO belum ditemukan).

Dibandingkan insulin yang baru diproduksi dan dipasarkan pada tahun 1921, kemudian OHO generasi pertama seperti tolbutamid dan klorpropamid yang baru diproduksi pada tahun 1955 serta biguanid seperti metformin yang dipasarkan pada tahun 1959, maka terapi diet jelas mempunyai sejarah yang jauh lebih lama.

Tujuan TGM

TGM bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan:

1. Kadar GD mendekati normal (puasa/FPG 90-130, 2 jam pp < 180 dan A1c < 7)
2. TD yang normal (<130/80)
3. Profil lipid yang normal (LDL < 100, HDL > 40, TG < 150)
4. BB yang normal (IMT < 25)

Komponen TGM

TGM terdiri dari 2 komponen plus pengaturan jadual makan. Dahulunya komponen ini dikenal dgn sebutan 3 J: Jumlah makanan, Jenis makanan dan Jadual makan.

Komponen pertama yang berkaitan dgn jumlah makanan dikembangkan menjadi carbohydrate counting (carbing) atau penghitungan jumlah KH yg dibutuhkan dan distribusinya dalam 24 jam. Tentu saja untuk menghitung KH, kita harus menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan per 24 jam dan persentasenya dalam bentuk KH. Menurut PERKENI 2009, persentase KH yg direkomendasikan adalah 45 – 65% dgn jumlah minimal 130 g/24 jam. Gula pasir diperbolehkan dalam sayuran/lauk dgn jumlah maksimal 5% dari Total Energy Intake.

Komponen kedua berhubungan dgn Jenis Makanan yang kemudian dikembangkan dengan memperhitungkan pula Indeks Glisemik (IG) dan Glycemic Load (GL) setiap makanan.

Mengapa harus TGM?

Penelitian terakhir seperti yg dilakukan F Cavalot et al pada tahun 2006 (J Clin Endocrinol Metab 2006;91:813-819) menunjukkan bahwa kenaikan GD 2 jam pp akan menaikkan hazard ratio serangan Jantung Koroner sebesar 2,5 x lipat (dari 2,12 menjadi 5,54). Kita ketahui bahwa kenaikan GD 2 jam PP berkaitan erat dengan IG, GL dan jumlah KH dalam makanan. Dengan kata lain, kematian karena serangan jantung koroner sangat dapat dicegah dgn diet yg dapat mengendalikan lonjakan GD (PG spikes) sesudah makan. PG spikes akan meningkatkan glikosilasi (A1c) yg menurunkan kemampuan sel darah merah untuk membawa oksigen dan melentur masuk ke dalam kapiler yang ukuran lumennya lebih kecil dari ukuran SDM.

Mengukur Unit Carbing

Sebelum mengukur unit Carbing, kita tentunya harus menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan. Berikut ini langkah2 untuk menghitung kebutuhan kalori, KH dan unit Carbing:

1. Hitunglah dahulu kebutuhan basal (BEE) dgn mengalikan BB dgn 25 pada wanita dan dgn 30 pada pria jika BBnya normal (TB < /= 160 pada pria dan </= 150 pada wanita) atau ideal (TB > 160 cm pada pria dan >150 cm pada wanita). BB ideal = 90% (TB – 100); BB normal = TB – 100. Pada diabetisi yang berat badannya berlebih/kurang harus dikoreksi dengan memotong/menambahkan sebesar 20-30% (lihat No. 2).

2. Koreksi BEE dilakukan
Jika diabetisi tsb nonsedentari (bekerja fisik, berolahraga ringan).  Tambahkan hasil di atas dgn 10% pada diabetisi yang nonsedentari.

Pada usia di atas 40 tahun, kurangi 5% utk 40-59 thn, 10% utk 60-69 thn dan 20% utk > 70 thn.

Utk BB lebih atau obesitas, kurangi 20-30% dari hasil penghitungan BEE; untuk BB kurang, tambah 20-30% pada hasil penghitungan BEE.

3. Hasil terakhir dalam kcal diubah menjadi gram (1 g KH = 4 kcal), dan dari gram diubah menjadi unit carbing dgn membaginya dgn angka 15 (karena 1 unit = 15 g KH)

4. Jumlah unit carbing ini selanjutnya didistribusikan pada 3 kali makan utama dan 2-3 kali snack dgn interval waktu sekitar 3 jam.

Di dalam situs www.pantirapih.org dapat ditemukan pula langkah2 menghitung unit carbing.

5. Setelah mendistribusikannya ke dalam 3 makan pokok dan 2-3 camilan, anda harus melihat tabel utk mengetahui jumlah unit carbing pada tiap kelompok bahan pangan. (Ingat KH hanya terdapat dalam 4 kelompok bahan pangan yaitu (1) bahan pangan sumber energi [nasi, roti, mie, jagung, sereal, umbi2an], (2) protein nabati atau kacang-kacangan, (3) sayur-buah dan (4) susu dlm bentuk laktosa).

Protein hewani dan lemak/minyak tidak mengandung KH sehingga memiliki IG yang rendah atau bahkan 0 (lemak/minyak).

IG dan GL

Seberapa besar kenaikan kadar gula darah dalam waktu 3 jam (yg diukur saat puasa dan kemudian sesudah memakan suatu makanan setiap 1/2 jam sekali) menentukan besarnya IG. Sebagai pembanding dipakai glukosa yang ditetapkan memiliki IG 100.

Perkalian IG dgn jumlah KH dalam makanan tsb menghasilkan GL. GL diperlukan karena tidak semua KH atau monosakarida menaikkan GD dgn segera. Sebagai contoh fruktosa yang terdapat dalam corn sugar memerlukan waktu 3 jam untuk diubah menjadi glukosa di dalam hati. Jadi, fruktosa lebih mempertahankan kadar GD yang tinggi ketimbang menimbulkan PG spike. Karena itu, corn sugar yang pernah dipakai sebagai gula pengganti yang alami dgn IG yang rendah sekarang sudah tidak lagi mengingat GLnya yang tinggi.

Untuk penjelasan detail dan tabel IG, anda dapat melihat Majalah Intisari Menu Sehat terbitan bulan Mei Tahun tahun 2009 hal. 106 – 115 (fotokopi terlampir).

Penutup

Di samping TGM, pilar-pilar lain dalam menopang pengendalian FPG meliputi olahraga serta aktivitas fisik yg seimbang dengan istirahat, manajemen stres, monitoring gula darah dan pemakaian OHO/insulin. Semua ini berlandaskan pada pengetahuan diabetisi akan penyakit, komplikasi dan penanganannya lewat konseling perorangan pada klinik edukasi DM dan penyuluhan kelompok. Akhirnya kita harus berpedoman pada motto Joslin, “Diabetisi yang memiliki lebih banyak pengetahuan tentang DM dan penanganannya akan berusia lebih panjang dan memiliki kualitas hidup lebih baik.” Untuk informasi tambahan, anda dapat membuka atau mensearch situs Joslin lewat Google. Situs dalam bahasa Indonesia yang cukup dikenal adalah www.SSdiabetes.org yang dikelola oleh Prof Sidartawan Sugondo SpPD-KEMD.

Dr Andry Hartono, SpGK

Tips Memilih Diet Slimming

Ada berbagai macam diet yang ditawarkan oleh salon, studio atau klinik pelangsingan. Contoh-contohnya a.l. diet Atkins, diet zona, diet Cohen, diet Mayo, diet rendah kalori dan banyak lagi lainnya.

Agar anda tidak bingung memilihkannya, perhatikan tip berikut ini:

1. Pilihlah program diet yang tidak menjanjikan penurunan berat badan (BB) secara instan tapi menjanjikan pengurangan BB yang bertahap dan lestari bersama dengan peningkatan kesehatan dan kebugaran tubuh.

2. Jangan memilih program diet yang disertai pemberian suplemen yang isinya tidak diberitahukan.  Preparat tiroid, peluruh kencing, pencahar, ephedrin dan anorektik seperti misalnya fenfluramin dapat membawa efek samping berbahaya sehingga tidak akan dipakai oleh program diet yang baik. Begitu pula herbal berbahaya seperti ma huang tidak boleh digunakan dalam program diet.

(3) Pilihlah program diet yang sesuai dengan pola hidup dan kesehatan anda. Perbaikan pola hidup yang salah hanya dapat dilakukan secara bertahap dgn berlandaskan kemauan, kemampuan dan kesempatan yang anda miliki.

(4) Pilihlah program diet yang masuk di akal dengan biaya yang layak serta terjangkau. Jika anda hanya mengikuti diet untuk sesaat, dan kemudian berhenti karena biayanya terlalu mahal,  maka selain anda tidak mendapatkan manfaat apa-apa, berat badan anda pun dapat naik lebih tinggi dari BB sebelum diet.

(4) Program diet yang baik biasanya juga disertai pemeriksaan dokter termasuk wawancara, pemeriksaan fisik,  antropometri, tekanan darah dan gula darah, khususnya jika obesitas yang anda alami menyertai suatu penyakit seperti hipotiroid, sindrom Cushing, dan sindrom metabolik serta diabetes tipe 2. Biasanya program ini dilaksanakan oleh dokter MCU dgn bantuan dietisien atau oleh dokter spesialis gizi klinik.

(5) Program yang baik akan menekankan 5 hal sebagai syarat mutlak keberhasilan menurunkan dan mempertahankan BB ideal, yaitu: kemauan kuat, pengetahuan yang benar tentang kesehatan dan gizi, perencanaan makanan yang baik, aktivitas fisik serta OR yg tepat, dan dukungan suami/isteri.

Akhirnya, keberhasilan anda bukanlah karena dokter atau dietisien yang membimbing anda tetapi karena diri anda sendiri. Dengan demikian, keberhasilan itu akan terus menjadi milik anda dan bahkan dapat anda bagikan dengan orang lain, khususnya keluarga sendiri.

dr Andry H
Klinik MCU dan Gizi Medik
RSPR