Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk!

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

Oleh:

Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD

(Dokter Spesialis Bedah RS Panti Rapih)

HIPERTIROIDISME DAN MANIFESTASI KLINISNYA

Suatu ketika datang kepada saya seorang wanita muda usia 24 tahun dengan keluhan berat badan yang menurun hampir 4 kg dalam 1 bulan dan cepat capai disertai frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari tanpa diare. Pasien merasa bahwa dirinya terkena penyakit kencing manis, tetapi pada saat dilakukan pemeriksaan gula darah sesaat, ternyata hanya 95 mg/dL. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium akhirnya didapatkan diagnose pasien tersebut adalah penderita Hipertiroid dan dengan penanganan yang tepat, gejala yang dirasakannya membaik dan berat badan kembali normal.

Kondisi seperti pasien tersebut banyak didapatkan dalam praktek sehari-hari. Hipertiroid adalah istilah yang menggambarkan adanya produksi hormone tiroid yang berlebihan sehingga menimbulkan gejala klinis. Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar hormone yang terletak di leher, berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang dikenal sebagai Free T4 dan Free T3 atas stimulasi dari Tiroid Stimulating Hormone (TSH) dari kelenjar hipofise. Hormon tiroid bertanggung jawab atas berbagai metabolisme dalam tubuh. Apabila tubuh mengalami kelebihan hormone ini disebut hipertiroid dan bila kekurangan disebut hipotiroid.

Penderita dengan hipertiroid akan menunjukkan gejala-gejala penurunan berat badan, tidak tahan terhadap cuaca panas, rambut rontok, jantung berdebar-debar, sering buang air besar, dan tangan gemetar. Mata yang tampak menonjol (exopthalmus) juga sering ditemukan pada penyakit Graves’ . Kondisi seperti ini disebabkan tertimbunnya jaringan lemak di belakang bola mata yang akan mendorong mata keluar sehingga batas atas kornea tidak tertutup kelopak mata. Sekilas terlihat seperti orang yang sedang marah.  Untuk menegakkan diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kadar Free T4 dan TSHs.  Apabila didapatkan kadar Free T4 yang meningkat dan kadar TSHs yang rendah, maka disebut Hipertiroidisme. Peningkatan kadar free T4 tidak selalu berkorelasi dengan besar-kecilnya kelenjar tiroid. Penyebab hipertiroidisme ini antara lain karena penyakit Graves’ atau autoimun dan  peradangan pada kelenjar tiroid (tiroiditis). Pembesaran kelenjar tiroid pada penyakit Graves’ umumnya bersifat difus atau merata dan teraba lunak. Pada tumor tiroid benjolan teraba keras, bahkan tidak disertai kelainan fungsi tiroid.

Kegawatan yang terjadi pada kondisi hipertiroid disebab Krisis tiroid atau badai tiroid. Kasus ini jarang dijumpai, bahkan pengalaman penulis selama menjalani tugas sebagai dokter penyakit dalam baru dua kasus yang dijumpai. Krisi tiroid terjadi akibat pengeluaran hormone tiroid yang berlebihan, biasanya dipicu oleh infeksi berat, tindakan operasi atau manipulasi kelenjar tiroid yang berlebihan. Kondisi ini memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif dan pasien selalu disertai demam.

Penanganan hipertiroid dapat dilakukan dengan obat-obatan, iodium radioaktif atau pembedahan. Obat yang sering digunakan adalah Propil Thyouracil atau Metimazole yang bisa diberikan sampai jangka waktu yang lama. Monitoring kadar free T4 secara periodik diperlukan untuk mengevaluasi dosis obat yang diberikan. Apabila dengan dosis terkecil, kadar Free T4 berada pada kisaran normal, obat bisa diberhentikan dulu tetapi monitoring kadar Free T4 tetap dilakukan karena ada kalanya kondisi tersebut relaps (kambuh). Pengobatan dengan Iodium radioaktif masih sering dikhawatirkan oleh sebagian pasien. Pengobatan ini tidak perlu dikhawatirkan karena pada prinsipnya hanya memberikan Iodium radioaktif dengan dosis kecil di mana radioaktif tersebut akan mematikan sel-sel kelenjar tiroid yang memproduksi hormon secara berlebihan. Efek samping yang mungkin timbul apabila semua sel-sel kelenjar tiroid tidak berfungsi, maka akan timbul kondisi Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid dan harus minum Levothyroxin seumur hidup. Pengobatan ini menjadi kompetensi dokter spesialis kedokteran nuklir. Operasi atau pembedahan pada dasarnya hanya untuk mengurangi volume atau besarnya kelenjar tiroid, jadi lebih bersifat kosmetik. Berbeda pada tumor ganas tiroid, pembedahan sifatnya harus dilakukan dan secara radikal atau total dan semua jaringan tiroid akan diambil beserta kelenjar getah bening di sekitarnya,  selanjutnya juga dilakukan pengobatan dengan iodium radioaktif untuk mematikan sel-sel ganas yang masih tersisa.

Hal yang terpenting bagi pasien hipertiroid apapun sebabnya, minum obat secara teratur dan monitoring kadar hormone tiroid secara berkala sangat diperlukan. Konsultasi dengan dokter yang menangani akan membantu keberhasilan terapi.

 

Oleh :

dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD

(Bagian Penyakit Dalam-Endokrinologi RS Panti Rapih)

Frozen Shoulder / Adhesive Capsulitis

Frozen shoulder disebut juga adhesive capsulitis adalah gangguan berupa rasa nyeri dan kaku di area bahu kadang menjalar sampai ke lengan; lengan sangat berat saat diangkat. Kondisi ini menyebabkan terbatasnya pergerakan bahu hingga terkadang tidak dapat digerakkan sama sekali. Nyeri bisa timbul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas dan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Bahkan hanya untuk menggaruk punggung atau merogoh kantong belakang, menyisir rambut, mengaitkan tali bra, menggosok badan saat mandi penderita akan sangat kesulitan. Pada beberapa orang, gejala akan cenderung memburuk, terutama di malam hari.

Frozen Shoulder Behandeling - Tegen Pijn en Stijfheid

Frozen shoulder umumnya muncul dan memburuk secara bertahap, serta dapat berlangsung selama 1-3 tahun. Frozen shoulder juga diketahui merupakan kondisi dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Kondisi ini ditandai dengan proses bertahap terjadinya keterbatasan pergerakan bahu secara aktif maupun pasif. Padahal, disisi lain, tidak ditemukan adanya gangguan pada pemeriksaan radiologi.

Frozen shoulder dapat berkembang ketika kita berhenti menggunakan sendi karena sakit, cedera atau kondisi kesehatan kronis. Setiap masalah bahu dapat menyebabkan frozen shoulder jika tidak melatih lingkup gerak sendi.

Gejala frozen shoulder umumnya berkembang perlahan dalam tiga tahapan, yang setiap tahapannya bisa berlangsung selama beberapa bulan, yaitu:

  1. Tahap pertama atau freezing stage yaitu bahu mulai terasa nyeri tiap digerakkan dan pergerakan bahu mulai terbatas. Periode ini bisa berlangsung 2-9 bulan.
  2. Tahap kedua atau frozen stage yaitu nyeri mulai berkurang, namun bahu menjadi semakin kaku atau tegang sehingga sulit digerakkan. Periode ini bisa berlangsung selama 4 bulan hingga 1 tahun.
  3. Tahap ketiga atau stawing stage yaitu gerakan bahu mulai membaik. Tahap ini umumnya terjadi dalam 1 hingga 3 tahun.

Apa penyebab frozen shoulder?

Bahu memiliki kapsul pelindung berupa jaringan yang saling berhubungan. Kapsul ini melindungi tulang, ligamen dan tendon pada bahu. Frozen shoulder terjadi karena jaringan parut membuat kapsul pelindung menebal dan menempel di sekitar sendi bahu, sehingga membatasi pergerakan bahu. Namun demikian, belum diketahui apa yang menyebabkan jaringan parut tersebut terbentuk. Penyebabnya kemungkinan karena tidak bergerak untuk waktu yang lama, seperti cedera, setelah operasi, atau patah lengan. Frozen shoulder juga lebih mungkin terjadi pada orang yang mengidap diabetes.

Beberapa kondisi yang bisa meningkatkan faktor resiko frozen shoulder:

  1. Usia: orang berusia 40 th atau lebih tua, terutama wanita lebih rentan terhadap frozen shoulder.
  2. Bahu tidak digerakkan/immobilisasi: terlalu lama istirahat di tempat tidur karena cedera bahu, berkurangnya mobilitas sendi bahu karena cedera, patah lengan, stroke, pasca operasi.
  3. Punya penyakit lain seperti diabetes, masalah kelenjar thyroid, TBC, parkinson atau stroke
  4. Trauma, misalnya karena pembedahan pada bahu, robekan tendon atau patah tulang lengan atas.

Bagaimana pengobatan frozen shoulder?

Penderita frozen shoulder umumnya diobati dengan fisioterapi, yang bertujuan untuk meregangkan otot bahu dan mengembalikan jangkauan gerakan lengan. Selama sesi fisioterapi dapat dilakukan TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation).  Apa itu TENS? TENS adalah terapi yang dilakukan dengan mengantarkan arus listrik kecil melalui elektroda yang ditempelkan pada kulit. Arus listrik tersebut akan merangsang pelepasan molekul penghambat nyeri (endorfin) sehingga menghalangi timbulnya nyeri. Fisioterapis biasanya juga akan memberikan latihan-latihan yang akan membantu untuk mengurangi nyeri dan menambah luas jangkauan gerak sendi bahu. Prinsip latihan untuk nyeri bahu adalah dengan selalu berusaha menggerakkan lengan meski sedang dalam proses pemulihan. Selalu gerakkan lengan meskipun gerakan terbatas tetapi jangan dengan beban. Hindari cedera dan menghindari aktifitas yang membebani sendi bahu secara berlebihan agar tidak memperberat keluhan. Latihan mandiri juga dapat dilakukan di rumah.

Untuk meredakan nyeri bisa juga dilakukan kompres dingin saat di rumah. Pasien dapat meletakkan kompres dingin pada bahu selama 10 menit, beberapa kali dalam sehari. Selain fisioterapi, dokter biasanya akan memberikan obat pereda nyeri yang berguna untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Bila diperlukan, dokter akan memberi suntikan kortikosteroid langsung pada bahu.

Kunci untuk pemulihan frozen shoulder adalah mempertahankan gerakan bahu. Fisioterapi dan latihan di rumah dapat membantu mengurangi rasa sakit dan mempertahankan gerakan lengan.

Foto hanya ilustrasi dan diambil dari google images

Oleh:

Arie Widuri, AMF (Fisioterapis RS Panti Rapih)

Puasa Tidak Hanya Melangsingkan Tubuh tetapi juga Membuat Awet Muda

Umat muslim di seluruh dunia sedang menyambut dengan suka cita datangnya bulan Ramadhan. Pada bulan suci ini umat Islam menjalankan ibadah puasa selama 30 hari penuh. Bagi sebagian besar orang, bulan puasa dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menurunkan berat badan. Lebih dari itu, menurut Shinya (2014), dalam bukunya Keajaiban Enzim Awet Muda, puasa sebenarnya memberikan sedikit rasa lapar agar tubuh memiliki kesempatan untuk membangkitkan pabrik daur ulang tubuh, dengan membangkitkan enzim awet muda dan kemampuan regenerasi tubuh.

Selama berpuasa, umat muslim di Indonesia, pantang makan dan minum selama kurang lebih 14 jam. Tubuh yang telah terbiasa menerima makanan lezat dan berkalori tinggi setiap harinya akan mulai terlempar dari zona nyamannya. Akibatnya, mulai timbul perlawanan tubuh berupa keluhan kesehatan di awal-awal berpuasa seperti rasa pusing, lambat berpikir, mual, lemas, mengantuk, keringat dingin, dan rasa mudah marah.  Namun tahukah Anda, dibalik penderitaan dan ketidaknyamanan saat berpuasa, mengendalikan, dan menahan rasa lapar, ada begitu banyak manfaat berpuasa bagi kesehatan tubuh manusia, terutama bagi mengembalikan kondisi vitalitas organ tubuh menjadi lebih muda.

Beberapa penelitian terkini di bidang kedokteran antiaging, meskipun sebagian besar masih terbatas pada uji hewan dan sel jamur, membuktikan manfaat besar puasa bagi fungsi metabolism tubuh, dan melawan penuaan. Beberapa penelitian tentang efek puasa pada model hewan uji membuktikan bahwa berpuasa dan pemangkasan kalori sebesar 10-30% memiliki efek memperpanjang usia.

Seorang ahli biologi Jepang, Yoshinori Ohsumi menerima hadiah nobel di bidang kedokteran tahun 2016 untuk penelitiannya mengenai efek puasa pada sel jamur. Menurut Ohsumi, puasa mengaktifkan proses autofagi, suatu proses dalam sel yang dapat memperlambat proses penuaan dan meremajakan sel. Proses autofagi adalah suatu proses pembersihan sampah sel dan berperan dalam proses detoksifikasi atau penawaran racun yang sangat dibutuhkan oleh semua organisme, termasuk manusia.

Menurut salah satu teori penyebab penuaan, penuaan disebabkan oleh penumpukan sampah-sampah sel yang mengganggu proses pembentukan energi di mitokondria, kerusakan, dan kematian sel. Meningkatnya kerusakan dan kematian sel merupakan proses awal terjadinya penyakit kronis, seperti penyakit kepikunan (demensia),  jantung, dan stroke. Melalui proses puasa, terjadi peningkatan aktivitas pembersihan sampah sel (autofagi), proses daur ulang sampah menjadi protein-protein baru untuk fungsi regenerasi organ/jaringan. Lingkungan intrasel yang kembali bersih, akan meningkatkan fungsi mitokondria sebagai penghasil energi. Dengan demikian kesehatan dan vitalitas tubuh kita terjaga, fungsi regenerasi dan peremajaan organ tubuh menjadi jauh lebih baik.

Lalu, bagaimanakah efek puasa pada manusia? Beberapa ilmuwan dari Jepang yang dipimpin oleh Dr. Takayuki Teruya, dari Okinawa Institute of Science and Technology Graduate University, yang dimuat dalam jurnal Nature, 2019, telah melakukan penelitian tentang efek puasa pada manusia. Okinawa sendiri adalah nama suatu daerah di Jepang yang sangat terkenal dengan penduduknya yang awet muda, sehat, berumur panjang, dan memiliki jumlah penduduk berusia lebih dari 100 tahun terbanyak di dunia.

Penelitian tersebut menjawab pertanyaan tentang apa saja yang terjadi dalam tubuh manusia selama berpuasa? Puasa tampaknya sebagai proses pasif, saat dimana tubuh seakan-akan beristirahat untuk sementara waktu. Namun ternyata, saat tubuh kelaparan, terjadi peningkatan aktivitas metabolisme. Peningkatan aktivitas metabolisme ditandai dengan peningkatan 44 jenis metabolit (asam amino dan protein), yang diantaranya bahkan meningkat sebanyak 60 kali dibandingkan kondisi normal. Hasil metabolit yang terbentuk menunjukkan bahwa selama berpuasa terjadi aktivitas perbaikan pembakaran energi oleh mitokondria, peningkatan aktivitas pembersihan sampah sel, proses antiperadangan, dan peremajaan sel di seluruh tubuh.

Penelitian tersebut juga menghasilkan suatu penemuan di luar dugaan, yang belum pernah ditemukan sebelumnya: bahwa puasa ternyata juga meningkatkan kandungan senyawa asam amino purine dan pyrimidine. Peningkatan senyawa amino tersebut menunjukkan bahwa saat berpuasa terjadi peningkatan sintesis protein dan perbaikan ekspresi gen. Artinya, saat puasa, sel-sel tubuh manusia lebih aktif melakukan fungsi regenerasi dengan meningkatkan sintesis berbagai jenis protein yang dibutuhkan. Peningkatan purine dan pyrimidine juga merupakan suatu tanda bahwa tubuh meningkatkan pembentukan antioksidan. Antioksidan yang meningkat saat berpuasa diantaranya adalah ergothioneine dan carnosine. Antioksidan adalah senyawa yang dibentuk oleh tubuh dalam melawan radikal bebas akibat stres oksidatif penyebab penuaan dini dan penyakit kronis.

Manfaat berpuasa diatas tentu saja harus diimbangi dengan pemilihan diet yang baik dan benar saat berbuka puasa, yaitu dengan tetap memperhatikan jumlah kalori yang masuk dan keseimbangan jenis zat gizi. Itulah tantangan terbesar dalam berpuasa. Saat berpuasa, tubuh akan cenderung untuk memilih makanan yang manis secara berlebihan selama berbuka. Selain itu penekanan nafsu makan selama berpuasa akan menimbulkan dorongan untuk mencari makanan yang lezat kaya lemak dan makan berlebihan.

Oleh sebab itu, agar pembaca mendapatkan manfaat berpuasa secara optimal, saya akan memberikan tips-tips diet yang sehat dan benar. Pertama dan yang paling penting adalah dengan menghindari makanan yang terlalu manis dari karbohidrat sederhana. Jenis gula itu akan meningkatkan proses glikasi yaitu pengikatan protein oleh glukosa menghasilkan senyawa Advance Glycation End Products (AGEs). Peningkatan AGEs akan mempercepat proses penuaan organ tubuh, juga menjadikan kulit mudah keriput dan berjerawat. Contoh  sumber karbohidrat sederhana adalah gula pasir, gula sukrosa dan fruktosa yang terdapat dalam minuman kemasan, tepung-tepungan, dan nasi putih. Mie, pasta, dan roti adalah suatu bentuk karbohidrat kompleks yang memiliki sifat seperti karbohidrat sederhana, sehingga harus dibatasi juga asupannya. Mulailah beralih pada konsumsi karbohidrat yang lebih sehat, yaitu jenis karbohidrat kompleks berkualitas tinggi yang kaya vitamin, mineral, dan antioksidan seperti nasi merah, nasi hitam, oat, ubi-ubian, dan perbanyak sayuran serta buah yang kaya warna. Gantilah gula pasir dengan jenis gula lain yang lebih sehat, seperti ekstrak daun stevia atau menggunakan daun stevia asli.

Cara kedua adalah menghindari berbuka puasa dengan makanan yang mengandung lemak jenuh seperti gorengan, martabak, dan makanan yang kaya santan. Lemak jenuh mengandung LDL yang mudah mengendap di pembuluh darah, menghasilkan plak lemak, dan apabila plak tersebut lepas akan mengakibatkan penyakit jantung koroner dan stroke.

Demikian, ulasan secara ilmiah mengenai manfaat berpuasa bagi kesehatan dan fungsi awet muda tubuh. Semoga di bulan puasa nan penuh berkah ini, pembaca senantiasa diberi kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa, dan memperoleh manfaat sebesar-besarnya berpuasa bagi kesehatan. Sehingga pada saat hari kemenangan tiba, tidak hanya rohani dan jiwa para sahabat yang menjadi baru kembali, namun tubuh pun menjadi lebih baru dan bugar, wajah lebih tampak awet muda, dan berseri. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Kuatkan Daya Tahan Tubuhmu dengan Vitamin C

Di tengah adanya pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini, maka diperlukan upaya untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh, salah satunya dengan pemberian injeksi vitamin C. Antioksidan yang ada dalam vitamin C ini bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit, khususnya penyakit infeksi.

Manfaat Vitamin C 

  1. Meningkatkan daya tahan tubuh
  2. Memelihara kesehatan kulit
  3. Asupan vitamin C yang disertai diet sayur dan buah-buahan mengurangi risiko stroke dan melindungi tubuh dari radikal bebas
  4. Membantu mempercepat penyembuhan luka

Mengkonsumsi Vitamin C secara Tepat

Vitamin C bisa diperoleh dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan seperti buah dan sayur. Sumber vitamin C alami selain jeruk antara lain buah kiwi, mangga, pepaya, nanas, serta sayuran seperti brokoli, paprika, dan tomat. Untuk melengkapinya, Anda bisa mengonsumsi suplemen vitamin C, dengan dosis yang tepat sesuai anjuran dokter atau sesuai aturan pakai yang tertera pada kemasan produk.

Cara Menggunakan Vitamin C (Asam Askorbat) dengan Benar

Suplemen vitamin dan mineral dikonsumsi untuk melengkapi kebutuhan tubuh akan vitamin dan mineral, terutama ketika asupan vitamin dan mineral dari makanan tidak bisa memenuhi kebutuhan tubuh. Namun, suplemen hanya digunakan sebagai pelengkap kebutuhan nutrisi tubuh, bukan sebagai pengganti nutrisi dari makanan.

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan tubuh membutuhkan asupan suplemen, seperti sedang terserang suatu penyakit (misalnya flu), hamil, atau sedang mengonsumsi obat yang dapat mengganggu metabolisme vitamin dan mineral.

Dosis vitamin C diberikan berdasarkan usia, kondisi, dan respons pasien terhadap obat. Vitamin C tablet umumnya dikonsumsi 1-2 kali sehari, bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan.

Kebutuhan seseorang terhadap vitamin C akan meningkat seiring pertambahan usia. Konsultasikan dengan dokter spesialis gizi mengenai kebutuhan vitamin C harian yang sesuai dengan usia Anda. Guna mencegah efek samping, jangan melebihi dosis yang dianjurkan.

 

Sebagai upaya perlindungan terhadap segala macam penyakit terutama COVID-19 maka RS Panti Rapih menyediakan 2 paket injeksi vitamin C yaitu:

Paket 1

Rp 173.000,00

– 1x kedatangan

– 1x injeksi vitamin C

– 1x konsultasi dokter umum

Paket 2 *

Rp 421.000,00

– 4x kedatangan

– 4x injeksi vitamin C

– 1x konsultasi dokter umum

*) masa berlaku 8 minggu

Keterangan:

  • Harga termasuk biaya administrasi dan jasa injeksi
  • Paket tidak berlaku untuk pasien asuransi dan BPJS
  • Tidak dapat digabungkan dengan promo lainnya
  • Lokasi pelayanan di Medical Check Up RS Panti Rapih
  • Usia minimal 17 tahun

Paket Injeksi Vitamin C dilayani setiap hari Senin-Sabtu pukul 09.00-13.00 WIB.

Bagi Anda yang membutuhkan Injeksi Vitamin C dapat menghubungi kami di bagian Informasi 0274-563333, 514014, 514845 ext 1116 dan Pendaftaran 0274-514004, 514006, 521009 atau dapat juga melalui Aplikasi Registro.

 

STOP STIGMA SELAMA PANDEMI COVID-19

Pandemi merupakan suatu situasi dimana terdapat sebuah penyakit yang dialami oleh masyarakat di berbagai negara di dunia dalam waktu yg relatif bersamaan. Seperti yang telah kita ketahui bersama, dunia tengah dilanda pandemi COVID-19. Kasus positif COVID-19 pertama di Indonesia diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020. Segera setelah kasus tersebut diumumkan, rakyat Indonesia bergegas mempersiapkan diri untuk menghadapi penyakit tersebut.

Pemerintah, petugas medis, petugas paramedis, hingga relawan bahu membahu mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki untuk menangani dan mencegah penyebaran penyakit ini. Para donatur dari berbagai kalangan senantiasa memberikan bantuan material yang diperlukan oleh tenaga kesehatan. Dukungan juga datang dari dunia pendidikan, dimana sekolah dan perguruan tinggi mengganti kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi kegiatan belajar mengajar jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi. Tempat ibadah dan para pemuka agama dari berbagai agama juga menghimbau para umatnya agar beribadah di rumah masing-masing untuk sementara waktu. Gerakan social distancing, physical distancing, dan stay at home juga turut digalakkan dikalangan masyarakat.  Seluruh hal tersebut merupakan upaya untuk mencegah penyebaran virus corona.

Stigma di Tengah Pandemi COVID-19
Dibalik seluruh perjuangan yang tengah kita lakukan saat ini, ternyata masih ada sekelompok orang yang memberikan stigma kepada para petugas medis, petugas paramedis, dan bahkan kepada para pasien. Beberapa waktu yang lalu, kita sempat dihebohkan dengan adanya berita pengusiran dokter dan perawat dari tempat tinggalnya. Sempat juga terdengar berita bahwa para tenaga medis maupun paramedis mendapat perilaku yang tidak menyenangkan dari orang-orang di sekelilingnya, seperti dijauhi dan dicemooh. Mereka diberi cap sebagai “pembawa virus” atau “penyebar virus”.
Hal ini tentu sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Mengingat tenaga medis dan paramedis telah berjuang keras mengerahkan tenaga, pikiran, dan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk menangani pasien-pasien. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya keterbatasan alat pelindung diri (APD), tenaga medis dan paramedis tetap bersedia melayani para pasien.

Beban kerja yang meningkat selama pandemi ini menuntut mereka untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada waktu di rumah. Rasa lelah baik secara fisik maupun psikis adalah hal utama yang mereka rasakan. Dalam masa-masa seperti ini, dukungan secara psikologis sangat diperlukan bagi mereka.

Para pasien pun juga tidak luput dari stigma tersebut. Sebagian pasien, khususnya dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) atau bahkan telah terkonfirmasi menderita penyakit COVID-19 diperlakukan dengan tidak baik oleh orang-orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Keluarga pasien dijauhi dan dianggap membawa penyakit. Sempat juga kita dengar beberapa kasus di suatu daerah dimana masyarakat sekitar menolak pemakaman jenazah dengan penyakit ini.
Kesedihan yang mendalam tentu dirasakan oleh keluarga yang pasien. Mereka tidak hanya sedih karena kematian salah satu anggota keluarganya, tetapi juga terluka akibat perlakuan diskriminatif orang-orang disekelilingnya. Alih-alih memberikan perhatian dan bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan, masyarakat justru mengucilkan dan berlaku tidak adil. “Sudah jatuh, tertimpa tangga” itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Stop Stigma Sekarang Juga
Setiap fasilitas kesehatan pasti memiliki standard operating procedure (SOP). SOP merupakan sebuah dokumen yang berisi instruksi terkait kegiatan atau tindakan yang rutin dilakukan. SOP yang ada di fasilitas kesehatan bermacam-macam jenisnya dan mencakup berbagai tindakan. Setiap SOP dibuat dengan tujuan untuk menjaga keselamatan petugas dan pasien. Para petugas medis dan paramedis selalu bekerja dengan mematuhi aturan-aturan tersebut, termasuk perihal pemakaian dan pelepasan APD serta perawatan pasien infeksius. Segera setelah selesai bertugas, petugas medis dan paramedis juga dihimbau untuk langsung membersihkan diri dan mengganti baju sebelum pulang. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya tidak perlu cemas berlebih hingga mendiskriminasi petugas medis dan paramedis karena mereka semua pasti bekerja sesuai dengan standar.

Jika masyarakat tetap mendiskriminasi petugas medis dan paramedis, siapakah yang akan menolong dan merawat ketika masyarakat sakit? Bagaimana jika suatu saat tenaga medis dan paramedis gugur satu per satu oleh karena tidak mendapat dukungan?
Situasi tentu akan lebih kacau. Tidak semua orang bisa dan mampu menjadi petugas medis maupun paramedis. Diperlukan pendidikan khusus selama bertahun-tahun untuk bisa menyandang gelar dokter, perawat, apoteker, dan gelar profesi lainnya.

Penanganan jenazah PDP maupun yang telah terkonfirmasi COVID-19 juga seharusnya tidak perlu menjadi momok bagi masyarakat. Pemerintah dan fasilitas kesehatan sudah menetapkan langkah-langkah yang harus dipenuhi untuk menangani jenazah tersebut. Apabila senantiasa menjaga kebersihan diri, mematuhi aturan pemerintah, dan tenaga kesehatan, masyarakat tidak perlu takut secara berlebih hingga merugikan orang lain.Stop stigma selama pandemi COVID-19. Jangan memperkeruh suasana. Dukunglah para tenaga medis, tenaga paramedis, dan pasien dengan cara sederhana, seperti tidak menyebar ujaran kebencian, tidak mengucilkan, dan tidak menyebar berita bohong. Pada masa sulit seperti ini, kita harus bekerja sama, bahu membahu, dan mendukung satu sama lain demi kebaikan diri kita sendiri dan sesama. Semoga kita semua dapat melalui pandemi ini bersama-sama.

 

Oleh :

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

(Dokter Umum RS Panti Rapih)

Apa Itu Self Isolation?

Self Isolation dilakukan bila seseorang menderita sakit seperti demam, batuk, sesak nafas, memilih untuk tinggal di rumah tanpa pergi ke sekolah, kantor dan tempat umum, untuk mencegah penularan penyakit.

Apa yang dilakukan ketika Self Isolation?

  1. Lakukan etika dan bersin, gunakan masker selama isolasi.
  2. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  3. Hindari pemakaian bersama peralatan makan, peralatan mandi, dan linen/sprei.
  4. Bersihkan area yang sering disentuh dengan cairan desinfektan.
  5. Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya. Upayakan menjaga jarak dari anggota keluarga setidaknya 1 meter.
  6. Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis seperti batuk atau kesulitan bernapas
  7. Tinggal di rumah, jangan pergi bekerja, dan jangan ke ruang public.
  8. Hubungi segera fasyankes jika sakit berlanjut seperti napas untuk dirawat lebih lanjut.

Durasi Self Isolation jika positif COVID-19 “sampai dikatakan negatif COVID-19 oleh petugas kesehatan”.

Lakukan Self Monitoring jika seseorang terpapar dengan kasus COVID-19 positif atau riwayat perjalanan ke negara/kota terpapar COVID-19 selama 14 hari.

Waspada Virus Korona

Apa itu Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau COVID-19?

Novel coronavirus (2019-nCoV) adalah jenis baru coronavirus yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia menyebabkan penyakit mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Apa saja gejala Novel Coronavirus (2019-nCoV)?

Gejala umum berupa demam ≥38 derajat Celcius, batuk, pilek, nyeri tenggorokan dan sesak napas. Jika ada orang dengan gejala tersebut serta pernah melakukan perjalanan ke Tiongkok (terutama Wuhan), atau pernah merawat/kontak dengan penderita 2019-nCoV, maka terhadap orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut untuk memastikan diagnosisnya.

Apakah antibiotik efektif dalam mencegah dan mengobati Novel Coronavirus?

Tidak, antibiotik tidak bekerja melawan virus, hanya bakteri. Novel Coronavirus (2019-nCoV) adalah virus, oleh karena itu, antibiotik tidak boleh digunakan sebagai sarana pencegahan atau pengobatan. Namun, jika Anda dirawat di rumah sakit untuk 2019-nCoV, Anda mungkin menerima antibiotik, karena infeksi sekunder bakteri mungkin terjadi.

Apa saja upaya pencegahan di Indonesia?
  1. Memperketat pemeriksaan di bandara menggunakan alat pemindai tubuh
  2. Melakukan deteksi, pencegahan, repons jika menemukan pasien dengan gejala pneumonia berat seperti di Wuhan
  3. Melakukan perawatan, pengobatan isolasi terhadap pasien gejala pneumonia
Lalu perlukah kita menggunakan masker?

Ya! Bagi tenaga kesehatan yang menangani pasien dengan gejala gangguan pernapasan

Ya! Jika kita memiliki gejala gangguan pernapasan, batuk, sesak napas

Ya! Jika kita merawat orang dengan gejala gangguan pernapasan

Tidak! Bagi masyarakat umum yang tidak mengalami masalah gangguan pernapasan

Jantung Anak

Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 September. Bertujuan untuk menciptakan sebuah komunitas global pahlawan jantung (Heart Heroes). Pahlawan ini adalah setiap orang dari semua lapisan masyarakat, yang bertindak untuk hidup lebih lama, lebih nyaman dan lebih baik, karena memiliki jantung yang lebih sehat. Caranya adalah dengan membuat berbagai janji. Pertama, janji untuk keluarga kita masing-masing, yaitu akan memasak dan makan yang lebih sehat. Kedua janji untuk anak, yaitu akan mendampingi berolahraga lebih banyak dan lebih aktif, untuk mengatakan tidak kepada rokok dan membantu orang yang kita cintai untuk berhenti. Ketiga janji sebagai seorang profesional kesehatan untuk membantu pasien berhenti merokok dan menurunkan kadar kolesterol. Semuanya adalah sebuah janji sederhana untuk jantung kita.

Penyakit jantung terutama karena pola hidup yang tidak sehat adalah pembunuh nomor satu di dunia saat ini, tetapi pada bayi dan anak sedikit berbeda. Dr. Nikmah Salamiah, SpA (K), PhD dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap insan, termasuk bayi dan anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil, guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh seorang anak. Sayangnya, 7 hingga 8 bayi per 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat ruang jantung, penyempitan atau sumbatan katup atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung, ataupun abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah. Kelainan struktur tersebut dapat bersifat tunggal ataupun berkombinasi, sehingga menimbulkan PJB kompleks. Kendati terdapat ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe. Tipe pertama disebut dengan PJB biru (sianotik), yaitu jenis PJB yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir terutama di daerah lidah, bibir dan ujung-ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah. Tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak. PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menetek atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi.

Tergantung pada jenis dan kompleksitas kelainan, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa. Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kulit kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda klinis yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. Untuk itu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya PJB. Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat ‘timing’ yang tepat untuk tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan. Terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan, hingga anak tumbuh sampai dewasa. Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi ataupun intervensi kateter (non-bedah).

Sejauh ini, penyebab PJB belum diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan penelitian, diduga bersifat multifaktorial, yaitu melibatkan kerentanan genetik (bawaan) dan faktor lingkungan. Paparan rokok saat kehamilan (baik ibu perokok aktif maupun pasif), konsumsi obat tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Down, dilaporkan meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Yang penting diperhatikan adalah pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan, dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat Ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Untuk itu, penting bagi setiap Ibu untuk menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan.

Nyeri dada adalah keluhan klinik tersering yang terkait dengan kelainan jantung, biasanya dipicu atau bertambah berat dengan aktivitas fisik (exertional chest pain), disertai keluhan jantung berdebar atau irama jantung tidak teratur. Anak agak besar sering melaporkan sebagai nyeri seperti ditekan, atau terdapat beban di atas dada dan mungkin menjalar, atau diikuti gejala pingsan atau hampir pingsan, dan pusing yang disertai mata berkunang-kunang. Untuk menyingkirkan kelainan jantung, pada umumnya dibutuhkan pemeriksaan tambahan berupa rekam listrik jantung (elektrokardiografi atau EKG) dan ultrasonografi jantung (ekokardiografi). Pada anak besar, juga dapat dilakukan tes latihan dengan treadmill atau sepeda statis, untuk melihat apakah gejala nyeri dada dan perubahan EKG terjadi dengan aktivitas fisik atau olahraga.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2019 mengingatkan kita, akan peran besar para pahlawan jantung (Heart Heroes), termasuk untuk Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak.

Sudahkah kita bertindak bijak?

 

Oleh:

Dr. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

Kenali Penyebab Demam Berdarah Dengue pada Anak

Demam berdarah dengue (DBD) masih jadi masalah kesehatan masyarakat saat ini. Kasus DBD meningkat di berbagai daerah khususnya di wilayah DIY. Ini artinya, orang tua diharapkan dapat lebih waspada untuk dapat mengenali tanda dan gejala penyakit ini. DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Infeksi virus ini dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai usia lanjut. Secara teoritis, seseorang dapat mengalami infeksi dengue lebih dari satu kali, karena virus ini mempunyai empat serotipe. Fase demam ditandai dengan demam yang mendadak tinggi dan bersifat terus menerus, hal ini yang sering kali dikuatirkan orangtua karena demam sulit turun meskipun sudah diberikan penurun panas.

Fase ini biasanya berlangsung selama 3-5 hari yang disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi, serta kemerahan pada kulit, khususnya kulit wajah (flushing).

Gejala lain seperti nafsu makan berkurang, mual dan muntah sering ditemukan. Pada fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan DBD maupun antara penyakit berat dan tidak berat. Bila dicek di laboratorium, biasanya terlihat penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan jumlah trombosit dan nilai hematrokit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal.

Fase kritis biasanya terjadi paling sering pada hari ke-4 sampai ke-6. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler sehingga darah menjadi kental, dan apabila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat menyebabkan kondisi perburukan sampai kematian. Sering disertai tanda bahaya berupa muntah yang terus menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, dari hidung, gusi, sampai terjadi muntah darah dan buang air besar berdarah.

Mendadak Dingin

Pada fase ini, badan terutama pada ujung lengan dan kaki mendadak dingin dan terlihat lemas. Hal ini merupakan bentuk tanda syok. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan penurunan jumlah trombosit yang disertai peningkatan nilai hematokrit (kekentalan darah) yang nyata.

Fase ini terjadi pada saat tubuh mulai mengalami penurunan sampai mendekati batas normal. Hal ini yang sering menyebabkan terlambatnya orang berobat, karena menganggap bila suhu tubuh mulai turun berarti penyakit akan mengalami penyembuhan.

Pada pasien yang tidak mengalami peningkatan permeabilitas kapiler akan menunjukkan perbaikan klinis menuju kesembuhan.

Fase pemulihan berlangsung secara bertahap 24-48 jam setelah melalui fase kritis, biasanya terjadi pada hari ke-7. Keadaan umum dan nafsu makan mulai membaik, evaluasi laboratorium mulai terjadi perbaikan, hematokrit (kekentalan darah) mulai stabil dan jumlah trombosit mulai terjadi peningkatan secara bertahap. Pada beberapa pasien dapat ditemukan ruam (kemerahan) di tangan dan kaki yang akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan mengenali gejala-gejala tersebut, orang tua disarankan untuk segera membawa anaknya berobat ke fasilitas kesehatan jika anak mengalami salah satu atau lebih dari gejala tersebut.

Pencegahan

DBD dapat dicegah dengan penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti-nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan jentik nyamuk di bak mandi, penyemprotan cairan insektisida (fogging), dan gerakan 3M (mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi). Pada prinsipnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.

 

Oleh:

dr. Maria Rulina YA, M.Sc., Sp.A

Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih