SKIZOFRENIA (GANGGUAN JIWA BERAT YANG BISA TERKONTROL DAN BERAKTIVITAS)

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat, dimana penderita mengalami gangguan realita dan  logika. Biasanya muncul saat masa remaja/dewasa muda, tetapi juga telah diketahui muncul pada orang di atas 40 tahun.

Pada pasien dengan gangguan skizofrenia terdapat dua gejala yakni: gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif yang timbul antara lain berupa: gangguan waham di mana terjadi gangguan isi pikir dimana pasien mengalami keyakinan yang tidak rasional/masuk akal (menjadi orang besar, curiga berlebihan, rasa permusuhan); adanya halusinasi yakni pengalaman panca indra tanpa rangsang/sumbernya; sikap pasien gaduh, gelisah, tidak dapat diam, agresif, mondar-mandir; terjadi alam pikir yang kacau dan ditunjukkan dari isi pembicaraan yang kacau, pasien juga merasa dikendalikan, disisipi, disiarkan, disedot pikirannya, dll. Sedangkan gejala negatif yang timbul pada pasien, meliputi: alam perasaan tumpul, datar/tdk ada ekspresi; menarik/mengasingkan diri, tidak mau bergaul/kontak dengan orang lain, suka melamun; kontak emosi miskin, sukar diajak bicara; sulit berpikir abstrak; mengabaikan kebersihan pribadi; pasif & apatis

Berbicara tentang gangguan jiwa, tentu bermacam-macam penyebabnya. Penyebab gangguan jiwa dapat berasal dari faktor: biologis, psikologis, dan sosial. Penyebab faktor biologis ini biasanya disebabkan oleh adanya peningkatan neurotransmitter di dalam otak sehingga muncul gejala-gejala seperti yang sudah diuraikan. Penyebab psikologis terdiri dari tiga hal, yakni: dari individu tersebut (kepribadian rentan), situasi (stressor sosial), dan reaksi (respon individu setelah mendapat stresor menimbulkan sakit). Penyebab sosial antara lain: terjadi peristiwa yang menimbulkan perubahan dalam kehidupan seseorang, dan tidak semua orang dapat melakukan adaptasi sehingga menimbulkan keluhan kejiwaan.

Penanganan gangguan skizofrenia dewasa ini belum cukup memuaskan karena ketidaktahuan keluarga atau masyarakat tentang penyakitnya, terlebih adanya stigma yang berpendapat bahwa skizofrenia tidak dapat diobati dan berujung pada perlakuan yang diskriminatif dan pertolongan yang tidak memadai. Meskipun skizofrenia dapat menyusahkan dan menakutkan, tidak berarti bahwa orang dengan gangguan ini tidak dapat memiliki kualitas hidup yang baik dan mungkin untuk dipekerjakan. Sama seperti orang lain yang memiliki penyakit jangka panjang atau berulang, orang dengan skizofrenia dapat belajar untuk mengelola kondisi mereka dan melanjutkan kehidupan mereka

Penyakit Skizofrenia cenderung berlanjut menjadi kronis dan menahun sehingga terapi perlu lama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menekan sekecil mungkin angka  kekambuhan. Terapi diperlukan secara komprehensif dan holistik (menyeluruh). Terapi yang dilakukan terdiri dari terapi psikofarmakologi, psikoterapi, terapi sosial (bertujuan agar pasien dapt berinteraksi kembali secara sosial), terapi rohani (bertujuan agar pasien dapat melakukan kegiatan keagamaan kembali), terapi rehabilitasi (terapi ini dilakukan pada pasien skizofrenia yang mengalami kekambuhan, dan bertujuan untuk mempersiapkan penempatan kembali ke keluarga dan masyarakat. Terapi ini diintegrasikan dengan terapi keterampilan seperti: mengasah keterampilan, bercocok tanam, rekreasi, kesenian, kerajinan, dll)

Menjaga agar tidak terjadi kekambuhan merupakan hal yang penting. Kekambuhan mungkin terjadi bila obat dihentikan/tidak digunakan secara rutin, maka sangat penting penderita skizofrenia agar sepakat dengan dokter serta keluarga mengenai rencana terapi dan pencegahan kekambuhan. Jika  minum obat, penting menggunakan obat yang diresepkan pada dosis dan waktu yang tepat setiap hari. Salah satu kendala upaya penyembuhan adalah STIGMA sehingga penderita  disembunyikan, dikucilkan, diisolasi, dipasung. Dewasa ini pemerintah pun juga turut membantu berupaya untuk menghilangkan stigma tersebut. Program ini bersama-sama dengan tenaga kesehatan untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang hal  gangguan, sehingga pasien  dapat berperan serta dalam upaya pencegahan, terapi, rehabilitasi, dapat menerima kembali penderita ke keluarga  masyarakat, tidak merasa fobia dan diskriminatif.

Pasien skizofrenia yang memiliki dukungan keluarga dan sering mendapatkan terapi atau bekal keterampilan hidup (berfungsi) lebih baik dibandingkan yang terisolasi. Mereka yang hidup sendiri  masih perlu dukungan dari keluarga dan teman. Sebuah lingkungan yang stabil dapat membantu pasien mempertahankan terapi dan tetap menjaga komunikasi secara rutin dengan dokter mereka dan tenaga kesehatan. Keberhasilan terapi gangguan jiwa berat (skizofrenia) tidak hanya terletak pada terapi obat dan jenis terapi lainnya, tetapi juga peran serta keluarga & masyarakat turut menentukan.

 

Oleh :

dr. MG Rini Arianti, SpKJ

(Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Panti Rumah)

 

 

 

 

Pool Therapy / Hydrotherapy

Merupakan salah satu program latihan yang diperuntukkan bagi pasien rawat jalan dengan masalah kesehatan antara lain:

– Osteoartritis

– Back Pain

– Neck Pain

Pelaksanaan terapi dilakukan di dalam air (kolam renang)

Untuk mengembangkan dan berinovasi dalam memberikan layanan Rehabilitasi Medis, serta upaya dalam memenuhi kebutuhan pasien Rehabilitasi Medis, Rumah Sakit Panti Rapih menghadirkan layanan Hydrotherapy bagi pasien Rehabilitasi Medis.

Hydroterapi merupakan salah satu metoda dalam fisioterapi yang memanfaatkan sifat-sifat fisika air untuk terapeutik melalui aktivitas yang dirancang secara spesifik dan dilakukan oleh tenaga professional yang memiliki klasifikasi/kompetensi tertentu. Terapi diberikan di dalam air hangat dengan suhu 28-30ᵒ C.  Penggunaan air pada Hydroterapi dapat berfungsi meringankan rasa nyeri, meningkatkan relaksasi pada otot dan sendi, memperluas jangkauan gerak sendi. Adanya tekanan dari air yang melawan gaya gravitasi membantu pasien untuk melatih ototnya dengan beban minimal pada sendi (mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut), gerakan otot lebih maksimal, lebih bebas, latihan terasa lebih ringan, sehingga efektif untuk menguatkan otot. Selain air, juga ada alat bantu/peraga yang disediakan dalam layanan Hydroterapi. Layanan Hydroterapi di Gedung Borromeus akan diperuntukkan bagi pasien dengan diagnosa Low Back Pain (LBP), Osteo Arthritis (OA), dan Stroke dengan kondisi stabil.

Perlengkapan Pasien Hidroterapi yang perlu dibawa :

  1. Baju renang yang sopan
  2. Penutup rambut
  3. Handuk
  4. Sabun dan shampoo
  5. Baju ganti
  6. Bekal makan dan minum secukupnya
  7. Plastik
  8. Datang 30 menit
  9. Obat pribadi

Tata Tertib Pool Therapy :

A. PERSIAPAN PASIEN

  1. PASTIKAN BAHWA PASIEN TIDAK MENGALAMI HAL-HAL SEBAGAI BERIKUT :
  • Gagal jantung, nyeri dada angin, gangguan irama jantung yang berat
  • Tekanan darah tidak stabil
  • Penyakit susunan saraf pusat dan saraf tepi fase akut
  • Penyakit pembuluh darah tepi yang berat
  • Bahaya pendarahan
  • Demam
  • Penyakit ginjal berat
  • Gangguan pernafasan, infeksi, TBC paru
  • Penyakit/Infeksi yang ditularkan melalui air dan udara
  • Infeksi kulit dan luka terbuka
  • Infeksi dan penyakit kelamin
  • Tidak bisa menahan buang air kecil/buang air besar
  • Sedang menstruasi
  • Riwayat kejang/epilepsi
  • Gangguan mental yang berat
  • Vertigo
  • Kesulitan berkomunikasi verbal
  • Kesulitan menelan
  • Kecenderungan muntah
  • Kesulitan naik turun tangga karena berbagai sebab
  1. PERLENGKAPAN PRIBADI
  • Pakaian untuk renang dari bahan yang ringan dan sopan (pakaian renang), disiapkan oleh pasien sendiri
  • Perlengkapan mandi disiapkan oleh pasien
  • Tidak mengenakan perhiasan
  • Perlengkapan pribadi disimpan dengan rapi dalam locker pasien
  • Bekal makan dan minum secukupnya untuk pasien

Locker untuk pasien

 

Kolam untuk tindakan

  1. Penunggu pasien maksimal 1 orang, menjaga kebersihan, ketenangan, privacy pasien serta dilarang makan di area kolom pool therapy dan dilarang mengambil gambar, merekam dengan kamera, HP atau alat perekam yang lain.

B. PELAKSANAAN

  1. Jadwal ditetapkan oleh petugas dan tidak bisa diganti pasien tanpa persetujuan petugas
  2. Jadwal sewaktu-waktu dapat dibatalkan mengingat kondisi kolam atau keadaan lain yang memaksa untuk meliburkan pasien

 

 

Informasi hubungi:

Rehabilitasi Medik

Lantai 1 Gedung Borromeus RS Panti Rapih

Telepon: (0274) 514014, 514845, 563333

Ext : 1011

OPERASI CAESAR, BIUS TOTAL ATAU REGIONAL?

Ketika seorang ibu sudah melalui masa kehamilan sampai trimester ketiga, kelahiran sang jabang bayi sangatlah dinanti-nantikan. Tetapi ketika persalinan normal tidak memungkinkan dan dokter kandungan memutuskan untuk melakukan operasi caesar, maka akan muncul berbagai pertanyaan.  Apakah ini sudah merupakan keputusan yang tepat? Apakah nanti akan terasa sakit pada saat dioperasi? Apakah aman untuk ibu dan bayi?

Supaya tidak terasa nyeri pada saat dilakukan operasi caesar, ibu harus mendapatkan pembiusan yang adekuat. Terdapat dua pilihan jenis pembiusan yaitu pembiusan umum atau total dan pembiusan regional.  Manakah yang lebih baik?  Sebagai orang awam, melihat ruang operasi dan tetap sadar saat dilakukan tindakan operasi bukanlah pengalaman yang menyenangkan, sehingga memilih tidur pada saat operasi sepertinya lebih menyenangkan.  Tetapi manakah yang lebih aman?

Sebelum dokter ahli anestesi melakukan pembiusan, keputusan jenis pembiusan akan diambil setelah dilakukan anamnesa (wawancara), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (laboratorium, EKG (Elektro Kardiografi)).  Baik pembiusan total maupun regional, masing-masing disesuaikan dengan indikasi klinis pasien.  Dalam Cochrane Database Review (2012) disampaikan bahwa tidak ada evidens atau bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pembiusan regional lebih baik dibandingkan dengan pembiusan total dalam hal outcome untuk ibu dan bayi.  Masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri.

Dengan pembiusan regional, ibu tidak akan merasakan nyeri pada area operasi meskipun ibu masih sadar.  Obat anestesi lokal yang dipakai pada pembiusan regional bekerja dengan memblok aliran saraf di tingkat saraf tulang belakang saja.  Disini ibu diuntungkan karena dapat langsung melihat bayinya dan dapat melakukan IMD (Inisiasi Menyusi Dini) bila kondisi ibu dan bayi memungkinkan.  Selain itu pada teknik epidural, dapat dilakukan pemasangan kateter epidural yang dapat digunakan sebagai alat memasukkan obat pengurang nyeri setelah operasi dengan prinsip kerja sama seperti pembiusan regional, hanya dengan dosis yang lebih kecil, sehingga diharapkan ibu lebih cepat bebas nyeri dan lebih cepat mobilisasi.  Obat anestesi lokal yang dipakai tidak masuk ke aliran darah plasenta sehingga tidak masuk ke janin.

Dalam British Journal of Anesthesia tahun 2009 disebutkan bahwa pembiusan total pada operasi caesar umumnya karena indikasi urgensi (35%), ibu menolak pembiusan regional (20%), pembiusan regional gagal atau tidak adekuat (22%), dan kontraindikasi medis karena fungsi pembekuan darah yang tidak normal atau bentuk tulang belakang yang tidak normal (6%).  Pada pembiusan total, ibu akan tertidur dan terbius segera setelah obat dimasukkan lewat jalur infus.  Obat bius bekerja langsung di susunan saraf pusat di otak.  Kesulitan pemasangan alat bantu nafas karena perubahan bentuk tubuh ibu, risiko aspirasi cairan lambung yang menyebabkan infeksi paru-paru ibu, dan risiko terjadinya gangguan nafas pada bayi akibat penggunaan obat-obatan, menjadi alasan mengapa pada akhirnya pembiusan total bukan menjadi pilihan utama.

Jadi, pembiusan regional atau pembiusan umum? Anda dapat menanyakan lebih lanjut kepada dokter anestesi anda, terkait prosedur, keuntungan dan kerugian serta pertimbangan-pertimbangan dari dokter anestesi saat menyarankan salah satu teknik pembiusan untuk operasi anda.  Utamanya adalah, pembiusan yang dipilih oleh dokter anestesi akan disesuaikan dengan indikasi yang ada, karena yang paling penting adalah keselamatan pasien dalam hal ini keselamatan ibu dan bayinya.

 

dr. E. Inggita Dyah Perbatasari, Sp.An

(Dokter Anestesi RS Panti Rapih)

 

Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk!

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

photo by google images

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

 

Oleh:

Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD

 

Mengenal Sindrom Terowongan Karpal

Pernahkah jari-jari tangan Anda terasa tebal/baal? Atau terasa kesemutan yang akan membaik apabila tangan Anda dikibas-kibaskan? Jika keluhan tersebut Anda rasakan berulang kali, maka sangat mungkin Anda mengalami sindrom terowongan karpal.

Apa itu sindrom terowongan karpal?

Sindrom terowongan karpal/carpal tunnel syndrome merupakan sekumpulan gejala yang muncul akibat adanya jepitan pada salah satu saraf di tangan yang disebut sebagai saraf medianus. Terowongan karpal adalah sebuah terowongan yang berada di pergelangan tangan. Terowongan tersebut tersusun dari tulang-tulang tangan dan jaringan ikat tulang/ligamen. Saraf medianus, pembuluh darah, dan jaringan ikat otot/tendo adalah struktur-struktur yang melewati terowongan tersebut. Kondisi apapun yang menyebabkan pembengkakan atau penyempitan pada terowongan karpal akan menimbulkan jepitan pada berbagai struktur yang melewati terowongan tersebut.

Gejala sindrom terowongan karpal

Gejala awal yang khas pada penyakit ini adalah rasa baal atau kesemutan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan separuh jari manis tangan. Keluhan tersebut cenderung memburuk pada malam hari dan dipicu oleh aktivitas tertentu pada pergelangan tangan (misalnya: mengemudi, merajut, atau memasak). Keluhan cenderung membaik apabila tangan dikibas-kibaskan. Kelemahan pada telapak tangan adalah keluhan lain yang sering muncul pada sindrom terowongan karpal, sehingga pasien akan mengatakan tidak dapat menggenggam dengan kuat atau mengeluh sering menjatuhkan barang yang dipegang. Gejala-gejala tersebut sering muncul pada tangan yang sering digunakan untuk beraktivitas.

Penyebab sindrom terowongan karpal

Sindrom terowongan karpal lebih sering muncul pada usia lanjut dan wanita. Cedera pada pergelangan tangan, baik cedera berat (patah tulang pergelangan tangan) maupun cedera ringan yang berulang pada pergelangan tangan (sering kali terkait dengan pekerjaan: mengemudi, memasak, atlet) akan memicu sindrom terowongan karpal. Seseorang dengan penyakit diabetes mellitus, obesitas, dan wanita hamil juga akan lebih mudah mengalami kondisi ini.

Penanganan sindrom terowongan karpal

Prinsip dari penanganan sindrom terowongan karpal dibedakan menjadi 2, yaitu tanpa pembedahan dan dengan pembedahan. Penggunaan bebat/splinting tangan pada malam hari serta pengobatan dengan obat steroid tablet maupun steroid yang disuntikkan pada pergelangan tangan adalah dua tata laksana yang sering diberikan pada pasien dengan kondisi ini. Obat lain yang digunakan untuk menangani kondisi ini adalah obat dari golongan anti kejang (misalnya: gabapentin dan pregabalin), obat dari golongan anti inflamasi non steroid, dan diuretik. Apabila dengan pengobatan tersebut keluhan tidak membaik atau justru semakin berat, maka tindakan pembedahan yang disebut sebagai carpal tunnel release dapat dipilih.

Sindrom terowongan karpal adalah kondisi yang sering muncul di masyarakat, tetapi jarang dikenali. Sindrom ini cenderung muncul pada tangan yang sering digunakan untuk beraktivitas, sehingga dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup penderitanya. Dengan mengenali gejala sindrom terowongan karpal, kondisi ini dapat ditangani dengan baik.

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

 

GANGGUAN SARAF AKIBAT PENYAKIT GULA

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (mislanya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

 

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

(Dokter Umum RS Panti Rapih)

Cegah Stroke! Jangan biarkan Anda Menjadi Salah Satu Penderita Stroke

Stroke merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia selain serangan jantung dan kanker.  Stroke juga penyebab kecacatan yang paling sering. Kemajuan teknologi kedokteran diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kecatatan, teknologi mutahir saat ini sudah diterapkan sebagai salah satu metode kuratif (pengobatan) bagi pasien yg mengalami  Serangan Jantung, Stroke dan Kanker.

Pengobatan kuratif tidak selalu dapat menjadi andalan. Karena tidak semua tindakan kuratif memberikan hasil yang baik atau kesembuhan yang sempurna. Pada kasus stroke bila sudah terjadi kematian sel otak akibat sumbatan pembuluh darah di otak, maka sel-sel ini tidak akan dapat membaik sehingga menimbulkan kecacatan bagi pasien.

Lain hal nya bila kita mencegah sebelum serangan itu terjadi. Tindakan prevensi atau mencegah lebih baik daripada mengobati karena tidak terdapat kerusakan sel atau jaringan yang dapat menimbulkan kecacatan. Tahun 2019 ini bertepatan dengan Hari Stroke Sedunia pada tanggal 29 Oktober mengajak semua orang untuk melakukan pencegahan serangan stroke pada diri masing-masing. Tema yang diangkat adalah Dont be the one. Tema ini diangkat karena kegelisahan dunia bahwa 1 dari 4 orang dapat terjadi serangan stroke. Bila ditarik ke tahun 2012 dimana saat ini risiko stroke adalah 1 dari 6, maka saat ini kejadian stroke lebih banyak dibandingkan tahun 2012.

Stroke adalah sebuah final dari pejalanan penyakit. Penyakit-penyakit yang berjalan inilah yang menjadi faktor risiko terjadinya stroke.  Faktor risiko stroke terbagi menjadi 2 bagian yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat diubah antara lain Jenis kelamin, Umur dan Ras. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak terserang stroke daripada wanita. Umur lebih dari 40 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi daripada umur yang lebih muda.

Faktor risiko yang dapat diubah melekat erat dengan gaya hidup kita sehari-hari. Faktor risiko ini antara lain kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, obesitas, merokok, minum minuman beralkohol, kurang olah raga, dan riwayat penyakit stroke atau penyakit jantung sebelumnya.

Saat ini gaya hidup yang tidak sehat sering dijumpai dalam masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan dan aktivitas harian yang padat menyebabkan semua orang menjadi kurang bergerak dan memilih segala sesuatu yang mudah dan cepat saji. Kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol dan obesitas dipengaruhi oleh pola diit yang kurang baik meskipun juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Memilih diit yang instan dengan kalori tidak terukur dapat menyebabkan masalah-masalah di atas.

Tekanan darah harus dijaga dibawah 140/90 mmHg. Kolesterol total dibawah 200mg/dl. LDL kolesterol dibawah 150 mg/dl pada orang normal dan dibawah 100mg/dl pada orang yang pernah mengalami stroke sebelumnya. Gula darah juga harus menjadi perhatiaan utama karena penderita Diabetes di Indonesia terus meningkat. Gula puasa sebaiknya kurang dari 126 mg/dl dan gula 2 jam setelah makan tidak lebih dari 200mg/dl.

Merokok dan minum minuman beralkohol juga menjadi salah satu penyebab stroke. Merokok merupakan salah satu faktor risiko yang sering ditemukan pada pasien stroke usia muda (kurang dari 40 tahun).  Seseorang yang pernah mengalami stroke atau serangan jantung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadi serangan stroke ulang.

Prinsip dasar mencegah serangan stroke adalab mengendalikan semua faktor risiko stroke yang ada. Karena pencegahan kejadian stroke lebih baik daripada mengobati pasien yang mengalami stroke. Pencegahan selalu dimulai dari diri kita masing-masing, apabila kita menyadari adanya faktor-faktor risiko stroke dalam diri kita maka jangan diabaikan, kerena serangan stroke tidak dapat diprediksi kapan akan datang. Oleh sebab itu lakukan pencegahan mulai sekarang. Jangan biarkan kita menjadi salah satu pasien stroke.

 

 

Oleh:

dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc. Sp.S

RS Panti Rapih Yogyakarta

 

APA ITU DEMENSIA?

Lupa adalah hal yang manusiawi. Akan tetapi, terkadang kita menjumpai seseorang yang amat pelupa hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari dan mengganggu interaksinya dengan lingkungan sekitar. Masyarakat menyebut kondisi tersebut dengan istilah “pikun”. Dalam ilmu kedokteran, kepikunan ini disebut sebagai demensia. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan kepikunan atau demensia?

Demensia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pada “fungsi luhur” manusia, yang meliputi atensi/perhatian, bahasa, memori/daya ingat, pengenalan ruang dan waktu, serta fungsi eksekutif (perencanaan dan pengorganisasian). Gangguan “fungsi luhur” pada demensia tersebut pada akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan interaksi sosial. Orang yang mengalami demensia akan sering mengucapkan hal yang sama berulang-ulang, kesulitan untuk mengingat atau mempelajari hal baru, kesulitan dalam berkomunikasi atau merangkai kata, kebingungan terhadap waktu atau tempat, dan kesulitan dalam mengambil keputusan. Aktivitas sehari-hari yang biasanya dapat dilakukan dengan mudah, seperti berpakaian, makan, dan mandi, menjadi hal yang lebih sulit bagi seseorang dengan demensia. Bahkan terkadang mereka dapat tersesat bahkan ketika sedang berjalan menuju rumahnya sendiri. Seseorang dengan demensia juga akan mengalami perubahan perilaku dan emosi, seperti mudah curiga, dan menjadi lebih sering menyendiri. Hal tersebut tidak disadari oleh penderitanya, tetapi dirasakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi ini akan semakin memburuk seiring waktu.

Demensia lebih sering muncul pada usia lanjut, sehingga tidaklah heran jika demensia sering disebut sebagai “penyakit tua”. Meningkatnya populasi lansia secara tidak langsung juga meningkatkan angka kejadian demensia secara umum. Demensia tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah. Gaya hidup sehat adalah kunci utama untuk mencegah demensia. Makan makanan dengan gizi seimbang, olahraga teratur, dan mengelola stress adalah tiga hal yang dapat dilakukan untuk mencegah demensia. Gaya hidup sehat akan menurunkan risiko penyakit hipertensi, memperbaiki keseimbangan lemak darah (kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL), mencegah obesitas, dan memperbaiki keseimbangan kadar gula darah, sehingga secara tidak langsung juga akan menurunkan risiko demensia. Bagi seseorang yang telah terdiagnosis demensia, upaya-upaya di atas tetap harus dilakukan untuk mencegah semakin memburuknya demensia yang dialami. Dukungan sosial adalah faktor lain yang sangat penting bagi penderita demensia. Pengabaian dari orang-orang di sekeliling akan semakin memperburuk demensia yang dialami.

Terdapat beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi dini demensia. Mini Mental Satte Examination dan Clock Drawing Test adalah dua pemeriksaan yang paling sering digunakan untuk mendeteksi demensia. Pada pemeriksaan tersebut, pasien akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan dan melakukan beberapa instruksi yang dipandu oleh dokter atau tenaga terlatih. Setiap jawaban yang disampaikan akan menentukan derajat kepikunan seseorang. Apabila kita menjumpai seseorang yang kita curigai mengalami demensia, segeralah bawa mereka ke dokter spesialis saraf atau ke klinik memori. Semakin lama tidak terdeteksi dan tidak tertangani, maka akan semakin buruk demensia yang dialami. Semakin buruk demensia yang dialami, maka akan semakin menurun kualitas hidup penderitanya.

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

Dokter Umum RS Panti Rapih

 

Nyeri Pascaherpes

“Dokter, kulit saya sudah bersih tidak ada herpes lagi, tapi mengapa rasanya masih sakit?”. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang kerap diutarakan oleh pasien yang pernah mengalami herpes zoster di kulit. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana cara menanganinya? Artikel ini akan membahas secara khusus tentang nyeri pasca herpes atau dikenal pula dengan istiah pastherpetic neuralgia (PHN).

Virus Varicellazoster merupakan salah satu jenis virus yang sering menginfeksi manusia. Pasien yang terinfeksi virus Varicella zoster untuk pertama kalinya akan mengalami penyakit varicela atau biasa disebut ‘cacar air’ oleh orang awam.

Penyakit tersebut ditandai dengan adanya benjolan di kulit yang berisi carian, tersebar diseluruh tubuh, disertai oleh keluhan lain seperti demam dan lemas. Penyakit ‘cacar air’ ini bisa muncul pada anak. Dengan penanganan yang tepat, penyakit ‘cacar air’ akan membaik dalam waktu kurang lebih 7 hari. Meski demikian, virus Varicella zoster sebagai penyebab dari penyakit tersebut tidak mati, melainkan ‘bersembunyi’ di dalam selaput saraf sensoris (serabut saraf penerima rangsang) penderitanya.

Pada saat kekebalan tubuh penderita menurun, virus Varicella zoster yang “bersembunyi” tersebut akan kembali menginfeksi tubuh untuk kedua kalinya dan menimbulkan penyakit yang disebut dengan herpes zoster atau biasa disebut sebagai “dompo” oleh masyarakat Jawa. Rentang waktu dari serangan infeksi pertama dengan serangan infeksi kedua ini sangat bervariasi, dapat mencapai belasan hingga puluhan tahun. Wujud kelainan kulit pada penyakit herpes zoster mirip dengan penyakit “cacar air” yaitu adanya benjolan di kulit yang berisi cairan.

Perbedaannya adalah pada herpes zoster benjolan tersebut bergerombol di area tertentu tergantung dari lokasi serabut saraf yang terinfeksi, sedangkan pada “cacar air” benjolan tersebut tersebar di seluruh tubuh. Daerah yang sering mengalami herpes zoster adalah daerah dada dan pinggang.

Penderita herpes zoster juga akan mengalami rasa nyeri pada bagian tubuh yang terserang. Sebagian pasien mendeskripsikan nyeri yang dirasakan sebagai rasa perih, seperti tertusuk-tusuk, atau sensasi panas. Nyeri akan muncul terus menerus dalam jangka waktu yang lama (3 bulan atau lebih) meski permukaan kulit sudah sembuh. Kondisi inilah yang disebut sebagai PHN. Dengan kata lain, PHN merupakan komplikasi dari herpes zoster.

Nyeri pada PHN termasuk nyeri dengan intensitas sedang hingga berat sehingga sangat menganggu aktivitas, dapat menimbulkan gangguan tidur, dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Beberapa pasien bahkan dapat mengalami depresi aktivitas PHN. Penyakit herpes zoster dan PHN dialami oleh orang dewasa. Semakin tua usia seseorang dan semakin rendah daya kekebalan tubuh seseorang, maka risiko untuk mengalami herpes zoster dan PHN akan semakin meningkat.

Derajat keparahan PHN dapat diturunkan dengan pengobatan yang adekuat serta sedini mungkin saat pasien masih mengalami herpes zoster. Pemberian obat antivirus seperti asiklovir, tamsiklovir dan valasiklovir adalah obat pilihan dalam menangani herpes zoster. Pada pasien yang telah mengalami PHN, tujuan utama dari pengobatan adalah untuk menurunkan derajat keparahan nyeri sehingga kualitas hidup menjadi lebih baik. Peanganan yang diberikan dapat berupa kombinasi dari beberapa obat seperti obat anti depresan, obat anti kejang, obat antiperadangan, dan obat anti nyeri lainnya.

Penyakit herpes zoster biasa ditangani oleh dokter spesialis kulit, sedangkan PHN biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Apabila Anda mengalami kondisi seperti tersebut di atas, segeralah berkonsultasi dan mencari pengobatan dari dokter yang tepat. Penanganan herpes zoster sedini mungkin dan penanganan PHN yang tepat akan menurunkan derajat keparahan nyeri dan memperbaiki hidup penderita.

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

Dokter RS Panti Rapih

Membedakan Varicella dan Herpes Zoster

Varicella atau cacar air adalah suatu penyakit kulit yang sudah cukup dikenal di masyarakat dan masih sering ditemukan di sekitar kita. Demikian pula dengan istilah herpes, juga cukup popular di masyarakat. Namun pemahaman tentang herpes belum sepopuler istilahnya. Sering kali berbagai keluhan kulit dianggap sebagai herpes. Perlu diketahui ada dua macam herpes, yaitu Herpes Zoster yang disebabkan oleh virus Varicella-Zoster (VZV) dan Herpes Simpleks yang disebabkan oleh virus Herpes Simpleks (HSV).

Ulasan ini akan membahas mengenai dua penyakit berbeda yang saling terkait, yakni Varicella (cacar air) dan Herpes Zoster, yang disebabkan oleh virus yang sama, yaitu virus Varicella-Zoster (VZV).

Cacar Air

Varicella atau cacar air disebabkan oleh virus Varicella-Zoster (VZV). Penyakit ini sangat mudah menular, dimulai sejak tiga sampai empat hari sebelum ruam muncul hingga seluruh ruam kering dan berkerak.

Cara penularan cacar air adalah melalui udara dan kontak langsung. Pada anak-anak biasanya tidak didahului gejala awal. Sedangkan pada dewasa, ruam baru akan muncul setelah didahului demam dua sampai tiga hari, rasa tidak enak badan, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan nyeri tenggorokan.

Ruam awal biasanya muncul di wajah dan kepala, menyebar ke seluruh tubuh. Penyebaran ini berlangsung cepat dalam 12 jam pertama. Ruam awal akan muncul sebagai bintil kemerahan, berlanjut menjadi bintil berair, bintil bernanah, diakhiri dengan luka berkerak.

Kerak ini akan berangsur-angsur lepas dalam satu sampai tiga minggu, meninggalkan bekas cekungan merah muda, yang dapat menghilang sediri bila tidak terlalu dalam. Demam masih akan ada bila masih muncul ruam baru. Bila demam berkepanjangan, menandakan adanya infeksi bakteri atau komplikasi yang lain.

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita Varicella, adalah munculnya infeksi bakteri sekunder pada kulit atau dalam kondisi yang lebih berat, pada organ dalam. Pada dewasa, demam dan gejala umum lainnya, lebih berat dan lebih lama. Ruam muncul lebih banyak dan komplikasi terjadi lebih sering. Pada kehamilan, dapat menimbulkan risiko pada ibu dan janin.

 

Herpes Zoster (HZ)

Banyak muncul pada usia lanjut, dengan sifat penularan yang rebdah. HZ muncul akibat dari reaktivasi dan perkembangbiakan virus yang sudah berada di dalam ganglion (simpu saraf) serabut saraf, setelah dulunya pernah sakit cacar air.

Reaktivasi ini berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, stress emosional dan beberapa kondisi yang lain. Bertambahnya usia sangat berpengaruh pada daya tahan tubuh merespons virus Varicella-Zoster (VZV).

Ruam pada HZ akan muncul berkelompok sepanjang permukaan kulit yang dilewati oleh saraf yang terinfeksi. Nyeri terasa beberapa hari sebelum munculnya ruam. Nyeri ini dapat dirasakan terus menerus atau hilang timbul, disertai dengan peningkatan kepekaan kulit di area yang dilewati serabut saraf yang terinfeksi. Nyeri hebat yang muncul ini adalah akibat dari kerusakan pada serabut saraf dan peradangan berat yang terjadi.

Ciri khas ruam yang muncul adalah bintil-bintil yang berkelompok memanjang hanya pada satu sisi, sebatas area kulit yang dilalui oleh serabut saraf yang terinfeksi. Permasalahan utama adalah nyeri hebat yang berlangsung selama masa akut hingga 30 hari. Pada umumnya, HZ hanya terjadi sekali seumur hidup, keculai pada orang-orang dengan daya tahan tubuh yang sangat buruk.

 

Oleh:

dr. Radijanti Anggraheni, Sp.KK

Dokter di Rumah Sakit Panti Rapih