Apa Itu Self Isolation?

Self Isolation dilakukan bila seseorang menderita sakit seperti demam, batuk, sesak nafas, memilih untuk tinggal di rumah tanpa pergi ke sekolah, kantor dan tempat umum, untuk mencegah penularan penyakit.

Apa yang dilakukan ketika Self Isolation?

  1. Lakukan etika dan bersin, gunakan masker selama isolasi.
  2. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  3. Hindari pemakaian bersama peralatan makan, peralatan mandi, dan linen/sprei.
  4. Bersihkan area yang sering disentuh dengan cairan desinfektan.
  5. Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya. Upayakan menjaga jarak dari anggota keluarga setidaknya 1 meter.
  6. Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis seperti batuk atau kesulitan bernapas
  7. Tinggal di rumah, jangan pergi bekerja, dan jangan ke ruang public.
  8. Hubungi segera fasyankes jika sakit berlanjut seperti napas untuk dirawat lebih lanjut.

Durasi Self Isolation jika positif COVID-19 “sampai dikatakan negatif COVID-19 oleh petugas kesehatan”.

Lakukan Self Monitoring jika seseorang terpapar dengan kasus COVID-19 positif atau riwayat perjalanan ke negara/kota terpapar COVID-19 selama 14 hari.

Waspada Virus Korona

Apa itu Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau COVID-19?

Novel coronavirus (2019-nCoV) adalah jenis baru coronavirus yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia menyebabkan penyakit mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Apa saja gejala Novel Coronavirus (2019-nCoV)?

Gejala umum berupa demam ≥38 derajat Celcius, batuk, pilek, nyeri tenggorokan dan sesak napas. Jika ada orang dengan gejala tersebut serta pernah melakukan perjalanan ke Tiongkok (terutama Wuhan), atau pernah merawat/kontak dengan penderita 2019-nCoV, maka terhadap orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut untuk memastikan diagnosisnya.

Apakah antibiotik efektif dalam mencegah dan mengobati Novel Coronavirus?

Tidak, antibiotik tidak bekerja melawan virus, hanya bakteri. Novel Coronavirus (2019-nCoV) adalah virus, oleh karena itu, antibiotik tidak boleh digunakan sebagai sarana pencegahan atau pengobatan. Namun, jika Anda dirawat di rumah sakit untuk 2019-nCoV, Anda mungkin menerima antibiotik, karena infeksi sekunder bakteri mungkin terjadi.

Apa saja upaya pencegahan di Indonesia?
  1. Memperketat pemeriksaan di bandara menggunakan alat pemindai tubuh
  2. Melakukan deteksi, pencegahan, repons jika menemukan pasien dengan gejala pneumonia berat seperti di Wuhan
  3. Melakukan perawatan, pengobatan isolasi terhadap pasien gejala pneumonia
Lalu perlukah kita menggunakan masker?

Ya! Bagi tenaga kesehatan yang menangani pasien dengan gejala gangguan pernapasan

Ya! Jika kita memiliki gejala gangguan pernapasan, batuk, sesak napas

Ya! Jika kita merawat orang dengan gejala gangguan pernapasan

Tidak! Bagi masyarakat umum yang tidak mengalami masalah gangguan pernapasan

Jantung Anak

Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 September. Bertujuan untuk menciptakan sebuah komunitas global pahlawan jantung (Heart Heroes). Pahlawan ini adalah setiap orang dari semua lapisan masyarakat, yang bertindak untuk hidup lebih lama, lebih nyaman dan lebih baik, karena memiliki jantung yang lebih sehat. Caranya adalah dengan membuat berbagai janji. Pertama, janji untuk keluarga kita masing-masing, yaitu akan memasak dan makan yang lebih sehat. Kedua janji untuk anak, yaitu akan mendampingi berolahraga lebih banyak dan lebih aktif, untuk mengatakan tidak kepada rokok dan membantu orang yang kita cintai untuk berhenti. Ketiga janji sebagai seorang profesional kesehatan untuk membantu pasien berhenti merokok dan menurunkan kadar kolesterol. Semuanya adalah sebuah janji sederhana untuk jantung kita.

Penyakit jantung terutama karena pola hidup yang tidak sehat adalah pembunuh nomor satu di dunia saat ini, tetapi pada bayi dan anak sedikit berbeda. Dr. Nikmah Salamiah, SpA (K), PhD dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap insan, termasuk bayi dan anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil, guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh seorang anak. Sayangnya, 7 hingga 8 bayi per 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat ruang jantung, penyempitan atau sumbatan katup atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung, ataupun abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah. Kelainan struktur tersebut dapat bersifat tunggal ataupun berkombinasi, sehingga menimbulkan PJB kompleks. Kendati terdapat ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe. Tipe pertama disebut dengan PJB biru (sianotik), yaitu jenis PJB yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir terutama di daerah lidah, bibir dan ujung-ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah. Tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak. PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menetek atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi.

Tergantung pada jenis dan kompleksitas kelainan, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa. Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kulit kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda klinis yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. Untuk itu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya PJB. Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat ‘timing’ yang tepat untuk tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan. Terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan, hingga anak tumbuh sampai dewasa. Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi ataupun intervensi kateter (non-bedah).

Sejauh ini, penyebab PJB belum diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan penelitian, diduga bersifat multifaktorial, yaitu melibatkan kerentanan genetik (bawaan) dan faktor lingkungan. Paparan rokok saat kehamilan (baik ibu perokok aktif maupun pasif), konsumsi obat tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Down, dilaporkan meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Yang penting diperhatikan adalah pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan, dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat Ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Untuk itu, penting bagi setiap Ibu untuk menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan.

Nyeri dada adalah keluhan klinik tersering yang terkait dengan kelainan jantung, biasanya dipicu atau bertambah berat dengan aktivitas fisik (exertional chest pain), disertai keluhan jantung berdebar atau irama jantung tidak teratur. Anak agak besar sering melaporkan sebagai nyeri seperti ditekan, atau terdapat beban di atas dada dan mungkin menjalar, atau diikuti gejala pingsan atau hampir pingsan, dan pusing yang disertai mata berkunang-kunang. Untuk menyingkirkan kelainan jantung, pada umumnya dibutuhkan pemeriksaan tambahan berupa rekam listrik jantung (elektrokardiografi atau EKG) dan ultrasonografi jantung (ekokardiografi). Pada anak besar, juga dapat dilakukan tes latihan dengan treadmill atau sepeda statis, untuk melihat apakah gejala nyeri dada dan perubahan EKG terjadi dengan aktivitas fisik atau olahraga.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2019 mengingatkan kita, akan peran besar para pahlawan jantung (Heart Heroes), termasuk untuk Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak.

Sudahkah kita bertindak bijak?

 

Oleh:

Dr. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

Kenali Penyebab Demam Berdarah Dengue pada Anak

Demam berdarah dengue (DBD) masih jadi masalah kesehatan masyarakat saat ini. Kasus DBD meningkat di berbagai daerah khususnya di wilayah DIY. Ini artinya, orang tua diharapkan dapat lebih waspada untuk dapat mengenali tanda dan gejala penyakit ini. DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Infeksi virus ini dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai usia lanjut. Secara teoritis, seseorang dapat mengalami infeksi dengue lebih dari satu kali, karena virus ini mempunyai empat serotipe. Fase demam ditandai dengan demam yang mendadak tinggi dan bersifat terus menerus, hal ini yang sering kali dikuatirkan orangtua karena demam sulit turun meskipun sudah diberikan penurun panas.

Fase ini biasanya berlangsung selama 3-5 hari yang disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi, serta kemerahan pada kulit, khususnya kulit wajah (flushing).

Gejala lain seperti nafsu makan berkurang, mual dan muntah sering ditemukan. Pada fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan DBD maupun antara penyakit berat dan tidak berat. Bila dicek di laboratorium, biasanya terlihat penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan jumlah trombosit dan nilai hematrokit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal.

Fase kritis biasanya terjadi paling sering pada hari ke-4 sampai ke-6. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler sehingga darah menjadi kental, dan apabila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat menyebabkan kondisi perburukan sampai kematian. Sering disertai tanda bahaya berupa muntah yang terus menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, dari hidung, gusi, sampai terjadi muntah darah dan buang air besar berdarah.

Mendadak Dingin

Pada fase ini, badan terutama pada ujung lengan dan kaki mendadak dingin dan terlihat lemas. Hal ini merupakan bentuk tanda syok. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan penurunan jumlah trombosit yang disertai peningkatan nilai hematokrit (kekentalan darah) yang nyata.

Fase ini terjadi pada saat tubuh mulai mengalami penurunan sampai mendekati batas normal. Hal ini yang sering menyebabkan terlambatnya orang berobat, karena menganggap bila suhu tubuh mulai turun berarti penyakit akan mengalami penyembuhan.

Pada pasien yang tidak mengalami peningkatan permeabilitas kapiler akan menunjukkan perbaikan klinis menuju kesembuhan.

Fase pemulihan berlangsung secara bertahap 24-48 jam setelah melalui fase kritis, biasanya terjadi pada hari ke-7. Keadaan umum dan nafsu makan mulai membaik, evaluasi laboratorium mulai terjadi perbaikan, hematokrit (kekentalan darah) mulai stabil dan jumlah trombosit mulai terjadi peningkatan secara bertahap. Pada beberapa pasien dapat ditemukan ruam (kemerahan) di tangan dan kaki yang akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan mengenali gejala-gejala tersebut, orang tua disarankan untuk segera membawa anaknya berobat ke fasilitas kesehatan jika anak mengalami salah satu atau lebih dari gejala tersebut.

Pencegahan

DBD dapat dicegah dengan penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti-nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan jentik nyamuk di bak mandi, penyemprotan cairan insektisida (fogging), dan gerakan 3M (mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi). Pada prinsipnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.

 

Oleh:

dr. Maria Rulina YA, M.Sc., Sp.A

Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih

SKIZOFRENIA (GANGGUAN JIWA BERAT YANG BISA TERKONTROL DAN BERAKTIVITAS)

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat, dimana penderita mengalami gangguan realita dan  logika. Biasanya muncul saat masa remaja/dewasa muda, tetapi juga telah diketahui muncul pada orang di atas 40 tahun.

Pada pasien dengan gangguan skizofrenia terdapat dua gejala yakni: gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif yang timbul antara lain berupa: gangguan waham di mana terjadi gangguan isi pikir dimana pasien mengalami keyakinan yang tidak rasional/masuk akal (menjadi orang besar, curiga berlebihan, rasa permusuhan); adanya halusinasi yakni pengalaman panca indra tanpa rangsang/sumbernya; sikap pasien gaduh, gelisah, tidak dapat diam, agresif, mondar-mandir; terjadi alam pikir yang kacau dan ditunjukkan dari isi pembicaraan yang kacau, pasien juga merasa dikendalikan, disisipi, disiarkan, disedot pikirannya, dll. Sedangkan gejala negatif yang timbul pada pasien, meliputi: alam perasaan tumpul, datar/tdk ada ekspresi; menarik/mengasingkan diri, tidak mau bergaul/kontak dengan orang lain, suka melamun; kontak emosi miskin, sukar diajak bicara; sulit berpikir abstrak; mengabaikan kebersihan pribadi; pasif & apatis

Berbicara tentang gangguan jiwa, tentu bermacam-macam penyebabnya. Penyebab gangguan jiwa dapat berasal dari faktor: biologis, psikologis, dan sosial. Penyebab faktor biologis ini biasanya disebabkan oleh adanya peningkatan neurotransmitter di dalam otak sehingga muncul gejala-gejala seperti yang sudah diuraikan. Penyebab psikologis terdiri dari tiga hal, yakni: dari individu tersebut (kepribadian rentan), situasi (stressor sosial), dan reaksi (respon individu setelah mendapat stresor menimbulkan sakit). Penyebab sosial antara lain: terjadi peristiwa yang menimbulkan perubahan dalam kehidupan seseorang, dan tidak semua orang dapat melakukan adaptasi sehingga menimbulkan keluhan kejiwaan.

Penanganan gangguan skizofrenia dewasa ini belum cukup memuaskan karena ketidaktahuan keluarga atau masyarakat tentang penyakitnya, terlebih adanya stigma yang berpendapat bahwa skizofrenia tidak dapat diobati dan berujung pada perlakuan yang diskriminatif dan pertolongan yang tidak memadai. Meskipun skizofrenia dapat menyusahkan dan menakutkan, tidak berarti bahwa orang dengan gangguan ini tidak dapat memiliki kualitas hidup yang baik dan mungkin untuk dipekerjakan. Sama seperti orang lain yang memiliki penyakit jangka panjang atau berulang, orang dengan skizofrenia dapat belajar untuk mengelola kondisi mereka dan melanjutkan kehidupan mereka

Penyakit Skizofrenia cenderung berlanjut menjadi kronis dan menahun sehingga terapi perlu lama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menekan sekecil mungkin angka  kekambuhan. Terapi diperlukan secara komprehensif dan holistik (menyeluruh). Terapi yang dilakukan terdiri dari terapi psikofarmakologi, psikoterapi, terapi sosial (bertujuan agar pasien dapt berinteraksi kembali secara sosial), terapi rohani (bertujuan agar pasien dapat melakukan kegiatan keagamaan kembali), terapi rehabilitasi (terapi ini dilakukan pada pasien skizofrenia yang mengalami kekambuhan, dan bertujuan untuk mempersiapkan penempatan kembali ke keluarga dan masyarakat. Terapi ini diintegrasikan dengan terapi keterampilan seperti: mengasah keterampilan, bercocok tanam, rekreasi, kesenian, kerajinan, dll)

Menjaga agar tidak terjadi kekambuhan merupakan hal yang penting. Kekambuhan mungkin terjadi bila obat dihentikan/tidak digunakan secara rutin, maka sangat penting penderita skizofrenia agar sepakat dengan dokter serta keluarga mengenai rencana terapi dan pencegahan kekambuhan. Jika  minum obat, penting menggunakan obat yang diresepkan pada dosis dan waktu yang tepat setiap hari. Salah satu kendala upaya penyembuhan adalah STIGMA sehingga penderita  disembunyikan, dikucilkan, diisolasi, dipasung. Dewasa ini pemerintah pun juga turut membantu berupaya untuk menghilangkan stigma tersebut. Program ini bersama-sama dengan tenaga kesehatan untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang hal  gangguan, sehingga pasien  dapat berperan serta dalam upaya pencegahan, terapi, rehabilitasi, dapat menerima kembali penderita ke keluarga  masyarakat, tidak merasa fobia dan diskriminatif.

Pasien skizofrenia yang memiliki dukungan keluarga dan sering mendapatkan terapi atau bekal keterampilan hidup (berfungsi) lebih baik dibandingkan yang terisolasi. Mereka yang hidup sendiri  masih perlu dukungan dari keluarga dan teman. Sebuah lingkungan yang stabil dapat membantu pasien mempertahankan terapi dan tetap menjaga komunikasi secara rutin dengan dokter mereka dan tenaga kesehatan. Keberhasilan terapi gangguan jiwa berat (skizofrenia) tidak hanya terletak pada terapi obat dan jenis terapi lainnya, tetapi juga peran serta keluarga & masyarakat turut menentukan.

 

Oleh :

dr. MG Rini Arianti, SpKJ

(Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Panti Rumah)

 

 

 

 

Pool Therapy / Hydrotherapy

Merupakan salah satu program latihan yang diperuntukkan bagi pasien rawat jalan dengan masalah kesehatan antara lain:

– Osteoartritis

– Back Pain

– Neck Pain

Pelaksanaan terapi dilakukan di dalam air (kolam renang)

Untuk mengembangkan dan berinovasi dalam memberikan layanan Rehabilitasi Medis, serta upaya dalam memenuhi kebutuhan pasien Rehabilitasi Medis, Rumah Sakit Panti Rapih menghadirkan layanan Hydrotherapy bagi pasien Rehabilitasi Medis.

Hydroterapi merupakan salah satu metoda dalam fisioterapi yang memanfaatkan sifat-sifat fisika air untuk terapeutik melalui aktivitas yang dirancang secara spesifik dan dilakukan oleh tenaga professional yang memiliki klasifikasi/kompetensi tertentu. Terapi diberikan di dalam air hangat dengan suhu 28-30ᵒ C.  Penggunaan air pada Hydroterapi dapat berfungsi meringankan rasa nyeri, meningkatkan relaksasi pada otot dan sendi, memperluas jangkauan gerak sendi. Adanya tekanan dari air yang melawan gaya gravitasi membantu pasien untuk melatih ototnya dengan beban minimal pada sendi (mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut), gerakan otot lebih maksimal, lebih bebas, latihan terasa lebih ringan, sehingga efektif untuk menguatkan otot. Selain air, juga ada alat bantu/peraga yang disediakan dalam layanan Hydroterapi. Layanan Hydroterapi di Gedung Borromeus akan diperuntukkan bagi pasien dengan diagnosa Low Back Pain (LBP), Osteo Arthritis (OA), dan Stroke dengan kondisi stabil.

Perlengkapan Pasien Hidroterapi yang perlu dibawa :

  1. Baju renang yang sopan
  2. Penutup rambut
  3. Handuk
  4. Sabun dan shampoo
  5. Baju ganti
  6. Bekal makan dan minum secukupnya
  7. Plastik
  8. Datang 30 menit
  9. Obat pribadi

Tata Tertib Pool Therapy :

A. PERSIAPAN PASIEN

  1. PASTIKAN BAHWA PASIEN TIDAK MENGALAMI HAL-HAL SEBAGAI BERIKUT :
  • Gagal jantung, nyeri dada angin, gangguan irama jantung yang berat
  • Tekanan darah tidak stabil
  • Penyakit susunan saraf pusat dan saraf tepi fase akut
  • Penyakit pembuluh darah tepi yang berat
  • Bahaya pendarahan
  • Demam
  • Penyakit ginjal berat
  • Gangguan pernafasan, infeksi, TBC paru
  • Penyakit/Infeksi yang ditularkan melalui air dan udara
  • Infeksi kulit dan luka terbuka
  • Infeksi dan penyakit kelamin
  • Tidak bisa menahan buang air kecil/buang air besar
  • Sedang menstruasi
  • Riwayat kejang/epilepsi
  • Gangguan mental yang berat
  • Vertigo
  • Kesulitan berkomunikasi verbal
  • Kesulitan menelan
  • Kecenderungan muntah
  • Kesulitan naik turun tangga karena berbagai sebab
  1. PERLENGKAPAN PRIBADI
  • Pakaian untuk renang dari bahan yang ringan dan sopan (pakaian renang), disiapkan oleh pasien sendiri
  • Perlengkapan mandi disiapkan oleh pasien
  • Tidak mengenakan perhiasan
  • Perlengkapan pribadi disimpan dengan rapi dalam locker pasien
  • Bekal makan dan minum secukupnya untuk pasien

Locker untuk pasien

 

Kolam untuk tindakan

  1. Penunggu pasien maksimal 1 orang, menjaga kebersihan, ketenangan, privacy pasien serta dilarang makan di area kolom pool therapy dan dilarang mengambil gambar, merekam dengan kamera, HP atau alat perekam yang lain.

B. PELAKSANAAN

  1. Jadwal ditetapkan oleh petugas dan tidak bisa diganti pasien tanpa persetujuan petugas
  2. Jadwal sewaktu-waktu dapat dibatalkan mengingat kondisi kolam atau keadaan lain yang memaksa untuk meliburkan pasien

 

 

Informasi hubungi:

Rehabilitasi Medik

Lantai 1 Gedung Borromeus RS Panti Rapih

Telepon: (0274) 514014, 514845, 563333

Ext : 1011

OPERASI CAESAR, BIUS TOTAL ATAU REGIONAL?

Ketika seorang ibu sudah melalui masa kehamilan sampai trimester ketiga, kelahiran sang jabang bayi sangatlah dinanti-nantikan. Tetapi ketika persalinan normal tidak memungkinkan dan dokter kandungan memutuskan untuk melakukan operasi caesar, maka akan muncul berbagai pertanyaan.  Apakah ini sudah merupakan keputusan yang tepat? Apakah nanti akan terasa sakit pada saat dioperasi? Apakah aman untuk ibu dan bayi?

Supaya tidak terasa nyeri pada saat dilakukan operasi caesar, ibu harus mendapatkan pembiusan yang adekuat. Terdapat dua pilihan jenis pembiusan yaitu pembiusan umum atau total dan pembiusan regional.  Manakah yang lebih baik?  Sebagai orang awam, melihat ruang operasi dan tetap sadar saat dilakukan tindakan operasi bukanlah pengalaman yang menyenangkan, sehingga memilih tidur pada saat operasi sepertinya lebih menyenangkan.  Tetapi manakah yang lebih aman?

Sebelum dokter ahli anestesi melakukan pembiusan, keputusan jenis pembiusan akan diambil setelah dilakukan anamnesa (wawancara), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (laboratorium, EKG (Elektro Kardiografi)).  Baik pembiusan total maupun regional, masing-masing disesuaikan dengan indikasi klinis pasien.  Dalam Cochrane Database Review (2012) disampaikan bahwa tidak ada evidens atau bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pembiusan regional lebih baik dibandingkan dengan pembiusan total dalam hal outcome untuk ibu dan bayi.  Masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri.

Dengan pembiusan regional, ibu tidak akan merasakan nyeri pada area operasi meskipun ibu masih sadar.  Obat anestesi lokal yang dipakai pada pembiusan regional bekerja dengan memblok aliran saraf di tingkat saraf tulang belakang saja.  Disini ibu diuntungkan karena dapat langsung melihat bayinya dan dapat melakukan IMD (Inisiasi Menyusi Dini) bila kondisi ibu dan bayi memungkinkan.  Selain itu pada teknik epidural, dapat dilakukan pemasangan kateter epidural yang dapat digunakan sebagai alat memasukkan obat pengurang nyeri setelah operasi dengan prinsip kerja sama seperti pembiusan regional, hanya dengan dosis yang lebih kecil, sehingga diharapkan ibu lebih cepat bebas nyeri dan lebih cepat mobilisasi.  Obat anestesi lokal yang dipakai tidak masuk ke aliran darah plasenta sehingga tidak masuk ke janin.

Dalam British Journal of Anesthesia tahun 2009 disebutkan bahwa pembiusan total pada operasi caesar umumnya karena indikasi urgensi (35%), ibu menolak pembiusan regional (20%), pembiusan regional gagal atau tidak adekuat (22%), dan kontraindikasi medis karena fungsi pembekuan darah yang tidak normal atau bentuk tulang belakang yang tidak normal (6%).  Pada pembiusan total, ibu akan tertidur dan terbius segera setelah obat dimasukkan lewat jalur infus.  Obat bius bekerja langsung di susunan saraf pusat di otak.  Kesulitan pemasangan alat bantu nafas karena perubahan bentuk tubuh ibu, risiko aspirasi cairan lambung yang menyebabkan infeksi paru-paru ibu, dan risiko terjadinya gangguan nafas pada bayi akibat penggunaan obat-obatan, menjadi alasan mengapa pada akhirnya pembiusan total bukan menjadi pilihan utama.

Jadi, pembiusan regional atau pembiusan umum? Anda dapat menanyakan lebih lanjut kepada dokter anestesi anda, terkait prosedur, keuntungan dan kerugian serta pertimbangan-pertimbangan dari dokter anestesi saat menyarankan salah satu teknik pembiusan untuk operasi anda.  Utamanya adalah, pembiusan yang dipilih oleh dokter anestesi akan disesuaikan dengan indikasi yang ada, karena yang paling penting adalah keselamatan pasien dalam hal ini keselamatan ibu dan bayinya.

 

dr. E. Inggita Dyah Perbatasari, Sp.An

(Dokter Anestesi RS Panti Rapih)

 

Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk!

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

photo by google images

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

 

Oleh:

Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD

 

Mengenal Sindrom Terowongan Karpal

Pernahkah jari-jari tangan Anda terasa tebal/baal? Atau terasa kesemutan yang akan membaik apabila tangan Anda dikibas-kibaskan? Jika keluhan tersebut Anda rasakan berulang kali, maka sangat mungkin Anda mengalami sindrom terowongan karpal.

Apa itu sindrom terowongan karpal?

Sindrom terowongan karpal/carpal tunnel syndrome merupakan sekumpulan gejala yang muncul akibat adanya jepitan pada salah satu saraf di tangan yang disebut sebagai saraf medianus. Terowongan karpal adalah sebuah terowongan yang berada di pergelangan tangan. Terowongan tersebut tersusun dari tulang-tulang tangan dan jaringan ikat tulang/ligamen. Saraf medianus, pembuluh darah, dan jaringan ikat otot/tendo adalah struktur-struktur yang melewati terowongan tersebut. Kondisi apapun yang menyebabkan pembengkakan atau penyempitan pada terowongan karpal akan menimbulkan jepitan pada berbagai struktur yang melewati terowongan tersebut.

Gejala sindrom terowongan karpal

Gejala awal yang khas pada penyakit ini adalah rasa baal atau kesemutan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan separuh jari manis tangan. Keluhan tersebut cenderung memburuk pada malam hari dan dipicu oleh aktivitas tertentu pada pergelangan tangan (misalnya: mengemudi, merajut, atau memasak). Keluhan cenderung membaik apabila tangan dikibas-kibaskan. Kelemahan pada telapak tangan adalah keluhan lain yang sering muncul pada sindrom terowongan karpal, sehingga pasien akan mengatakan tidak dapat menggenggam dengan kuat atau mengeluh sering menjatuhkan barang yang dipegang. Gejala-gejala tersebut sering muncul pada tangan yang sering digunakan untuk beraktivitas.

Penyebab sindrom terowongan karpal

Sindrom terowongan karpal lebih sering muncul pada usia lanjut dan wanita. Cedera pada pergelangan tangan, baik cedera berat (patah tulang pergelangan tangan) maupun cedera ringan yang berulang pada pergelangan tangan (sering kali terkait dengan pekerjaan: mengemudi, memasak, atlet) akan memicu sindrom terowongan karpal. Seseorang dengan penyakit diabetes mellitus, obesitas, dan wanita hamil juga akan lebih mudah mengalami kondisi ini.

Penanganan sindrom terowongan karpal

Prinsip dari penanganan sindrom terowongan karpal dibedakan menjadi 2, yaitu tanpa pembedahan dan dengan pembedahan. Penggunaan bebat/splinting tangan pada malam hari serta pengobatan dengan obat steroid tablet maupun steroid yang disuntikkan pada pergelangan tangan adalah dua tata laksana yang sering diberikan pada pasien dengan kondisi ini. Obat lain yang digunakan untuk menangani kondisi ini adalah obat dari golongan anti kejang (misalnya: gabapentin dan pregabalin), obat dari golongan anti inflamasi non steroid, dan diuretik. Apabila dengan pengobatan tersebut keluhan tidak membaik atau justru semakin berat, maka tindakan pembedahan yang disebut sebagai carpal tunnel release dapat dipilih.

Sindrom terowongan karpal adalah kondisi yang sering muncul di masyarakat, tetapi jarang dikenali. Sindrom ini cenderung muncul pada tangan yang sering digunakan untuk beraktivitas, sehingga dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup penderitanya. Dengan mengenali gejala sindrom terowongan karpal, kondisi ini dapat ditangani dengan baik.

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

 

GANGGUAN SARAF AKIBAT PENYAKIT GULA

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (mislanya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

 

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

(Dokter Umum RS Panti Rapih)