Kerot (Bruxism)

Kita akan merendahkan volume bicara dan gerakan yang menimbulkan suara jika buah hati kita sedang tidur.  Kegiatan ini otomatis kita lakukan dengan maksud buah hati kita bisa tidur nyenyak, tidak terganggu oleh aktivitas kita.

Karena tidur merupakan salah satu kebutuhan penting dalam masa tumbuh kembangnya.  Tetapi bisa terjadi yang berisik adalah buah hati kita sendiri.  Pada saat tidur giginya mengeluarkan suara gemererak seperti sedang mengunyah.  Apa yang sebenarnya terjadi?  Berikut ini drg. Julie Christine, Sp.KGA yang berkarya di RS Panti Rapih Yogyakarta memberikan informasi menarik.
Kerot atau dalam bahasa kedokteran gigi disebut bruxism adalah aktivitas rongga mulut yang menggeretak dan menggrinding gigi, yang biasa terjadi saat tidur malam hari.  Sekitar 15-33 persen anak-anak mempunyai kebiasaan buruk bruxism ini, yang jika berlangsung dalam waktu lama akan berakibat buruk tidak hanya pada gigi geligi, tetapi juga pada jaringan penyangga gigi dan pertumbuhan wajah.

Penyebab bruxism yang pasti sulit untuk diketahui.

Beberapa ahli menyatakan penyebabnya antara lain :

  1. Faktor lokal, yaitu karena adanya ketidaksesuaian gigitan akibat tambalan gigi yang terlalu tinggi
  2. Faktor sistemik, misal karena penyakit epilepsy, meningitis dan gangguan pada lambung
  3. Faktor psikologis, disebabkan karena kondisi cemas dan stress. Faktor inilah yang dianggap oleh banyak ahli merupakan penyebab paling mendasar dari terjadinya bruxism.  Pada anak-anak kondisi fisik dan psikisnya masih sangat labil sehingga mudah mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan.  Saat keinginan anak tidak terwujud muncul rasa frustasi dan marah.  Perasaan ini harus disalurkan agar anak merasa nyaman.  Pada masa bayi rongga mulut merupakan sumber pertama untuk mencari kepuasan, sehingga dalam keadaan marah anak akan melampiaskan dengan menggigit sesuatu.  Bruxism merupakan kebiasaan buruk yang merupakan mekanisme untuk mendapatkan kepuasan tersebut.  Bruxism sering terjadi pada anak-anak yang mudah marah dan biasanya diikuti dengan kebiasaan buruk lain seperti menghisap ibu jari, menggigit kuku.

Beberapa akibat yang timbul dari kebiasaan bruxism yang dilakukan dalam waktu lama adalah :

  1. Gigi geligi aus yang berakibat gigi sering linu
  2. Gigi retak akibat tekanan yang kuat pada bruxism
  3. Jaringan penyangga gigi rusak, akibatnya gigi dapat terlepas
  4. Sakit kepala
  5. Nyeri pada otot-otot pipi
  6. Tulang rahang membesar / menonjol karena fungsi yang berlebihan
  7. Posisi gigi yang tidak normal, disebabkan posisi menutup mulut untuk menghindari rasa nyeri akibat kontak dengan gigi yang aus.  Tarikan otot yang cenderung pada satu sisi rahang sehingga gigitan silang sering terjadi.
  8. Gangguan pada sendi rahang akibat penyimpangan aktifitas otot-otot penggerak rahang

Terkadang orangtua tidak menyadari bahwa bruxism merupakan kebiasaan buruk yang membutuhkan perawatan.  Orangtua dapat membawa buah hatinya ke dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak untuk mendapatkan penjelasan lebih detil.  Perawatan yang dapat dilakukan pada penderita kebiasaan ini adalah :

  1. Psikoterapi, yang bertujuan untuk menghilangkan emosi anak yang tidak stabil.  Memberitahu orangtua anak bahwa salah satu penyebab dasar bruxism adalah factor psikologis dan bersama mereka mencermati hal-hal yang mungkin menjadi penyebab ketegangan psikis tersebut
  2. Menghilangkan ketidaksesuaian gigitan dengan menghilangkan tonjol-tonjol gigi yang menyebabkan hal tersebut
  3. Membuatkan alat yang dapat melindungi gigi dari keausan.  Alat tersebut menutupi permukaan gigi pada rahang atas
  4. Pada gigi yang terlanjur aus dilakukan penambalan, pembuatan jaket atau selubung logam

Karena kebiasaan buruk ini disebabkan oleh multifactor, maka dalam perawatan dan penanggulangannya dibutuhkan kerjasama antara dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak. Psikoterapis, dokter keluarga dan orangtua, yang tidak dilupakan adalah memberikan rasa aman dan nyaman pada anak selama menjalani perawatan ini.

Paronikia

Paronikia atau cantengen adalah infeksi jaringan lunak yang terdapat di sekitar kuku. Infeksi tersebut terdapat pada perionikium atau lipatan kulit yang menggantung pada sisi-sisi kuku. Kasus ini sering terjadi pada anak-anak yang memiliki kebiasaan suka menggigit kuku atau menghisap jari. Paronikia dibedakan menjadi akut dan kronik tergantung dari berapa lama infeksi terjadi.

Paronikia akut bisa menimbulkan nanah yang kebanyakan disebabkan oleh kuman Staphylococcus walaupun sering juga dijumpai campuran flora aerob dan anaerob. Sedangkan paronikia kronik lebih sering disebabkan oleh jamur.

Patofisiologi

Paronikia terjadi karena terbukanya barrier pelindung antara kuku dengan lipatan kuku. Infeksi dimulai dari tepi lipatan kuku. Apabila terjadi trauma pada lipatan kuku memberi jalan pada kuman masuk ke dalam tubuh menembus barrier kulit. Infeksi meluas hingga ke seluruh batas kulit di sekitar kuku karena terjadi pemisahan kuku dengan perionikium. Lama-kelamaan timbul nanah yang sulit hilang apabila dibiarkan.

Frekuensi

Paronikia merupakan infeksi tangan yang paling sering dijumpai, meliputi 35% dari seluruh infeksi tangan di Amerika Serikat. Kelainan ini lebih sering terjadi pada wanita dengan perbandingan 3:1.

Gejala Klinis

Pasien datang dengan riwayat memotong kuku terlalu pendek, pernah trauma, memiliki kebiasaan menggigit kuku, menghisap jari atau sering terendam air. Pasien yang memiliki penyakit diabetes akan lebih sulit perawatannya. Keluhan tersering adalah pasien merasa nyeri dan bengkak di sekitar kuku. Kekambuhan yang berulang-ulang harus dicurigai infeksi jamur bahkan suatu keganasan.

  1. Paronikia akut

Dari pemeriksaan akan tampak pinggir kuku kemerah-merahan, bengkak, nyeri di pinggir kuku. Pada saat kuku ditekan bisa keluar nanah.

  1. Paronikia kronik

Pasien dengan gejala lebih dari 6 minggu perlu dicurigai sebagai paronikia kronik. Kuku cenderung kering, bengkak dan kemerahan tidak begitu nyata pada paronikia kronik  Kuku tampak menebal dan berwarna pucat dan bisa terpisah sehingga tampak ada ruang diantara kuku dengan nail bed.

Paronikia akut. Bengkak dan kemerahan pada tepi kuku disebabkan oleh penumpukan nanah di bawah kulit.

Penyebab

Paronikia akut biasanya disebabkan oleh kuman Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Infeksi campuran berbagai kuman biasanya ditemukan pada penderita diabetes. Paronikia kronik sering disebabkan oleh jamur Candida albicans.

Diagnosis banding

Diagnosis banding adalah penyakit lain yang menyerupai paronikia diantaranya adalah herpes, kandidiasis, dermatitis, selulutis bahkan keganasan.

Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi ialah infeksi yang makin meluas, bila kuman masuk ke dalam aliran darah bisa menimbulkan sepsis yang sukar ditangani, walaupun hal ini jarang terjadi. Kuman dapat menembus tulang menimbulkan infeksi tulang atau osteomyelitis.

Penanganan

Penanganan harus dibedah atau tidak, tergantung dari luas infeksi. Pada paronikia akut, apabila masih ringan dan tidak bernanah bisa dilakukan penanganan dengan obat-obatan. Basuh dengan air hangat 3-4 x sehari atau kompres dengan Rivanol. Apabila sudah timbul nanah maka kuku harus diambil supaya mudah dibersihkan. Pada paronikia kronik, obat-obatan anti jamur mungkin diperlukan.

Pembedahan

Pembedahan dilakukan apabila dengan obat-obatan tidak kunjung membaik atau jika sudah timbul nanah. Bila nanah masih ringan bisa dilakukan drainase kemudian dicuci bersih. Bila infeksi terjadi hanya pada satu sisi dapat dilakukan Roser plasty (RP) atau memotong separuh kuku pada sisi yang mengalami kelainan. Bila infeksi sudah meluas dan melibatkan kedua sisi maka dilakukan Naegele extraction (NE) atau mengangkat kuku seluruhnya.

Pencegahan

Hindari trauma pada kuku seperti memotong kuku terlalu pendek maupun trauma langsung misalnya kejatuhan benda keras, hilangkan kebiasaan menggigit kuku, menghisap jari dan memakai sepatu terlalu ketat. Selalu menjaga kebersihan kuku.

Operasi Hemoroid Tanpa Sayatan

Apa itu Hemoroid/wasir ?

Pada keadaan normal, pada lubang dubur setiap orang terdapat pembuluh-pembuluh darah. Pembuluh-pembuluh darah tersebut ikut dalam mekanisme buang air besar, sehingga buang air besar terasa nikmat. Apabila pembuluh darah tersebut melebar disebut HEMOROID / AMBEIEN / WASIR.
Semua orang dapat terserang penyakit ini dan dapat menggangu aktifitas atau pekerjaan sehari-hari.

Hemoroid ada 2 macam, yaitu hemoroid luar dan hemoroid dalam.

Hemoroid ada 4 stadium :

Stadium 1 :

  1. Dubur gatal, panas
  2. Mengeluarkan darah segar menetes saat BAB

Stadium 2 :

  1. Dubur bengkak
  2. Ada tonjolan bila BAB
  3. Bisa keluar darah tetapi benjolan dapat kembali masuk sendiri

Stadium 3 :

  • Tonjolan pada dubur yang keluar saat BAB hanya dapat masuk kembali bila didorong dengan jari.

Stadium 4 :

  • Tonjolan pada dubur tidak dapat masuk kembali dan terasa sangat nyeri.

Mengapa bisa terjadi Hemoroid?

Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan terjadinya wasir :

  1. Keturunan / genetic
  2. Sembelit yang berulang
  3. Terlalu lama jongkok / duduk di toilet / WC – sambil baca, merokok, dsb
  4. Kehamilan / hormonal
  5. Lanjut usia

Secara anatomic terjadi penurunan penyangga dan pembuluh darah yang merupakan bantalan sehingga terjadi tonjolan.

Mencegah Hemoroid

  1. Banyak konsumsi makanan berserat (sayur, buah, sereal) dan minum lebih banyak air putih, sehingga dapat normal BAB
  2. Turunkan berat badan hingga berat badan ideal
  3. Hindari kebiasaaan mengejan
  4. Hilangkan kebiasaan berlama-lama pada saat BAB

Penanganan Hemoroid

  • Stadium I – II dapat dengan obat-obatan
  • Stadium III – IV sebaiknya dilakukan tindakan operasi

Operasi Hemaroid dapat dilakukan dengan bermacam tindakan. Antara lain :

  1. Injeksi / sklerosing
  2. Ligasi / diikat
  3. Elektrocauter
  4. Dipotong konvensional
  5. Stapler

Keluhan yang banyak dijumpai pasien pasca operasi adalah timbulnya rasa nyeri.

Tindakan Operasi dengan Stapler

  1. Operasi wasir yang dirasa paling nyaman bagi penderita saat ini yaitu tindakan operasi dengan metode stapler
  2. Operasi dengan metode yang lain dilakukan pada wasirnya, sehingga pasca operasi sering timbul keluhan, antara lain rasa nyeri, tidak nikmat pada saat atau sehabis BAB karena banyak saraf yang terpotong.

Dengan metode Stapler

Bagian hemoroid yang sakit tidak dilakukan apa-apa. Karena dengan metode stapler ini yang dilakukan adalah selaput lender di atas hemoroid yaitu dilakukan reposisi dengan memotong selaput lender pada bagian yang tidak nyeri karena persarafan sedikit, sehingga pasca operasi rasa nikmat pada saat BAB dan sesudahnya tetap dapat dirasakan.

Bagaimana prosedur operasi dengan metode stapler?

  • Pasien opname 2-3 malam
  • Pada saat operasi dilakukan pembiusan, sehingga tidak merasakan sakit
  • Pasca operasi hanya akan dirasakan sedikit tidak nyaman

Setalah pulang dari rumah sakit pasien dapat bekerja kembali seperti biasa.

 

Informasi dan Pendaftaran hubungi :

Klinik Bedah

Rumah Sakit Panti Rapih

Cik di Tiro 30 Yogyakarta 55223

Email : admin@pantirapih.or.id

 

Phaco Emulsification Bedah Mata Minim Sayatan

Katarak adalah lensa mata yang menjadi keruh, sehingga cahaya tidak dapat menembusnya, bervariasi sesuai tingkatannya dari sedikit sampai keburaman total. Dalam perkembangannya katarak yang terkait dengan usia penderita dapat menyebabkan pengerasan lensa, menyebabkan penderita menderita miopi, berwarna kuning menjadi coklat/putih secara bertahap dan keburaman lensa dapat mengurangi persepsi akan warna biru. Katarak biasanya berlangsung perlahan-lahan menyebabkan kehilangan penglihatan dan berpotensi membutakan jika katarak terlalu tebal. Kondisi ini biasanya memengaruhi kedua mata, tapi hampir selalu satu mata dipengaruhi lebih awal dari yang lain. Phaco Emulsifikasi adalah BEDAH MATA MINIM SAYATAN.

Beberapa gejala umum Katarak antara lain:

  1. Pandangan kabur yang tidak dapat dikoreksi dengan kacamata atau ukuran kacamata yang sering berubah.
  2. Warna-warna tampak kusam.
  3. Susah melihat di tempat yang terang akibat silau.
  4. Kesulitan saat membaca atau mengemudi di malam hari.

Sampai saat ini operasi katarak masih menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Namun, dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, maka operasi katarak tidak lagi menakutkan karena ada alat dengan teknologi modern yang membuat operasi katarak dapat dilakukan dengan teknik Phaco (baca : Fako) Emulsifikasi dan tanpa membuat sayatan lebar, sehingga operasi menjadi cepat, mudah, dan aman tanpa jahitan.

Apa yang di maksud dengan Teknik Phaco Emulsifikasi ?
yaitu operasi pengangkatan katarak modern dengan menggunakan alat phaco emulsifikasi (awam disebut dengan laser) untuk melunakkan (emulsifikasi) dan mengeluarkan lensa katarak pada saat yang bersamaan. Setelah itu, lensa intra-okuler (IOL) yang dapat dilipat dimasukkan ke dalam mata. Setelah operasi, pasien dapat beraktifitas kembali tanpa penutup mata.

Beberapa kelebihan dari operasi katarak dengan menggunakan teknik Phaco Emulsifikasi yaitu:

  1. Sayatan sangat kecil (± 2,2 mm)
  2. Proses cepat (± 15 menit)
  3. Tanpa Jahitan
  4. Pasien dapat langsung pulang setelah operasi
  5. Perawatan dan pemulihan lebih cepat (± 2- 5 hari)
  6. Dapat dilakukan pada semua tingkatan katarak
  7. Mengurangi rasa nyeri, ngeres dan ketidaknyamanan setelah operasi

RS Panti Rapih akan segera membuka layanan pengobatan katarak dengan teknik Phaco Emulsifikasi. Dengan teknik operasi modern, Anda tidak perlu menginap di rumah sakit dan dapat segera kembali beraktifitas. [dari berbagai sumber]

 

Informasi lebih lanjut :

RS PANTI RAPIH YOGYAKARTA
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon (0274) 514014, 514845, 563333
Email : admin@pantirapih.or.id

Vaksinasi Mencegah Kesakitan, Kematian, dan Kecacatan Anak

Merupakan keinginan semua orang tua untuk mempunyai anak yang sehat, tidak sakit, dan tidak cacat. Pertumbuhan dan perkembangannya optimal.  Paradigma anak sehat meliputi sehat fisik, sehat kognitif dan sehat emosi-sosial-moral.

Sehat fisik, artinya pertumbuhan dan perkembangan fisik optimal, ditunjukkan dengan perubahan tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, pematangan fungsi organ-organ tubuh sesuai dengan umur.

Sehat kognitif. Anak  mempunyai kemampuan untuk mengenali, mengerti, mengingat, membandingkan, mencocokkan, menggabungkan, merangkai, mengekspresikan, menghasilkan ide, pengetahuan, dan ketrampilan baru.
Sehat emosi-sosial-moral.  Anak gembira, berani, optimis, percaya diri, dapat mengeksplorasi lingkungan, dapat mengendalikan diri, beradaptasi dengan lingkungan, mengerti baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh.

Mengapa anak bisa sakit? Anak sakit karena kekebalan (imunitas) tubuh alamiah tidak cukup mampu melindungi tubuh. Ketika penyebab sakit tidak bisa ditolerir oleh tubuh, maka anak akan sakit. Penyebab sakit antara lain: infeksi, kelainan bawaan, gangguan metabolisme, kekurangan gizi, cedera, kecelakaan, keracunan, penyakit imunologi, dan degeneratif.

Sebaliknya, seseorang akan menjadi kebal (imun) terhadap suatu penyakit karena adanya sistem imunitas. Imunitas terbagi menjadi 2 yaitu imunitas alami dan imunitas didapat. Imunitas alami  bersifat aktif dan pasif. Imunitas alami aktif merupakan reaksi tubuh terhadap suatu infeksi, misalnya bila seseorang menderita cacar air, maka dalam tubuhnya kan terbentuk sistem imunitas yang menjaga terulangnya infeksi cacar air.  Imunitas alami pasif didapatkan bayi dari ibunya melalui jalur plasenta. Disini sistem kekebalan ibu “menular” ke janin melalui plasenta.

Imunitas didapat mengandung arti bahwa tubuh mendapatkan kekebalan dari rangsangan  luar tubuh. Tubuh disuplai sistem kekebalan dari luar. Suplai disini bisa berupa sel-sel kekebalan yang sudah jadi (injeksi antibodi, disebut imunitas didapat pasif) maupun perangsangkekebalan pada tubuh pasien (vaksinasi, disebut imunitas didapat aktif).

Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 dan Survei Demografi dan Kesehatan (SKDI) 2002-2003, kematian  satu bayi (0-12 bulan) terjadi tiap 3, 1 menit dan kematian balita tiap 2, 5 menit.

Vaksinasi adalah memberikan kekebalan aktif (kuman) pada seseorang untuk merangsang kekebalan pada tubuh pasien sehingga ia menjadi kebal dan terlindungi dari penyakit tertentu. Mengapa vaksinasi penting? Vaksinasi akan meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah penyakit berbahaya dan komplikasi yang bisa ditimbulkannya.

Vaksin merupakan salah satu media intervensi paling efektif untuk mengurangi dan mencegah penyakit infeksi berbahaya. 26 penyakit di dunia ini diketahui dapat dicegah dengan vaksin. Vaksinasi pun sudah dicanangkan sebagai proteksi global.

Program Imunisasi di Indonesia ada dua, yaitu PPI  dan non PPI. PPI adalah Program Pengembangan Imunisasi dimana program ini diwajibkan bagi anak pada usia tertentu dan didanai oleh pemerintah. Yang termasuk PPI adalah vaksinasi Hep B, BCG, DPT, anti-Polio, Campak. Non PPI adalah vaksinasi HiB, Hepatitis A, MMR, Varicella, Typhoid.

PPI adalah program dasar dan wajib. Bayi umur 6 bulan mendapatkan 16 kali suntikan. Hal tersebut menjadi salah satu sebab program imunisasi kurang berhasil. Jumlah suntikan yang diterima bayi menjadi kekhawatiran orang tua dan hal tersebut menyebabkan terjadinya “drop out”.

Solusi untuk mengurangi jumalh suntikan? Dibuatlah vaksin kombinasi. Vaksin Kombinasi adalah vaksin yang terdiri dari dua atau lebih antigen (kuman) berbeda yang dikombinasikan / digabung dalam satu sediaan. Keuntungan vaksin kombinasi adalah:

  • Lebih praktis dan ekonomis
  • Jumlah suntikan berkurang sehingga lebih nyaman.
  • Jumlah kunjungan ke penyedia layanan kesehatan berkurang.

Contoh vaksin Kombinasi:

  • DPT (Difteri, Pertussis, Tetanus)
  • MMR (Mumps, Measles, Rubella)
  • Hepatitis A +B
  • DPaT – HiB – Polio (5 in 1)

Vaksin Kombinasi terbaru yang telah tersedia di Indonesia adalah  DPaT – HiB – Polio.

Apa saja isi vaksin tersebut?

  • Komponen DPaT: Diphteria – Pertusis – Tetanus

o   Diphteria

Penyakit infeksi oleh bakteri C. diphteriae, menyebabkan sumbatan jalan napas dan mengganggu otot jantung, mudah menular, dan menyebabkan kematian yang tinggi pada anak dan manula.

Komponen racun (toksoid) bakteri ini yang yang dijadikan vaksin.

o   Pertusis (Batuk Rejan, 100 hari)
Penyakit infeksi oleh Bordatella pertussis, menyebabkan batuk lama dan berat, sangat menular.

Bakteri mati dijadikan komponen vaksin, ada 2 jenis:

  • DPwT: pertussis whole cell, bakteri utuh mati
  • DPaT: pertussis aseluler , lebih menguntungkan karena efek samping panas, bengkak dan kemerahan jauh berkurang.

o   Tetanus
Penyakit infeksi oleh Clostridium tetani, menyebabkan kaku otot mulut, dada, punggung, perut. Merupakan 10 penyebab kematian tertinggi.

Toksoid tetanus dijadikan sebagai komponen vaksin.

  • Komponen HiB
    Vaksin HiB ini mencegah penyakit yang disebabkan Hemophylus influenza tipe B, seperti meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru berat)
  • Komponen Polio
    Vaksin Polio mencegah infeksi virus polio yang menyebabkan poliomyelitis (lumpuh layu).

Bentuk sediaan vaksin polio ada 2 macam:

  • Vaksin polio tetes, lebih sering diikuti kejadian ikutan pasca imunisasi, seperti lumpuh layu.
  • Vaksin polio suntik, merupakan bagian dari vaksin kombinasi.

Jadwal pemberian vaksin kombinasi DPaT-HiB-Polio berdasarkan rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)2010:

  • Usia minimal 6 minggu
  • Jadwal: 2,3,4 bulan atau 2, 4, 6 bulan, dan mendapat booster(ulangan) pada tahun ke 2 (18 bulan).

Imunisasi telah terbukti menyelamatkan jutaan bayi dan balita. Dengan adanya vaksin kombinasi akan semakin memperbaiki cakupan keberhasilan program imunisasi. Petugas kesehatan mempunyai tugas untuk memberikan informasi yang benar tentang imunisasi kepada masyarakat. Jangan sampai orang tua lebih takut pada efek samping daripada takut pada penyakitnya.

 

(sumber: dr. A. Ratnaningsih, Sp.A)

Diare Pada Anak

APA ITU DIARE ?

Diare atau Gastro Enteritis Akuta adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih.

Bila hal ini terjadi maka tubuh anak akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi.

Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Diare menjadi penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Penyebab diare :

1.Faktor infeksi, yaitu infeksi bakteri, infeksi virus.

2.Faktor mal absorbsi, misalnya dalam mengabsorbsi karbohidrat, lemak,protein.

3.Faktor psikologis, misalnya rasa takut dan rasa cemas.

Gejala-gejalanya :

Mula-mula cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan tidak ada kemudian diare.

Mekanisme timbulnya diare :

  1. Gangguan osmotik
    Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus, isi rongga usus menjadi berlebihan, ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya, sehingga timbul diare.
  2. Gangguan sekresi
    Akibat ada rangsangan tertentu ( misalnya racun ) pada dinding usus, maka akan terjadi peningkatan air ke rongga usus, usus penuh, sehingga terjadi diare.
  3. Gangguan mobilitas usus
    Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan-kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik menurun akan menyebabkan bakteri tumbuh berlebihan dan menjadi diare.

Akibat dari diare adalah dehidrasi / kekurangan cairan yang dapat bersifat :

  1. Ringan, dengan tanda :
  • Haus
  • Kencing sedikit
  • Mulut kering
  1. Sedang, dengan tanda :
  • Ubun-ubun besar dan cekung
  • Mata cowong
  • Tegangan kulit menurun
  1. Berat, dengan tanda :
  • Nafas cepat
  • Kesadaran menurun
  • Tidak sadar

Pengobatan :

Pencegahan Diare

Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:

  1.  Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting: 1) sebelum makan, 2) setelah buang air besar, 3) sebelum memegang bayi, 4) setelah menceboki anak dan 5) sebelum menyiapkan makanan;
  2.  Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;
  3.  Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
  4.   Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

Yang paling pokok adalah mengganti cairan yang hilang dengan cara :

  1. Minum yang banyak cairan oralit.
  2. Jika tidak ada oralit, beri minum larutan gula dan garam.
  3. Segera bawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Perawatan

Pada kondisi diare, penderita diharuskan  mengkonsumsi sejumlah air yang mencukupi untuk menggantikan yang hilang, lebih baik bila dicampur dengan elektrolit untuk menyediakan garam yang dibutuhkan dan sejumlah nutrisi.

Diare dapat menjadi gejala penyakit yang lebih serius, seperti disentrikolera atau botulisme, dan juga dapat menjadi indikasi sindrom kronis seperti penyakit Crohn. Meskipun penderita apendisitis umumnya tidak mengalami diare, diare menjadi gejala umum radang usus buntu. Oleh karena itu kita harus tetap waspada dan harus mengerti gejala diare yang membutuhkan perawatan khusus.

Diare di bawah ini biasanya diperlukan pengawasan medis:

  • Diare pada balita
  • Diare menengah atau berat pada anak-anak
  • Diare yang bercampur dengan darah.
  • Diare yang terus terjadi lebih dari 2 minggu.
  • Diare yang disertai dengan penyakit umum lainnya seperti sakit perut, demam, kehilangan berat badan, dan lain-lain.
  • Diare pada orang berpergian(kemungkinan terjadi infeksi yang eksotis seperti parasit)
  • Diare dalam institusi seperti rumah sakit, perawatan anak, institut kesehatan mental.

Aku Menderita Kanker Serviks

Retno, 42 tahun  terduduk lemas setelah mendengarkan penjelasan dokter mengenai hasil tes  Pap Smear-nya. Hasil tes itu menunjukkan ada sel-sel ganas pada serviks (leher rahim). Hasil tes tersebut menguatkan analisis  dokter mengenai adanya keganasan (kanker) pada serviks Retno, dan stadium keganasan itu sudah tinggi. Retno sungguh menyesal sekali kenapa tidak dari dulu dia melakukan Pap Smear, padahal dirinya sering diingatkan oleh rekan-rekannya. Namun Retno selalu menolak bila diajak rekannya untuk melakukan Pap Smear dengan alasan malu.

Sudah dua minggu ini Retno mengalami perdarahan  vagina setiap  habis berhubungan intim. Bercak- bercak darah  merah segar keluar dari vaginanya. Karena didesak oleh suami, Retno pun akhirnya periksa ke dokter.

Apa itu Kanker Serviks?

Kanker Serviks adalah penyakit yang diderita wanita. Keganasan terjadi pada leher rahim (serviks), yang merupakan bagian terendah dari rahim (uterus) yang menonjol ke puncak liang senggama (vagina). Kanker Serviks terjadi saat sel normal di serviks berubah menjadi sel kanker.Perubahan ini biasanya memakan waktu 10-15 tahun sampai terjadi kanker.Maka sebenarnya terdapat kesempatan yang cukup lama untuk mendeteksi melalui skrining dan menanganinya sebelum menjadi kanker serviks.

Beban Kanker Serviks

Di dunia, setiap 2 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks. Di Asia-Pasifik, setiap 4 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks. Di Indonesia, setiap 1 jam seorang wanita meninggal karena kanker serviks.

Penyebab Kanker Serviks

Kanker Serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV)

Beban Utama Infeksi HPV adalah Kanker Serviks Di dunia, HPV tipe 16,18, 45, 31 dan 52 secara bersamaan menjadi penyebab lebih dari 80% kasus kanker serviks.

Karakteristik HPV

  • HPV sangat resisten terhadap panas dan proses pengeringan (desiccation).
  • Penularan non seksual dapat juga terjadi, misalnya penggunaan bersama pakaian yang terkontaminasi dalam jangka waktu lama.
  • Kebanyakan infeksi HPV bisa bertahan selama 8 bulan dan kemudian menghilang. Namun sesudah 2 tahun, ditemukan sekitar 10% wanita masih membawa virus yang aktif dalam vagina dan serviks.

Faktor pendukung Kanker Serviks

Menikah muda.

Kehamilan yang sering.

Merokok.

Penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang.

Infeksi Menular Seksual, wanita yang memiliki banyak pasangan seksual lebih berisiko terinfeksi HPV.

Paparan bahan kimia.

Gejala Awal Kanker Serviks

Kebanyakan infeksi HPV berlangsung tanpa gejala.

Sejalan dengan perkembangan kanker, gejala-gejala yang mungkin timbul:

♣Perdarahan melalui vagina

−ada bercak atau pendarahan setelah hubungan seksual.

−ada bercak atau pendarahan di luar masa haid.

−ada bercak atau pendarahan pada masa menopause

−mengalami masa haid yang lebih berat dan lebih panjang dari biasanya.

♣Keluarnya bau menyengat yang tidak bisa dihilangakan walaupun sudah diobati.

♣Keputihan

– bercampur darah, berbau.

♣Nyeri panggul.

♣Tidak dapat buang air kecil.

Siapa yang berisiko? Setiap wanita berisiko

  • Hingga 80% wanita akan terinfeksi oleh HPV sepanjang masa hidupnya. Hingga 50% dari mereka akan terinfeksi oleh virus HPV yang dapat menyebabkan kanker sepanjang masa hidupnya.

Mengapa setiap wanita berisiko?

  • Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya. Mereka yang mengalami infeksi persisten jarang menunjukkan gejala pada stadium awal, dan biasanya berkembang menjadi kanker serviks beberapa tahun kemudian.
  • Setelah infeksi HPV, tubuh kita tidak selalu dapat membentuk kekebalan, maka kita tidak terlindungi dari infeksi berikutnya.

Bagaimana mendeteksi Kanker Serviks?

  • Skrining adalah satu-satunya cara untuk mendeteksi lesi pra kanker atau untuk mengetahui tanda-tanda awal kanker serviks sehingga dapat dengan mudah ditangani
  • Namun, screening tidak dapat mecegah terjadinya kanker serviks.

Rekomendasi Skrining di Indonesia:

  1. Pap Smear
  2. Visual Inspection with Acetic Acid – IVA (Pemeriksaan Visual Serviks setelah serviks diberikan larutan asam asetat).

Penatalaksanaan Kanker Serviks

  • Tindakan operasi
  • Radiotherapy
  • Chemotherapy
  • Rehabilitasi
  • Palliative/Supportive care
  • Kanker Serviks yang diketahui telah berstadium lanjut dapat mengakibatkan kerugian bagi organ tubuh disekitarnya dan dapat menyebabkan kematian.

Bagaimana mencegah kanker serviks?

Pencegahan Primer

  • Edukasi & Promosi.
  • Melakukan vaksinasi untuk mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.

Pencegahan Sekunder

  • Pap smear atau IVA merupakan cara deteksi dini terhadap infeksi HPV.

Kesimpulan Gambaran Klinis

  • Kanker serviks disebabkan oleh Human Papillomavirus
  • Infeksi HPV sangat biasa terjadi: Hingga 80% wanita berisiko terinfeksi HPV onkogenik sepanjang hidupnya
  • Siklus hidup HPV di serviks yaitu berdiam didalam sel epitel serviks
    • HPV mampu menghindar dari sistem imundan menyebabkan infeksi persisten
  • Sekitar 50% wanita yang terinfeksi, gagal menghasilkan antibodi terhadap HPV
    • Pada mereka yang dapat menghasilkan antibodi, dihasilkan kadar antibodi yang rendah, yang tidak menjamin perlindungan terhadap infeksi HPV berikutnya

PENCEGAHAN

  • Vaksinasi dengan skrining bersama-sama dapat mengurangi kejadian kanker serviks secara efektif.
  • Komponen Vaksin : VLP vs HPV. Sistem imun tubuh manusia dapat mengenali VLP (Virus-like Particle) sebagai HPV.
  • VLP tidak mengandung materi genetik (DNA)
  • VLP tidak menular, tidak membawa sifat keganasan.
  • VLP memiliki struktur sama dengan HPV tetapi berukuran lebih kecil (diameter VLP:HPV = 40-50 nm)

VAKSIN KANKER SERVIKS YANG IDEAL

♣Mampu merangsang pembentukan titer antibodi yang tinggi. ♣Dapat memberikan perlindungan jangka panjang. ♣Dapat ditoleransi dengan baik.

KEAMANAN

  • Hampir semua efek samping yang ditimbulkan adalah lokal (di tempat injeksi)

KONTRAINDIKASI

hipersensitif terhadap komponen vaksin

VAKSIN KANKER SERVIKS

Rekomendasi pemberian vaksin:

Panduan HOGI – wanita berusia 10-55 tahun.

Panduan IDAI – wanita berusia > 10 tahun.

Panduan PAPDI – wanita berusia 12-55 tahun.

Jadwal pemberian bulan ke 0,1/2, dan 6

–     Contoh: penyuntikan 1: Januari

penyuntikan 2: Februari/Maret

penyuntikan 3: Juli

Cervarix™, vaksin kanker serviks dengan adjuvant AS04 telah menunjukkan:

  • Semua wanita terlihat tetap seropositif sampai 6,4 tahun terhadap HPV 16 dan 18. Mampu merangsang pembentukan kadar (neutralising) antibodyyang tinggi dan bertahan lama sampai terhadap HPV 16 dan 18 sampai 6,4 tahun.
  • Terdapat hubungan yang kuat antara kadar antibodi dalam serum dengan kadar antibodi di mukosa cervico-vaginal, terbukti dalam penelitan selama 2 tahun.
  • Mampu memberikan 100% efikasi terhadap lesi pra kanker yang disebabkan HPV 16 & 18 untuk setidaknya selama 6,4 tahun, dan masih terus dilakukan follow up. Data ini menunjukkan pencegahan terhadap kanker serviks.
  • Secara umum Cervarix™,aman dan dapat ditolerir dengan baik.

Cervical cancer kills every two minutes.

Take the time to talk about it.

Ask your doctor how you can best protect yourself against cervical cancer.

 

( Penulis : dr . Danny Wiguna, SpOG)

Unit Pelayanan Kebidanan dan Penyakit  Kandungan RS Panti Rapih

Istriku Mengalami Perdarahan

Ibu Nunu, 27 tahun, hamil  7  bulan, pagi ini dibawa suaminya datang mengunjungi puskesmas dengan keluhan perdarahan di jalan lahir. Ibu Nunu semalam mengalami perdarahan merah segar dengan jumlah yang tidak banyak. Oleh dokter puskesmas Ibu Nunu dirujuk ke rumah sakit dengan sarana pemeriksaan USG. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu Nunu?

Di rumah sakit, Ibu Nunu diperiksa oleh dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan. Dokter memeriksa dengan cermat menggunakan alat USG. Ibu Nunu dan suami kemudian dijelaskan oleh dokter mengenai kondisi kehamilannya. Ternyata Ibu Nunu mengalami kelainan letak plasenta. Letak plasentanya mendekati jalan lahir.  Oleh dokter, Ibu Nunu didiagnosis Plasenta Previa.

Perdarahan pada masa sebelum melahirkan oleh medis disebut sebagai perdarahan antepartum.

Perdarahan Antepartum adalah perdarahan melalui vagina pada semua kehamilan,  usia diatas 24 minggu kehamilan sampai kelahiran bayi. Kejadian perdarahan antepartum ini terjadi pada 3% wanita hamil. Penyebab utama perdarahan antepartum adalah masalah plasenta.

Plasenta adalah  suatu organ dalam kandungan pada masa kehamilan. Ada 2 bagian penting pada plasenta: bagian maternal (bagian yang melekat di rahim ibu) dan bagian fetal/janin (bagian yang melekat di perut janin). Pertumbuhan dan perkembangan plasenta penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin. Fungsi plasenta adalah memberikan zat-zat nutrisi dan oksigen yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan janin,  sebagai barier infeksi, memberikan zat kekebalan bagi janin, dan  membuang sisa-sisa metabolisme janin. Plasenta yang normal terletak di bagian fundus (bagian atas rahim yang membulat) atau di korpus (badan rahim). Tali pusatnya berpangkal di bagian tengah plasenta, dan plasenta akan terlepas sendiri setelah bayi lahir.

Kelainan pada plasenta:

1. Plasenta Previa (PP)
Plasenta terletak di segmen bawah rahim sehingga plasenta menutupi sebagian bahkan total pintu rahim.

Tipe:

  • PP totalis (menutupi seluruh pintu rahim)
  • PP partialis (menutupi sebagian pintu rahim)
  • PP marginalis (pinggir plasenta berada di pinggir pintu rahim)
  • Plasenta letak rendah (pinggir plasenta berjarak 2-3 cm dari pintu rahim)

Gejala  dan tanda PP antara lain: Perdarahan merah segar ,terutama pada saat kontraksi uterus; Tanpa rasa sakit terus menerus; Kondisi klinis ibu sesuai jumlah perdarahan ;Uterus tidak nyeri tekan;  Letak janin abnormal ;USG plasenta previa.

Penatalaksanaan kasus ini antara lain:

  • Sesuai dengan kondisi pasien:

oBila kondisinya baik (perdarahan sedikit dan berhenti) dan usia kehamilan belum cukup untuk dihentikan (<34 minggu), maka tatalaksananya secara konservatif (tirah baring, obat, persiapan donor darah, konseling  pasien untuk persiapan Sectio Cesarean (SC))

oBila kondisinya tidak stabil (perdarahan banyak) atau usia kehamilan sudah cukup, maka pasien segera SC.

2. Solusio Plasenta
Lepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternal plasenta dari tempat melekatnya pada rahim sebelum bayi lahir.
Tipe:

  • Tersembunyi: darah diantara plasenta yang terlepas dan rahim. Komplikasi biasanya lebih berat.
  • Darah keluar : yang terlepas tepi plasenta darah mengalir keluar.

Penyebab Solusio Plasenta: hipertensi akut ataupun kronik, trauma, tali pusat terlalu pendek.

Gejala dan tanda solusio plasenta: perdarahan vagina merah kehitaman, disertai nyeri perut, nyeri tekan rahim, kondisi ibu tidak stabil walaupun darah yang keluar mungkin sedikit. Kadang kelainan tidak tampak di USG.

Penatalaksanaan:

  • Janin hidup, diharapkan persalinan pervaginam segera
  • Janin hidup, kemungkinan persalinan pervaginam terlalu lama, maka pasien disarankan SC
  • Janin mati dengan kondisi ibu baik, diusahakan  persalinan pervaginam
  • Janin mati dengan kondisi ibu memburuk, disarankan SC

3.Vasa Previa
Pembuluh darah janin pada selaput ketuban berjalan melalui leher rahim sehingga darah janin keluar saat pecah ketuban atau pemecahan selaput ketuban. Kematian janin sangat tinggi 50-70%.

Gejala dan tanda: pendarahan terjadi sesudah ketuban pecah, jumlah perdarahan bisa tidak banyak, janin dalam kondisi tidak bagus.

Penatalaksanaan:

Penatalaksanaan sesuai diagnosis (vasa previa), penatalaksanaan gawat janin.

 

(Sumber: dr. Lusiana Irene W, Sp.OG)

Kupas Tuntas Seputar Bayi Tabung

Apa itu Bayi Tabung ? Penanganan permasalahan dalam Memperoleh Buah Hati

Bayi tabung (Batab) atau teknik reproduksi berbantu atau pembuahan in vitro (bahasa Inggris: in vitro fertilisation / IVF) adalah sebuah teknik pembuahan sel telur dengan spermatozoa yang terjadi di luar tubuh wanita. TRB merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah kesuburan apabila cara penanganan lainnya tidak berhasil.
Teknik Batab menjadi terkenal sejak berhasilnya teknik ini dengan lahirnya bayi bernama Louise Brown yang merupakan hasil

proses Batab pertama di dunia pada tanggal 25 Juli 1978. Patrick Steptoe dan Robert Edwards, dua profesor Inggris yang berjasa dalam keberhasilan ini, yang akhirnya pada tahun 2010 mereka memperoleh penghargaan Nobel Kedokteran untuk penemuan mereka tersebut. Mereka juga mendirikan “Bourn Hall Clinic” yang terletak di Cambridge, Inggris yang merupakan klinik bayi tabung pertama di dunia, dan sampai saat ini masih terus menjadi salah satu klinik bayi tabung yang disegani di dunia.

Teknik Batab di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1984, ketika sekelompok dokter staf pengajar dari bagian Kebidanan dan Kandungan, Universitas Indonesia yang dikirim ke Royal Woman Hospital, Australia untuk belajar teknik ini. Pada tahun 1987, kelahiran pertama di Indonesia hasil teknik Batab dari Makmal Terpadu Imunoendokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.

Oleh karena teknik Batab ini merupakan salah satu metode penanganan masalah ketidaksuburan / kesulitan untuk memperoleh keturunan, maka sebelum saya menjelaskan lebih jauh tentang Batab ini, saya ingin membahasa sedikit tentang masalah ketidaksuburan / infertilitas terlebih dahulu.

Infertilitas didefinisikan sebagai apabila seorang wanita dalam usia reproduksi yang belum berhasil hamil setelah melakukan hubungan badan selama setahun, dengan tidak adanya faktor penyebab. Bersama‐sama dengan suami dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter.

Ada kemungkinan tidak perlu menunggu waktu 1 tahun untuk berkonsultasi apabila :

  • Istri berusia lebih dari 36 tahun
  • Terdapat penyebab dan atau faktor resiko dari infertilitas

Penyebab infertilitas dapat dibagi menjadi:

  • Faktor pada wanita, seperti kelainan saluran telur, gangguan proses pematangan sel telur (Ovulasi), serta gangguan pada rahim atau rongga perut.
  • Faktor pada laki‐laki, terutama kelainan spermatozoa
  • Tidak diketahui (unexplained infertility),sekitar 25 persen.

Sekitar 40 persen kasus kelainan terdapat pada kedua belah pihak. Oleh karena itu maka pemeriksaan dan investigasi diperlukan.

Penanganan awal:

Anamnesis

  • konseling awal meliputi :
    • Hubungan dengan usia
      • fertilitas/ kesuburan seorang perempuan dimulai ketika ia mendapat haid yang pertama (menarche). Puncak fertilitas terjadi pada usia 20‐30 tahun. Selanjutnya fertilitas akan menurun dengan penurunan yang tajam terjadi setelah usia 35 tahun dan menghilang pada saat menopause.
    • Pengaruh gaya hidup

Faktor yang dapat mempengaruhi :

frekuensi senggama ·         menurut penelitian, frekuensi senggama yang ideal dalam rangka untuk prokreasi (mendapatkan keturunan) adalah dilakukan setiap 2‐3 hari, karena pada durasi itu masih didapatkan sperma yang hidup dan bergerak aktif di dalam rahim. Apabila senggama dilakukan terlalu sering akan menurunkan kualitas sperma. Serta frekuensi senggama yang jarang (misalnya 1 minggu sekali) akan mengurangkan terjadinya kehamilan.

·         Penghitungan masa subur

Kegemukan / obesitas Wanita dan pria dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥ 30 lebih sulit untuk dapat mendapatkan keturunan.
Kurus Wanita dengan IMT ≤ 19 serta dengan siklus menstruasi yang tidak teratur atau tidak menstruasi sama sekali dianjurkan untuk menaikkan berat badannya supaya dapat meningkatkan kemungkinan untuk hamil.
obat‐obatan misalnya obat antidepresan, hormon tiroid, kemoterapi
merokok, alkohol dapat mengurangi kesuburan
pekerjaan pekerjaan yang terpapar dengan radiasi, bahan kimia dapat mengganggu kesuburan
pakaian ketat pria tidak dianjurkan memakai pakaian / celana ketat karena peningkatan suhu pada daerah skrotum akan menyebabkan penurunan kualitas sperma.
riwayat kontrasepsi
  • riwayat kehamilan dan persalinan

pemeriksaan fisik umum: berat / tinggi badan , pemeriksaan ginekologis : inspeksi / Inspekulo

pemeriksaan penunjang

suami
Analisa sperma
tes ini sebaiknya dilakukan terlebih dahulu karena relatif lebih simpel, mudah dan murah bila dibandingkan tes‐tes yang akan dilakukan pada pihak istri. Serta hasil daripada tes ini juga sangat berperan dalam menentukan jenis tes yang mungkin tidak perlu dilakukan pada pihak istri. Sebagai contoh apabila hasil tes ini didapatkan sperma dengan jumlah yg sangat sedikit yang memerlukan program Batab, maka tes fungsi tuba ( nanti akan saya jelas kan lebih lanjut dibawah) tidak perlu dilakukan pada pihak istri.

istri
1. USG : Menapis kelainan pada alat reproduksi spt mioma, kista
2. Penilaian patensi tuba
a) Histerosalfingografi (HSG) dilakukan dengan cara menyuntikan zat warna ke dalam rahim kemudian difoto Rontgen.
Biasanya dilakukan daripada laparaskopi kromotubasi

Bila tidak ada riwayat PID / kehamilan ektopik, suspek endometriosi

b) Laparaskopi kromotubasi
Ini merupakan GOLD STANDAR, tetapi termasuk tindakan operasi yang memerlukan pembiusan.
Sebagai diagnosis sekaligus terapeutik (apabila ditemukan kista, spot endometriosi, perlengketan, dapat sekalian diatasi)

  • Tes hormon darah
    a) Dilakukan untuk menilai kualitas telur
    AMH
    FSH,LH,E2 hari ke2‐3 siklus haid
    4. Penilaian ovulasi
    Dilakukan dengan mengukur kadar hormon progesteron darah pada fase luteal madya (hari ke‐21 dari siklus 28 hari)
    Kunjungan berikutnya dilakukan apabila sudah terdapat semua hasil pemeriksaan diatas.

Penanganan terkini dalam pengobatan masalah kesuburan umunya terdiri dari 3 tahap, yang meliputi: tahap 1. “Timing Sexual Intercourse” (TSI), tahap 2: “Intra‐Uterine Insemination (IUI), serta tahap 3, yang terakhir yang merupakan tahap tercanggih, yaitu IVF+_ ICSI (in‐vitro fertilization +‐ Intra cytoplasmic sperm injection).
Adapun pemilihan jenis penanganan diatas tergantung dari jenis dan berat‐ringannya penyebab ketidaksuburan pasangan tersebut. Pada artikel ini saya hanya membahas tahap 3, yaitu Program Bayi Tabung.

Indikasi dilakukannya teknik bayi tabung adalah:
• Masalah penyumbatan saluran telur pada istri
• Masalah kualitas sperma yang buruk atau jumlah sangat sedikit
• Endometriosis derajat sedang sampai berat
• Unexplained infertility

Tatacara ikut program batab

Berikut adalah tahap prosedur program bayi tabung secara umum.

1. Tahap stimulasi ovarium
Proses stimulasi yang umumnya penyuntikan obat hormonal dimulai pada hari kedua menstruasi yang bertujuan untuk mendapatkan sekitar 8‐10 folikel telur yang berkembang.
2. Tahap supresi ivulasi Proses supresi dari ovulasi dengan harapan telur tidak pecah secara alami. Obat yang digunakan umumnya adalah GnRH agonist (long protocol) atau GnRH antagonist (short protocol).
3. Tahap Pengambilan telur (Ovum Pick Up)
Dilakukan saat telur telah sepenuhnya matang, telur diambil dari indung telur wanita melalui tindakan minor yaitu Ovum Pick Up (OPU). Pengambilan dilakukan dengan penyedotan telur dengan jarum melalui vagina dibawah pengawasan USG.
4. Tahap Persenyawaan / Inseminasi
Sel‐sel telur tersebut kemudian ditempatkan di dalam cawan laboratorium, yang kemudian dibuahi oleh sperma yang sebelumnya telah dicuci. Teknik inseminasi dapat dibagi menjadi:
–  Teknik konvensional
Yaitu sel telur diletakkan bersama sperma, sehingga diharapkan adanya persenyawaan secara alami.
–  Teknik ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection)
Yaitu penyuntikan satu sel sperma ke dalam satu sel telur.

5. Tahap Kultur
Hasil dari persenyawaan sel telur dan sperma disebut dengan embrio. Embrio ini kemudian dibiakkan dan kemudian dinilai untuk memilih embrio dengan kualitas yang baik.
6. Tahap Penanaman (Embryo Transfer)
Setelah beberapa hari, embrio dimasukan kembali ke dalam rahim, yaitu proses Embryo Transfer (ET)

7. Tahap Pembekuan Embrio
Apabila setelah penanaman kembali terdapat sisa embrio, maka embrio‐embrio tersebut dapat disimpan beku yang nantinya dapat langsung ditanamkan kembali untuk program berikutnya tanpa melakukan dari tahap stimulasi, sehingga menghemat biaya.

Kira‐kira 2 minggu setelah tahap penanaman dilakukan tes hCG darah untuk mengetahui apakah terjadi kehamilan atau tidak.

Komplikasi / resiko program bayi tabung

  1. Kehamilan ganda / kembar
    Hal ini terjadi karena dilakukan penanaman embrio lebih dari satu. Kehamilan kembar akan meningkatkan resiko keguguran, kelahiran prematur dan segala komplikasi dari prematuritas.

Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS)
Merupakan resiko yang serius dari penggunaan obat hormon untuk stimulasi ovarium. Kejadian OHSS bervariasi antara 0,6% ‐10% dalam siklus IVF. Cara menghindarinya adalah dengan cara:
– Memperhatikan faktor resiko terjadinya OHSS:
Usia muda ( <30 tahun)
Pasien dengan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOs)
Riwayat OHSS sebelumnya

  1. – Monitoring yang ketat saat tahap stimulasi ovarium dengan menggunakan USG dan pemeriksaan hormon
  2. Komplikasi ketika tahap OPU
    Karena letak ovarium berdekatan dengan organ‐organ dalam perut seperti usus, kantung kencing, ureter, serta pembuluh darah dan juga syaraf di rongga perut, maka terdapat resiko terjadinya cedera terhadap organ‐organ dalam tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan, infeksi karena terjadi perforasi.
  3. Gangguan psikologis terutama dikarenakan masih tingginya angka kegagalan dan juga disertai dengan mahalnya biaya program ini
  4. Resiko terhadap embrio dan atau sperma yang disimpan beku
    Terjadi kerusakan sel setelah dicairkan kembali
    b. Kemungkinan terjadinya kontaminasi / terinfeksi.

Resiko medikolegal
a. Meskipun setiap tahap dalam program dilakukan dengan ekstra teliti, termasuk pemberian label pada setiap spesimen (sel telur, sperma, dan embrio), masih dapat memungkinkanterjadi resiko percampuran dengan spesimen milik pasien lain sehingga mengakibatkan adanya tuntutan hukum.
b. Semua komplikasi yang telah disebutkan diatas dapat menyebabkan pasien melakukan tuntutan hukum

Satu siklus pada umumnya akan menghasilkan sejumlah sel telur yang dikumpulkan di mana tingkat fetilisasinya mencapai 70%. Selain dari itu, embrio lainnya akan terus dikultur hingga hari ke‐3 (D3) atau di‐blastocyst berdasarkan situasi klinis yang dihadapi. Kami menerapkan transfer embrio dalam jumlah sedikit, namun cukup terbiasa dengan 2 atau 3 embrio akan ditransfer dengan memberikan pengertian kepada pasangan tentang risiko kehamilan ganda.
Setelah transfer embrio, bila terdapat sisa embrio dengan kualitas terbaik kami akan lakukan pembekukan terhadap sisa embryo tersebut, untuk disimpan hingga digunakan untuk rencana mendapatkan anak berikutnya.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa program bayi tabung ini telah lama ada di Indonesia, yaitu tepatnya semenjak tahun 1988. Wajar saja, sebab keterbatasan informasi sehingga menimbulkan anggapan bahwa Indonesia belum mampu mengadakan program bayi tabung., yang akibatnya banyak pasangan yang melakukan inseminasi buatan ataupun program bayi tabung di Singapura, Australia, Malaysia,Vietnam maupun Thailand dengan biaya yang jauh lebih tinggi. 12 – 15 % pasangan usia subur di Indonesia (dari 15 juta pasangan), tidak memperoleh keturunan. Tapi tidak semua pasangan‐pasangan ini memilih program bayi tabung. Jelas saja, karena selain menghabiskan biaya yang tidak sedikit, program ini juga memiliki tingkat keberhasilan hanya sekitar 40 ‐ 50%. Dengan tingkat keberhasilan yang cenderung rendah dengan biaya yang mahal, tentunya akan membuat orang akan berfikir beribu kali untuk mengikuti program ini.
Kebahagiaan kehidupan sebuah pernikahan terasa belum lengkap tanpa kehadiran buah hati. Segala cara dilakukan agar bisa mendapatkan seorang momongan yang akan memeriahkan dunia pasangan suami istri. Namun, bagaimana apabila segala cara telah dilakukan dan hingga bertahun‐tahun bahkan hingga lebih dari 10 tahun masih juga tidak memiliki momongan? Program bayi tabung (inseminasi buatan) mungkin bisa menjadi solusinya.
Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair.
Banyak hal yang harus kita persiapkan sebelum memutuskan mengikuti bayi tabung. Fakta yang harus kita ingat betul :

  1. Biayanya sangat mahal hingga puluhan juta rupiah.
  2. Tingkat keberhasilan tidak sampai dengan 50%.
  3. Membutuhkan proses yang cukup lama, hingga butuh pertimbangan yang benar‐benar matang bagi wanita karier.

Bila hal‐hal berikut terjadi pada anda, mungkin ini saat yang tepat untuk mengikuti program bayi tabung :

  1. Anda telah menikah terlalu lama (diatas 7 tahun) dan belum mempunyai anak
  2. Sudah berkali‐kali melakukan inseminasi buatan dan masih gagal.
  3. Semakin bertambah usia, semakin tua persentase keberhasilan bayi tabung semakin kecil
  4. Keluarga sudah memberika dukungan.
  5. Anda telah mempunyai tabungan tersendiri yang khusus untuk program bayi tabung ini.
  6. Anda sudah yakin 100% untuk melakukan program bayi tabung.

Sumber: http://id.shvoong.com/medicineandhealth/medicinehistory/2171733programbayitabungdaninseminasi/#ixzz2MAg0voSh

Injection (ICSI)
ICSI adalah prosedur mikromanipulasi di mana sperma tunggal disuntikkan ke dalam telur. Teknik ini dilakukan untuk mengatasi masalah infertilitas pada pria atau di mana sperma tidak memilki kemampuan untuk menembus dinding sel telur. Jika telur berhasil dibuahi, embrio selanjutnya dimasukkan ke dalam rahim untuk menjadi tempat berkembangnya janin sebagaimana keberadaan alaminya.

—————————————————————————-

Sumber Pustaka
1. Fertility, Assessment and treatment for people with fertility problems, NICE Clinical guideline 156, National Institute for Health and Clinical Excellence (NHS), February 2013.
2. Soegiharto S, Bayi Tabung di Indonesia Masa Kini dan Masa Mendatang, Pidato pada Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Tetap dalam Obstetri dan Ginekologi, FK Universitas Indonesia, Jakarta, 5 Juni 2010.
3. Soegiharto S, dkk. Assisted Reproductive Technology, Dalam Rangka Memperingati 70 tahun Prof. Sudraji Sumapraja, Departemen Obstetri & Ginekologi, FK Universitas Indonesia, Jakarta, 2005.
4. Gardner DK, et al.Texbook of Assisted Reproductive Technologies, Laboratory and Clinical Perspectives. 3rd Ed. Informa Healthcare UK Ltd. 2009

Sumber : bayi tabung

Infertilitas / infertility

Sulit memperoleh Buah Hati? Anda mungkin mengalami gangguan kesuburan

Gangguan kesuburan atau infertilitas adalah ketidakkemampuan pasangan suami istri untuk mendapatkan kehamilan setelah 1 tahun menikah, melakukan hubungan badan teratur dan tanpa penggunaan alat kontrasepsi.

Gangguan kesuburan atau infertilitas dibagi menjadi 2:

Infertilitas Primer

Istri pasangan yang belum pernah mengandung & atau melahirkan.

Infertilitas Sekunder

Istri pasangan yang sudah pernah mengandung & atau melahirkan.

PENYEBAB

Beberapa penyebab terjadinya infertilitas :

Faktor wanita

  1. Gangguan saluran telur / tuba falopii, yang dapat dikarenakan oleh adanya keputihan
  2. Gangguan ovulasi / hormonal, yang ditandai dengan tidak keteraturan haid
  3. Endometriosis, yang dapat ditandaikan dengan adanya keluhan nyeri haid

Faktor pria

Gangguan sperma

  1. Jumlah berkurang
  2. Gerak tidak aktif
  3. Kelainan bentuk

Faktor pria dan wanita

Gangguan kesuburan dapat juga disebabkan oleh pihak suami maupun istri secara bersamaan

PEMERIKSAAN

Pemeriksaan harus dilakukan secara bersamaan pada suami dan istri karena faktor penyebab dapat terjadi pada keduabelah pihak. Umumnya pemeriksaan dilakukan setelah satu tahun pernikahan tetapi belum berhasil untuk hamil. Pemeriksaan disarankan dilakukan lebih awal pada pasangan yang baru menikah pada usia lebih dari 35 tahun atau keadaan tertentu lain seperti adanya gangguan haid, keputihan, serta disfungsi seksual

Pemeriksaan dilakukan dengan maksud untuk mengumpulkan berbagai informasi, dengan cara melakukan pemeriksaan riwayat medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium

Analisa Sperma

Merupakan salah satu pemeriksaan dasar yang sering dilakukan terlebih dahulu karena relatif lebih mudah dan murah bila dibandingkan dengan pemeriksaan infertilitas pada wanita.

Pemeriksaan hormon wanita

Dilakukan untuk melihat adanya gangguan ovulasi dan kualitas sel telur. Ada beberapa tes yang sebaiknya dilakukan pada saat tertentu dari hari siklus haid.

Pemeriksaan gangguan saluran telur / tuba falopii

Histerosalpingogram (HSG), dilakukan oleh ahli radiologi dengan menyuntikan larutan zat warna melalui vagina dan kemudian di lakukan foto Rontgent.

Laparaskopi, dianggap cara yang terbaik karena kedua tuba dapat dilihat langsung dan patensinya dapat diuji dengan menyuntikkan larutan biru metilen.

PENANGANAN

Pada dasarnya, penangan infertilitas tergantung daripada faktor penyebabnya. Sebagai Rumah Sakit Terbaik di Yogyakarta, RS Panti Rapih mempunyai layanan untuk mengatasi masalah kesuburan, ibu dan anak serta masalah kandungan.