Diare Pada Anak

APA ITU DIARE ?

Diare atau Gastro Enteritis Akuta adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih.

Bila hal ini terjadi maka tubuh anak akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi.

Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Diare menjadi penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Penyebab diare :

1.Faktor infeksi, yaitu infeksi bakteri, infeksi virus.

2.Faktor mal absorbsi, misalnya dalam mengabsorbsi karbohidrat, lemak,protein.

3.Faktor psikologis, misalnya rasa takut dan rasa cemas.

Gejala-gejalanya :

Mula-mula cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan tidak ada kemudian diare.

Mekanisme timbulnya diare :

  1. Gangguan osmotik
    Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus, isi rongga usus menjadi berlebihan, ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya, sehingga timbul diare.
  2. Gangguan sekresi
    Akibat ada rangsangan tertentu ( misalnya racun ) pada dinding usus, maka akan terjadi peningkatan air ke rongga usus, usus penuh, sehingga terjadi diare.
  3. Gangguan mobilitas usus
    Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan-kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik menurun akan menyebabkan bakteri tumbuh berlebihan dan menjadi diare.

Akibat dari diare adalah dehidrasi / kekurangan cairan yang dapat bersifat :

  1. Ringan, dengan tanda :
  • Haus
  • Kencing sedikit
  • Mulut kering
  1. Sedang, dengan tanda :
  • Ubun-ubun besar dan cekung
  • Mata cowong
  • Tegangan kulit menurun
  1. Berat, dengan tanda :
  • Nafas cepat
  • Kesadaran menurun
  • Tidak sadar

Pengobatan :

Pencegahan Diare

Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:

  1.  Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting: 1) sebelum makan, 2) setelah buang air besar, 3) sebelum memegang bayi, 4) setelah menceboki anak dan 5) sebelum menyiapkan makanan;
  2.  Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;
  3.  Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
  4.   Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

Yang paling pokok adalah mengganti cairan yang hilang dengan cara :

  1. Minum yang banyak cairan oralit.
  2. Jika tidak ada oralit, beri minum larutan gula dan garam.
  3. Segera bawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Perawatan

Pada kondisi diare, penderita diharuskan  mengkonsumsi sejumlah air yang mencukupi untuk menggantikan yang hilang, lebih baik bila dicampur dengan elektrolit untuk menyediakan garam yang dibutuhkan dan sejumlah nutrisi.

Diare dapat menjadi gejala penyakit yang lebih serius, seperti disentrikolera atau botulisme, dan juga dapat menjadi indikasi sindrom kronis seperti penyakit Crohn. Meskipun penderita apendisitis umumnya tidak mengalami diare, diare menjadi gejala umum radang usus buntu. Oleh karena itu kita harus tetap waspada dan harus mengerti gejala diare yang membutuhkan perawatan khusus.

Diare di bawah ini biasanya diperlukan pengawasan medis:

  • Diare pada balita
  • Diare menengah atau berat pada anak-anak
  • Diare yang bercampur dengan darah.
  • Diare yang terus terjadi lebih dari 2 minggu.
  • Diare yang disertai dengan penyakit umum lainnya seperti sakit perut, demam, kehilangan berat badan, dan lain-lain.
  • Diare pada orang berpergian(kemungkinan terjadi infeksi yang eksotis seperti parasit)
  • Diare dalam institusi seperti rumah sakit, perawatan anak, institut kesehatan mental.

Aku Menderita Kanker Serviks

Retno, 42 tahun  terduduk lemas setelah mendengarkan penjelasan dokter mengenai hasil tes  Pap Smear-nya. Hasil tes itu menunjukkan ada sel-sel ganas pada serviks (leher rahim). Hasil tes tersebut menguatkan analisis  dokter mengenai adanya keganasan (kanker) pada serviks Retno, dan stadium keganasan itu sudah tinggi. Retno sungguh menyesal sekali kenapa tidak dari dulu dia melakukan Pap Smear, padahal dirinya sering diingatkan oleh rekan-rekannya. Namun Retno selalu menolak bila diajak rekannya untuk melakukan Pap Smear dengan alasan malu.

Sudah dua minggu ini Retno mengalami perdarahan  vagina setiap  habis berhubungan intim. Bercak- bercak darah  merah segar keluar dari vaginanya. Karena didesak oleh suami, Retno pun akhirnya periksa ke dokter.

Apa itu Kanker Serviks?

Kanker Serviks adalah penyakit yang diderita wanita. Keganasan terjadi pada leher rahim (serviks), yang merupakan bagian terendah dari rahim (uterus) yang menonjol ke puncak liang senggama (vagina). Kanker Serviks terjadi saat sel normal di serviks berubah menjadi sel kanker.Perubahan ini biasanya memakan waktu 10-15 tahun sampai terjadi kanker.Maka sebenarnya terdapat kesempatan yang cukup lama untuk mendeteksi melalui skrining dan menanganinya sebelum menjadi kanker serviks.

Beban Kanker Serviks

Di dunia, setiap 2 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks. Di Asia-Pasifik, setiap 4 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks. Di Indonesia, setiap 1 jam seorang wanita meninggal karena kanker serviks.

Penyebab Kanker Serviks

Kanker Serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV)

Beban Utama Infeksi HPV adalah Kanker Serviks Di dunia, HPV tipe 16,18, 45, 31 dan 52 secara bersamaan menjadi penyebab lebih dari 80% kasus kanker serviks.

Karakteristik HPV

  • HPV sangat resisten terhadap panas dan proses pengeringan (desiccation).
  • Penularan non seksual dapat juga terjadi, misalnya penggunaan bersama pakaian yang terkontaminasi dalam jangka waktu lama.
  • Kebanyakan infeksi HPV bisa bertahan selama 8 bulan dan kemudian menghilang. Namun sesudah 2 tahun, ditemukan sekitar 10% wanita masih membawa virus yang aktif dalam vagina dan serviks.

Faktor pendukung Kanker Serviks

Menikah muda.

Kehamilan yang sering.

Merokok.

Penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang.

Infeksi Menular Seksual, wanita yang memiliki banyak pasangan seksual lebih berisiko terinfeksi HPV.

Paparan bahan kimia.

Gejala Awal Kanker Serviks

Kebanyakan infeksi HPV berlangsung tanpa gejala.

Sejalan dengan perkembangan kanker, gejala-gejala yang mungkin timbul:

♣Perdarahan melalui vagina

−ada bercak atau pendarahan setelah hubungan seksual.

−ada bercak atau pendarahan di luar masa haid.

−ada bercak atau pendarahan pada masa menopause

−mengalami masa haid yang lebih berat dan lebih panjang dari biasanya.

♣Keluarnya bau menyengat yang tidak bisa dihilangakan walaupun sudah diobati.

♣Keputihan

– bercampur darah, berbau.

♣Nyeri panggul.

♣Tidak dapat buang air kecil.

Siapa yang berisiko? Setiap wanita berisiko

  • Hingga 80% wanita akan terinfeksi oleh HPV sepanjang masa hidupnya. Hingga 50% dari mereka akan terinfeksi oleh virus HPV yang dapat menyebabkan kanker sepanjang masa hidupnya.

Mengapa setiap wanita berisiko?

  • Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya. Mereka yang mengalami infeksi persisten jarang menunjukkan gejala pada stadium awal, dan biasanya berkembang menjadi kanker serviks beberapa tahun kemudian.
  • Setelah infeksi HPV, tubuh kita tidak selalu dapat membentuk kekebalan, maka kita tidak terlindungi dari infeksi berikutnya.

Bagaimana mendeteksi Kanker Serviks?

  • Skrining adalah satu-satunya cara untuk mendeteksi lesi pra kanker atau untuk mengetahui tanda-tanda awal kanker serviks sehingga dapat dengan mudah ditangani
  • Namun, screening tidak dapat mecegah terjadinya kanker serviks.

Rekomendasi Skrining di Indonesia:

  1. Pap Smear
  2. Visual Inspection with Acetic Acid – IVA (Pemeriksaan Visual Serviks setelah serviks diberikan larutan asam asetat).

Penatalaksanaan Kanker Serviks

  • Tindakan operasi
  • Radiotherapy
  • Chemotherapy
  • Rehabilitasi
  • Palliative/Supportive care
  • Kanker Serviks yang diketahui telah berstadium lanjut dapat mengakibatkan kerugian bagi organ tubuh disekitarnya dan dapat menyebabkan kematian.

Bagaimana mencegah kanker serviks?

Pencegahan Primer

  • Edukasi & Promosi.
  • Melakukan vaksinasi untuk mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.

Pencegahan Sekunder

  • Pap smear atau IVA merupakan cara deteksi dini terhadap infeksi HPV.

Kesimpulan Gambaran Klinis

  • Kanker serviks disebabkan oleh Human Papillomavirus
  • Infeksi HPV sangat biasa terjadi: Hingga 80% wanita berisiko terinfeksi HPV onkogenik sepanjang hidupnya
  • Siklus hidup HPV di serviks yaitu berdiam didalam sel epitel serviks
    • HPV mampu menghindar dari sistem imundan menyebabkan infeksi persisten
  • Sekitar 50% wanita yang terinfeksi, gagal menghasilkan antibodi terhadap HPV
    • Pada mereka yang dapat menghasilkan antibodi, dihasilkan kadar antibodi yang rendah, yang tidak menjamin perlindungan terhadap infeksi HPV berikutnya

PENCEGAHAN

  • Vaksinasi dengan skrining bersama-sama dapat mengurangi kejadian kanker serviks secara efektif.
  • Komponen Vaksin : VLP vs HPV. Sistem imun tubuh manusia dapat mengenali VLP (Virus-like Particle) sebagai HPV.
  • VLP tidak mengandung materi genetik (DNA)
  • VLP tidak menular, tidak membawa sifat keganasan.
  • VLP memiliki struktur sama dengan HPV tetapi berukuran lebih kecil (diameter VLP:HPV = 40-50 nm)

VAKSIN KANKER SERVIKS YANG IDEAL

♣Mampu merangsang pembentukan titer antibodi yang tinggi. ♣Dapat memberikan perlindungan jangka panjang. ♣Dapat ditoleransi dengan baik.

KEAMANAN

  • Hampir semua efek samping yang ditimbulkan adalah lokal (di tempat injeksi)

KONTRAINDIKASI

hipersensitif terhadap komponen vaksin

VAKSIN KANKER SERVIKS

Rekomendasi pemberian vaksin:

Panduan HOGI – wanita berusia 10-55 tahun.

Panduan IDAI – wanita berusia > 10 tahun.

Panduan PAPDI – wanita berusia 12-55 tahun.

Jadwal pemberian bulan ke 0,1/2, dan 6

–     Contoh: penyuntikan 1: Januari

penyuntikan 2: Februari/Maret

penyuntikan 3: Juli

Cervarix™, vaksin kanker serviks dengan adjuvant AS04 telah menunjukkan:

  • Semua wanita terlihat tetap seropositif sampai 6,4 tahun terhadap HPV 16 dan 18. Mampu merangsang pembentukan kadar (neutralising) antibodyyang tinggi dan bertahan lama sampai terhadap HPV 16 dan 18 sampai 6,4 tahun.
  • Terdapat hubungan yang kuat antara kadar antibodi dalam serum dengan kadar antibodi di mukosa cervico-vaginal, terbukti dalam penelitan selama 2 tahun.
  • Mampu memberikan 100% efikasi terhadap lesi pra kanker yang disebabkan HPV 16 & 18 untuk setidaknya selama 6,4 tahun, dan masih terus dilakukan follow up. Data ini menunjukkan pencegahan terhadap kanker serviks.
  • Secara umum Cervarix™,aman dan dapat ditolerir dengan baik.

Cervical cancer kills every two minutes.

Take the time to talk about it.

Ask your doctor how you can best protect yourself against cervical cancer.

 

( Penulis : dr . Danny Wiguna, SpOG)

Unit Pelayanan Kebidanan dan Penyakit  Kandungan RS Panti Rapih

Istriku Mengalami Perdarahan

Ibu Nunu, 27 tahun, hamil  7  bulan, pagi ini dibawa suaminya datang mengunjungi puskesmas dengan keluhan perdarahan di jalan lahir. Ibu Nunu semalam mengalami perdarahan merah segar dengan jumlah yang tidak banyak. Oleh dokter puskesmas Ibu Nunu dirujuk ke rumah sakit dengan sarana pemeriksaan USG. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu Nunu?

Di rumah sakit, Ibu Nunu diperiksa oleh dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan. Dokter memeriksa dengan cermat menggunakan alat USG. Ibu Nunu dan suami kemudian dijelaskan oleh dokter mengenai kondisi kehamilannya. Ternyata Ibu Nunu mengalami kelainan letak plasenta. Letak plasentanya mendekati jalan lahir.  Oleh dokter, Ibu Nunu didiagnosis Plasenta Previa.

Perdarahan pada masa sebelum melahirkan oleh medis disebut sebagai perdarahan antepartum.

Perdarahan Antepartum adalah perdarahan melalui vagina pada semua kehamilan,  usia diatas 24 minggu kehamilan sampai kelahiran bayi. Kejadian perdarahan antepartum ini terjadi pada 3% wanita hamil. Penyebab utama perdarahan antepartum adalah masalah plasenta.

Plasenta adalah  suatu organ dalam kandungan pada masa kehamilan. Ada 2 bagian penting pada plasenta: bagian maternal (bagian yang melekat di rahim ibu) dan bagian fetal/janin (bagian yang melekat di perut janin). Pertumbuhan dan perkembangan plasenta penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin. Fungsi plasenta adalah memberikan zat-zat nutrisi dan oksigen yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan janin,  sebagai barier infeksi, memberikan zat kekebalan bagi janin, dan  membuang sisa-sisa metabolisme janin. Plasenta yang normal terletak di bagian fundus (bagian atas rahim yang membulat) atau di korpus (badan rahim). Tali pusatnya berpangkal di bagian tengah plasenta, dan plasenta akan terlepas sendiri setelah bayi lahir.

Kelainan pada plasenta:

1. Plasenta Previa (PP)
Plasenta terletak di segmen bawah rahim sehingga plasenta menutupi sebagian bahkan total pintu rahim.

Tipe:

  • PP totalis (menutupi seluruh pintu rahim)
  • PP partialis (menutupi sebagian pintu rahim)
  • PP marginalis (pinggir plasenta berada di pinggir pintu rahim)
  • Plasenta letak rendah (pinggir plasenta berjarak 2-3 cm dari pintu rahim)

Gejala  dan tanda PP antara lain: Perdarahan merah segar ,terutama pada saat kontraksi uterus; Tanpa rasa sakit terus menerus; Kondisi klinis ibu sesuai jumlah perdarahan ;Uterus tidak nyeri tekan;  Letak janin abnormal ;USG plasenta previa.

Penatalaksanaan kasus ini antara lain:

  • Sesuai dengan kondisi pasien:

oBila kondisinya baik (perdarahan sedikit dan berhenti) dan usia kehamilan belum cukup untuk dihentikan (<34 minggu), maka tatalaksananya secara konservatif (tirah baring, obat, persiapan donor darah, konseling  pasien untuk persiapan Sectio Cesarean (SC))

oBila kondisinya tidak stabil (perdarahan banyak) atau usia kehamilan sudah cukup, maka pasien segera SC.

2. Solusio Plasenta
Lepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternal plasenta dari tempat melekatnya pada rahim sebelum bayi lahir.
Tipe:

  • Tersembunyi: darah diantara plasenta yang terlepas dan rahim. Komplikasi biasanya lebih berat.
  • Darah keluar : yang terlepas tepi plasenta darah mengalir keluar.

Penyebab Solusio Plasenta: hipertensi akut ataupun kronik, trauma, tali pusat terlalu pendek.

Gejala dan tanda solusio plasenta: perdarahan vagina merah kehitaman, disertai nyeri perut, nyeri tekan rahim, kondisi ibu tidak stabil walaupun darah yang keluar mungkin sedikit. Kadang kelainan tidak tampak di USG.

Penatalaksanaan:

  • Janin hidup, diharapkan persalinan pervaginam segera
  • Janin hidup, kemungkinan persalinan pervaginam terlalu lama, maka pasien disarankan SC
  • Janin mati dengan kondisi ibu baik, diusahakan  persalinan pervaginam
  • Janin mati dengan kondisi ibu memburuk, disarankan SC

3.Vasa Previa
Pembuluh darah janin pada selaput ketuban berjalan melalui leher rahim sehingga darah janin keluar saat pecah ketuban atau pemecahan selaput ketuban. Kematian janin sangat tinggi 50-70%.

Gejala dan tanda: pendarahan terjadi sesudah ketuban pecah, jumlah perdarahan bisa tidak banyak, janin dalam kondisi tidak bagus.

Penatalaksanaan:

Penatalaksanaan sesuai diagnosis (vasa previa), penatalaksanaan gawat janin.

 

(Sumber: dr. Lusiana Irene W, Sp.OG)

Kupas Tuntas Seputar Bayi Tabung

Apa itu Bayi Tabung ? Penanganan permasalahan dalam Memperoleh Buah Hati

Bayi tabung (Batab) atau teknik reproduksi berbantu atau pembuahan in vitro (bahasa Inggris: in vitro fertilisation / IVF) adalah sebuah teknik pembuahan sel telur dengan spermatozoa yang terjadi di luar tubuh wanita. TRB merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah kesuburan apabila cara penanganan lainnya tidak berhasil.
Teknik Batab menjadi terkenal sejak berhasilnya teknik ini dengan lahirnya bayi bernama Louise Brown yang merupakan hasil

proses Batab pertama di dunia pada tanggal 25 Juli 1978. Patrick Steptoe dan Robert Edwards, dua profesor Inggris yang berjasa dalam keberhasilan ini, yang akhirnya pada tahun 2010 mereka memperoleh penghargaan Nobel Kedokteran untuk penemuan mereka tersebut. Mereka juga mendirikan “Bourn Hall Clinic” yang terletak di Cambridge, Inggris yang merupakan klinik bayi tabung pertama di dunia, dan sampai saat ini masih terus menjadi salah satu klinik bayi tabung yang disegani di dunia.

Teknik Batab di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1984, ketika sekelompok dokter staf pengajar dari bagian Kebidanan dan Kandungan, Universitas Indonesia yang dikirim ke Royal Woman Hospital, Australia untuk belajar teknik ini. Pada tahun 1987, kelahiran pertama di Indonesia hasil teknik Batab dari Makmal Terpadu Imunoendokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.

Oleh karena teknik Batab ini merupakan salah satu metode penanganan masalah ketidaksuburan / kesulitan untuk memperoleh keturunan, maka sebelum saya menjelaskan lebih jauh tentang Batab ini, saya ingin membahasa sedikit tentang masalah ketidaksuburan / infertilitas terlebih dahulu.

Infertilitas didefinisikan sebagai apabila seorang wanita dalam usia reproduksi yang belum berhasil hamil setelah melakukan hubungan badan selama setahun, dengan tidak adanya faktor penyebab. Bersama‐sama dengan suami dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter.

Ada kemungkinan tidak perlu menunggu waktu 1 tahun untuk berkonsultasi apabila :

  • Istri berusia lebih dari 36 tahun
  • Terdapat penyebab dan atau faktor resiko dari infertilitas

Penyebab infertilitas dapat dibagi menjadi:

  • Faktor pada wanita, seperti kelainan saluran telur, gangguan proses pematangan sel telur (Ovulasi), serta gangguan pada rahim atau rongga perut.
  • Faktor pada laki‐laki, terutama kelainan spermatozoa
  • Tidak diketahui (unexplained infertility),sekitar 25 persen.

Sekitar 40 persen kasus kelainan terdapat pada kedua belah pihak. Oleh karena itu maka pemeriksaan dan investigasi diperlukan.

Penanganan awal:

Anamnesis

  • konseling awal meliputi :
    • Hubungan dengan usia
      • fertilitas/ kesuburan seorang perempuan dimulai ketika ia mendapat haid yang pertama (menarche). Puncak fertilitas terjadi pada usia 20‐30 tahun. Selanjutnya fertilitas akan menurun dengan penurunan yang tajam terjadi setelah usia 35 tahun dan menghilang pada saat menopause.
    • Pengaruh gaya hidup

Faktor yang dapat mempengaruhi :

frekuensi senggama ·         menurut penelitian, frekuensi senggama yang ideal dalam rangka untuk prokreasi (mendapatkan keturunan) adalah dilakukan setiap 2‐3 hari, karena pada durasi itu masih didapatkan sperma yang hidup dan bergerak aktif di dalam rahim. Apabila senggama dilakukan terlalu sering akan menurunkan kualitas sperma. Serta frekuensi senggama yang jarang (misalnya 1 minggu sekali) akan mengurangkan terjadinya kehamilan.

·         Penghitungan masa subur

Kegemukan / obesitas Wanita dan pria dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥ 30 lebih sulit untuk dapat mendapatkan keturunan.
Kurus Wanita dengan IMT ≤ 19 serta dengan siklus menstruasi yang tidak teratur atau tidak menstruasi sama sekali dianjurkan untuk menaikkan berat badannya supaya dapat meningkatkan kemungkinan untuk hamil.
obat‐obatan misalnya obat antidepresan, hormon tiroid, kemoterapi
merokok, alkohol dapat mengurangi kesuburan
pekerjaan pekerjaan yang terpapar dengan radiasi, bahan kimia dapat mengganggu kesuburan
pakaian ketat pria tidak dianjurkan memakai pakaian / celana ketat karena peningkatan suhu pada daerah skrotum akan menyebabkan penurunan kualitas sperma.
riwayat kontrasepsi
  • riwayat kehamilan dan persalinan

pemeriksaan fisik umum: berat / tinggi badan , pemeriksaan ginekologis : inspeksi / Inspekulo

pemeriksaan penunjang

suami
Analisa sperma
tes ini sebaiknya dilakukan terlebih dahulu karena relatif lebih simpel, mudah dan murah bila dibandingkan tes‐tes yang akan dilakukan pada pihak istri. Serta hasil daripada tes ini juga sangat berperan dalam menentukan jenis tes yang mungkin tidak perlu dilakukan pada pihak istri. Sebagai contoh apabila hasil tes ini didapatkan sperma dengan jumlah yg sangat sedikit yang memerlukan program Batab, maka tes fungsi tuba ( nanti akan saya jelas kan lebih lanjut dibawah) tidak perlu dilakukan pada pihak istri.

istri
1. USG : Menapis kelainan pada alat reproduksi spt mioma, kista
2. Penilaian patensi tuba
a) Histerosalfingografi (HSG) dilakukan dengan cara menyuntikan zat warna ke dalam rahim kemudian difoto Rontgen.
Biasanya dilakukan daripada laparaskopi kromotubasi

Bila tidak ada riwayat PID / kehamilan ektopik, suspek endometriosi

b) Laparaskopi kromotubasi
Ini merupakan GOLD STANDAR, tetapi termasuk tindakan operasi yang memerlukan pembiusan.
Sebagai diagnosis sekaligus terapeutik (apabila ditemukan kista, spot endometriosi, perlengketan, dapat sekalian diatasi)

  • Tes hormon darah
    a) Dilakukan untuk menilai kualitas telur
    AMH
    FSH,LH,E2 hari ke2‐3 siklus haid
    4. Penilaian ovulasi
    Dilakukan dengan mengukur kadar hormon progesteron darah pada fase luteal madya (hari ke‐21 dari siklus 28 hari)
    Kunjungan berikutnya dilakukan apabila sudah terdapat semua hasil pemeriksaan diatas.

Penanganan terkini dalam pengobatan masalah kesuburan umunya terdiri dari 3 tahap, yang meliputi: tahap 1. “Timing Sexual Intercourse” (TSI), tahap 2: “Intra‐Uterine Insemination (IUI), serta tahap 3, yang terakhir yang merupakan tahap tercanggih, yaitu IVF+_ ICSI (in‐vitro fertilization +‐ Intra cytoplasmic sperm injection).
Adapun pemilihan jenis penanganan diatas tergantung dari jenis dan berat‐ringannya penyebab ketidaksuburan pasangan tersebut. Pada artikel ini saya hanya membahas tahap 3, yaitu Program Bayi Tabung.

Indikasi dilakukannya teknik bayi tabung adalah:
• Masalah penyumbatan saluran telur pada istri
• Masalah kualitas sperma yang buruk atau jumlah sangat sedikit
• Endometriosis derajat sedang sampai berat
• Unexplained infertility

Tatacara ikut program batab

Berikut adalah tahap prosedur program bayi tabung secara umum.

1. Tahap stimulasi ovarium
Proses stimulasi yang umumnya penyuntikan obat hormonal dimulai pada hari kedua menstruasi yang bertujuan untuk mendapatkan sekitar 8‐10 folikel telur yang berkembang.
2. Tahap supresi ivulasi Proses supresi dari ovulasi dengan harapan telur tidak pecah secara alami. Obat yang digunakan umumnya adalah GnRH agonist (long protocol) atau GnRH antagonist (short protocol).
3. Tahap Pengambilan telur (Ovum Pick Up)
Dilakukan saat telur telah sepenuhnya matang, telur diambil dari indung telur wanita melalui tindakan minor yaitu Ovum Pick Up (OPU). Pengambilan dilakukan dengan penyedotan telur dengan jarum melalui vagina dibawah pengawasan USG.
4. Tahap Persenyawaan / Inseminasi
Sel‐sel telur tersebut kemudian ditempatkan di dalam cawan laboratorium, yang kemudian dibuahi oleh sperma yang sebelumnya telah dicuci. Teknik inseminasi dapat dibagi menjadi:
–  Teknik konvensional
Yaitu sel telur diletakkan bersama sperma, sehingga diharapkan adanya persenyawaan secara alami.
–  Teknik ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection)
Yaitu penyuntikan satu sel sperma ke dalam satu sel telur.

5. Tahap Kultur
Hasil dari persenyawaan sel telur dan sperma disebut dengan embrio. Embrio ini kemudian dibiakkan dan kemudian dinilai untuk memilih embrio dengan kualitas yang baik.
6. Tahap Penanaman (Embryo Transfer)
Setelah beberapa hari, embrio dimasukan kembali ke dalam rahim, yaitu proses Embryo Transfer (ET)

7. Tahap Pembekuan Embrio
Apabila setelah penanaman kembali terdapat sisa embrio, maka embrio‐embrio tersebut dapat disimpan beku yang nantinya dapat langsung ditanamkan kembali untuk program berikutnya tanpa melakukan dari tahap stimulasi, sehingga menghemat biaya.

Kira‐kira 2 minggu setelah tahap penanaman dilakukan tes hCG darah untuk mengetahui apakah terjadi kehamilan atau tidak.

Komplikasi / resiko program bayi tabung

  1. Kehamilan ganda / kembar
    Hal ini terjadi karena dilakukan penanaman embrio lebih dari satu. Kehamilan kembar akan meningkatkan resiko keguguran, kelahiran prematur dan segala komplikasi dari prematuritas.

Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS)
Merupakan resiko yang serius dari penggunaan obat hormon untuk stimulasi ovarium. Kejadian OHSS bervariasi antara 0,6% ‐10% dalam siklus IVF. Cara menghindarinya adalah dengan cara:
– Memperhatikan faktor resiko terjadinya OHSS:
Usia muda ( <30 tahun)
Pasien dengan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOs)
Riwayat OHSS sebelumnya

  1. – Monitoring yang ketat saat tahap stimulasi ovarium dengan menggunakan USG dan pemeriksaan hormon
  2. Komplikasi ketika tahap OPU
    Karena letak ovarium berdekatan dengan organ‐organ dalam perut seperti usus, kantung kencing, ureter, serta pembuluh darah dan juga syaraf di rongga perut, maka terdapat resiko terjadinya cedera terhadap organ‐organ dalam tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan, infeksi karena terjadi perforasi.
  3. Gangguan psikologis terutama dikarenakan masih tingginya angka kegagalan dan juga disertai dengan mahalnya biaya program ini
  4. Resiko terhadap embrio dan atau sperma yang disimpan beku
    Terjadi kerusakan sel setelah dicairkan kembali
    b. Kemungkinan terjadinya kontaminasi / terinfeksi.

Resiko medikolegal
a. Meskipun setiap tahap dalam program dilakukan dengan ekstra teliti, termasuk pemberian label pada setiap spesimen (sel telur, sperma, dan embrio), masih dapat memungkinkanterjadi resiko percampuran dengan spesimen milik pasien lain sehingga mengakibatkan adanya tuntutan hukum.
b. Semua komplikasi yang telah disebutkan diatas dapat menyebabkan pasien melakukan tuntutan hukum

Satu siklus pada umumnya akan menghasilkan sejumlah sel telur yang dikumpulkan di mana tingkat fetilisasinya mencapai 70%. Selain dari itu, embrio lainnya akan terus dikultur hingga hari ke‐3 (D3) atau di‐blastocyst berdasarkan situasi klinis yang dihadapi. Kami menerapkan transfer embrio dalam jumlah sedikit, namun cukup terbiasa dengan 2 atau 3 embrio akan ditransfer dengan memberikan pengertian kepada pasangan tentang risiko kehamilan ganda.
Setelah transfer embrio, bila terdapat sisa embrio dengan kualitas terbaik kami akan lakukan pembekukan terhadap sisa embryo tersebut, untuk disimpan hingga digunakan untuk rencana mendapatkan anak berikutnya.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa program bayi tabung ini telah lama ada di Indonesia, yaitu tepatnya semenjak tahun 1988. Wajar saja, sebab keterbatasan informasi sehingga menimbulkan anggapan bahwa Indonesia belum mampu mengadakan program bayi tabung., yang akibatnya banyak pasangan yang melakukan inseminasi buatan ataupun program bayi tabung di Singapura, Australia, Malaysia,Vietnam maupun Thailand dengan biaya yang jauh lebih tinggi. 12 – 15 % pasangan usia subur di Indonesia (dari 15 juta pasangan), tidak memperoleh keturunan. Tapi tidak semua pasangan‐pasangan ini memilih program bayi tabung. Jelas saja, karena selain menghabiskan biaya yang tidak sedikit, program ini juga memiliki tingkat keberhasilan hanya sekitar 40 ‐ 50%. Dengan tingkat keberhasilan yang cenderung rendah dengan biaya yang mahal, tentunya akan membuat orang akan berfikir beribu kali untuk mengikuti program ini.
Kebahagiaan kehidupan sebuah pernikahan terasa belum lengkap tanpa kehadiran buah hati. Segala cara dilakukan agar bisa mendapatkan seorang momongan yang akan memeriahkan dunia pasangan suami istri. Namun, bagaimana apabila segala cara telah dilakukan dan hingga bertahun‐tahun bahkan hingga lebih dari 10 tahun masih juga tidak memiliki momongan? Program bayi tabung (inseminasi buatan) mungkin bisa menjadi solusinya.
Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair.
Banyak hal yang harus kita persiapkan sebelum memutuskan mengikuti bayi tabung. Fakta yang harus kita ingat betul :

  1. Biayanya sangat mahal hingga puluhan juta rupiah.
  2. Tingkat keberhasilan tidak sampai dengan 50%.
  3. Membutuhkan proses yang cukup lama, hingga butuh pertimbangan yang benar‐benar matang bagi wanita karier.

Bila hal‐hal berikut terjadi pada anda, mungkin ini saat yang tepat untuk mengikuti program bayi tabung :

  1. Anda telah menikah terlalu lama (diatas 7 tahun) dan belum mempunyai anak
  2. Sudah berkali‐kali melakukan inseminasi buatan dan masih gagal.
  3. Semakin bertambah usia, semakin tua persentase keberhasilan bayi tabung semakin kecil
  4. Keluarga sudah memberika dukungan.
  5. Anda telah mempunyai tabungan tersendiri yang khusus untuk program bayi tabung ini.
  6. Anda sudah yakin 100% untuk melakukan program bayi tabung.

Sumber: http://id.shvoong.com/medicineandhealth/medicinehistory/2171733programbayitabungdaninseminasi/#ixzz2MAg0voSh

Injection (ICSI)
ICSI adalah prosedur mikromanipulasi di mana sperma tunggal disuntikkan ke dalam telur. Teknik ini dilakukan untuk mengatasi masalah infertilitas pada pria atau di mana sperma tidak memilki kemampuan untuk menembus dinding sel telur. Jika telur berhasil dibuahi, embrio selanjutnya dimasukkan ke dalam rahim untuk menjadi tempat berkembangnya janin sebagaimana keberadaan alaminya.

—————————————————————————-

Sumber Pustaka
1. Fertility, Assessment and treatment for people with fertility problems, NICE Clinical guideline 156, National Institute for Health and Clinical Excellence (NHS), February 2013.
2. Soegiharto S, Bayi Tabung di Indonesia Masa Kini dan Masa Mendatang, Pidato pada Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Tetap dalam Obstetri dan Ginekologi, FK Universitas Indonesia, Jakarta, 5 Juni 2010.
3. Soegiharto S, dkk. Assisted Reproductive Technology, Dalam Rangka Memperingati 70 tahun Prof. Sudraji Sumapraja, Departemen Obstetri & Ginekologi, FK Universitas Indonesia, Jakarta, 2005.
4. Gardner DK, et al.Texbook of Assisted Reproductive Technologies, Laboratory and Clinical Perspectives. 3rd Ed. Informa Healthcare UK Ltd. 2009

Sumber : bayi tabung

Infertilitas / infertility

Sulit memperoleh Buah Hati? Anda mungkin mengalami gangguan kesuburan

Gangguan kesuburan atau infertilitas adalah ketidakkemampuan pasangan suami istri untuk mendapatkan kehamilan setelah 1 tahun menikah, melakukan hubungan badan teratur dan tanpa penggunaan alat kontrasepsi.

Gangguan kesuburan atau infertilitas dibagi menjadi 2:

Infertilitas Primer

Istri pasangan yang belum pernah mengandung & atau melahirkan.

Infertilitas Sekunder

Istri pasangan yang sudah pernah mengandung & atau melahirkan.

PENYEBAB

Beberapa penyebab terjadinya infertilitas :

Faktor wanita

  1. Gangguan saluran telur / tuba falopii, yang dapat dikarenakan oleh adanya keputihan
  2. Gangguan ovulasi / hormonal, yang ditandai dengan tidak keteraturan haid
  3. Endometriosis, yang dapat ditandaikan dengan adanya keluhan nyeri haid

Faktor pria

Gangguan sperma

  1. Jumlah berkurang
  2. Gerak tidak aktif
  3. Kelainan bentuk

Faktor pria dan wanita

Gangguan kesuburan dapat juga disebabkan oleh pihak suami maupun istri secara bersamaan

PEMERIKSAAN

Pemeriksaan harus dilakukan secara bersamaan pada suami dan istri karena faktor penyebab dapat terjadi pada keduabelah pihak. Umumnya pemeriksaan dilakukan setelah satu tahun pernikahan tetapi belum berhasil untuk hamil. Pemeriksaan disarankan dilakukan lebih awal pada pasangan yang baru menikah pada usia lebih dari 35 tahun atau keadaan tertentu lain seperti adanya gangguan haid, keputihan, serta disfungsi seksual

Pemeriksaan dilakukan dengan maksud untuk mengumpulkan berbagai informasi, dengan cara melakukan pemeriksaan riwayat medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium

Analisa Sperma

Merupakan salah satu pemeriksaan dasar yang sering dilakukan terlebih dahulu karena relatif lebih mudah dan murah bila dibandingkan dengan pemeriksaan infertilitas pada wanita.

Pemeriksaan hormon wanita

Dilakukan untuk melihat adanya gangguan ovulasi dan kualitas sel telur. Ada beberapa tes yang sebaiknya dilakukan pada saat tertentu dari hari siklus haid.

Pemeriksaan gangguan saluran telur / tuba falopii

Histerosalpingogram (HSG), dilakukan oleh ahli radiologi dengan menyuntikan larutan zat warna melalui vagina dan kemudian di lakukan foto Rontgent.

Laparaskopi, dianggap cara yang terbaik karena kedua tuba dapat dilihat langsung dan patensinya dapat diuji dengan menyuntikkan larutan biru metilen.

PENANGANAN

Pada dasarnya, penangan infertilitas tergantung daripada faktor penyebabnya. Sebagai Rumah Sakit Terbaik di Yogyakarta, RS Panti Rapih mempunyai layanan untuk mengatasi masalah kesuburan, ibu dan anak serta masalah kandungan.

Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Inisasi Menyusu Dini (IMD) adalah kegiatan untuk melakukan kontak kulit ibu dengan kulit bayi segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam. IMG memiliki dasar hukum yang telah ditetapkan oleh Negara, yaitu “Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif BAB III Bagian Kedua Inisiasi Menyusu Dini Pasal 9.”

Keuntungan Menyusui Dini

Bagi Ibu

  • Merangsang produksi oksitosin dan prolaktin
  • Meningkatkan keberhasilan produksi ASI
  • Meningkatkan Jalinan kasih sayang ibu-bayi

Bagi Bayi

  • Mengurangi 22% kematian bayi berusia 28 hari kebawah
  • Meningkatkan keberhasilan menyusu secara eksklusif
  • Meningkatkan lamanya bayi menyusui
  • Merangsang produksi susu
  • Memperkuat reflek menghisap bayi

Manfaat

IMD memiliki banyak manfaat, yaitu :

  • Menurunkan resiko kedinginan ( hypothermia )
  • Membuat pernapasan dan detak janttung bayi lebih stabil
  • Bayi akan memiliki kemampuan melawan bakteri
  • Bayi mendapat kolostrum dengan konsentrasi protein dan immunoglobulin paling tinggi
  • Mendukung keberhasilan ASI Eksklusif
  • Membantu pengeluaran plasenta dan mencegah perdarahan
  • Membantu bayi agar memiliki keahlian makan di waktu selanjutnya
  • Ibu dan ayah akan sangat bahagia bertemu dengan bayinya pertama kali di dada ibunya.

Langkah-langkah IMD

  • Segera setelah bayi lahir, setelah tali pusat dipotong, bayi di bersihkan ( kecuali tangan bayi ).
  • Meletakkan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu.
  • Posisi bahu bayi lurus, kepala bayi berada di antara payudara ibu, tetapi lebih rendah dari puting.
  • Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat.
  • Ibu memeluk dan membelai bayinya.
  • Melakukan  kontak kulit ke kulit paling sedikit satu jam.

Operasi Kista dengan Metode Laparoskopi

Metode operasi kista laparoskopi merupakan teknik pembedahan atau operasi yang dilakukan dengan membuat dua atau tiga sayatan kecil dengan diameter sekitar 5–10 mm di sekitar perut pasien. Satu lubang (10mm) pada pusar digunakan untuk memasukkan kamera yang kemudian ditayangkan ke layar monitor, sementara dua lubang (5mm) yang lain untuk peralatan bedah seperti penjapit, gunting, dan lain sebagainya.

Keuntungan:

  1. Nyeri paska operasi yang lebih berkurang karena teknik ini tidak memotong otot seperti yang dilakukan pada teknik operasi terbuka serta sayatan yang jauh lebih kecil (yang hanya sekitar 0,5‐1 cm saja) bila dibandingkan dengan sayatan 10cm pada operasi konvensional.
  2. Karena rasa nyeri paska operasi lebih berkurang maka penggunaan obat antinyeri (analgetik) lebih sedikit
  3. Resiko terjadinya perlengketan organ‐organ dalam perut (usus, rahim, saluran telur, indung telur) lebih sedikit
  4. Jumlah darah yang hilang ketika operasi lebih sedikit.
  5. Lama perawatan paska‐operasi (mondok) di RS lebih singkat, yakni 1‐2 hari, kalau teknik operasi terbuka dapat hingga 3‐5 hari.
  6. Masa penyembuhan yang lebih cepat.
  7. Pasien lebih cepat dapat kembali beraktifitas / bekerja sehari‐hari
  8. Kosmesis yang lebih baik, karena luka operasi yang jauh lebih kecil.bekas operasi lambat laun akan tampak tak terlihat.
  9. Dari segi ekonomi, karena waktu perawatan (mondok) yang lebih singkat, penggunaan obat antinyeri yang lebih sedikit, serta lebih cepatnya pasien dapat beraktifitas / bekerja kembali, maka teknik operasi dengan laparaskopi ini relatif lebih cost-effective.

Kekurangan:

  1. Kurang sesuai untuk operasi kista yang relatif besar dikarenakan sulitnya teknik operasi
  2. Kurang sesuai untuk kista dengan kemungkinan keganasan
  3. Memerlukan peralatan laparaskopi yang cukup mahal
  4. Memerlukan skill dari dokter yang khusus yang memerlukan pelatihan khusus di bidang laparaskopi
  5. Memerlukan kerja sama tim yang baik dari perawat / asistan kamar operasi yang sudah terlatih dalam operasi laparaskopi
  6. Resiko terjadinya cedera organ dalam perut (usus, vesika, pembuluh darah)

Sumber : drcipto.com

Aktifitas Fisik Selama Kehamilan

AKTIFITAS FISIK SELAMA KEHAMILAN
Pada kehamilan tanpa komplikasi, disarankan untuk melakukan olahraga seperti aerobik sebelum, selama dan setelah melahirkan. Namun, dokter harus mengevaluasi wanita dengan komplikasi medis maupun kehamilan sebelum membuat rekomendasi untuk melakukan olahraga. Rekomendasi durasi olahraga yang memberikan keuntungan adalah olahraga dengan intensitas sedang selama 30 menit setiap hari atau olah raga intensitas berat 20 menit tiap 3 atau 4 hari per minggu.

Perubahan pada tubuh yang mempengaruhi rutinitas olahraga
1. Sendi

Hormon selama kehamilan membuat jaringan perekat yang menyangga persendian menjadi lebih relaks. Hal ini akan menyebabkan sendi menjadi lebih mudah bergerak dan menimbulkan resiko untuk terjadi cedera menjadi lebih besar.

2. Keseimbangan
Pada saat kehamilan terjadi penambahan berat badan pada bagian depan tubuh dan mempengaruhi titik gravitasi tubuh. Hal ini akan menyebabkan penambahan beban pada sendi dan otot terutama pada bagian pinggul dan punggung bawah. Perubahan titik keseimbangan tersebut menyebabkan tubuh menjadi lebih mudah kehilangan keseimbangan dan resiko untuk jatuh menjadi lebih tinggi.

3. Sistem pernapasan
Pada saat berolahraga kebutuhan oksigen ibu hamil menjadi meningkat. Saat perut makin membesar, napas menjadi lebih pendek dan lebih mudah sesak karena peningkatan tekanan rahim pada rongga dada.

4. Aliran darah
Saat kehamilan akan terjadi peningkatan jumlah darah, denyut jantung dan curah jantung. Olahraga yang tidak bergerak seperti beberapa posisi yoga dapat membuat aliran darah balik pembuluh darah dari seluruh tubuh ke jantung menjadi menurun dan menimbulkan penurunan tekanan darah. Maka olah raga dengan posisi berbaring yang terlalu lama harus dihindari.

Resiko yang terjadi saat berolahraga

  1. Peningkatan Suhu Tubuh
    Berolahraga selama kehamilan menyebabkan suhu tubuh lebih meningkat daripada normal. Jika suhu tubuh ibu lebih dari 39,2 oC pada 12 minggu pertama kehamilan, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan menyebabkan kecacatan pada janin. Untuk mengurangi resiko tersebut maka disarankan:
    o Minum banyak air sebelum dan selama berolahraga
    o Jangan memaksakan diri terutama pada 12 minggu awal kehamilan
    o Hindari berolahraga pada iklim yang panas dan lembab
  2. Penurunan Tekanan Darah
    Berbaring terlentang pada tempat yang rata, dapat menekan pembuluh darah utama sehingga darah yang dipompa keluar ke seluruh tubuh menjadi berkurang dan menyebabkan penurunan tekanan darah atau biasa disebut dengan hipotensi. Hal ini biasa terjadi setelah minggu ke 16 dari kehamilan, oleh karena itu disarankan untuk
    menghindari olahraga yang membutuhkan berbaring rata dengan punggung, terutama setelah memasuki usia kemahilan 16 minggu.
  3. Luka fisik
    Selama kehamilan, otot dan sendi menjadi lebih mudah digerakkan. Untuk mengurangi resiko terjadinya luka, maka ibu hamil disarankan untuk :
    o Melakukan pemanasan sebelum berolahraga dan pendinginan setelahnya
    o Jika melakukan aerobik, jangan tiba-tiba merubah arah gerakan tubuh
    o Pertimbangkan memakai “pelvic support belt” selama olahraga
  4. Kekurangan Oksigen
    Pada dataran tinggi, aliran darah ke rahim akan menurun sehingga janin menerima oksigen lebih sedikit. Jika wanita berolahraga di dataran tinggi, maka oksigen yang diterima janin akan lebih sedikit lagi sehingga dapat terjadi kekurangan oksigen pada janin yang dikandungnya. Untuk mencegah hal tersebut, maka disarankan untuk menghindari berolahraga pada dataran tinggi yaitu lebih dari 2500 meter diatas permukaan laut.
  5. Kadar gula darah. Ibu memiliki diabetes mellitus sebelumnya ataudiabetes melitus gestasional (diabetes yang hanya terjadi pada saat kehamilan) disarankan untuk berolahraga tidak lebih dari 45 menit dalam satu waktu, maka beberapa hal harus lebih diperhatikan pada saat berolahraga yaitu dengan memonitor gula darah secara rutin, makan teratur, dan istirahat teratur.

Tanda bahaya olahraga

  1. Perdarahan dari jalan lahir
  2. Kontraksi rahim yang nyeri dan terjadi secara teratur
  3. Rembesan cairan ketuban
  4. Sesak napas sebelum memulai olahraga
  5. Pusing
  6. Nyeri kepala
  7. Nyeri dada dan berdebar debar
  8. Nyeri pada bagian perut, punggung atau area kemaluan
  9. Kelemahan otot yang mempengaruhi keseimbangan
  10. Nyeri pada betis atau bengkak pada kaki.
  11. Keram otot
  12. Gerakan janin dirasakan berkurang

Anjuran program yang dilakukan saat memulai aktifitas olahraga saat hamil

  1. Saat baru mulai program untuk olahraga, mulailah secara perlahan dan berhati hati serta tidak memaksakan diri. Pertimbangkan prenatal yoga yang secara spesifik didesain untuk wanita hamil.
  2. Perhatikan tanda-tanda dari tubuh. Tubuh akan secara alami memberikan signal atau tandatanda untuk mengurangi beban olahraga yang sedang dilakukan, misalnya napas terasa berat.
  3. Jangan pernah berolahraga sampai kelelahan dan sesak napas, karena ini merupakan tanda bahwa bayi dan ibu tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
  4. Gunakan alas kaki yang nyaman sehingga dapat menyangga pergelangan kaki dengan baik
  5. Beristirahatlah secara teratur, dan cukupi kebutuhan cairan selama berolahraga
  6. Hindari berolahraga pada suhu yang sangat panas
  7. Hindari jalanan yang tidak rata dan berbatu saat berlari atau berepeda karena dapat menimbulkan cidera sendi
  8. Olahraga yang menggunakan kontak tubuh seperti taekwondo harus dihindari selama kehamilan
  9. Olahraga yang menggunakan beban dapat meningkatkan kekuatan otot terutama bagian atas tubuh dan bagian perut. Namun hindari mengangkat beban sampai atas kepala dengan menggunakan beban yang membuat otot punggung bawah menjadi tegang.
  10. Selama trimester 2 dan 3, hindari olahraga yang menyebabkan tubuh berbaring rata karena dapat menurunkan aliran darah ke rahim.
  11. Sebelum dan setelah berolahraga harus melakukan peregangan dan pemanasan.
  12. Makan makanan yang sehat yang meliputi buah, sayur serta karbohidrat kompleks seperti nasi atau roti.

Olahraga saat hamil
Olah raga yang dapat menjadi pilihan selama kehamilan antara lain:

  1. Berjalan
  2. Lari : Lari atau jogging yang aman pada ibu hamil dapat mengikuti “the talk rule”. Dimana ibu hamil dan pasangan dapat berbicara dengan nyaman selama berolah raga.
  3. Yoga: Pada olah raga yoga diperlu adanya pendamping yang profesional karena terdapat beberapa pose dan peregangan yang tidak boleh dilakukan untuk wanita hamil terutama posisi yang dapat menyebabkan resiko tinggi untuk jatuh.
  4. Sepeda statis: Menggunakan sepeda statis merupakan salah satu olah raga yang aman dilakukan selama kehamilan. Ibu hamil diharapkan dapat mengendalikan kecepatan yang sesuai dan pastikan untuk tetap duduk karena jika berdiri dapat meningkatkan resiko jatuh.
  5. Angkat beban: Angkat beban dapat dilakukan oleh ibu hamil dengan menggunakan beban yang sesuai. Berat yang dianjurkan pada ibu hamil adalah 2.270 gram atau sekitar 2.5 kilogram.
  6. Berenang : Berenang dapat membantu menahan berat tubuh, menghilangkan stress, tegang pada kaki dan punggung dan juga mencegah potensi jatuh saat melakukan olahraga lain.

Olahraga yang harus dihindari selama kehamilan

  • Olah raga yang menggunakan kontak fisik seperti taekwondo
  • Resiko jatuh yang tinggi seperti bersepeda
  • Scubadiving
  • Sky diving

Efek olahraga pada kehamilan

  1. Olah raga yang baik diharapkan dapat membantu selama proses persalinan dan mengurangi komplikasi selama persalinan tersebut.
  2. Membantu menjaga peningkatan berat badan selama kehamilan dan menurunkan resiko diabetes gestational pada wanita hamil dengan obesitas
  3. Meningkatkan kesehatan psikologis ibu hamil seperti mengurangi stress, kecemasan dan depresi yang dapat mengganggu selama prose kehamilan.
  4. Menghilangkan kelelahan dan nyeri punggung bawah yang biasa menjadi keluhan banyak ibu selama kehamilan.
  5. Mengurangi risiko terjadinya pembesaran pembuluh darah di kaki dan bengkak pada kaki selama kehamilan
  6. Mengurangi terjadinterjadinya susah buang air besar atau konstipasi dan rasa begah pada perut
  7. Dapat meningkatkan kekuatan otot yang membantu menyangga peningkatan berat bedan selama kehamilan dan meningkatkan kelenturan otot sebagai persiapan persalinan
  8. Meningkatkan kualitas tidur.
  9. Mencegah kondisi medis yang dapat terjadi selama kehamilan diantaranya seperti diabetes mellitus gestational, hipertensi, dan preeklampsia
  10. Selain bermafaat bagi ibu, olahraga juga bermanfaat bagi janin dalam kandungan yaitu dapat mencegah terjadinya komplikasi pada sistem organ janin dibandingkan dengan ibu yang tidak melakukan olahraga.

==============================

Kontributor:

Danny Wiguna, SpOG

IG : dans.mecareyou

Flora Vagina

Vagina wanita dewasa muda normal terdapat sekitar 109 koloni mikroba yang dipengaruhi oleh pH, suhu, sekresi dari lozomi dan immunoglobulin, tingkat nutrien termasuk oksigen dan air, serta kemampuan adhesi bakteri. Mikroba vagina dapat mengalami perubahan berkelanjutan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor internal utama yaitu perubahan hormonal sedangkan faktor eksternal yaitu higiene atau penggunaan produk kesehatan penjaga higienitas daerah kewanitaan.

Mikribiota vagina berperan penting dalam mencegah kolonisasi organisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit menular seksual dan infeksi saluran kemih.
Kriteria Nugent menyatakan mikribia normal didominasi oleh Lactobacillus. Lactobacillus sp. Merupakan mikrobiota vagina dominan pada 70-80% wanita normal asimptomatik, sedangkan pada 20-30% lainnya didominasi oleh kelompok bakteri anaerob dan fakultatif.

Vagina wanita usia reproduktif didominasi oleh mikroba yang memproduksi asam laktat, yang berada pada kisaran 107 lactobacilli per gram sekresi vaginal. Kadar Lactobacillus sp pada vagina meningkai atau menurun sesuai dengan kadar estrogen sistemik. Pada wanita yang mendekati masa menopause, penurunan kadar estrogen dapat menyebabkan atrofi vulvovagina dan 25-50% mengalami gejala seperti rasa panas saat berkemih, perdarahan post koitus, dispareunia, vaginal discharge, serta sensasi rasa nyeri dan gatal pada kemaluan. Penurunan hormon estrogen pada menopause berkontribusi pada penurunan deposisi glikogen pada epitel vagina dan menyebabkan berkurangnya produksi asam organik, terutama asam laktat oleh koloni bakteri vagina.

Mikrobiota Normal ketika Anak-anak dan saat Puberta
Setelah proses persalinan, estrogen maternal di sirkulasi neonatus memproduksi glikogen pada epitel vagina yang membuat mikroba memproduksi asam laktat. Hormon gonadal dan adrenal yang belum aktif, estrogen maternal yang semakin menipis, mikroba yang memproduksi asam laktat pada neonatus menurun semua hal ini mengakibatkan pH vagina menjadi netral atau agak alkalin. Saat memasuki pubertas fisiologi dan morfologi vulva dan vagina berubah. Seiring dengan maturasi dari gonadal dan adrenal, siklus hormonal mulai teratur dan mulailah mentruasi.

Mikrobiota Normal saat Usia Reproduktif
Flora vagina dari wanita usia reproduktif yang normal dan tidak bergejala yaitu bakteri aerobik, fakultatif anaerobik dan anaerob abligat. Dalam ekosistem vagina ini, beberapa mikroorganisme menghasilkan zat asam laktat dan hidrogen peroksida yang menghambat organisme lain yang tidak normal. Asam laktat yang di produksi mengandung kurang lebih 107 Lactobacillus per gram dari sekrsi vagina. Selama usia produktif, produksi estrogen glikogen intraselular di mukosa vagina dan peningkatan asam laktat yang diproduksi mikroba divagina.

pH Vagina
pH vagina normal yang berkisar antara 4 dan 4,5 didapat dari estrogen usia 18 tahun dan 45 tahun yang mempengaruhi glokogen pada mukosa vagina yang menjadi
sumber nutrisi mikroorganisme yang mengalami metabolisme sehingga membentuk asam laktat, meningkatkan mikroba pengasil asam laktat, dan menstimulasi ploriferasi
epitel vagina. Bakteri lain menambah asam organik dari katabolisme protein, bakteri anaerob dari fermentasi asam amino. Glikogen yang ada dalam mukosa vagina sehat
memberi nutrisi bagi banyak spesies ekosistem di vagina dan dimetabolisme menjadi asam laktat. Karena kandungan glikogen berkurang setelah menopause, hal ini
mengarah ke peningkatan pH vagina. Jika tidak ada patogen yang dapat mengubah pH, maka pH vagina yang berkisar antara 6,0 sampai 7,5.
Estrogen menstimulasi proliferasi sel epitel vagina dan peningkatan produksi glikogen. Keasaman lingkungan vagina berperan dalam menghambat infeksi sekunder
oleh bakteri. H2O2 yang dihasilkan oleh Lactobacillus mampu menghambat terjadinya kolonisasi flora vagina lainnya.

Flora Vagina pada Menopause
Epitel vagina mengandung estrogen-alpha reseptor, ketika level estrogen menurun maka epitel vagina akan mengalami atrofi, kadar glikogen menurun, penurunan
densitas laktobasilus dan produksi asam laktat, dan menyebabkan pH vagina meningkat hingga 6.0-8.0. Peningkatan pH vagina yang menyebabkan tidak terdapat bakterial
vaginosis maupun patologi vagina merupakan indikator status menopause. Setelah menopause, vagina mengandung lebih banyak spesies komensal.

Flora yang berkolonisasi pertama tersering adalah flora fekal yakni Enterobacteriaceae, yang jarang ditemui pada pH < 4.5. Organisme lain yang juga dapat ditemukan pada vagina wanita menopause seperti : G. vaginalis (27%), U. urealyticum (13%), Prevotella (33%), dan dancolioform (41%). Lactobacillus spp. menjadi flora vagina yang dominan pada setiap tahap transisi menopause. Pada fase pre-menopause terdapat 83%, perimenopause 83%, dan post-menopause menurun hingga 54% menunjukkan hubungan terhadap atrofi vagina.

Perubahan Flora
Perubahan unsur ekologi pada vagina dapat mengubah prevalensi berbagai spesies. Sebagai contoh, wanita pasca menopause dan wanita muda memiliki prevalensi yang lebih rendah dari spesies Lactobacillus dibandingkan dengan wanita yang berusia reproduktif. Perubahan transien dari flora terhadap siklus menstruasi terutama selama
hari-hari pertama siklus menstruasi. Cairan menstruasi juga dapat berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi beberapa spesies bakteri, yang mengakibatkan pertumbuhan berlebih.

Peran Asam Laktat
Lingkungan yang asam pada vagina ini merupakan lingkungan yang tidak baik untuk mikroorganisme patogen. Keasaman vagina dipertahankan oleh adanya metabolisme glikogen. Glikogen dimetabolisme menjadi asam laktat oleh Lactobacillus yang mana menyebabkan pH vagina menurun dan membantu pertumbuhan Lactobacillus. Sel epitel vagina juga berkontribusi terhadap keasaman vagina dengan sekresi langsung ion hidrogen oleh mekanisme sensitif estrogen.

Peran Probiotik
Penggunaan probiotik dapat menurunkan bakteri patogen di vagina, menurunkan pH vagina dan meningkatkan jumlah Lactobacillus pada vagina. Suplementasi probiotik selama hamil memiliki peran protektif terhadap pre-eklampsia, diabetes gestasional dan infeksi terutama bakterial vaginosis. Penggunaan probiotik juga dapat mencegah terjadinya necrotizing enterocolitis pada bayi.

Infeksi pada vagina
Wanita yang kekurangan Lactobacillus lebih berisiko tinggi untuk terkena infeksi vaginosis bakterialis dan vaginitis aerobik meningkatkan risiko transmisi penyakit menular seksual dan kelahiran pre-term. Vaginitis aerobik adalah gangguan yang disebabkan oleh kurangnya spesies Lactobacillus dan berlebihnya bakteri aerobik seperti Escherichia coli, Staphylococcus spp. dan Streptococcus group ß spp. Biasa disebabkan oleh ascending infections yang berasal dari saluran kemih. Eksposur terhadap cairan semen yang bersifat basa, penggunaan tampon, sabun, pakaian, kondom dan obat-obatan tertentu juga mempengaruhi tingkat kejadian ini.

Asam laktat secara langsung mencegah infeksi Chlamydia trachomatis dan membantu mencegah infeksi HSV-2 dan HIV in vitro bila suasana di sekitar vagina mencapai pH <4. Asam laktat membantu menjalankan fungsi imun tubuh dengan aktivasi proses inflamasi, mengeluarkan mediator dari sel epitelial vagina dan memicu respon antiviral dengan memproduksi growth factor-1ß. Komposisi flora vagina tidak konstan, bergantung pada faktor internal dan eksternal seperti siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi, frekuensi hubungan seksual, penggunaan produk higienitas dan konsumsi obat-obatan dengan kemampuan imunosupresan.
Vagina sendiri memiliki beberapa sel imun dan reseptor seperti toll like receptors (TLR) dan dectin-1 receptor untuk memantau lingkungan mikroba di sekitarnya. Apabila terjadi aktivitas mikrobiota yang berlebihan, reseptor akan menginisiasi proses imun dengan aktivasi sitokin kemokin dan sekresi interleukin. sel NK (natural killers), makrofag, CD+4 helper, sel T dan CD+8, sel T sitotoksik dan limfosit B akan teraktivasi dan proses eliminasi patogen akan segera berjalan.

Mannose binding lectin (MBL), vaginal anti microbial peptide (AMPs) dan imunoglobulin A dan G juga berperan dalam mencegah infeksi pada vagina. MBL akan berikatan dengan manosa, N-asetilglukosamin dan karbohidrat fukosa menyebabkan sel lisis dan/atau memberi tanda target bagi sel imun tubuh sehingga dapat diserang. Imunoglobulin A dan G mencegah perlengketan sel epitel vagina dan menetralkan serta membunuh patogen dari vagina. AMPs menginisiasi reaksi imun kemotaksis atau proses anti-endotoksin. AMPs menghasilkan defesin yang membantu dalam mencegah infeksi HIV, herpes simpleks dan HPV.

==============================

Kontributor:

Danny Wiguna, SpOG

IG : dans.mecareyou

Peluang Kehamilan pada Wanita Usia Reproduksi dengan Anomali Uterus, Tuba Non Paten, Endometriosis, dan PCO

Infertilitas menjadi salah satu masalah yang sekarang marak diperbincangkan. Seorang wanita dinyatakan infertil apabila belum pernah hamil meskipun berhubungan seksual secara teratur dengan pasangan tanpa perlindungan kontrasepsi dalam waktu satu tahun atau lebih. Rentang usia wanita yang dikategorikan infertil adalah sama dengan usia reproduktif yaitu 15 sampai 49 tahun. Risiko infertilitas meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Wanita pada usia 40 tahun hanya memiliki peluang 5% untuk hamil. Selain usia, ada banyak faktor lain yang mempengaruhi hal ini seperti gangguan organ reproduksi, gangguan ovulasi, kegagalan proses penempelan hasil konsepsi pada rahim, status gizi, penyakit kronis, infeksi panggul, gaya hidup dan faktor lingkungan.

Pertama usia. Seperti yang disebutkan sebelumnya, penurunan kesuburan terjadi secara perlahan seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini berhubungan dengan penurunan kualitas sel telur dan gangguan proses pematangan sel telur yang mengarah pada penurunan kemungkinan hamil. Selain itu, seiring dengan pertambahan usia, risiko tumbuhnya miom, penyakit tuba dan endometriosis juga meningkat. Semua hal ini akan berpengaruh secara negatif terhadap kemungkinan hamil. Kedua, penyakit dan/atau kondisi penyerta pada wanita dan pria. Bentuk rahim yang tidak baik akan mempersulit proses kehamilan. Gangguan hormonal dapat menjadi penyebab yang kuat. Salah satu contoh adalah kondisi hipogonadotropik hipogonadism yang terjadi karena kurang atau tidak adanya sekresi hormon gonadotropin dari hipotalamus atau hipofisis yang terganggu. Contoh lain adalah hiperprolaktinemia atau keadaan hormon prolaktin yang berlebih yang menghambat sekresi hormon gonadotropin sehingga tidak terjadi pematangan sel telur pada wanita. Selain itu, gangguan lain seperti gangguan fungsi silia pada saluran tuba dan cystic fibrosis dapat menjadi hambatan. Fungsi silia pada saluran tuba adalah untuk memindahkan hasil pembuahan ke dalam rahim. Apabila terjadi gangguan karena suatu infeksi, maka pergerakan akan berkurang sehingga mengurangi kemungkinan untuk hamil. Infeksi yang sering terjadi adalah pelvic inflammatory disease (PID) dan salpingitis akut. Infeksi ini terjadi karena hilangnya barier atau pelindung di daerah kemaluan. Diagnosis gangguan saluran tuba dapat ditegakan dari identifikasi faktor risiko, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah laparoskopi dan histerosalpingografi (HSG). Laparoskopi adalah baku emas untuk mengevaluasi penyakit tuba, sedangkan HSG dilakukan dua sampai lima hari setelah menstruasi selesai untuk memberi gambaran perut bawah dan panggul, rahim dan patensi tuba serta evaluasi keadaan tuba yang jelas.

Cystic fibrosis sendiri adalah suatu kondisi dimana produksi lendir berlebih sehingga pada daerah leher rahim, terbentuk suatu lapisan tebal yang menghambat jalan masuknya sperma. Selain itu, riwayat operasi pada daerah perut dan panggul juga dapat menurunkan tingkat kesuburan. Keadaan akan semakin diperparah apabila pria dan/atau wanita mengidap penyakit kencing manis yang tidak terkontrol dengan baik. Pada pria, kadar gula darah tinggi pada darah menyebabkan gangguan pergerakan sperma. Ketiga, gaya hidup. Frekuensi berhubungan seksual akan mempengaruhi terjadinya kehamilan. Apabila pasangan rutin melakukan hubungan seksual (dua sampai tiga kali seminggu), kemungkinan hamil akan lebih tinggi. Selain itu, pembatasan makanan dan/atau olahraga berlebihan dapat mengganggu proses pematangan sel telur dan perkembangan dinding rahim. Stress yang berlebih, obesitas, merokok dan konsumsi obat-obatan terlarang serta alkohol juga dapat menjadi hambatan. Rokok dapat mengganggu setiap tahap fungsi reproduksi, mulai dari pembentukan hormon sampai perkembangan rahim. Pada pria, rokok mengurangi produksi sperma dan meningkatkan risiko kerusakan DNA. Konsumsi obat-obatan terlarang seperti ganja akan mengganggu siklus menstruasi, penurunan jumlah sel telur dan apabila berhasil hamil, akan meningkatkan risiko lahir sebelum waktunya atau prematur. Pada pria, akan menyebabkan penurunan volume ejakulasi dan gangguan pergerakan sperma. Alkohol meningkatkan hormon estrogen dan menurunkan sekresi hormon perangsang pematangan sel telur. Semua hal ini akan menurunkan kemungkinan hamil pada seorang wanita.

Penyakit lain pada wanita yang dapat menyebabkan infertilitas adalah premature ovarian insufficiency, polycystic ovary syndrome (PCO), endometriosis, fibroid uteri dan polip. Endometriosis adalah keberadaan kelenjar dinding rahim di luar lokasi yang seharusnya. Hal ini bersifat toksik pada embrio dan menyebabkan gangguan pada pergerakan tuba. Selain itu, kondisi ini akan menyebabkan reaksi radang jangka panjang, sehingga mengganggu proses penanaman janin hasil konsepsi pada dinding rahim. Pada keadaan sedang berat, akan timbul masalah pelepasan sel telur karena penempelan yang terjadi antar panggul dan kelenjar yang ada di luar tempat yang seharusnya. Gangguan ini dapat ditegakkan apabila dikeluhkan rasa nyeri saat menstruasi, nyeri panggul dalam jangka waktu panjang, merasakan adanya tekanan pada tulang belakang atau kaki serta timbul rasa lelah. PCO sendiri dapat dicurigai apabila wanita jarang datang bulan dan memiliki gejala kelebihan hormon. Namun secara pasti dapat ditegakan bila dilakukan pemeriksaan USG. Lebihnya kadar hormon androgen akan menyebabkan ketidakseimbangan produksi hormon LH dan FSH, sehingga menurunkan produksi hormon seks dan meningkatkan kadar androgen yang menyebabkan berkurangnya proses pematangan sel telur dan kelainan siklus menstruasi. Apabila wanita hamil dengan PCOS, risiko untuk abortus, kencing manis, tekanan darah tinggi saat kehamilan dan persalinan sebelum waktunya serta bayi lahir kecil tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, proses pembekuan darah yang cepat, resistensi hormon insulin dan gangguan dinding rahim akibat penurunan ekspresi B3 integrin. B3 integrin dibutuhkan sebagai mediator untuk penempelan hasil konsepsi di rahim pada umumnya.

Apabila seorang wanita memiliki polip, maka akan terjadi gangguan pada jalan masuk sperma ketika sanggama, gangguan pada proses penempelan hasil konsepsi dan peningkatan produksi faktor penghambat seperti glikodelin. Sedangkan apabila wanita memiliki fibroid atau miom pada rahim, ini menandakan bahwa wanita ada dalam kondisi kelebihan hormon estrogen. Miom yang ada di dekat lubang saluran tuba akan menghalangi jalur dari sel telur yang keluar dari saluran tuba.

Apabila seorang wanita memiliki polip, maka akan terjadi gangguan pada jalan masuk sperma ketika sanggama, gangguan pada proses penempelan hasil konsepsi dan peningkatan produksi faktor penghambat seperti glikodelin. Sedangkan apabila wanita memiliki fibroid atau miom pada rahim, ini menandakan bahwa wanita ada dalam kondisi kelebihan hormon estrogen. Miom yang ada di dekat lubang saluran tuba akan menghalangi jalur dari sel telur yang keluar dari saluran tuba.
Penyakit lain pada pria yang dapat menjadi faktor adalah disfungsi testis dan post testicular impairment. Disfungsi testis yang dimaksud adalah adanya gangguan sejak lahir atau didapat atau yang tidak diketahui dari mana asalnya sehingga akan mengganggu produksi sperma sedangkan post testicular impairment adalah gangguan ejakulasi atau adanya sumbatan dalam jalan keluar sperma. Banyak hal yang bisa menyebabkan hal ini seperti infeksi dan pembedahan. Sperma yang baik adalah sperma dengan volume 1.5 ml, total berjumlah 39 juta per ejakulasi dengan konsentrasi 15 juta per mL. Dari keseluruhan total, 58% hidup dan 32 % bergerak secara progresif serta bentuk sperma yang baik sebanyak 4%. Eksposur terhadap bahan kimia dan perkawinan pertalian darah juga akan mempersulit proses kehamilan.

Tetap berusaha dan memperbaiki yang telah dan akan dilakukan dengan pendekatan interpersonal yang efektif.

==============================

Kontributor:

Danny Wiguna, SpOG

IG : dans.mecareyou