Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Inisasi Menyusu Dini (IMD) adalah kegiatan untuk melakukan kontak kulit ibu dengan kulit bayi segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam. IMG memiliki dasar hukum yang telah ditetapkan oleh Negara, yaitu “Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif BAB III Bagian Kedua Inisiasi Menyusu Dini Pasal 9.”

Keuntungan Menyusui Dini

Bagi Ibu

  • Merangsang produksi oksitosin dan prolaktin
  • Meningkatkan keberhasilan produksi ASI
  • Meningkatkan Jalinan kasih sayang ibu-bayi

Bagi Bayi

  • Mengurangi 22% kematian bayi berusia 28 hari kebawah
  • Meningkatkan keberhasilan menyusu secara eksklusif
  • Meningkatkan lamanya bayi menyusui
  • Merangsang produksi susu
  • Memperkuat reflek menghisap bayi

Manfaat

IMD memiliki banyak manfaat, yaitu :

  • Menurunkan resiko kedinginan ( hypothermia )
  • Membuat pernapasan dan detak janttung bayi lebih stabil
  • Bayi akan memiliki kemampuan melawan bakteri
  • Bayi mendapat kolostrum dengan konsentrasi protein dan immunoglobulin paling tinggi
  • Mendukung keberhasilan ASI Eksklusif
  • Membantu pengeluaran plasenta dan mencegah perdarahan
  • Membantu bayi agar memiliki keahlian makan di waktu selanjutnya
  • Ibu dan ayah akan sangat bahagia bertemu dengan bayinya pertama kali di dada ibunya.

Langkah-langkah IMD

  • Segera setelah bayi lahir, setelah tali pusat dipotong, bayi di bersihkan ( kecuali tangan bayi ).
  • Meletakkan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu.
  • Posisi bahu bayi lurus, kepala bayi berada di antara payudara ibu, tetapi lebih rendah dari puting.
  • Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat.
  • Ibu memeluk dan membelai bayinya.
  • Melakukan  kontak kulit ke kulit paling sedikit satu jam.

Operasi Kista dengan Metode Laparoskopi

Metode operasi kista laparoskopi merupakan teknik pembedahan atau operasi yang dilakukan dengan membuat dua atau tiga sayatan kecil dengan diameter sekitar 5–10 mm di sekitar perut pasien. Satu lubang (10mm) pada pusar digunakan untuk memasukkan kamera yang kemudian ditayangkan ke layar monitor, sementara dua lubang (5mm) yang lain untuk peralatan bedah seperti penjapit, gunting, dan lain sebagainya.

Keuntungan:

  1. Nyeri paska operasi yang lebih berkurang karena teknik ini tidak memotong otot seperti yang dilakukan pada teknik operasi terbuka serta sayatan yang jauh lebih kecil (yang hanya sekitar 0,5‐1 cm saja) bila dibandingkan dengan sayatan 10cm pada operasi konvensional.
  2. Karena rasa nyeri paska operasi lebih berkurang maka penggunaan obat antinyeri (analgetik) lebih sedikit
  3. Resiko terjadinya perlengketan organ‐organ dalam perut (usus, rahim, saluran telur, indung telur) lebih sedikit
  4. Jumlah darah yang hilang ketika operasi lebih sedikit.
  5. Lama perawatan paska‐operasi (mondok) di RS lebih singkat, yakni 1‐2 hari, kalau teknik operasi terbuka dapat hingga 3‐5 hari.
  6. Masa penyembuhan yang lebih cepat.
  7. Pasien lebih cepat dapat kembali beraktifitas / bekerja sehari‐hari
  8. Kosmesis yang lebih baik, karena luka operasi yang jauh lebih kecil.bekas operasi lambat laun akan tampak tak terlihat.
  9. Dari segi ekonomi, karena waktu perawatan (mondok) yang lebih singkat, penggunaan obat antinyeri yang lebih sedikit, serta lebih cepatnya pasien dapat beraktifitas / bekerja kembali, maka teknik operasi dengan laparaskopi ini relatif lebih cost-effective.

Kekurangan:

  1. Kurang sesuai untuk operasi kista yang relatif besar dikarenakan sulitnya teknik operasi
  2. Kurang sesuai untuk kista dengan kemungkinan keganasan
  3. Memerlukan peralatan laparaskopi yang cukup mahal
  4. Memerlukan skill dari dokter yang khusus yang memerlukan pelatihan khusus di bidang laparaskopi
  5. Memerlukan kerja sama tim yang baik dari perawat / asistan kamar operasi yang sudah terlatih dalam operasi laparaskopi
  6. Resiko terjadinya cedera organ dalam perut (usus, vesika, pembuluh darah)

Sumber : drcipto.com

Aktifitas Fisik Selama Kehamilan

AKTIFITAS FISIK SELAMA KEHAMILAN
Pada kehamilan tanpa komplikasi, disarankan untuk melakukan olahraga seperti aerobik sebelum, selama dan setelah melahirkan. Namun, dokter harus mengevaluasi wanita dengan komplikasi medis maupun kehamilan sebelum membuat rekomendasi untuk melakukan olahraga. Rekomendasi durasi olahraga yang memberikan keuntungan adalah olahraga dengan intensitas sedang selama 30 menit setiap hari atau olah raga intensitas berat 20 menit tiap 3 atau 4 hari per minggu.

Perubahan pada tubuh yang mempengaruhi rutinitas olahraga
1. Sendi

Hormon selama kehamilan membuat jaringan perekat yang menyangga persendian menjadi lebih relaks. Hal ini akan menyebabkan sendi menjadi lebih mudah bergerak dan menimbulkan resiko untuk terjadi cedera menjadi lebih besar.

2. Keseimbangan
Pada saat kehamilan terjadi penambahan berat badan pada bagian depan tubuh dan mempengaruhi titik gravitasi tubuh. Hal ini akan menyebabkan penambahan beban pada sendi dan otot terutama pada bagian pinggul dan punggung bawah. Perubahan titik keseimbangan tersebut menyebabkan tubuh menjadi lebih mudah kehilangan keseimbangan dan resiko untuk jatuh menjadi lebih tinggi.

3. Sistem pernapasan
Pada saat berolahraga kebutuhan oksigen ibu hamil menjadi meningkat. Saat perut makin membesar, napas menjadi lebih pendek dan lebih mudah sesak karena peningkatan tekanan rahim pada rongga dada.

4. Aliran darah
Saat kehamilan akan terjadi peningkatan jumlah darah, denyut jantung dan curah jantung. Olahraga yang tidak bergerak seperti beberapa posisi yoga dapat membuat aliran darah balik pembuluh darah dari seluruh tubuh ke jantung menjadi menurun dan menimbulkan penurunan tekanan darah. Maka olah raga dengan posisi berbaring yang terlalu lama harus dihindari.

Resiko yang terjadi saat berolahraga

  1. Peningkatan Suhu Tubuh
    Berolahraga selama kehamilan menyebabkan suhu tubuh lebih meningkat daripada normal. Jika suhu tubuh ibu lebih dari 39,2 oC pada 12 minggu pertama kehamilan, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan menyebabkan kecacatan pada janin. Untuk mengurangi resiko tersebut maka disarankan:
    o Minum banyak air sebelum dan selama berolahraga
    o Jangan memaksakan diri terutama pada 12 minggu awal kehamilan
    o Hindari berolahraga pada iklim yang panas dan lembab
  2. Penurunan Tekanan Darah
    Berbaring terlentang pada tempat yang rata, dapat menekan pembuluh darah utama sehingga darah yang dipompa keluar ke seluruh tubuh menjadi berkurang dan menyebabkan penurunan tekanan darah atau biasa disebut dengan hipotensi. Hal ini biasa terjadi setelah minggu ke 16 dari kehamilan, oleh karena itu disarankan untuk
    menghindari olahraga yang membutuhkan berbaring rata dengan punggung, terutama setelah memasuki usia kemahilan 16 minggu.
  3. Luka fisik
    Selama kehamilan, otot dan sendi menjadi lebih mudah digerakkan. Untuk mengurangi resiko terjadinya luka, maka ibu hamil disarankan untuk :
    o Melakukan pemanasan sebelum berolahraga dan pendinginan setelahnya
    o Jika melakukan aerobik, jangan tiba-tiba merubah arah gerakan tubuh
    o Pertimbangkan memakai “pelvic support belt” selama olahraga
  4. Kekurangan Oksigen
    Pada dataran tinggi, aliran darah ke rahim akan menurun sehingga janin menerima oksigen lebih sedikit. Jika wanita berolahraga di dataran tinggi, maka oksigen yang diterima janin akan lebih sedikit lagi sehingga dapat terjadi kekurangan oksigen pada janin yang dikandungnya. Untuk mencegah hal tersebut, maka disarankan untuk menghindari berolahraga pada dataran tinggi yaitu lebih dari 2500 meter diatas permukaan laut.
  5. Kadar gula darah. Ibu memiliki diabetes mellitus sebelumnya ataudiabetes melitus gestasional (diabetes yang hanya terjadi pada saat kehamilan) disarankan untuk berolahraga tidak lebih dari 45 menit dalam satu waktu, maka beberapa hal harus lebih diperhatikan pada saat berolahraga yaitu dengan memonitor gula darah secara rutin, makan teratur, dan istirahat teratur.

Tanda bahaya olahraga

  1. Perdarahan dari jalan lahir
  2. Kontraksi rahim yang nyeri dan terjadi secara teratur
  3. Rembesan cairan ketuban
  4. Sesak napas sebelum memulai olahraga
  5. Pusing
  6. Nyeri kepala
  7. Nyeri dada dan berdebar debar
  8. Nyeri pada bagian perut, punggung atau area kemaluan
  9. Kelemahan otot yang mempengaruhi keseimbangan
  10. Nyeri pada betis atau bengkak pada kaki.
  11. Keram otot
  12. Gerakan janin dirasakan berkurang

Anjuran program yang dilakukan saat memulai aktifitas olahraga saat hamil

  1. Saat baru mulai program untuk olahraga, mulailah secara perlahan dan berhati hati serta tidak memaksakan diri. Pertimbangkan prenatal yoga yang secara spesifik didesain untuk wanita hamil.
  2. Perhatikan tanda-tanda dari tubuh. Tubuh akan secara alami memberikan signal atau tandatanda untuk mengurangi beban olahraga yang sedang dilakukan, misalnya napas terasa berat.
  3. Jangan pernah berolahraga sampai kelelahan dan sesak napas, karena ini merupakan tanda bahwa bayi dan ibu tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
  4. Gunakan alas kaki yang nyaman sehingga dapat menyangga pergelangan kaki dengan baik
  5. Beristirahatlah secara teratur, dan cukupi kebutuhan cairan selama berolahraga
  6. Hindari berolahraga pada suhu yang sangat panas
  7. Hindari jalanan yang tidak rata dan berbatu saat berlari atau berepeda karena dapat menimbulkan cidera sendi
  8. Olahraga yang menggunakan kontak tubuh seperti taekwondo harus dihindari selama kehamilan
  9. Olahraga yang menggunakan beban dapat meningkatkan kekuatan otot terutama bagian atas tubuh dan bagian perut. Namun hindari mengangkat beban sampai atas kepala dengan menggunakan beban yang membuat otot punggung bawah menjadi tegang.
  10. Selama trimester 2 dan 3, hindari olahraga yang menyebabkan tubuh berbaring rata karena dapat menurunkan aliran darah ke rahim.
  11. Sebelum dan setelah berolahraga harus melakukan peregangan dan pemanasan.
  12. Makan makanan yang sehat yang meliputi buah, sayur serta karbohidrat kompleks seperti nasi atau roti.

Olahraga saat hamil
Olah raga yang dapat menjadi pilihan selama kehamilan antara lain:

  1. Berjalan
  2. Lari : Lari atau jogging yang aman pada ibu hamil dapat mengikuti “the talk rule”. Dimana ibu hamil dan pasangan dapat berbicara dengan nyaman selama berolah raga.
  3. Yoga: Pada olah raga yoga diperlu adanya pendamping yang profesional karena terdapat beberapa pose dan peregangan yang tidak boleh dilakukan untuk wanita hamil terutama posisi yang dapat menyebabkan resiko tinggi untuk jatuh.
  4. Sepeda statis: Menggunakan sepeda statis merupakan salah satu olah raga yang aman dilakukan selama kehamilan. Ibu hamil diharapkan dapat mengendalikan kecepatan yang sesuai dan pastikan untuk tetap duduk karena jika berdiri dapat meningkatkan resiko jatuh.
  5. Angkat beban: Angkat beban dapat dilakukan oleh ibu hamil dengan menggunakan beban yang sesuai. Berat yang dianjurkan pada ibu hamil adalah 2.270 gram atau sekitar 2.5 kilogram.
  6. Berenang : Berenang dapat membantu menahan berat tubuh, menghilangkan stress, tegang pada kaki dan punggung dan juga mencegah potensi jatuh saat melakukan olahraga lain.

Olahraga yang harus dihindari selama kehamilan

  • Olah raga yang menggunakan kontak fisik seperti taekwondo
  • Resiko jatuh yang tinggi seperti bersepeda
  • Scubadiving
  • Sky diving

Efek olahraga pada kehamilan

  1. Olah raga yang baik diharapkan dapat membantu selama proses persalinan dan mengurangi komplikasi selama persalinan tersebut.
  2. Membantu menjaga peningkatan berat badan selama kehamilan dan menurunkan resiko diabetes gestational pada wanita hamil dengan obesitas
  3. Meningkatkan kesehatan psikologis ibu hamil seperti mengurangi stress, kecemasan dan depresi yang dapat mengganggu selama prose kehamilan.
  4. Menghilangkan kelelahan dan nyeri punggung bawah yang biasa menjadi keluhan banyak ibu selama kehamilan.
  5. Mengurangi risiko terjadinya pembesaran pembuluh darah di kaki dan bengkak pada kaki selama kehamilan
  6. Mengurangi terjadinterjadinya susah buang air besar atau konstipasi dan rasa begah pada perut
  7. Dapat meningkatkan kekuatan otot yang membantu menyangga peningkatan berat bedan selama kehamilan dan meningkatkan kelenturan otot sebagai persiapan persalinan
  8. Meningkatkan kualitas tidur.
  9. Mencegah kondisi medis yang dapat terjadi selama kehamilan diantaranya seperti diabetes mellitus gestational, hipertensi, dan preeklampsia
  10. Selain bermafaat bagi ibu, olahraga juga bermanfaat bagi janin dalam kandungan yaitu dapat mencegah terjadinya komplikasi pada sistem organ janin dibandingkan dengan ibu yang tidak melakukan olahraga.

==============================

Kontributor:

Danny Wiguna, SpOG

IG : dans.mecareyou

Flora Vagina

Vagina wanita dewasa muda normal terdapat sekitar 109 koloni mikroba yang dipengaruhi oleh pH, suhu, sekresi dari lozomi dan immunoglobulin, tingkat nutrien termasuk oksigen dan air, serta kemampuan adhesi bakteri. Mikroba vagina dapat mengalami perubahan berkelanjutan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor internal utama yaitu perubahan hormonal sedangkan faktor eksternal yaitu higiene atau penggunaan produk kesehatan penjaga higienitas daerah kewanitaan.

Mikribiota vagina berperan penting dalam mencegah kolonisasi organisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit menular seksual dan infeksi saluran kemih.
Kriteria Nugent menyatakan mikribia normal didominasi oleh Lactobacillus. Lactobacillus sp. Merupakan mikrobiota vagina dominan pada 70-80% wanita normal asimptomatik, sedangkan pada 20-30% lainnya didominasi oleh kelompok bakteri anaerob dan fakultatif.

Vagina wanita usia reproduktif didominasi oleh mikroba yang memproduksi asam laktat, yang berada pada kisaran 107 lactobacilli per gram sekresi vaginal. Kadar Lactobacillus sp pada vagina meningkai atau menurun sesuai dengan kadar estrogen sistemik. Pada wanita yang mendekati masa menopause, penurunan kadar estrogen dapat menyebabkan atrofi vulvovagina dan 25-50% mengalami gejala seperti rasa panas saat berkemih, perdarahan post koitus, dispareunia, vaginal discharge, serta sensasi rasa nyeri dan gatal pada kemaluan. Penurunan hormon estrogen pada menopause berkontribusi pada penurunan deposisi glikogen pada epitel vagina dan menyebabkan berkurangnya produksi asam organik, terutama asam laktat oleh koloni bakteri vagina.

Mikrobiota Normal ketika Anak-anak dan saat Puberta
Setelah proses persalinan, estrogen maternal di sirkulasi neonatus memproduksi glikogen pada epitel vagina yang membuat mikroba memproduksi asam laktat. Hormon gonadal dan adrenal yang belum aktif, estrogen maternal yang semakin menipis, mikroba yang memproduksi asam laktat pada neonatus menurun semua hal ini mengakibatkan pH vagina menjadi netral atau agak alkalin. Saat memasuki pubertas fisiologi dan morfologi vulva dan vagina berubah. Seiring dengan maturasi dari gonadal dan adrenal, siklus hormonal mulai teratur dan mulailah mentruasi.

Mikrobiota Normal saat Usia Reproduktif
Flora vagina dari wanita usia reproduktif yang normal dan tidak bergejala yaitu bakteri aerobik, fakultatif anaerobik dan anaerob abligat. Dalam ekosistem vagina ini, beberapa mikroorganisme menghasilkan zat asam laktat dan hidrogen peroksida yang menghambat organisme lain yang tidak normal. Asam laktat yang di produksi mengandung kurang lebih 107 Lactobacillus per gram dari sekrsi vagina. Selama usia produktif, produksi estrogen glikogen intraselular di mukosa vagina dan peningkatan asam laktat yang diproduksi mikroba divagina.

pH Vagina
pH vagina normal yang berkisar antara 4 dan 4,5 didapat dari estrogen usia 18 tahun dan 45 tahun yang mempengaruhi glokogen pada mukosa vagina yang menjadi
sumber nutrisi mikroorganisme yang mengalami metabolisme sehingga membentuk asam laktat, meningkatkan mikroba pengasil asam laktat, dan menstimulasi ploriferasi
epitel vagina. Bakteri lain menambah asam organik dari katabolisme protein, bakteri anaerob dari fermentasi asam amino. Glikogen yang ada dalam mukosa vagina sehat
memberi nutrisi bagi banyak spesies ekosistem di vagina dan dimetabolisme menjadi asam laktat. Karena kandungan glikogen berkurang setelah menopause, hal ini
mengarah ke peningkatan pH vagina. Jika tidak ada patogen yang dapat mengubah pH, maka pH vagina yang berkisar antara 6,0 sampai 7,5.
Estrogen menstimulasi proliferasi sel epitel vagina dan peningkatan produksi glikogen. Keasaman lingkungan vagina berperan dalam menghambat infeksi sekunder
oleh bakteri. H2O2 yang dihasilkan oleh Lactobacillus mampu menghambat terjadinya kolonisasi flora vagina lainnya.

Flora Vagina pada Menopause
Epitel vagina mengandung estrogen-alpha reseptor, ketika level estrogen menurun maka epitel vagina akan mengalami atrofi, kadar glikogen menurun, penurunan
densitas laktobasilus dan produksi asam laktat, dan menyebabkan pH vagina meningkat hingga 6.0-8.0. Peningkatan pH vagina yang menyebabkan tidak terdapat bakterial
vaginosis maupun patologi vagina merupakan indikator status menopause. Setelah menopause, vagina mengandung lebih banyak spesies komensal.

Flora yang berkolonisasi pertama tersering adalah flora fekal yakni Enterobacteriaceae, yang jarang ditemui pada pH < 4.5. Organisme lain yang juga dapat ditemukan pada vagina wanita menopause seperti : G. vaginalis (27%), U. urealyticum (13%), Prevotella (33%), dan dancolioform (41%). Lactobacillus spp. menjadi flora vagina yang dominan pada setiap tahap transisi menopause. Pada fase pre-menopause terdapat 83%, perimenopause 83%, dan post-menopause menurun hingga 54% menunjukkan hubungan terhadap atrofi vagina.

Perubahan Flora
Perubahan unsur ekologi pada vagina dapat mengubah prevalensi berbagai spesies. Sebagai contoh, wanita pasca menopause dan wanita muda memiliki prevalensi yang lebih rendah dari spesies Lactobacillus dibandingkan dengan wanita yang berusia reproduktif. Perubahan transien dari flora terhadap siklus menstruasi terutama selama
hari-hari pertama siklus menstruasi. Cairan menstruasi juga dapat berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi beberapa spesies bakteri, yang mengakibatkan pertumbuhan berlebih.

Peran Asam Laktat
Lingkungan yang asam pada vagina ini merupakan lingkungan yang tidak baik untuk mikroorganisme patogen. Keasaman vagina dipertahankan oleh adanya metabolisme glikogen. Glikogen dimetabolisme menjadi asam laktat oleh Lactobacillus yang mana menyebabkan pH vagina menurun dan membantu pertumbuhan Lactobacillus. Sel epitel vagina juga berkontribusi terhadap keasaman vagina dengan sekresi langsung ion hidrogen oleh mekanisme sensitif estrogen.

Peran Probiotik
Penggunaan probiotik dapat menurunkan bakteri patogen di vagina, menurunkan pH vagina dan meningkatkan jumlah Lactobacillus pada vagina. Suplementasi probiotik selama hamil memiliki peran protektif terhadap pre-eklampsia, diabetes gestasional dan infeksi terutama bakterial vaginosis. Penggunaan probiotik juga dapat mencegah terjadinya necrotizing enterocolitis pada bayi.

Infeksi pada vagina
Wanita yang kekurangan Lactobacillus lebih berisiko tinggi untuk terkena infeksi vaginosis bakterialis dan vaginitis aerobik meningkatkan risiko transmisi penyakit menular seksual dan kelahiran pre-term. Vaginitis aerobik adalah gangguan yang disebabkan oleh kurangnya spesies Lactobacillus dan berlebihnya bakteri aerobik seperti Escherichia coli, Staphylococcus spp. dan Streptococcus group ß spp. Biasa disebabkan oleh ascending infections yang berasal dari saluran kemih. Eksposur terhadap cairan semen yang bersifat basa, penggunaan tampon, sabun, pakaian, kondom dan obat-obatan tertentu juga mempengaruhi tingkat kejadian ini.

Asam laktat secara langsung mencegah infeksi Chlamydia trachomatis dan membantu mencegah infeksi HSV-2 dan HIV in vitro bila suasana di sekitar vagina mencapai pH <4. Asam laktat membantu menjalankan fungsi imun tubuh dengan aktivasi proses inflamasi, mengeluarkan mediator dari sel epitelial vagina dan memicu respon antiviral dengan memproduksi growth factor-1ß. Komposisi flora vagina tidak konstan, bergantung pada faktor internal dan eksternal seperti siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi, frekuensi hubungan seksual, penggunaan produk higienitas dan konsumsi obat-obatan dengan kemampuan imunosupresan.
Vagina sendiri memiliki beberapa sel imun dan reseptor seperti toll like receptors (TLR) dan dectin-1 receptor untuk memantau lingkungan mikroba di sekitarnya. Apabila terjadi aktivitas mikrobiota yang berlebihan, reseptor akan menginisiasi proses imun dengan aktivasi sitokin kemokin dan sekresi interleukin. sel NK (natural killers), makrofag, CD+4 helper, sel T dan CD+8, sel T sitotoksik dan limfosit B akan teraktivasi dan proses eliminasi patogen akan segera berjalan.

Mannose binding lectin (MBL), vaginal anti microbial peptide (AMPs) dan imunoglobulin A dan G juga berperan dalam mencegah infeksi pada vagina. MBL akan berikatan dengan manosa, N-asetilglukosamin dan karbohidrat fukosa menyebabkan sel lisis dan/atau memberi tanda target bagi sel imun tubuh sehingga dapat diserang. Imunoglobulin A dan G mencegah perlengketan sel epitel vagina dan menetralkan serta membunuh patogen dari vagina. AMPs menginisiasi reaksi imun kemotaksis atau proses anti-endotoksin. AMPs menghasilkan defesin yang membantu dalam mencegah infeksi HIV, herpes simpleks dan HPV.

==============================

Kontributor:

Danny Wiguna, SpOG

IG : dans.mecareyou

Peluang Kehamilan pada Wanita Usia Reproduksi dengan Anomali Uterus, Tuba Non Paten, Endometriosis, dan PCO

Infertilitas menjadi salah satu masalah yang sekarang marak diperbincangkan. Seorang wanita dinyatakan infertil apabila belum pernah hamil meskipun berhubungan seksual secara teratur dengan pasangan tanpa perlindungan kontrasepsi dalam waktu satu tahun atau lebih. Rentang usia wanita yang dikategorikan infertil adalah sama dengan usia reproduktif yaitu 15 sampai 49 tahun. Risiko infertilitas meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Wanita pada usia 40 tahun hanya memiliki peluang 5% untuk hamil. Selain usia, ada banyak faktor lain yang mempengaruhi hal ini seperti gangguan organ reproduksi, gangguan ovulasi, kegagalan proses penempelan hasil konsepsi pada rahim, status gizi, penyakit kronis, infeksi panggul, gaya hidup dan faktor lingkungan.

Pertama usia. Seperti yang disebutkan sebelumnya, penurunan kesuburan terjadi secara perlahan seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini berhubungan dengan penurunan kualitas sel telur dan gangguan proses pematangan sel telur yang mengarah pada penurunan kemungkinan hamil. Selain itu, seiring dengan pertambahan usia, risiko tumbuhnya miom, penyakit tuba dan endometriosis juga meningkat. Semua hal ini akan berpengaruh secara negatif terhadap kemungkinan hamil. Kedua, penyakit dan/atau kondisi penyerta pada wanita dan pria. Bentuk rahim yang tidak baik akan mempersulit proses kehamilan. Gangguan hormonal dapat menjadi penyebab yang kuat. Salah satu contoh adalah kondisi hipogonadotropik hipogonadism yang terjadi karena kurang atau tidak adanya sekresi hormon gonadotropin dari hipotalamus atau hipofisis yang terganggu. Contoh lain adalah hiperprolaktinemia atau keadaan hormon prolaktin yang berlebih yang menghambat sekresi hormon gonadotropin sehingga tidak terjadi pematangan sel telur pada wanita. Selain itu, gangguan lain seperti gangguan fungsi silia pada saluran tuba dan cystic fibrosis dapat menjadi hambatan. Fungsi silia pada saluran tuba adalah untuk memindahkan hasil pembuahan ke dalam rahim. Apabila terjadi gangguan karena suatu infeksi, maka pergerakan akan berkurang sehingga mengurangi kemungkinan untuk hamil. Infeksi yang sering terjadi adalah pelvic inflammatory disease (PID) dan salpingitis akut. Infeksi ini terjadi karena hilangnya barier atau pelindung di daerah kemaluan. Diagnosis gangguan saluran tuba dapat ditegakan dari identifikasi faktor risiko, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah laparoskopi dan histerosalpingografi (HSG). Laparoskopi adalah baku emas untuk mengevaluasi penyakit tuba, sedangkan HSG dilakukan dua sampai lima hari setelah menstruasi selesai untuk memberi gambaran perut bawah dan panggul, rahim dan patensi tuba serta evaluasi keadaan tuba yang jelas.

Cystic fibrosis sendiri adalah suatu kondisi dimana produksi lendir berlebih sehingga pada daerah leher rahim, terbentuk suatu lapisan tebal yang menghambat jalan masuknya sperma. Selain itu, riwayat operasi pada daerah perut dan panggul juga dapat menurunkan tingkat kesuburan. Keadaan akan semakin diperparah apabila pria dan/atau wanita mengidap penyakit kencing manis yang tidak terkontrol dengan baik. Pada pria, kadar gula darah tinggi pada darah menyebabkan gangguan pergerakan sperma. Ketiga, gaya hidup. Frekuensi berhubungan seksual akan mempengaruhi terjadinya kehamilan. Apabila pasangan rutin melakukan hubungan seksual (dua sampai tiga kali seminggu), kemungkinan hamil akan lebih tinggi. Selain itu, pembatasan makanan dan/atau olahraga berlebihan dapat mengganggu proses pematangan sel telur dan perkembangan dinding rahim. Stress yang berlebih, obesitas, merokok dan konsumsi obat-obatan terlarang serta alkohol juga dapat menjadi hambatan. Rokok dapat mengganggu setiap tahap fungsi reproduksi, mulai dari pembentukan hormon sampai perkembangan rahim. Pada pria, rokok mengurangi produksi sperma dan meningkatkan risiko kerusakan DNA. Konsumsi obat-obatan terlarang seperti ganja akan mengganggu siklus menstruasi, penurunan jumlah sel telur dan apabila berhasil hamil, akan meningkatkan risiko lahir sebelum waktunya atau prematur. Pada pria, akan menyebabkan penurunan volume ejakulasi dan gangguan pergerakan sperma. Alkohol meningkatkan hormon estrogen dan menurunkan sekresi hormon perangsang pematangan sel telur. Semua hal ini akan menurunkan kemungkinan hamil pada seorang wanita.

Penyakit lain pada wanita yang dapat menyebabkan infertilitas adalah premature ovarian insufficiency, polycystic ovary syndrome (PCO), endometriosis, fibroid uteri dan polip. Endometriosis adalah keberadaan kelenjar dinding rahim di luar lokasi yang seharusnya. Hal ini bersifat toksik pada embrio dan menyebabkan gangguan pada pergerakan tuba. Selain itu, kondisi ini akan menyebabkan reaksi radang jangka panjang, sehingga mengganggu proses penanaman janin hasil konsepsi pada dinding rahim. Pada keadaan sedang berat, akan timbul masalah pelepasan sel telur karena penempelan yang terjadi antar panggul dan kelenjar yang ada di luar tempat yang seharusnya. Gangguan ini dapat ditegakkan apabila dikeluhkan rasa nyeri saat menstruasi, nyeri panggul dalam jangka waktu panjang, merasakan adanya tekanan pada tulang belakang atau kaki serta timbul rasa lelah. PCO sendiri dapat dicurigai apabila wanita jarang datang bulan dan memiliki gejala kelebihan hormon. Namun secara pasti dapat ditegakan bila dilakukan pemeriksaan USG. Lebihnya kadar hormon androgen akan menyebabkan ketidakseimbangan produksi hormon LH dan FSH, sehingga menurunkan produksi hormon seks dan meningkatkan kadar androgen yang menyebabkan berkurangnya proses pematangan sel telur dan kelainan siklus menstruasi. Apabila wanita hamil dengan PCOS, risiko untuk abortus, kencing manis, tekanan darah tinggi saat kehamilan dan persalinan sebelum waktunya serta bayi lahir kecil tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, proses pembekuan darah yang cepat, resistensi hormon insulin dan gangguan dinding rahim akibat penurunan ekspresi B3 integrin. B3 integrin dibutuhkan sebagai mediator untuk penempelan hasil konsepsi di rahim pada umumnya.

Apabila seorang wanita memiliki polip, maka akan terjadi gangguan pada jalan masuk sperma ketika sanggama, gangguan pada proses penempelan hasil konsepsi dan peningkatan produksi faktor penghambat seperti glikodelin. Sedangkan apabila wanita memiliki fibroid atau miom pada rahim, ini menandakan bahwa wanita ada dalam kondisi kelebihan hormon estrogen. Miom yang ada di dekat lubang saluran tuba akan menghalangi jalur dari sel telur yang keluar dari saluran tuba.

Apabila seorang wanita memiliki polip, maka akan terjadi gangguan pada jalan masuk sperma ketika sanggama, gangguan pada proses penempelan hasil konsepsi dan peningkatan produksi faktor penghambat seperti glikodelin. Sedangkan apabila wanita memiliki fibroid atau miom pada rahim, ini menandakan bahwa wanita ada dalam kondisi kelebihan hormon estrogen. Miom yang ada di dekat lubang saluran tuba akan menghalangi jalur dari sel telur yang keluar dari saluran tuba.
Penyakit lain pada pria yang dapat menjadi faktor adalah disfungsi testis dan post testicular impairment. Disfungsi testis yang dimaksud adalah adanya gangguan sejak lahir atau didapat atau yang tidak diketahui dari mana asalnya sehingga akan mengganggu produksi sperma sedangkan post testicular impairment adalah gangguan ejakulasi atau adanya sumbatan dalam jalan keluar sperma. Banyak hal yang bisa menyebabkan hal ini seperti infeksi dan pembedahan. Sperma yang baik adalah sperma dengan volume 1.5 ml, total berjumlah 39 juta per ejakulasi dengan konsentrasi 15 juta per mL. Dari keseluruhan total, 58% hidup dan 32 % bergerak secara progresif serta bentuk sperma yang baik sebanyak 4%. Eksposur terhadap bahan kimia dan perkawinan pertalian darah juga akan mempersulit proses kehamilan.

Tetap berusaha dan memperbaiki yang telah dan akan dilakukan dengan pendekatan interpersonal yang efektif.

==============================

Kontributor:

Danny Wiguna, SpOG

IG : dans.mecareyou

Preservasi Fertilitas pada Pria

Sekitar 15% pasangan di dunia mengalami infertilitas. Infertilitas pada pasangan dapat terjadi karena tiga faktor. Sebanyak 1/3 dipengaruhi oleh faktor pria, 1/3 faktor wanita, dan 1/3 lainnya diakibatkan karena gabungan dari faktor pria dan wanita. Masalah gaya hidup seperti merokok dan obesitas dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan secara umum. Nutrisi juga memiliki pengaruh besar terhadap fertilitas pada pria. Saat ini, preservasi fertilitas dianggap sebagai pelayanan esensial di dunia medis diakibatkan karena perubahan sosial yang mengacu pada pernikahan di usia tua dan diikuti dengan perkembangan teknologi dalam pengobatan kanker dan cryobiology. Kanker sudah menjadi situasi yang signifikan dengan preservasi fertilitas nerupakan prosedur yang esensial.

Data demografis global dan data epidemiologi menunjukkan peningkatan pada prevalensi kanker, dengan perkiraan 20 juta kasus kanker baru setiap tahunnya pada 2025. Fertilitas masih menjadi masalah utama dalam kualitas hidup pada penderita kanker dengan usia muda. Dengan demikian, kebutuhan preservasi fertilitas menjadi krusial sekarang karena peningkatan kelangsungan hidup kanker dalam jangka panjang.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 5 tahun tingkat kelangsungan hidup relatif untuk semua kanker sekarang mendekati 70% untuk dewasa dan >80% untuk anak-anak.

Gaya Hidup, Fertilitas dan Penanganan Infertilitas

Aktivitas yang mempengaruhi suhu testis

Pada manusia dan mayoritas mamalia, spermatogenesis merupakan proses yang bergantung pada suhu, yaitu 2 – 8°C di bawah suhu tubuh. Beberapa faktor eksternal seperti postur duduk, baju, gaya hidup, penggunaan laptop, menonton televisi, bermain video games, dan lain sebagainya yang berakibat pada peningkatan suhu testis dan gangguan fertilitas.

  1. Merokok

Merokok diketahui menurunkan kapasitas antioksidan dari tubuh manusia, sehingga menurukan proteksi terhadap berbagai gangguan yang mungkin terhadap sistem reproduksi. Benzo(a)pyrene, merupakan karsinogen mutagenik yang mempengaruhi meiosis pada ovarium dan testis, mempengaruhi parameter semen pada dosis tertentu, jumlah oosit yang berakibat pada menopause dini, menghambat perkembangan embrio setelah fertilisasi, dan meningkatkan risiko kanker pada anak-anak.

C. Alkohol

Konsumsi alkohol sedang (40 – 80 gram atau 3,5 – 7 minum per hari) akan berakibat pada gangguan ringan dari maturasi sperma. Pada pecandu alkohol yang belum terdapat kerusakan liver berat ditemukan adanya penurunan jumlah sperma pada 40% kasus, bentuk sperma abnormal pada 45% kasus, dan gangguan motilitas sperma pada 50% kasus.

  1. Stres

Stres yang persisten dapat berakibat pada aktivasi terus menerus dari sistem saraf simpatis yang menghasilkan perubahan pada aksis hipotalamus-pituitari-gonadal yang mempengaruhi spermatogenesis. Stres juga berakibat pada peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang menyebabkan kerusakan pada sel sperma dan berakibat pada peningkatan produksi sperma abnormal dengan motilitas dan potensi fertilitas yang buruk.

  1. Penanganan Infertilitas

Manusia dianugerahi karunia prokreasi, namun umumnya individu tidak memikirkan tentang fertilitas, sampai individu tersebut berpikir untuk memulai sebuah keluarga. Tingkat fertilitas yang terus menurun terbukti dengan kecenderungan kualitas air mani yang berbanding terbalik dengan peningkatan frekuensi kasus infertilitas dalam beberapa tahun terakhir. Etiologi dalam sejumlah besar kasus infertilitas masih belum diketahui. Tingkat fertilitas yang kurang baik di awal kehidupan cenderung menjadi infertil lebih cepat dari kebanyakan orang pada umumnya. Seseorang harus merawat fertilitas sejak awal kehidupan dan bahkan setelah selesai dengan program keluarga berencana dengan beberapa hal seperti berikut.

  • Menghindari paparan radiasi
    • Menghindari paparan panas pada testis
    • Mengurangi stres
    • Berhenti merokok dan konsumsi alkohol
    • Melakukan olahraga intensitas ringan-sedang
    • Mengikuti jam biologis
    • Diet yang seimbang dan bergizi
    • Koitus secara teratur
    • Program keluarga berencana

Oncofertility: Mempertahankan Fertilitas pada Pasien Kanker

Pada kelompok ini, masalah kualitas hidup secara umum dan mempertahankan fertilitas menjadi penting. Pasien kanker secara tidak langsung telah kehilangan fertilitasnya karena modalitas konvensional pengobatan kanker seperti kemoterapi dan terapi radiasi cenderung memiliki efek merusak pada fungsi reproduksi baik pria maupun wanita. Oncofertility adalah disiplin ilmu yang berkembang di persimpangan onkologi dan kedokteran reproduksi.

Ruang lingkup oncofertility bertindak sebagai penghubung antara kedokteran reproduksi dan onkologi dengan tujuan memungkinkan fertilitas di masa depan bagi para penyintas kanker, oncofertility bertujuan untuk memperluas pilihan pelestarian fertilitas pada pasien. Kolaborasi di antara beragam spesialisasi klinis untuk mengasimilasi ilmu reproduksi, konseling sosial dan keluarga dan manajemen fertilitas setelah pengobatan kanker dan perluasan kesadaran tentang oncofertility.

Proses spermatogenesis melibatkan populasi sel yang cepat membelah, dan itu membuatnya sangat rentan terhadap efek sitotoksik obat kemoterapi yang dapat menyebabkan fibrosis interstisial dan hyalinisasi di dalam jaringan testis. Agen alkilasi seperti siklofosfamid dan cis-platinum memiliki gonadotoksisitas tertinggi dengan risiko terburuk menjadi azoospermia yang berkepanjangan. Efek gonadotoksik kemoterapi tergantung pada usia pasien, jenis obat yang digunakan dan dosis yang diberikan.

Radiasi dapat menyebabkan kerusakan testis primer jika diberikan langsung ke testis atau ketika terpapar sebagian radiasi dari jaringan yang dalam pengobatan terapi radiasi, infertilitas biasanya disebabkan oleh kerusakan pada epitel germinal. Spermatogonia sangat sensitif terhadap efek radiasi, dan bahkan dosis serendah 4-6 Gy dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel germinal. Kerusakan testis sekunder dapat menjadi konsekuensi dari radiasi ke otak di mana terjadi kerusakan akibat radiasi pada kelenjar pituitari yang menghambat produksi LH dan FSH. Hambatan produksi LH dan FSH akan mengarah ke gangguan spermatogenesis.

Prosedur bedah yang melibatkan organ genitourinaria menyebabkan gangguan fertilitas. Prosedur bedah tertentu di panggul atau retroperitoneum seperti diseksi kelenjar getah bening retroperitoneal dapat merusak saraf panggul dan menyebabkan ejakulasi atau ejakulasi retrograde.

Peran Oncofertility

Oncofertility dapat memainkan peran pada tahapan yang berbeda selama manajemen kanker pada pasien.

  1. Tahap diagnosis
    Kepastian bahwa pasien memiliki pilihan untuk mempertahankan fertilitas dan konseling untuk pasien mengenai pilihan mempertahankan fertilitas dapat memberikan penghiburan kepada pasien dan membantunya dalam membuat keputusan dengan implikasi yang luas.
  2. Tahap perawatan
    Fertilitas sulit untuk ditangani begitu pengobatan untuk kanker dimulai. Namun demikian, konseling tentang opsi yang tersedia dan memberikan dukungan psikologis dapat meringankan kekhawatiran pasien dan keluarga mereka tentang masalah fertilitas sampai batas tertentu.
  3. Fase penyembuhan
    Selain jenis pengobatan kanker, status fertilitas pre-terapi memainkan peran penting dalam memprediksi pemulihan sperma di masa depan. Tim oncofertility dapat memainkan peran penting dalam konseling, penentuan prognosis dan membimbing pasien secara realistis tentang prospek fertilitas mereka.

Pilihan untuk Preservasi Fertilitas pada Pria dengan Kanker

Pilihan preservasi fertilitas untuk pria yang dijadwalkan akan menjalani terapi kanker yang bersifat gonadotoksik yaitu kriopreservasi sperma, ekstraksi sperma dari testis dan penggunaan pelindung gonad untuk melindungi gonad selama terapi radiasi.

A. Pengambilan sampel sperma
Pengambilan sampel sperma dilakukan dengan masturbasi. Periode pantangan yang optimal adalah 3-5 hari dan penggunaan pelumas harus dihindari. Pada pasien dengan azoospermia obstruktif atau non-obstruktif, teknik pengambilan menggunakan aspirasi sperma testis (TESA), ekstraksi sperma testis (TESE), aspirasi sperma epididimis mikroskopis (MESA), aspirasi sperma epididimis perkutan (PESA), mikro-TESE dan aspirasi sperma testis dengan fine needle.

B. Preparasi sperma
Persiapan sperma sebelum kriopreservasi melibatkan pengangkatan plasma seminal dan peningkatan sampel. Sperma isolasi hasil kriopreservasi dengan teknik swim up. Teknik lain dapat berupa pemilahan sel yang diaktifkan secara magnetik (MACS), yang memanfaatkan mikroba annexin untuk immunolabel dan menghilangkan spermatozoa apoptosis.

C. Preparasi medium
Persiapan media penyangga krioprotektif sperma adalah komponen vital dari kriopreservasi sperma dan memiliki pengaruh langsung terhadap keberhasilan pembekuan spermatozoa. Krioprotektan yang paling sering digunakan untuk kriopreservasi sperma adalah gliserol. Meskipun semua cryomedia memerlukan gliserol krioprotektan, gliserol itu sendiri dapat merusak spermatozoa manusia. Hal ini diperlukan untuk menjaga konsentrasi gliserol akhir dalam campuran sperma di bawah 7,5% dan untuk meminimalkan kontak sperma dengan gliserol dengan memulai proses pendinginan/pembekuan segera dan dengan pencucian segera setelah pencairan.

D. Pengemasan
Kemasan merupakan komponen yang penting dari kriopresipitasi. Kemasan terbaik yang tersedia saat ini adalah dalam bentuk sedotan yang memastikan pendinginan yang homogen, penyegelan efektif dengan menyolder di kedua ujungnya dan pengisian yang lebih mudah dengan menggunakan nosel steril yang juga menghindari kontaminasi.

E. Proses pembekuan
Dua metode yang paling umum digunakan untuk pembekuan sperma adalah tingkat pembekuan terkontrol (pembekuan lambat) dan metode pendinginan uap statis (pembekuan cepat). Pembekuan lambat dan terkendali, juga disebut sebagai metode Cleveland Clinic Foundation (CCF), sedangkan teknik pembekuan cepat, juga disebut sebagai metode Irvine Scientific (IS).

F. Penyimpanan
Penyimpanan sperma kriopreservasi secara konvensional dilakukan dalam medium nitrogen cair pada –196°C. Namun, sperma kriopreservasi dapat disimpan dalam penyimpanan pada suhu yang lebih tinggi untuk jangka waktu pendek seperti yang dilakukan oleh beberapa fasilitas bank donor sperma untuk penyimpanan selama transit pada −79 hingga −80 °C dalam dry ice.

Fungsi Sperma dengan Cryopreservation

Parameter sperma awal sebelum pembekuan memainkan peran penting dalam menentukan efek kriopreservasi pada karakteristik sperma. Misalnya, sebanyak 30-60% pasien dengan keganasan testis mungkin memiliki gangguan parameter sperma pada awal. Demikian pula, pasien dengan kanker lain seperti penyakit Hodgkin juga dapat mengalami gangguan spermatogenesis sebelum memulai terapi. Namun, stadium kanker tampaknya tidak mempengaruhi parameter sperma. Gangguan spermatogenesis pada awal seharusnya tidak menghalangi kriopreservasi sperma karena teknik ART seperti IVF / ICSI mungkin berhasil bahkan dengan sperma berkualitas baik yang soliter.

Mengenal Lebih Dekat Geriatri Ginekologi

Definisi geriatri atau yang disebut juga lanjut usia menurut Departemen Kesehatan RI merupakan seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Definisi dari geriatri ginekologi merupakan ginekologis patologis yang terjadi pada wanita yang telah menopause dan berusia lebih dari sama dengan 65 tahun ke atas. populasi lanjut usia di Indonesia terus meningkat diprediksi pada tahun 2050 akan menjadi 21.4% dan meningkat menjadi 41% pada tahun 2100. Tingkat populasi lanjut usia di Indonesia pada tahun 2100 juga diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan dengan populasi lanjut usia di dunia, yaitu sebesar 41% dan 35.1%.

Masalah ginekologi yang paling sering ditemukan ialah keganasan (32%), prolaps uterovaginal (26%), dan infeksi urogenital (17%). Keganasan paling sering terjadi ialah kanker serviks yaitu sebesar 16%, diikuti oleh kanker ovarium sebesar 9% dan kanker endometrium sebesar 6%. Keadaan menopause pada saat lanjut usia juga turut berperan dalam terjadinya masalah ginekologis, salah satunya dikarenakan adanya perubahan pada kadar pH vagina yang terjadi akibat tingkat estrogen yang rendah.

Terapi penggantian hormon juga perlu dibahas dikarenakan terapi hormon ini cukup berperan dalam mengatasi masalah yang terjadi pada usia lanjut. Diharapkan kualitas hidup pada populasi lanjut usia juga dapat meningkat.

Hal-hal yang terkait pembahasan seputar geriatri ginekologi adalah sebagai berikut:

Menopause

Beberapa tahun sebelum terjadinya menopause, folikel mengalami deplesi, hingga estrogen yang terproduksi semakin rendah. Diawali dengan penurunan kadar estradiol, dari 50-300 pg/ml pada saat sebelum menopause menjadi 10-20 pg/ml setelah menopause. Diikuti dengan tidak adanya pertumbuhan pada endometrium nantinya berakhir menjadi tidak adanya menstruasi. saat telah menopause, jumlah estron lebih tinggi dibandingkan estradiol memiliki sifat yang lebih lemah dibandingkan dengan estradiol. sekitar 5-10 tahun kemudian akan benar-benar rendah hingga akhirnya dapat dikatakan sebagai “true menopause”.
Dampak yang paling sering terjadi pada saat menopause ialah adanya gejala vasomotor seperti hot flush. Sebagai adanya rasa panas yang terjadi secara tiba-tiba yang diikuti dengan keluarnya keringat, pengaruh terhadap sistem urogenital dan vagina, mengeluhkan adanya rasa sakit saat melalukan hubungan seksual (dyspareunia) dan nyeri pada saat berkemih (dysuria). Disebabkan atrofi pada lapisan epitel vagina, kandung kemih, dan uretra yang diakibatkan oleh kadar estrogen yang rendah. Masalah lainnya penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, osteoporosis dan fraktur, perubahan fisiologis, kerontokan rambut dan berkurangnya elastisitas pada kulit, disfungsi seksual, dan penurunan kognitif.

Gynecology Geriatric Malignancy

Keganasan memuncak di usia 60 hingga 70 tahun dimana 75% mencakup lansia, 1% dari seluruh penyakit keganasan sehingga keganasan meningkatkan mortalitas hingga 34%. Keganasan pada lansia paling banyak ditemukan ialah keganasan pada ovarium (47.93%), serviks (31.40%), dan endometrium (12.39%). Keganasan dapat dicegah dengan skrining dini.

Pelvic Organ Prolapse

Merupakan relaksasi dari bagian mana saja di area bawah pelvis termasuk cystocele, urethrocele, rectocele, uterine prolapse, dan eversi dari vagina atau anus. Penanganan dilakukan hanya jika pasien mengalami ketidaknyamanan serta limitasi fungsi hidup seperti inkontensia urin maupun fecal, terdapat ulserasi.
Pelvic organ Prolapse memiliki banyak factor risiko yang multifactorial. Factor risiko itu ialah:

  1. Genetik
  2. Usia
  3. Ras
  4. Menopause
  5. Obesitas
  6. Peningkatan tekanan intraabdomen

Penyangga organ panggul merupakan interaksi yang kompleks antara otot-otot dasar panggul, jaringan ikat dasar panggul, dan dinding vagina. Faktor risiko yang telah disebutkan diduga terlibat dalam terjadinya kerusakan struktur penyangga tersebut sehingga terjadi kegagalan dalam menyangga uterus dan organ-organ panggul lainnya. Operasi dilakukan hanya jika pasien dapat menangani masalah elektif dikemudian hari tanpa adanya faktor risiko serta mempertahankan kualitas hidupnya.

Infeksi pada Urogenital

Merupakan infeksi bakteri yang paling sering ditemukan pada populasi lanjut usia. Infeksi pada urogenital yang dimaksud ialah seperti infeksi pada saluran kemih dan bakterial vaginosis. Dikarenakan adanya peningkatan pada kadar pH vagina menjadi alkali (>4.5) yang disebabkan oleh rendahnya tingkat estrogen pada keadaan menopause menyebabkan vagina menjadi lingkungan yang nyaman untuk Lactobacilli dan lebih rentan terhadap infeksi urogenital dan patogen yang berasal dari feses.
Vagina, vulva, uretra, dan bagian trigonum dari kandung kemih berasal dari sinus urogenital, merupakan jaringan yang sensitif terhadap estrogen, dapat berimplikasi pada keempat bagian tersebut yang ditandai dengan munculnya gejala dermatologi, vaginal discharge yang berkurang, dyspareunia, gangguan berkemih, dan infeksi saluran kemih. Gejala atrofi urogenital ditandai seperti adanya rasa kering pada vagina, gatal, rasa terbakar dan berkurangnya discharge dari vagina, adanya dyspareunia, frekuensi saat buang air kecil, urgensi, dysuria, dan infeksi saluran kemih yang rekuren. Untuk mengurangi infeksi pada saluran kemih yang harus dievaluasi pemeriksaan terhadap fungsi usus dan kandung kemih, riwayat medikasi, observasi perilaku buang air kecil, identifikasi adanya inkontinensia antesenden, pengobatan terhadap adanya impaksi feses, pemeriksaan pelvis, urinalisis, dan estimasi volume residu setelah buang air kecil.

Hormone Replacement Therapy

Terapi yang digunakan untuk mengurangi gejala post menopause dengan cara pemberian estrogen dan progestogen sintesis untuk menggantikan kedua hormon yang telah berkurang ketika mengalami menopause.
Berbagai bentuk terapi antara lain secara lokal dan sistemik. Terapi lokal diberikan dalam bentuk krim, pesarium, dan cincin sedangkan terapi hormone sistemik diberikan dalam bentuk obat secara oral, transdermal patch, gel, dan implant. Indikasi terapi penggantian hormon selain untuk mengurangi gejala post menopause, digunakan untuk mengatasi premature menopause, ovarian failure, dan risiko osteoporosis. Sedangkan, kontraindikasi dibagi menjadi dua, yaitu kontraindikasi relatif dan absolut.

Kontraindikasi relative

Dementia
Penyakit kantung empedu
Hipertrigliseridemia
Riwayat penyakit jaundice kolestatis
Hipotiroid
Retensi cairan dan disfungsi jantung atau ginjal
Hipokalsemia berat
Riwayat endometriosis
Hepatik hemangioma

Kontraindikasi absolut

Perdarahan abnormal dari kemaluan yang tidak diketahui penyebabnya
Riwayat / suspek / terdiagnosis kanker payudara
Suspek atau terdiagnosis adanya estrogen-dependent neoplasia
Riwayat atau sedang mengalami penyakit tromboemboli pada vena
Riwayat atau sedang mengalami penyakit tromboemboli pada arteri (Contoh: stroke atau infark miokard)
Disfungsi liver

Tabel : Kontraindikasi Relatif dan Absolut terhadap Penggunaan Terapi Hormon Estrogen

Sebelum dilakukannya terapi hormon, petugas kesehatan sebaiknya melakukan anamnesis mengenai riwayat penyakit pasien dan riwayat medikasi terlebih dahulu, pemeriksaan lainnya seperti mammogram, pemeriksaan pelvis, pap smear atau pengukuran ketebalan endometrium

E.S.W.L (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)

E.S.W.L. merupakan teknologi canggih penatalaksanaan batu saluran kemih. E.S.W.L merupakan  prosedur yang non-invasif, sehingga banyak digunakan dan bersifat relatif lebih aman. Efek pemecahan batu memberikan hasil yang efektif pada 80-85% kasus batu simple. E.S.W.L bekerja melalui transmisi energi ke batu melalui jaringan hingga batu dihancurleburkan sehingga fragmen-fragmen batu dapat keluar spontan bersamaan kencing.

Indikasi-indikasi E.S.W.L :

  • Batu ginjal simple dengan stone burden < 2 cm.
    Batu yang berukuran lebih dari 2 cm kurang ideal untuk E.S.W.L, karena klirens turun dari 90% untuk batu 1 cm menjadi 63%, sehingga E.S.W.L perlu diulangi. Angka risiko mengalami kolik juga lebih besar pada E.S.W.L batu ginjal yang berukura lebih dari 2 cm.
  • Batu ureter dengan diameter < 1 cm. Pada batu ureter 1/3 bagian atas, dapat dilakukan manipulasi pendorongan batu ke ginjal dan selanjutnya dilakukan E.S.W.L Bilamana manipulasi ini gagal, dilakukan E.S.W.L in situ. E.S.W.L in situ dapat dipertimbangkan jika penderita menginginkan anestesi yang minimal dan mau menerima tindakan E.S.W.L ulang bila mana masih ada sisa batu.

Kontraindikasi-kontraindikasi:

  1. Obesitas akan mengurangi daya transmisi energi ke batu, sehingga mengurangi daya fragmentasi batu.
  2. Kelainan pembekuan darah (bila belum dikoreksi).
  3. Obstruksi saluran kemih di sebelah distal (bawah) batu.
  4. Infeksi saluran kemih yang aktif atau sepsis.
  5. Aneurisma aorta atau arteri renalis.
  6. Batu cystine atau brushite (kontraindikasi relatif).

Mekanisme Penghancuran Batu oleh Mesin E.S.W.L.:

Bila gelombang kejut mengenai batu dengan perbedaan impedansi akustik bila dibanding dengan air, sebagian gelombang kejut direfleksikan. Gelombang kejut yang melalui batu direfleksikan kembali pada perbedaan akustik kedua antara batu dan cairan disekitarnya. Refleksi gelombang kejut inilah yang menghasilkan fragmentasi batu. Fragmentasi batu didapatkan melalui mekanisme erosi dan penghancuran. Karena tidak ada perbedaan impedansi akustik antara air dengan jaringan lunak di sekitarnya, maka gelombang kejut tidak ada/sedikit sekali yang direfleksikan, atau dengan kata lain diteruskan, sehingga tidak ada efek fragmentasi terhadap jaringan lunak di sekitarnya.

Efek E.S.W.L terhadap Jaringan:

Efek mikrojet dapat menimbulkan cedera jaringan, terutama pembuluh darah yang berdinding tipis. Hal ini mengakibatkan perdarahan/kencing darah, biasanya dalam waktu sementara 1-2 hari. Jejas jaringan menimbulkan reaksi radang. Diperlukan masa pemulihan 1-2 minggu.

Komplikasi-komplikasi yang Dapat Terjadi pada ESWL:

  1. Perdarahan/hematom.
  2. Kencing darah.
  3. Steinstrasse
  4. Infeksi
  5. Nefritis litotripsi

Dokter Bedah Saluran Kencing (Urologist Surgeon) Rumah Sakit Panti Rapih

  • Sungsang R, Sp.U
  • Trisula Utomo, Sp.U
  • Indrawarman, Sp.U

 

oleh dr. Dwi Djuwantoro Sp.U
SubBagian Urologi, SMF Bedah, R.S. Panti Rapih

Kanker Prostat

Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali. Sel ini dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan lymph node. Kanker prostat dapat menimbulkan rasa sakit, kesulitan buang air kecil, disfungsi erektil dan gejala lainnya.

Epidemiologi Kanker Prostat :

  1. Pada Laki-laki Amerika menjadi penyakit yang paling sering nomor 2 diidap.
  2. Penyebab kematian nomer 2 yang paling sering dialami pria setelah kanker paru (di Amerika)
  3. Meningkat cepat dengan bertambahnya usia
  4. Risiko laki-laki usia 50 tahun dalam masa hidupnya :
    – uCaP laten : 40%
    – CaP yang terdeteksi secara klinis : 9,5%
    – Kematian akibat CaP : 2,9%
  5. Kemungkinan CaP :
    Usia <= 40 : 1 in 10.000
    40 – 59 : 1 in 103
    60 – 79 : 1 in 8

Faktor Risiko Kanker Prostat :

  1. Proses Penuaan
  2. Riwayat Keluarga
  3. Diet Tinggi Lemak

PATOLOGI :

  1. Adenokarsinoma 95%
  2. TCC
  3. Small Cell Carcinoma
  4. Sarkoma

GRADE DAN STADIUM

Sistem Grade GLEASON :

  • Berdasar arsitektur kelenjar
  • Grades bervariasi dari 1 sampai 5
  • Grade primer : paling sering ditemukan
  • Grade sekunder: paling sering kedua
  • Gleason score : jumlah grade primer dan sekunder

GLEASON Score :

  • 2 – 4 : diferensiasi baik
  • 5 – 7 : diferensiasi moderat
  • 8 – 10 : diferensiasi jelek

Manifestasi Klinik :

  • Prostat awal: gejala Negatif

Gejala positif

Deteksi Ca P

  1. Colok dubur: induration/nodule
  2. PSA : cut off point 4 ng%
  3. TRUS dg biopsi sistematik

PEMERIKSAAN COLOK DUBUR

  1. Untuk menentukan ukuran, konsistensi dan memprediksikan adanya keganasan prostat
  2. Untuk menentukan perluasan tumor primer
  3. Adanya kanker prostat, prostat teraba keras seperti tulang
  4. Sebanyak 50% karsinoma tidak terdiagnosis dengan colok dubur
  5. Ca P teraba sebagai benjolan keras seperti dasar hidung dan BPH sebagai ujung hidung
  6. Nodul keras pada prostat dapat disebabkan oleh :
    – Prostat kalkulosa
    – TURP/operation/biopsi sebelumnya
    – Prostatitis granulomatous
    – Prostatitis TB

PROSTATIC SPECIFIC ANTIGEN

  1. Tidak spesifik untuk kanker prostat
    – Peningkatan PSA : BPH, infeksi, instrumentasi
    – Cut off point : 4 ng %
  2. Sensitivitas PSA ditingkatkan :
    – PSA velocity (change over time) : 0,75 ng/mL/th
    – PSA density :
    *) BPH = 0,12 ng/mL jaringan
    *) PSAD > 0,15 à Biopsy
    – Age adjusted PSA (Oesterling, 1993)
Usia Normal Range (ng %)
40 – 49 0 – 2,5
50 – 59 0 – 3,5
60 – 69 0 – 4,5
70 – 79 0 – 5,5

TRANS  RECTAL ULTRASONOGRAPHY (TRUS)

  1. Bermanfaat untuk panduan biopsi prostat
  2. Ca P cenderung tampak  lesi hipoekoik pada zona perifer
  3. Lebih akurat dalam penentuan stad. lokal dari pada colok dubur
  4. Juga dapat mengukur volume prostat  PSAD

Diagnosis Banding Kanker Prostat

Colok dubur positif
– Ca P
– Prostatitis granulomatosa kronis
– TB  prostat uBatu prostat
– TURP/Biopsi sebelumnya

PSA meningkat
– BPH
– Infeksi
– Infark
– Instrumentasi

PENATALAKSANAAN Ca P

Prinsip Umum, keputusan terapi tergantung oleh :

Grade dan stadium

Harapan hidup

Morbiditas yang menyertai

Preferensi penderita dan dokter

Modalitas terapi

1. Watchfull waiting

  • Penderita tua
  • Kelainan penyerta
  • Small, well differentiated Ca P

2. Prostatektomi radikal

  • Retropubik
  • Perineal
  • Laparoscopy
  • Robotic

3. Radioterapi

  • EBRT : 6.500 – 7.000 cgy
  • Brachytherapy

4. Cryosurgery

5. Terapi endokrin/hormonal

6. Terapi sitotoksik  in HRPCA

7. Lain-lain (Paliatif untuk metastasis ke tulang yang nyeri)

Follow-up Penderita Kanker Prostat
Penentuan PSA serum, bersamaan dengan perjalanan penyakit dan colok dubur. Pemeriksaan radiologi hanya dilakukan pada penderita khusus.

Terapi Sitotoksik pada HRPCA

  1. Pada penderita HRPCA, dan calon terapi sitotoksik docetaxel 75 mg/m setiap 3 minggu
  2. Pada penderita dengan metastasis tulang karena GRPCA, docetaxel atau mitoxantrone dengan prednison atau hidrokortison.

Terapi Paliatif HRPCA

  1. Biosphosphonates dapat diberikan pada penderita dengan metastasis tulang. (grade A recommendation).
  2. Terapi paliatif seperti radioterapi, dan analgetik kuat.

Summary
Kanker prostat sering kali kompleks serta berbagai aspek penyakit dan penderita perlu dipertimbangkan

 

oleh dr. Dwi Djuwantoro SpU
Bagian Urologi, SMF Bedah, R.S. Panti Rapih

Batu Ginjal

Penyakit batu ginjal banyak dialami oleh penduduk Indonesia, terutama kaum pria. Adapun faktor-faktor yang berperan pada pembentukan batu ginjal / kandung kemih meliputi ras, keturunan, jenis kelamin, bakteri, kurang minum, air minum jenuh mineral, pekerjaan, makanan dan suhu tempat kerja.

  1. Apakah batu ginjal itu?

Batu ginjal adalah massa keras menyerupai “batu” yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan biasa menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun didalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).

Gejalanya apa saja?

Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Namun bila ukuran cukup besar dapat menimbulkan gejala :

  1. Nyeri perut bagian bawah sampai dengan punggung
  2. Nyeri hebat yang hilang timbul
  3. Mual dan muntah
  4. Perut menggelembung
  5. Demam dan menggigil
  6. Buang air kecil disertai darah

Batu dalam saluran kemih dapat menyebabkan infeksi akibat penyumbatan. Bila penyumbatan berlangsung lama dapat mengakibatkan hidronefrosis (ginjal terisi penuh dengan air), sampai akhirnya bisa menyebabkan kerusakan ginjal.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

  1. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari)
  2. Diet rendah kalsium. Kurangi konsumsi makanan seperti susu, telor, dll
  3. Banyak mengkonsumsi putih telur
  4. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung oksalat seperti bayam, kangkung, kembang kol, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh
  5. Mengurangi asupan daging, dan
  6. Dianjurkan sering mengkonsumsi buah semangka
  7. Perhatikan kesehatan Gigi

Bagaimana Cara Mengatasinya ?

Apabila batu terlalu besar untuk dikeluarkan secara alamiah, operasi dapat dikerjakan. Apabila batu berada di ureter, sistoskopi dapat digunakan melalui uretra dan batu dimanipulasi dengan kateter. Pengeluaran batu dari daerah lainnya (pada calix dan pelvis) memerlukan operasi dari samping atau perut bagian bawah. Prosedur yang disebut percutaneus ultrasonic lithotripsy dan extracorporeal shock wave lithotripsy akan memecah batu ginjal menjadi fragmen kecil-kecil, sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah atau dengan pengisapan.

Di Rumah Sakit Panti Rapih

Rumah Sakit Panti Rapih memiliki beberapa layanan medis untuk mengatasi masalah Batu Ginjal yaitu ESWL dan PCNL.

ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) merupakan suatu teknologi tinggi yang dapat menghancurkan batu ginjal dengan gelombang kejut, efek samping yang lebih kecil dibandingkan   dengan tindakan operasi. Angka keberhasilan tindakan ini rata-rata mencapai 90 persen, tergantung jenis dan ukuran batu. Tindakan ini memerlukan waktu sekitar 1 jam dan biasanya tidak memerlukan rawat inap. Pada     kasus dengan faktor penyulit perlu perawatan lebih lama hingga rawat inap.

Percutaneous Nephrolithotomy dan nephrolithotripsy (PCNL) merupakan metode pengambilan batu ginjal yang berukuran sedang / cukup besar.  Metode PCNL ini biasanya ditempuh apabila metode ESWL tidak memungkinkan untuk dilakukan. Tindakan  PCNL dilakukan dengan membuat sayatan kecil (0,5 inci) di bagian samping belakang pasien di daerah ginjal.  Melalui sayatan tersebut alat PCNL dimasukkan untuk mengambil batuginjal. Selama proses ini berlangsung pasien dikontrol oleh dokter anestesi.Dengan metode PCNL ini pasien akan lebih cepat pulih dibandingkan metode operasi yang konvensional.