Preservasi Fertilitas pada Pria

Sekitar 15% pasangan di dunia mengalami infertilitas. Infertilitas pada pasangan dapat terjadi karena tiga faktor. Sebanyak 1/3 dipengaruhi oleh faktor pria, 1/3 faktor wanita, dan 1/3 lainnya diakibatkan karena gabungan dari faktor pria dan wanita. Masalah gaya hidup seperti merokok dan obesitas dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan secara umum. Nutrisi juga memiliki pengaruh besar terhadap fertilitas pada pria. Saat ini, preservasi fertilitas dianggap sebagai pelayanan esensial di dunia medis diakibatkan karena perubahan sosial yang mengacu pada pernikahan di usia tua dan diikuti dengan perkembangan teknologi dalam pengobatan kanker dan cryobiology. Kanker sudah menjadi situasi yang signifikan dengan preservasi fertilitas nerupakan prosedur yang esensial.

Data demografis global dan data epidemiologi menunjukkan peningkatan pada prevalensi kanker, dengan perkiraan 20 juta kasus kanker baru setiap tahunnya pada 2025. Fertilitas masih menjadi masalah utama dalam kualitas hidup pada penderita kanker dengan usia muda. Dengan demikian, kebutuhan preservasi fertilitas menjadi krusial sekarang karena peningkatan kelangsungan hidup kanker dalam jangka panjang.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 5 tahun tingkat kelangsungan hidup relatif untuk semua kanker sekarang mendekati 70% untuk dewasa dan >80% untuk anak-anak.

Gaya Hidup, Fertilitas dan Penanganan Infertilitas

Aktivitas yang mempengaruhi suhu testis

Pada manusia dan mayoritas mamalia, spermatogenesis merupakan proses yang bergantung pada suhu, yaitu 2 – 8°C di bawah suhu tubuh. Beberapa faktor eksternal seperti postur duduk, baju, gaya hidup, penggunaan laptop, menonton televisi, bermain video games, dan lain sebagainya yang berakibat pada peningkatan suhu testis dan gangguan fertilitas.

  1. Merokok

Merokok diketahui menurunkan kapasitas antioksidan dari tubuh manusia, sehingga menurukan proteksi terhadap berbagai gangguan yang mungkin terhadap sistem reproduksi. Benzo(a)pyrene, merupakan karsinogen mutagenik yang mempengaruhi meiosis pada ovarium dan testis, mempengaruhi parameter semen pada dosis tertentu, jumlah oosit yang berakibat pada menopause dini, menghambat perkembangan embrio setelah fertilisasi, dan meningkatkan risiko kanker pada anak-anak.

C. Alkohol

Konsumsi alkohol sedang (40 – 80 gram atau 3,5 – 7 minum per hari) akan berakibat pada gangguan ringan dari maturasi sperma. Pada pecandu alkohol yang belum terdapat kerusakan liver berat ditemukan adanya penurunan jumlah sperma pada 40% kasus, bentuk sperma abnormal pada 45% kasus, dan gangguan motilitas sperma pada 50% kasus.

  1. Stres

Stres yang persisten dapat berakibat pada aktivasi terus menerus dari sistem saraf simpatis yang menghasilkan perubahan pada aksis hipotalamus-pituitari-gonadal yang mempengaruhi spermatogenesis. Stres juga berakibat pada peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang menyebabkan kerusakan pada sel sperma dan berakibat pada peningkatan produksi sperma abnormal dengan motilitas dan potensi fertilitas yang buruk.

  1. Penanganan Infertilitas

Manusia dianugerahi karunia prokreasi, namun umumnya individu tidak memikirkan tentang fertilitas, sampai individu tersebut berpikir untuk memulai sebuah keluarga. Tingkat fertilitas yang terus menurun terbukti dengan kecenderungan kualitas air mani yang berbanding terbalik dengan peningkatan frekuensi kasus infertilitas dalam beberapa tahun terakhir. Etiologi dalam sejumlah besar kasus infertilitas masih belum diketahui. Tingkat fertilitas yang kurang baik di awal kehidupan cenderung menjadi infertil lebih cepat dari kebanyakan orang pada umumnya. Seseorang harus merawat fertilitas sejak awal kehidupan dan bahkan setelah selesai dengan program keluarga berencana dengan beberapa hal seperti berikut.

  • Menghindari paparan radiasi
    • Menghindari paparan panas pada testis
    • Mengurangi stres
    • Berhenti merokok dan konsumsi alkohol
    • Melakukan olahraga intensitas ringan-sedang
    • Mengikuti jam biologis
    • Diet yang seimbang dan bergizi
    • Koitus secara teratur
    • Program keluarga berencana

Oncofertility: Mempertahankan Fertilitas pada Pasien Kanker

Pada kelompok ini, masalah kualitas hidup secara umum dan mempertahankan fertilitas menjadi penting. Pasien kanker secara tidak langsung telah kehilangan fertilitasnya karena modalitas konvensional pengobatan kanker seperti kemoterapi dan terapi radiasi cenderung memiliki efek merusak pada fungsi reproduksi baik pria maupun wanita. Oncofertility adalah disiplin ilmu yang berkembang di persimpangan onkologi dan kedokteran reproduksi.

Ruang lingkup oncofertility bertindak sebagai penghubung antara kedokteran reproduksi dan onkologi dengan tujuan memungkinkan fertilitas di masa depan bagi para penyintas kanker, oncofertility bertujuan untuk memperluas pilihan pelestarian fertilitas pada pasien. Kolaborasi di antara beragam spesialisasi klinis untuk mengasimilasi ilmu reproduksi, konseling sosial dan keluarga dan manajemen fertilitas setelah pengobatan kanker dan perluasan kesadaran tentang oncofertility.

Proses spermatogenesis melibatkan populasi sel yang cepat membelah, dan itu membuatnya sangat rentan terhadap efek sitotoksik obat kemoterapi yang dapat menyebabkan fibrosis interstisial dan hyalinisasi di dalam jaringan testis. Agen alkilasi seperti siklofosfamid dan cis-platinum memiliki gonadotoksisitas tertinggi dengan risiko terburuk menjadi azoospermia yang berkepanjangan. Efek gonadotoksik kemoterapi tergantung pada usia pasien, jenis obat yang digunakan dan dosis yang diberikan.

Radiasi dapat menyebabkan kerusakan testis primer jika diberikan langsung ke testis atau ketika terpapar sebagian radiasi dari jaringan yang dalam pengobatan terapi radiasi, infertilitas biasanya disebabkan oleh kerusakan pada epitel germinal. Spermatogonia sangat sensitif terhadap efek radiasi, dan bahkan dosis serendah 4-6 Gy dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel germinal. Kerusakan testis sekunder dapat menjadi konsekuensi dari radiasi ke otak di mana terjadi kerusakan akibat radiasi pada kelenjar pituitari yang menghambat produksi LH dan FSH. Hambatan produksi LH dan FSH akan mengarah ke gangguan spermatogenesis.

Prosedur bedah yang melibatkan organ genitourinaria menyebabkan gangguan fertilitas. Prosedur bedah tertentu di panggul atau retroperitoneum seperti diseksi kelenjar getah bening retroperitoneal dapat merusak saraf panggul dan menyebabkan ejakulasi atau ejakulasi retrograde.

Peran Oncofertility

Oncofertility dapat memainkan peran pada tahapan yang berbeda selama manajemen kanker pada pasien.

  1. Tahap diagnosis
    Kepastian bahwa pasien memiliki pilihan untuk mempertahankan fertilitas dan konseling untuk pasien mengenai pilihan mempertahankan fertilitas dapat memberikan penghiburan kepada pasien dan membantunya dalam membuat keputusan dengan implikasi yang luas.
  2. Tahap perawatan
    Fertilitas sulit untuk ditangani begitu pengobatan untuk kanker dimulai. Namun demikian, konseling tentang opsi yang tersedia dan memberikan dukungan psikologis dapat meringankan kekhawatiran pasien dan keluarga mereka tentang masalah fertilitas sampai batas tertentu.
  3. Fase penyembuhan
    Selain jenis pengobatan kanker, status fertilitas pre-terapi memainkan peran penting dalam memprediksi pemulihan sperma di masa depan. Tim oncofertility dapat memainkan peran penting dalam konseling, penentuan prognosis dan membimbing pasien secara realistis tentang prospek fertilitas mereka.

Pilihan untuk Preservasi Fertilitas pada Pria dengan Kanker

Pilihan preservasi fertilitas untuk pria yang dijadwalkan akan menjalani terapi kanker yang bersifat gonadotoksik yaitu kriopreservasi sperma, ekstraksi sperma dari testis dan penggunaan pelindung gonad untuk melindungi gonad selama terapi radiasi.

A. Pengambilan sampel sperma
Pengambilan sampel sperma dilakukan dengan masturbasi. Periode pantangan yang optimal adalah 3-5 hari dan penggunaan pelumas harus dihindari. Pada pasien dengan azoospermia obstruktif atau non-obstruktif, teknik pengambilan menggunakan aspirasi sperma testis (TESA), ekstraksi sperma testis (TESE), aspirasi sperma epididimis mikroskopis (MESA), aspirasi sperma epididimis perkutan (PESA), mikro-TESE dan aspirasi sperma testis dengan fine needle.

B. Preparasi sperma
Persiapan sperma sebelum kriopreservasi melibatkan pengangkatan plasma seminal dan peningkatan sampel. Sperma isolasi hasil kriopreservasi dengan teknik swim up. Teknik lain dapat berupa pemilahan sel yang diaktifkan secara magnetik (MACS), yang memanfaatkan mikroba annexin untuk immunolabel dan menghilangkan spermatozoa apoptosis.

C. Preparasi medium
Persiapan media penyangga krioprotektif sperma adalah komponen vital dari kriopreservasi sperma dan memiliki pengaruh langsung terhadap keberhasilan pembekuan spermatozoa. Krioprotektan yang paling sering digunakan untuk kriopreservasi sperma adalah gliserol. Meskipun semua cryomedia memerlukan gliserol krioprotektan, gliserol itu sendiri dapat merusak spermatozoa manusia. Hal ini diperlukan untuk menjaga konsentrasi gliserol akhir dalam campuran sperma di bawah 7,5% dan untuk meminimalkan kontak sperma dengan gliserol dengan memulai proses pendinginan/pembekuan segera dan dengan pencucian segera setelah pencairan.

D. Pengemasan
Kemasan merupakan komponen yang penting dari kriopresipitasi. Kemasan terbaik yang tersedia saat ini adalah dalam bentuk sedotan yang memastikan pendinginan yang homogen, penyegelan efektif dengan menyolder di kedua ujungnya dan pengisian yang lebih mudah dengan menggunakan nosel steril yang juga menghindari kontaminasi.

E. Proses pembekuan
Dua metode yang paling umum digunakan untuk pembekuan sperma adalah tingkat pembekuan terkontrol (pembekuan lambat) dan metode pendinginan uap statis (pembekuan cepat). Pembekuan lambat dan terkendali, juga disebut sebagai metode Cleveland Clinic Foundation (CCF), sedangkan teknik pembekuan cepat, juga disebut sebagai metode Irvine Scientific (IS).

F. Penyimpanan
Penyimpanan sperma kriopreservasi secara konvensional dilakukan dalam medium nitrogen cair pada –196°C. Namun, sperma kriopreservasi dapat disimpan dalam penyimpanan pada suhu yang lebih tinggi untuk jangka waktu pendek seperti yang dilakukan oleh beberapa fasilitas bank donor sperma untuk penyimpanan selama transit pada −79 hingga −80 °C dalam dry ice.

Fungsi Sperma dengan Cryopreservation

Parameter sperma awal sebelum pembekuan memainkan peran penting dalam menentukan efek kriopreservasi pada karakteristik sperma. Misalnya, sebanyak 30-60% pasien dengan keganasan testis mungkin memiliki gangguan parameter sperma pada awal. Demikian pula, pasien dengan kanker lain seperti penyakit Hodgkin juga dapat mengalami gangguan spermatogenesis sebelum memulai terapi. Namun, stadium kanker tampaknya tidak mempengaruhi parameter sperma. Gangguan spermatogenesis pada awal seharusnya tidak menghalangi kriopreservasi sperma karena teknik ART seperti IVF / ICSI mungkin berhasil bahkan dengan sperma berkualitas baik yang soliter.

Mengenal Lebih Dekat Geriatri Ginekologi

Definisi geriatri atau yang disebut juga lanjut usia menurut Departemen Kesehatan RI merupakan seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Definisi dari geriatri ginekologi merupakan ginekologis patologis yang terjadi pada wanita yang telah menopause dan berusia lebih dari sama dengan 65 tahun ke atas. populasi lanjut usia di Indonesia terus meningkat diprediksi pada tahun 2050 akan menjadi 21.4% dan meningkat menjadi 41% pada tahun 2100. Tingkat populasi lanjut usia di Indonesia pada tahun 2100 juga diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan dengan populasi lanjut usia di dunia, yaitu sebesar 41% dan 35.1%.

Masalah ginekologi yang paling sering ditemukan ialah keganasan (32%), prolaps uterovaginal (26%), dan infeksi urogenital (17%). Keganasan paling sering terjadi ialah kanker serviks yaitu sebesar 16%, diikuti oleh kanker ovarium sebesar 9% dan kanker endometrium sebesar 6%. Keadaan menopause pada saat lanjut usia juga turut berperan dalam terjadinya masalah ginekologis, salah satunya dikarenakan adanya perubahan pada kadar pH vagina yang terjadi akibat tingkat estrogen yang rendah.

Terapi penggantian hormon juga perlu dibahas dikarenakan terapi hormon ini cukup berperan dalam mengatasi masalah yang terjadi pada usia lanjut. Diharapkan kualitas hidup pada populasi lanjut usia juga dapat meningkat.

Hal-hal yang terkait pembahasan seputar geriatri ginekologi adalah sebagai berikut:

Menopause

Beberapa tahun sebelum terjadinya menopause, folikel mengalami deplesi, hingga estrogen yang terproduksi semakin rendah. Diawali dengan penurunan kadar estradiol, dari 50-300 pg/ml pada saat sebelum menopause menjadi 10-20 pg/ml setelah menopause. Diikuti dengan tidak adanya pertumbuhan pada endometrium nantinya berakhir menjadi tidak adanya menstruasi. saat telah menopause, jumlah estron lebih tinggi dibandingkan estradiol memiliki sifat yang lebih lemah dibandingkan dengan estradiol. sekitar 5-10 tahun kemudian akan benar-benar rendah hingga akhirnya dapat dikatakan sebagai “true menopause”.
Dampak yang paling sering terjadi pada saat menopause ialah adanya gejala vasomotor seperti hot flush. Sebagai adanya rasa panas yang terjadi secara tiba-tiba yang diikuti dengan keluarnya keringat, pengaruh terhadap sistem urogenital dan vagina, mengeluhkan adanya rasa sakit saat melalukan hubungan seksual (dyspareunia) dan nyeri pada saat berkemih (dysuria). Disebabkan atrofi pada lapisan epitel vagina, kandung kemih, dan uretra yang diakibatkan oleh kadar estrogen yang rendah. Masalah lainnya penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, osteoporosis dan fraktur, perubahan fisiologis, kerontokan rambut dan berkurangnya elastisitas pada kulit, disfungsi seksual, dan penurunan kognitif.

Gynecology Geriatric Malignancy

Keganasan memuncak di usia 60 hingga 70 tahun dimana 75% mencakup lansia, 1% dari seluruh penyakit keganasan sehingga keganasan meningkatkan mortalitas hingga 34%. Keganasan pada lansia paling banyak ditemukan ialah keganasan pada ovarium (47.93%), serviks (31.40%), dan endometrium (12.39%). Keganasan dapat dicegah dengan skrining dini.

Pelvic Organ Prolapse

Merupakan relaksasi dari bagian mana saja di area bawah pelvis termasuk cystocele, urethrocele, rectocele, uterine prolapse, dan eversi dari vagina atau anus. Penanganan dilakukan hanya jika pasien mengalami ketidaknyamanan serta limitasi fungsi hidup seperti inkontensia urin maupun fecal, terdapat ulserasi.
Pelvic organ Prolapse memiliki banyak factor risiko yang multifactorial. Factor risiko itu ialah:

  1. Genetik
  2. Usia
  3. Ras
  4. Menopause
  5. Obesitas
  6. Peningkatan tekanan intraabdomen

Penyangga organ panggul merupakan interaksi yang kompleks antara otot-otot dasar panggul, jaringan ikat dasar panggul, dan dinding vagina. Faktor risiko yang telah disebutkan diduga terlibat dalam terjadinya kerusakan struktur penyangga tersebut sehingga terjadi kegagalan dalam menyangga uterus dan organ-organ panggul lainnya. Operasi dilakukan hanya jika pasien dapat menangani masalah elektif dikemudian hari tanpa adanya faktor risiko serta mempertahankan kualitas hidupnya.

Infeksi pada Urogenital

Merupakan infeksi bakteri yang paling sering ditemukan pada populasi lanjut usia. Infeksi pada urogenital yang dimaksud ialah seperti infeksi pada saluran kemih dan bakterial vaginosis. Dikarenakan adanya peningkatan pada kadar pH vagina menjadi alkali (>4.5) yang disebabkan oleh rendahnya tingkat estrogen pada keadaan menopause menyebabkan vagina menjadi lingkungan yang nyaman untuk Lactobacilli dan lebih rentan terhadap infeksi urogenital dan patogen yang berasal dari feses.
Vagina, vulva, uretra, dan bagian trigonum dari kandung kemih berasal dari sinus urogenital, merupakan jaringan yang sensitif terhadap estrogen, dapat berimplikasi pada keempat bagian tersebut yang ditandai dengan munculnya gejala dermatologi, vaginal discharge yang berkurang, dyspareunia, gangguan berkemih, dan infeksi saluran kemih. Gejala atrofi urogenital ditandai seperti adanya rasa kering pada vagina, gatal, rasa terbakar dan berkurangnya discharge dari vagina, adanya dyspareunia, frekuensi saat buang air kecil, urgensi, dysuria, dan infeksi saluran kemih yang rekuren. Untuk mengurangi infeksi pada saluran kemih yang harus dievaluasi pemeriksaan terhadap fungsi usus dan kandung kemih, riwayat medikasi, observasi perilaku buang air kecil, identifikasi adanya inkontinensia antesenden, pengobatan terhadap adanya impaksi feses, pemeriksaan pelvis, urinalisis, dan estimasi volume residu setelah buang air kecil.

Hormone Replacement Therapy

Terapi yang digunakan untuk mengurangi gejala post menopause dengan cara pemberian estrogen dan progestogen sintesis untuk menggantikan kedua hormon yang telah berkurang ketika mengalami menopause.
Berbagai bentuk terapi antara lain secara lokal dan sistemik. Terapi lokal diberikan dalam bentuk krim, pesarium, dan cincin sedangkan terapi hormone sistemik diberikan dalam bentuk obat secara oral, transdermal patch, gel, dan implant. Indikasi terapi penggantian hormon selain untuk mengurangi gejala post menopause, digunakan untuk mengatasi premature menopause, ovarian failure, dan risiko osteoporosis. Sedangkan, kontraindikasi dibagi menjadi dua, yaitu kontraindikasi relatif dan absolut.

Kontraindikasi relative

Dementia
Penyakit kantung empedu
Hipertrigliseridemia
Riwayat penyakit jaundice kolestatis
Hipotiroid
Retensi cairan dan disfungsi jantung atau ginjal
Hipokalsemia berat
Riwayat endometriosis
Hepatik hemangioma

Kontraindikasi absolut

Perdarahan abnormal dari kemaluan yang tidak diketahui penyebabnya
Riwayat / suspek / terdiagnosis kanker payudara
Suspek atau terdiagnosis adanya estrogen-dependent neoplasia
Riwayat atau sedang mengalami penyakit tromboemboli pada vena
Riwayat atau sedang mengalami penyakit tromboemboli pada arteri (Contoh: stroke atau infark miokard)
Disfungsi liver

Tabel : Kontraindikasi Relatif dan Absolut terhadap Penggunaan Terapi Hormon Estrogen

Sebelum dilakukannya terapi hormon, petugas kesehatan sebaiknya melakukan anamnesis mengenai riwayat penyakit pasien dan riwayat medikasi terlebih dahulu, pemeriksaan lainnya seperti mammogram, pemeriksaan pelvis, pap smear atau pengukuran ketebalan endometrium

E.S.W.L (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)

E.S.W.L. merupakan teknologi canggih penatalaksanaan batu saluran kemih. E.S.W.L merupakan  prosedur yang non-invasif, sehingga banyak digunakan dan bersifat relatif lebih aman. Efek pemecahan batu memberikan hasil yang efektif pada 80-85% kasus batu simple. E.S.W.L bekerja melalui transmisi energi ke batu melalui jaringan hingga batu dihancurleburkan sehingga fragmen-fragmen batu dapat keluar spontan bersamaan kencing.

Indikasi-indikasi E.S.W.L :

  • Batu ginjal simple dengan stone burden < 2 cm.
    Batu yang berukuran lebih dari 2 cm kurang ideal untuk E.S.W.L, karena klirens turun dari 90% untuk batu 1 cm menjadi 63%, sehingga E.S.W.L perlu diulangi. Angka risiko mengalami kolik juga lebih besar pada E.S.W.L batu ginjal yang berukura lebih dari 2 cm.
  • Batu ureter dengan diameter < 1 cm. Pada batu ureter 1/3 bagian atas, dapat dilakukan manipulasi pendorongan batu ke ginjal dan selanjutnya dilakukan E.S.W.L Bilamana manipulasi ini gagal, dilakukan E.S.W.L in situ. E.S.W.L in situ dapat dipertimbangkan jika penderita menginginkan anestesi yang minimal dan mau menerima tindakan E.S.W.L ulang bila mana masih ada sisa batu.

Kontraindikasi-kontraindikasi:

  1. Obesitas akan mengurangi daya transmisi energi ke batu, sehingga mengurangi daya fragmentasi batu.
  2. Kelainan pembekuan darah (bila belum dikoreksi).
  3. Obstruksi saluran kemih di sebelah distal (bawah) batu.
  4. Infeksi saluran kemih yang aktif atau sepsis.
  5. Aneurisma aorta atau arteri renalis.
  6. Batu cystine atau brushite (kontraindikasi relatif).

Mekanisme Penghancuran Batu oleh Mesin E.S.W.L.:

Bila gelombang kejut mengenai batu dengan perbedaan impedansi akustik bila dibanding dengan air, sebagian gelombang kejut direfleksikan. Gelombang kejut yang melalui batu direfleksikan kembali pada perbedaan akustik kedua antara batu dan cairan disekitarnya. Refleksi gelombang kejut inilah yang menghasilkan fragmentasi batu. Fragmentasi batu didapatkan melalui mekanisme erosi dan penghancuran. Karena tidak ada perbedaan impedansi akustik antara air dengan jaringan lunak di sekitarnya, maka gelombang kejut tidak ada/sedikit sekali yang direfleksikan, atau dengan kata lain diteruskan, sehingga tidak ada efek fragmentasi terhadap jaringan lunak di sekitarnya.

Efek E.S.W.L terhadap Jaringan:

Efek mikrojet dapat menimbulkan cedera jaringan, terutama pembuluh darah yang berdinding tipis. Hal ini mengakibatkan perdarahan/kencing darah, biasanya dalam waktu sementara 1-2 hari. Jejas jaringan menimbulkan reaksi radang. Diperlukan masa pemulihan 1-2 minggu.

Komplikasi-komplikasi yang Dapat Terjadi pada ESWL:

  1. Perdarahan/hematom.
  2. Kencing darah.
  3. Steinstrasse
  4. Infeksi
  5. Nefritis litotripsi

Dokter Bedah Saluran Kencing (Urologist Surgeon) Rumah Sakit Panti Rapih

  • Sungsang R, Sp.U
  • Trisula Utomo, Sp.U
  • Indrawarman, Sp.U

 

oleh dr. Dwi Djuwantoro Sp.U
SubBagian Urologi, SMF Bedah, R.S. Panti Rapih

Kanker Prostat

Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali. Sel ini dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan lymph node. Kanker prostat dapat menimbulkan rasa sakit, kesulitan buang air kecil, disfungsi erektil dan gejala lainnya.

Epidemiologi Kanker Prostat :

  1. Pada Laki-laki Amerika menjadi penyakit yang paling sering nomor 2 diidap.
  2. Penyebab kematian nomer 2 yang paling sering dialami pria setelah kanker paru (di Amerika)
  3. Meningkat cepat dengan bertambahnya usia
  4. Risiko laki-laki usia 50 tahun dalam masa hidupnya :
    – uCaP laten : 40%
    – CaP yang terdeteksi secara klinis : 9,5%
    – Kematian akibat CaP : 2,9%
  5. Kemungkinan CaP :
    Usia <= 40 : 1 in 10.000
    40 – 59 : 1 in 103
    60 – 79 : 1 in 8

Faktor Risiko Kanker Prostat :

  1. Proses Penuaan
  2. Riwayat Keluarga
  3. Diet Tinggi Lemak

PATOLOGI :

  1. Adenokarsinoma 95%
  2. TCC
  3. Small Cell Carcinoma
  4. Sarkoma

GRADE DAN STADIUM

Sistem Grade GLEASON :

  • Berdasar arsitektur kelenjar
  • Grades bervariasi dari 1 sampai 5
  • Grade primer : paling sering ditemukan
  • Grade sekunder: paling sering kedua
  • Gleason score : jumlah grade primer dan sekunder

GLEASON Score :

  • 2 – 4 : diferensiasi baik
  • 5 – 7 : diferensiasi moderat
  • 8 – 10 : diferensiasi jelek

Manifestasi Klinik :

  • Prostat awal: gejala Negatif

Gejala positif

Deteksi Ca P

  1. Colok dubur: induration/nodule
  2. PSA : cut off point 4 ng%
  3. TRUS dg biopsi sistematik

PEMERIKSAAN COLOK DUBUR

  1. Untuk menentukan ukuran, konsistensi dan memprediksikan adanya keganasan prostat
  2. Untuk menentukan perluasan tumor primer
  3. Adanya kanker prostat, prostat teraba keras seperti tulang
  4. Sebanyak 50% karsinoma tidak terdiagnosis dengan colok dubur
  5. Ca P teraba sebagai benjolan keras seperti dasar hidung dan BPH sebagai ujung hidung
  6. Nodul keras pada prostat dapat disebabkan oleh :
    – Prostat kalkulosa
    – TURP/operation/biopsi sebelumnya
    – Prostatitis granulomatous
    – Prostatitis TB

PROSTATIC SPECIFIC ANTIGEN

  1. Tidak spesifik untuk kanker prostat
    – Peningkatan PSA : BPH, infeksi, instrumentasi
    – Cut off point : 4 ng %
  2. Sensitivitas PSA ditingkatkan :
    – PSA velocity (change over time) : 0,75 ng/mL/th
    – PSA density :
    *) BPH = 0,12 ng/mL jaringan
    *) PSAD > 0,15 à Biopsy
    – Age adjusted PSA (Oesterling, 1993)
Usia Normal Range (ng %)
40 – 49 0 – 2,5
50 – 59 0 – 3,5
60 – 69 0 – 4,5
70 – 79 0 – 5,5

TRANS  RECTAL ULTRASONOGRAPHY (TRUS)

  1. Bermanfaat untuk panduan biopsi prostat
  2. Ca P cenderung tampak  lesi hipoekoik pada zona perifer
  3. Lebih akurat dalam penentuan stad. lokal dari pada colok dubur
  4. Juga dapat mengukur volume prostat  PSAD

Diagnosis Banding Kanker Prostat

Colok dubur positif
– Ca P
– Prostatitis granulomatosa kronis
– TB  prostat uBatu prostat
– TURP/Biopsi sebelumnya

PSA meningkat
– BPH
– Infeksi
– Infark
– Instrumentasi

PENATALAKSANAAN Ca P

Prinsip Umum, keputusan terapi tergantung oleh :

Grade dan stadium

Harapan hidup

Morbiditas yang menyertai

Preferensi penderita dan dokter

Modalitas terapi

1. Watchfull waiting

  • Penderita tua
  • Kelainan penyerta
  • Small, well differentiated Ca P

2. Prostatektomi radikal

  • Retropubik
  • Perineal
  • Laparoscopy
  • Robotic

3. Radioterapi

  • EBRT : 6.500 – 7.000 cgy
  • Brachytherapy

4. Cryosurgery

5. Terapi endokrin/hormonal

6. Terapi sitotoksik  in HRPCA

7. Lain-lain (Paliatif untuk metastasis ke tulang yang nyeri)

Follow-up Penderita Kanker Prostat
Penentuan PSA serum, bersamaan dengan perjalanan penyakit dan colok dubur. Pemeriksaan radiologi hanya dilakukan pada penderita khusus.

Terapi Sitotoksik pada HRPCA

  1. Pada penderita HRPCA, dan calon terapi sitotoksik docetaxel 75 mg/m setiap 3 minggu
  2. Pada penderita dengan metastasis tulang karena GRPCA, docetaxel atau mitoxantrone dengan prednison atau hidrokortison.

Terapi Paliatif HRPCA

  1. Biosphosphonates dapat diberikan pada penderita dengan metastasis tulang. (grade A recommendation).
  2. Terapi paliatif seperti radioterapi, dan analgetik kuat.

Summary
Kanker prostat sering kali kompleks serta berbagai aspek penyakit dan penderita perlu dipertimbangkan

 

oleh dr. Dwi Djuwantoro SpU
Bagian Urologi, SMF Bedah, R.S. Panti Rapih

Batu Ginjal

Penyakit batu ginjal banyak dialami oleh penduduk Indonesia, terutama kaum pria. Adapun faktor-faktor yang berperan pada pembentukan batu ginjal / kandung kemih meliputi ras, keturunan, jenis kelamin, bakteri, kurang minum, air minum jenuh mineral, pekerjaan, makanan dan suhu tempat kerja.

  1. Apakah batu ginjal itu?

Batu ginjal adalah massa keras menyerupai “batu” yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan biasa menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun didalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).

Gejalanya apa saja?

Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Namun bila ukuran cukup besar dapat menimbulkan gejala :

  1. Nyeri perut bagian bawah sampai dengan punggung
  2. Nyeri hebat yang hilang timbul
  3. Mual dan muntah
  4. Perut menggelembung
  5. Demam dan menggigil
  6. Buang air kecil disertai darah

Batu dalam saluran kemih dapat menyebabkan infeksi akibat penyumbatan. Bila penyumbatan berlangsung lama dapat mengakibatkan hidronefrosis (ginjal terisi penuh dengan air), sampai akhirnya bisa menyebabkan kerusakan ginjal.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

  1. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari)
  2. Diet rendah kalsium. Kurangi konsumsi makanan seperti susu, telor, dll
  3. Banyak mengkonsumsi putih telur
  4. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung oksalat seperti bayam, kangkung, kembang kol, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh
  5. Mengurangi asupan daging, dan
  6. Dianjurkan sering mengkonsumsi buah semangka
  7. Perhatikan kesehatan Gigi

Bagaimana Cara Mengatasinya ?

Apabila batu terlalu besar untuk dikeluarkan secara alamiah, operasi dapat dikerjakan. Apabila batu berada di ureter, sistoskopi dapat digunakan melalui uretra dan batu dimanipulasi dengan kateter. Pengeluaran batu dari daerah lainnya (pada calix dan pelvis) memerlukan operasi dari samping atau perut bagian bawah. Prosedur yang disebut percutaneus ultrasonic lithotripsy dan extracorporeal shock wave lithotripsy akan memecah batu ginjal menjadi fragmen kecil-kecil, sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah atau dengan pengisapan.

Di Rumah Sakit Panti Rapih

Rumah Sakit Panti Rapih memiliki beberapa layanan medis untuk mengatasi masalah Batu Ginjal yaitu ESWL dan PCNL.

ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) merupakan suatu teknologi tinggi yang dapat menghancurkan batu ginjal dengan gelombang kejut, efek samping yang lebih kecil dibandingkan   dengan tindakan operasi. Angka keberhasilan tindakan ini rata-rata mencapai 90 persen, tergantung jenis dan ukuran batu. Tindakan ini memerlukan waktu sekitar 1 jam dan biasanya tidak memerlukan rawat inap. Pada     kasus dengan faktor penyulit perlu perawatan lebih lama hingga rawat inap.

Percutaneous Nephrolithotomy dan nephrolithotripsy (PCNL) merupakan metode pengambilan batu ginjal yang berukuran sedang / cukup besar.  Metode PCNL ini biasanya ditempuh apabila metode ESWL tidak memungkinkan untuk dilakukan. Tindakan  PCNL dilakukan dengan membuat sayatan kecil (0,5 inci) di bagian samping belakang pasien di daerah ginjal.  Melalui sayatan tersebut alat PCNL dimasukkan untuk mengambil batuginjal. Selama proses ini berlangsung pasien dikontrol oleh dokter anestesi.Dengan metode PCNL ini pasien akan lebih cepat pulih dibandingkan metode operasi yang konvensional.

Dermatitis Kontak

Belakangan ini banyak pasien datang ke rumah sakit dengan gejala ruam kemerahan seperti luka lecet yang disertai keluhan rasa panas dan perih atau gatal. Ruam ini terjadi setempat pada kulit dan kadang-kadang menyebar hingga timbul bercak merah pada beberapa bagian tubuh seperti lengan, leher dll.

Dokter mendiagnosis keadaan ini sebagai dermatitis kontak (DK). DK merupakan reaksi kulit terhadap sesuatu seperti alergen atau iritan. Jika terasa panas dan perih, penyebabnya iritan misalnya zat kimia seperti deterjen atau terpentin. Jika ada rasa gatalnya, penyebabnya alergen misalnya serangga atau tanaman (toksikodendron). Orang awam sering menyebutnya luka karena dikencingi coro (lipas kecil).

Berbeda dengan biduran (urtikaria) yang muncul dan hilang dalam waktu beberapa menit hingga beberapa jam, DK memerlukan waktu beberapa hari sebelum gejala tsb menghilang. Hilangnya keluhan dan gejala terjadi ketika alergen atau iritan sudah tidak mengenai kulit lagi. Kalau tidak, akan terjadi DK yang kronis.

Umumnya DK diobati dengan kombinasi krim steroid untuk mengurangi reaksi inflamasi (merah, nyeri dan bengkak) dan krim antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri. Pada keadaan yang berat, dokter juga meresepkan obat minum kortikosteroid seperti metilprednisolon dan antihistamin seperti loratadin atau cetirizin.

Kendati kelihatannya mengerikan terutama kalau ruamnya luas dan mengenai beberapa tempat, DK akan sembuh sendiri ketika kulit sudah tidak terkena alergen atau iritan.

dr. Andry Hartono

Osteoartritis Tulang Belakang

Pada saat mencapai usia pertengahan (sekitar 35 tahun), sebagian orang mulai didera oleh rasa nyeri pada tulang belakang, khususnya leher (servikal) dan punggung bawah (lumbal). Kedua bagian ini mengalami degenerasi karena banyak dipakai untuk gerakan menekuk ke depan atau berputar ke kanan dan ke kiri. Ibarat engsel yang sering dipakai sehingga karet peredam benturan atau gesekannya menjadi aus, bantalan sendi antar-ruas tulang belakang dapat mengalami hal yang sama.

Di antara tulang-tulang belakang leher/servikal dan punggung bawah/lumbal (yang pada leher terdapat 7 ruas dan pada punggung bawah 5 ruas) terdapat bantalan yang disebut diskus intervertebralis. Karena usia dan sering digunakan, diskus tersebut aus dan menipis sehingga ruas-ruas tulang saling bergesekan. Gesekan inilah yang menimbulkan peradangan dan pengapuran sehingga terjadi rasa nyeri.

Jika foto rontgen bagian yang sakit tersebut memperlihatkan penyempitan sela antar-ruas tulang belakang, dokter akan membuat diagnosis spondilosis atau osteoartritis (OA) tulang belakang. OA terjadi ketika tulang rawan yang melapisi tulang belakang mengalami peradangan dan pengapuran yang dinamakan bone spur atau osteofit.

OA yang ringan dan sedang biasanya dapat diredakan nyerinya dengan penurunan berat badan pada orang yang gemuk dan perubahan gaya hidup. Mandi berendam dengan air hangat, relaksasi, dan masase yang benar utk melemaskan otot dapat membantu. Fisioterapi seperti terapi vibrasi dan pemanasan dengan pemasangan kolar pada leher atau korset pada pinggang juga bermanfaat.

Jika rasa nyeri tidak tertahankan, dokter mungkin memberi obat pereda nyeri yang ringan seperti parasetamol dan ibuprofen. Bila tidak berhasil, obat golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID) bisa diresepkan. Hanya sayangnya obat-obat ini dapat memberikan efek samping seperti nyeri lambung atau bahkan perdarahan usus, gangguan jantung dan ginjal yang bisa membawa kegagalan pada kedua organ tersebut.

Karena alasan itu, the American Geriatric Society (AGS) lebih menganjurkan pemberian derivat opioid seperti morfin dan kodein pada pasien manula dengan nyeri OA yang tak tertahankan. Tentu saja pemakaian obat ini harus dibawah pengawasan dokter untuk menghindari efek adiksi dan efek samping seperti mual serta sembelit.

Obat oles seperti krim dan jeli juga bisa digunakan untuk meredakan rasa nyeri. Ada 3 macam unsur yang dipakai dalam obat oles: (1) mentol dan eucalyptus oil yang menimbulkan rasa panas; (2) capsaicin, zat kimia dalam biji cabai, yang menumpulkan impuls nyeri di sel saraf dengan menghambat kerja substansi P; (3) obat analgetik seperti metil salisilat dan NSAID seperti diklofenak dan piroksikam yang memberikan rasa dingin dan sedikit patirasa; dan (4) obat bius lokal seperti lidokain yang menumpulkan impuls saraf.

Jika semua tindakan di atas tidak menolong, maka anda akan dirujuk oleh dokter umum atau dokter keluarga anda ke dokter spesialis saraf, rematologi atau ortopedi/spine surgeon untuk menjalani pemeriksaan dan tindakan lebih lanjut. Pemeriksaan seperti MRI diperlukan untuk konfirmasi apakah anda tidak menderita HNP yaitu herniasi diskus yang menekan kolom saraf tulang belakang shg bisa menimbulkan kelumpuhan dan gangguan saraf lainnya. Tindakan invasif seperti penyuntikan obat anestesi, kortikosteroid atau bahkan pembedahan dapat pula dilakukan jika rasa nyeri terjadi karena HNP atau keadaan berbahaya lain seperti fraktur kompresi tulang belakang. Tentu saja semua keadaan ini baru dilaksanakan setelah dokter ahli mempertimbangkan manfaat-risikonya dan anda juga sudah menyetujuinya lewat informed-consent (penjelasan dokter yang diikuti kesepakatan tertulis dari anda).

dr Andryhartono, SpGK
Klinik MCU-Gizi Medik
RS Panti Rapih

MODY= DMT2 pada anak

MODY merupakan singkatan Maturity Onset of Diabetes in the Young yang sebenarnya merupakan DM Tipe 2 pada anak-anak dan remaja. DM  tipe 2 (DM tidak tergantung insulin) umumnya dimulai pada usia pertengahan dengan gangguan terutama pada reseptor insulin. Reseptor insulin bisa diibaratkan pintu masuk sel. Glukosa (gula darah) yang akan dijadikan energi oleh mitokondria sel dibawa masuk lewat pintu tersebut dengan bantuan hormon insulin.

Gangguan reseptor insulin yang disebut resistensi insulin merupakan ciri utama baik DM tipe 2 maupun MODY. Bentuk yang terakhir ini kini semakin kerap ditemukan. Biasanya pada anak-anak terjadi DMT1 dengan ciri tubuh yang kurus dan ketoasidosis akibat kerusakan sel beta penghasil insulin. DMT1 menempati 5% dari seluruh kasus DM sedangkan DMT2 95%.

Sebaliknya gejala MODY pada anak-anak berupa obesitas dengan penimbunan lemak di bagian perut karena MODY merupakan DMT2. Anak-anak ini mungkin tidak memiliki keluhan apa pun kecuali selera makannya yang luar biasa dan berat badannya yang terus bertambah.

Pemeriksaan laboratorium sering menunjukkan kenaikan trigliserid (TG). Kadar gula darah mungkin naik tapi masih di bawah 126 mg/dL. Angka 126 merupakan kriteria diagnostik DM. Semua ini terjadi karena hiperinsulinisme yang menimbulkan obesitas, kenaikan TG dan  intoleransi glukosa (kadar GD 110-126).

Penyebab MODY diperkirakan karena anak dan remaja semakin banyak mengonsumsi KH sederhana seperti gula dan tepung gandum selain lemak jenuh. Sementara itu, anak dan remaja tidak menyukai KH kompleks seperti sayur dan buah. Kehidupan yang kurang gerak karena adanya kendaraan bermotor dan alat elektronik juga meningkatkan insidensi MODY.

Menurut situs www.naturefood.com, pemakaian alloxan sebagai pemutih bahan pangan seperti misalnya tepung gandum turut menambah pelik masalah ini karena masyarakat modern semakin menyukai roti putih, mie instan, gorengan dengan tepung dll dengan meninggalkan camilan tradisional yang alami. Dalam laboratorium alloxan dipakai  untuk menjadikan tikus percobaan menderita diabetes.

Pencegahan MODY dapat dilakukan dgn meningkatkan makanan berserat seperti roti gandum utuh, kacang-kacangan, beras merah/beras tumbuk, sayuran dan buah. Mengajarkan kepada anak dan remaja untuk kembali menyukai makanan tradisional ketimbang junk food merupakan tindakan yang bijaksana.

Kreatinin

Pasien yang menderita penyakit ginjal kronis tentunya tidak asing dengan istilah kreatinin. Begitu juga pasien yang mengecek fungsi ginjalnya tentunya pernah mendengar kata kreatinin ini. Namun, mereka tentunya ingin mengetahui lebih detail lagi apakah sebetulnya kreatinin itu, bagaimana fungsinya dan pada keadaan apa saja kadar kreatinin dalam darah meningkat?

Apakah kreatinin itu?

Kreatinin merupakan hasil penguraian kreatin fosfat dalam otot. Untuk bekerja dengan baik, otot kita memerlukan sumber energi instan yang dinamakan ATP (adenosin trifosfat) – suatu ikatan fosfat berenergi tinggi. Nah, sumber ATP adalah kreatin fosfat di samping fosforilasi oksidatif yang dalam biokimia dikenal sebagai siklus Krebs.

Karena itu, kita tidak akan heran jika di pasaran MLM atau toko suplemen juga terdapat tablet kreatin fosfat yang sering dalam bentuk kombinasi dengan asam alfa-lipoat dan KH indeks-glisemik tinggi. Suplemen seperti ini sering digunakan oleh atlit jenis olahraga yang memerlukan kerja otot yang berat seperti pelari sprint.

Linford Christie, pemegang medali emas lari 100 meter di Olimpiade Barcellona tahun 1992, merupakan salah seorang pemakai suplemen kreatin fosfat. Lainnya adalah Sally Gunnel, salah seorang pemegang medali emas lari rintangan 400 meter di pesta olimpiade yang sama. Kreatin fosfat tidak dianggap sebagai doping.

Kembali kepada kreatinin yang merupakan hasil pemecahan kreatin fosfat untuk menghasilkan energi otot, kadar kreatinin dalam darah berkisar dalam batas 0,5 – 1,2 mg/dL. Pria memiliki kadar yang lebih tinggi daripada wanita karena massa ototnya lebih besar. Kata kreatinin sebenarnya berasal dari kata Yunani, kreas, yang artinya otot. Kadarnya dalam darah dipertahankan dalam batas-batas di atas oleh ginjal, khususnya penyaringan di glomerulus dan sekresi di tubulus proksimal. Kreatinin jarang diserap kembali di dalam tubulus ginjal.

Keadaan yang menaikkan kadar kreatinin

Ada beberapa keadaan yang disertai peningkatan kadar kreatinin dalam darah, yaitu:

1) Penyakit ginjal kronis yang tentu saja disertai dengan kenaikan kadar kreatinin dalam darah. Tetapi gejala ini biasanya disertai pula peningkatan kadar ureum. Fungsi ginjal ditentukan lewat GFR (glomerular filtration rate) yang dihitung dengan rumus memakai kadar kreatinin dalam darah dan air seni.

2) Pemakaian obat hipertensi seperti kombinasi inhibitor ACE dgn ARB (angiotensin receptor blocker). Karena itu, kedua obat ini biasanya dipakai sendiri atau dalam bentuk kombinasi dgn golongan lain.

3) Aktivitas fisik yang berat apalagi bila disertai cedera otot. Pada keadaan ini, selain kreatinin juga bisa terjadi peningkatan asam urat dan enzim ALT dalam darah. Namun, setelah beristirahat dan terjadi pemulihan otot, biasanya kadar zat-zat tersebut akan kembali normal.

4) Usia lanjut. Ketika manusia mencapai usia lebih dari 70 tahun, semua fungsi organ sudah menurun termasuk fungsi ginjal. Karena itu, kadar kreatinin bisa meninggi pada manula khususnya wanita. Peninggian ini umumnya disertai pula dengan kenaikan kadar asam urat dan ALT, enzim yang bukan hanya diproduksi oleh sel hati yang mengalami peradangan tetapi juga oleh sel otot yang aus atau rusak. Hanya saja, kenaikan ALT karena deplesi protein dari otot tidak akan sampai 3 kali lipat nilai normalnya seperti terjadi pada peradangan hati.

dr Andry Hartono, DAN.SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih
Jl Cik di Tiro 30 Yogyakarta

Pelemakan Hati

Anda diberitahu oleh dokter yang melakukan pemeriksaan USG dalam rangkaian proses medical checkup bahwa pada hati anda terjadi pelemakan. Keadaan ini berarti bahwa di dalam sel-sel hati anda sudah terdapat ruang-ruang (vakuola) berisikan lemak. Artikel ini akan menjawab keingintahuan anda yang lebih lanjut tentang penyakit pelemakan hati (PPH).

Pelemakan hati atau fatty liver yang juga disebut penyakit steatohepatik ini umumnya ditemukan pada penyandang kegemukan, gangguan metabolisme seperti sindrom metabolik (keadaan pradiabetes), hipertrigliseridemia atau pun pemakai obat-obat yang mengganggu fungsi hati seperti kortikosteroid. Di negara Barat yang masyarakatnya banyak minum minuman beralkohol, penyakit pelemakan hati (PPH) dapat disebabkan oleh alkohol. Karena itu, kita mengenal dua jenis PPH: alkoholik dan nonalkoholik (NASH; nonalcoholic steatohepatic disease).

PPH DI INDONESIA

PPH nonalkoholik lebih sering ditemukan di Indonesia dibandingkan PPH alkoholik. Apalagi dengan semakin tingginya angka kegemukan di kalangan remaja yang seiring dengan peningkatan konsumsi junk foods yang kaya akan tepung, gula, minyak/lemak jenuh serta aditif pangan tertentu seperti butil hidroquinon dalam minyak.

KELUHAN DAN GEJALA

PPH tanpa inflamasi biasanya tidak disertai keluhan dan gejala. Bila sudah terjadi inflamasi (peradangan yang bukan infeksi melainkan reaksi terhadap zat toksik, xenobiotik atau metabolit yg mengganggu hati), penyakit yang kemudian disebut steatohepatitis ini akan menimbulkan keluhan seperti sakit maag yang lebih berat dengan rasa kembung atau sebah terutama pada perut kanan atas.

Pada keadaan seperti ini, dokter akan memeriksa kadar enzim hati yang disebut SGPT dan SGOT (AST dan ALT). Kenaikan enzim hati sampai lebih dari 3 kali lipat angka normalnya menunjukkan steatohepatitis. Selanjutnya dokter akan memeriksa kadar antigen hepatitis B dan antibodi hepatitis C. Kedua keadaan terakhir ini bukan lagi inflamasi tetapi infeksi virus yang berbahaya sehingga anda harus dirujuk ke dokter konsultan penyakit hati (SpPD-KGEH).

PENGOBATAN DAN GAYA HIDUP

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk PPH kecuali menghilangkan penyebabnya seperti menurunkan berat badan pada penyandang kegemukan atau menghentikan pemakaian obat dan zat kimia yang mengganggu hati.

Beberapa zat kimia yang ditambahkan dalam makanan seperti butil hidroquinon untuk mencegah kerusakan minyak dalam proses penggorengan dengan panas yang tinggi dan waktu yang lama dapat mengganggu atau bahkan merusak hati bila dikonsumsi berlebihan. Begitu pula zat kimia alloxan yang dipakai untuk memutihkan tepung gandum.

Karena itu, penyandang PPH dianjurkan untuk memiliki pola makan yang sehat seperti lebih banyak mengonsumsi sayuran dan buah, protein yang sehat seperti kacang2an serta mengurangi kebiasaan makan camilan yang digoreng dengan banyak minyak. Sementara itu, hindarilah konsumsi gula, tepung serta minyak masak/lemak jenuh yang berlebihan dalam junk foods yang kini semakin banyak diiklankan di TV.

PENGOBATAN ALTERNATIF

Preparat herbal seperti curcuma dalam temulawak atau silymarin mungkin diresepkan dokter. Begitu pula suplemen vitamin yang dianggap sebagai antioksidan seperti vitamin E. Suplemen lain yang juga banyak diresepkan adalah fosfolipid atau lesitin yang dianggap dapat mencegah pelemakan hati, dan tripeptida glutation untuk detoksifikasi hati karena gugus SHnya. Di samping itu, formula enteral yang kaya akan asam amino rantai cabang (BCAA) juga sering ditambahkan sebagai suplemen untuk mengurangi beban kerja hati.

dr Andry Hartono SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih Yogyakarta