Diare

Diare masih merupakan masalah kesehatan di Asia Tenggara. Penyakit yang berhubungan dengan diare masih menjadi penyebab kematian empat sampai lima juta balita di dunia, menduduki tempat ketiga penyebab terbanyak. Setengah dari kematian anak-anak Asia Tenggara diakibatkan oleh diare dan infeksi saluran pernafasan.

Paling sedikit ada 20 virus, bakteri, dan protozoa yang berkembang biak di dalam saluran pencernaan manusia, keluar bersama feses, transit di lingkungan, dan akhirnya menyebabkan diare pada inang yang baru.
Perbedaan tempat menimbulkan perbedaan sumber daya, epidemiologi, permasalahan kesehatan umum yang mendasar, ketersediaan air dan makanan yang aman, dan lain-lain.

Diare sebenarnya adalah masalah yang umum walaupun gejalanya dapat bervariasi dari yang ringan sampai berat. Diare pada anak-anak biasanya diakibatkan oleh infeksi. Meski demikian, pemberian makanan yang kurang tepat, gangguan penyerapan, dan gangguan pada usus yang lain dapat pula menyebabkan diare. Diare biasanya self-limited namun harus ditangani dengan manajemen yang tepat. Komplikasi paling sering terjadi adalah dehidrasi (kekurangan cairan). Diare akut (kurang dari satu minggu) biasanya disebabkan oleh infeksi dan berkaitan erat dengan kepadatan penduduk, globalisasi produksi makanan, kontaminasi sumber air, dan pembuangan sampah yang tidak aman. Virus penyebab diare yang paling sering dikenal adalah enterovirus. Protozoa yang paling sering menyebabkan diare adalah amoeba. Diare yang disertai lendir dan darah biasanya disebabkan oleh bakteri, misalnya Shigella, Salmonella, Campylobacter, Escherichia coliYersinia enterocoliticaClostridium difficile.

Penting untuk mengenali dehidrasi pada anak dan bayi, mengingat ini komplikasi yang sering dan paling penting. Selain dehidrasi, abnormalitas konsentrasi elektrolit (ion-ion), status asam basa tubuh, dan menyebarnya infeksi ke seluruh tubuh menjadi penyulit diare. Dehidrasi sedang ditandai dengan anak/bayi yang nampak sakit, mengantuk, rakus bila diberi minum, mata cekung, mulut dan lidah yang kering dan nafas yang agak cepat. Bila kulit perut dicubit, cubitan kulitnya kembali lambat. Bila ubun-ubun bayi belum menutup, dapat diraba cekung. Dehidrasi berat pada anak/bayi ditandai dengan ketidakmampuan untuk minum, sangat mengantuk sampai tidak sadar, lemah, mata yang sangat cekung, mulut dan lidah yang sangat kering, dan cubitan kulit perut yang kembali sangat lambat. Nafas bayi menjadi sangat cepat dan ubun-ubun bila belum menutup teraba sangat cekung.

Pemberian makanan direkomendasikan sesegera mungkin sebagai manajemen diare akut karena isi usus diketahui sebagai faktor yang membantu perbaikan selaput lendir usus segera setelah jejas. Asupan makanan seperti biasa dalam beberapa jam saat pengembalian cairan atau meneruskan pemberian makanan selama diare tanpa dehidrasi telah terbukti memperpendek durasi diare. Pemberian susu formula yang diencerkan tidak memberikan manfaat dibanding susu formula dengan konsentrasi yang dianjurkan. Bayi dengan diare yang berat mungkin membutuhkan susu formula bebas laktosa (ada produk LLM/Low lactose milk dari merk-merk susu terkenal) sampai kira-kira dua minggu sampai penyembuhan selaput lendir tercapai. Bayi atau anak yang lebih tua dapat makan sesuai usia seperti biasa. Pembatasan laktosa juga tidak selalu dibutuhkan. Dianjurkan pemberian serat dan sereal seperti nasi, mi, kentang, gandum, dan oat. Makanan-makanan ini secara umum dapat ditoleransi oleh pasien dengan diare. Pasien-pasien dengan diare ini juga dapat mengkonsumsi biskuit, pisang, yogurt, sup, dan sayuran rebus. ASI mengandung banyak bahan yang dapat membantu pertubuhan sel-sel di mukosa usus dan melawan bakteri. Pemberian ASI yang berkelanjutan pada anak dengan diare memberikan manfaat seperti telah dibuktikan pada berbagai literatur. Oleh karena itu disarankan untuk tetap memberikan ASI.

Pencegahan tetap hal yang paling vital dalam manajemen diare. Sangat penting untuk mencegah transmisi organisme penyebab yang dapat dilakukan dengan cara menangani sanitasi yang baik pada persiapan dan pemrosesan makanan. Selain itu dapat pula dengan suplai air bersih yang baik, pasteurisasi susu, higiene tangan, pembuangan limbah dengan baik, mencegah orang yang terinfeksi untuk menangani makanan maupun memberikan pelayanan kesehatan, dan mencegah orang yang terinfeksi memakai fasilitas rekreasi air. Telur dan bahan makanan lain yang sumbernya dari hewan harus dimasak dengan baik.

Mencuci tangan menggunakan sabun dapat menurunkan resiko diare sampai dengan 42-47%. Dalam review yang dilakukan atas 17 penelitian yang dilakukan di negara-negara berkembang, disimpulkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun ini pada akhirnya dapat menyelamatkan jutaan nyawa.

Penting bagi anda orang tua, guru, atau oom dan tante untuk mengenali diare sesegera mungkin dan mencegah perburukan ke arah dehidrasi. Pemberian cairan untuk mengganti yang keluar pada diare dengan teliti dapat mencegah dehidrasi. Pemberian makanan, susu, dan ASI telah dijelaskan di atas. Lebih menggalakkan kebiasaan cuci tangan dengan sabun saat ada anggota keluarga yang terkena diare sangat bermanfaat. Saya juga sering menyarankan kepada orang tua anak kecil yang terkena diare untuk membatasi kontak orang lain dengan si sakit, dan mencuci segenap peralatan makan si kecil dengan air panas. Saran saya ini belum pernah saya jumpai hasil penelitian kemanfaatannya, hanya sekedar mengolah sendiri dari referensi. Apabila sudah ada gejala-gejala awal dehidrasi, segera temui dokter. Dengan penggalian riwayat dan pemeriksaan fisik yang teliti dibantu beberapa pemeriksaan laboratorium sederhana, dokter lulusan Indonesia terlatih untuk memberikan cairan pengganti yang tepat. Apabila perlu, akan diresepkan antibiotik juga.

Batuk Kronis Berulang Pada Anak

Melihat anak yang sehat dan lincah dalam segala aktifitasnya, tentu membuat kita senang dan bahagia.  Namun ada kalanya anak kita menmgalami gangguan kesehatan yang mengganggu aktifitasnya.  Diantaranya batuk kronis berulang.

Sebenarnya batuk merupakan salah satu refleks tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang berada di saluran pernafasannya.  Namun jika batuk berlangsung terus pastilah menimbulkan gangguan.  Berikut ini informasi tentang batuk kronis berulang pada anak, disampaikan oleh dr. Ratnaningsih Sp.A yang berkarya di RS Panti Rapih Yogyakarta.
Batuk merupakan gejala klinis yang sangat mengganggu kita apalagi bila itu membuat anak menjadi muntah, sehingga asupan makanan berkurang sehingga berat badan anak menjadi turun.

Batuk kronis berulang pada anak adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh berbagai penyebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu berturut-turut dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik maupun respiratorik.  Biasanya jenis batuknya terus menerus, produktif (berdahak), atau seperti gonggongan anjing.  Waktu batuk terutama malam hari, lebih hebat pada waktu bangun pagi, dan hilang pada waktu anak tidur.  Pencetusnya bias makanan, iklim/udara, kegiatan jasmani seperti berlari, ataupun infeksi saluran nafas akut serta debu rumah atau binatang, dll.

Gejala lainnya yang berhubungan dengan respiratorik adalah : sesak nafas, mengi, nafas berbunyi, nyeri dada bila bernafas.  Gejala non respiratorik adalah : panas, nafsu makan turun, sakit kepala, keringat malam hari, berat badan turun, meriang, dll.  Adanya riwayat asthma / alergi dalam keluarga, atau kontak dengan penderita tubercolusis, jangan sampai lupa kita tanyakan pada orangtuanya.

Pemeriksaan fisik yang bias didapatkan adalah tanda-tanda yang berhubungan dengan obstruksi saluran nafas yang kronis.  Pemeriksaan penunjang yang kita lakukan adalah tes tuberculin/mantoux test, darah rutin, IgE, IgG, IgA.  Uji kulit alergi/skin test, rontgent foto thorax dan sinus paranasal, uji faal paru dan provokasi bronkus.

Dikatakan BKB (Batuk Kronis Berulang) bila pada pasien tersebut belum diketahui penyebab batuknya.

Beberapa diagnosis banding BKB :

  1. Bronchitis :
    1. Bronchitis virus
    2. Bronchitis kimiawi keasap rokok, zat inhalasi
    3. Bronchitis karena infeksi bakteri
    4. Sinobronchitis
  2. Asthma
  3. Infeksi Spesifik
    1. Fibrosis kistik
    2. Infeksi mycoplasma pneumonia
    3. TBC
  4. Penyakit Paru Supuratif
    1. Fibrosis kistik
    2. Bronchietasis
    3. Infeksi sekunder pada atelektasis, benda asing ataupun kista
  5. Lesi Lokal
    1. Benda asing / corpus alienum
    2. Tumor / kista
    3. Trakeomolasia
  6. Batuk Psikogen
  7. Batuk Refleks

Pengelolaan terapi adalah sesuai dengan penyakit dasarnya, bila penyakit dasarnya belum diketahui, maka pertama harus kita berikan bronkodilator, fisioterapi perlu dipertimbangkan, bila perlu dapat diberi antibiotic.  Tahap kedua adalah menilai hasil pengobatan tahap awal, meneliti kembali gejala klinis yang lain, pemeriksaan rontgent, imunologik, dll.

Batuk kronis berulang (BKB) adalah suatu kondisi yang harus dilacak lebih jauh, sehingga pengelolaan dapat kita berikan sesuai dengan penyakit dasarnya / penyakit yang mendasarinya.

Kesehatan Gigi

Seringkali kita menyaksikan anak-anak yang terlihat sehat dan bergerak dengan lincah, apalagi saat menunjukkan senyuman menawan dengan gigi yang putih, rapi.  Sungguh menggemaskan, sehingga kita merasa enggan mengalihkan pandangan. Tentunya kita juga ingin mempunyai buah hati yang demikian.

Tidak kurang upaya yang dilakukan orangtua untuk  menjaga kesehatan gigi mereka.  Pada kesempatan ini drg. Julie Christine, Sp.KGA, seorang spesialis dokter gigi anak yang berkarya di RS Panti Rapih Yogyakarta, memberikan informasi tentang pentingnya fungsi gigi susu.
Perawatan gigi pada masa anak-anak sangat penting karena kondisi gigi susu (gigi decidui) saat ini sangat menentukan keadaan gigi-gigi permanent penggantinya.

Beberapa fungsi dan peran gigi susu adalah :

  • Fungsi Pengunyahan (mastikasi)

Anak yang sering sakit gigi tentu akan malas untuk mengunyah makanan, hal ini berdampak pada asupan gizi yang tentunya sangat dibutuhkan anak-anak mengingat masa anak-anak adalah masa aktif pertumbuhan dan perkembangan.  Disamping itu berdampak pula terhadap pertumbuhan rahang.  Rahang tidak akan bertumbuh maksimal karena fungsi pengunyahan yang juga tidak maksimal, mengakibatkan gigi-gigi permanen penggantinya kekurangan ruang sehingga gigi berjejal (crowded), posisi gigi depan maju (prostrusi)

  • Fungsi Bicara (fonetik)

Gigi berperan dalam pengucapan huruf-huruf tertentu seperti F,V,S,Z,Th.  Ketika gigi, terutama gigi depan hilang/rusak berat maka pelafalan beberapa huruf akan kurang tepat (cedal).

  • Fungsi kecantikan (estetik)

Anak dengan gigi utuh dan rapi akan terlihat semakin cantik/tampan.  Yang perlu dicermati adalah beban psikologis anak ketika teman-temannya mengolok dengan sebutan ‘ompong’ karena giginya gigis (rampant) dan tinggal akar.

  • Fungsi mempertahankan ruang dalam lengkung gigi sebagai persiapan pertumbuhan gigi permanen sekaligus menentukan arah pertumbuhan gigi permanen.

Gigi susu karena suatu sebab terpaksa dicabut sebelum waktunya, maka gigi yang terletak di depan/ belakangnya akan bergeser ke ruang bekas gigi yang dicabut.  Hal ini mengakibatkan gigi permanent kekurangan ruang untuk tumbuhnya kelak.  Gigi permanent akan kehilangan penuntun arah, akibatnya gigi tumbuh dengan arah yang salah.

Mengingat pentingnya gigi susu, maka orangtua dapat mengkonsultasikan keadaan gigi buah hatinya pada dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak.  Dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak juga akan mendetaksi kecenderungan terjadinya posisi gigi yang tidak normal (maloklusi) akibat kebiasaan buruk yang dilakukan anak seperti menghisap ibu jari, bernafas melalui mulut, menggigit-gigit kuku, kerot di waktu malam, dll.

Bersama orangtua, dokter spessialis kedokteran  gigi anak akan memotivasi anak untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, sehingga kemungkinan terjadinya kelainan pada gigi anak dapat dicegah.  Orangtua diharapkan membawa buah hatinya untuk control ke dokter spesialis konservasi gigi anak setiap 3 – 6 bulan sekali, terlebih antara usia 5-12 tahun ketika terjadi pergantian gigi susu ke gigi permanent.  Hal ini untuk menghindari terjadinya persistensi (gigi auau belum tanggal, gigi permanent telah tumbuh).

Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik merupakan keadaan pradiabetes dengan komponen:

1. Intoleransi glukosa (kadar gula puasa 110-126 mg/dL)
2. Obesitas abdomen (gemuk dg perut buncit) dgn Indeks massa tubuh di atas 23 (kg/m2) dan lingkar perut di atas 80 cm [wanita] atau 90 cm [pria]).
3. Kadar trigliserid di sekitar atau di atas 175 mg/dL.
4. Kadar kolesterol jahat di sekitar atau di atas 150 mg/dL.
5. Tekanan darah sistolik di sekitar atau di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.

Diagnosis sindrom metabolik dibuat jika ada 3 dari 5 komponen di atas.

Sindrom metabolik merupakan (kumpulan) keadaan akibat resistensi insulin yang terjadi sebelum seseorang menderita penyakit metabolik khususnya diabetes dan penyakit vaskular seperti hipertensi yang kemudian bisa berlanjut menjadi penyakit yg serius (penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular [stroke] dan nefropati diabetes [gagal ginjal]). Lamanya waktu dari sindrom metabolik hingga terjadinya penyakit di atas bisa 15 tahun atau lebih tergantung faktor genetik dan pola hidup ybs.

Gangguan metabolisme termasuk sindrom metabolik biasanya mulai terjadi pada usia di sekitar 35 tahun (saat pola hidup berubah). Diet yg salah, kehidupan sedentari, stres serta perilaku yg salah, dan kebiasaan berisiko spt merokok semuanya akan mempercepat perubahan dari sindrom metabolik menjadi penyakit yang serius.

INSIDENSI

Dalam Survei Kesehatan Nasional 2007 disebutkan ada 1,5% kasus DM yg sudah diketahui, 4,2% DM yg baru terdiagnosis sehingga terdapat total kasus DM 5,7%. Sedangkan toleransi gula terganggu atau intoleransi glukosa adalah 10,2%. Mengingat sindrom metabolik merupakan sindrom resistensi insulin yg menyebabkan intoleransi glukosa, maka insidensi sindrom metabolik di Indonesia bisa dianggap sekitar 10,2% dari total populasi penduduk.

ORANG YANG RENTAN

Seperti di sebut di atas, orang gemuk dengan perut buncit karena pola hidup yg salah rentan terkena sindrom metabolik.  Cirinya adalah orang yang gemuk dengan perut buncit plus 4 tanda lain spt disebut di atas dalam komponen sindrom metabolik. Hanya sayangnya 4 tanda tsb tidak memberikan keluhan atau gejala apa pun shg baru diketahui setelah penyandang sindrom metabolik menjalani medical checkup atau tes laboratorium.

Untuk mencegahnya, faktor yg bisa diubah harus kita ubah seperti diet dengan gizi yang baik dan seimbang (khususnya diet DM), olahraga aerobik yang teratur, manajemen stres yg benar dan medical checkup untuk mendetesi faktor risiko secara dini.

Faktor usia, jenis kelamin dan genetik tidak bisa diubah.

TERAPI DIET DAN GIZI

Terapi diet untuk SM dan problem metabolik lainnya (obesitas, intoleransi gula dan hiperkolesterol/ hipertrigliserid):

1. Batasi KH sederhana spt gula dan tepung. Contoh makanan yg kaya akan KH sederhana a.l.: makanan/minuman yg manis, camilan spt roti halus, kue kering, tarcis dan camilan yg digoreng dgn tepung. Jangan makan malam dgn hidangan yg terlalu berat krn kaya akan KH sederhana dan lemak/ minyak spt nasi atau mie goreng.
2. Hindari lemak jenuh spt gajih, jerohan, lemak trans, jelantah dan santan yg kental. Gunakan jenis minyak yg baik spt omega-3, 6, 9 dan MCT dalam proporsi yg tepat dan jumlah yg wajar (sekitar 1 sendok makan per kali pakai).
3. Banyak makan makanan yg kaya serat dan antioksidan spt sayuran, buah dan kacang2an yg memiliki beragam warna. Gunakan makanan sumber KH secara bervariasi dgn pola diet semivegetarian.

Keuntungan makanan nabati:
1. Tidak mengandung kolesterol tetapi kaya akan serat (makanan hewani kaya akan kolesterol tapi tidak mengandung serat)
2. Relatif lebih mengandung kalsium dgn kandungan fosfor yg lebih rendah. Sementara kandungan natriumnya yg lebih rendah dan kaliumnya yg lebih tinggi akan mengurangi kecenderungan hipertensi pada sindrom metabolik.
3. Kandungan protein (dalam kacang2an) lebih rendah daripada makanan hewani (daging, telur, susu) sehingga menguntungkan bagi mereka yang memiliki insufisiensi renal.
4. Kandungan zat kimia spt pestisida pada sayuran dan buah lebih mudah dihilangkan dengan cara mencucinya atau mengupas kulit buah. Kandungan hormon, antibiotik, nitrosamin dan benzpiren (dua terakhir zat karsinogenik) dalam daging tidak mudah dihilangkan.
5. Sayuran dan buah yg berwarna mengandung fitokimia pangan dan antioksidan yg berkhasiat bagi tubuh. Contoh fitokimia makanan: lycopene, resveratrol, lutein dll. Contoh antioksidan: antosianin (hitam/biru gelap spt anggur hitam), zeaxanthin (merah tua spt jambu merah atau buah naga merah), klorofil (hijau spt kiwi, melon, brokoli), beta-karoten (merah jingga spt wortel, pepaya, mangga) dan lycopene (kuning kemerahan seperti tomat).

Dr Andry Hartono, DAN.SpGK

Tempe Sebagai Sumber B12

Makanan vegetarian termasuk tempe yg menjadi sumber protein utama dalam diet vegetarian secara umum kurang mengandung vitamin B12. Akibat kekurangan B12 adalah anemia pernisiosa dan homosisteinemia. Homosistein merupakan produk konversi sistein yang berpengaruh buruk bagi pembuluh darah dan tergolong ke dalam faktor risiko penyakit Jantung Koroner (PJK) spt halnya LDL kolesterol. Vitamin B12, asam folat dan B6 mencegah konversi sistein menjadi homosistein.

B12 dalam tempe sering dianggap diproduksi oleh kapang Rhizopus yg mengubah kedelai menjadi tempe. Menurut DR Susianto, Ketua IVS Asia Pasifik, sebenarnya B12 dihasilkan oleh bakteri Lactobacillus leichmannii yg ikut tumbuh dalam proses pembuatan tempe. Konsumsi 150 g tempe (6 potong tempe yg tiap2 potongnya seukuran kotak korek api), menurut disertasi DR Susianto, sudah dapat mencegah insidensi anemia defisiensi B12 yg sering ditemukan di antara para vegetarian dan orang-orang yg kurang mengonsumsi produk makanan hewani seperti daging. Sumber B12 lainnya dalam makanan vegan adalah rumput laut atau ganggang laut dan plankton.

Selain memberikan B12, tempe juga dapat menurunkan kadar gula darah 3 jam sesudah makan. Penurunan ini diperkirakan terjadi krn efek antitripsin dalam kedelai yg mendorong pankreas utk lebih banyak menghasilkan bukan hanya enzim tripsin tetapi juga hormon insulin. Kandungan antosianin dalam kedelai hitam juga diperkirakan dapat mencegah glikosilasi hemoglobin (HbA1c) pada diabetes. Glikosilasi ini membuat sel darah merah tidak mampu membawa oksigen kendati sel tersebut masih hidup.

dr Andry
Klinik MCU
RS Panti Rapih
Yogyakarta

Gout Arthritis

Peradangan sendi gout arthritis yang disebabkan penumpukan asam urat seringkali menimbulkan rasa sakit luar biasa. Nyeri ini disebabkan oleh kristal asam urat yg berbentuk spt jarum. Biasanya kristal asam urat terbentuk pada persendian jempol kaki dan jari-jari atau tulang2 kecil kaki (metatarsal dan tarsal). Selain itu, asam urat juga dapat mengendap dalam ginjal shg terbentuk batu asam urat.

Serangan asam urat bisa terjadi dalam hitungan hari atau bulan. Pria dan penyandang obesitas adalah kelompok yang berisiko tinggi mengalami kenaikan asam urat atau hiperurisemia. Sebenarnya, nyeri akibat asam urat bisa dicegah dengan mengatur keseimbangan kerja, olahraga dan istirahat di samping menghindari makanan tertentu.

Asam urat berasal dari purin yg banyak terdapat dalam daging merah termasuk otot kita sendiri. Jika aktivitas fisik kita terlalu berat (ditandai oleh rasa pegal) sementara kita juga kurang minum dan air seni kita terlalu asam krn banyak mengonsumsi daging, lemak dan alkohol, maka terjadilah kenaikan kadar asam urat (di atas 7 utk pria dan 5,5 utk wanita) yg bisa dgn atau tanpa nyeri sendi akibat pengendapan kristal asam urat. Kadar asam urat pria lebih tinggi dari wanita krn massa ototnya lebih besar.

Ada beberapa makanan yang sebaiknya tidak Anda konsumsi atau setidaknya harus dikurangi porsinya agar nyeri akibat asam urat bisa dicegah. Apa saja makanan tersebut?

– Jamur kering
Jamur mengandung purin yg tinggi tetapi jamur kering jauh lebih tinggi lagi krn dengan pengeringan, purin lebih terkonsentrasi dg jumlah yg jauh lebih besar.

– Tape
Keberadaan ragi yg memfermentasikan karbohidrat menjadi asam laktat dan alkohol bukan hanya meningkatkan kandungan purin tapi juga membuat air seni lebih asam sehingga asam urat mengendap sebagai kristal dan tidak bisa dibuang keluar oleh ginjal.

– Kerang
Untuk mengurangi risiko munculnya nyeri asam urat, Anda harus mengurangi konsumsi daging kerang. Saran ini dikemukakan Lona Sandon, asisten profesor gizi klinik di University of Texas Southwestern Medical Center, Amerika Serikat.

“Hewan laut satu ini sangat kaya akan purin, yang oleh tubuh akan dipecah menjadi asam urat. Jika ingin mengonsumsinya, sebaiknya jangan terlalu banyak,” kata Sandon, seperti dikutip dari Health.com

– Alkohol

Minum minuman beralkohol akan meningkatkan risiko serangan asam urat hingga dua kali lipat. Alkohol tidak hanya meningkatkan asam urat tetapi juga membuat tubuh makin sulit membersihkannya dari sistem ekskresi spt ginjal. Jika memang ingin minum, lebih baik pilih red wine yg mengandung resveratrol antioksidan pencegah pembentukan asam urat. Minum bir hanya membuat nyeri asam urat makin parah.

– Daging merah dan jerohan

Seperti dikatakan sebelumnya daging kaya akan purin. Namun tidak semua daging memiliki kadar purin yang sama. Daging putih biasanya lebih sehat daripada daging merah. Sebenarnya tidak masalah jika Anda mengonsumsi daging merah, tetapi pastikan jangan terlalu sering dan jangan meminum kaldu atau kuahnya yg kental.

– Minuman manis

Hindari konsumsi minuman manis yg mengandung sukrosa dan fruktosa yg tinggi seperti soft drink atau jus buah kemasan. Pemanis buatan yang terkandung di dalamnya juga membuat tubuh lebih banyak memproduksi asam urat. Penelitian menunjukan pria yang mengonsumsi banyak minuman berfruktosa tinggi berisiko lebih tinggi terkena asam urat. Namun demikian, soda water yg hanya mengandung natrium bikarbonat tanpa gula akan melarutkan kristal asam urat shg kristal tsb dapat diekskresikan ke dalam air seni.

– Asparagus

Asparagus, kembang kol, bayam dan jamur basah mengandung lebih banyak purin dibandingkan sayuran lainnya. Tetapi jika Anda tidak terlalu banyak mengonsumsinya, tidak masalah. Menurut Sandon, tubuh juga sebenarnya lebih mudah mengeluarkan purin yang bersumber dari bahan nabati. Hal yg sama juga terjadi pada kacang dan emping.

– Daging burung. Burung yg terbang terus dan jarang minum spt angsa liar juga kaya akan purin krn hewan tsb dapat menyimpan purin dan asam urat dalam tubuhnya sbg bahan utk membentuk alantoin (bagian dari kuning telur).

– Sarden
Selain kandungan purin yg tinggi, ikan sardine yg dikalengkan juga mengandung kuah atau kaldu yang dapat membuat air seni menjadi asam.

Singkatan utk mengingat makanan yg harus dikurangi konsumsinya adalah JASBUKET yg tdd: Jerohan dan Jamur kering, Asparagus, Alkohol, Sarden, Sayuran yg tumbuh cepat spt jamur serta bayem, Burung, Kaldu, Kacang, Emping, dan Tape.

Manajemen Gizi pada Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik merupakan keadaan pradiabetes dengan ciri-ciri:
1. Gemuk dgn perut buncit
2. Kadar trigliserid di atas 175 mg/dl
3. Kadar kolesterol LDL di atas 150 mg/dl
4. Kadar kolesterol HDL di bawah 45 mg/dl
5. Tekanan darah di atas 140/90 mmHg.
Jika ada 3 dari 5 tanda ini, diagnosis sindrom metabolik sudah dapat dibuat. Karena 2/3 kasus SM akan menjadi pasien diabetes (DM), maka diperlukan perubahan gaya hidup termasuk pola makan.

Penurunan berat badan

Hindari berat badan yang berlebihan dengan timbunan lemak di perut. Salah satu diet yg efektif untuk menurunkan berat badan adalah diet vegetarian karena makanan yang tadi protein nabati seperti kacang-kacangan serta jamur,  dengan sayuran buah, dan sereal, biji-bijian serta umbi-umbian sebagai makanan sumber energi banyak mengandung serat dengan KH kompleks tapi tanpa lemak jenuh spt halnya pada protein hewani. Karena itu para penganut vegetarian umumnya bertubuh ramping (slim).

Hindari asupan lemak yang berlebihan

Pola masak dengan menggoreng memakai banyak minyak menjadi salah satu penyebab mengapa SM terjadi. Karena itu ahli gizi selalu menganjurkan cara menumis dalam menggunakan minyak. Setengah hingga satu sendok makan minyak dapat dipakai untuk menumis sayuran, tahu atau tempe guna menghasilkan lauk untuk makan 2 orang dewasa. Sementara itu, ikan, ayam dan telur sebaiknya dimasak kuah seperti sup, soto dan rawon.

Menggunakan minyak tak-jenuh

Gajih, jerohan, minyak kelapa dan santan yg kental, margarin, jelantah dan minyak sawit perlu dihindari saat memasak hidangan bagi pasien SM, DM dan dislipidemia. Sebagai pengganti bisa digunakan minyak tak-jenuh spt minyak kedelai dan minyak jagung. Utk dressing dapat digunakan minyak zaitun, minyak kacang dan minyak kanola yg kaya akan omega-9 atau MUFA. Alpukat dan mete juga merupakan sumber omega-9.

Karena omega-9 memiliki titik asap yg rendah, sebaiknya minyak ini tidak dipakai utk menumis atau menggoreng tapi sbg dressing salad atau campuran juice/blender. Omega-9 diyakini dapat menaikkan kadar kolesterol yg baik (HDL).

Sementara itu VCO bisa digunakan dalam diet SM krn sekalipun jenuh, minyak kelapa jernih kaya akan asam laurat yang memiliki rantai karbon pendek dengan peranan tersendiri. Sedangkan minyak kelapa yg keruh kaya akan asam miristat yg harus dihindari dalam diet rendah kolesterol lemak terbatas.

Hindari  KH sederhana

Selain gula dan tepung, buah yg manis seperti sawo, mangga, duren, nangka, dan kelengkeng tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Makanan yg manis seperti madu, gula aren dan buah yg manis (apalagi dalam bentuk juice) mengandung fruktosa yang akan menaikkan kadar TG darah. Jadi, makanlah buah yg tidak begitu manis seperti apel, melon, belimbing dan jambu. Buatlah blender yg kaya akan serat ketimbang juice yg tidak mengandung serat. Buah kalengan dalam sirup jelas harus dihindari. Makanlah sedikitnya 3 porsi sayuran dan 2 porsi buah utk meningkatkan asupan serat.

Zat gizi yg baik bagi kesehatan jantung

Anti-oksidan: buah dan sayuran merupakan sumber antioksidan terbaik. Menu spt cap cay, sayur asam, urapan, trancam dan pecel merupakan pilihan yang baik karena kaya akan antioksidan yg ada di dalam warna sayuran atau buah. Hanya saja bumbu kacang yg digoreng dgn jelantah pada pecel tetap perlu dihindari dan diganti dgn bumbu kacang yg disangrai (atau dibuat dari kacang kulit). Kelapa muda yg parutannya dicampurkan dalam urapan atau trancam tidak banyak mengandung lemak spt santan kental.

Suplemen tidak perlu dikonsumsi selama kita makan buah dan sayuran. Bahkan sebuah penelitian di Finlandia terhadap sejumlah pria perokok yg minum suplemen alfa-tokoferol (vit E) dan beta-karoten memperlihatkan insidensi kanker paru 16% lebih tinggi daripada pria perokok yg tidak minum suplemen tsb. Kenaikan insidensi ini diperkirakan terjadi krn asupan beta-karoten yg tinggi pada populasi yg berisiko terkena kanker paru itu.
Jadi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan buah dan sayuran tidak bisa digantikan dengan suplemen.

Omega-3

Asam lemak omega 3 merupakan asam lemak  esensial. Asupan yg cukup lewat dua atau tiga porsi hidangan ikan segar akan memberikan 1 sampai 6 gram omega-3 yg cukup utk mencegah gangguan pemb darah spt pada serangan janntung koroner dan stroke. Jenis ikan yg kaya akan omega-3 a.l. salmon, sardin, teri basah, mackerel, tuna, herring dan ikan laut dingin lainnya. Ikan tawar di daerah tropis juga mengandung omega-3 kendati kadarnya lebih rendah.  Bagi para vegetarian, omega-3 dapat diperoleh dari rumput laut dan flax seed oil.

Kedelai

Tahu tempe merupakan sumber  isoflavon (fitokimia pangan) yg paling baik. Konsumsi kedelai diyakini memberikan pengaruh yg baik bagi kesehatan jantung. Mengganti protein hewani dgn protein kedelai dalam diet yg seimbang akan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan TG dalam darah. Asupan  25 g protein kedelai (yg ada dalam 150 g tempe) dilaporkan dapat menurunkan risiko terkena serangan jantung koroner. Krn itu ahli gizi umumnya menganjurkan para penyandang SM, DM dan dislipidemia untuk mengonsumsi 150 gram tempe per hari.

Sumber referensi:

Buku Terapi Gizi dan Diet, Penerbit EGC, Jakarta

NICUS
Nutrition Information Centre
University of Stellenbosch
Division of Human Nutrition
P.O. Box 19063 Tygerberg, 7505
Tel: (27) 021-933 1408
Fax: (27) 021-933 1405
E- mail: nicus@sun.ac.za
Website: www.sun.ac.za/nicus/

Dr Andry Hartono, SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik RS Panti Rapih

Diet Vegan Mengurangi Risiko Diabetes

Penelitian terakhir the Adventist Health Study memperlihatkan penurunan risiko terkena DM yg signifikan pada kelompok vegan jika dibandingkan pada kelompok pemakan daging (nonvegan). Dari populasi ~60 000 pria dan wanita pengikut diet vegan yg diteliti dalam penelitian tsb ditemukan prevalensi diabetes lebih-kurang sepertiga dari prevalensi DM pada nonvegan (2.9% vs 7.6%), sementara kelompok lakto-ovo vegetarian (vegan yg masih makan telur dan produk susu), pesco-vegetarian (vegan. yg juga makan ikan), dan  semivegetarian (vegan yg makan ikan atau unggas kurang dari sekali seminggu), memiliki prevalensi DM di antaranya, yaitu masing2 sebesar 3.2%, 4.8%, and 6.1%.

Mengapa demikian ?

Ada beberapa hipotesis yg dikemukakan utk menjelaskan hasil penelitian di atas. Dalam hal ini makanan vegan yg dimaksud berupa makanan alami yang tadu biji-bijian utuh dan sereal sebagai sumber KH, kacang-kacangan sebagai sumber protein, sayur dan buah. Jadi bukan tepung gandum, roti atau mie dan makanan olahan lain termasuk gluten dari tepung terigu yang dijadikan bahan pangan pengganti daging.

Hipotesis tsb a.l.

1. Kelompok vegan memiliki profil lipid yg lebih baik daripada nonvegan mengingat makanan vegan tidak mengandung kolesterol (yg menjadi ciri lemak hewani krn senyawa sterol dlm nabati adalah fitosterol atau sitosterol yg justeru mampu menurunkan kadar kolesterol darah) tapi kaya akan serat. Sebaliknya makanan hewani kaya akan kolesterol tapi tidak mengandung serat.

Gangguan pada profil lipid (dislipidemia) ternyata meningkatkan risiko terkena gangguan metabolisme KH yg kita kenal sebagai penyakit DM.

2. Serat solubel dalam makanan vegan bukan hanya menurunkan indeks glisemik makanan (IG mengukur berapa besar kenaikan kadar gula darah setelah seseorang makan makanan tertentu dibandingkan gula glukosa) tetapi juga menghambat kerja enzim termasuk alfa-glikosidase yg memfasilitasi penyerapan gula di dalam usus.

Asupan serat yg tinggi juga memperlambat pengosongan lambung dan menurunkan kadar gula darah sesudah makan di samping mengurangi pula respons insulin (mencegah hipoglikemia pada pasien DM).

3. Kelompok vegan ternyata memiliki tubuh yg lebih ramping daripada nonvegan. Dalam penelitian di atas, indeks massa tubuh (BMI atau body mass index) pada vegan rata-rata sebesar   23.6 (di bawah nilai 25 yg menjadi batas kegemukan pada orang barat) sedangkan BMI rata2 pada nonvegan adalah 28.8 (di atas nilai 25). Orang yg gemuk memiliki risiko terkena pradiabetes (sindrom metabolik) dibandingkan orang yg tubuhnya normal yaitu BMI antara 18 dan 25.

4. Senyawa heme yg banyak dalam daging ternyata dapat menjadi radikal bebas yg merusak sel beta penghasil insulin dalam pankreas. Sebaliknya heme atau zat besi organik dalam sayuran dan kacang2an yg berwarna merah (bit merah, bayam merah dan kacang polong) tidak sebanyak daging shg mengurangi bahaya radikal bebas di dalam tubuh.

5. Daging sering mengandung nitrosamin yg merupakan hasil penguraian bahan pengawet daging sodium nitrit ketika daging itu dibakar atau digoreng. Nitrosamin bukan hanya menyebabkan kanker tapi juga dapat merusak sel beta.

Nitrosamin ditemukan bersifat toksik bagi sel beta pankreas dan meningkatkan risiko DM tipe 1 dan tipe 2 pada percobaan binatang dan risiko DM tipe 1 pada beberapa penelitian epidemiologi.

6. Makanan nabati umumnya kaya akan magnesium krn kandungan klorofilnya. Ingat, hemoglobin dan mioglobin dalam sel darah merah dan otot/daging memiliki inti zat besi yg membuatnya berwarna merah sementara klorofil dalam sayuran hijau dan kacang hijau memiliki inti magnesium yg membuatnya berwarna hijau.

Korelasi terbalik antara risiko DM dan asupan magnesium mungkin disebabkan oleh efeknya pada sensitivitas insulin, kerja insulin, dan metabolisme glukosa.

 

Sumber referensi:

Kate Marsh, PhD; Jennie Brand-miller, PhD,
Vegetarian Diets and Diabetes,  Am J Lifestyle Med. 2011;5(2):135-143. © 2011 Sage Publications, Inc.

 

Pengapuran Sendi: Penyebab Utama Nyeri Sendi pada Wanita

Hampir semua orang pernah mengalami nyeri sendi. Masyarakat sering keliru menganggap semua nyeri sendi disebabkan oleh asam urat atau penyakit rematik. Kedua penyakit ini memang dapat menyebabkan nyeri sendi, tetapi sebenarnya jarang terjadi.

Penyakit lain yang sering dianggap dapat mengakibatkan nyeri sendi adalah kolesterol dan osteoporosis. Anggapan tersebut keliru karena kolesterol dan osteoporosis tidak pernah menyebabkan nyeri sendi.

Penyebab utama nyeri sendi pada usia di atas 45 tahun, khususnya lutut dan pinggul, adalah pengapuran sendi. Pada usia di bawah 45 tahun, penyebab utama nyeri sendi adalah peradangan otot akibat aktivitas fisik yang berlebihan atau karena cidera olah raga.

Pengapuran sendi atau osteoartritis adalah suatu penyakit di mana tulang rawan sendi menipis. Tulang rawan berfungsi melapisi ujung tulang pembentuk sendi, sehingga sendi dapat bergerak bebas tanpa rasa nyeri.

Fungsi tulang rawan sendi dapat diibaratkan seperti fungsi ban yang melapisi velg kendaraan sehingga mobil dapat bergerak bebas tanpa hambatan. Sama seperti ban mobil yang akan menipis karena aus akibat bergesekan dengan jalan, demikian juga tulang rawan sendi akan aus dan menipis karena saling bergesekan setiap kali sendi bergerak.

Jika tulang rawan sendi rusak dan menipis, ujung tulang pembentuk sendi akan saling bertemu dan bergesekan langsung tanpa pelapis tulang rawan, sehingga menimbulkan nyeri sendi.

Penyebab

Penyebab penipisan tulang rawan pada pengapuran sendi tidak diketahui secara pasti dan dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Setiap orang akan mengalami pengapuran sendi dengan derajad yang berbeda-beda.

Selain sebagai bagian dari proses penuaan,  pengapuran sendi dipandang sebagai akibat dari beberapa faktor resiko sebagai berikut: (1) wanita berusia lebih dari 45 tahun; (2) kelebihan berat badan; (3) aktifitas fisik yang berlebihan, seperti para olah-ragawan dan pekerja kasar; (4) menderita kelemahan otot paha; atau (5) pernah mengalami patah tulang di sekitar sendi yang tidak mendapatkan perawatan yang tepat.

Gejala-Gejala

Gejala pengapuran sendi stadium dini biasanya berupa nyeri dan  kekakuan sendi setelah lama tidak bergerak, seperti setelah bangun tidur  atau setelah duduk dalam waktu lama. Sendi lutut juga terasa sakit jika digunakan untuk berjalan, naik-turun tangga, atau berjongkok. Sering terdengar bunyi “krek-krek” pada saat sendi lutut digerakkan.

Pada stadium lanjut, selain rasa sakit yang semakin hebat, sendi  lutut menjadi bengkok seperti huruf O atau huruf X.

Pada foto Rontgen, celah sendi lutut yang mengalami pengapuran sendi tampak lebih sempit dibanding celah sendi yang normal.

Derajad penyempitan celah sendi pada foto Rontgen inilah yang digunakan untuk menentukan berat ringannya (stadium) pengapuran sendi. Ada 4 stadium pengapuran sendi, yaitu stadium 1 dan 2 dikategorikan sebagai pengapuran sendi ringan, sedangkan stadium 3 dan 4 sebagai pengapuran sendi berat.

Pada stadium 1, celah sendi masih normal lebar, tetapi ada rasa nyeri pada sendi lutut. Celah sendi pada stadium 2 lebih sempit dibanding normal. Sementara pada stadium 3, celah sendi sangat sempit dan pada stadium 4, celah sendi menutup; keadaan ini disebabkan karena lapisan tulang rawan yang melapisi ujung tulang dan “mengisi” celah sendi telah hilang sama sekali.

Pengobatan.

Pengobatan tergantung pada stadium pengapuran sendi. Pengobatan untuk pengapuran sendi derajad ringan (yaitu stadium 1 dan 2) terdiri atas (1) menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan, (2) latihan untuk menguatkan otot paha dan pinggul serta untuk menjaga kebugaran tubuh, seperti berenang dan naik sepeda, (3) obat anti-radang dan anti-nyeri, (4) suplemen yang mengandung glukosamin untuk menumbuhkan tulang rawan, serta (5) obat pelumas sendi yang mengandung asam hialuronat dan yang perlu disuntikkan ke dalam sendi. Orang awam sering menyebut obat yang terakhir tersebut sebagai penambah ”oli sendi”.

Suntikan obat pelumas sendi hanya bermanfaat untuk pengapuran sendi ringan (stadium 1 dan 2). Untuk pengapuran sendi berat (stadium 3 dan 4) obat tersebut tidak bermanfaat karena tulang rawan sendi pada umumnya tidak hanya menipis, tetapi telah hilang sama sekali sehingga tidak ada lagi tulang rawan yang tersisa untuk  dilumasi lagi.

Cukup banyak pasien yang kecewa telah mendapat suntikan obat pelumas sendi, tetapi tidak sembuh. Banyak diantaranya mendapat suntikan 5 sampai 10 kali pada kedua lututnya, tetapi tetap terasa nyeri. Hal ini disebabkan karena mereka telah mengalami pengapuran sendi stadium 3 atau 4 sehingga obat pelumas sendi tidak bermanfaat.

Oleh karena itu, bentuk pengobatan non-operasi tersebut di atas biasanya hanya bermanfaat untuk pengapuran sendi  ringan (stadium 1 dan 2) dan tidak memberikan hasil yang memuaskan untuk derajad yang berat. Untuk pengapuran sendi berat (yaitu, stadium 3 dan 4), pilihan pengobatan terbaik yang tersedia adalah operasi penggantian sendi.

Operasi Penggantian Sendi

Operasi penggantian sendi adalah operasi yang dilakukan untuk mengganti sendi yang telah rusak dengan sendi buatan yang disebut prostesis. Operasi penggantian sendi paling banyak dilakukan pada sendi lutu dan sendi pinggul karena kedua sendi tersebut paling sering mengalami kerusakan akibat pengapuran sendi.

Pencegahan

Karena sebagai bagian dari proses penuaan, pengapuran sendi sebenarnya tidak dapat dicegah. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi resiko timbulnya pengapuran sendi, dengan cara (1) menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan, (2) tidak melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat, (3) segera memeriksakan diri jika menderita nyeri sendi agar pengapuran sendi stadium ringan dapat dicegah tidak bertambah buruk menjadi stadium berat.

Nyeri Sendi

Sebagian besar masyarakat (dan bahkan beberapa dokter) memiliki anggapan  yang keliru bahwa semua nyeri sendi diakibatkan oleh penyakit rematik atau asam urat. Penyakit lain yang sering dianggap secara salah sebagai penyebab nyeri sendi adalah kolesterol, osteoporosis dan bahkan “flu tulang”.

Penyakit rematik dan asam urat memang dapat menyebabkan nyeri sendi, akan tetapi sebenarnya tidak banyak nyeri sendi yang disebabkan oleh penyakit rematik dan asam urat. Atau dengan kata lain, sebagian besar nyeri sendi yang dialami oleh masyarakat tidak disebabkan oleh penyakit rematik atau asam urat, tetapi oleh penyakit lainnya.

Kolesterol dan osteoporosis tidak pernah menyebabkan nyeri sendi. Sungguh memprihatinkan bahwa cukup banyak dokter (dan tentu masyarakat awam) yang beranggapan secara keliru bahwa kadar kolesterol yang tinggi  dan osteoporosis dapat menyebabkan nyeri sendi. Banyak dokter yang melakukan pemeriksaan kadar kolesterol dan trigliserid serta pemeriksaan osteoporosis pada pasien dengan keluhan nyeri sendi. Pemeriksaan semacam itu tentu saja tidak bermanfaat dan hanya merupakan pemborosan uang saja.

Sementara itu, ”flu tulang” merupakan istilah yang salah kaprah, karena tulang tidak pernah mengalami ”flu”. Nyeri persendian yang dialami mereka yang sedang mengidap ”flu” sebenarnya adalah bagian dari gejala-gejala infeksi akut yang disebabkan oleh virus, bukan karena tulang mengalami ”flu”.

Anggapan yang salah akan menyebabkan salah diagnosis dan salah pengobatan. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila cukup banyak nyeri sendi yang tidak sembuh meskipun telah memperoleh pengobatan dari dokter, karena didasarkan pada diagnosis dan pengobatan yang salah.

Pendapat bahwa nyeri sendi berarti penyakit rematik dan asam urat harus mulai ditinggalkan. Ada banyak penyakit lain yang jauh lebih sering menyebabkan nyeri sendi dibanding penyakit rematik dan asam urat.

NYERI SENDI JARI-JARI TANGAN

Nyeri sendi jari-jari tangan dapat disebabkan oleh penyakit rematik. Namun demikian, jangan terburu-buru menganggap semua nyeri pada sendi jari-jari dan pergelangan tangan selalu disebabkan oleh penyakit rematik.

Rematik adalah penyakit di mana terjadi peradangan bagian dalam kapsul sendi akibat adanya antibodi tidak normal yang justru menyerang bagian tubuh sendiri, yaitu kapsul sendi. Penyakit rematik memang terutama menyerang sendi-sendi jari-jari dan pergelangan tangan. Namun demikian, penyakit rematik lazim menyerang lebih dari tiga sendi serta mengenai kedua tangan kanan dan kiri secara simetris pada waktu yang bersamaan. Penyakit rematik hampir tidak pernah menyebabkan nyeri hanya pada satu sendi saja.

Ada beberapa penyakit lain yang lebih sering menyebabkan nyeri sendi di daerah tangan dibanding penyakit rematik, yaitu penyakit trigger finger, penyakit de Quervain, dan carpal tunnel syndrome. Ketiga penyakit ini lebih sering mengenai wanita dibanding laki-laki.

Penyakit trigger finger terjadi akibat terjepitnya otot jari-jari di daerah telapak tangan.. Gejala yang khas adalah adanya nyeri pada pangkal jari tangan, terutama jika jari-jari digunakan untuk menggenggam. Jari sering seperti ”tersangkut” pada saat dilipat dan terasa nyeri jika diluruskan kembali.

Penyakit De Quervain timbul akibat terjepitnya otot ibu jari tangan. Nyeri terasa di daerah pergelangan tangan di sebelah atas pangkal ibu jari. Rasa nyeri timbul pada saat tangan dipakai menggenggam atau mengangkat sesuatu, misalnya gayung untuk mandi.

Penyebab lain nyeri jari-jari tangan adalah Carpal tunnel syndrome (CTS) yang disebabkan  terjepitnya saraf medianus di daerah pergelangan tangan.  Gejala CTS yang lebih menonjol dibanding rasa nyeri adalah rasa tebal dan kesemutan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah dan manis; jari kelinking tidak mengalami gejala semacam itu.

Sekali lagi, ketiga penyakit tersebut di atas jauh lebih sering mengakibatkan nyeri sendi jari-jari dan pergelangan tangan dibanding rematik dan asam urat.

NYERI SENDI KAKI

Selain rematik, asam urat sering dituduh sebagai penyebab nyeri sendi. Asam urat jika menumpuk di dalam sendi memang dapat menyebabkan peradangan dan nyeri sendi. Akan tetapi, sekitar 90% nyeri sendi yang disebabkan oleh asam urat hanya menyerang sendi pangkal ibu jari kaki.

Dengan kata lain, satu-satunya nyeri sendi yang dapat dihubungkan dengan asam urat adalah nyeri sendi yang mengenai pangkal ibu jari kaki. Asam urat jarang mengakibatkan nyeri pada sendi yang lain.

Penyebab utama nyeri di daerah kaki adalah plantar fasciitis dan Achilles  tendonitis, bukan asam urat atau rematik. Kedua penyakit ini disebabkan oleh peradangan otot di daerah kaki.

Plantar fasciitis menyebabkan nyeri pada telapak kaki, khususnya ketika bangun pada pagi hari yang biasanya berkurang setelah kaki digunakan berjalan beberapa waktu. Sementara Achilles tendonitis menyebabkan nyeri pada ujung belakang tumit. Kedua penyakit ini bukan merupakan penyakit rematik.

NYERI SENDI BAHU & SIKU

Nyeri bahu paling sering diakibatkan oleh penyakit shoulder impingement, yaitu suatu penyakit akibat peradangan otot di dalam sendi bahu. Gejala penyakit ini adalah bahu terasa nyeri jika lengan diangkat ke arah atas atau ke arah belakang. Penderita mengalami kesulitan melakukan gerakan tertentu, seperti menyisir, mengangkat gayung atau memakai kaos.

Ada dua penyakit penyebab nyeri sendi siku. Penyakit tennis elbow menyebabkan nyeri di daerah sisi luar sendi siku, sementara golfer’s elbow mengakibatkan nyeri pada sisi dalam sendi siku. Sama seperti shoulder impingement, kedua penyakit ini disebabkan oleh peradangan otot akibat peregangan otot secara berlebihan, bukan karena penyakit rematik atau asam urat.

NYERI PINGGUL & LUTUT

Sendi pinggul dan lutut adalah dua sendi yang paling sering terasa nyeri karena paling banyak menerima beban. Penyebab utama nyeri kedua sendi tersebut juga bukan penyakit rematik atau asam urat.

Pada usia di bawah 45 tahun, penyebab utama nyeri kedua sendi ini adalah peradangan otot dan kapsul pembungkus sendi akibat peregangan yang berlebihan, seperti misalnya karena olah raga atau terpeleset. Sementara di atas umur 45 tahun, penyebab utama  nyeri kedua sendi tersebut adalah pengapuran sendi (osteoartritis), bukan, penyakit rematik atau asam urat, seperti keyakinan banyak orang

Pengapuran sendi merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh menipisnya tulang rawan sendi. Tulang rawan berfungsi melapisi setiap ujung tulang pembentuk sendi, sehingga sendi dapat bergerak bebas tanpa rasa sakit. Jika tulang rawan tersebut menipis, ujung tulang tidak dilapisi lagi oleh tulang rawan dan akan saling bergesekan secara langsung sehingga mengakibatkan rasa nyeri.

Gejala Pengapuran Sendi

Gejala pengapuran sendi stadium dini biasanya berupa nyeri dan kekakuan sendi setelah lama tidak bergerak, seperti setelah  bangun tidur atau duduk dalam waktu yang lama. Sendi lutut juga terasa sakit apabila digunakan beraktivitas, seperti berjalan dalam waktu yang lama, naik-turun tangga, atau berjongkok. Sering terdengar bunyi “krek-krek” pada saat sendi lutut digerakkan.

Pada stadium yang lebih berat, rasa sakit tidak hanya dirasakan ketika beraktivitas, tetapi juga pada saat istirahat. Pada stadium yang lanjut, selain rasa sakit yang semakin hebat, sendi lutut menjadi kaku dan bengkok seperti huruf O atau huruf X. Penderita pengapuran sendi yang berat lazim berjalan pincang.

Pada foto Rontgen, celah sendi yang mengalami pengapuran sendi tampak lebih sempit dibanding celah sendi yang normal sebagai akibat penipisan tulang rawan sendi. Hasil foto Rontgen inilah yang lazim digunakan untuk menentukan berat ringannya (stadium) pengapuran sendi. Ada 4 stadium pengapuran sendi; stadium 1 dan 2 dikategorikan sebagai pengapuran sendi ringan, sementara stadium 3  dan 4 sebagai pengapuran sendi yang berat.

Pengobatan

Pengobatan pengapuran sendi berbeda-beda tergantung stadiumnya. Pengapuran sendi derajad ringan (yaitu stadium 1 dan 2) masih dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, seperti menurunkan berat badan dan pemberian obat berupa (1) obat anti-radang dan anti-nyeri, (2)  suplemen yang mengandung glukosamin dan kondroitin sulfat untuk menumbuhkan tulang rawan, serta (3) obat pelumas sendi yang perlu disuntikkan ke dalam sendi.

Injeksi pelumas sendi dan glukosamin  hanya bermanfaat untuk pengapuran sendi derajad ringan (stadium 1 dan 2). Untuk pengapuran sendi derajad berat (stadium 3 dan 4) obat tersebut tidak bermanfaat karena tulang rawan sendi telah menipis dan bahkan hilang sama sekali sehingga tidak ada lagi tulang rawan yang tersisa untuk  dilumasi dan ditumbuhkan lagi.

Banyak pasien yang kecewa telah mendapat suntikan obat pelumas sendi, tetapi tidak sembuh. Banyak diantaranya mendapat suntikan 5 sampai 10 kali pada kedua lututnya, tetapi tetap terasa nyeri. Hal ini disebabkan karena mereka telah mengalami pengapuran sendi stadium 3 atau 4, sehingga bentuk pengobatan untuk stadium 1 dan 2 tersebut tidak bermanfaat lagi.