Bayi Jo & Gangguan Pendengaran

Anak imut nan menggemaskan dan aktif itu bernama Johanes Arjuna Mahardika Sihombing, dia seperti anak kebanyakan aktif tidak mau diam dan lucu. Putera pertama dari Cesilia Kurnia dan Sabat Immanuel Sihombing ini seperti anak kebanyakan, tak ada yang menyangka anak tampan tersebut harus sudah memakai alat bantu pendengaran di kedua telinganya.

Sang Ayah yang berprofesi sebagai marketing sebuah produk mobil Jepang kenamaan mulai merasa ganjil saat mengamati putera kesayangannya tersebut, yang tidak pernah merasa terganggu dengan suara sekeras apapun, si kecil Jo tdk pernah menoleh ke asal sumber suara, beruntung ia memiliki ayah yang peka dengan perkembangannya.Diskusi panjang antara ayah dengan sang ibu yg juga Perawat RS Panti Rapih yang bertugas di ruang anak ini kemudian menghasilkan kesepakatan bahwa mereka harus melakukan cek up terhadap Putera kesayangan mereka.

Mereka membawa putranya ke RS Panti Rapih menemui dr. Agus Surono, PhD, M.Sc, Sp. THT – KL. Hasil konsultasi dan pemeriksaan, dokter menyarankan untuk pemeriksaan OAE. OAE (Oto Accoustic Emission) adalah skrining (deteksi dini) atau tes pendengaran bayi baru lahir yang menangkap emisi pada koklea, dan hasilnya adalah REFER yg artinya tidak ada respon suara sama sekali pada kedua telinganya. Tak dapat dipungkiri kekecewaan dan kesedihan meliputi hati orang tua Jo, bayi yang dilahirkan spontan pada tanggal 11 September 2017 dengan berat badan 2325 gr.

Orang tua Jo segera menempuh langkah langkah untuk penegakan diagnosa supaya gangguan pendengaran yang di alami putranya tidak menghambat tumbung kembang Jo.

Orang tua Jo menemui dr. Ashadi P, M.Sc, Sp. THT – KL di RS Panti Rapih, dan dokter menyarankan untuk pemeriksaan lanjutan BERA. Brain Evoked Response Auditory (BERA) adalah pemeriksaan pendengaran yang dilakukan pada anak umur 1-3 tahun dan ASSR (Auditory Steady-State Response) adalah sebuah pemeriksaan pendengaran objektif, hasilnya pun menunjukan bahwa Jo mengalami Profound Hearing Loss / Gangguan Pendengaran kategori Berat yaitu di tingkat >110 db pada telinga kanan maupun yg kiri.

Menurut Nia demikian ibu Jo biasa dipanggil, penyebab Jo mengalami gangguan pendengaran seperti penjelasan dokter adalah akibat terserang virus rubella saat masa kehamilan. Ibu Jo mengungkapkan selama masa kehamilan yang dirasakan adalah gatal – gatal diseluruh tubuh yang dialami selama 9 bulan penuh dimasa kehamilannya. Ibu muda berusia 30 thn ini mengatakan tidak mengetahui jika terdapat virus rubella saat mengandung Jo, ia merasa biasa – biasa saja, hingga kemudian ia menyadari putranya tersebut mengalami gangguan pendengaran.

Menurut beberapa sumber, hal yang sering menjadi penyebab gangguan pendengaran pada anak adalah saat hamil si ibu mendapat serangan virus misal campak, cacar, rubella, cacar air atau varicella dan virus-virus lain termasuk infeksi gondong. Jika salah satu atau beberapa virus ini menyerang ibu hamil, anak berisiko terkena total deafness atau gangguan pendengaran.
Gangguan pendengaran pada anak

umumnya sulit untuk disadari oleh orang tua maupun orang lain yang berinteraksi dengan si bayi. Orangtua seringnya tidak menyadari bayi mereka mengalami gangguan pendengaran hingga saat anak mulai bertambah usia mulai bertanya tanya kok anaknya sudah mulai besar tapi belum juga lancar bicara. Gangguan pendengaran sejak masa bayi atau balita akan berpengaruh pada kemampuan berbahasa, sosial, dan emosionalnya.

Menurut Nia, dr. Agus Surono, PhD, M.Sc, Sp. THT – KHL membenarkan bahwa gangguan pendengaran yang teratasi dengan alat bantu dengar seawal mungkin akan mencegah anak menjadi gagap dan bahkan bisu, namun tidak semua anak yang menggunakan alat bantu pendengaran bisa mendengar dan berbicara maksimal seperti yang diharapkan, ada solusi lain selain menggunakan ABD ( alat batu dengar ) yaitu dengan Operasi Implan Koklea, tetapi itupun juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Saat ini Jo pun telah memakai alat bantu dengar di kedua telinganya, orang tua Jo berharap tumbuh kembang putra mereka akan seperti anak – anak biasa lainnya. Maka mengapa alat bantu dengar sangat di perlukan sejak dini seperti halnya pada bayi Jo, yang sejak usia 12 bulan sudah memakai alat bantu dengar. Kini Jo bisa mendengar suara dan berisiknya dunia, dunia bayi lucu itu tidak lagi sunyi dan si bayi yang adalah harapan kedua orang tuanya akan tumbuh sehat sempurna sekalipun mengalami gangguan pendengaran.

Setiap tanggal 3 Maret diperingati sebagai World Hearing Day (WHD) atau Hari Pendengaran Sedunia. Pendengaran yang sehat berawal dari telinga sehat. Pendengaran yang sehat akan meningkatkan kualitas hidup dan produktifitas untuk mencapai kebahagiaan. Oleh sebab itu setiap orang tua hendaknya melakukan pemeriksaan/deteksi dini adanya gangguan pendengaran pada anak anak sejak dini.
Berdasarkan data WHO diperkirakan ada sekitar 360 juta (5.3%) orang di dunia mengalami gangguan cacat pendengaran, 328 juta (91%) diantaranya adalah orang dewasa (183 juta laki-laki, 145 juta perempuan) dan 32 juta (9%) adalah anak-anak (data Kemenkes 2018).

Bayi Jo dan bayi – bayi yang lain yang mengalami gangguan pendengaran dan dideteksi sejak dini diharapan bakal tumbuh normal seperti anak anak biasa, jika anak yg lain memerlukan kacamata dan memakainya , begitupula Jo memakai alat bantu dengarnya dan ia terlihat keren dan tetap lucu.

Semoga kelak jadi anak harapan orang tua dan Tuhan, Johanes Arjuna Mahardika Sihombing.

Saat ini Nia juga menjadi salah satu anggota komunitas Rumah Ramah Rubella, dimana komunitas ini menjadi ajang berbagi antar ibu – ibu yang memiliki pengalaman yang sama.

 

Oleh :
Katharina indah Aryanti
(Perawat RS Panti Rapih Yogyakarta)
Dari berbagai sumber

Posted in KIA, Umum and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *