Pescetarian

Menurut John Hopkin School of Public Health, kebiasaan tidak makan daging 1 hari dalam seminggu akan mengurangi asupan lemak jenuh sebesar 15% dari diet seseorang. Pengurangan asupan daging dan produk hewani seperti telur serta susu dapat dijadikan salah satu cara bagi pemula diet vegan sebelum menjadi vegan murni. Pescetarianism merupakan salah satu bentuk diet lainnya bagi mereka yg belum dapat mengikuti diet vegetarian total atau murni di samping laktoovovegan. Istilah pescetarian atau pescovegetarian ini berasal dari kata Italia “pesce” yg artinya ikan dan kata Inggeris “vegetarian” yang artinya pemakan makanan nabati atau vegetables. Kamus Merriam-Webster menyebutkan tahun 1993 sebagai tahun memperkenalkan diet sayuran buah, kacang-kacangan dan sereal serta bijian dgn mengikutsertakan ikan dan makanan laut sebagai sumber protein hewani, omega-3, B12 dan zink. Diet ini sebenarnya merupakan diet mediteranian yg digunakan dalam diet DASH (Dietary Action to Stop Hypertension) yg mengikutsertakan pula minyak zaitun sebagai sumber lemak yg baik (MUFA atau omega-9) selain ikan, kacang-kacangan, biji2an/sereal dan sayuran-buah.

Sebuah meta-analisis di tahun 1999 terhadap 5 penelitian yang membandingkan angka kematian pada populasi vegetarian dengan non-vegetarian di negara-negara Barat mendapatkan bahwa angka kematian karena penyakit jantung iskemik lebih rendah 34% pada pescetarians, 34% pada ovo-lakto vegetarian, 26% pada vegan murni dan 20% pada semivegetarian atau kelompok yg makan daging sekali-sekali.

Terhadap diet pescetarian, sejumlah pakar kesehatan mengkhawatirkan adanya zat racun spt merkuri dan PCB pada makanan laut yg tercemar limbah kimia buangan pabrik dan kapal-kapal laut. Namun, pilihan ikan yg aman seperti ikan pegunungan (salmon) atau ikan air tawar (ikan emas, mujair dll) yang hidup alami dapat dilakukan utk mengurangi asupan zat racun tersebut di atas.

The Vegetarian Society, yang mulai mempopulerkan istilah vegetarian di tahun  1847, tidak menggolongkan kelompok  pescetarianism sebagai vegetarian. Namun demikian, diet pescetarian maupun semivegetarian (diet hanya makan protein hewani sekali seminggu) dapat menjadi diet antara sebelum seseorang bisa menjadi vegan murni.

Andryhart
See also: Category:Pescetarians, List of vegans, and List of vegetarians

Katering Diet Rumah Sakit Panti Rapih

Dengan semakin majunya perkembangan jaman, dan semakin besarnya tuntutan hidup maka memunculkan manusia-manusia modern yang dinamis dan aktif (busy person). Semakin sibuknya manusia maka memerlukan segala sesuatunya dengan cepat dan secara kasarnya sesuatu yang instan. Dan ini berkaitan juga dalam makanan, segala sesuatu diperlukan secara cepat dan instan, namun apakah segala sesuatu yang instan tersebut sudah memenuhi kebutuhan kalori tubuh dan yang paling penting adalah “apakah sudah sehat?”

Pertanyaan semacam ini sering terdengar dalam kehidupan kita. Khususnya masyarakat perkotaan yang lebih dinamis. Banyak sekali dikeluhkan oleh keluarga kita juga, khususnya bagi para ibu-ibu yang kurang memiliki waktu dalam rumah tangganya karena kesibukannya. Apakah makanan untuk keluarga sudah sehat? Apakah dengan makanan tersebut sudah baik buat anak kita? Pertanyaan yang sangat menimbulkan dilema.

Namun, sekarang tidak perlu cemas. Melihat hal tersebut, RS Panti Rapih mulai membuat program makanan bergizi yang dapat di pesan-antar (delivery). Dengan kualitas gizi yang terjamin dan mutu yang sudah dianjurkan oleh Ahli Gizi. Dengan biaya yang cukup terjangkau, keluarga Anda akan mendapatkan makanan sehat dan bergizi tinggi. Kami namakan program ini dengan sebutan “Katering Diet”. Dalam Katering Diet kami juga menyediakan makanan / menu khusus bagi penderita penyakit tertentu, yang dapat dilihat dalam daftar dibawah ini.

Berikut adalah daftar makanan diet (per porsi) :

1 Diabetes Melitus
2 Diet Hati
3 Diet Jantung
4 Rendah Kolesterol
5 Rendah Protein (ginjal)
6 Rendah Purin (asam urat)
7 Rendah Garam (hipertensi)
8 Makanan saring
9 Sum – sum
10 Makanan Cair (sonde) blenderize
11 Makanan Vegetarian
12 Rendah Kalori < 1500

Bagi yang tidak sempat datang ke RS Panti Rapih tidak perlu khawatir. Kami tersedia “Delivery Order” dilayani dengan biaya memperhitungkan jauh dekatnya jarak.
Delivery order hanya berlaku untuk pemesanan makan SIANG dan SORE.

Tersedia snack cookies untuk pasien DM (Diabetes Militus) dan kolesterol per topless yaitu :

  1. Sagu Keju
  2. Choco Coconut Cookies

Informasi lebih lanjut silakan menghubungi :

Instalasi Pelayanan Gizi
RS Panti Rapih Yogyakarta

Paronikia

Paronikia atau cantengen adalah infeksi jaringan lunak yang terdapat di sekitar kuku. Infeksi tersebut terdapat pada perionikium atau lipatan kulit yang menggantung pada sisi-sisi kuku. Kasus ini sering terjadi pada anak-anak yang memiliki kebiasaan suka menggigit kuku atau menghisap jari. Paronikia dibedakan menjadi akut dan kronik tergantung dari berapa lama infeksi terjadi.

Paronikia akut bisa menimbulkan nanah yang kebanyakan disebabkan oleh kuman Staphylococcus walaupun sering juga dijumpai campuran flora aerob dan anaerob. Sedangkan paronikia kronik lebih sering disebabkan oleh jamur.

Patofisiologi

Paronikia terjadi karena terbukanya barrier pelindung antara kuku dengan lipatan kuku. Infeksi dimulai dari tepi lipatan kuku. Apabila terjadi trauma pada lipatan kuku memberi jalan pada kuman masuk ke dalam tubuh menembus barrier kulit. Infeksi meluas hingga ke seluruh batas kulit di sekitar kuku karena terjadi pemisahan kuku dengan perionikium. Lama-kelamaan timbul nanah yang sulit hilang apabila dibiarkan.

Frekuensi

Paronikia merupakan infeksi tangan yang paling sering dijumpai, meliputi 35% dari seluruh infeksi tangan di Amerika Serikat. Kelainan ini lebih sering terjadi pada wanita dengan perbandingan 3:1.

Gejala Klinis

Pasien datang dengan riwayat memotong kuku terlalu pendek, pernah trauma, memiliki kebiasaan menggigit kuku, menghisap jari atau sering terendam air. Pasien yang memiliki penyakit diabetes akan lebih sulit perawatannya. Keluhan tersering adalah pasien merasa nyeri dan bengkak di sekitar kuku. Kekambuhan yang berulang-ulang harus dicurigai infeksi jamur bahkan suatu keganasan.

  1. Paronikia akut

Dari pemeriksaan akan tampak pinggir kuku kemerah-merahan, bengkak, nyeri di pinggir kuku. Pada saat kuku ditekan bisa keluar nanah.

  1. Paronikia kronik

Pasien dengan gejala lebih dari 6 minggu perlu dicurigai sebagai paronikia kronik. Kuku cenderung kering, bengkak dan kemerahan tidak begitu nyata pada paronikia kronik  Kuku tampak menebal dan berwarna pucat dan bisa terpisah sehingga tampak ada ruang diantara kuku dengan nail bed.

Paronikia akut. Bengkak dan kemerahan pada tepi kuku disebabkan oleh penumpukan nanah di bawah kulit.

Penyebab

Paronikia akut biasanya disebabkan oleh kuman Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Infeksi campuran berbagai kuman biasanya ditemukan pada penderita diabetes. Paronikia kronik sering disebabkan oleh jamur Candida albicans.

Diagnosis banding

Diagnosis banding adalah penyakit lain yang menyerupai paronikia diantaranya adalah herpes, kandidiasis, dermatitis, selulutis bahkan keganasan.

Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi ialah infeksi yang makin meluas, bila kuman masuk ke dalam aliran darah bisa menimbulkan sepsis yang sukar ditangani, walaupun hal ini jarang terjadi. Kuman dapat menembus tulang menimbulkan infeksi tulang atau osteomyelitis.

Penanganan

Penanganan harus dibedah atau tidak, tergantung dari luas infeksi. Pada paronikia akut, apabila masih ringan dan tidak bernanah bisa dilakukan penanganan dengan obat-obatan. Basuh dengan air hangat 3-4 x sehari atau kompres dengan Rivanol. Apabila sudah timbul nanah maka kuku harus diambil supaya mudah dibersihkan. Pada paronikia kronik, obat-obatan anti jamur mungkin diperlukan.

Pembedahan

Pembedahan dilakukan apabila dengan obat-obatan tidak kunjung membaik atau jika sudah timbul nanah. Bila nanah masih ringan bisa dilakukan drainase kemudian dicuci bersih. Bila infeksi terjadi hanya pada satu sisi dapat dilakukan Roser plasty (RP) atau memotong separuh kuku pada sisi yang mengalami kelainan. Bila infeksi sudah meluas dan melibatkan kedua sisi maka dilakukan Naegele extraction (NE) atau mengangkat kuku seluruhnya.

Pencegahan

Hindari trauma pada kuku seperti memotong kuku terlalu pendek maupun trauma langsung misalnya kejatuhan benda keras, hilangkan kebiasaan menggigit kuku, menghisap jari dan memakai sepatu terlalu ketat. Selalu menjaga kebersihan kuku.

Batu Ginjal

Penyakit batu ginjal banyak dialami oleh penduduk Indonesia, terutama kaum pria. Adapun faktor-faktor yang berperan pada pembentukan batu ginjal / kandung kemih meliputi ras, keturunan, jenis kelamin, bakteri, kurang minum, air minum jenuh mineral, pekerjaan, makanan dan suhu tempat kerja.

  1. Apakah batu ginjal itu?

Batu ginjal adalah massa keras menyerupai “batu” yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan biasa menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun didalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).

Gejalanya apa saja?

Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Namun bila ukuran cukup besar dapat menimbulkan gejala :

  1. Nyeri perut bagian bawah sampai dengan punggung
  2. Nyeri hebat yang hilang timbul
  3. Mual dan muntah
  4. Perut menggelembung
  5. Demam dan menggigil
  6. Buang air kecil disertai darah

Batu dalam saluran kemih dapat menyebabkan infeksi akibat penyumbatan. Bila penyumbatan berlangsung lama dapat mengakibatkan hidronefrosis (ginjal terisi penuh dengan air), sampai akhirnya bisa menyebabkan kerusakan ginjal.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

  1. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari)
  2. Diet rendah kalsium. Kurangi konsumsi makanan seperti susu, telor, dll
  3. Banyak mengkonsumsi putih telur
  4. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung oksalat seperti bayam, kangkung, kembang kol, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh
  5. Mengurangi asupan daging, dan
  6. Dianjurkan sering mengkonsumsi buah semangka
  7. Perhatikan kesehatan Gigi

Bagaimana Cara Mengatasinya ?

Apabila batu terlalu besar untuk dikeluarkan secara alamiah, operasi dapat dikerjakan. Apabila batu berada di ureter, sistoskopi dapat digunakan melalui uretra dan batu dimanipulasi dengan kateter. Pengeluaran batu dari daerah lainnya (pada calix dan pelvis) memerlukan operasi dari samping atau perut bagian bawah. Prosedur yang disebut percutaneus ultrasonic lithotripsy dan extracorporeal shock wave lithotripsy akan memecah batu ginjal menjadi fragmen kecil-kecil, sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah atau dengan pengisapan.

Di Rumah Sakit Panti Rapih

Rumah Sakit Panti Rapih memiliki beberapa layanan medis untuk mengatasi masalah Batu Ginjal yaitu ESWL dan PCNL.

ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) merupakan suatu teknologi tinggi yang dapat menghancurkan batu ginjal dengan gelombang kejut, efek samping yang lebih kecil dibandingkan   dengan tindakan operasi. Angka keberhasilan tindakan ini rata-rata mencapai 90 persen, tergantung jenis dan ukuran batu. Tindakan ini memerlukan waktu sekitar 1 jam dan biasanya tidak memerlukan rawat inap. Pada     kasus dengan faktor penyulit perlu perawatan lebih lama hingga rawat inap.

Percutaneous Nephrolithotomy dan nephrolithotripsy (PCNL) merupakan metode pengambilan batu ginjal yang berukuran sedang / cukup besar.  Metode PCNL ini biasanya ditempuh apabila metode ESWL tidak memungkinkan untuk dilakukan. Tindakan  PCNL dilakukan dengan membuat sayatan kecil (0,5 inci) di bagian samping belakang pasien di daerah ginjal.  Melalui sayatan tersebut alat PCNL dimasukkan untuk mengambil batuginjal. Selama proses ini berlangsung pasien dikontrol oleh dokter anestesi.Dengan metode PCNL ini pasien akan lebih cepat pulih dibandingkan metode operasi yang konvensional.

MODY= DMT2 pada anak

MODY merupakan singkatan Maturity Onset of Diabetes in the Young yang sebenarnya merupakan DM Tipe 2 pada anak-anak dan remaja. DM  tipe 2 (DM tidak tergantung insulin) umumnya dimulai pada usia pertengahan dengan gangguan terutama pada reseptor insulin. Reseptor insulin bisa diibaratkan pintu masuk sel. Glukosa (gula darah) yang akan dijadikan energi oleh mitokondria sel dibawa masuk lewat pintu tersebut dengan bantuan hormon insulin.

Gangguan reseptor insulin yang disebut resistensi insulin merupakan ciri utama baik DM tipe 2 maupun MODY. Bentuk yang terakhir ini kini semakin kerap ditemukan. Biasanya pada anak-anak terjadi DMT1 dengan ciri tubuh yang kurus dan ketoasidosis akibat kerusakan sel beta penghasil insulin. DMT1 menempati 5% dari seluruh kasus DM sedangkan DMT2 95%.

Sebaliknya gejala MODY pada anak-anak berupa obesitas dengan penimbunan lemak di bagian perut karena MODY merupakan DMT2. Anak-anak ini mungkin tidak memiliki keluhan apa pun kecuali selera makannya yang luar biasa dan berat badannya yang terus bertambah.

Pemeriksaan laboratorium sering menunjukkan kenaikan trigliserid (TG). Kadar gula darah mungkin naik tapi masih di bawah 126 mg/dL. Angka 126 merupakan kriteria diagnostik DM. Semua ini terjadi karena hiperinsulinisme yang menimbulkan obesitas, kenaikan TG dan  intoleransi glukosa (kadar GD 110-126).

Penyebab MODY diperkirakan karena anak dan remaja semakin banyak mengonsumsi KH sederhana seperti gula dan tepung gandum selain lemak jenuh. Sementara itu, anak dan remaja tidak menyukai KH kompleks seperti sayur dan buah. Kehidupan yang kurang gerak karena adanya kendaraan bermotor dan alat elektronik juga meningkatkan insidensi MODY.

Menurut situs www.naturefood.com, pemakaian alloxan sebagai pemutih bahan pangan seperti misalnya tepung gandum turut menambah pelik masalah ini karena masyarakat modern semakin menyukai roti putih, mie instan, gorengan dengan tepung dll dengan meninggalkan camilan tradisional yang alami. Dalam laboratorium alloxan dipakai  untuk menjadikan tikus percobaan menderita diabetes.

Pencegahan MODY dapat dilakukan dgn meningkatkan makanan berserat seperti roti gandum utuh, kacang-kacangan, beras merah/beras tumbuk, sayuran dan buah. Mengajarkan kepada anak dan remaja untuk kembali menyukai makanan tradisional ketimbang junk food merupakan tindakan yang bijaksana.

Kreatinin

Pasien yang menderita penyakit ginjal kronis tentunya tidak asing dengan istilah kreatinin. Begitu juga pasien yang mengecek fungsi ginjalnya tentunya pernah mendengar kata kreatinin ini. Namun, mereka tentunya ingin mengetahui lebih detail lagi apakah sebetulnya kreatinin itu, bagaimana fungsinya dan pada keadaan apa saja kadar kreatinin dalam darah meningkat?

Apakah kreatinin itu?

Kreatinin merupakan hasil penguraian kreatin fosfat dalam otot. Untuk bekerja dengan baik, otot kita memerlukan sumber energi instan yang dinamakan ATP (adenosin trifosfat) – suatu ikatan fosfat berenergi tinggi. Nah, sumber ATP adalah kreatin fosfat di samping fosforilasi oksidatif yang dalam biokimia dikenal sebagai siklus Krebs.

Karena itu, kita tidak akan heran jika di pasaran MLM atau toko suplemen juga terdapat tablet kreatin fosfat yang sering dalam bentuk kombinasi dengan asam alfa-lipoat dan KH indeks-glisemik tinggi. Suplemen seperti ini sering digunakan oleh atlit jenis olahraga yang memerlukan kerja otot yang berat seperti pelari sprint.

Linford Christie, pemegang medali emas lari 100 meter di Olimpiade Barcellona tahun 1992, merupakan salah seorang pemakai suplemen kreatin fosfat. Lainnya adalah Sally Gunnel, salah seorang pemegang medali emas lari rintangan 400 meter di pesta olimpiade yang sama. Kreatin fosfat tidak dianggap sebagai doping.

Kembali kepada kreatinin yang merupakan hasil pemecahan kreatin fosfat untuk menghasilkan energi otot, kadar kreatinin dalam darah berkisar dalam batas 0,5 – 1,2 mg/dL. Pria memiliki kadar yang lebih tinggi daripada wanita karena massa ototnya lebih besar. Kata kreatinin sebenarnya berasal dari kata Yunani, kreas, yang artinya otot. Kadarnya dalam darah dipertahankan dalam batas-batas di atas oleh ginjal, khususnya penyaringan di glomerulus dan sekresi di tubulus proksimal. Kreatinin jarang diserap kembali di dalam tubulus ginjal.

Keadaan yang menaikkan kadar kreatinin

Ada beberapa keadaan yang disertai peningkatan kadar kreatinin dalam darah, yaitu:

1) Penyakit ginjal kronis yang tentu saja disertai dengan kenaikan kadar kreatinin dalam darah. Tetapi gejala ini biasanya disertai pula peningkatan kadar ureum. Fungsi ginjal ditentukan lewat GFR (glomerular filtration rate) yang dihitung dengan rumus memakai kadar kreatinin dalam darah dan air seni.

2) Pemakaian obat hipertensi seperti kombinasi inhibitor ACE dgn ARB (angiotensin receptor blocker). Karena itu, kedua obat ini biasanya dipakai sendiri atau dalam bentuk kombinasi dgn golongan lain.

3) Aktivitas fisik yang berat apalagi bila disertai cedera otot. Pada keadaan ini, selain kreatinin juga bisa terjadi peningkatan asam urat dan enzim ALT dalam darah. Namun, setelah beristirahat dan terjadi pemulihan otot, biasanya kadar zat-zat tersebut akan kembali normal.

4) Usia lanjut. Ketika manusia mencapai usia lebih dari 70 tahun, semua fungsi organ sudah menurun termasuk fungsi ginjal. Karena itu, kadar kreatinin bisa meninggi pada manula khususnya wanita. Peninggian ini umumnya disertai pula dengan kenaikan kadar asam urat dan ALT, enzim yang bukan hanya diproduksi oleh sel hati yang mengalami peradangan tetapi juga oleh sel otot yang aus atau rusak. Hanya saja, kenaikan ALT karena deplesi protein dari otot tidak akan sampai 3 kali lipat nilai normalnya seperti terjadi pada peradangan hati.

dr Andry Hartono, DAN.SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih
Jl Cik di Tiro 30 Yogyakarta

Perut Buncit pada Pria

Pria gemuk biasanya memiliki tubuh seperti buah apel karena timbunan lemak di perutnya. Wanita gemuk, sebaliknya, menimbun lemak di panggul dan pangkal paha sehingga lebih terlihat seperti buah per atau biola. Nah, kini pertanyaannya bagaimana kita harus memahami risiko pada perut buncit (PB) dan mengatasinya.

RISIKO PB

PB berisiko pada:

1. Gangguan pembuluh darah yang dapat menjadi penyebab penyakit jantung koroner atau pun stroke (penyakit pembuluh darah otak).
2. Gangguan metabolisme seperti sindrom metabolik dgn resistensi insulin (keadaan pradiabetes), DMT2, kadar trigliserid yang tinggi dan penyakit kolesterol atau dislipidemia.
3. Beberapa jenis kanker
4. Gangguan sendi seperti spondilosis tulang belakang atau osteoartritis sendi lutut/pangkal paha.
5. Sleep apnea (berhenti napas dengan gejala napas seperti tercekik saat tidur). Pria dengan PB sering harus tidur dalam posisi duduk untuk mencegah sleep apnea.

BAGAIMANA MENGETAHUI PB ?

Ukurlah lingkaran pinggang anda, jika ukurannya melebihi 90 cm atau 36 inci pada ukuran pinggang celana jean anda (kriteria Asia Pasifik), maka anda sudah dianggap berperut buncit.

Cara mengukur lingkar pinggang:
1. Gunakan pita pengukur penjahit (sentimeteran). Lingkarkan pita itu di sekeliling perut anda pada posisi tepat di atas kedua ujung tulang pinggul.
2. Tarik pita itu sehingga pas melingkari perut dalam posisi horizontal tetapi jangan menariknya dengan kuat sehingga menimbulkan lekukan pada kulit perut.
3. Hembuskan napas anda, relaks tetapi jangan kempiskan perut anda.
4. Perhatikan ujung pita dengan angka nol jatuh pada angka berapa. Hasilnya menunjukkan besar lingkar pinggang (LP)  anda.

USIA MEMBUAT PB

Genetik memang menentukan apakah seorang manula berperut buncit atau tidak. Akan tetapi, pada pria, gaya hidup lebih menentukan.

Penurunan BMR pada usia lanjut (BMR = kebutuhan energi untuk fungsi dasar seperti metabolisme, produksi panas tubuh, gerakan organ seperti jantung dan usus) dan berkurangnya aktivitas fisik karena pensiun atau jabatan manajer sementara asupan energi dari makanan tidak berubah atau malahan bertambah, semuanya ini akan berisiko kegemukan dan PB.

BAGAIMANA MENGATASI PB ?

OR situp biasanya tidak dianjurkan pada manula apalagi kalau sudah terdapat kelainan degeneratif tulang belakang dan sendi paha.

OR yang dianjurkan bersifat aerobik seperti jalan, renang perlahan, senam manula, dan bersepeda. Yang penting, setelah berolahraga, anda berkeringat serta merasa segar, tetapi tidak merasa lapar, tidak mengantuk dan tidak merasa pegal pada otot. Makanan yang perlu dihindari oleh manula meliputi makanan yang kaya akan gula, tepung dan lemak jenuh karena ketiga jenis makanan bukan hanya menimbulkan PB dan kegemukan tetapi juga dapat menaikkan kadar gula, TG, kolesterol jahat dan tekanan darah anda.

dr Andry Hartono, SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih Yogyakarta

Kegemukan

Kegemukan atau obesitas merupakan keadaan bertambahnya lemak tubuh yang menyebabkan kenaikan berat badan. Keadaan ini tentunya berbeda dengan kelebihan berat badan karena penambahan massa otot atau tulang seperti terjadi pada misalnya Ade Rai atau Sylvester Stallone.

Kegemukan dengan distribusi lemak pada perut dinamakan obesitas sentral atau abdominal (lihat perut buncit). Keadaan ini merupakan salah satu tanda atau gejala sindrom metabolik.

PENYEBAB KEGEMUKAN

Biasanya para ahli gizi akan menjelaskan bahwa asupan kalori yang melebihi pengeluaran merupakan penyebab kegemukan. Keadaan ini dapat kita analogikan dengan tabungan. Jika uang yang ditabung lebih banyak daripada yang diambil, maka tabungan kita tentu akan bertambah besar. Hanya sayangnya pada kegemukan, barang yang kita tabung bukan uang tapi lemak atau gajih.

Penyebab kegemukan yang lain adalah faktor genetik. Sejumlah orang dengan thrifty gen lebih mudah gemuk daripada lainnya. Kondisi ini disebabkan produksi leptin dalam sel-sel lemak mereka sangat rendah padahal leptin berfungsi menekan pertambahan sel lemak di samping menekan selera makan yang berlebihan.

Pada orang yang diet ketat, produksi leptin juga dapat berkurang. Keadaan ini menjelaskan mengapa setelah misalnya 3 sampai 6 bulan menjalankan diet ketat, penurunan berat badan kemudian terhenti. Keadaan yang dinamakan plateau phase of weight reduction ini terjadi karena penurunan sekresi leptin.
Sementara produksi ghrelin oleh sel-sel lambung dan neuropeptida Y dalam hipotalamus meningkat sehingga selera makan bertambah karena kedua hormon ini berfungsi untuk menimbulkan rasa lapar.

PENYEBAB HORMONAL

Beberapa keadaan hormonal juga dapat menyebabkan kegemukan seperti DMT2 awal atau sindrom metabolik dengan terjadinya resistensi insulin, produksi hormon tiroid yang kurang (hipotiroid) dan sindrom Cushing (peningkatan produksi hormon anabolik khususnya glukokortikoid oleh kelenjar adrenal).

Ketiga keadaan ini tentu saja tidak dapat ditangani dengan terapi diet semata tetapi memerlukan pengobatan yang rumit dan harus dilaksanakan oleh dokter spesialis endokrin (SpPD-KEMD).

RISIKO KEGEMUKAN

Risiko kegemukan sama seperti risiko perut buncit. Karena itu, anda dapat membaca tulisan tentang perut buncit.

DIAGNOSIS

Diagnosis kegemukan dibuat dengan menghitung indeks massa tubuh. Rumusnya adalah berat badan (dalam kg) dibagi tinggi badan (dalam meter) yang dipangkat dua.

Angka di atas 23 menunjukkan keadaan praobese dan di atas 25 memperlihatkan obesitas.

Selanjutnya kita dapat mengukur lingkar pinggang seperti dijelaskan dalam tulisan tentang perut buncit.

TERAPI DIET

Terapi diet yang dianjurkan adalah pengurangan asupan kalori, terutama KH sederhana dan lemak, melalui pemilihan jenis makanan dan cara memasak yang benar dengan memperhatikan keseimbangan zat gizi yang lain (protein, vitamin dan mineral). Sementara itu, asupan air tawar dan serat pangan dapat ditingkatkan untuk memberikan rasa kenyang dan mengurangi penyerapan makanan.

Beberapa diet menawarkan penurunan berat badan dengan cepat seperti diet Atkins atau diet Cohen. Diet ini menghilangkan sumber karbohidrat dari makanan sehingga terjadi asidosis. Asidosis memang akan mengurangi selera makan secara drastis tetapi juga membuat tubuh menjadi lemah, bau mulut menjadi tidak enak (bau keton) dan sulit konsentrasi. Biasanya orang yang menjalankan diet ini hanya dapat bertahan selama 3 bulan dengan penurunan berat yang drastis tetapi ketika pola makannya balik ke keadaan semula, maka berat badannya kembali naik bahkan lebih tinggi daripada BB sebelum diet. Keadaan inilah yang kita sebut sindrom yoyo.

Bahaya asidosis di atas juga terjadi kalau orang yang diet menderita diabetes, khususnya penyandang diabetes yang sudah memakai insulin.
Asidosis yang berat pada DM dapat berlanjut menjadi ketoasidosis diabetes yang disertai kehilangan kesadaran (koma). Karena itu, PERKENI menyebutkan batas minimal asupan KH sebesar 130 gram per hari.

Jadi, program penurunan BB yang baik adalah program mandiri yang bisa dijalankan sendiri oleh pasien tanpa bergantung pada obat-obatan, herbal atau tindakan seperti penyuntikan vitamin C atau pelarut lemak (biasanya senyawa getah empedu) ke dalam jaringan lemak di bawah kulit perut. Tindakan terakhir ini dapat berakibatkan fibrosis atau lipolisis sehingga tempat suntikan menjadi luka terbuka yang sulit menutup kembali (dehisensi).

Peranan dokter gizi adalah memberikan bimbingan teknis cara diet yang baik selain dukungan semangat mengubah pola makan. Suplemen dan obat hanya diberikan dalam proses perubahan perilaku makan dan gaya hidup.

Program slimming yang baik sebenarnya dilakukan melalui perubahan gaya hidup dengan tujuan penurunan BB yang perlahan tetapi bertahan lebih lama. Dengan program ini, ketika BB sudah ideal atau normal, kita akan dapat mempertahankannya sendiri lewat diet yang seimbang dengan perilaku makan dan olahraga yang tepat.

dr Andry Hartono, SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RSPR

Mengenal Ginjal Lebih Dalam

Ginjal merupakan salah satu organ penting untuk menyaring keluar zat racun termasuk limbah nitrogen dari protein selain juga mengatur jumlah cairan dalam tubuh lewat produksi air seni.

Organ yang terdapat sepasang ini berada di balik kedua belah pinggang kita dan masing-masing memiliki satu juta nefron. Setiap nefron terdiri dari glomerulus dan tubulus. Penyakit atau kerusakan pada ginjal akan berakibatkan hilangnya nefron tersebut. Selanjutnya kita akan berkenalan dengan glomerulus dan tubulus.

GLOMERULUS

Glomerulus merupakan saringan (filter) yang sebenarnya dalam ginjal. Alat ini bertugas untuk

(1) menghilangkan zat kimia yang termakan lewat makanan/minuman. Zat-zat 7P (pemutih, penjernih, pengawet, pengental, pewarna, penyedap dan pemanis buatan) harus dikeluarkan oleh ginjal ke dalam air seni. Begitu pula, sebagian besar obat yang kita minum. Apalagi jika zat yang termakan itu bersifat racun seperti pestisida, pewarna tekstil atau pengawet formalin.
(2) Mengeluarkan limbah nitrogen dari hasil metabolisme protein seperti ureum atau BUN, dan kreatinin serta asam urat baik yang berasal dari makanan maupun dari keausan/kerusakan otot kita sendiri.
(3) Mempertahankan zat yang berguna seperti albumin (protein darah) dan glukosa (gula darah) agar keduanya tidak tersaring keluar.

TUBULUS

Tubulus ginjal merupakan bagian dari nefron yang bertugas untuk:
(1) Mengatur cairan tubuh lewat produksi air seni dan pengaturan kekentalannya.
(2) Mengatur keseimbangan asam-basa.
(3) Mengatur elektrolit seperti kalium, natrium, kalsium dan fosfor.

FUNGSI LAIN

Di samping fungsi di atas, ginjal juga:
(1) Menghasilkan hormon eritropoitin yang merangsang sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah.
(2) Menghasilkan kalsitriol dengan mengaktifkan vitamin D. Kalsitriol berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan pembentukan dan perombakan tulang.

Ginjal yang terganggu akan menghasilkan renin yang mengaktifkan angiotensin sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.

Dengan mengenali fungsi-fungsi di atas, kita akan memahami mengapa gejala anemia, kenaikan TD, kelemahan tulang, sembab serta penimbunan cairan dalam rongga tubuh, dan serangan jantung karena hiperkalemia (kenaikan kadar kalium darah) akan terjadi pada penyakit ginjal kronis yang disertai penurunan fungsi ginjal, khususnya jika penyakitnya sudah parah.

(Sumber bacaan: Andry Hartono, “Rawat Ginjal, Cegah Cuci Darah,” Penerbit Kanisius Yogyakarta).

Dr Andry Hartono, SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih

Konsekuensi Gula Yang Tinggi

Salah satu konsekuensi kenaikan gula darah adalah glikosilasi protein. Reaksi glikosilasi ini menghasilkan produk AGE yang mirip dengan produk amadori yang terbentuk ketika protein daging dimasak dengan gula. Misalnya saja daging yang lembut dan merah ketika mengalami oksidasi (karena dimasak) bersama dengan gula akan menjadi dendeng yang keras dan cokelat (produk amadori).

Protein hemoglobin dalam sel darah merah akan rusak (dan membentuk produk AGE; advanced glycation end products) ketika terikat gula saat terjadi  reaksi oksidasi dalam sel tersebut untuk menghasilkan energi. Ikatan ini diukur lewat A1c yg normalnya kurang dari 6,5. Sel darah merah yang hemoglobinnya terikat gula tidak dapat membawa oksigen. Sel seperti ini masih hidup tapi tidak berfungsi. Selain itu, sel darah merah tersebut menjadi keras dan tidak lentur sehingga tidak dapat masuk ke dalam kapiler untuk menyalurkan darah dan oksigen ke dalam sel-sel tubuh.

Di samping sel darah merah yang mengalami glikosilasi, protein kolagen dan elastin dalam dinding pembuluh darah juga bisa mengalami glikosilasi sehingga pembuluh darah tidak lentur dan tidak dapat berdenyut untuk mengalirkan darah dan oksigen.

Semua peristiwa di atas yang menyebabkan pengerasan sel darah merah dan pembuluh darah  disebut angiopati. Akibat angiopati selanjutnya adalah kerusakan organ seperti retinopati diabetes (kerusakan selaput jala mata) yang bisa menimbulkan kebutaan, nefropati diabetes (kerusakan nefron/saringan pada ginjal) yang bisa menimbulkan gagal ginjal, neuropati diabetes (kerusakan saraf) dst.nya sampai penyumbatan pembuluh darah tepi (yang membuat gangren sehingga kaki harus diamputasi), penyakit jantung koroner, dan stroke. Semua ini merupakan komplikasi kronis.

Di samping komplikasi kronis, gula darah yang tinggi juga dapat mengakibatkan komplikasi akut seperti koma hipoglikemia (pingsan karena kadar gula darah yang terlalu rendah di bawah 50 mg/dL), hiperglikemia hiperosmotik nonketosis (HONK) (pingsan karena kadar gula yang terlalu tinggi sehingga darahnya sangat kental dan aliran darahnya macet tapi tanpa ketosis) dan ketoasidosis diabetes (darah yang menjadi asam karena ketosis [penimbunan keton bodies hasil metabolisme lemak akibat sel tidak bisa menggunakan gula sebagai sumber energi]). Ketiga komplikasi akut ini dapat menimbulkan kematian mendadak apalagi jika ada komorbiditas atau penyakit lain yang serius seperti penyakit jantung koroner.

dr Andry H.
Klinik Medical Checkup
RS. Panti Rapih
Yogyakarta