Diare

Diare masih merupakan masalah kesehatan di Asia Tenggara. Penyakit yang berhubungan dengan diare masih menjadi penyebab kematian empat sampai lima juta balita di dunia, menduduki tempat ketiga penyebab terbanyak. Setengah dari kematian anak-anak Asia Tenggara diakibatkan oleh diare dan infeksi saluran pernafasan.

Paling sedikit ada 20 virus, bakteri, dan protozoa yang berkembang biak di dalam saluran pencernaan manusia, keluar bersama feses, transit di lingkungan, dan akhirnya menyebabkan diare pada inang yang baru.
Perbedaan tempat menimbulkan perbedaan sumber daya, epidemiologi, permasalahan kesehatan umum yang mendasar, ketersediaan air dan makanan yang aman, dan lain-lain.

Diare sebenarnya adalah masalah yang umum walaupun gejalanya dapat bervariasi dari yang ringan sampai berat. Diare pada anak-anak biasanya diakibatkan oleh infeksi. Meski demikian, pemberian makanan yang kurang tepat, gangguan penyerapan, dan gangguan pada usus yang lain dapat pula menyebabkan diare. Diare biasanya self-limited namun harus ditangani dengan manajemen yang tepat. Komplikasi paling sering terjadi adalah dehidrasi (kekurangan cairan). Diare akut (kurang dari satu minggu) biasanya disebabkan oleh infeksi dan berkaitan erat dengan kepadatan penduduk, globalisasi produksi makanan, kontaminasi sumber air, dan pembuangan sampah yang tidak aman. Virus penyebab diare yang paling sering dikenal adalah enterovirus. Protozoa yang paling sering menyebabkan diare adalah amoeba. Diare yang disertai lendir dan darah biasanya disebabkan oleh bakteri, misalnya Shigella, Salmonella, Campylobacter, Escherichia coliYersinia enterocoliticaClostridium difficile.

Penting untuk mengenali dehidrasi pada anak dan bayi, mengingat ini komplikasi yang sering dan paling penting. Selain dehidrasi, abnormalitas konsentrasi elektrolit (ion-ion), status asam basa tubuh, dan menyebarnya infeksi ke seluruh tubuh menjadi penyulit diare. Dehidrasi sedang ditandai dengan anak/bayi yang nampak sakit, mengantuk, rakus bila diberi minum, mata cekung, mulut dan lidah yang kering dan nafas yang agak cepat. Bila kulit perut dicubit, cubitan kulitnya kembali lambat. Bila ubun-ubun bayi belum menutup, dapat diraba cekung. Dehidrasi berat pada anak/bayi ditandai dengan ketidakmampuan untuk minum, sangat mengantuk sampai tidak sadar, lemah, mata yang sangat cekung, mulut dan lidah yang sangat kering, dan cubitan kulit perut yang kembali sangat lambat. Nafas bayi menjadi sangat cepat dan ubun-ubun bila belum menutup teraba sangat cekung.

Pemberian makanan direkomendasikan sesegera mungkin sebagai manajemen diare akut karena isi usus diketahui sebagai faktor yang membantu perbaikan selaput lendir usus segera setelah jejas. Asupan makanan seperti biasa dalam beberapa jam saat pengembalian cairan atau meneruskan pemberian makanan selama diare tanpa dehidrasi telah terbukti memperpendek durasi diare. Pemberian susu formula yang diencerkan tidak memberikan manfaat dibanding susu formula dengan konsentrasi yang dianjurkan. Bayi dengan diare yang berat mungkin membutuhkan susu formula bebas laktosa (ada produk LLM/Low lactose milk dari merk-merk susu terkenal) sampai kira-kira dua minggu sampai penyembuhan selaput lendir tercapai. Bayi atau anak yang lebih tua dapat makan sesuai usia seperti biasa. Pembatasan laktosa juga tidak selalu dibutuhkan. Dianjurkan pemberian serat dan sereal seperti nasi, mi, kentang, gandum, dan oat. Makanan-makanan ini secara umum dapat ditoleransi oleh pasien dengan diare. Pasien-pasien dengan diare ini juga dapat mengkonsumsi biskuit, pisang, yogurt, sup, dan sayuran rebus. ASI mengandung banyak bahan yang dapat membantu pertubuhan sel-sel di mukosa usus dan melawan bakteri. Pemberian ASI yang berkelanjutan pada anak dengan diare memberikan manfaat seperti telah dibuktikan pada berbagai literatur. Oleh karena itu disarankan untuk tetap memberikan ASI.

Pencegahan tetap hal yang paling vital dalam manajemen diare. Sangat penting untuk mencegah transmisi organisme penyebab yang dapat dilakukan dengan cara menangani sanitasi yang baik pada persiapan dan pemrosesan makanan. Selain itu dapat pula dengan suplai air bersih yang baik, pasteurisasi susu, higiene tangan, pembuangan limbah dengan baik, mencegah orang yang terinfeksi untuk menangani makanan maupun memberikan pelayanan kesehatan, dan mencegah orang yang terinfeksi memakai fasilitas rekreasi air. Telur dan bahan makanan lain yang sumbernya dari hewan harus dimasak dengan baik.

Mencuci tangan menggunakan sabun dapat menurunkan resiko diare sampai dengan 42-47%. Dalam review yang dilakukan atas 17 penelitian yang dilakukan di negara-negara berkembang, disimpulkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun ini pada akhirnya dapat menyelamatkan jutaan nyawa.

Penting bagi anda orang tua, guru, atau oom dan tante untuk mengenali diare sesegera mungkin dan mencegah perburukan ke arah dehidrasi. Pemberian cairan untuk mengganti yang keluar pada diare dengan teliti dapat mencegah dehidrasi. Pemberian makanan, susu, dan ASI telah dijelaskan di atas. Lebih menggalakkan kebiasaan cuci tangan dengan sabun saat ada anggota keluarga yang terkena diare sangat bermanfaat. Saya juga sering menyarankan kepada orang tua anak kecil yang terkena diare untuk membatasi kontak orang lain dengan si sakit, dan mencuci segenap peralatan makan si kecil dengan air panas. Saran saya ini belum pernah saya jumpai hasil penelitian kemanfaatannya, hanya sekedar mengolah sendiri dari referensi. Apabila sudah ada gejala-gejala awal dehidrasi, segera temui dokter. Dengan penggalian riwayat dan pemeriksaan fisik yang teliti dibantu beberapa pemeriksaan laboratorium sederhana, dokter lulusan Indonesia terlatih untuk memberikan cairan pengganti yang tepat. Apabila perlu, akan diresepkan antibiotik juga.

Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik merupakan keadaan pradiabetes dengan komponen:

1. Intoleransi glukosa (kadar gula puasa 110-126 mg/dL)
2. Obesitas abdomen (gemuk dg perut buncit) dgn Indeks massa tubuh di atas 23 (kg/m2) dan lingkar perut di atas 80 cm [wanita] atau 90 cm [pria]).
3. Kadar trigliserid di sekitar atau di atas 175 mg/dL.
4. Kadar kolesterol jahat di sekitar atau di atas 150 mg/dL.
5. Tekanan darah sistolik di sekitar atau di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.

Diagnosis sindrom metabolik dibuat jika ada 3 dari 5 komponen di atas.

Sindrom metabolik merupakan (kumpulan) keadaan akibat resistensi insulin yang terjadi sebelum seseorang menderita penyakit metabolik khususnya diabetes dan penyakit vaskular seperti hipertensi yang kemudian bisa berlanjut menjadi penyakit yg serius (penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular [stroke] dan nefropati diabetes [gagal ginjal]). Lamanya waktu dari sindrom metabolik hingga terjadinya penyakit di atas bisa 15 tahun atau lebih tergantung faktor genetik dan pola hidup ybs.

Gangguan metabolisme termasuk sindrom metabolik biasanya mulai terjadi pada usia di sekitar 35 tahun (saat pola hidup berubah). Diet yg salah, kehidupan sedentari, stres serta perilaku yg salah, dan kebiasaan berisiko spt merokok semuanya akan mempercepat perubahan dari sindrom metabolik menjadi penyakit yang serius.

INSIDENSI

Dalam Survei Kesehatan Nasional 2007 disebutkan ada 1,5% kasus DM yg sudah diketahui, 4,2% DM yg baru terdiagnosis sehingga terdapat total kasus DM 5,7%. Sedangkan toleransi gula terganggu atau intoleransi glukosa adalah 10,2%. Mengingat sindrom metabolik merupakan sindrom resistensi insulin yg menyebabkan intoleransi glukosa, maka insidensi sindrom metabolik di Indonesia bisa dianggap sekitar 10,2% dari total populasi penduduk.

ORANG YANG RENTAN

Seperti di sebut di atas, orang gemuk dengan perut buncit karena pola hidup yg salah rentan terkena sindrom metabolik.  Cirinya adalah orang yang gemuk dengan perut buncit plus 4 tanda lain spt disebut di atas dalam komponen sindrom metabolik. Hanya sayangnya 4 tanda tsb tidak memberikan keluhan atau gejala apa pun shg baru diketahui setelah penyandang sindrom metabolik menjalani medical checkup atau tes laboratorium.

Untuk mencegahnya, faktor yg bisa diubah harus kita ubah seperti diet dengan gizi yang baik dan seimbang (khususnya diet DM), olahraga aerobik yang teratur, manajemen stres yg benar dan medical checkup untuk mendetesi faktor risiko secara dini.

Faktor usia, jenis kelamin dan genetik tidak bisa diubah.

TERAPI DIET DAN GIZI

Terapi diet untuk SM dan problem metabolik lainnya (obesitas, intoleransi gula dan hiperkolesterol/ hipertrigliserid):

1. Batasi KH sederhana spt gula dan tepung. Contoh makanan yg kaya akan KH sederhana a.l.: makanan/minuman yg manis, camilan spt roti halus, kue kering, tarcis dan camilan yg digoreng dgn tepung. Jangan makan malam dgn hidangan yg terlalu berat krn kaya akan KH sederhana dan lemak/ minyak spt nasi atau mie goreng.
2. Hindari lemak jenuh spt gajih, jerohan, lemak trans, jelantah dan santan yg kental. Gunakan jenis minyak yg baik spt omega-3, 6, 9 dan MCT dalam proporsi yg tepat dan jumlah yg wajar (sekitar 1 sendok makan per kali pakai).
3. Banyak makan makanan yg kaya serat dan antioksidan spt sayuran, buah dan kacang2an yg memiliki beragam warna. Gunakan makanan sumber KH secara bervariasi dgn pola diet semivegetarian.

Keuntungan makanan nabati:
1. Tidak mengandung kolesterol tetapi kaya akan serat (makanan hewani kaya akan kolesterol tapi tidak mengandung serat)
2. Relatif lebih mengandung kalsium dgn kandungan fosfor yg lebih rendah. Sementara kandungan natriumnya yg lebih rendah dan kaliumnya yg lebih tinggi akan mengurangi kecenderungan hipertensi pada sindrom metabolik.
3. Kandungan protein (dalam kacang2an) lebih rendah daripada makanan hewani (daging, telur, susu) sehingga menguntungkan bagi mereka yang memiliki insufisiensi renal.
4. Kandungan zat kimia spt pestisida pada sayuran dan buah lebih mudah dihilangkan dengan cara mencucinya atau mengupas kulit buah. Kandungan hormon, antibiotik, nitrosamin dan benzpiren (dua terakhir zat karsinogenik) dalam daging tidak mudah dihilangkan.
5. Sayuran dan buah yg berwarna mengandung fitokimia pangan dan antioksidan yg berkhasiat bagi tubuh. Contoh fitokimia makanan: lycopene, resveratrol, lutein dll. Contoh antioksidan: antosianin (hitam/biru gelap spt anggur hitam), zeaxanthin (merah tua spt jambu merah atau buah naga merah), klorofil (hijau spt kiwi, melon, brokoli), beta-karoten (merah jingga spt wortel, pepaya, mangga) dan lycopene (kuning kemerahan seperti tomat).

Dr Andry Hartono, DAN.SpGK

Tempe Sebagai Sumber B12

Makanan vegetarian termasuk tempe yg menjadi sumber protein utama dalam diet vegetarian secara umum kurang mengandung vitamin B12. Akibat kekurangan B12 adalah anemia pernisiosa dan homosisteinemia. Homosistein merupakan produk konversi sistein yang berpengaruh buruk bagi pembuluh darah dan tergolong ke dalam faktor risiko penyakit Jantung Koroner (PJK) spt halnya LDL kolesterol. Vitamin B12, asam folat dan B6 mencegah konversi sistein menjadi homosistein.

B12 dalam tempe sering dianggap diproduksi oleh kapang Rhizopus yg mengubah kedelai menjadi tempe. Menurut DR Susianto, Ketua IVS Asia Pasifik, sebenarnya B12 dihasilkan oleh bakteri Lactobacillus leichmannii yg ikut tumbuh dalam proses pembuatan tempe. Konsumsi 150 g tempe (6 potong tempe yg tiap2 potongnya seukuran kotak korek api), menurut disertasi DR Susianto, sudah dapat mencegah insidensi anemia defisiensi B12 yg sering ditemukan di antara para vegetarian dan orang-orang yg kurang mengonsumsi produk makanan hewani seperti daging. Sumber B12 lainnya dalam makanan vegan adalah rumput laut atau ganggang laut dan plankton.

Selain memberikan B12, tempe juga dapat menurunkan kadar gula darah 3 jam sesudah makan. Penurunan ini diperkirakan terjadi krn efek antitripsin dalam kedelai yg mendorong pankreas utk lebih banyak menghasilkan bukan hanya enzim tripsin tetapi juga hormon insulin. Kandungan antosianin dalam kedelai hitam juga diperkirakan dapat mencegah glikosilasi hemoglobin (HbA1c) pada diabetes. Glikosilasi ini membuat sel darah merah tidak mampu membawa oksigen kendati sel tersebut masih hidup.

dr Andry
Klinik MCU
RS Panti Rapih
Yogyakarta

Diet Vegan Mengurangi Risiko Diabetes

Penelitian terakhir the Adventist Health Study memperlihatkan penurunan risiko terkena DM yg signifikan pada kelompok vegan jika dibandingkan pada kelompok pemakan daging (nonvegan). Dari populasi ~60 000 pria dan wanita pengikut diet vegan yg diteliti dalam penelitian tsb ditemukan prevalensi diabetes lebih-kurang sepertiga dari prevalensi DM pada nonvegan (2.9% vs 7.6%), sementara kelompok lakto-ovo vegetarian (vegan yg masih makan telur dan produk susu), pesco-vegetarian (vegan. yg juga makan ikan), dan  semivegetarian (vegan yg makan ikan atau unggas kurang dari sekali seminggu), memiliki prevalensi DM di antaranya, yaitu masing2 sebesar 3.2%, 4.8%, and 6.1%.

Mengapa demikian ?

Ada beberapa hipotesis yg dikemukakan utk menjelaskan hasil penelitian di atas. Dalam hal ini makanan vegan yg dimaksud berupa makanan alami yang tadu biji-bijian utuh dan sereal sebagai sumber KH, kacang-kacangan sebagai sumber protein, sayur dan buah. Jadi bukan tepung gandum, roti atau mie dan makanan olahan lain termasuk gluten dari tepung terigu yang dijadikan bahan pangan pengganti daging.

Hipotesis tsb a.l.

1. Kelompok vegan memiliki profil lipid yg lebih baik daripada nonvegan mengingat makanan vegan tidak mengandung kolesterol (yg menjadi ciri lemak hewani krn senyawa sterol dlm nabati adalah fitosterol atau sitosterol yg justeru mampu menurunkan kadar kolesterol darah) tapi kaya akan serat. Sebaliknya makanan hewani kaya akan kolesterol tapi tidak mengandung serat.

Gangguan pada profil lipid (dislipidemia) ternyata meningkatkan risiko terkena gangguan metabolisme KH yg kita kenal sebagai penyakit DM.

2. Serat solubel dalam makanan vegan bukan hanya menurunkan indeks glisemik makanan (IG mengukur berapa besar kenaikan kadar gula darah setelah seseorang makan makanan tertentu dibandingkan gula glukosa) tetapi juga menghambat kerja enzim termasuk alfa-glikosidase yg memfasilitasi penyerapan gula di dalam usus.

Asupan serat yg tinggi juga memperlambat pengosongan lambung dan menurunkan kadar gula darah sesudah makan di samping mengurangi pula respons insulin (mencegah hipoglikemia pada pasien DM).

3. Kelompok vegan ternyata memiliki tubuh yg lebih ramping daripada nonvegan. Dalam penelitian di atas, indeks massa tubuh (BMI atau body mass index) pada vegan rata-rata sebesar   23.6 (di bawah nilai 25 yg menjadi batas kegemukan pada orang barat) sedangkan BMI rata2 pada nonvegan adalah 28.8 (di atas nilai 25). Orang yg gemuk memiliki risiko terkena pradiabetes (sindrom metabolik) dibandingkan orang yg tubuhnya normal yaitu BMI antara 18 dan 25.

4. Senyawa heme yg banyak dalam daging ternyata dapat menjadi radikal bebas yg merusak sel beta penghasil insulin dalam pankreas. Sebaliknya heme atau zat besi organik dalam sayuran dan kacang2an yg berwarna merah (bit merah, bayam merah dan kacang polong) tidak sebanyak daging shg mengurangi bahaya radikal bebas di dalam tubuh.

5. Daging sering mengandung nitrosamin yg merupakan hasil penguraian bahan pengawet daging sodium nitrit ketika daging itu dibakar atau digoreng. Nitrosamin bukan hanya menyebabkan kanker tapi juga dapat merusak sel beta.

Nitrosamin ditemukan bersifat toksik bagi sel beta pankreas dan meningkatkan risiko DM tipe 1 dan tipe 2 pada percobaan binatang dan risiko DM tipe 1 pada beberapa penelitian epidemiologi.

6. Makanan nabati umumnya kaya akan magnesium krn kandungan klorofilnya. Ingat, hemoglobin dan mioglobin dalam sel darah merah dan otot/daging memiliki inti zat besi yg membuatnya berwarna merah sementara klorofil dalam sayuran hijau dan kacang hijau memiliki inti magnesium yg membuatnya berwarna hijau.

Korelasi terbalik antara risiko DM dan asupan magnesium mungkin disebabkan oleh efeknya pada sensitivitas insulin, kerja insulin, dan metabolisme glukosa.

 

Sumber referensi:

Kate Marsh, PhD; Jennie Brand-miller, PhD,
Vegetarian Diets and Diabetes,  Am J Lifestyle Med. 2011;5(2):135-143. © 2011 Sage Publications, Inc.

 

Prinsip Penanganan Kaki Diabetes

Prinsip Penanganan Kaki Diabetes

Kontrol metabolik : pengendalian keadaan metabolik sebaik mungkin seperti pengendalian kadar gula darah, kolesterol, dan sebagainya.

Kontrol vaskular: perbaikan suplai vascular(kecukupan aliran darah), biasanya dibutuhkan pada keadaan kerusakan pembuluh darah tepi, dilakukan dengan operasi atau angioplasty.

Kontrol infeksi: pengobatan infeksi secara agresif, jika terlihat tanda klinis infeksi.

Kontrol lukal: pembuangan jaringan terinfeksi dan jaringan mati secara teratur

Kontrol tekanan: mengurangi tekanan. Tekanan yang berulang dapat menyebabkan perlukaan, sehingga harus dihindari. Hal itu sangat penting dilakukan pada luka akibat kerusakan saraf, dan diperlukan pembuangan kalus dan memakaikan sepatu yang pas yang berfungsi untuk mengurangi tekanan. Gunakan alas kaki yang cocok dengan bentuk kaki, 1-2 cm lebih panjang dari ukuran kaki. gunakan selalu alas kaki baik didalam maupun diluar rumah. Kalau perlu buat sepatu yang dibuat khusus menyesuaikan dengan bentuk atau kelainan kaki yang ada.

Kontrol edukasi: penyuluhan yang baik.

o   Edukasi perawatan kaki harus diberikan secara rinci pada semua orang dengan luka maupun neuropati perifer atau peripheral arterial disease.

  1. Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir dan air.
  2. Periksa kaki setiap hari, dan laporkan pada dokter apabila ada kulit terkelupas atau daerah kemerahan atau luka.
  3. Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakaikannya.
  4. Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, dan mengoleskan krim pelembab ke kulit yang kering.
  5. Gunting kuku dengan cara yang benar, jangan membuat luka dan jangan sampai kuku tumbuh ke dalam daging.
  6. Bersihkan kaki setiap hari.
  7. Setiap 4-6 jam lepaskan sepatu
  8. Gerakkan pergelangan kaki dan jari-jari kaki untuk melancarkan sirkulasi darah.
  9. Jangan merendam kaki
  10. Jangan menggunakan botol panas/peralatan listrik untuk memanaskan kaki.
  11. Jangan menggunakan silet untuk mengurangi kapalan.
  12. Jangan menggunakan obat-obat tanpa anjuran dokter untuk menghilangkan mata ikan.
  13. Jangan menggunakan sikat tajam atau pisau untuk kaki.
  14. Jangan membiarkan luka di kaki sekecil apa pun.

o   Edukasi perawatan kaki harus dilakukan secara teratur.

 

(dari berbagai sumber)

Kaki Diabetes

Kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi diabetes pada berbagai organ tubuh. Data epidemiologis di luar negeri menunjukkan 4-10% diabetisi akan mengalami masalah kaki dibetes. Sebagian terbesar (40-70%) amputasi kaki terkait dengan diabetes.

Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama akan menimbulkan beban kepada jaringan tubuh.

Gula darah yang merupakan nutrisi tubuh, karena jumlahnya berlebih malah menjadi racun bagi sel-sel tubuh. Penumpukkan racun itu akan mengganggu pembuluh darah dan sel saraf.

Pembuluh darah mengalami kerusakan dan tidak dapat menyediakan kebutuhan nutrisi dan oksigen kepada jaringan tubuh yang membutuhkan. Akibatnya, jaringan tubuh menjadi tidak sehat, sel-selnya kekurangan nutrisi dan dalam waktu lama menjadi rusak. Keadaan jaringan yang tidak sehat ini juga menjadi rentan terhadap masalah infeksi, karena sistem imunitas jaringan juga menjadi tidak optimal.

Kerusakan sel saraf tepi khususnya pada tungkai kaki menyebabkan kulit kaki mengalami pengurangan sensasi. Selain itu ditemukan juga kelemahan otot-otot intrinsik kaki, sehingga otot tersebut tidak dapat mempertahankan struktur-struktur dalam kaki terhadap pengaruh berat badan dan tekanan dari luar (misal: sepatu, alas kaki yang lain).

Kondisi-kondisi di atas menyebabkan kaki rentan mengalami luka dan infeksi.

Langkah-langkah deteksi dini kaki diabetik meliputi:

  • Adanya keluhan kaki kesemutan atau Baal (kulit teras tebal)
  • Adanya perubahan bentuk kaki seperti jari yang bengkok, kulit kering dan pecah-pecah, mata ikan, dll
  • Denyut nadi kaki melemah
  • Melakukan pemeriksaan dengan MONOFILAMEN
  • Melakukan pengukuran tekanan pembuluh darah di kaki dengan DOFLER.

Dengan melakukan deteksi dini kaki diabetik maka bisa diketahui upaya-upaya pencegahan yang perlu dilakukan.

Masalah kaki diabetes

Kalus
Merupakan penebalan kulit yang umumnya terjadi di telapak kaki, terutama di bagian yang menonjol. Kalus disebabkan gesekan atau tekanan berulang pada daerah yang sama, juga karena distribusi berat badan yang tidak seimbang, sepatu yang tidak sesuai (kesempitan), atau kelainan kulit. Kalus dapat menjadi berkembang menjadi infeksi, terlebih bila dimanipulasi ( dikorek, digunting)

Kulit melepuh

Terjadi jika sepatu selalu menggesek kaki pada daerah yang sama. Disebabkan penggunaan sepatu yang kurang pas atau tanpa kaus kaki. Kulit melepuh dapat berkembang menjadi infeksi. Penanganan kulit melepuh adalah dengan tidak meletuskannya.

Kuku kaki yang tumbuh ke dalam

Terjadi ketika ujung kuku tumbuh ke dalam kulit dan menimbulkan tekanan yang dapat merobek kulit sehingga kulit bengkak kemerahan dan terinfeksi. Kuku kaki yang tumbuh ke dalam dapat terjadi jika memotong kuku sampai ke ujung, dapat pula disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu ketat atau trauma kaki karena aktivitas seperti berlari dan aerobik. Jika ujung kuku kaki kasar, pergunakan kikir untuk meratakannya.

Pembengkakan ibu jari kaki

Terjadi jika ibu jari kaki condong ke arah jari di sebelahnya sehingga menimbulkan kemerahan, rasa sakit, dan infeksi. Dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki karena penggunaan sepatu berhak tinggi dan ujung yang sempit.

Jari kaki bengkok

Terjadi ketika otot intrinsik  kaki menjadi lemah. Kerusakan saraf karena diabetes dapat menyebabkan kelemahan ini. Otot yang lemah dapat menyebabkan tendon (jaringan yang menghubungkan otot dan tulang) di kaki memendek sehingga jari kaki menjadi bengkok. Akan menimbulkan masalah dalam berjalan dan kesulitan menemukan sepatu yang tepat. Dapat juga disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu pendek.

Kulit kaki kering dan pecah

Dapat terjadi karena kerusakan saraf pada kaki. Sehingga kulit kaki berkurang memproduksi keringat yang akan menjaga kulit tetap lembut dan lembab. Kulit yang kering dapat pecah. Adanya pecahan pada kulit dapat membuat kuman masuk dan menyebabkan infeksi. Dengan gula darah anda yang tinggi, kuman akan mendapatkan makanan untuk berkembang sehingga memperburuk infeksi.

Iskemi pada kaki memberikan dua gambaran klinik yang berbeda,yaitu nyeri istirahat (rest pain) dan gangren. Pada nyeri istirahat kaki teraba dingin dan tampak merah muda. Perasaan nyeri seperti terbakar pada seluruh kaki dan biasanya memburuk di malam hari. Gangren hampir selalu dimulai pada ibu jari kaki. Biasanya tanpa nyeri, warna keungu-unguan kemudian menjadi hitam dan kering. Bila disertai infeksi,gangren menjadi basah dan berbau khas.