PERANAN SENAM DIABETES DALAM PREVENSI PRIMER

Diabetes Mellitus (kencing manis) merupakan penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah baik puasa maupun  setelah makan yang kadarnya melebihi nilai normal. Penyakit ini sudah lama dikenal, bahkan sejak 1500 tahun SM,  dan sekarang jumlah penderitanya semakin bertambah. Sebagai penyakit metabolik kronik, dapat diartikan bahwa selama metabolisme berlangsung maka akan selalu ada. Pendek kata penyakit ini dapat diderita seumur hidup, atau tidak dapat dikatakan sembuh, tetapi dapat dikontrol dengan baik tergantung pada penderitanya sendiri. Dokter, perawat, ahli gizi, edukator diabetes hanya memfasilitasi dan memotivasi agar pasien dapat mengelola diabetes dengan baik sehingga terhindar dari komplikasi.

Patofisiologi atau perjalanan penyakit diabetes ini pada dasarnya akibat dari berkurangnya pengeluaran insulin dari sel beta pankreas dan gangguan pada reseptor insulin di jaringan hati dan otot. Dengan demikian gula tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga kadarnya didapatkan meningkat dalam darah. Penyakit ini kadang tidak disertai dengan gejala, dan banyak kasus yang ditemukan secara kebetulan pada waktu periksa di pusat layanan kesehatan. Gejala klasik yang sering didapatkan adalah banyak kencing, terutama malam hari yang disebut poliuria, merasa lapar dan ingin makan terus yang disebut polifagia dan selalu merasa haus atau  polidipsia. Jumlah penderita ini semakin banyak ditemukan dan kejadiannya cenderung muncul di usia yang lebih muda. Perubahan pola hidup dan  pola makan sangat besar pengaruhnya. Di jaman yang serba digitalisasi aktifitas fisik cenderung berkurang, sedangkan keinginan makan cenderung meningkat. Ketidak seimbangan antara asupan karbohidrat dan aktifitas fisik inilah yang memicu munculnya penyakit diabetes.

Prinsip pengelolaan diabetes adalah dengan diet atau pengeloaan makan, exercise atau olah raga yang teratur minimal 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu, dan minum obat atau memakai insulin secara teratur. Banyak pengertian yang sering kali tidak tepat di masyarakat seperti misalnya penggunaan insulin, dianggap penyakitnya sudah parah atau akan ketergantungan seumur hidup,  kemudian adanya diabetes tipe kering dan tipe basah serta penggunaan obat kimiawi yang akan mempercepat kerusakan ginjal. Informasi tersebut perlu diluruskan agar pasien mendapatkan informasi yang benar. Penggunaan Insulin diperlukan apabila pasien dirawat di Rumah sakit untuk menjalani operasi, perawatan luka diabetes pada kaki, atau  pada penderita diabetes yang kurus. Ketergantungan pada insulin dari luar hanya  didapatkan pada penderita diabetes tipe 1 di mana sel beta pankreas penghasil insulin rusak secara total. Berbeda dengan diabetes tipe 2, yang kerusakannya hanya sebagian, sehingga pada diabetes tipe 2 dapat menggunakan obat penurun gula darah, insulin atau kombinasi keduanya. Pada diabetes yang terjadi pada saat kehamilan juga diperlukan insulin untuk mengendalikan gula darah. Kerusakan pada ginjal yang sering dianggap karena kebanyaan obat, sebenarnya akibat kerusakan pembuluh darah kecil pada ginjal (mikroangiopati) akibat tingginya kadar gula darah. Hal yang sama juga bisa terjadi pada mata yang disebut retinopati. Apabila bila kerusakan pembuluh darah terjadi pada pembuluh yang besar (makroangiopati), maka bisa muncul komplikasi stroke, penyakit jantung koroner maupun penyakit kaki diabetes,

Mengingat begitu banyak komplikasi dari diabetes, maka upaya pencegahan primer maupun upaya promotif perlu ditingkatkan. Edukasi secara kelompok maupun mandiri, penggunaan media sosial baik tulis maupun audiovisual sangat bermanfaat dalam upaya tersebut.

Olah raga atau senam diabetes sudah lama dikenal dan semakin banyak masyarakat yang turut aktif.  Senam diabetes bermanfaat karena dapat menurunkan kadar gula darah, mengaktifkan reseptor insulin pada otot, memperbaiki keluhan pada muskuloskeletal atau otot dan sendi, serta mengurangi kebutuhan obat maupun insulin. Olah raga atau senam pada diabetes seyogyanya memenuhi unsur-unsur, Continuous yang berarti dilakukan secara terus menerus, rhythmical yang berarti berirama di mana otot melakukan kontraksi dan relaksasi, interval yang berarti kadang cepat kadang lambat secara kontinyu, progresif yang artinya beban ditingkatkan secara bertahap dan endurance yang artinya dapat meningkatkan ketahanan dan kebugaran tubuh. RS Panti rapih memiliki kelompok senam diabetes yang dinamakan PIDD (Pusat Informasi Diabetes dan Dislipidemia), yang melakukan senam secara rutin tiap hari minggu jam 07.00-08.00 yang sementara ini bertempat di lobby Lt 2 Gedung Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih.  Pada peringatan Hari Diabetes sedunia (World Diabetes Day) tahun 2018 senam diselenggarakan di pelataran parkir embung Nglangeran dengan latar belakang Gunung api purba yang sangat mempesona. Kegiatan ini sekaligus memasyarakatkan senam di kalangan awam. Bagi pasien, keluarga atau anggota masyarakat dapat bergabung dengan kelompok senam tersebut dan terbuka untuk umum.

Rumah Sakit Panti Rapih memiliki juga Klub Diabetica dan Dislipidemia yang mengadakan pertemuan rutin setiap bulan genap hari Minggu ke-2 pukul 09.00.  Jika tertarik baik untuk mengikuti pertemuan Klub maupun mengikuti kegiatan senam, informasi lebih lanjut dapat ditanyakan melalui nomor telepon Rumah Sakit Panti Rapih (0274-563333).

 

Oleh:

dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD

(Dokter Spesialis Bagian Penyakit Dalam-Endokrinologi RS Panti Rapih)