GANGGUAN SARAF AKIBAT PENYAKIT GULA

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (misalnya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

 

Disusun oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter RS Panti Rapih)

HIPERTIROIDISME DAN MANIFESTASI KLINISNYA

Suatu ketika datang kepada saya seorang wanita muda usia 24 tahun dengan keluhan berat badan yang menurun hampir 4 kg dalam 1 bulan dan cepat capai disertai frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari tanpa diare. Pasien merasa bahwa dirinya terkena penyakit kencing manis, tetapi pada saat dilakukan pemeriksaan gula darah sesaat, ternyata hanya 95 mg/dL. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium akhirnya didapatkan diagnose pasien tersebut adalah penderita Hipertiroid dan dengan penanganan yang tepat, gejala yang dirasakannya membaik dan berat badan kembali normal.

Kondisi seperti pasien tersebut banyak didapatkan dalam praktek sehari-hari. Hipertiroid adalah istilah yang menggambarkan adanya produksi hormone tiroid yang berlebihan sehingga menimbulkan gejala klinis. Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar hormone yang terletak di leher, berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang dikenal sebagai Free T4 dan Free T3 atas stimulasi dari Tiroid Stimulating Hormone (TSH) dari kelenjar hipofise. Hormon tiroid bertanggung jawab atas berbagai metabolisme dalam tubuh. Apabila tubuh mengalami kelebihan hormone ini disebut hipertiroid dan bila kekurangan disebut hipotiroid.

Penderita dengan hipertiroid akan menunjukkan gejala-gejala penurunan berat badan, tidak tahan terhadap cuaca panas, rambut rontok, jantung berdebar-debar, sering buang air besar, dan tangan gemetar. Mata yang tampak menonjol (exopthalmus) juga sering ditemukan pada penyakit Graves’ . Kondisi seperti ini disebabkan tertimbunnya jaringan lemak di belakang bola mata yang akan mendorong mata keluar sehingga batas atas kornea tidak tertutup kelopak mata. Sekilas terlihat seperti orang yang sedang marah.  Untuk menegakkan diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kadar Free T4 dan TSHs.  Apabila didapatkan kadar Free T4 yang meningkat dan kadar TSHs yang rendah, maka disebut Hipertiroidisme. Peningkatan kadar free T4 tidak selalu berkorelasi dengan besar-kecilnya kelenjar tiroid. Penyebab hipertiroidisme ini antara lain karena penyakit Graves’ atau autoimun dan  peradangan pada kelenjar tiroid (tiroiditis). Pembesaran kelenjar tiroid pada penyakit Graves’ umumnya bersifat difus atau merata dan teraba lunak. Pada tumor tiroid benjolan teraba keras, bahkan tidak disertai kelainan fungsi tiroid.

Kegawatan yang terjadi pada kondisi hipertiroid disebab Krisis tiroid atau badai tiroid. Kasus ini jarang dijumpai, bahkan pengalaman penulis selama menjalani tugas sebagai dokter penyakit dalam baru dua kasus yang dijumpai. Krisi tiroid terjadi akibat pengeluaran hormone tiroid yang berlebihan, biasanya dipicu oleh infeksi berat, tindakan operasi atau manipulasi kelenjar tiroid yang berlebihan. Kondisi ini memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif dan pasien selalu disertai demam.

Penanganan hipertiroid dapat dilakukan dengan obat-obatan, iodium radioaktif atau pembedahan. Obat yang sering digunakan adalah Propil Thyouracil atau Metimazole yang bisa diberikan sampai jangka waktu yang lama. Monitoring kadar free T4 secara periodik diperlukan untuk mengevaluasi dosis obat yang diberikan. Apabila dengan dosis terkecil, kadar Free T4 berada pada kisaran normal, obat bisa diberhentikan dulu tetapi monitoring kadar Free T4 tetap dilakukan karena ada kalanya kondisi tersebut relaps (kambuh). Pengobatan dengan Iodium radioaktif masih sering dikhawatirkan oleh sebagian pasien. Pengobatan ini tidak perlu dikhawatirkan karena pada prinsipnya hanya memberikan Iodium radioaktif dengan dosis kecil di mana radioaktif tersebut akan mematikan sel-sel kelenjar tiroid yang memproduksi hormon secara berlebihan. Efek samping yang mungkin timbul apabila semua sel-sel kelenjar tiroid tidak berfungsi, maka akan timbul kondisi Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid dan harus minum Levothyroxin seumur hidup. Pengobatan ini menjadi kompetensi dokter spesialis kedokteran nuklir. Operasi atau pembedahan pada dasarnya hanya untuk mengurangi volume atau besarnya kelenjar tiroid, jadi lebih bersifat kosmetik. Berbeda pada tumor ganas tiroid, pembedahan sifatnya harus dilakukan dan secara radikal atau total dan semua jaringan tiroid akan diambil beserta kelenjar getah bening di sekitarnya,  selanjutnya juga dilakukan pengobatan dengan iodium radioaktif untuk mematikan sel-sel ganas yang masih tersisa.

Hal yang terpenting bagi pasien hipertiroid apapun sebabnya, minum obat secara teratur dan monitoring kadar hormone tiroid secara berkala sangat diperlukan. Konsultasi dengan dokter yang menangani akan membantu keberhasilan terapi.

 

Oleh :

dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD

(Bagian Penyakit Dalam-Endokrinologi RS Panti Rapih)

STOP STIGMA SELAMA PANDEMI COVID-19

Pandemi merupakan suatu situasi dimana terdapat sebuah penyakit yang dialami oleh masyarakat di berbagai negara di dunia dalam waktu yg relatif bersamaan. Seperti yang telah kita ketahui bersama, dunia tengah dilanda pandemi COVID-19. Kasus positif COVID-19 pertama di Indonesia diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020. Segera setelah kasus tersebut diumumkan, rakyat Indonesia bergegas mempersiapkan diri untuk menghadapi penyakit tersebut.

Pemerintah, petugas medis, petugas paramedis, hingga relawan bahu membahu mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki untuk menangani dan mencegah penyebaran penyakit ini. Para donatur dari berbagai kalangan senantiasa memberikan bantuan material yang diperlukan oleh tenaga kesehatan. Dukungan juga datang dari dunia pendidikan, dimana sekolah dan perguruan tinggi mengganti kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi kegiatan belajar mengajar jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi. Tempat ibadah dan para pemuka agama dari berbagai agama juga menghimbau para umatnya agar beribadah di rumah masing-masing untuk sementara waktu. Gerakan social distancing, physical distancing, dan stay at home juga turut digalakkan dikalangan masyarakat.  Seluruh hal tersebut merupakan upaya untuk mencegah penyebaran virus corona.

Stigma di Tengah Pandemi COVID-19
Dibalik seluruh perjuangan yang tengah kita lakukan saat ini, ternyata masih ada sekelompok orang yang memberikan stigma kepada para petugas medis, petugas paramedis, dan bahkan kepada para pasien. Beberapa waktu yang lalu, kita sempat dihebohkan dengan adanya berita pengusiran dokter dan perawat dari tempat tinggalnya. Sempat juga terdengar berita bahwa para tenaga medis maupun paramedis mendapat perilaku yang tidak menyenangkan dari orang-orang di sekelilingnya, seperti dijauhi dan dicemooh. Mereka diberi cap sebagai “pembawa virus” atau “penyebar virus”.
Hal ini tentu sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Mengingat tenaga medis dan paramedis telah berjuang keras mengerahkan tenaga, pikiran, dan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk menangani pasien-pasien. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya keterbatasan alat pelindung diri (APD), tenaga medis dan paramedis tetap bersedia melayani para pasien.

Beban kerja yang meningkat selama pandemi ini menuntut mereka untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada waktu di rumah. Rasa lelah baik secara fisik maupun psikis adalah hal utama yang mereka rasakan. Dalam masa-masa seperti ini, dukungan secara psikologis sangat diperlukan bagi mereka.

Para pasien pun juga tidak luput dari stigma tersebut. Sebagian pasien, khususnya dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) atau bahkan telah terkonfirmasi menderita penyakit COVID-19 diperlakukan dengan tidak baik oleh orang-orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Keluarga pasien dijauhi dan dianggap membawa penyakit. Sempat juga kita dengar beberapa kasus di suatu daerah dimana masyarakat sekitar menolak pemakaman jenazah dengan penyakit ini.
Kesedihan yang mendalam tentu dirasakan oleh keluarga yang pasien. Mereka tidak hanya sedih karena kematian salah satu anggota keluarganya, tetapi juga terluka akibat perlakuan diskriminatif orang-orang disekelilingnya. Alih-alih memberikan perhatian dan bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan, masyarakat justru mengucilkan dan berlaku tidak adil. “Sudah jatuh, tertimpa tangga” itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Stop Stigma Sekarang Juga
Setiap fasilitas kesehatan pasti memiliki standard operating procedure (SOP). SOP merupakan sebuah dokumen yang berisi instruksi terkait kegiatan atau tindakan yang rutin dilakukan. SOP yang ada di fasilitas kesehatan bermacam-macam jenisnya dan mencakup berbagai tindakan. Setiap SOP dibuat dengan tujuan untuk menjaga keselamatan petugas dan pasien. Para petugas medis dan paramedis selalu bekerja dengan mematuhi aturan-aturan tersebut, termasuk perihal pemakaian dan pelepasan APD serta perawatan pasien infeksius. Segera setelah selesai bertugas, petugas medis dan paramedis juga dihimbau untuk langsung membersihkan diri dan mengganti baju sebelum pulang. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya tidak perlu cemas berlebih hingga mendiskriminasi petugas medis dan paramedis karena mereka semua pasti bekerja sesuai dengan standar.

Jika masyarakat tetap mendiskriminasi petugas medis dan paramedis, siapakah yang akan menolong dan merawat ketika masyarakat sakit? Bagaimana jika suatu saat tenaga medis dan paramedis gugur satu per satu oleh karena tidak mendapat dukungan?
Situasi tentu akan lebih kacau. Tidak semua orang bisa dan mampu menjadi petugas medis maupun paramedis. Diperlukan pendidikan khusus selama bertahun-tahun untuk bisa menyandang gelar dokter, perawat, apoteker, dan gelar profesi lainnya.

Penanganan jenazah PDP maupun yang telah terkonfirmasi COVID-19 juga seharusnya tidak perlu menjadi momok bagi masyarakat. Pemerintah dan fasilitas kesehatan sudah menetapkan langkah-langkah yang harus dipenuhi untuk menangani jenazah tersebut. Apabila senantiasa menjaga kebersihan diri, mematuhi aturan pemerintah, dan tenaga kesehatan, masyarakat tidak perlu takut secara berlebih hingga merugikan orang lain.Stop stigma selama pandemi COVID-19. Jangan memperkeruh suasana. Dukunglah para tenaga medis, tenaga paramedis, dan pasien dengan cara sederhana, seperti tidak menyebar ujaran kebencian, tidak mengucilkan, dan tidak menyebar berita bohong. Pada masa sulit seperti ini, kita harus bekerja sama, bahu membahu, dan mendukung satu sama lain demi kebaikan diri kita sendiri dan sesama. Semoga kita semua dapat melalui pandemi ini bersama-sama.

 

Oleh :

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

(Dokter Umum RS Panti Rapih)

Apa Itu Self Isolation?

Self Isolation dilakukan bila seseorang menderita sakit seperti demam, batuk, sesak nafas, memilih untuk tinggal di rumah tanpa pergi ke sekolah, kantor dan tempat umum, untuk mencegah penularan penyakit.

Apa yang dilakukan ketika Self Isolation?

  1. Lakukan etika dan bersin, gunakan masker selama isolasi.
  2. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  3. Hindari pemakaian bersama peralatan makan, peralatan mandi, dan linen/sprei.
  4. Bersihkan area yang sering disentuh dengan cairan desinfektan.
  5. Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya. Upayakan menjaga jarak dari anggota keluarga setidaknya 1 meter.
  6. Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis seperti batuk atau kesulitan bernapas
  7. Tinggal di rumah, jangan pergi bekerja, dan jangan ke ruang public.
  8. Hubungi segera fasyankes jika sakit berlanjut seperti napas untuk dirawat lebih lanjut.

Durasi Self Isolation jika positif COVID-19 “sampai dikatakan negatif COVID-19 oleh petugas kesehatan”.

Lakukan Self Monitoring jika seseorang terpapar dengan kasus COVID-19 positif atau riwayat perjalanan ke negara/kota terpapar COVID-19 selama 14 hari.

Waspada Virus Korona

Apa itu Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau COVID-19?

Novel coronavirus (2019-nCoV) adalah jenis baru coronavirus yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia menyebabkan penyakit mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Apa saja gejala Novel Coronavirus (2019-nCoV)?

Gejala umum berupa demam ≥38 derajat Celcius, batuk, pilek, nyeri tenggorokan dan sesak napas. Jika ada orang dengan gejala tersebut serta pernah melakukan perjalanan ke Tiongkok (terutama Wuhan), atau pernah merawat/kontak dengan penderita 2019-nCoV, maka terhadap orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut untuk memastikan diagnosisnya.

Apakah antibiotik efektif dalam mencegah dan mengobati Novel Coronavirus?

Tidak, antibiotik tidak bekerja melawan virus, hanya bakteri. Novel Coronavirus (2019-nCoV) adalah virus, oleh karena itu, antibiotik tidak boleh digunakan sebagai sarana pencegahan atau pengobatan. Namun, jika Anda dirawat di rumah sakit untuk 2019-nCoV, Anda mungkin menerima antibiotik, karena infeksi sekunder bakteri mungkin terjadi.

Apa saja upaya pencegahan di Indonesia?
  1. Memperketat pemeriksaan di bandara menggunakan alat pemindai tubuh
  2. Melakukan deteksi, pencegahan, repons jika menemukan pasien dengan gejala pneumonia berat seperti di Wuhan
  3. Melakukan perawatan, pengobatan isolasi terhadap pasien gejala pneumonia
Lalu perlukah kita menggunakan masker?

Ya! Bagi tenaga kesehatan yang menangani pasien dengan gejala gangguan pernapasan

Ya! Jika kita memiliki gejala gangguan pernapasan, batuk, sesak napas

Ya! Jika kita merawat orang dengan gejala gangguan pernapasan

Tidak! Bagi masyarakat umum yang tidak mengalami masalah gangguan pernapasan

Jantung Anak

Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 September. Bertujuan untuk menciptakan sebuah komunitas global pahlawan jantung (Heart Heroes). Pahlawan ini adalah setiap orang dari semua lapisan masyarakat, yang bertindak untuk hidup lebih lama, lebih nyaman dan lebih baik, karena memiliki jantung yang lebih sehat. Caranya adalah dengan membuat berbagai janji. Pertama, janji untuk keluarga kita masing-masing, yaitu akan memasak dan makan yang lebih sehat. Kedua janji untuk anak, yaitu akan mendampingi berolahraga lebih banyak dan lebih aktif, untuk mengatakan tidak kepada rokok dan membantu orang yang kita cintai untuk berhenti. Ketiga janji sebagai seorang profesional kesehatan untuk membantu pasien berhenti merokok dan menurunkan kadar kolesterol. Semuanya adalah sebuah janji sederhana untuk jantung kita.

Penyakit jantung terutama karena pola hidup yang tidak sehat adalah pembunuh nomor satu di dunia saat ini, tetapi pada bayi dan anak sedikit berbeda. Dr. Nikmah Salamiah, SpA (K), PhD dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap insan, termasuk bayi dan anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil, guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh seorang anak. Sayangnya, 7 hingga 8 bayi per 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat ruang jantung, penyempitan atau sumbatan katup atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung, ataupun abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah. Kelainan struktur tersebut dapat bersifat tunggal ataupun berkombinasi, sehingga menimbulkan PJB kompleks. Kendati terdapat ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe. Tipe pertama disebut dengan PJB biru (sianotik), yaitu jenis PJB yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir terutama di daerah lidah, bibir dan ujung-ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah. Tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak. PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menetek atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi.

Tergantung pada jenis dan kompleksitas kelainan, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa. Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kulit kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda klinis yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. Untuk itu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya PJB. Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat ‘timing’ yang tepat untuk tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan. Terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan, hingga anak tumbuh sampai dewasa. Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi ataupun intervensi kateter (non-bedah).

Sejauh ini, penyebab PJB belum diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan penelitian, diduga bersifat multifaktorial, yaitu melibatkan kerentanan genetik (bawaan) dan faktor lingkungan. Paparan rokok saat kehamilan (baik ibu perokok aktif maupun pasif), konsumsi obat tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Down, dilaporkan meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Yang penting diperhatikan adalah pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan, dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat Ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Untuk itu, penting bagi setiap Ibu untuk menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan.

Nyeri dada adalah keluhan klinik tersering yang terkait dengan kelainan jantung, biasanya dipicu atau bertambah berat dengan aktivitas fisik (exertional chest pain), disertai keluhan jantung berdebar atau irama jantung tidak teratur. Anak agak besar sering melaporkan sebagai nyeri seperti ditekan, atau terdapat beban di atas dada dan mungkin menjalar, atau diikuti gejala pingsan atau hampir pingsan, dan pusing yang disertai mata berkunang-kunang. Untuk menyingkirkan kelainan jantung, pada umumnya dibutuhkan pemeriksaan tambahan berupa rekam listrik jantung (elektrokardiografi atau EKG) dan ultrasonografi jantung (ekokardiografi). Pada anak besar, juga dapat dilakukan tes latihan dengan treadmill atau sepeda statis, untuk melihat apakah gejala nyeri dada dan perubahan EKG terjadi dengan aktivitas fisik atau olahraga.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2019 mengingatkan kita, akan peran besar para pahlawan jantung (Heart Heroes), termasuk untuk Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak.

Sudahkah kita bertindak bijak?

 

Oleh:

Dr. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk!

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

photo by google images

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

 

Oleh:

Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD

 

PERANAN SENAM DIABETES DALAM PREVENSI PRIMER

Diabetes Mellitus (kencing manis) merupakan penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah baik puasa maupun  setelah makan yang kadarnya melebihi nilai normal. Penyakit ini sudah lama dikenal, bahkan sejak 1500 tahun SM,  dan sekarang jumlah penderitanya semakin bertambah. Sebagai penyakit metabolik kronik, dapat diartikan bahwa selama metabolisme berlangsung maka akan selalu ada. Pendek kata penyakit ini dapat diderita seumur hidup, atau tidak dapat dikatakan sembuh, tetapi dapat dikontrol dengan baik tergantung pada penderitanya sendiri. Dokter, perawat, ahli gizi, edukator diabetes hanya memfasilitasi dan memotivasi agar pasien dapat mengelola diabetes dengan baik sehingga terhindar dari komplikasi.

Patofisiologi atau perjalanan penyakit diabetes ini pada dasarnya akibat dari berkurangnya pengeluaran insulin dari sel beta pankreas dan gangguan pada reseptor insulin di jaringan hati dan otot. Dengan demikian gula tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga kadarnya didapatkan meningkat dalam darah. Penyakit ini kadang tidak disertai dengan gejala, dan banyak kasus yang ditemukan secara kebetulan pada waktu periksa di pusat layanan kesehatan. Gejala klasik yang sering didapatkan adalah banyak kencing, terutama malam hari yang disebut poliuria, merasa lapar dan ingin makan terus yang disebut polifagia dan selalu merasa haus atau  polidipsia. Jumlah penderita ini semakin banyak ditemukan dan kejadiannya cenderung muncul di usia yang lebih muda. Perubahan pola hidup dan  pola makan sangat besar pengaruhnya. Di jaman yang serba digitalisasi aktifitas fisik cenderung berkurang, sedangkan keinginan makan cenderung meningkat. Ketidak seimbangan antara asupan karbohidrat dan aktifitas fisik inilah yang memicu munculnya penyakit diabetes.

Prinsip pengelolaan diabetes adalah dengan diet atau pengeloaan makan, exercise atau olah raga yang teratur minimal 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu, dan minum obat atau memakai insulin secara teratur. Banyak pengertian yang sering kali tidak tepat di masyarakat seperti misalnya penggunaan insulin, dianggap penyakitnya sudah parah atau akan ketergantungan seumur hidup,  kemudian adanya diabetes tipe kering dan tipe basah serta penggunaan obat kimiawi yang akan mempercepat kerusakan ginjal. Informasi tersebut perlu diluruskan agar pasien mendapatkan informasi yang benar. Penggunaan Insulin diperlukan apabila pasien dirawat di Rumah sakit untuk menjalani operasi, perawatan luka diabetes pada kaki, atau  pada penderita diabetes yang kurus. Ketergantungan pada insulin dari luar hanya  didapatkan pada penderita diabetes tipe 1 di mana sel beta pankreas penghasil insulin rusak secara total. Berbeda dengan diabetes tipe 2, yang kerusakannya hanya sebagian, sehingga pada diabetes tipe 2 dapat menggunakan obat penurun gula darah, insulin atau kombinasi keduanya. Pada diabetes yang terjadi pada saat kehamilan juga diperlukan insulin untuk mengendalikan gula darah. Kerusakan pada ginjal yang sering dianggap karena kebanyaan obat, sebenarnya akibat kerusakan pembuluh darah kecil pada ginjal (mikroangiopati) akibat tingginya kadar gula darah. Hal yang sama juga bisa terjadi pada mata yang disebut retinopati. Apabila bila kerusakan pembuluh darah terjadi pada pembuluh yang besar (makroangiopati), maka bisa muncul komplikasi stroke, penyakit jantung koroner maupun penyakit kaki diabetes,

Mengingat begitu banyak komplikasi dari diabetes, maka upaya pencegahan primer maupun upaya promotif perlu ditingkatkan. Edukasi secara kelompok maupun mandiri, penggunaan media sosial baik tulis maupun audiovisual sangat bermanfaat dalam upaya tersebut.

Olah raga atau senam diabetes sudah lama dikenal dan semakin banyak masyarakat yang turut aktif.  Senam diabetes bermanfaat karena dapat menurunkan kadar gula darah, mengaktifkan reseptor insulin pada otot, memperbaiki keluhan pada muskuloskeletal atau otot dan sendi, serta mengurangi kebutuhan obat maupun insulin. Olah raga atau senam pada diabetes seyogyanya memenuhi unsur-unsur, Continuous yang berarti dilakukan secara terus menerus, rhythmical yang berarti berirama di mana otot melakukan kontraksi dan relaksasi, interval yang berarti kadang cepat kadang lambat secara kontinyu, progresif yang artinya beban ditingkatkan secara bertahap dan endurance yang artinya dapat meningkatkan ketahanan dan kebugaran tubuh. RS Panti rapih memiliki kelompok senam diabetes yang dinamakan PIDD (Pusat Informasi Diabetes dan Dislipidemia), yang melakukan senam secara rutin tiap hari minggu jam 07.00-08.00 yang sementara ini bertempat di lobby Lt 2 Gedung Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih.  Pada peringatan Hari Diabetes sedunia (World Diabetes Day) tahun 2018 senam diselenggarakan di pelataran parkir embung Nglangeran dengan latar belakang Gunung api purba yang sangat mempesona. Kegiatan ini sekaligus memasyarakatkan senam di kalangan awam. Bagi pasien, keluarga atau anggota masyarakat dapat bergabung dengan kelompok senam tersebut dan terbuka untuk umum.

Rumah Sakit Panti Rapih memiliki juga Klub Diabetica dan Dislipidemia yang mengadakan pertemuan rutin setiap bulan genap hari Minggu ke-2 pukul 09.00.  Jika tertarik baik untuk mengikuti pertemuan Klub maupun mengikuti kegiatan senam, informasi lebih lanjut dapat ditanyakan melalui nomor telepon Rumah Sakit Panti Rapih (0274-563333).

 

Oleh:

dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD

(Dokter Spesialis Bagian Penyakit Dalam-Endokrinologi RS Panti Rapih)