Frozen Shoulder / Adhesive Capsulitis

Frozen shoulder disebut juga adhesive capsulitis adalah gangguan berupa rasa nyeri dan kaku di area bahu kadang menjalar sampai ke lengan; lengan sangat berat saat diangkat. Kondisi ini menyebabkan terbatasnya pergerakan bahu hingga terkadang tidak dapat digerakkan sama sekali. Nyeri bisa timbul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas dan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Bahkan hanya untuk menggaruk punggung atau merogoh kantong belakang, menyisir rambut, mengaitkan tali bra, menggosok badan saat mandi penderita akan sangat kesulitan. Pada beberapa orang, gejala akan cenderung memburuk, terutama di malam hari.

Frozen Shoulder Behandeling - Tegen Pijn en Stijfheid

Frozen shoulder umumnya muncul dan memburuk secara bertahap, serta dapat berlangsung selama 1-3 tahun. Frozen shoulder juga diketahui merupakan kondisi dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Kondisi ini ditandai dengan proses bertahap terjadinya keterbatasan pergerakan bahu secara aktif maupun pasif. Padahal, disisi lain, tidak ditemukan adanya gangguan pada pemeriksaan radiologi.

Frozen shoulder dapat berkembang ketika kita berhenti menggunakan sendi karena sakit, cedera atau kondisi kesehatan kronis. Setiap masalah bahu dapat menyebabkan frozen shoulder jika tidak melatih lingkup gerak sendi.

Gejala frozen shoulder umumnya berkembang perlahan dalam tiga tahapan, yang setiap tahapannya bisa berlangsung selama beberapa bulan, yaitu:

  1. Tahap pertama atau freezing stage yaitu bahu mulai terasa nyeri tiap digerakkan dan pergerakan bahu mulai terbatas. Periode ini bisa berlangsung 2-9 bulan.
  2. Tahap kedua atau frozen stage yaitu nyeri mulai berkurang, namun bahu menjadi semakin kaku atau tegang sehingga sulit digerakkan. Periode ini bisa berlangsung selama 4 bulan hingga 1 tahun.
  3. Tahap ketiga atau stawing stage yaitu gerakan bahu mulai membaik. Tahap ini umumnya terjadi dalam 1 hingga 3 tahun.

Apa penyebab frozen shoulder?

Bahu memiliki kapsul pelindung berupa jaringan yang saling berhubungan. Kapsul ini melindungi tulang, ligamen dan tendon pada bahu. Frozen shoulder terjadi karena jaringan parut membuat kapsul pelindung menebal dan menempel di sekitar sendi bahu, sehingga membatasi pergerakan bahu. Namun demikian, belum diketahui apa yang menyebabkan jaringan parut tersebut terbentuk. Penyebabnya kemungkinan karena tidak bergerak untuk waktu yang lama, seperti cedera, setelah operasi, atau patah lengan. Frozen shoulder juga lebih mungkin terjadi pada orang yang mengidap diabetes.

Beberapa kondisi yang bisa meningkatkan faktor resiko frozen shoulder:

  1. Usia: orang berusia 40 th atau lebih tua, terutama wanita lebih rentan terhadap frozen shoulder.
  2. Bahu tidak digerakkan/immobilisasi: terlalu lama istirahat di tempat tidur karena cedera bahu, berkurangnya mobilitas sendi bahu karena cedera, patah lengan, stroke, pasca operasi.
  3. Punya penyakit lain seperti diabetes, masalah kelenjar thyroid, TBC, parkinson atau stroke
  4. Trauma, misalnya karena pembedahan pada bahu, robekan tendon atau patah tulang lengan atas.

Bagaimana pengobatan frozen shoulder?

Penderita frozen shoulder umumnya diobati dengan fisioterapi, yang bertujuan untuk meregangkan otot bahu dan mengembalikan jangkauan gerakan lengan. Selama sesi fisioterapi dapat dilakukan TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation).  Apa itu TENS? TENS adalah terapi yang dilakukan dengan mengantarkan arus listrik kecil melalui elektroda yang ditempelkan pada kulit. Arus listrik tersebut akan merangsang pelepasan molekul penghambat nyeri (endorfin) sehingga menghalangi timbulnya nyeri. Fisioterapis biasanya juga akan memberikan latihan-latihan yang akan membantu untuk mengurangi nyeri dan menambah luas jangkauan gerak sendi bahu. Prinsip latihan untuk nyeri bahu adalah dengan selalu berusaha menggerakkan lengan meski sedang dalam proses pemulihan. Selalu gerakkan lengan meskipun gerakan terbatas tetapi jangan dengan beban. Hindari cedera dan menghindari aktifitas yang membebani sendi bahu secara berlebihan agar tidak memperberat keluhan. Latihan mandiri juga dapat dilakukan di rumah.

Untuk meredakan nyeri bisa juga dilakukan kompres dingin saat di rumah. Pasien dapat meletakkan kompres dingin pada bahu selama 10 menit, beberapa kali dalam sehari. Selain fisioterapi, dokter biasanya akan memberikan obat pereda nyeri yang berguna untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Bila diperlukan, dokter akan memberi suntikan kortikosteroid langsung pada bahu.

Kunci untuk pemulihan frozen shoulder adalah mempertahankan gerakan bahu. Fisioterapi dan latihan di rumah dapat membantu mengurangi rasa sakit dan mempertahankan gerakan lengan.

Foto hanya ilustrasi dan diambil dari google images

Oleh:

Arie Widuri, AMF (Fisioterapis RS Panti Rapih)

SKIZOFRENIA (GANGGUAN JIWA BERAT YANG BISA TERKONTROL DAN BERAKTIVITAS)

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat, dimana penderita mengalami gangguan realita dan  logika. Biasanya muncul saat masa remaja/dewasa muda, tetapi juga telah diketahui muncul pada orang di atas 40 tahun.

Pada pasien dengan gangguan skizofrenia terdapat dua gejala yakni: gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif yang timbul antara lain berupa: gangguan waham di mana terjadi gangguan isi pikir dimana pasien mengalami keyakinan yang tidak rasional/masuk akal (menjadi orang besar, curiga berlebihan, rasa permusuhan); adanya halusinasi yakni pengalaman panca indra tanpa rangsang/sumbernya; sikap pasien gaduh, gelisah, tidak dapat diam, agresif, mondar-mandir; terjadi alam pikir yang kacau dan ditunjukkan dari isi pembicaraan yang kacau, pasien juga merasa dikendalikan, disisipi, disiarkan, disedot pikirannya, dll. Sedangkan gejala negatif yang timbul pada pasien, meliputi: alam perasaan tumpul, datar/tdk ada ekspresi; menarik/mengasingkan diri, tidak mau bergaul/kontak dengan orang lain, suka melamun; kontak emosi miskin, sukar diajak bicara; sulit berpikir abstrak; mengabaikan kebersihan pribadi; pasif & apatis

Berbicara tentang gangguan jiwa, tentu bermacam-macam penyebabnya. Penyebab gangguan jiwa dapat berasal dari faktor: biologis, psikologis, dan sosial. Penyebab faktor biologis ini biasanya disebabkan oleh adanya peningkatan neurotransmitter di dalam otak sehingga muncul gejala-gejala seperti yang sudah diuraikan. Penyebab psikologis terdiri dari tiga hal, yakni: dari individu tersebut (kepribadian rentan), situasi (stressor sosial), dan reaksi (respon individu setelah mendapat stresor menimbulkan sakit). Penyebab sosial antara lain: terjadi peristiwa yang menimbulkan perubahan dalam kehidupan seseorang, dan tidak semua orang dapat melakukan adaptasi sehingga menimbulkan keluhan kejiwaan.

Penanganan gangguan skizofrenia dewasa ini belum cukup memuaskan karena ketidaktahuan keluarga atau masyarakat tentang penyakitnya, terlebih adanya stigma yang berpendapat bahwa skizofrenia tidak dapat diobati dan berujung pada perlakuan yang diskriminatif dan pertolongan yang tidak memadai. Meskipun skizofrenia dapat menyusahkan dan menakutkan, tidak berarti bahwa orang dengan gangguan ini tidak dapat memiliki kualitas hidup yang baik dan mungkin untuk dipekerjakan. Sama seperti orang lain yang memiliki penyakit jangka panjang atau berulang, orang dengan skizofrenia dapat belajar untuk mengelola kondisi mereka dan melanjutkan kehidupan mereka

Penyakit Skizofrenia cenderung berlanjut menjadi kronis dan menahun sehingga terapi perlu lama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menekan sekecil mungkin angka  kekambuhan. Terapi diperlukan secara komprehensif dan holistik (menyeluruh). Terapi yang dilakukan terdiri dari terapi psikofarmakologi, psikoterapi, terapi sosial (bertujuan agar pasien dapt berinteraksi kembali secara sosial), terapi rohani (bertujuan agar pasien dapat melakukan kegiatan keagamaan kembali), terapi rehabilitasi (terapi ini dilakukan pada pasien skizofrenia yang mengalami kekambuhan, dan bertujuan untuk mempersiapkan penempatan kembali ke keluarga dan masyarakat. Terapi ini diintegrasikan dengan terapi keterampilan seperti: mengasah keterampilan, bercocok tanam, rekreasi, kesenian, kerajinan, dll)

Menjaga agar tidak terjadi kekambuhan merupakan hal yang penting. Kekambuhan mungkin terjadi bila obat dihentikan/tidak digunakan secara rutin, maka sangat penting penderita skizofrenia agar sepakat dengan dokter serta keluarga mengenai rencana terapi dan pencegahan kekambuhan. Jika  minum obat, penting menggunakan obat yang diresepkan pada dosis dan waktu yang tepat setiap hari. Salah satu kendala upaya penyembuhan adalah STIGMA sehingga penderita  disembunyikan, dikucilkan, diisolasi, dipasung. Dewasa ini pemerintah pun juga turut membantu berupaya untuk menghilangkan stigma tersebut. Program ini bersama-sama dengan tenaga kesehatan untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang hal  gangguan, sehingga pasien  dapat berperan serta dalam upaya pencegahan, terapi, rehabilitasi, dapat menerima kembali penderita ke keluarga  masyarakat, tidak merasa fobia dan diskriminatif.

Pasien skizofrenia yang memiliki dukungan keluarga dan sering mendapatkan terapi atau bekal keterampilan hidup (berfungsi) lebih baik dibandingkan yang terisolasi. Mereka yang hidup sendiri  masih perlu dukungan dari keluarga dan teman. Sebuah lingkungan yang stabil dapat membantu pasien mempertahankan terapi dan tetap menjaga komunikasi secara rutin dengan dokter mereka dan tenaga kesehatan. Keberhasilan terapi gangguan jiwa berat (skizofrenia) tidak hanya terletak pada terapi obat dan jenis terapi lainnya, tetapi juga peran serta keluarga & masyarakat turut menentukan.

 

Oleh :

dr. MG Rini Arianti, SpKJ

(Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Panti Rumah)

 

 

 

 

Pool Therapy / Hydrotherapy

Merupakan salah satu program latihan yang diperuntukkan bagi pasien rawat jalan dengan masalah kesehatan antara lain:

– Osteoartritis

– Back Pain

– Neck Pain

Pelaksanaan terapi dilakukan di dalam air (kolam renang)

Untuk mengembangkan dan berinovasi dalam memberikan layanan Rehabilitasi Medis, serta upaya dalam memenuhi kebutuhan pasien Rehabilitasi Medis, Rumah Sakit Panti Rapih menghadirkan layanan Hydrotherapy bagi pasien Rehabilitasi Medis.

Hydroterapi merupakan salah satu metoda dalam fisioterapi yang memanfaatkan sifat-sifat fisika air untuk terapeutik melalui aktivitas yang dirancang secara spesifik dan dilakukan oleh tenaga professional yang memiliki klasifikasi/kompetensi tertentu. Terapi diberikan di dalam air hangat dengan suhu 28-30ᵒ C.  Penggunaan air pada Hydroterapi dapat berfungsi meringankan rasa nyeri, meningkatkan relaksasi pada otot dan sendi, memperluas jangkauan gerak sendi. Adanya tekanan dari air yang melawan gaya gravitasi membantu pasien untuk melatih ototnya dengan beban minimal pada sendi (mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut), gerakan otot lebih maksimal, lebih bebas, latihan terasa lebih ringan, sehingga efektif untuk menguatkan otot. Selain air, juga ada alat bantu/peraga yang disediakan dalam layanan Hydroterapi. Layanan Hydroterapi di Gedung Borromeus akan diperuntukkan bagi pasien dengan diagnosa Low Back Pain (LBP), Osteo Arthritis (OA), dan Stroke dengan kondisi stabil.

Perlengkapan Pasien Hidroterapi yang perlu dibawa :

  1. Baju renang yang sopan
  2. Penutup rambut
  3. Handuk
  4. Sabun dan shampoo
  5. Baju ganti
  6. Bekal makan dan minum secukupnya
  7. Plastik
  8. Datang 30 menit
  9. Obat pribadi

Tata Tertib Pool Therapy :

A. PERSIAPAN PASIEN

  1. PASTIKAN BAHWA PASIEN TIDAK MENGALAMI HAL-HAL SEBAGAI BERIKUT :
  • Gagal jantung, nyeri dada angin, gangguan irama jantung yang berat
  • Tekanan darah tidak stabil
  • Penyakit susunan saraf pusat dan saraf tepi fase akut
  • Penyakit pembuluh darah tepi yang berat
  • Bahaya pendarahan
  • Demam
  • Penyakit ginjal berat
  • Gangguan pernafasan, infeksi, TBC paru
  • Penyakit/Infeksi yang ditularkan melalui air dan udara
  • Infeksi kulit dan luka terbuka
  • Infeksi dan penyakit kelamin
  • Tidak bisa menahan buang air kecil/buang air besar
  • Sedang menstruasi
  • Riwayat kejang/epilepsi
  • Gangguan mental yang berat
  • Vertigo
  • Kesulitan berkomunikasi verbal
  • Kesulitan menelan
  • Kecenderungan muntah
  • Kesulitan naik turun tangga karena berbagai sebab
  1. PERLENGKAPAN PRIBADI
  • Pakaian untuk renang dari bahan yang ringan dan sopan (pakaian renang), disiapkan oleh pasien sendiri
  • Perlengkapan mandi disiapkan oleh pasien
  • Tidak mengenakan perhiasan
  • Perlengkapan pribadi disimpan dengan rapi dalam locker pasien
  • Bekal makan dan minum secukupnya untuk pasien

Locker untuk pasien

 

Kolam untuk tindakan

  1. Penunggu pasien maksimal 1 orang, menjaga kebersihan, ketenangan, privacy pasien serta dilarang makan di area kolom pool therapy dan dilarang mengambil gambar, merekam dengan kamera, HP atau alat perekam yang lain.

B. PELAKSANAAN

  1. Jadwal ditetapkan oleh petugas dan tidak bisa diganti pasien tanpa persetujuan petugas
  2. Jadwal sewaktu-waktu dapat dibatalkan mengingat kondisi kolam atau keadaan lain yang memaksa untuk meliburkan pasien

 

 

Informasi hubungi:

Rehabilitasi Medik

Lantai 1 Gedung Borromeus RS Panti Rapih

Telepon: (0274) 514014, 514845, 563333

Ext : 1011