Kelumpuhan Mendadak pada Wajah

Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang wajahnya tampak “tidak simetris” atau mengeluh sulit menggerakkan separuh wajahnya? Atau Anda sendiri pernah mengalaminya?  Sebagian besar orang akan mengira bahwa kondisi tersebut merupakan tanda dan gejala dari stroke. Pada kenyataannya, gangguan yang terjadi pada area wajah tersebut tidak selalu disebabkan oleh penyakit stroke, melainkan juga dapat disebabkan oleh suatu kondisi yang disebut sebagai Bell’s Palsy.

Apa Itu Bell’s Palsy?

Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf tepi wajah yang terjadi pada satu sisi wajah dan timbul secara mendadak. Tanda dan gejala Bell’s Palsy meliputi: kelumpuhan otot pada satu sisi wajah, tidak mampu menutup kelopak mata pada satu sisi, kesemutan pada satu sisi wajah, mengeluarkan air mata berlebih pada satu sisi mata, perubahan sensasi pengecapan, nyeri pada satu sisi wajah, gangguan pendengaran, dan gangguan penglihatan. Seseorang yang mengalami Bell’s Palsy dapat mengalami satu atau lebih tanda dan gejala tersebut. Penyebab pasti dari Bell’s Palsy tidak diketahui secara pasti (idiopatik), akan tetapi Bell’s Palsy lebih sering muncul pada usia dewasa, wanita hamil, menderita penyakit diabetes melitus, hipertensi, infeksi virus herpes, dan memiliki riwayat paparan suhu dingin.

Cara Membedakan Bell’s Palsy dengan Stroke

Bell’s Palsy sering disalah artikan sebagai stroke. Padahal Bell’s Palsy dan stroke memiliki penanganan yang sangat berbeda. Oleh karena itu, membedakan Bell’s Palsy dengan stroke adalah hal yang penting. Penderita Bell’s Palsy akan mengalami kelemahan pada separuh wajah, mulai dari wajah bagian atas hingga wajah bagian bawah (dahi hingga dagu). Sedangkan penderita stroke akan mengalami kelemahan pada separuh wajah bagian bawah saja. Pada pemeriksaan pasien Bell’s Palsy, lipatan/kerutan dahi dan lipatan tepi mulut akan menghilang. Pasien akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis pada satu sisi dan kesulitan tersenyum, sehingga menimbulkan kesan wajah yang tidak simetris.

Pada pasien stroke, lipatan/kerutan dahi tersebut masih dapat terlihat. Pasien stroke juga tidak akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis. Kelemahan otot hanya akan tampak pada area mulut, sehingga menimbulkan kesan bibir perot. Pasien stroke juga akan mengalami keluhan lainnya seperti pandangan dobel, nyeri kepala atau pusing, gangguan keseimbangan, pelo saat berbicara, kesulitan menelan, tampak kebingungan, sulit berkomunikasi, kelemahan atau kesemutan satu sisi tubuh, atau bahkan mengalami penurunan kesadaran.

Kelumpuhan pada satu sisi wajah juga dapat terjadi pada beberapa penyakit lain seperti tumor saraf tepi, tumor otak, pelebaran pembuluh darah otak/aneurisma. Kelumpuhan wajah akibat penyakit tersebut biasanya terjadi secara perlahan dan semakin memberat seiring waktu. Hal tersebut berbeda dengan penyakit Bell’s Palsy yang terjadi secara mendadak. Penyakit-penyakit tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan atau MRI kepala.

Penanganan Bell’s Palsy

Bell’s Palsy biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Penanganan Bell’s Palsy meliputi penanganan dengan menggunakan obat dan penanganan tanpa obat. Obat anti peradangan atau steroid, seperti prednison, menjadi pilihan utama dalam menangani Bell’s Palsy. Apabila terdapat infeksi virus herpes, maka pengobatan dapat dikombinasikan dengan obat anti virus seperti asiklovir. Obat tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan resep dokter.

Perawatan mata adalah salah satu penanganan yang penting pada kasus Bell’s Palsy, karena sebagian besar penderita Bell’s Palsy sulit memejamkan mata pada satu sisi dan mengalami penurunan produksi air mata. Hal tersebut dapat memicu kekeringan bola mata dan memicu infeksi mata. Penggunaan tetes air mata buatan dan penggunaan balut mata/eye patch dapat menjadi pilihan untuk menurunkan risiko tersebut.

Apakah Bell’s Palsy Berbahaya?

Bell’s Palsy tidak berbahaya. Pada umumnya,  Bell’s Palsy akan cepat membaik dalam waktu beberapa hari apabila ditangani dengan baik. Jika Anda mengalami tanda dan gejala yang tersebut di atas, segera periksa ke dokter terdekat. Pemeriksaan dan pemberian tindakan segera oleh tenaga medis sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah keluhan yang Anda derita merupakan Bell’s Palsy atau disebabkan oleh penyakit lain.

 

Oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih)

GANGGUAN SARAF AKIBAT PENYAKIT GULA

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (mislanya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

 

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

(Dokter Umum RS Panti Rapih)

Cegah Stroke! Jangan biarkan Anda Menjadi Salah Satu Penderita Stroke

Stroke merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia selain serangan jantung dan kanker.  Stroke juga penyebab kecacatan yang paling sering. Kemajuan teknologi kedokteran diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kecatatan, teknologi mutahir saat ini sudah diterapkan sebagai salah satu metode kuratif (pengobatan) bagi pasien yg mengalami  Serangan Jantung, Stroke dan Kanker.

Pengobatan kuratif tidak selalu dapat menjadi andalan. Karena tidak semua tindakan kuratif memberikan hasil yang baik atau kesembuhan yang sempurna. Pada kasus stroke bila sudah terjadi kematian sel otak akibat sumbatan pembuluh darah di otak, maka sel-sel ini tidak akan dapat membaik sehingga menimbulkan kecacatan bagi pasien.

Lain hal nya bila kita mencegah sebelum serangan itu terjadi. Tindakan prevensi atau mencegah lebih baik daripada mengobati karena tidak terdapat kerusakan sel atau jaringan yang dapat menimbulkan kecacatan. Tahun 2019 ini bertepatan dengan Hari Stroke Sedunia pada tanggal 29 Oktober mengajak semua orang untuk melakukan pencegahan serangan stroke pada diri masing-masing. Tema yang diangkat adalah Dont be the one. Tema ini diangkat karena kegelisahan dunia bahwa 1 dari 4 orang dapat terjadi serangan stroke. Bila ditarik ke tahun 2012 dimana saat ini risiko stroke adalah 1 dari 6, maka saat ini kejadian stroke lebih banyak dibandingkan tahun 2012.

Stroke adalah sebuah final dari pejalanan penyakit. Penyakit-penyakit yang berjalan inilah yang menjadi faktor risiko terjadinya stroke.  Faktor risiko stroke terbagi menjadi 2 bagian yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat diubah antara lain Jenis kelamin, Umur dan Ras. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak terserang stroke daripada wanita. Umur lebih dari 40 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi daripada umur yang lebih muda.

Faktor risiko yang dapat diubah melekat erat dengan gaya hidup kita sehari-hari. Faktor risiko ini antara lain kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, obesitas, merokok, minum minuman beralkohol, kurang olah raga, dan riwayat penyakit stroke atau penyakit jantung sebelumnya.

Saat ini gaya hidup yang tidak sehat sering dijumpai dalam masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan dan aktivitas harian yang padat menyebabkan semua orang menjadi kurang bergerak dan memilih segala sesuatu yang mudah dan cepat saji. Kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol dan obesitas dipengaruhi oleh pola diit yang kurang baik meskipun juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Memilih diit yang instan dengan kalori tidak terukur dapat menyebabkan masalah-masalah di atas.

Tekanan darah harus dijaga dibawah 140/90 mmHg. Kolesterol total dibawah 200mg/dl. LDL kolesterol dibawah 150 mg/dl pada orang normal dan dibawah 100mg/dl pada orang yang pernah mengalami stroke sebelumnya. Gula darah juga harus menjadi perhatiaan utama karena penderita Diabetes di Indonesia terus meningkat. Gula puasa sebaiknya kurang dari 126 mg/dl dan gula 2 jam setelah makan tidak lebih dari 200mg/dl.

Merokok dan minum minuman beralkohol juga menjadi salah satu penyebab stroke. Merokok merupakan salah satu faktor risiko yang sering ditemukan pada pasien stroke usia muda (kurang dari 40 tahun).  Seseorang yang pernah mengalami stroke atau serangan jantung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadi serangan stroke ulang.

Prinsip dasar mencegah serangan stroke adalab mengendalikan semua faktor risiko stroke yang ada. Karena pencegahan kejadian stroke lebih baik daripada mengobati pasien yang mengalami stroke. Pencegahan selalu dimulai dari diri kita masing-masing, apabila kita menyadari adanya faktor-faktor risiko stroke dalam diri kita maka jangan diabaikan, kerena serangan stroke tidak dapat diprediksi kapan akan datang. Oleh sebab itu lakukan pencegahan mulai sekarang. Jangan biarkan kita menjadi salah satu pasien stroke.

 

 

Oleh:

dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc. Sp.S

RS Panti Rapih Yogyakarta

 

APA ITU DEMENSIA?

Lupa adalah hal yang manusiawi. Akan tetapi, terkadang kita menjumpai seseorang yang amat pelupa hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari dan mengganggu interaksinya dengan lingkungan sekitar. Masyarakat menyebut kondisi tersebut dengan istilah “pikun”. Dalam ilmu kedokteran, kepikunan ini disebut sebagai demensia. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan kepikunan atau demensia?

Demensia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pada “fungsi luhur” manusia, yang meliputi atensi/perhatian, bahasa, memori/daya ingat, pengenalan ruang dan waktu, serta fungsi eksekutif (perencanaan dan pengorganisasian). Gangguan “fungsi luhur” pada demensia tersebut pada akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan interaksi sosial. Orang yang mengalami demensia akan sering mengucapkan hal yang sama berulang-ulang, kesulitan untuk mengingat atau mempelajari hal baru, kesulitan dalam berkomunikasi atau merangkai kata, kebingungan terhadap waktu atau tempat, dan kesulitan dalam mengambil keputusan. Aktivitas sehari-hari yang biasanya dapat dilakukan dengan mudah, seperti berpakaian, makan, dan mandi, menjadi hal yang lebih sulit bagi seseorang dengan demensia. Bahkan terkadang mereka dapat tersesat bahkan ketika sedang berjalan menuju rumahnya sendiri. Seseorang dengan demensia juga akan mengalami perubahan perilaku dan emosi, seperti mudah curiga, dan menjadi lebih sering menyendiri. Hal tersebut tidak disadari oleh penderitanya, tetapi dirasakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi ini akan semakin memburuk seiring waktu.

Demensia lebih sering muncul pada usia lanjut, sehingga tidaklah heran jika demensia sering disebut sebagai “penyakit tua”. Meningkatnya populasi lansia secara tidak langsung juga meningkatkan angka kejadian demensia secara umum. Demensia tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah. Gaya hidup sehat adalah kunci utama untuk mencegah demensia. Makan makanan dengan gizi seimbang, olahraga teratur, dan mengelola stress adalah tiga hal yang dapat dilakukan untuk mencegah demensia. Gaya hidup sehat akan menurunkan risiko penyakit hipertensi, memperbaiki keseimbangan lemak darah (kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL), mencegah obesitas, dan memperbaiki keseimbangan kadar gula darah, sehingga secara tidak langsung juga akan menurunkan risiko demensia. Bagi seseorang yang telah terdiagnosis demensia, upaya-upaya di atas tetap harus dilakukan untuk mencegah semakin memburuknya demensia yang dialami. Dukungan sosial adalah faktor lain yang sangat penting bagi penderita demensia. Pengabaian dari orang-orang di sekeliling akan semakin memperburuk demensia yang dialami.

Terdapat beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi dini demensia. Mini Mental Satte Examination dan Clock Drawing Test adalah dua pemeriksaan yang paling sering digunakan untuk mendeteksi demensia. Pada pemeriksaan tersebut, pasien akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan dan melakukan beberapa instruksi yang dipandu oleh dokter atau tenaga terlatih. Setiap jawaban yang disampaikan akan menentukan derajat kepikunan seseorang. Apabila kita menjumpai seseorang yang kita curigai mengalami demensia, segeralah bawa mereka ke dokter spesialis saraf atau ke klinik memori. Semakin lama tidak terdeteksi dan tidak tertangani, maka akan semakin buruk demensia yang dialami. Semakin buruk demensia yang dialami, maka akan semakin menurun kualitas hidup penderitanya.

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

Dokter Umum RS Panti Rapih

 

Penyintas Kanker

Kanker adalah sel-sel abnormal dalam tubuh yang membelah tak terkendali dan mampu menyerang jaringan lain. Sel-sel kanker dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh melalui darah dan sistem limfe.

Hari Kanker Sedunia dirayakan setiap tanggal empat Februari untuk meningkatkan kesadaran terhadap kanker dan mendorong pencegahan, deteksi, serta pengobatan kanker. Hari Kanker Sedunia dibentuk oleh Union for International Cancer Control untuk mendukung Deklarasi Kanker Dunia yang dibuat pada tahun 2008.

Deteksi dini penyakit kanker dapat meningkatkan kesembuhan pasien. Biaya tes deteksi dini pun jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya perawatan penderita kanker stadium lanjut yang menyebar ke organ tubuh lainnya. Karena itu, sangat penting bagi tiap orang untuk melakukan deteksi dini kanker.

Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer, terdapat sekitar 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian akibat sel kanker.

Ibu Sapti Pudyandari merupakan seorang penyintas kanker, ibu dua putra dan nenek satu cucu ini mengetahui dirinya terkena kanker serviks setelah melakukan check up karyawan di RS panti Rapih pada tahun 2016. Hasil pap smear menunjukan papanicolaou kelas tiga yang artinya harap cek ulang. Kemudian beliau memeriksakan ke dokter obsgyn dan ginekologi untuk melakukan pengecekan. Hasil papsmear yang di dapatkan adalah  papanicolaou kelas empat. Dokter menyarankan agar dikonsulkan dokter ginekologi onkologi RS Sardjito untuk dilakukan biopsi. Hasil biopsi didapatkan Ca serviks 1a. Dokter mengatakan bahwa jarang sekali menemukan pasien dengan stadium yang sangat awal karena pada umumnya pasien datang sudah pada stadium lanjut  dikarenakan sakit sering tidak dirasakan.

Bu Sapti yang berdinas di Instalasi Laboratorium RS Panti Rapih  ini kemudian menjalani serangkaian operasi dan kemoterapi. Berhubungan deteksi dini dilakukan sehingga kesembuhan bisa diraih dan bu Sapti kembali sehat tanpa kanker di tubuhnya.

Penyintas kanker yang lain adalah Rahayuningsih yang biasa dipanggil mbak Yayuk. Perawat IGD ini menemukan benjolan tidak normal di payudara kirinya dan segera mengkonsultasikan dengan dokter dan dianjurkan untuk dilakukan biopsi agar mengetahui sel kanker ganas atau bukan. Setelah terindikasi ganas, pengangkatan payudara dan serangkaian kemoterapi serta radiasi di lakukannya. Oleh karena terdeteksi dini, sehingga sel kanker belom menyebar ke organ tubuh lain. Kini mbak Yayuk ibu dari dua putra dan satu putri ini telah meraih kesembuhannya.

Masih banyak penyintas kanker lain yg berhasil sembuh karena mendeteksi dini penyakitnya. Waspada dan perhatikan perubahan tubuh anda, segera mencari tahu sejak awal apa yg sedang terjadi dalam tubuh anda tanpa menunggu terkulai lemah dan terlambat

Apakah anda merasa perlu mendeteksi dini status kesehatan anda? Jangan tunggu sakit dan parah, lakukan segera dan tetaplah sehat. Kunjungi dokter- dokter terpercaya di RS Panti Rapih yang akan dengan senang hati membantu anda. Tetaplah sehat mendampingi putra putri meraih masa depan dan panjang umur untuk hidup menjadi berkat. Semoga menginspirasi.

 

Oleh: Katharina Indah Aryanti

(Perawat RS Panti Rapih Yogyakarta)

Cegah Stroke! Jangan biarkan Anda Menjadi Salah Satu Penderita Stroke

Stroke merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia selain serangan jantung dan kanker. Stroke juga penyebab kecacatan yang paling sering. Kemajuan teknologi kedokteran diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kecatatan, teknologi mutahir saat ini sudah diterapkan sebagai salah satu metode kuratif (pengobatan) bagi pasien yg mengalami Serangan Jantung, Stroke dan Kanker.

Pengobatan kuratif tidak selalu dapat menjadi andalan. Karena tidak semua tindakan kuratif memberikan hasil yang baik atau kesembuhan yang sempurna. Pada kasus stroke bila sudah terjadi kematian sel otak akibat sumbatan pembuluh darah di otak, maka sel-sel ini tidak akan dapat membaik sehingga menimbulkan kecacatan bagi pasien.

Lain hal nya bila kita mencegah sebelum serangan itu terjadi. Tindakan prevensi atau mencegah lebih baik daripada mengobati karena tidak terdapat kerusakan sel atau jaringan yang dapat menimbulkan kecacatan. Tahun 2019 ini bertepatan dengan Hari Stroke Sedunia pada tanggal 29 Oktober mengajak semua orang untuk melakukan pencegahan serangan stroke pada diri masing-masing. Tema yang diangkat adalah Dont be the one. Tema ini diangkat karena kegelisahan dunia bahwa 1 dari 4 orang dapat terjadi serangan stroke. Bila ditarik ke tahun 2012 dimana saat ini risiko stroke adalah 1 dari 6, maka saat ini kejadian stroke lebih banyak dibandingkan tahun 2012.

Stroke adalah sebuah final dari pejalanan penyakit. Penyakit-penyakit yang berjalan inilah yang menjadi faktor risiko terjadinya stroke. Faktor risiko stroke terbagi menjadi 2 bagian yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat diubah anatara lain Jenis kelamin, Umur dan Ras. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak terserang stroke daripada wanita. Umur lebih dari 40 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi daripada umur yang lebih muda.

Faktor risiko yang dapat diubah melekat erat dengan gaya hidup kita sehari-hari. Faktor risiko ini antara lain kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, obesitas, merokok, minum minuman beralkohol, kurang olah raga, dan riwayat penyakit stroke atau penyakit jantung sebelumnya.

Saat ini gaya hidup yang tidak sehat sering dijumpai dalam masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan dan aktivitas harian yang padat menyebabkan semua orang menjadi kurang bergerak dan memilih segala sesuatu yang mudah dan cepat saji. Kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol dan obesitas dipengaruhi oleh pola diit yang kurang baik meskipun juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Memilih diit yang instan dengan kalori tidak terukur dapat menyebabkan masalah-masalah di atas.

Tekanan darah harus dijaga dibawah 140/90 mmHg. Kolesterol total dibawah 200mg/dl. LDL kolesterol dibawah 150 mg/dl pada orang normal dan dibawah 100mg/dl pada orang yang pernah mengalami stroke sebelumnya. Gula darah juga harus menjadi perhatiaan utama karena penderita Diabetes di Indonesia terus meningkat. Gula puasa sebaiknya kurang dari 126 mg/dl dan gula 2 jam setelah makan tidak lebih dari 200mg/dl.

Merokok dan minum minuman beralkohol juga menjadi salah satu penyebab stroke. Merokok merupakan salah satu faktor risiko yang sering ditemukan pada pasien stroke usia muda (kurang dari 40 tahun). Seseorang yang pernah mengalami stroke atau serangan jantung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadi serangan stroke ulang.

Prinsip dasar mencegah serangan stroke adalah mengendalikan semua faktor risiko stroke yang ada. Karena pencegahan kejadian stroke lebih baik daripada mengobati pasien yang mengalami stroke. Pencegahan selalu dimulai dari diri kita masing-masing, apabila kita menyadari adanya faktor-faktor risiko stroke dalam diri kita maka jangan diabaikan, kerena serangan stroke tidak dapat diprediksi kapan akan datang. Oleh sebab itu, lakukan pencegahan mulai sekarang. Jangan biarkan kita menjadi salah satu pasien stroke.

 

Oleh: dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc. Sp.S
RS Panti Rapih Yogyakarta

Nyeri Tengkuk

Leher dan shoulderpain dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Beberapa orang hanya mengalami sakit leher atau hanya nyeri bahu, sementara yang lain mengalami nyeri di kedua daerah.

Apa Penyebab Nyeri Leher?

Penyebab nyeri leher meliputi:

  • Kelainan pada tulang atau sendi
  • Trauma
  • Sikap tubuh yang buruk
  • Penyakit degeneratif
  • Tumor
  • Ketegangan otot

Apa Penyebab Nyeri Bahu?

Bahu adalah bola dan soket bersama dengan berbagai macam gerakan. Seperti sendi ponsel cenderung lebih rentan terhadap cedera. Nyeri bahu dapat berasal dari satu atau lebih penyebab berikut:

  • Strain karena kelelahan
  • Tendonitis dari berlebihan
  • Bahu ketidakstabilan sendi
  • Dislokasi
  • Patah tulang lengan atas atau kerah
  • Bahu beku
  • Saraf terjepit (juga disebut radiculopathy)

Bagaimana Apakah Leher dan Bahu Nyeri Didiagnosis?

  • Sinar-X: Plain X-ray dapat mengungkapkan penyempitan ruang antara dua tulang belakang, arthritis-seperti penyakit, tumor, menyelipkan cakram, penyempitan kanal tulang belakang, patah tulang dan ketidakstabilan tulang belakang.
  • MRI: Magnetic Resonance Imaging adalah prosedur non-invasif yang dapat mengungkapkan detail dari saraf (saraf terkait) unsur, serta masalah dengan tendon dan ligamen.
  • Myelography / CT scan: Kadang-kadang digunakan sebagai alternatif untuk MRI.
  • Studi Electrodiagnostic: Elektromiografi (EMG)dan kecepatan konduksi saraf (NCV) kadang-kadang digunakan untuk mendiagnosa leher dan nyeri bahu, nyeri lengan, mati rasa dan kesemutan.

Bagaimana Apakah Leher dan Bahu Nyeri Diobati?

Perlakuan leher jaringan lunak dan nyeri bahu sering mencakup penggunaan obat anti-inflamasi seperti ibuprofen (Advil atau Motrin) atau naproxen (Aleve atau Naprosyn). Penghilang rasa sakit seperti acetaminophen (Tylenol) juga mungkin dianjurkan. Tergantung pada sumber rasa sakit, obat-obatan seperti otot dan bahkan antidepresan mungkin bisa membantu. Nyeri juga dapat diobati dengan aplikasi lokal panas lembab atau es. Injeksi kortikosteroid lokal sering membantu untuk arthritis bahu. Untuk kedua leher dan nyeri bahu gerakan, latihan dapat membantu. Untuk kasus di mana akar saraf atau sumsum tulang belakang yang terlibat, prosedur bedah mungkin diperlukan. Dokter Anda dapat memberitahu Anda apa perawatan terbaik untuk Anda.

sumber

Fisioterapi Panti Rapih merupakan  bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau  kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan  fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis) pelatihan fungsi dan komunikasi. Dalam mengatasi nyeri tengkuk tersebut, Fisioterapi RS Panti Rapih dapat menjadi solusi bagi Anda.

Link Terkait : Fisioterapi

 

Informasi Terkait

Fisioterapi Rumah Sakit Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta

Angina Pectoris

Bila Anda mengalami rasa nyeri dada saat anda beraktivitas, segera konsultasi ke dokter.

Angina pektoris adalah kumpulan gejala klinis berupa serangan nyeri dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri.

  • Nyeri dada tersebut  biasanya timbul pada saat melakukan aktivitas dan segera hilang bila aktivitas dihentikan.
  • Nyeri angina dapat menyebar ke lengan kiri, ke punggung, ke rahang atau ke daerah perut, yang bisa disalahartikan sebagai gejala maag.

Penyebab angina pektoris adalah

  • suplai oksigen yang tidak mencukupi ke sel-sel otot-otot jantung dibandingkan kebutuhan.
  • Ketika beraktivitas, terutama aktivitas yang berat, beban kerja jantung meningkat. Otot jantung memompa lebih kuat.
  • Jika beban kerja suatu jaringan meningkat maka kebutuhan oksigen juga meningkat; Oksigen ini dibutuhkan untuk menghasilkan energi kerja.
  • Jantung mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi terutama dari pembuluh darah koroner.
  • Saat beban jantung meningkat, pembuluh darah koroner akan melebar untuk memberikan aliran darah yang adekuat bagi kebutuhan otot jantung.
  • Namun jika pembuluh darah koroner mengalami kekakuan atau menyempit, otot jantung tidak mendapatkan suplai oksigen yang memadai bagi kerja jantung.
  • Otot jantung akan memproduksi jalur energy lain yang tidak menggunakan oksigen. Jalur energy ini menghasilkan asam laktat yang bersifat asam. Derajat keasaman otot jantung akan meningkat. Hal inilah yang menimbulkan rasa nyeri.
  • Apabila kebutuhan energi jantung berkurang,ketika aktivitas dihentikan,  maka suplai oksigen menjadi adekuat dan otot kembali ke proses wajar untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya penimbunan asam laktat, maka nyeri angina mereda. Dengan demikian, angina pektoris merupakan suatu keadaan yang berlangsung singkat.

Terdapat tiga jenis angina, yaitu :

  1. Angina Stabil

Disebut juga angina klasik, terjadi jika pembuluh darah koroner yang  tidak dapat melebar untuk meningkatkan alirannya sewaktu kebutuhan oksigen meningkat. Peningkatan kerja jantung dapat menyertai aktivitas misalnya berolah raga atau naik tangga.

  1. Angina prinzmetal

Terjadi tanpa peningkatan jelas beban kerja jantung dan pada kenyataannya sering timbul pada waktu beristirahat atau tidur. Pada angina prinzmetal terjadi spasme (penyempitan terus-menerus) pembuluh darah koroner yang menimbulkan kekurangan oksigen jantung di bagian hilir.

  1. Angina tak stabil

Adalah kombinasi angina stabil dengan angina prinzmetal ; dijumpai pada individu dengan perburukan penyakit pembuluh darah koroner. Angina ini biasanya menyertai peningkatan beban kerja jantung; hal ini tampaknya terjadi akibat arterosklerosis koroner, yang ditandai oleh plak yang tumbuh dan mudah mengalami penyempitan.

Gejala klinis :

Diagnosis seringkali berdasarkan keluhan nyeri dada yang mempunyai ciri khas sebagai berikut :

  • Sering pasien merasakan nyeri dada di daerah sternum (tulang dada) atau di bawah sternum (substernal), atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar ke lengan kiri, dapat menjalar ke punggung, rahang, leher, atau ke lengan kanan. Nyeri dada juga dapat timbul di tempat lain seperti di daerah ulu hati, leher, rahang, gigi, bahu.
  • Pada angina, nyeri dada biasanya seperti tertekan benda berat, atau seperti di peras atau terasa panas, kadang-kadang hanya mengeluh perasaan tidak enak di dada karena pasien tidak dapat menjelaskan dengan baik, lebih-lebih jika pendidikan pasien kurang.
  • Nyeri dada pada angina biasanya timbul pada saat melakukan aktivitas, misalnya sedang berjalan cepat, tergesa-gesa, atau sedang berjalan mendaki atau naik tangga. Pada kasus yang berat, aktivitas ringan seperti mandi atau menggosok gigi, makan terlalu kenyang, emosi, sudah dapat menimbulkan nyeri dada. Nyeri dada tersebut segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. Serangan angina dapat timbul pada waktu istirahat atau pada waktu tidur malam.
  • Lamanya nyeri dada biasanya berlangsung 1-5 menit, kadang-kadang perasaan tidak enak di dada masih terasa setelah nyeri hilang. Bila nyeri dada berlangsung lebih dari 20 menit, mungkin pasien mendapat serangan jantung dan bukan angina pektoris biasa.
  • Pada angina pektoris dapat timbul keluhan lain seperti sesak napas, perasaan lelah, kadang-kadang nyeri dada disertai keringat dingin.

Pemeriksaan penunjang

  1. Elektrokardiogram (EKG)
  • Gambaran EKG saat istirahat dan bukan pada saat serangan angina sering masih normal.
  1. Foto rontgen dada
  • Foto rontgen dada seringmenunjukkan bentuk jantung yang normal; pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung membesar dan kadang-kadang tampak adanya pengapuran pembuluh darah aorta
  1. Pemeriksaan laboratorium
  • Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina pektoris.
  • Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis serangan jantung akut sering dilakukan pemeriksaan enzim jantung. Enzim tersebut akan meningkat kadarnya pada serangan jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih normal.
  • Pemeriksaan profil lemak darah seperti kolesterol, HDL, LDL, trigliserida dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk mencari faktor risiko seperti kolesterol dan/atau diabetes mellitus.

Penatalaksanaannya :

  • Pengobatan pada serangan akut, nitrogliserin sublingual 5 mg merupakan obat pilihan yang bekerja sekitar 1-2 menit dan dapat diulang dengan interval 3 – ­ 5 menit.
  • Pencegahan serangan lanjutan :

o   Long acting nitrate, yaitu ISDN 3 kali sehari 10-40 mg oral.

o   Beta blocker : propanolol, metoprolol, nadolol, atenolol, dan pindolol.

o   Calcium antagonist : verapamil, diltiazem, nifedipin.

  • Mengobati faktor presdiposisi dan faktor pencetus : stres, emosi, hipertensi, DM, hiperlipidemia, obesitas, kurang aktivitas dan menghentikan kebiasaan merokok.
  • Memberi penjelasan perlunya aktivitas sehari-hari untuk meningkatkan kemampuan jantung.

Referensi

Rahman, Muin. Angina Pectoris Stabil. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi keempat, jilid III. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.

Mengapa bahuku kaku dan nyeri?

Sudah dua minggu ini  Bu Ratih mengalami kekakuan pada bahu kanan. Bahu kanannya tidak bebas bergerak seperti biasanya. Dari hari ke hari keluhan bahu kanan Bu Ratih dirasakan semakin memberat. Menurut Bu Ratih, awalnya  bahu kanan terasa kaku ketika bangun pagi. Bu Ratih menganggapnya sebagai keluhan biasa saja.

Namun semakin lama keluhan tersebut semakin berat. Gerakan bahu menjadi terbatas karena adanya rasa nyeri.  Karena sudah tidak tahan dengan rasa nyeri di bahu kanannya, Bu Ratih berobat ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, Bu Ratih didiagnosis menderita Frozen Sholder (Bahu Membeku).

Apa itu Frozen Shoulder?

Definisi

•Gangguan pergerakan pada sendi bahu karena adanya peradangan pada kapsul sendi bahu. Peradangan tersebut menyebabkan sendi menjadi nyeri dan gerakan sendi terbatas dan kaku.

•Penyebab utama Frozen Shoulder tidak diketahui, tapi diduga karena adanya perlukaan, trauma berulang, ataupun penyakit autoimun).

•Khas: sifat nyeri dan kekakuan sendi progresif (cepat memberat), namun biasanya  membaik secara spontan setelah 18 bulan.

•Gerakan bahu menjadi sangat terbatas, nyeri memberat ketika malam hari.

Faktor Risiko

♣Pada umumnya yang  menderita Frozen Shoulder adalah dewasa berusia 40-60 tahun, kebanyakan perempuan.
♣Imobilisasi  sendi bahu dalam waktu yang lama (misal setelah operasi lengan, koma, stroke)
♣Penyakit : Diabetes, Jantung dan Pembuluh Darah, Rematik, Parkinson.

Gejala Klinis

♣Nyeri, semakin memberat dari hari ke hari, terutama bila malam hari.

♣Kaku, ada pembatasan gerak sendi bahu: gerakan memutar lengan ke dalam, ke luar, gerakan merentangkan lengan.

Pemeriksaan

♣Foto Rontgen: dapat menunjukkan gambaran adanya peradangan sendi bahu, penurunan kepadatan tulang bahu.

♣Artrografi : menunjukkan sendi bahu terkontraksi.

Tata Laksana

♣Frozen Shoulder kebanyakan dapat pulih sendiri tanpa operasi tetapi dalam waktu yang lama.

♣Tata Laksana yang umum digunakan adalah: obat antinyeri, injeksi kortikosteroid, fisioterapi. Bila kasus parah dapat dilakukan operasi.

 

(Berbagai Sumber)

 

Asam Urat dan Nyeri Sendi

Berbeda dengan kepercayaan dan pengetahuan kebanyakan orang, kata “urat” dalam frase “asam urat” tidak mempunyai hubungan langsung dengan kata “urat” yang berarti otot. Sebenarnya, asam urat adalah terjemahan langsung dari istilah bahasa Inggris “uric acid”. Penamaan ini berakibat banyak orang mengasosiasikan asam urat dengan nyeri otot, persendian, dan tulang. Apakah benar demikian?

Untuk menelaahnya, kita akan mulai dengan meninjau metabolisme asam urat dalam tubuh manusia. Asam urat adalah produksi metabolit langsung dari suatu bahan yang disebut sebagai purin. Di dalam sel, purin dibentuk menjadi senyawa asam nukleat yang menyusun senyawa-senyawa cadangan energi. Asam urat hasil pemecahan senyawa purin baik dari tubuh kita maupun dari makanan, beredar dalam darah untuk kemudian dibuang melalui saluran pencernaan dan saluran kemih. Jumlah asam urat yang dibuang melalui ginjal dan saluran kemih jauh lebih besar.

Pada tingkat keasaman darah yang normal, asam urat akan membentuk senyawa garam bersama dengan natrium (sodium). Pada perubahan tingkat keasaman darah, suhu yang menurun, dan adanya jejas atau trauma, senyawa asam urat ini akan membentuk kristal yang dapat dijumpai pada cairan sendi, sekitar sendi, ginjal, dan jaringan lunak yang longgar. Kadar asam urat dalam darah dapat saja tinggi namun tidak dirasakan oleh penderita.

Kristal asam urat yang terbentuk pada jaringan lunak menimbulkan benjolan kecil-kecil yang kadang dapat hilang sendiri. Benjolan ini sering dijumpai pada daun telinga (paling sering), permukaan dalam lengan bawah, permukaan depan tungkai bawah, sekitar persendian pada jari-jari, siku, dan sekitar tumit. Berlawanan dengan persepsi banyak orang, penumpukan kristal asam urat jenis ini tidak menimbulkan rasa sakit dan peradangan yang nyata. Kekakuan sendi kadang terjadi.

Kristal asam urat juga dapat menghalangi penyaringan darah di ginjal. Kristal dapat menyumbat saluran-saluran di ginjal dan membentuk batu urat di ginjal. Akibatnya fungsi ginjal terganggu dan dapat menyebabkan kegagalan ginjal. Pada orang dengan diabetes dan tekanan darah tinggi, kristal urat dalam ginjal ini mempercepat terjadinya kerusakan pada ginjal dan menimbulkan batu ginjal dan saluran kemih.

Kristal asam urat yang menimbulkan nyeri adalah apabila kristal tersebut berada di dalam cairan sendi. Serangan nyeri karena kristal asam urat ini hampir selalu menyerang satu sendi saja. Sendi ini terutama adalah sendi di belakang ibu jari kaki. Penumpukan kristal asam urat ini menimbulkan peradangan, nyeri saat berjalan, kemerahan, dan setelah rasa sakit berkurang permukaan kulit akan mengelupas. Nyeri karena kristal asam urat pada sendi ini disebut sebagai penyakit pirai.

Pirai paling sering muncul pada laki-laki usia 40-50 tahun. Pirai sangat jarang terjadi pada anak-anak dan pada perempuan yang belum menopause. Ini menyebabkan adanya anggapan bahwa pirai adalah penyakitnya laki-laki. Dari sekian banyak orang dengan kadar asam urat dalam darah yang tinggi, hanya sedikit yang menjadi penyakit pirai.

Bagaimana mencegah kenaikan kadar asam urat?

Salah satu cara mencegah kenaikan kadar asam urat adalah dengan diet rendah purin. Ada jembatan keledai yang mudah diingat tentang jenis-jenis makanan yang perlu dihindari atau dikonsumsi dalam jumlah yang terbatas, yaitu “BEnJOL”. Bayam, Emping, Jerohan, Otak, dan Lemak. Emping pada dasarnya adalah melinjo, jadi semua produk dari pohon melinjo juga perlu dihindari atau dibatasi konsumsinya. Bayam mewakili sayur-sayuran, dan selain bayam, perlu juga menghindari atau mengurangi konsumsi terung-terungan. Kadar asam urat dalam darah juga dapat naik akibat konsumsi alkohol. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi setiap orang untuk mengurangi asupan minuman beralkohol.

Selain mengatur pola makan, perlu pula dilakukan perubahan gaya hidup seperti menghentikan rokok, olah raga yang cukup, dan menurunkan berat badan. Konsumsi vitamin C sampai dengan 500mg juga dikatakan dapat mempengaruhi kemungkinan terjadinya pirai. Cukup minum air hingga memastikan volume air seni sampai 2 liter per hari dikatakan dapat mencegah timbulnya batu urat pada ginjal dan saluran kemih.

Apakah setiap nyeri otot dan sendi berkaitan dengan asam urat?

Jawabannya: tentu tidak. Sebagian besar keluhan mengenai nyeri otot dan nyeri sendi tidak pernah berkaitan langsung dengan asam urat. Seperti sudah dibahas di atas, nyeri karena asam urat terjadi pada kristal asam urat yang menumpuk di cairan sendi dan menyebabkan peradangan. Sebagian besar nyeri karena asam urat ini juga terjadi hanya pada satu sendi dan paling sering mengenai sendi di belakang ibu jari kaki.