Makanan pencegah PJK

Malaysia, berkhasiat utk melebarkan pembuluh darah koroner Jantung. Bahan pangan tsb terdiri dari :50603 Kuala Lumpur, Biotech Division Institute of Biological Sciences University of Malaya.

Beberapa jenis makanan menurut Prof. Dr. S. Vikineswary dari :

* 1 gelas sari/air Apple vinegar
* 1 gelas sari/air Bawang putih
* 1 gelas sari/air Jahe
* 1 gelas sari/airLemon

Cara mengolahnya :
* Campur semuanya dan didihkan dengan perlahan-lahan (api kecil).
* Biarkan sekitar 1/2 jam, untuk menjadi 3 gelas.
* Saring dan diamkan sampai dingin.
* Setelah dingin, tambahkan 3 gelas madu alami, diaduk sampai merata dan simpan dalam botol.

Anjuran pakai :
* Minumlah 1 sendok makan setiap pagi sebelum sarapan.

Cuka apel mengandung hasil fermentasi spt asam laktat yg dapat melarutkan endapan kalsium. Minyak zaitun kaya akan vitamin E yg mencegah oksidasi kolesterol jahat shg tidak terbentuk sel buih dan fatty streak sbg awal aterosklerosis. Bawang putih juga mencegah aterosklerosis krn kandungan selenium bagian dari enzim glutation peroksidase  dan sistein yg merupakan prekursor glutation. Jahe bersifat antiinflamasi dan pereda nyeri krn kandungan gingerol. Dan lemon kaya akan vitamin C dan antioksidan quercetin.

Penyempitan/sumbatan yg berupa timbunan lemak atau endapan kalsium  akan larut krn zat2 berkhasiat di atas shg penyempitan pembuluh darah koroner yg memerlukan pemasangan stent atau operasi angioplasty atau bypass dapat dicegah.

Kalium

A, seorang mahasiswa dirawat dgn kelemahan dan kram otot setelah bermain futsal dalam waktu lama yg membuatnya mengeluarkan banyak keringat. Dia juga hanya minum air mineral saat bermain.

Pada awalnya dokter yg merawat mengira A menderita GBS suatu reaksi autoimun pasca-infeksi virus dgn gejala kelumpuhan tungkai bawah. Namun pemeriksaan elektrolitnya menunjukkan kadar kalium di bawah nilai normal (hipokalemia).

Fungsi Kalium

KALIUM atau potassium sangat penting bagi sistem saraf dan kontraksi otot, kata Dr. Samuel Oetoro, Sp.GK, MS, ahli nutrisi dari Semanggi Specialist Clinic. Kalium juga dimanfaatkan oleh sistem saraf otonom (SSO), yang merupakan pengendali detak jantung, fungsi otak, dan proses fisiologi penting lainnya.

Kalium ditemukan di hampir seluruh tubuh dalam bentuk elektrolit dan banyak terdapat pada saluran pencernaan. Sebagian besar kalium tersebut berada di dalam sel, sebagian lagi terdapat di luar sel. Mineral ini akan berpindah secara teratur dari dan keluar sel, tergantung kebutuhan tubuh.

Di dalam tubuh, kalium biasanya bekerja sama dengan sodium atau natrium (Na) dalam mengatur keseimbangan muatan elektrolit cairan tubuh. Keseimbangan ini dijaga dengan menyesuaikan jumlah asupan kalium dari makanan dan jumlah kalium yang dibuang.

Sumber Kalium

Cukup mudah memperoleh kalium dari makanan sehari-hari. Kalium banyak ditemukan pada jeruk, pisang, kentang, alpukat, bayam, tomat, daging, susu, dan kacang-kacangan. Namun 3 jenis makanan yg kandungan kaliumnya tertinggi adalah mollases, seaweed dan kurma (dates). Sedangkan air kelapa ternyata lebih banyak mengandung kalium daripada natrium. Utk membuat balans kalium dgn natrium, kita dapat membubuhkan sejimpit garam ke dalam air kelapa yg kita minum (isi air kelapa dalam sebutir kelapa muda sktr 400 cc atau 2 gelas belimbing yg mengandung sktr. 400 mg kalium).

Dalam keadaan normal, organ ginjal berperan menyesuaikan antara asupan dan jumlah kalium yang dibuang tubuh. Sebagian besar kalium dibuang melalui urin, walaupun ada juga yang keluar bersama tinja.

Penggunaan Pencahar

Dijelaskan Dr. Samuel, kadar kalium dalam darah orang normal 3,5-5 mEq/liter. Bila kurang dari itu dibilang kekurangan kalium atau dikenal dengan istilah hipokalemia. “Orang jarang kekurangan kalium,” kata Dr. Samuel.
Olahragawan membutuhkan asupan kalium lebih banyak karena banyak mengeluarkan keringat. Pengguna obat pencahar juga butuh asupan kalium lebih untuk menggantikan kalium yang hilang lewat kotoran. Begitu pula pemakai obat diuretik spt HCT atau furosemid yg menimbulkan kehilangan kalium bersama peningkatan jumlah air seni.

Sebaliknya, orang yang mempunyai penyakit diabetes dan gagal ginjal disarankan tidak mengasup kalium terlalu banyak. Ini karena tubuh mereka tidak dapat lagi secara normal memetabolisme mineral ini. Ginjal yang normal dapat menahan kalium dengan baik. Jika konsentrasi kalium darah terlalu rendah, biasanya karena ginjal tidak berfungsi normal atau terlalu banyak kalium yang hilang melalui saluran pencernaan akibat diare, muntah, penggunaan obat pencahar dalam waktu lama, atau polip di usus besar. Pada gagal ginjal bisa terjadi kenaikan kadar kalium jika tubulus tidak mampu membuang kelebihannya ke dalam air seni.

Obat-obatan seperti insulin dan obat asma jenis albuterol, terbutalin, dan teofilin bisa meningkatkan perpindahan kalium ke dalam sel dan mengakibatkan hipokalemia. Namun, pemakaian obat-obatan ini jarang menjadi penyebab tunggal terjadinya hipokalemia.

Mudah lelah

Hipokalemia ringan biasanya tidak menyebabkan gejala sama sekali. Kondisi yang lebih berat dapat mengakibatkan kelemahan fungsi otot dan tubuh mudah lelah. Kelemahan otot biasanya terjadi pada otot kaki dan tangan, tetapi kadang juga mengenai otot mata, otot pernapasan, dan otot untuk menelan. Kedua keadaan terakhir ini dapat berakibat fatal. Kondisi lemah otot ini dialami mereka yang sering kram di kaki jika terlalu banyak beraktivitas. Bahkan seorang pasien pernah sampai lumpuh krn kekurangan kalium.

Oleh dokter pasien hipokalemia ringan disarankan banyak makan pisang, atau minum jus jeruk dan air kelapa. “Sekarang aku tak bisa jauh dari pisang,” ujar seorang pasien hipokalemia. Pada kondisi hipokalemia parah, sistem saraf juga mengalami gangguan dalam mengantarkan rangsangan. “Yang lebih parah, meskipun jarang terjadi, hipokalemia dapat menyebabkan masalah serius seperti detak jantung tak beraturan hingga berhentinya detak jantung,” imbuh Dr. Samuel.

Beberapa penelitian menyebutkan, orang yang kekurangan kalium lebih berisiko terkena penyakit hipertensi, yang merupakan faktor pemicu penyakit jantung dan stroke. Kurang asupan kalium mudah digantikan dengan mengonsumsi makanan sumber kalium atau garam kalium (kalium klorida) dengan cara ditelan (oral). Pengobatan oral ini lebih mudah, tetapi karena kalium dapat mengiritasi saluran pencernaan, hanya diberikan dalam dosis kecil. Pemberian 40-60 mEq dapat menaikkan kadar kalium sebesar 1-1,5 mEq/L, sedangkan 135-160 mEq dapat menaikkan kalium 2,5-3,5 mEq/L.

Pada hipokalemia berat, kalium bisa diberikan secara intravena. Hal ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan hanya di rumah sakit, untuk menghindari kenaikan kadar kalium yang terlalu tinggi. Konsentrasi kalium dalam darah orang dengan hipokalemia berat ini mesti diperiksa ulang secara periodik. Bila kondisi membaik, jenis pengobatan dapat diubah.

Sumber referensi: dr Samuel Oetoro, MS SpGK.

Serangan Jantung

Semakin banyak orang meninggal karena serangan jantung koroner daripada krn penyakit lain. Serangan ini merupakan penyebab utama kematian dini. Serangan jantung koroner terjadi jika pembuluh nadi koroner yang memberi darah dan oksigen pada otot jantung tersumbat atau menyempit. Endapan lemak di sepanjang dinding pembuluh nadi tersebut menyebabkan penyempitan ini.

Jika aliran darah koroner berkurang cukup signifikan shg  menimbulkan kerusakan otot jantung (infark miokard), maka tindakan medis seperti PTCA harus dilakukan. PTCA merupakan singkatan “Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty.”

PTCA saat ini menjadi salah satu tindakan yg paling sering dilakukan oleh dokter (bedah)  jantung utk membuka pembuluh nadi koroner yang tersumbat atau rusak itu. Istilah perkutaneus berarti kateter disisipkan ke dalam pembuluh darah balik dengan jarum yg ditusukkan pada kulit hingga masuk pembuluh darah. Selanjutnya kateter didorong hingga mencapai pembuluh koroner dgn arahan x-ray. Jika utk tujuan diagnostik spt menentukan derajat penyempitan dan lokasinya, tindakan ini diinamakan kateterisasi jantung. Transluminal berarti bahwa tindakan ini dilakukan lewat lumen atau lubang pembuluh darah. Coronary atau koroner merupakan pembuluh darah yg menjalani tindakan ini sedangkan angioplasti berarti pembentuk kembali pembuluh darah tsb.

Angioplasti sering disebut pula terapi balon. Pembuluh koroner yg tersumbat dibuka dengan balon khusus. Prosedur ini juga memasang stent (ganjal) utk menjaga agar pembuluh tsb tidak menutup kembali. Kateterisasi jantung dan PTCA dapat dilakukan secara bersamaan.

Sebelum menjalani  PTCA, dokter akan melakukan evaluasi dengan teliti. Pasien harus puasa dan daerah lipat paha disterilkan utk tempat masuk kateter. Krn diberi obat bius, pasien akan mengantuk tapi tetap sadar selama pelaksanaan tindakan. Sejumlah obat akan disuntikkan lewat infus.

Ketika balon digembungkan, mungkin pasien merasa dadanya tertekan atau tidak enak. Perasaan ini tidak apa2 dan akan berhenti saat balon dikempiskan. Mungkin pasien juga merasa detak jantungnya hilang, wajah terasa panas (flushing) dan sakit kepala. Semua ini normal dan akan hilang sendiri.

Setelah  PTCA selesai dikerjakan, kateter dapat dilepas setelah 4-6 jam. Saat melakukan PTCA,  dokter akan menyuntikkan obat pengencer darah utk memasang stent. Kateter baru bisa dilepas setelah darah kembali normal. Setelah dilepas dipasang pembalut tekan utk mencegah perdarahan di tempat pemasangan kateter.

Pasca-PTCA, pasien perlu kontrol teratur dgn dokter jantungnya.  PTCA tidak selalu menyembuhkan penyakit koroner. Pada beberapa pasien, pembuluh koroner dapat menyempit kembali setelah 6 bulan kemudian. Jika ini terjadi, gejala semula akan muncul kembali. Bila obat dokter tidak menghentikan nyeri dada tsb, segera konsulltasikan dgn dokter jantung. Alternatif lain PTCA adalah bedah jantung bypass.

Andry H

Hiperkalemia saat berolahraga berat

Ketika berolahraga berat yg memerlukan banyak oksigen spt bermain futsal, kita dapat mengalami metabolisme anaerob. Pada keadaan anaerob (keadaan tanpa oksigen), metabolisme karbohidrat utk memproduksi tenaga akan menghasilkan asam laktat. Akibatnya dapat terjadi asidosis laktat jika asam laktat itu tidak sempat diproses dalam hati menjadi glukosa lewat siklus Cori.

Keadaan tubuh yg menjadi asam ini ternyata dapat menaikkan kadar kalium.  Proses terjadinya adalah bahwa pada keadaan asidosis dengan beban kerja yang berat (misalnya pada olahraga yg sangat menguras tenaga) bisa terjadi keausan bahkan kerusakan sel-sel otot. Akibat rusaknya sel-sel otot (rhabdomiolisis), banyak ion kalium keluar dari sel dan keadaan ini akan menimbulkan hiperkalemia (kenaikan kadar kalium dalam darah).

Hiperkalemia merupakan keadaan berbahaya bagi jantung krn dapat menimbulkan gangguan irama jantung sampai henti jantung (cardiac arrrest) yg tentunya akan diikuti oleh kematian secara mendadak.

Untuk mencegah hiperkalemia dan asidosis sebetulnya ada cara sederhana. Kita bisa minum soda gembira yg kaya akan natrium bikarbonat (baking powder; soda kue) dan gula. Natrium dapat meningkatkan ekskresi kalium lewat ginjal sedangkan gula yg masuk ke sel sebagai sumber energi akan membawa pula kalium kembali ke dalam sel. Dengan cara demikian kemungkinan asidosis laktat dan hiperkalemia dapat dicegah.

Preservasi Fertilitas pada Pria

Sekitar 15% pasangan di dunia mengalami infertilitas. Infertilitas pada pasangan dapat terjadi karena tiga faktor. Sebanyak 1/3 dipengaruhi oleh faktor pria, 1/3 faktor wanita, dan 1/3 lainnya diakibatkan karena gabungan dari faktor pria dan wanita. Masalah gaya hidup seperti merokok dan obesitas dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan secara umum. Nutrisi juga memiliki pengaruh besar terhadap fertilitas pada pria. Saat ini, preservasi fertilitas dianggap sebagai pelayanan esensial di dunia medis diakibatkan karena perubahan sosial yang mengacu pada pernikahan di usia tua dan diikuti dengan perkembangan teknologi dalam pengobatan kanker dan cryobiology. Kanker sudah menjadi situasi yang signifikan dengan preservasi fertilitas nerupakan prosedur yang esensial.

Data demografis global dan data epidemiologi menunjukkan peningkatan pada prevalensi kanker, dengan perkiraan 20 juta kasus kanker baru setiap tahunnya pada 2025. Fertilitas masih menjadi masalah utama dalam kualitas hidup pada penderita kanker dengan usia muda. Dengan demikian, kebutuhan preservasi fertilitas menjadi krusial sekarang karena peningkatan kelangsungan hidup kanker dalam jangka panjang.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 5 tahun tingkat kelangsungan hidup relatif untuk semua kanker sekarang mendekati 70% untuk dewasa dan >80% untuk anak-anak.

Gaya Hidup, Fertilitas dan Penanganan Infertilitas

Aktivitas yang mempengaruhi suhu testis

Pada manusia dan mayoritas mamalia, spermatogenesis merupakan proses yang bergantung pada suhu, yaitu 2 – 8°C di bawah suhu tubuh. Beberapa faktor eksternal seperti postur duduk, baju, gaya hidup, penggunaan laptop, menonton televisi, bermain video games, dan lain sebagainya yang berakibat pada peningkatan suhu testis dan gangguan fertilitas.

  1. Merokok

Merokok diketahui menurunkan kapasitas antioksidan dari tubuh manusia, sehingga menurukan proteksi terhadap berbagai gangguan yang mungkin terhadap sistem reproduksi. Benzo(a)pyrene, merupakan karsinogen mutagenik yang mempengaruhi meiosis pada ovarium dan testis, mempengaruhi parameter semen pada dosis tertentu, jumlah oosit yang berakibat pada menopause dini, menghambat perkembangan embrio setelah fertilisasi, dan meningkatkan risiko kanker pada anak-anak.

C. Alkohol

Konsumsi alkohol sedang (40 – 80 gram atau 3,5 – 7 minum per hari) akan berakibat pada gangguan ringan dari maturasi sperma. Pada pecandu alkohol yang belum terdapat kerusakan liver berat ditemukan adanya penurunan jumlah sperma pada 40% kasus, bentuk sperma abnormal pada 45% kasus, dan gangguan motilitas sperma pada 50% kasus.

  1. Stres

Stres yang persisten dapat berakibat pada aktivasi terus menerus dari sistem saraf simpatis yang menghasilkan perubahan pada aksis hipotalamus-pituitari-gonadal yang mempengaruhi spermatogenesis. Stres juga berakibat pada peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang menyebabkan kerusakan pada sel sperma dan berakibat pada peningkatan produksi sperma abnormal dengan motilitas dan potensi fertilitas yang buruk.

  1. Penanganan Infertilitas

Manusia dianugerahi karunia prokreasi, namun umumnya individu tidak memikirkan tentang fertilitas, sampai individu tersebut berpikir untuk memulai sebuah keluarga. Tingkat fertilitas yang terus menurun terbukti dengan kecenderungan kualitas air mani yang berbanding terbalik dengan peningkatan frekuensi kasus infertilitas dalam beberapa tahun terakhir. Etiologi dalam sejumlah besar kasus infertilitas masih belum diketahui. Tingkat fertilitas yang kurang baik di awal kehidupan cenderung menjadi infertil lebih cepat dari kebanyakan orang pada umumnya. Seseorang harus merawat fertilitas sejak awal kehidupan dan bahkan setelah selesai dengan program keluarga berencana dengan beberapa hal seperti berikut.

  • Menghindari paparan radiasi
    • Menghindari paparan panas pada testis
    • Mengurangi stres
    • Berhenti merokok dan konsumsi alkohol
    • Melakukan olahraga intensitas ringan-sedang
    • Mengikuti jam biologis
    • Diet yang seimbang dan bergizi
    • Koitus secara teratur
    • Program keluarga berencana

Oncofertility: Mempertahankan Fertilitas pada Pasien Kanker

Pada kelompok ini, masalah kualitas hidup secara umum dan mempertahankan fertilitas menjadi penting. Pasien kanker secara tidak langsung telah kehilangan fertilitasnya karena modalitas konvensional pengobatan kanker seperti kemoterapi dan terapi radiasi cenderung memiliki efek merusak pada fungsi reproduksi baik pria maupun wanita. Oncofertility adalah disiplin ilmu yang berkembang di persimpangan onkologi dan kedokteran reproduksi.

Ruang lingkup oncofertility bertindak sebagai penghubung antara kedokteran reproduksi dan onkologi dengan tujuan memungkinkan fertilitas di masa depan bagi para penyintas kanker, oncofertility bertujuan untuk memperluas pilihan pelestarian fertilitas pada pasien. Kolaborasi di antara beragam spesialisasi klinis untuk mengasimilasi ilmu reproduksi, konseling sosial dan keluarga dan manajemen fertilitas setelah pengobatan kanker dan perluasan kesadaran tentang oncofertility.

Proses spermatogenesis melibatkan populasi sel yang cepat membelah, dan itu membuatnya sangat rentan terhadap efek sitotoksik obat kemoterapi yang dapat menyebabkan fibrosis interstisial dan hyalinisasi di dalam jaringan testis. Agen alkilasi seperti siklofosfamid dan cis-platinum memiliki gonadotoksisitas tertinggi dengan risiko terburuk menjadi azoospermia yang berkepanjangan. Efek gonadotoksik kemoterapi tergantung pada usia pasien, jenis obat yang digunakan dan dosis yang diberikan.

Radiasi dapat menyebabkan kerusakan testis primer jika diberikan langsung ke testis atau ketika terpapar sebagian radiasi dari jaringan yang dalam pengobatan terapi radiasi, infertilitas biasanya disebabkan oleh kerusakan pada epitel germinal. Spermatogonia sangat sensitif terhadap efek radiasi, dan bahkan dosis serendah 4-6 Gy dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel germinal. Kerusakan testis sekunder dapat menjadi konsekuensi dari radiasi ke otak di mana terjadi kerusakan akibat radiasi pada kelenjar pituitari yang menghambat produksi LH dan FSH. Hambatan produksi LH dan FSH akan mengarah ke gangguan spermatogenesis.

Prosedur bedah yang melibatkan organ genitourinaria menyebabkan gangguan fertilitas. Prosedur bedah tertentu di panggul atau retroperitoneum seperti diseksi kelenjar getah bening retroperitoneal dapat merusak saraf panggul dan menyebabkan ejakulasi atau ejakulasi retrograde.

Peran Oncofertility

Oncofertility dapat memainkan peran pada tahapan yang berbeda selama manajemen kanker pada pasien.

  1. Tahap diagnosis
    Kepastian bahwa pasien memiliki pilihan untuk mempertahankan fertilitas dan konseling untuk pasien mengenai pilihan mempertahankan fertilitas dapat memberikan penghiburan kepada pasien dan membantunya dalam membuat keputusan dengan implikasi yang luas.
  2. Tahap perawatan
    Fertilitas sulit untuk ditangani begitu pengobatan untuk kanker dimulai. Namun demikian, konseling tentang opsi yang tersedia dan memberikan dukungan psikologis dapat meringankan kekhawatiran pasien dan keluarga mereka tentang masalah fertilitas sampai batas tertentu.
  3. Fase penyembuhan
    Selain jenis pengobatan kanker, status fertilitas pre-terapi memainkan peran penting dalam memprediksi pemulihan sperma di masa depan. Tim oncofertility dapat memainkan peran penting dalam konseling, penentuan prognosis dan membimbing pasien secara realistis tentang prospek fertilitas mereka.

Pilihan untuk Preservasi Fertilitas pada Pria dengan Kanker

Pilihan preservasi fertilitas untuk pria yang dijadwalkan akan menjalani terapi kanker yang bersifat gonadotoksik yaitu kriopreservasi sperma, ekstraksi sperma dari testis dan penggunaan pelindung gonad untuk melindungi gonad selama terapi radiasi.

A. Pengambilan sampel sperma
Pengambilan sampel sperma dilakukan dengan masturbasi. Periode pantangan yang optimal adalah 3-5 hari dan penggunaan pelumas harus dihindari. Pada pasien dengan azoospermia obstruktif atau non-obstruktif, teknik pengambilan menggunakan aspirasi sperma testis (TESA), ekstraksi sperma testis (TESE), aspirasi sperma epididimis mikroskopis (MESA), aspirasi sperma epididimis perkutan (PESA), mikro-TESE dan aspirasi sperma testis dengan fine needle.

B. Preparasi sperma
Persiapan sperma sebelum kriopreservasi melibatkan pengangkatan plasma seminal dan peningkatan sampel. Sperma isolasi hasil kriopreservasi dengan teknik swim up. Teknik lain dapat berupa pemilahan sel yang diaktifkan secara magnetik (MACS), yang memanfaatkan mikroba annexin untuk immunolabel dan menghilangkan spermatozoa apoptosis.

C. Preparasi medium
Persiapan media penyangga krioprotektif sperma adalah komponen vital dari kriopreservasi sperma dan memiliki pengaruh langsung terhadap keberhasilan pembekuan spermatozoa. Krioprotektan yang paling sering digunakan untuk kriopreservasi sperma adalah gliserol. Meskipun semua cryomedia memerlukan gliserol krioprotektan, gliserol itu sendiri dapat merusak spermatozoa manusia. Hal ini diperlukan untuk menjaga konsentrasi gliserol akhir dalam campuran sperma di bawah 7,5% dan untuk meminimalkan kontak sperma dengan gliserol dengan memulai proses pendinginan/pembekuan segera dan dengan pencucian segera setelah pencairan.

D. Pengemasan
Kemasan merupakan komponen yang penting dari kriopresipitasi. Kemasan terbaik yang tersedia saat ini adalah dalam bentuk sedotan yang memastikan pendinginan yang homogen, penyegelan efektif dengan menyolder di kedua ujungnya dan pengisian yang lebih mudah dengan menggunakan nosel steril yang juga menghindari kontaminasi.

E. Proses pembekuan
Dua metode yang paling umum digunakan untuk pembekuan sperma adalah tingkat pembekuan terkontrol (pembekuan lambat) dan metode pendinginan uap statis (pembekuan cepat). Pembekuan lambat dan terkendali, juga disebut sebagai metode Cleveland Clinic Foundation (CCF), sedangkan teknik pembekuan cepat, juga disebut sebagai metode Irvine Scientific (IS).

F. Penyimpanan
Penyimpanan sperma kriopreservasi secara konvensional dilakukan dalam medium nitrogen cair pada –196°C. Namun, sperma kriopreservasi dapat disimpan dalam penyimpanan pada suhu yang lebih tinggi untuk jangka waktu pendek seperti yang dilakukan oleh beberapa fasilitas bank donor sperma untuk penyimpanan selama transit pada −79 hingga −80 °C dalam dry ice.

Fungsi Sperma dengan Cryopreservation

Parameter sperma awal sebelum pembekuan memainkan peran penting dalam menentukan efek kriopreservasi pada karakteristik sperma. Misalnya, sebanyak 30-60% pasien dengan keganasan testis mungkin memiliki gangguan parameter sperma pada awal. Demikian pula, pasien dengan kanker lain seperti penyakit Hodgkin juga dapat mengalami gangguan spermatogenesis sebelum memulai terapi. Namun, stadium kanker tampaknya tidak mempengaruhi parameter sperma. Gangguan spermatogenesis pada awal seharusnya tidak menghalangi kriopreservasi sperma karena teknik ART seperti IVF / ICSI mungkin berhasil bahkan dengan sperma berkualitas baik yang soliter.

Mengenal Lebih Dekat Geriatri Ginekologi

Definisi geriatri atau yang disebut juga lanjut usia menurut Departemen Kesehatan RI merupakan seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Definisi dari geriatri ginekologi merupakan ginekologis patologis yang terjadi pada wanita yang telah menopause dan berusia lebih dari sama dengan 65 tahun ke atas. populasi lanjut usia di Indonesia terus meningkat diprediksi pada tahun 2050 akan menjadi 21.4% dan meningkat menjadi 41% pada tahun 2100. Tingkat populasi lanjut usia di Indonesia pada tahun 2100 juga diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan dengan populasi lanjut usia di dunia, yaitu sebesar 41% dan 35.1%.

Masalah ginekologi yang paling sering ditemukan ialah keganasan (32%), prolaps uterovaginal (26%), dan infeksi urogenital (17%). Keganasan paling sering terjadi ialah kanker serviks yaitu sebesar 16%, diikuti oleh kanker ovarium sebesar 9% dan kanker endometrium sebesar 6%. Keadaan menopause pada saat lanjut usia juga turut berperan dalam terjadinya masalah ginekologis, salah satunya dikarenakan adanya perubahan pada kadar pH vagina yang terjadi akibat tingkat estrogen yang rendah.

Terapi penggantian hormon juga perlu dibahas dikarenakan terapi hormon ini cukup berperan dalam mengatasi masalah yang terjadi pada usia lanjut. Diharapkan kualitas hidup pada populasi lanjut usia juga dapat meningkat.

Hal-hal yang terkait pembahasan seputar geriatri ginekologi adalah sebagai berikut:

Menopause

Beberapa tahun sebelum terjadinya menopause, folikel mengalami deplesi, hingga estrogen yang terproduksi semakin rendah. Diawali dengan penurunan kadar estradiol, dari 50-300 pg/ml pada saat sebelum menopause menjadi 10-20 pg/ml setelah menopause. Diikuti dengan tidak adanya pertumbuhan pada endometrium nantinya berakhir menjadi tidak adanya menstruasi. saat telah menopause, jumlah estron lebih tinggi dibandingkan estradiol memiliki sifat yang lebih lemah dibandingkan dengan estradiol. sekitar 5-10 tahun kemudian akan benar-benar rendah hingga akhirnya dapat dikatakan sebagai “true menopause”.
Dampak yang paling sering terjadi pada saat menopause ialah adanya gejala vasomotor seperti hot flush. Sebagai adanya rasa panas yang terjadi secara tiba-tiba yang diikuti dengan keluarnya keringat, pengaruh terhadap sistem urogenital dan vagina, mengeluhkan adanya rasa sakit saat melalukan hubungan seksual (dyspareunia) dan nyeri pada saat berkemih (dysuria). Disebabkan atrofi pada lapisan epitel vagina, kandung kemih, dan uretra yang diakibatkan oleh kadar estrogen yang rendah. Masalah lainnya penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, osteoporosis dan fraktur, perubahan fisiologis, kerontokan rambut dan berkurangnya elastisitas pada kulit, disfungsi seksual, dan penurunan kognitif.

Gynecology Geriatric Malignancy

Keganasan memuncak di usia 60 hingga 70 tahun dimana 75% mencakup lansia, 1% dari seluruh penyakit keganasan sehingga keganasan meningkatkan mortalitas hingga 34%. Keganasan pada lansia paling banyak ditemukan ialah keganasan pada ovarium (47.93%), serviks (31.40%), dan endometrium (12.39%). Keganasan dapat dicegah dengan skrining dini.

Pelvic Organ Prolapse

Merupakan relaksasi dari bagian mana saja di area bawah pelvis termasuk cystocele, urethrocele, rectocele, uterine prolapse, dan eversi dari vagina atau anus. Penanganan dilakukan hanya jika pasien mengalami ketidaknyamanan serta limitasi fungsi hidup seperti inkontensia urin maupun fecal, terdapat ulserasi.
Pelvic organ Prolapse memiliki banyak factor risiko yang multifactorial. Factor risiko itu ialah:

  1. Genetik
  2. Usia
  3. Ras
  4. Menopause
  5. Obesitas
  6. Peningkatan tekanan intraabdomen

Penyangga organ panggul merupakan interaksi yang kompleks antara otot-otot dasar panggul, jaringan ikat dasar panggul, dan dinding vagina. Faktor risiko yang telah disebutkan diduga terlibat dalam terjadinya kerusakan struktur penyangga tersebut sehingga terjadi kegagalan dalam menyangga uterus dan organ-organ panggul lainnya. Operasi dilakukan hanya jika pasien dapat menangani masalah elektif dikemudian hari tanpa adanya faktor risiko serta mempertahankan kualitas hidupnya.

Infeksi pada Urogenital

Merupakan infeksi bakteri yang paling sering ditemukan pada populasi lanjut usia. Infeksi pada urogenital yang dimaksud ialah seperti infeksi pada saluran kemih dan bakterial vaginosis. Dikarenakan adanya peningkatan pada kadar pH vagina menjadi alkali (>4.5) yang disebabkan oleh rendahnya tingkat estrogen pada keadaan menopause menyebabkan vagina menjadi lingkungan yang nyaman untuk Lactobacilli dan lebih rentan terhadap infeksi urogenital dan patogen yang berasal dari feses.
Vagina, vulva, uretra, dan bagian trigonum dari kandung kemih berasal dari sinus urogenital, merupakan jaringan yang sensitif terhadap estrogen, dapat berimplikasi pada keempat bagian tersebut yang ditandai dengan munculnya gejala dermatologi, vaginal discharge yang berkurang, dyspareunia, gangguan berkemih, dan infeksi saluran kemih. Gejala atrofi urogenital ditandai seperti adanya rasa kering pada vagina, gatal, rasa terbakar dan berkurangnya discharge dari vagina, adanya dyspareunia, frekuensi saat buang air kecil, urgensi, dysuria, dan infeksi saluran kemih yang rekuren. Untuk mengurangi infeksi pada saluran kemih yang harus dievaluasi pemeriksaan terhadap fungsi usus dan kandung kemih, riwayat medikasi, observasi perilaku buang air kecil, identifikasi adanya inkontinensia antesenden, pengobatan terhadap adanya impaksi feses, pemeriksaan pelvis, urinalisis, dan estimasi volume residu setelah buang air kecil.

Hormone Replacement Therapy

Terapi yang digunakan untuk mengurangi gejala post menopause dengan cara pemberian estrogen dan progestogen sintesis untuk menggantikan kedua hormon yang telah berkurang ketika mengalami menopause.
Berbagai bentuk terapi antara lain secara lokal dan sistemik. Terapi lokal diberikan dalam bentuk krim, pesarium, dan cincin sedangkan terapi hormone sistemik diberikan dalam bentuk obat secara oral, transdermal patch, gel, dan implant. Indikasi terapi penggantian hormon selain untuk mengurangi gejala post menopause, digunakan untuk mengatasi premature menopause, ovarian failure, dan risiko osteoporosis. Sedangkan, kontraindikasi dibagi menjadi dua, yaitu kontraindikasi relatif dan absolut.

Kontraindikasi relative

Dementia
Penyakit kantung empedu
Hipertrigliseridemia
Riwayat penyakit jaundice kolestatis
Hipotiroid
Retensi cairan dan disfungsi jantung atau ginjal
Hipokalsemia berat
Riwayat endometriosis
Hepatik hemangioma

Kontraindikasi absolut

Perdarahan abnormal dari kemaluan yang tidak diketahui penyebabnya
Riwayat / suspek / terdiagnosis kanker payudara
Suspek atau terdiagnosis adanya estrogen-dependent neoplasia
Riwayat atau sedang mengalami penyakit tromboemboli pada vena
Riwayat atau sedang mengalami penyakit tromboemboli pada arteri (Contoh: stroke atau infark miokard)
Disfungsi liver

Tabel : Kontraindikasi Relatif dan Absolut terhadap Penggunaan Terapi Hormon Estrogen

Sebelum dilakukannya terapi hormon, petugas kesehatan sebaiknya melakukan anamnesis mengenai riwayat penyakit pasien dan riwayat medikasi terlebih dahulu, pemeriksaan lainnya seperti mammogram, pemeriksaan pelvis, pap smear atau pengukuran ketebalan endometrium

E.S.W.L (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)

E.S.W.L. merupakan teknologi canggih penatalaksanaan batu saluran kemih. E.S.W.L merupakan  prosedur yang non-invasif, sehingga banyak digunakan dan bersifat relatif lebih aman. Efek pemecahan batu memberikan hasil yang efektif pada 80-85% kasus batu simple. E.S.W.L bekerja melalui transmisi energi ke batu melalui jaringan hingga batu dihancurleburkan sehingga fragmen-fragmen batu dapat keluar spontan bersamaan kencing.

Indikasi-indikasi E.S.W.L :

  • Batu ginjal simple dengan stone burden < 2 cm.
    Batu yang berukuran lebih dari 2 cm kurang ideal untuk E.S.W.L, karena klirens turun dari 90% untuk batu 1 cm menjadi 63%, sehingga E.S.W.L perlu diulangi. Angka risiko mengalami kolik juga lebih besar pada E.S.W.L batu ginjal yang berukura lebih dari 2 cm.
  • Batu ureter dengan diameter < 1 cm. Pada batu ureter 1/3 bagian atas, dapat dilakukan manipulasi pendorongan batu ke ginjal dan selanjutnya dilakukan E.S.W.L Bilamana manipulasi ini gagal, dilakukan E.S.W.L in situ. E.S.W.L in situ dapat dipertimbangkan jika penderita menginginkan anestesi yang minimal dan mau menerima tindakan E.S.W.L ulang bila mana masih ada sisa batu.

Kontraindikasi-kontraindikasi:

  1. Obesitas akan mengurangi daya transmisi energi ke batu, sehingga mengurangi daya fragmentasi batu.
  2. Kelainan pembekuan darah (bila belum dikoreksi).
  3. Obstruksi saluran kemih di sebelah distal (bawah) batu.
  4. Infeksi saluran kemih yang aktif atau sepsis.
  5. Aneurisma aorta atau arteri renalis.
  6. Batu cystine atau brushite (kontraindikasi relatif).

Mekanisme Penghancuran Batu oleh Mesin E.S.W.L.:

Bila gelombang kejut mengenai batu dengan perbedaan impedansi akustik bila dibanding dengan air, sebagian gelombang kejut direfleksikan. Gelombang kejut yang melalui batu direfleksikan kembali pada perbedaan akustik kedua antara batu dan cairan disekitarnya. Refleksi gelombang kejut inilah yang menghasilkan fragmentasi batu. Fragmentasi batu didapatkan melalui mekanisme erosi dan penghancuran. Karena tidak ada perbedaan impedansi akustik antara air dengan jaringan lunak di sekitarnya, maka gelombang kejut tidak ada/sedikit sekali yang direfleksikan, atau dengan kata lain diteruskan, sehingga tidak ada efek fragmentasi terhadap jaringan lunak di sekitarnya.

Efek E.S.W.L terhadap Jaringan:

Efek mikrojet dapat menimbulkan cedera jaringan, terutama pembuluh darah yang berdinding tipis. Hal ini mengakibatkan perdarahan/kencing darah, biasanya dalam waktu sementara 1-2 hari. Jejas jaringan menimbulkan reaksi radang. Diperlukan masa pemulihan 1-2 minggu.

Komplikasi-komplikasi yang Dapat Terjadi pada ESWL:

  1. Perdarahan/hematom.
  2. Kencing darah.
  3. Steinstrasse
  4. Infeksi
  5. Nefritis litotripsi

Dokter Bedah Saluran Kencing (Urologist Surgeon) Rumah Sakit Panti Rapih

  • Sungsang R, Sp.U
  • Trisula Utomo, Sp.U
  • Indrawarman, Sp.U

 

oleh dr. Dwi Djuwantoro Sp.U
SubBagian Urologi, SMF Bedah, R.S. Panti Rapih

Kanker Prostat

Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali. Sel ini dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan lymph node. Kanker prostat dapat menimbulkan rasa sakit, kesulitan buang air kecil, disfungsi erektil dan gejala lainnya.

Epidemiologi Kanker Prostat :

  1. Pada Laki-laki Amerika menjadi penyakit yang paling sering nomor 2 diidap.
  2. Penyebab kematian nomer 2 yang paling sering dialami pria setelah kanker paru (di Amerika)
  3. Meningkat cepat dengan bertambahnya usia
  4. Risiko laki-laki usia 50 tahun dalam masa hidupnya :
    – uCaP laten : 40%
    – CaP yang terdeteksi secara klinis : 9,5%
    – Kematian akibat CaP : 2,9%
  5. Kemungkinan CaP :
    Usia <= 40 : 1 in 10.000
    40 – 59 : 1 in 103
    60 – 79 : 1 in 8

Faktor Risiko Kanker Prostat :

  1. Proses Penuaan
  2. Riwayat Keluarga
  3. Diet Tinggi Lemak

PATOLOGI :

  1. Adenokarsinoma 95%
  2. TCC
  3. Small Cell Carcinoma
  4. Sarkoma

GRADE DAN STADIUM

Sistem Grade GLEASON :

  • Berdasar arsitektur kelenjar
  • Grades bervariasi dari 1 sampai 5
  • Grade primer : paling sering ditemukan
  • Grade sekunder: paling sering kedua
  • Gleason score : jumlah grade primer dan sekunder

GLEASON Score :

  • 2 – 4 : diferensiasi baik
  • 5 – 7 : diferensiasi moderat
  • 8 – 10 : diferensiasi jelek

Manifestasi Klinik :

  • Prostat awal: gejala Negatif

Gejala positif

Deteksi Ca P

  1. Colok dubur: induration/nodule
  2. PSA : cut off point 4 ng%
  3. TRUS dg biopsi sistematik

PEMERIKSAAN COLOK DUBUR

  1. Untuk menentukan ukuran, konsistensi dan memprediksikan adanya keganasan prostat
  2. Untuk menentukan perluasan tumor primer
  3. Adanya kanker prostat, prostat teraba keras seperti tulang
  4. Sebanyak 50% karsinoma tidak terdiagnosis dengan colok dubur
  5. Ca P teraba sebagai benjolan keras seperti dasar hidung dan BPH sebagai ujung hidung
  6. Nodul keras pada prostat dapat disebabkan oleh :
    – Prostat kalkulosa
    – TURP/operation/biopsi sebelumnya
    – Prostatitis granulomatous
    – Prostatitis TB

PROSTATIC SPECIFIC ANTIGEN

  1. Tidak spesifik untuk kanker prostat
    – Peningkatan PSA : BPH, infeksi, instrumentasi
    – Cut off point : 4 ng %
  2. Sensitivitas PSA ditingkatkan :
    – PSA velocity (change over time) : 0,75 ng/mL/th
    – PSA density :
    *) BPH = 0,12 ng/mL jaringan
    *) PSAD > 0,15 à Biopsy
    – Age adjusted PSA (Oesterling, 1993)
Usia Normal Range (ng %)
40 – 49 0 – 2,5
50 – 59 0 – 3,5
60 – 69 0 – 4,5
70 – 79 0 – 5,5

TRANS  RECTAL ULTRASONOGRAPHY (TRUS)

  1. Bermanfaat untuk panduan biopsi prostat
  2. Ca P cenderung tampak  lesi hipoekoik pada zona perifer
  3. Lebih akurat dalam penentuan stad. lokal dari pada colok dubur
  4. Juga dapat mengukur volume prostat  PSAD

Diagnosis Banding Kanker Prostat

Colok dubur positif
– Ca P
– Prostatitis granulomatosa kronis
– TB  prostat uBatu prostat
– TURP/Biopsi sebelumnya

PSA meningkat
– BPH
– Infeksi
– Infark
– Instrumentasi

PENATALAKSANAAN Ca P

Prinsip Umum, keputusan terapi tergantung oleh :

Grade dan stadium

Harapan hidup

Morbiditas yang menyertai

Preferensi penderita dan dokter

Modalitas terapi

1. Watchfull waiting

  • Penderita tua
  • Kelainan penyerta
  • Small, well differentiated Ca P

2. Prostatektomi radikal

  • Retropubik
  • Perineal
  • Laparoscopy
  • Robotic

3. Radioterapi

  • EBRT : 6.500 – 7.000 cgy
  • Brachytherapy

4. Cryosurgery

5. Terapi endokrin/hormonal

6. Terapi sitotoksik  in HRPCA

7. Lain-lain (Paliatif untuk metastasis ke tulang yang nyeri)

Follow-up Penderita Kanker Prostat
Penentuan PSA serum, bersamaan dengan perjalanan penyakit dan colok dubur. Pemeriksaan radiologi hanya dilakukan pada penderita khusus.

Terapi Sitotoksik pada HRPCA

  1. Pada penderita HRPCA, dan calon terapi sitotoksik docetaxel 75 mg/m setiap 3 minggu
  2. Pada penderita dengan metastasis tulang karena GRPCA, docetaxel atau mitoxantrone dengan prednison atau hidrokortison.

Terapi Paliatif HRPCA

  1. Biosphosphonates dapat diberikan pada penderita dengan metastasis tulang. (grade A recommendation).
  2. Terapi paliatif seperti radioterapi, dan analgetik kuat.

Summary
Kanker prostat sering kali kompleks serta berbagai aspek penyakit dan penderita perlu dipertimbangkan

 

oleh dr. Dwi Djuwantoro SpU
Bagian Urologi, SMF Bedah, R.S. Panti Rapih

Batu Ginjal

Penyakit batu ginjal banyak dialami oleh penduduk Indonesia, terutama kaum pria. Adapun faktor-faktor yang berperan pada pembentukan batu ginjal / kandung kemih meliputi ras, keturunan, jenis kelamin, bakteri, kurang minum, air minum jenuh mineral, pekerjaan, makanan dan suhu tempat kerja.

  1. Apakah batu ginjal itu?

Batu ginjal adalah massa keras menyerupai “batu” yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan biasa menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun didalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).

Gejalanya apa saja?

Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Namun bila ukuran cukup besar dapat menimbulkan gejala :

  1. Nyeri perut bagian bawah sampai dengan punggung
  2. Nyeri hebat yang hilang timbul
  3. Mual dan muntah
  4. Perut menggelembung
  5. Demam dan menggigil
  6. Buang air kecil disertai darah

Batu dalam saluran kemih dapat menyebabkan infeksi akibat penyumbatan. Bila penyumbatan berlangsung lama dapat mengakibatkan hidronefrosis (ginjal terisi penuh dengan air), sampai akhirnya bisa menyebabkan kerusakan ginjal.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

  1. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari)
  2. Diet rendah kalsium. Kurangi konsumsi makanan seperti susu, telor, dll
  3. Banyak mengkonsumsi putih telur
  4. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung oksalat seperti bayam, kangkung, kembang kol, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh
  5. Mengurangi asupan daging, dan
  6. Dianjurkan sering mengkonsumsi buah semangka
  7. Perhatikan kesehatan Gigi

Bagaimana Cara Mengatasinya ?

Apabila batu terlalu besar untuk dikeluarkan secara alamiah, operasi dapat dikerjakan. Apabila batu berada di ureter, sistoskopi dapat digunakan melalui uretra dan batu dimanipulasi dengan kateter. Pengeluaran batu dari daerah lainnya (pada calix dan pelvis) memerlukan operasi dari samping atau perut bagian bawah. Prosedur yang disebut percutaneus ultrasonic lithotripsy dan extracorporeal shock wave lithotripsy akan memecah batu ginjal menjadi fragmen kecil-kecil, sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah atau dengan pengisapan.

Di Rumah Sakit Panti Rapih

Rumah Sakit Panti Rapih memiliki beberapa layanan medis untuk mengatasi masalah Batu Ginjal yaitu ESWL dan PCNL.

ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) merupakan suatu teknologi tinggi yang dapat menghancurkan batu ginjal dengan gelombang kejut, efek samping yang lebih kecil dibandingkan   dengan tindakan operasi. Angka keberhasilan tindakan ini rata-rata mencapai 90 persen, tergantung jenis dan ukuran batu. Tindakan ini memerlukan waktu sekitar 1 jam dan biasanya tidak memerlukan rawat inap. Pada     kasus dengan faktor penyulit perlu perawatan lebih lama hingga rawat inap.

Percutaneous Nephrolithotomy dan nephrolithotripsy (PCNL) merupakan metode pengambilan batu ginjal yang berukuran sedang / cukup besar.  Metode PCNL ini biasanya ditempuh apabila metode ESWL tidak memungkinkan untuk dilakukan. Tindakan  PCNL dilakukan dengan membuat sayatan kecil (0,5 inci) di bagian samping belakang pasien di daerah ginjal.  Melalui sayatan tersebut alat PCNL dimasukkan untuk mengambil batuginjal. Selama proses ini berlangsung pasien dikontrol oleh dokter anestesi.Dengan metode PCNL ini pasien akan lebih cepat pulih dibandingkan metode operasi yang konvensional.

Dermatitis Kontak

Belakangan ini banyak pasien datang ke rumah sakit dengan gejala ruam kemerahan seperti luka lecet yang disertai keluhan rasa panas dan perih atau gatal. Ruam ini terjadi setempat pada kulit dan kadang-kadang menyebar hingga timbul bercak merah pada beberapa bagian tubuh seperti lengan, leher dll.

Dokter mendiagnosis keadaan ini sebagai dermatitis kontak (DK). DK merupakan reaksi kulit terhadap sesuatu seperti alergen atau iritan. Jika terasa panas dan perih, penyebabnya iritan misalnya zat kimia seperti deterjen atau terpentin. Jika ada rasa gatalnya, penyebabnya alergen misalnya serangga atau tanaman (toksikodendron). Orang awam sering menyebutnya luka karena dikencingi coro (lipas kecil).

Berbeda dengan biduran (urtikaria) yang muncul dan hilang dalam waktu beberapa menit hingga beberapa jam, DK memerlukan waktu beberapa hari sebelum gejala tsb menghilang. Hilangnya keluhan dan gejala terjadi ketika alergen atau iritan sudah tidak mengenai kulit lagi. Kalau tidak, akan terjadi DK yang kronis.

Umumnya DK diobati dengan kombinasi krim steroid untuk mengurangi reaksi inflamasi (merah, nyeri dan bengkak) dan krim antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri. Pada keadaan yang berat, dokter juga meresepkan obat minum kortikosteroid seperti metilprednisolon dan antihistamin seperti loratadin atau cetirizin.

Kendati kelihatannya mengerikan terutama kalau ruamnya luas dan mengenai beberapa tempat, DK akan sembuh sendiri ketika kulit sudah tidak terkena alergen atau iritan.

dr. Andry Hartono