MODY= DMT2 pada anak

MODY merupakan singkatan Maturity Onset of Diabetes in the Young yang sebenarnya merupakan DM Tipe 2 pada anak-anak dan remaja. DM  tipe 2 (DM tidak tergantung insulin) umumnya dimulai pada usia pertengahan dengan gangguan terutama pada reseptor insulin. Reseptor insulin bisa diibaratkan pintu masuk sel. Glukosa (gula darah) yang akan dijadikan energi oleh mitokondria sel dibawa masuk lewat pintu tersebut dengan bantuan hormon insulin.

Gangguan reseptor insulin yang disebut resistensi insulin merupakan ciri utama baik DM tipe 2 maupun MODY. Bentuk yang terakhir ini kini semakin kerap ditemukan. Biasanya pada anak-anak terjadi DMT1 dengan ciri tubuh yang kurus dan ketoasidosis akibat kerusakan sel beta penghasil insulin. DMT1 menempati 5% dari seluruh kasus DM sedangkan DMT2 95%.

Sebaliknya gejala MODY pada anak-anak berupa obesitas dengan penimbunan lemak di bagian perut karena MODY merupakan DMT2. Anak-anak ini mungkin tidak memiliki keluhan apa pun kecuali selera makannya yang luar biasa dan berat badannya yang terus bertambah.

Pemeriksaan laboratorium sering menunjukkan kenaikan trigliserid (TG). Kadar gula darah mungkin naik tapi masih di bawah 126 mg/dL. Angka 126 merupakan kriteria diagnostik DM. Semua ini terjadi karena hiperinsulinisme yang menimbulkan obesitas, kenaikan TG dan  intoleransi glukosa (kadar GD 110-126).

Penyebab MODY diperkirakan karena anak dan remaja semakin banyak mengonsumsi KH sederhana seperti gula dan tepung gandum selain lemak jenuh. Sementara itu, anak dan remaja tidak menyukai KH kompleks seperti sayur dan buah. Kehidupan yang kurang gerak karena adanya kendaraan bermotor dan alat elektronik juga meningkatkan insidensi MODY.

Menurut situs www.naturefood.com, pemakaian alloxan sebagai pemutih bahan pangan seperti misalnya tepung gandum turut menambah pelik masalah ini karena masyarakat modern semakin menyukai roti putih, mie instan, gorengan dengan tepung dll dengan meninggalkan camilan tradisional yang alami. Dalam laboratorium alloxan dipakai  untuk menjadikan tikus percobaan menderita diabetes.

Pencegahan MODY dapat dilakukan dgn meningkatkan makanan berserat seperti roti gandum utuh, kacang-kacangan, beras merah/beras tumbuk, sayuran dan buah. Mengajarkan kepada anak dan remaja untuk kembali menyukai makanan tradisional ketimbang junk food merupakan tindakan yang bijaksana.

Kreatinin

Pasien yang menderita penyakit ginjal kronis tentunya tidak asing dengan istilah kreatinin. Begitu juga pasien yang mengecek fungsi ginjalnya tentunya pernah mendengar kata kreatinin ini. Namun, mereka tentunya ingin mengetahui lebih detail lagi apakah sebetulnya kreatinin itu, bagaimana fungsinya dan pada keadaan apa saja kadar kreatinin dalam darah meningkat?

Apakah kreatinin itu?

Kreatinin merupakan hasil penguraian kreatin fosfat dalam otot. Untuk bekerja dengan baik, otot kita memerlukan sumber energi instan yang dinamakan ATP (adenosin trifosfat) – suatu ikatan fosfat berenergi tinggi. Nah, sumber ATP adalah kreatin fosfat di samping fosforilasi oksidatif yang dalam biokimia dikenal sebagai siklus Krebs.

Karena itu, kita tidak akan heran jika di pasaran MLM atau toko suplemen juga terdapat tablet kreatin fosfat yang sering dalam bentuk kombinasi dengan asam alfa-lipoat dan KH indeks-glisemik tinggi. Suplemen seperti ini sering digunakan oleh atlit jenis olahraga yang memerlukan kerja otot yang berat seperti pelari sprint.

Linford Christie, pemegang medali emas lari 100 meter di Olimpiade Barcellona tahun 1992, merupakan salah seorang pemakai suplemen kreatin fosfat. Lainnya adalah Sally Gunnel, salah seorang pemegang medali emas lari rintangan 400 meter di pesta olimpiade yang sama. Kreatin fosfat tidak dianggap sebagai doping.

Kembali kepada kreatinin yang merupakan hasil pemecahan kreatin fosfat untuk menghasilkan energi otot, kadar kreatinin dalam darah berkisar dalam batas 0,5 – 1,2 mg/dL. Pria memiliki kadar yang lebih tinggi daripada wanita karena massa ototnya lebih besar. Kata kreatinin sebenarnya berasal dari kata Yunani, kreas, yang artinya otot. Kadarnya dalam darah dipertahankan dalam batas-batas di atas oleh ginjal, khususnya penyaringan di glomerulus dan sekresi di tubulus proksimal. Kreatinin jarang diserap kembali di dalam tubulus ginjal.

Keadaan yang menaikkan kadar kreatinin

Ada beberapa keadaan yang disertai peningkatan kadar kreatinin dalam darah, yaitu:

1) Penyakit ginjal kronis yang tentu saja disertai dengan kenaikan kadar kreatinin dalam darah. Tetapi gejala ini biasanya disertai pula peningkatan kadar ureum. Fungsi ginjal ditentukan lewat GFR (glomerular filtration rate) yang dihitung dengan rumus memakai kadar kreatinin dalam darah dan air seni.

2) Pemakaian obat hipertensi seperti kombinasi inhibitor ACE dgn ARB (angiotensin receptor blocker). Karena itu, kedua obat ini biasanya dipakai sendiri atau dalam bentuk kombinasi dgn golongan lain.

3) Aktivitas fisik yang berat apalagi bila disertai cedera otot. Pada keadaan ini, selain kreatinin juga bisa terjadi peningkatan asam urat dan enzim ALT dalam darah. Namun, setelah beristirahat dan terjadi pemulihan otot, biasanya kadar zat-zat tersebut akan kembali normal.

4) Usia lanjut. Ketika manusia mencapai usia lebih dari 70 tahun, semua fungsi organ sudah menurun termasuk fungsi ginjal. Karena itu, kadar kreatinin bisa meninggi pada manula khususnya wanita. Peninggian ini umumnya disertai pula dengan kenaikan kadar asam urat dan ALT, enzim yang bukan hanya diproduksi oleh sel hati yang mengalami peradangan tetapi juga oleh sel otot yang aus atau rusak. Hanya saja, kenaikan ALT karena deplesi protein dari otot tidak akan sampai 3 kali lipat nilai normalnya seperti terjadi pada peradangan hati.

dr Andry Hartono, DAN.SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih
Jl Cik di Tiro 30 Yogyakarta

Pelemakan Hati

Anda diberitahu oleh dokter yang melakukan pemeriksaan USG dalam rangkaian proses medical checkup bahwa pada hati anda terjadi pelemakan. Keadaan ini berarti bahwa di dalam sel-sel hati anda sudah terdapat ruang-ruang (vakuola) berisikan lemak. Artikel ini akan menjawab keingintahuan anda yang lebih lanjut tentang penyakit pelemakan hati (PPH).

Pelemakan hati atau fatty liver yang juga disebut penyakit steatohepatik ini umumnya ditemukan pada penyandang kegemukan, gangguan metabolisme seperti sindrom metabolik (keadaan pradiabetes), hipertrigliseridemia atau pun pemakai obat-obat yang mengganggu fungsi hati seperti kortikosteroid. Di negara Barat yang masyarakatnya banyak minum minuman beralkohol, penyakit pelemakan hati (PPH) dapat disebabkan oleh alkohol. Karena itu, kita mengenal dua jenis PPH: alkoholik dan nonalkoholik (NASH; nonalcoholic steatohepatic disease).

PPH DI INDONESIA

PPH nonalkoholik lebih sering ditemukan di Indonesia dibandingkan PPH alkoholik. Apalagi dengan semakin tingginya angka kegemukan di kalangan remaja yang seiring dengan peningkatan konsumsi junk foods yang kaya akan tepung, gula, minyak/lemak jenuh serta aditif pangan tertentu seperti butil hidroquinon dalam minyak.

KELUHAN DAN GEJALA

PPH tanpa inflamasi biasanya tidak disertai keluhan dan gejala. Bila sudah terjadi inflamasi (peradangan yang bukan infeksi melainkan reaksi terhadap zat toksik, xenobiotik atau metabolit yg mengganggu hati), penyakit yang kemudian disebut steatohepatitis ini akan menimbulkan keluhan seperti sakit maag yang lebih berat dengan rasa kembung atau sebah terutama pada perut kanan atas.

Pada keadaan seperti ini, dokter akan memeriksa kadar enzim hati yang disebut SGPT dan SGOT (AST dan ALT). Kenaikan enzim hati sampai lebih dari 3 kali lipat angka normalnya menunjukkan steatohepatitis. Selanjutnya dokter akan memeriksa kadar antigen hepatitis B dan antibodi hepatitis C. Kedua keadaan terakhir ini bukan lagi inflamasi tetapi infeksi virus yang berbahaya sehingga anda harus dirujuk ke dokter konsultan penyakit hati (SpPD-KGEH).

PENGOBATAN DAN GAYA HIDUP

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk PPH kecuali menghilangkan penyebabnya seperti menurunkan berat badan pada penyandang kegemukan atau menghentikan pemakaian obat dan zat kimia yang mengganggu hati.

Beberapa zat kimia yang ditambahkan dalam makanan seperti butil hidroquinon untuk mencegah kerusakan minyak dalam proses penggorengan dengan panas yang tinggi dan waktu yang lama dapat mengganggu atau bahkan merusak hati bila dikonsumsi berlebihan. Begitu pula zat kimia alloxan yang dipakai untuk memutihkan tepung gandum.

Karena itu, penyandang PPH dianjurkan untuk memiliki pola makan yang sehat seperti lebih banyak mengonsumsi sayuran dan buah, protein yang sehat seperti kacang2an serta mengurangi kebiasaan makan camilan yang digoreng dengan banyak minyak. Sementara itu, hindarilah konsumsi gula, tepung serta minyak masak/lemak jenuh yang berlebihan dalam junk foods yang kini semakin banyak diiklankan di TV.

PENGOBATAN ALTERNATIF

Preparat herbal seperti curcuma dalam temulawak atau silymarin mungkin diresepkan dokter. Begitu pula suplemen vitamin yang dianggap sebagai antioksidan seperti vitamin E. Suplemen lain yang juga banyak diresepkan adalah fosfolipid atau lesitin yang dianggap dapat mencegah pelemakan hati, dan tripeptida glutation untuk detoksifikasi hati karena gugus SHnya. Di samping itu, formula enteral yang kaya akan asam amino rantai cabang (BCAA) juga sering ditambahkan sebagai suplemen untuk mengurangi beban kerja hati.

dr Andry Hartono SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih Yogyakarta

Perut Buncit pada Pria

Pria gemuk biasanya memiliki tubuh seperti buah apel karena timbunan lemak di perutnya. Wanita gemuk, sebaliknya, menimbun lemak di panggul dan pangkal paha sehingga lebih terlihat seperti buah per atau biola. Nah, kini pertanyaannya bagaimana kita harus memahami risiko pada perut buncit (PB) dan mengatasinya.

RISIKO PB

PB berisiko pada:

1. Gangguan pembuluh darah yang dapat menjadi penyebab penyakit jantung koroner atau pun stroke (penyakit pembuluh darah otak).
2. Gangguan metabolisme seperti sindrom metabolik dgn resistensi insulin (keadaan pradiabetes), DMT2, kadar trigliserid yang tinggi dan penyakit kolesterol atau dislipidemia.
3. Beberapa jenis kanker
4. Gangguan sendi seperti spondilosis tulang belakang atau osteoartritis sendi lutut/pangkal paha.
5. Sleep apnea (berhenti napas dengan gejala napas seperti tercekik saat tidur). Pria dengan PB sering harus tidur dalam posisi duduk untuk mencegah sleep apnea.

BAGAIMANA MENGETAHUI PB ?

Ukurlah lingkaran pinggang anda, jika ukurannya melebihi 90 cm atau 36 inci pada ukuran pinggang celana jean anda (kriteria Asia Pasifik), maka anda sudah dianggap berperut buncit.

Cara mengukur lingkar pinggang:
1. Gunakan pita pengukur penjahit (sentimeteran). Lingkarkan pita itu di sekeliling perut anda pada posisi tepat di atas kedua ujung tulang pinggul.
2. Tarik pita itu sehingga pas melingkari perut dalam posisi horizontal tetapi jangan menariknya dengan kuat sehingga menimbulkan lekukan pada kulit perut.
3. Hembuskan napas anda, relaks tetapi jangan kempiskan perut anda.
4. Perhatikan ujung pita dengan angka nol jatuh pada angka berapa. Hasilnya menunjukkan besar lingkar pinggang (LP)  anda.

USIA MEMBUAT PB

Genetik memang menentukan apakah seorang manula berperut buncit atau tidak. Akan tetapi, pada pria, gaya hidup lebih menentukan.

Penurunan BMR pada usia lanjut (BMR = kebutuhan energi untuk fungsi dasar seperti metabolisme, produksi panas tubuh, gerakan organ seperti jantung dan usus) dan berkurangnya aktivitas fisik karena pensiun atau jabatan manajer sementara asupan energi dari makanan tidak berubah atau malahan bertambah, semuanya ini akan berisiko kegemukan dan PB.

BAGAIMANA MENGATASI PB ?

OR situp biasanya tidak dianjurkan pada manula apalagi kalau sudah terdapat kelainan degeneratif tulang belakang dan sendi paha.

OR yang dianjurkan bersifat aerobik seperti jalan, renang perlahan, senam manula, dan bersepeda. Yang penting, setelah berolahraga, anda berkeringat serta merasa segar, tetapi tidak merasa lapar, tidak mengantuk dan tidak merasa pegal pada otot. Makanan yang perlu dihindari oleh manula meliputi makanan yang kaya akan gula, tepung dan lemak jenuh karena ketiga jenis makanan bukan hanya menimbulkan PB dan kegemukan tetapi juga dapat menaikkan kadar gula, TG, kolesterol jahat dan tekanan darah anda.

dr Andry Hartono, SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih Yogyakarta

Kegemukan

Kegemukan atau obesitas merupakan keadaan bertambahnya lemak tubuh yang menyebabkan kenaikan berat badan. Keadaan ini tentunya berbeda dengan kelebihan berat badan karena penambahan massa otot atau tulang seperti terjadi pada misalnya Ade Rai atau Sylvester Stallone.

Kegemukan dengan distribusi lemak pada perut dinamakan obesitas sentral atau abdominal (lihat perut buncit). Keadaan ini merupakan salah satu tanda atau gejala sindrom metabolik.

PENYEBAB KEGEMUKAN

Biasanya para ahli gizi akan menjelaskan bahwa asupan kalori yang melebihi pengeluaran merupakan penyebab kegemukan. Keadaan ini dapat kita analogikan dengan tabungan. Jika uang yang ditabung lebih banyak daripada yang diambil, maka tabungan kita tentu akan bertambah besar. Hanya sayangnya pada kegemukan, barang yang kita tabung bukan uang tapi lemak atau gajih.

Penyebab kegemukan yang lain adalah faktor genetik. Sejumlah orang dengan thrifty gen lebih mudah gemuk daripada lainnya. Kondisi ini disebabkan produksi leptin dalam sel-sel lemak mereka sangat rendah padahal leptin berfungsi menekan pertambahan sel lemak di samping menekan selera makan yang berlebihan.

Pada orang yang diet ketat, produksi leptin juga dapat berkurang. Keadaan ini menjelaskan mengapa setelah misalnya 3 sampai 6 bulan menjalankan diet ketat, penurunan berat badan kemudian terhenti. Keadaan yang dinamakan plateau phase of weight reduction ini terjadi karena penurunan sekresi leptin.
Sementara produksi ghrelin oleh sel-sel lambung dan neuropeptida Y dalam hipotalamus meningkat sehingga selera makan bertambah karena kedua hormon ini berfungsi untuk menimbulkan rasa lapar.

PENYEBAB HORMONAL

Beberapa keadaan hormonal juga dapat menyebabkan kegemukan seperti DMT2 awal atau sindrom metabolik dengan terjadinya resistensi insulin, produksi hormon tiroid yang kurang (hipotiroid) dan sindrom Cushing (peningkatan produksi hormon anabolik khususnya glukokortikoid oleh kelenjar adrenal).

Ketiga keadaan ini tentu saja tidak dapat ditangani dengan terapi diet semata tetapi memerlukan pengobatan yang rumit dan harus dilaksanakan oleh dokter spesialis endokrin (SpPD-KEMD).

RISIKO KEGEMUKAN

Risiko kegemukan sama seperti risiko perut buncit. Karena itu, anda dapat membaca tulisan tentang perut buncit.

DIAGNOSIS

Diagnosis kegemukan dibuat dengan menghitung indeks massa tubuh. Rumusnya adalah berat badan (dalam kg) dibagi tinggi badan (dalam meter) yang dipangkat dua.

Angka di atas 23 menunjukkan keadaan praobese dan di atas 25 memperlihatkan obesitas.

Selanjutnya kita dapat mengukur lingkar pinggang seperti dijelaskan dalam tulisan tentang perut buncit.

TERAPI DIET

Terapi diet yang dianjurkan adalah pengurangan asupan kalori, terutama KH sederhana dan lemak, melalui pemilihan jenis makanan dan cara memasak yang benar dengan memperhatikan keseimbangan zat gizi yang lain (protein, vitamin dan mineral). Sementara itu, asupan air tawar dan serat pangan dapat ditingkatkan untuk memberikan rasa kenyang dan mengurangi penyerapan makanan.

Beberapa diet menawarkan penurunan berat badan dengan cepat seperti diet Atkins atau diet Cohen. Diet ini menghilangkan sumber karbohidrat dari makanan sehingga terjadi asidosis. Asidosis memang akan mengurangi selera makan secara drastis tetapi juga membuat tubuh menjadi lemah, bau mulut menjadi tidak enak (bau keton) dan sulit konsentrasi. Biasanya orang yang menjalankan diet ini hanya dapat bertahan selama 3 bulan dengan penurunan berat yang drastis tetapi ketika pola makannya balik ke keadaan semula, maka berat badannya kembali naik bahkan lebih tinggi daripada BB sebelum diet. Keadaan inilah yang kita sebut sindrom yoyo.

Bahaya asidosis di atas juga terjadi kalau orang yang diet menderita diabetes, khususnya penyandang diabetes yang sudah memakai insulin.
Asidosis yang berat pada DM dapat berlanjut menjadi ketoasidosis diabetes yang disertai kehilangan kesadaran (koma). Karena itu, PERKENI menyebutkan batas minimal asupan KH sebesar 130 gram per hari.

Jadi, program penurunan BB yang baik adalah program mandiri yang bisa dijalankan sendiri oleh pasien tanpa bergantung pada obat-obatan, herbal atau tindakan seperti penyuntikan vitamin C atau pelarut lemak (biasanya senyawa getah empedu) ke dalam jaringan lemak di bawah kulit perut. Tindakan terakhir ini dapat berakibatkan fibrosis atau lipolisis sehingga tempat suntikan menjadi luka terbuka yang sulit menutup kembali (dehisensi).

Peranan dokter gizi adalah memberikan bimbingan teknis cara diet yang baik selain dukungan semangat mengubah pola makan. Suplemen dan obat hanya diberikan dalam proses perubahan perilaku makan dan gaya hidup.

Program slimming yang baik sebenarnya dilakukan melalui perubahan gaya hidup dengan tujuan penurunan BB yang perlahan tetapi bertahan lebih lama. Dengan program ini, ketika BB sudah ideal atau normal, kita akan dapat mempertahankannya sendiri lewat diet yang seimbang dengan perilaku makan dan olahraga yang tepat.

dr Andry Hartono, SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RSPR

Mengenal Ginjal Lebih Dalam

Ginjal merupakan salah satu organ penting untuk menyaring keluar zat racun termasuk limbah nitrogen dari protein selain juga mengatur jumlah cairan dalam tubuh lewat produksi air seni.

Organ yang terdapat sepasang ini berada di balik kedua belah pinggang kita dan masing-masing memiliki satu juta nefron. Setiap nefron terdiri dari glomerulus dan tubulus. Penyakit atau kerusakan pada ginjal akan berakibatkan hilangnya nefron tersebut. Selanjutnya kita akan berkenalan dengan glomerulus dan tubulus.

GLOMERULUS

Glomerulus merupakan saringan (filter) yang sebenarnya dalam ginjal. Alat ini bertugas untuk

(1) menghilangkan zat kimia yang termakan lewat makanan/minuman. Zat-zat 7P (pemutih, penjernih, pengawet, pengental, pewarna, penyedap dan pemanis buatan) harus dikeluarkan oleh ginjal ke dalam air seni. Begitu pula, sebagian besar obat yang kita minum. Apalagi jika zat yang termakan itu bersifat racun seperti pestisida, pewarna tekstil atau pengawet formalin.
(2) Mengeluarkan limbah nitrogen dari hasil metabolisme protein seperti ureum atau BUN, dan kreatinin serta asam urat baik yang berasal dari makanan maupun dari keausan/kerusakan otot kita sendiri.
(3) Mempertahankan zat yang berguna seperti albumin (protein darah) dan glukosa (gula darah) agar keduanya tidak tersaring keluar.

TUBULUS

Tubulus ginjal merupakan bagian dari nefron yang bertugas untuk:
(1) Mengatur cairan tubuh lewat produksi air seni dan pengaturan kekentalannya.
(2) Mengatur keseimbangan asam-basa.
(3) Mengatur elektrolit seperti kalium, natrium, kalsium dan fosfor.

FUNGSI LAIN

Di samping fungsi di atas, ginjal juga:
(1) Menghasilkan hormon eritropoitin yang merangsang sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah.
(2) Menghasilkan kalsitriol dengan mengaktifkan vitamin D. Kalsitriol berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan pembentukan dan perombakan tulang.

Ginjal yang terganggu akan menghasilkan renin yang mengaktifkan angiotensin sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.

Dengan mengenali fungsi-fungsi di atas, kita akan memahami mengapa gejala anemia, kenaikan TD, kelemahan tulang, sembab serta penimbunan cairan dalam rongga tubuh, dan serangan jantung karena hiperkalemia (kenaikan kadar kalium darah) akan terjadi pada penyakit ginjal kronis yang disertai penurunan fungsi ginjal, khususnya jika penyakitnya sudah parah.

(Sumber bacaan: Andry Hartono, “Rawat Ginjal, Cegah Cuci Darah,” Penerbit Kanisius Yogyakarta).

Dr Andry Hartono, SpGK
Klinik MCU dan Gizi Medik
RS Panti Rapih

Batu Empedu

Ketika mengalami kolik batu empedu (BE), saya tidak akan pernah lupa akan pengalaman yang terjadi sekitar 20 tahun yang lalu itu. Kejadiannya di tengah malam ketika saya berada dalam keadaan tidur dengan posisi berbaring (sehingga saluran empedu/SE sejajar dgn kantung empedu/KE). Kolik terjadi ketika ada BE yang  memaksa menerobos masuk ke dalam SE karena terdorong oleh kontraksi KE. Jika duduk atau berdiri, batu tersebut hanya mengendap di dasar KE mengingat SE terletak di atas sedangkan dasar KE di bawah (Ingat bentuk KE seperti buah per: lebar di dasar KE dan mengecil di puncaknya yg bersambung dgn SE).

Sakitnya sungguh luar biasa sehingga disebut kolik BE. Untuk meredakan kolik ini, saya harus minum kombinasi pereda sakit, pelemas otot polos pada SE/KE dan obat tidur.
Sakit tersebut terdapat pada perut kanan atas.

Sebelumnya saya memang sering mengalami sakit maag tapi tidak pernah terpikir bahwa sakit maag ini berhubungan dengan BE. Bedanya dgn sakit maag biasa, gejala sakit maag pada BE disertai rasa mudah lelah. Saat serangan juga terdapat rasa lemah yang hebat. Mual, muntah dan kembung juga menyertai.

TANDA ADANYA BE

Bila terjadi peradangan KE, maka ketika tangan kita menekan perut sebelah kanan atas tepat di bawah iga dan kemudian kita bernapas, maka saat menarik napas daerah tsb akan terasa nyeri sehingga kita akan menahan napas. Tanda ini dinamakan tanda Murphy.

Seperti dijelaskan di atas, kolik BE yang berlangsung 30 menit sampai beberapa jam itu diawali dengan gejala maag. Rasa nyeri pada BE  secara klasik terdapat di bagian perut kanan atas yang dapat menjalar ke bahu atau daerah antar-tulang belikat. Pada sakit maag yang asli, nyeri biasanya terdapat di daerah ulu hati. Ketika meraba daerah yang nyeri, kadang-kadang kita dapat merasakan adanya benjolan yg tegang sebesar bola pingpong…

Selain tanda-tanda ini, biasanya dokter juga mempertimbangkan 4F yaitu Fourty (usia sekitar 40 tahun), Female (wanita kendati pria juga bisa mengalaminya), Fatty (gemuk) dan Fertile (dalam usia subur pada wanita karena hormon estrogen diperkirakan berperan dalam memperlemah kontraksi empedu). F kelima atau Fair skin karena BE dianggap lebih sering ditemukan pada wanita berkulit putih.

Namun demikian, diagnosis pasti BE adalah pemeriksaan USG dan CT Scan perut. BE tanpa gejala biasanya ditemukan secara kebetulan pada saat USG perut untuk keperluan medical checkup.

TIPE BE

Ada dua tipe BE: (1) Batu kolesterol dan (2) Batu pigmen.

Yang pertama biasanya terjadi pada penyandang kolesterol, apalagi jika dia menggunakan obat golongan fibrat dan niacin. Kedua  obat ini meningkatkan produksi dan pengeluaran getah empedu (GE) ke dalam usus (karena itu berkhasiat untuk menurunkan kolesterol). Akan tetapi jika KE kita sudah lemah, maka produksi GE yang meningkat itu akan tertimbun dalam KE sehingga terbentuk lumpur (sludge) yang kemudian menjadi BE.

Yang kedua, batu pigmen, biasanya terdiri dari kalsium dan bilirubin. Batu ini umumnya terjadi pada anemia karena peningkatan penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik) dan infeksi KE.

PENANGANAN

Batu empedu yang tidak memberikan keluhan dan gejala apa pun biasanya didiamkan saja karena belum mengganggu KE dan organ lain. Jika batunya tidak terlalu besar, dokter dapat memberikan preparat urododesoksikolat untuk melarutkan BE dan mendorongnya keluar. Obat lain yang diberikan bersifat simptomatik seperti pereda nyeri, preparat enzim, atau antibiotik jika sudah terjadi infeksi.

Bila batunya besar (> 0,8 cm) dan lebih dari satu atau multiple, dokter bedah digestif dapat melakukan salah satu dari dua alternatif ini: (1) kolesistektomi terbuka/laparotomi dan (2) kolesistektomi laparoskopik. Cara pertama dilakukan bila terdapat infeksi berat dan pelengketan. Jika cara pertama memerlukan waktu perawatan minimal 4 hari, maka cara kedua hanya satu hari atau one day care.

Cara lainnya adalah dengan ERS (Endoscopic Retrograde Sphincterotomy) setelah keberadaan BE terbukti lewat ERCP (Endoscopic Retrograde CholePancreatography).

TERAPI DIET

Diet tinggi serat soluble dgn mengurangi asupan gula, tepung dan lemak terutama yang jenuh dgn rantai panjang seperti gajih, santan atau jelantah dapat mencegah pembentukan BE. Kekurangan asupan folat, magnesium, kalsium dan vitamin C dapat meningkatkan pembentukan BE. Sebaliknya serat pangan solubel dan asam lemak omega 3 (minyak ikan, flax seed oil) serta omega 9 (minyak zaitun/olive oil) dapat mengurangi kecenderungan pembentukan BE.

Jus apel lokal (yang agak asam) sebanyak 1/2 sampai 1 gelas dgn ditambahkan 1 atau 2 sendok makan minyak zaitun dipercaya oleh sebagian orang dapat melarutkan BE (karena cuka atau jus apel) dan mendorong BE yang sudah larut itu keluar (karena minyak zaitun).

dr Andry H.
(Sumber dari dr Sabarno P., SpB, pengalaman pribadi dan situs internet)

Konsekuensi Gula Yang Tinggi

Salah satu konsekuensi kenaikan gula darah adalah glikosilasi protein. Reaksi glikosilasi ini menghasilkan produk AGE yang mirip dengan produk amadori yang terbentuk ketika protein daging dimasak dengan gula. Misalnya saja daging yang lembut dan merah ketika mengalami oksidasi (karena dimasak) bersama dengan gula akan menjadi dendeng yang keras dan cokelat (produk amadori).

Protein hemoglobin dalam sel darah merah akan rusak (dan membentuk produk AGE; advanced glycation end products) ketika terikat gula saat terjadi  reaksi oksidasi dalam sel tersebut untuk menghasilkan energi. Ikatan ini diukur lewat A1c yg normalnya kurang dari 6,5. Sel darah merah yang hemoglobinnya terikat gula tidak dapat membawa oksigen. Sel seperti ini masih hidup tapi tidak berfungsi. Selain itu, sel darah merah tersebut menjadi keras dan tidak lentur sehingga tidak dapat masuk ke dalam kapiler untuk menyalurkan darah dan oksigen ke dalam sel-sel tubuh.

Di samping sel darah merah yang mengalami glikosilasi, protein kolagen dan elastin dalam dinding pembuluh darah juga bisa mengalami glikosilasi sehingga pembuluh darah tidak lentur dan tidak dapat berdenyut untuk mengalirkan darah dan oksigen.

Semua peristiwa di atas yang menyebabkan pengerasan sel darah merah dan pembuluh darah  disebut angiopati. Akibat angiopati selanjutnya adalah kerusakan organ seperti retinopati diabetes (kerusakan selaput jala mata) yang bisa menimbulkan kebutaan, nefropati diabetes (kerusakan nefron/saringan pada ginjal) yang bisa menimbulkan gagal ginjal, neuropati diabetes (kerusakan saraf) dst.nya sampai penyumbatan pembuluh darah tepi (yang membuat gangren sehingga kaki harus diamputasi), penyakit jantung koroner, dan stroke. Semua ini merupakan komplikasi kronis.

Di samping komplikasi kronis, gula darah yang tinggi juga dapat mengakibatkan komplikasi akut seperti koma hipoglikemia (pingsan karena kadar gula darah yang terlalu rendah di bawah 50 mg/dL), hiperglikemia hiperosmotik nonketosis (HONK) (pingsan karena kadar gula yang terlalu tinggi sehingga darahnya sangat kental dan aliran darahnya macet tapi tanpa ketosis) dan ketoasidosis diabetes (darah yang menjadi asam karena ketosis [penimbunan keton bodies hasil metabolisme lemak akibat sel tidak bisa menggunakan gula sebagai sumber energi]). Ketiga komplikasi akut ini dapat menimbulkan kematian mendadak apalagi jika ada komorbiditas atau penyakit lain yang serius seperti penyakit jantung koroner.

dr Andry H.
Klinik Medical Checkup
RS. Panti Rapih
Yogyakarta

Apendisitis Akut

Apendisitis (radang usus buntu) adalah peradangan pada apendiks vermiformis (umbai cacing/ usus buntu).

Umumnya apendisitis disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) apendiks oleh timbunan tinja/feces yang keras (fekalit), hiperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, kanker dan pelisutan.

Faktor kebiasaan makan makanan rendah serat dan konstipasi /susah buang air besar (BAB) menunjukkan peran terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan meningkatkan tekanan lumen usus yang berakibat sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan flora normal usus.

Tipe apendisitis:

  1. Apendisitis  akut (mendadak).
    Gejala apendisitis akut adalah  demam, mual-muntah, penurunan nafsu makan, nyeri sekitar pusar yang kemudian terlokalisasi di perut kanan bawah, nyeri bertambah untuk berjalan, namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang, atau mual-muntah saja.
  2. Apendisitis kronik.
    Gejala apendisitis kronis  sedikit mirip dengan sakit asam lambung dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut.

Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak apendiks itu sendiri terhadap usus besar, Apabila ujung apendiks menyentuh saluran kemih, nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi apendiks ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik.

Perjalanan penyakit apendisitis:

Apendisitis akut fokal (peradangan lokal)

Apendisitis supuratif (pembentukan nanah)

Apendisitis Gangrenosa (kematian jaringan apendiks)

Perforasi (bocornya dinding apendiks )

Peritonitis (peradangan lapisan rongga perut); sangat berbahaya, dan mengancam jiwa

Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh Tim Kesehatan untuk menentukan dan mendiagnosis adanya Apendisitis, diantaranya adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi :

  1. Pemeriksaan fisik.
    Pada apendisitis akut, dengan pengamatan akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi). Pada perabaan (palpasi) didaerah perut kanan bawah, seringkali bila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign)
    Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah. Kecurigaan adanya peradangan apendiks semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga. Suhu dubur yang lebih tinggi dari suhu ketiak, lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.
  2. Pemeriksaan Laboratorium.
    Pada pemeriksaan laboratorium darah, yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah putih (leukosit) .
  3. Pemeriksaan radiologi.
    Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit. Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis (71 ?97 %), terutama untuk wanita hamil dan anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan (93-98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks.

Bila diagnosis sudah pasti, maka penatalaksanaan standar untuk penyakit apendisitis (radang usus buntu)adalah operasi. Pada kondisi dini apabila sudah dapat langsung terdiagnosis kemungkinan pemberian antibiotika dapat saja dilakukan, namun demikian tingkat kekambuhannya mencapai 35%.

Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan, harus diberikan antibiotika selama 7 -10 hari. Selanjutnya adalah perawatan luka operasi yang harus terhindar dari kemungkinan infeksi sekunder dari alat yang terkontaminasi dll.

Kamus

Nyeri Kolik : Nyeri perut akut, khas ditandai dengan nyeri organ dalam tidak terus menerus dengan fluktuasi sesuai gerakan otot polos. Biasanya khas nyeri pada organ berongga/mempunyai saluran.

Referensi

Ferri FF. Appendicitis Acute. In: Ferri FF. Ferri’s Clinical Advisor 2009: Instant Diagnosis and Treatment. Philadelphia, Pa.: Mosby Elsevier; 2009. http://www.mdconsult.com/das/book/body/147002427-2/0/1701/0.html. Accessed July 1, 2009.

Cerumen Prop

60-80%  keluhan penurunan pendengaran disebabkan oleh sumbatan serumen (cerumen prop).

Ø  Seberapa sering Anda membersihkan kotoran telinga?

Ø  Mengapa telinga kita terus-menerus memproduksi kotoran telinga?

Ø  Sebenarnya apakah ada gunanya kotoran tersebut?

Ø  Bagaimana cara membersihkan yang benar?

 

Serumen adalah substansi lengket berwarna kekuningan sampai coklat, yang ada di liang telinga.

Substansi tersebut adalah hasil produksi dari kelenjar minyak dan modifikasi  kelenjar keringat dinding telinga. Serumen tersebut terdiri dari 60% keratin*, 12-20% asam lemak*, alkohol, squalene*, dan 6-9% kolesterol. Komposisi ini menentukan wujud serumen itu sendiri.

Serumen ini secara umum dibagi menjadi:

  • Tipe basah:

o   Serumen putih (White/Flaky Cerumen), sifatnya mudah larut bila diirigasi.

o   Serumen coklat (light-brown), sifatnya seperti jeli, lengket.

  • Tipe kering:

o   Serumen gelap/ hitam, sifatnya keras, biasanya erat menempel pada dinding liang telinga bahkan menutup liang sehingga menimbulkan gangguan pendengaran.

Serumen tipe basah lebih dominan dibandingkan tipe kering.

Serumen diproduksi tubuh dengan tujuan:

  • Pembersihan

Dinding dalam telinga, membrane tympani (gendang telinga) setiap hari menghasilkan epitel  mati. Serumen membantu pengeluaran epitel-epitel tersebut sehingga tidak menumpuk dengan bantuan gerakan rahang mulut.

  • Lubrikasi/ pelicin

Serumen mencegah terjadinya desikasi/ kekeringan, rasa gatal, dan panas dalam liang telinga.

  • Antibakterial dan antijamur

Kemampuan antibacterial dan antijamur serumen karena  serumen bersifat asam, mengandung enzim lysozyme*, dan adanya asam lemak.

Produksi serumen dipengaruhi oleh stres fisik dan stres psikis. Bila produksi serumen berlebihan, serumen dapat menumpuk dan menyumbat liang telinga, dan menyebabkan penurunan pendengaran. Diperkirakan 60-80%  keluhan penurunan pendengaran disebabkan oleh sumbatan serumen (cerumen prop).

Metode Pembersihan Serumen

  • Kuretase*, dengan alat khusus pengangkat serumen, atau dengan cotton bud
  • Irigasi, menggunakan air hangat dan alat khusus
  • Vakum*

Pembersihan serumen  yang terlalu sering, justru merangsang produksi serumen lebih banyak.

Seruminolisis adalah proses untuk melisiskan (meluruhkan) serumen, biasanya menggunakan agen seruminolitik yang diteteskan ke liang telinga. Biasanya agen ini akan membuat serumen mencair, atau bila terlalu keras maka akan lebih melunakkan serumen sehingga lebih mudah diangkat dengan metode pembersihan yang sesuai. Agen seruminolitik yang tersedia adalah

  • Minyak zaitun, minyak almond, minyak mineral, baby oil, gliserol, Peroksida karbamid(6.5%)
  • Larutan sodium bicarbonate, atau sodium bicarbonate B.P.C. (sodium bicarbonate dan glycerine)
  • Cerumol (arachis oil, turpentine dan dichlorobenzene)
  • Cerumenex (Triethanolamine, polypeptides dan oleate-condensate)
  • Exterol (urea, hydrogen peroxide dan glycerine)
  • Docusate sodium
  • Hidrogen Peroksida 3%

Agen-agen ini dipakai 2-3 kali sehari selama 3-5 hari.

Pemberian agen-agen ini justru lebih baik daripada manipulasi telinga secara pribadi karena malah mungkin mengakibatkan perlukaan dinding liang telinga.

Penggunaan cotton bud pun harus dilakukan secara hati-hati. Sebaiknya sebelum digunakan untuk membersihkan serumen, kapas cotton bud dibasahi dengan baby oil, atau air bersih, atau dibuat lembab, supaya kapas cotton bud tidak mudah lengket dengan serumen yang bisa mengakibatkan kapas terlepas dari batangnya.

 

KAMUS KITA

Kerati : suatu protein yang menyusun rangka yang bersifat sangat tidak mudah larut
Squalene : zat perantara dalam pembuatan kolesterol, merupakan asam lemak tidak jenuh. Banyak terdapat pada minyak hati ikan hiu.
Epitel : Lapisan yang menutupi permukaan dalam dan luar tubuh termasuk lapisan pada pembuluh darah dan rongga yang kecil lainnya.
Enzim lysozim : enzim yang mampu membunuh bakteri.
Kuretase : pengeluaran suatu bahan dari dinding suatu rongga.
Vakum : Penghisapan

 

REFERENSI

McCarter, D.F.2007.Cerumen Impaction. Available at URL: www.aafp.org. Cited at: 12 Oktober 2007

http://www.emedicinehealth.com/earwax

http://www.earnosethroatdrs.com/