Penyakit Campak

Apakah setiap bintik-bintik merah yang muncul di seluruh tubuh pada anak balita merupakan campak? Banyak para orangtua salah mengira gejala campak. Salah perkiraan ini tak jarang menimbulkan kerugian buat si anak. Anak dianggap sudah mendapat kekebalan campak, hingga anak melewatkan vaksinasi campak.

Definisi Suspek Campak:

Setiap orang yang demam dengan bercak kemerahan disertai minimal salah satu dari: mata merah (konjungtivitis) atau pilek atau batuk atau mencret.

Campak / Gabag /Morbili / Measles / Rubeola

  • Merupakan penyakit infeksi virus yaitu Morbillivirus.
  • Kejadiannya di seluruh dunia.
  • Menyerang manusia, belum diketahui pada binatang
  • Sangat menular, >90 % diantara kelompok orang rentan.
  • Umur terbanyak menderita campak adalah <12bulan, diikuti kelompok umur 1-4 tahun dan 5-14 tahun terlebih yang tidak mendapatkan imunisasi campak.

Cara Penularan

  • Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara ( sampai 2 jam setelah  penderita campak  meninggalkan ruangan ).
  • Waktu Penularan: 4 hari sebelum dan 4 hari setelah ruam.
  • Penularan maksimum pada 3-4 hari  setelah ruam.

Gejala Penyakit CAMPAK

Hari 1-3 :

  • Demam tinggi.
  • Mata merah dan sakit bila kena cahaya.
  • Anak batuk pilek
  • Mungkin dengan muntah atau diare.

Hari 3- 4 :

  • Demam tetap tinggi.
  • Timbul ruam / bercak-bercak merah pada kulit dimulai

wajah dibelakang telinga menyebar cepat ke seluruh tubuh.

  • Mata bengkak terdapat cairan kuning kental
  • Bila ruam timbul waktu demam turun dan dengan penyebaran yang tidak khas, dan penderita berumur < 2tahun, bukan merupakan penyakit campak tetapi Eksantema Subitum / Roseola Infantum ( infeksi virus Herpes tipe 6 dan 7)

Hari 4 – 6 :

  • Ruam berubah menjadi kehitaman dan mulai mengering
  • Selanjutnya mengelupas secara berangsur-angsur
  • Akhirnya kulit kembali seperti semula tanpa menimbulkan bekas
  • Hilangnya ruam sesuai urutan timbulnya.

Komplikasi Penyakit Campak

Sering

Jarang

-Diare yang dapat diikuti    dehidrasi

-Radang paru-paru

-Malnutrisi

-Radang telinga tengah

-Sariawan

-Komplikasi mata

– Encephalitis / radang otak

– Myocarditis / radang otot jantung

– Pneumonia / radang paru-paru

– Subacute Sclerosing Pan Encephalitis (SSPE): proses degeneratif susunan saraf pusat. Disebabkan karena infeksi virus yang menetap.

Pengobatan :

  • Pada umumnya penyakit Campak dapat sembuh dengan sempurna. Komplikasi terjadi bila kekebalan anak tidak bagus atau anak menderita kurang gizi.
  • Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, obat anti-demam, obat batuk dan pilek. Bila tidak ada komplikasi dilakukan rawat jalan.
  • Rawat Inap bila:
  • Demam tinggi (>39ºC), dehidrasi, kejang, asupan makanan / minuman sulit, atau adanya komplikasi.
  • Pemberian Vitamin A (100.000 IU untuk anak usia 6-12 bulan dan 200.000 IU untuk >12 bulan. Vitamin A ini berfungsi untuk  perbaikan selaput lendir ( mata, mulut, hidung, usus) yang meradang.

Pencegahan :

  • Vaksinasi campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak.
  • Imunisasi Campak diberikan pada bayi usia 9 bulan, pemberian vaksin dibawah umur 9 bulan kurang efektif karena bayi masih mendapatkan  proteksi kekebalan dari ibu.
  • Vaksin kombinasi MMR ( Measles, Mumps, Rubella), dilakukan pada usia 12-15 bulan dan diulang saat usia 4-7 tahun.
  • Bayi yang pernah sakit campak sebelum usia 9 bulan apakah perlu divaksin campak? Karena beberapa penyakit virus lain gejalanya mirip campak, sehingga orangtua bahkan dokter keliru, bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus lain dianggap sebagai campak. Seandainya benar-benar pernah menderita campak, bayi tetap boleh diberikan vaksin campak, tidak merugikan bayi, karena kekebalannya hanya bertahan beberapa tahun. Oleh karena itu semua anak balita dan usia sekolah di daerah yang banyak kasus campak dan cakupan imunisasinya masih rendah harus mendapat imunisasi campak ulangan (penguat) agar kekebalannya bisa berlangsung lama.

Sumber: Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, Buku Pedoman Imunisasi Di Indonesia)

 

Cacar Air

Cacar air merupakan penyakit yang sangat menular….

Cacar air merupakan penyakit kulit yang umum dikenal masyarakat. Hampir semua orang dari anak-anak sampai dewasa pernah terkena cacar air. Sering kita bisa memperkirakan seseorang sudah terkena cacar air dari adanya bekas luka di wajah, berupa bopeng.

Cacar air bersifat musiman. Disebut musiman karena sifatnya yang sangat mudah menular. Bila ada 1 penderita cacar air, sangat besar akan diikuti oleh penderita-penderita lainnya. Bila di satu keluarga ada yang terkena, maka akan disusul episode-episode anggota keluarga lainnya.

Apakah penyakit Cacar Air itu?

Cacar air merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Varicella-zoster.  Virus ini menginfeksi manusia dengan sifat sistemik, maksudnya virus ini menimbulkan reaksi menyeluruh, bukan bersifat lokal.

Penderita cacar air menularkan penyakitnya ke orang lain melalui cara:

  • Droplet (partikel cairan yang dikeluarkan dari mulut pada waktu bersin, batuk, atau berbicara yang mengandung kuman penyakit, yaitu virus Varicella-zoster) yang masuk ke tubuh orang sehat.
  • Melalui kontak langsung, bersentuhan dengan penderita

Setelah masuk ke tubuh manusia, virus akan memperbanyak diri dan menyebar ke jaringan setempat melalui aliran darah dan aliran getah bening. Virus memperbanyak diri kembali hingga virus menyebar ke seluruh tubuh dan terutama mencapai kulit dan selaput lendir.

Periode menular 1-2 hari sebelum, sampai 5-6 hari setelah timbulnya ruam.

Apa gejala penyakit Cacar Air?

Berat ringannya gejala cacar air sangat ditentukan oleh daya tahan tubuh, yaitu imunitas tubuh.

Tanda awal umumnya berupa: demam yang tidak tinggi, tidak enak badan, sakit kepala, yang dialami 1-3 hari sebelum munculnya ruam atau plentingan.

Ruam berair muncul, makin lama makin banyak hingga sekujur tubuh, termasuk di rongga mulut, mata, telinga, hidung. Munculnya ruam ini tidak khas dari bagian tubuh tertentu. Bisa pertama muncul di lengan, punggung, atau perut.

Pada cacar air di seluruh tubuh dapat ditemukan bermacam-macam bentuk ruam, ada yang masih berupa ruam kemerahan, ruam berair yang berisi cairan jernih, ruam bernanah, hingga ruam yang sudah menjadi keropeng. Ruam berangsur mengering seluruhnya hingga pulih setelah 1-3 minggu.

Penyakit ini lebih berat dan sering menimbulkan komplikasi pada bayi, dewasa, dan orang dengan daya tahan tubuh yang jelek. Setelah sakit, pasien kebal seumur hidup.

Komplikasi bervariasi antara 5- 10% kasus, dapat mengenai sistem saraf pusat, paru-paru, telinga bagian tengah, dan infeksi kulit yang parah. Penyakit ini dapat sembuh sendiri.

Bagaimana manajemen penyakit Cacar Air?

Bila menderita penyakit ini maka yang sebaiknya dilakukan adalah:

  • Istirahat. Selain untuk memperbaiki daya tahan tubuh, juga untuk mencegah penularan penyakit.
  • Menjaga nutrisi yang cukup.
  • Menjaga kebersihan diri:

o   Mandi, merupakan anggapan yang salah bila penderita cacar air tidak boleh mandi. Mandi akan membersihkan tubuh dari sel-sel kulit mati sehingga mencegah infeksi bakteri.

o   Air mandi bisa ditambahkan larutan antiseptic seperti Larutan PK, atau gentian violet.

o   Jangan memencet ruam berair ataupun melepas keropeng karena dapat menimbulkan bekas dan infeksi.

  • Kenakan pakaian yang ringan dan nyaman untuk menghindari gesekan dengan ruam.
  • Obat-obatanuntuk meringankan gejala:

o   Obat anti-demam, bila demam tinggi

o   Obat untuk mengurangi rasa gatal, bisa obat luar berupa bedak salisil atau sejenisnya, bisa juga obat yang diminum.

  • Obat anti-virus:

o   Salep Asiklovir, dioleskan pada ruam.

o   Asiklovir tablet, tidak rutin penggunaannya. Asiklovir tablet akan mengurangi jumlah ruam yang muncul dan memperpendek durasi sakit apabila diberikan paling tidak 24 jam sebelum muncul ruam. Setelah muncul ruam, pemberian asiklovir tablet tidak menunjukkan hasil yang bermakna, kecuali pada penderita dengan daya tahan yang jelek.

  • Antibiotika, diberikan bila ada infeksi bakteri.

Pencegahan:

  • Imunisasi aktif di atas 10 tahun kecuali atas permintaan dapat diberikan pada usia > 12 bulan.
  • Imunisasi pasif diberikan pada kasus daya tahan  buruk.

Catatan Khusus Penyakit Cacar Air

Cacar Air pada wanita hamil 3 bulan pertama dapat menimbulkan kelainan bawaan (konginetal), sedangkan pada wanita yang terkena cacar air beberapa hari menjelang kelahiran dapat menyebabkan varicella pada bayinya. Kejadian infeksi cacar air saat hamil sekitar 0,05-0,07 %. Jumlahnya kecil karena sebagian besar perempuan subur sudah memiliki kekebalan terhadap cacar air. Cacar air yang terjadi saat 3 bulan pertama kehamilan terutama minggu ke 8-12, memiliki risiko sindrom varisela kongenital sebesar 2,2 persen, yaitu sindrom cacat lahir pada bayi.

Seseorang saat pertama kali terkena virus ini akan menampilkan gejala – gejala cacar air dan setelah itu, virus ini akan berdiam di dalam tubuh sehingga kita memiliki ketahanan terhadap virus tersebut. Jika virus ini aktif kembali maka virus ini muncul dengan gejala yang sedikit berbeda dari cacar air dan disebut herpes zoster dimana secara umum gejala yang terjadi adalah rasa nyeri hebat atau rasa panas terbakar saat tubuh Anda bersentuhan dengan sesuatu meskipun sentuhan ringan seperti baju dan juga disertai dengan timbulnya gelembung – gelembung berisi cairan yang mirip dengan cacar air.

(Sumber: Art of Therapy)

Flu Singapore

Seminggu yang lalu, saya bertemu dengan teman lama saya, di rumah sakit. Teman saya itu membawa anaknya berobat. Dia bilang menurut dokter anaknya menderita Flu Singapore.  Saya lihat di telapak tangan anak itu tampak bintik-bintik merah, mulutnya ada sariawan di beberapa tempat.

Flu Singapore? Apakah itu?

Flu Singapore sebenarnya adalah penyakit yang di dunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau dalam bahasa Indonesia Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (PKTM). Penyakit ini sesungguhnya sudah lama ada di dunia. Di indonesia sendiri sebenarnya penyakit ini bukan penyakit baru.

Istilah “Flu Singapore” muncul karena saat itu terjadi ledakan kasus dan kematian akibat penyakit ini di Singapura.  Gejala penyakit ini mirip flu, dan saat itu terjadi kejadian luar biasa di Singapura (dan kemudian juga terjadi di indonesia), banyak media cetak yang membuat istilah “Flu Singapore”.

PKTM ini merupakan penyakit akut akibat infeksi virus. Virus yang dapat menyebabkan PKTM adalah Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan  Enterovirus.  Infeksi Enterovirus 71 sering menimbulkan PKTM yang berat bahkan berkomplikasi.

Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. PTKM adalah penyakit yang kerap terjadi pada kelompok masyarakat yang padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun (kadang sampai 10 tahun).  Orang dewasa umumnya lebih kebal terhadap enterovirus, walau bisa juga terkena.

Penularan PKTM sama seperti penularan flu, bisa melalui udara, batuk, bersin, air liur, ingus, cairan tubuh lainnya. Dari tangan yang tidak cuci tangan, handuk, peralatan makan pun bisa menularkan penyakit ini.

Ketika seseorang terkena PTKM dia akan mengalami demam, umunya demamnya tidak tinggi, diikuti keluhan tenggorokan (mungkin nyeri menelan atau terasa kering), badan terasa tidak enak, nafsu makan menurun, pilek, pegal-pegal. Kemudian timbul plentingan berair yang mudah pecah di lidah, gusi, pipi bagian dalam, yang terasa nyeri. Di telapak tangan dan kaki timbul bercak-bercak merah sampai plentingan berair yang tidak gatal. Penyakit ini umumnya akan membaik sendiri dalam 7-10 hari, dan tidak perlu dirawat dirumah sakit. Bila ada gejala yang cukup berat, barulah penderita perlu dirawat di rumah sakit.

Komplikasi yang bisa terjadi: radang selaput otak, radang otak, radang otot jantung, lumpuh layu akut, bahkan kematian.

Diagnosis pasti penyakit ini didapatkan dengan pemeriksaan deteksi keberadaan virus. Pemeriksaan darah rutin tidak memberikan diagnosis yang pasti.

PTKM adalah infeksi virus, dan infeksi virus ini bersifat self limited disease, artinya bisa pulih dengan sendirinya. Berat ringannya gejala sangat ditentukan oleh jenis virus yang menginfeksi serta tingkat imunitas tubuh. Semakin rendah tingkat imunitas tubuh, maka gejala yang Nampak dapat semakin berat dan mudah mengalami komplikasi.

Manajemen PTKM meliputi istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, bila perlu dengan suplemen vitamin, pengobatan spesifik tidak ada, jadi hanya diberikan pengobatan sesuai gejala yang menyertai. Bila demam, maka diberikan obat anti-demam. Diberikan juga obat untuk luka di daerah mulut untuk mengurangi kesakitan.

 

(dari berbagai sumber)

Varises Tungkai Bawah

Bila Anda tidak tahan untuk jongkok dan berdiri lama, dimana tungkai bawah Anda terasa pegal, atau di bagian betis sudah terlihat urat-urat halus bisa jadi Anda mulai terkena  varises.

Varises adalah pelebaran pembuluh darah balik (pembuluh darah vena) akibat gangguan aliran darahKata varises berasal dari bahasa Latin “varix” yang berarti memutar. Pembuluh darah vena berfungsi mengangkut darah sisa metabolisme dari jaringan tubuh untuk kembali ke jantung.

Varises timbul apabila terjadi gangguan pada pembuluh darah vena. Dinding pembuluh darah vena merupakan dinding yang tipis tetapi elastis. Apabila elastisitasnya berkurang, fungsinya yang mengalirkan darah kembali ke jantung pun akan berkurang. Pembuluh darah vena tidak optimal melawan efek gravitasi bumi sehingga darah akan menumpuk di tungkai. Selain karena elastisitas yang berkurang, rusaknya katup pembuluh darah vena juga menimbulkan varises. Katup pembuluh darah vena ini bertugas menahan darah yang mengalir ke atas (ke jantung) agar tidak kembali ke bawah (tungkai). Katup yang rusak membuat darah berkumpul di dalam dan  menyebabkan gumpalan yang mengganggu aliran darah. Adanya gangguan aliran darah (penumpukkan darah) menyebabkan pembuluh darah vena melebar, membesar dan berkelok-kelok.

Hal-hal yang dapat memicu terjadinya varises:

· Faktor keturunan/ genetik

Varises yang terjadi di usia muda, kemungkinan besar disebabkan faktor keturunan.

· Obesitas
Obesitas akan meningkatkan tekanan pada pembuluh darah vena.

· Kehamilan

Meningkatnya hormon progesteron dan bertambahnya berat badan saat hamil yang kaki semakin terbebani, akibatnya aliran darah dari kaki, tungkai, pangkal paha dan perut bagian bawah pun terhambat.

· Obat hormonal (KB)

· Menderita kolesterol tinggi dan kencing manis
Kedua jenis penyakit ini berhubungan erat dengan masalah peredaran darah, kelainan pembuluh darah dan kegemukan yang memicu terjadinya varises.

· Merokok
Kandungan zat berbahaya dalam rokok membuat pembuluh darah menjadi kaku dan terjadi penyempitan, sehingga dinding pembuluh tidak elastis lagi.

· Kurang gerak
Gaya hidup yang kurang gerak, menyebabkan otot sekitar pembuluh vena tidak mampu memompa darah secara maksimal.

· Terlalu banyak berdiri

Berdiri terlalu lama membuat kaki terlalu berat menahan tubuh dan memperparah beban kerja pembuluh darah vena dalam mengalirkan darah. Bila profesi Anda mengharuskan banyak berdiri, usahakan untuk tidak berdiri dengan posisi statis (diam), tapi tetap bergerak. Misalnya dengan berjalan di tempat, agar otot tungkai dapat terus bekerja memompa darah ke jantung.

· Memakai sepatu hak tinggi

Hak sepatu yang terlalu tinggi membuat gerak otot tumit yang berfungsi membantu kerja pembuluh darah vena menjadi tidak maksimal.

Berdasarkan berat ringannya penyakit, varises terbagi menjadi 4 stadium, yakni:

Stadium I : Pada stadium ini gejala biasanya tidak spesifik. Pada umumnya ditandai dengan gejala tungkai bawah  gatal, rasa terbakar, rasa pegal, kaki mudah capek, mudah kesemutan (gringgingen).

Stadium II: Pada stadium ini ditandai dengan warna kebiruan yang lebih nyata pada pembuluh darah vena.

Stadium III: Pembuluh darah vena nampak melebar dan berkelok-kelok mirip sarang laba-laba (spider navy). Keluhan pada tungkai makin nyata dan makin kerap dialami.

Stadium IV: Pada stadium ini ditandai dengan timbulnya berbagai komplikasi, antara lain: dermatitis (peradangan pada kulit, kulit menghitam dan mengeras),  luka (ulkus), perdarahan varises, dan gangguan pembuluh darah vena lainnya.

Bila sudah terkena varises:

  • Sering istirahat dengan kaki ditinggikan.
  • Bila harus berdiri/duduk terlalu lama, gerakkan kaki sebanyak mungkin.
  • Gunakan stocking yang menopang.
  • Periksa dokter bila sudah mengganggu aktivitas, dokter akan:
  • Memberi resep salep pereda gatal.
  • Memberi obat anti-varises.
  • Mengobati komplikasi bila ada.
  • Menyuntik cairan sklerosa untuk mengecilkan varises.

Tindakan operasi terutama dilakukan pada varises stadium III dan IV, namun bisa juga dilakukan pada stadium II. Teknik-teknik pengobatan pada varises sudah dikenal sejak abad kelima sebelum masehi. Seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, teknik operasi dikembangkan melalui pendekatan meminimalisir tindakan invasif. Operasi yang lazim dilakukan diantaranya: Stripping Varises, Ambulatory Phlebectomy (menghilangkan bagian varises dengan irisan kecil), dan Saphectomy.

Tindakan operasi yang bersifat invasif minimal, yakni: Radiofrekuensi Ablasi dan Endovenous Laser Therapy (EVLT).

Pencegahan

  • Hindari duduk/berdiri terlalu lama. Bisa sedang terpaksa berdiri lama, gerakkan  tungkai kaki. Prinsipnya: jangan berada di satu sikap tubuh yang sama dalam waktu yang lama.
  • Hindari duduk bersila.
  • Manajemen berat badan.
  • Hindari sepatu bertumit tinggi.
  • Hindari celana jeans yang terlalu ketat.
  • Seusai beraktivitas setiap hari, berbaringlah dengan posisi kaki dan tungkai lebih tinggi dari jantung selama 20 menit. Bagi yang sudah menderita varises, usahakan tidur dengan posisi seperti ini sepanjang malam untuk melancarkan peredaran darah ke jantung.
  • Olahraga rutin untuk melatih otot kaki: jalan santai, jalan cepat; joging, bersepeda, berenang (minimal 30 menit per hari).
  • Jangan memijat daerah yang bervarises, karena dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah vena. Lakukan pijatan secara ringan namun teratur, di daerah rawan varises dengan arah menuju jantung. Lakukan dengan lembut dan gunakan minyak esensial yang sudah dilarutkan.
  • Perbanyak konsumsi sayuran dan buah berserat tinggi dan makanan yang dapat merangsang sirkulasi darah, seperti bawang merah, bawang putih, bawang bombay, jahe dan cabai merah. Juga makanan yang kaya dengan vitamin B kompleks, vit C, vit E, vit B6, magnesium, asam folat, kalsium dan zinc.
  • Kurangi konsumsi gula, garam, daging merah, gorengan, dan protein hewani.

 

Insomnia (Sulit Tidur)

Tidur merupakan kebutuhan pokok manusia. Bayangkan apa yang terjadi bila kebutuhan pokok tidak bisa tercukupi?  Tentu kehidupan manusia akan terganggu. Tidur mempunyai fungsi yang vital bagi kesehatan. Pada saat kita tidur, tubuh akan mengadakan perbaikan dan mencapai keadaan yang seimbang. Organ-organ tubuh akan beristirahat dan akan mengembalikan fungsi-fungsinya dalam keseimbangan.

Tidur yang normal antara 7-8 jam, bayi membutuhkan waktu yang lama untuk tidur yaitu 18-20 jam. Sedangkan pada lansia malah waktu tidur semakin memendek yaitu 4-6 jam.

Tidur yang normal adalah 7-8 jam, tetapi ada pengecualian:

  1. Short sleeper/ petidur singkat: < 6 jam
  2. Long sleeper/ petidur lama: > 8 jam

Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa hormon, yaitu asetilkolin,  serotonin, dan dopamin yang saling berinteraksi dalam proses tidur (mengawali dan mengakhiri).

Insomnia adalah sindroma kesulitan tidur yang berulang, baik kesulitan untuk memulai tidur dan atau mempertahankan tidur sehingga menghasilkan  hendaya (gangguan fungsi) pada siang hari.

Penyebab Insomnia:

  • Jet lag, perbedaan waktu, misal bila bepergian ke luar negeri.
  • Masalah psikologi: stres, trauma, depresi
  • Masalah kesehatan: sesak napas, rasa nyeri
  • Masalah lingkungan: keramaian, pencahayaan, suhu ruangan yang tidak nyaman
  • Efek obat-obatan: obat-obat stimulan otak, misal vitamin neurotropik.
  • Kebiasaan: begadang, minum alkohol, kecanduan nikotin.

Kriteria Insomnia:

  • Butuh waktu lebih dari 30 menit untuk tidur atau tidur kembali setelah terbangun.
  • Hendaknya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, misalnya mengantuk, susah konsentrasi, depresi, lesu, lemas, nyeri kepala, kesehatan menurun.

Tipe Sindroma Insomnia:

  • Transient Insomnia: kesulitan tidur 2-3 hari.
  • Short Term Insomnia: kesulitan tidur 3 minggu.
  • Long Term Insomnia: kesulitan tidur lebih dari 3 minggu, biasanya berhubungan dengan kondisi medik dan psikiatrik tertentu.

Manajemen Kesulitan Tidur:

  • Ciptakan suasana tidur yang tenang dan nyaman.
  • Tidur dan bangunlah secara biasanya, bahkan bila tidur lebih larut, biasakanlah bangun di waktu yang sama, jangan menambah jam tidur.
  • Jangan mengkonsumsi kafein, soda, alkohol pada malam hari.
  • Sebaiknya mengkonsumsi produk yang mengandung kalsium, seperti susu, karena kalsium mempunyai sifat menenangkan.
  • Makan malam minimal 2 jam sebelum tidur, tetapi jangan tidur dengan perut kosong.
  • Jangan menggunakan obat-obat stimulan
  • Melakukan olahraga yang ringan sebelum tidur.
  • Segera bangun dari tempat tidur bila tak dapat tidur (15-30 menit).
  • Hindari rasa cemas atau frustasi.
  • Terapi Psikologi: teknik relaksasi.
  • Terapi Obat, bila memang sangat diperlukan.

 

(Berbagai Sumber)

Luka Bakar

Pernahkah Anda mengalami luka bakar?

Sebagian besar orang seumur hidupnya hampir pasti pernah menderita luka bakar, mulai dari tingkat ringan sampai berat. Mulai dari kemerahan akibat sengatan matahari, tersiram air panas, kena setrum, sampai terbakar api.

Luka Bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan energi ekstrim seperti api, air panas, bahan kimia (asam atau basa), listrik,  dan radiasi.

Prinsipnya: Luka bakar terjadi akibat energi  panas yang merusak jaringan kulit.

Luka Bakar Derajat 1

♣ Biasa terjadi akibat sengatan matahari, paparan nyala api

♣ Bersifat ringan

♣ Kulit yang terpapar akan terasa lunak, nyeri, merah dan hangat

♣ Sembuh sendiri, dalam 3-7 hari

Luka Bakar Derajat 2

♣ Jaringan kulit tidak rusak semua

♣ Ditandai dengan adanya bula (lepuhan)

♣ Luka tampak basah dan kemerahan

♣ Terasa sangat nyeri karena ujung saraf nyeri terbuka akibat kerusakan jaringan kulit.

Luka Bakar Derajat 3

♣ Seluruh kulit mengalami kerusakan

♣ Kulit seperli lilin, pucat dan kering

♣ Tidak terasa nyeri karena saraf-saraf sudah rusak

♣ Untuk perbaikannya membutuhkan pencangkokan kulit.

Penanganan Luka Bakar:

Segera hilangkan sumber luka bakar.

Segera hambat dan hilangkan panas yang terserap ke dalam kulit, misalnya dengan mengalirkan bagian tubuh yang terbakar dengan air bersih, kurang lebih selama 15 menit.

Segera mencari pelayanan kesehatan terutama untuk luka bakar derajat 2 dan 3.

Indikasi Rawat Inap

  • Luka bakar pada wajah, tangan, daerah kemaluan
  • Luka bakar akibat bahan kimia dan listrik
  • Menderita gangguan atau penyakit lain: penyakit jantung, ginjal, diabetes.
  • Luka bakar derajat 2 dengan luas ≥15% (dewasa) dan ≥10% pada anak dan lansia
  • Luka bakar derajat 3 ≥10%

“Mam…kenapa sih aku harus disunat?”

Liburan sekolah telah tiba, beberapa anak laki-laki Sekolah Dasar pada liburan sekolah ini disunat. Ada yang ikut-ikutan teman-temannya, ada yang dorongan orang tua dan lainnya. Dan tidak sedikit dari mereka yang bertanya kepada ibunya, “ Mam… kenapa sih aku harus disunat?

Sunat atau khitan sudah dikenal dan dilakukan sejak beribu tahun yang lalu di beberapa negara , misalnya bangsa-bangsa Semit di Timur Tengah, Arab, Israel, Palestina dan  Indonesia. Alasan orang tua memilih menyunatkan anak laki- lakinya berbeda-beda misalnya berdasarkan keyakinan agama, alasan kebersihan, medis,  faktor budaya, adat istiadat  atau social dan lainnya.

Sunat dalam kehidupan sehari-hari mempunyai banyak istilah misalnya Circumsisi, Dorsumsisi, Khitan, Supit, Tetak (jawa), Sepit (banyumas), dll.  Dalam sunat, kulup yang menutupi penis dipotong, mengekspos ujung penis.

Anak laki-laki disunat tidak dibatasi usia  karena sunat bisa dilakukan mulai dari bayi baru lahir hingga dewasa, oleh ahli sunat tradisional seperti bengkong (bong supit), oleh tenaga kesehatan seperti  perawat, dokter umum, dokter bedah atau dokter lain yang biasa mengerjakannya. Namun di Indonesia biasanya anak disunat , pada waktu mereka duduk di bangku sekolah dasar (SD), atau pada saat memasuki masa akil balik, kecuali apabila ada alasan medis dapat dilakukan lebih dini, misalnya fimosis (kulup tidak dapat dibuka sehingga kesulitan buang air kecil), biasanya dialami oleh satu dari 20 bayi laki-laki. Makanya, ia sudah bisa disunat sebelum usia dua bulan, dll.

Sunat adalah prosedur operasi kecil yang sudah umum dimana anak laki-laki dilahirkan dengan tudung kulit, disebut kulup/prepusium, yang mencakup kepala (juga disebut glend) dari penis.  Pada kulup terdapat kelenjar minyak, padatan minyak yang lembab sulit dibersihkan yang terkadang menutupi jalan keluar urine (air seni), kotoran pada daerah ini biasa disebut smegma. Dalam Sunat, prepusium atau kulit kuncup ujung penis yang melipat dipotong, pembuluh darah ditutup, kemudian luka dijahit sehingga kepala penis terlihat, dengan masa penyembuhan luka sekitar 5-6 hari. Dipotong atau diirisnya kulit yang menutupi kepala penis ini sekaligus membersihkan daerah tersebut dari smegma. Dalam tindakan ini dilakukan bius lokal apabila pasien kooperatif (tidak takut, mengerti dan bisa diajak kerjasama). Bius lokal bisa berupa suntik atau semprot. Kemudian untuk pasien bayi, ketakutan atau tidak koopertif dilakukan bius total.

Manfaat utama dari sunat adalah membersihkan diri dari berbagai smegma atau kotoran serta penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis atau zakar yang masih ada kulupnya. Sehingga penis menjadi lebih mudah untuk dibersihkan.  Dengan demikian sunat dapat menghindari timbulnya berbagai penyakit. Misalnya, fimosis, parafimosis, kandidiasis, serta tumor ganas dan pra ganas pada daerah alat kelamin laki-laki. Dan, terbukti pula, penis laki-laki yang disunat lebih higienis. Beberapa bukti-bukti memperlihatkan bahwa  prosedur memotong kulup pada penis dapat mencegah sejumlah penyakit menular seksual dan juga riset menunjukkan sunat memotong risiko terkena HPV (Human Papiloma Virus = virus penyebab kanker leher rahim) dan herpes, perempuan yang berhubungan seks dengan pria yang bersunat sedikit kemungkinan terkena HPV dan infeksi bakteri.

Perawatan pasca sunat tidak sulit, biasanya dokter akan memberikan penghilang nyeri (analgesik), yang sebaiknya diminum secara teratur sesuai petunjuk dokter, jagalah alat kelamin  tetap bersih dan kering,  Penggantian perban dapat dilakukan setiap 2-3 hari tergantung perkembangan luka khitan, Lakukan kontrol rutin ke dokter yang mengkhitan pada hari ketiga dan pada hari kelima-ketujuh apabila luka khitan sudah betul-betul kering maka perban bisa dilepaskan secara total.

Akhirnya sebelum Anda membuat keputusan sunatan, penting untuk berbicara dengan dokter Anda dan mempertimbangkan beberapa isu, sehingga keputusan yang dibuat adalah yang terbaik untuk buah hati Anda.

Mengapa bahuku kaku dan nyeri?

Sudah dua minggu ini  Bu Ratih mengalami kekakuan pada bahu kanan. Bahu kanannya tidak bebas bergerak seperti biasanya. Dari hari ke hari keluhan bahu kanan Bu Ratih dirasakan semakin memberat. Menurut Bu Ratih, awalnya  bahu kanan terasa kaku ketika bangun pagi. Bu Ratih menganggapnya sebagai keluhan biasa saja.

Namun semakin lama keluhan tersebut semakin berat. Gerakan bahu menjadi terbatas karena adanya rasa nyeri.  Karena sudah tidak tahan dengan rasa nyeri di bahu kanannya, Bu Ratih berobat ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, Bu Ratih didiagnosis menderita Frozen Sholder (Bahu Membeku).

Apa itu Frozen Shoulder?

Definisi

•Gangguan pergerakan pada sendi bahu karena adanya peradangan pada kapsul sendi bahu. Peradangan tersebut menyebabkan sendi menjadi nyeri dan gerakan sendi terbatas dan kaku.

•Penyebab utama Frozen Shoulder tidak diketahui, tapi diduga karena adanya perlukaan, trauma berulang, ataupun penyakit autoimun).

•Khas: sifat nyeri dan kekakuan sendi progresif (cepat memberat), namun biasanya  membaik secara spontan setelah 18 bulan.

•Gerakan bahu menjadi sangat terbatas, nyeri memberat ketika malam hari.

Faktor Risiko

♣Pada umumnya yang  menderita Frozen Shoulder adalah dewasa berusia 40-60 tahun, kebanyakan perempuan.
♣Imobilisasi  sendi bahu dalam waktu yang lama (misal setelah operasi lengan, koma, stroke)
♣Penyakit : Diabetes, Jantung dan Pembuluh Darah, Rematik, Parkinson.

Gejala Klinis

♣Nyeri, semakin memberat dari hari ke hari, terutama bila malam hari.

♣Kaku, ada pembatasan gerak sendi bahu: gerakan memutar lengan ke dalam, ke luar, gerakan merentangkan lengan.

Pemeriksaan

♣Foto Rontgen: dapat menunjukkan gambaran adanya peradangan sendi bahu, penurunan kepadatan tulang bahu.

♣Artrografi : menunjukkan sendi bahu terkontraksi.

Tata Laksana

♣Frozen Shoulder kebanyakan dapat pulih sendiri tanpa operasi tetapi dalam waktu yang lama.

♣Tata Laksana yang umum digunakan adalah: obat antinyeri, injeksi kortikosteroid, fisioterapi. Bila kasus parah dapat dilakukan operasi.

 

(Berbagai Sumber)

 

Penyakit TBC

Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.

Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2 – 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.

Penyebab Penyakit TBC

Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).

Cara Penularan Penyakit TBC

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

Gejala Penyakit TBC

Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.

Gejala sistemik/umum

  • Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.
  • Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
  • Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

Gejala khusus

  • Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
  • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  • Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

Penegakan Diagnosis

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:

  • Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
  • Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
  • Rontgen dada (thorax photo).
  • Uji tuberkulin.

(Berbagai Sumber)

 

Asam Urat dan Nyeri Sendi

Berbeda dengan kepercayaan dan pengetahuan kebanyakan orang, kata “urat” dalam frase “asam urat” tidak mempunyai hubungan langsung dengan kata “urat” yang berarti otot. Sebenarnya, asam urat adalah terjemahan langsung dari istilah bahasa Inggris “uric acid”. Penamaan ini berakibat banyak orang mengasosiasikan asam urat dengan nyeri otot, persendian, dan tulang. Apakah benar demikian?

Untuk menelaahnya, kita akan mulai dengan meninjau metabolisme asam urat dalam tubuh manusia. Asam urat adalah produksi metabolit langsung dari suatu bahan yang disebut sebagai purin. Di dalam sel, purin dibentuk menjadi senyawa asam nukleat yang menyusun senyawa-senyawa cadangan energi. Asam urat hasil pemecahan senyawa purin baik dari tubuh kita maupun dari makanan, beredar dalam darah untuk kemudian dibuang melalui saluran pencernaan dan saluran kemih. Jumlah asam urat yang dibuang melalui ginjal dan saluran kemih jauh lebih besar.

Pada tingkat keasaman darah yang normal, asam urat akan membentuk senyawa garam bersama dengan natrium (sodium). Pada perubahan tingkat keasaman darah, suhu yang menurun, dan adanya jejas atau trauma, senyawa asam urat ini akan membentuk kristal yang dapat dijumpai pada cairan sendi, sekitar sendi, ginjal, dan jaringan lunak yang longgar. Kadar asam urat dalam darah dapat saja tinggi namun tidak dirasakan oleh penderita.

Kristal asam urat yang terbentuk pada jaringan lunak menimbulkan benjolan kecil-kecil yang kadang dapat hilang sendiri. Benjolan ini sering dijumpai pada daun telinga (paling sering), permukaan dalam lengan bawah, permukaan depan tungkai bawah, sekitar persendian pada jari-jari, siku, dan sekitar tumit. Berlawanan dengan persepsi banyak orang, penumpukan kristal asam urat jenis ini tidak menimbulkan rasa sakit dan peradangan yang nyata. Kekakuan sendi kadang terjadi.

Kristal asam urat juga dapat menghalangi penyaringan darah di ginjal. Kristal dapat menyumbat saluran-saluran di ginjal dan membentuk batu urat di ginjal. Akibatnya fungsi ginjal terganggu dan dapat menyebabkan kegagalan ginjal. Pada orang dengan diabetes dan tekanan darah tinggi, kristal urat dalam ginjal ini mempercepat terjadinya kerusakan pada ginjal dan menimbulkan batu ginjal dan saluran kemih.

Kristal asam urat yang menimbulkan nyeri adalah apabila kristal tersebut berada di dalam cairan sendi. Serangan nyeri karena kristal asam urat ini hampir selalu menyerang satu sendi saja. Sendi ini terutama adalah sendi di belakang ibu jari kaki. Penumpukan kristal asam urat ini menimbulkan peradangan, nyeri saat berjalan, kemerahan, dan setelah rasa sakit berkurang permukaan kulit akan mengelupas. Nyeri karena kristal asam urat pada sendi ini disebut sebagai penyakit pirai.

Pirai paling sering muncul pada laki-laki usia 40-50 tahun. Pirai sangat jarang terjadi pada anak-anak dan pada perempuan yang belum menopause. Ini menyebabkan adanya anggapan bahwa pirai adalah penyakitnya laki-laki. Dari sekian banyak orang dengan kadar asam urat dalam darah yang tinggi, hanya sedikit yang menjadi penyakit pirai.

Bagaimana mencegah kenaikan kadar asam urat?

Salah satu cara mencegah kenaikan kadar asam urat adalah dengan diet rendah purin. Ada jembatan keledai yang mudah diingat tentang jenis-jenis makanan yang perlu dihindari atau dikonsumsi dalam jumlah yang terbatas, yaitu “BEnJOL”. Bayam, Emping, Jerohan, Otak, dan Lemak. Emping pada dasarnya adalah melinjo, jadi semua produk dari pohon melinjo juga perlu dihindari atau dibatasi konsumsinya. Bayam mewakili sayur-sayuran, dan selain bayam, perlu juga menghindari atau mengurangi konsumsi terung-terungan. Kadar asam urat dalam darah juga dapat naik akibat konsumsi alkohol. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi setiap orang untuk mengurangi asupan minuman beralkohol.

Selain mengatur pola makan, perlu pula dilakukan perubahan gaya hidup seperti menghentikan rokok, olah raga yang cukup, dan menurunkan berat badan. Konsumsi vitamin C sampai dengan 500mg juga dikatakan dapat mempengaruhi kemungkinan terjadinya pirai. Cukup minum air hingga memastikan volume air seni sampai 2 liter per hari dikatakan dapat mencegah timbulnya batu urat pada ginjal dan saluran kemih.

Apakah setiap nyeri otot dan sendi berkaitan dengan asam urat?

Jawabannya: tentu tidak. Sebagian besar keluhan mengenai nyeri otot dan nyeri sendi tidak pernah berkaitan langsung dengan asam urat. Seperti sudah dibahas di atas, nyeri karena asam urat terjadi pada kristal asam urat yang menumpuk di cairan sendi dan menyebabkan peradangan. Sebagian besar nyeri karena asam urat ini juga terjadi hanya pada satu sendi dan paling sering mengenai sendi di belakang ibu jari kaki.