Apa itu Parkinson?

“Di sebuah reuni SMA, 2 orang bapak-bapak yang merupakan sahabat semasa SMA dan sudah lebih dari 50 tahun tidak bertemu melepas kangen dengan ngobrol, salah satu bapak tersebut mengeluh saat ini kedua tangannya gemetar sampai ia sulit untuk memegang piring makan dan juga bila berjalan terasa kaku seperti robot”

Sebuah kutipan cerita diatas tampak seorang bapak yang sedang mengeluhkan kondisinya, kondisi dimana ia kesulitan untuk memegang benda karena gemetaran dan juga berjalan, kondisi ini di masyarakat luas sering disebut “buyutan” yang secara medis dikenal dengan nama Parkinson, Parkinson adalah suatu kondisi neurodegeneratif yang umumnya muncul pada usia diatas 60 tahun.

Penyakit ini disebabkan karena sel-sel saraf otak di bagian ganglia basal yang mulai mengalami degenerasi tidak lagi atau kurang memproduksi zat kimia sebagai neurotransmitter yaitu Dopamin. Dopamin memiliki peran penting pada fungsi gerak, maka apabila terjadi kekurangan dopamine maka akan muncul berbagai macam gejala, gejala-gejala khas yang muncul pada Parkinson dikenal dengan T.R.A.P (Tremor, Rigiditas, Akinesia/bradikinesia, Postural Instability).

  1. Tremor (Gemetaran)

Tremor merupakan gejala utama dari Parkinson, tremor adalah suatu kondisi gemetaran pada tangan baik satu atau pada kedua tangan, tremor khas pada Parkinson adalah gerakan memilin pada jari-jari dan tremor terjadi pada saat kondisi tangan istirahat (resting tremor) artinya pada saat tangan digerakkan makan tremor akan menghilang. Sebagian besar tremor terjadi pada tangan tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pula pada kepala dan kaki.

  1. Rigiditas (Kekakuan sendi)

Rigid berarti kaku, pada pasien yang menderita Parkinson maka akan terjadi kekakuan pada sendi dikarenakan tegangan otot yang tinggi, peningkatan tegangan otot ini dikenal dengan hipertoni kondisi ini akan menyebabkan sendi-sendi sulit untuk digerakkan karena adanya hambatan dari otot, kondoisi ini dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot-otot yang mengalami kekakuan.

  1. Akinesia/bradikinesia (Gerakan menjadi Lambat)

Kinesia berarti bergerak, bradi berarti lambat, pada Parkinson akan terjadi perlambatan gerakan, perlambatan ini meliputi bermacam bentuk seperti berkurangnya ekspresi wajah sehingga wajah seperti memakai topeng, berkurangnya kedipan pada mata, sulit atau lambat untuk memulai suatu gerakan (terutama memulai jalan), berjalan kecil-kecil, tulisan tangan menjadi lambat, kecil dan jelek serta kemampuan koordinasi untuk melakukan suatu keterampilan dalam aktivitas harian.

  1. Postural Instability (Gangguan postur tubuh)

Gangguan ini akan menyebabkan pasien menjadi mudah jatuh saat berjalan, berjalan tidak seimbang, sulit untuk berputar, keluhan ini biasanya muncul pada tahap lanjut dari penyakit Parkinson.

Diagnosis Parkinson dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis saraf dan juga dilakukan pemeriksaan penunjang bila diperlukan untuk menegakkan diagnosis lain dengan gejala mirip Parkinson (Parkinsonism). Selain karena proses degenerasi, Gejala mirip Parkinson dapat juga disebabkan oleh Stoke, Hidrosepalus tekanan normal, Demensia Lewi body dan beberapa penyakit degenerative lain.

Penanganan penyakit Parkinson meliputi terapi dengan obat-obatan dan terapi supportif. Terdapat berbagai macam obat yang apat digunakan untuk pengobatan Parkinson, antara lain obat golongan Levodopa, Dopamin agonist, dan golongan lainnya. Pilihan terapi sangat individual dengan mempertimbangkan banyak aspek seperti usia, alergi, respon tubuh terhadap obat, efek samping yang mungkin muncul dan faktor lainnya. Pengobatan Parkinson sebaiknya dimulai sedini mungkin seteah diagnosis ditegakkan karena Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif makan tidak menutup kemungkinan akan terdapat peningkatan dosis dikemudian hari pada masa pengobatan dikarenakan oleh makin banyaknya sel saraf otak yang mengalami degenerasi.

Selain obat pasien penderita Parkinson juga harus melakukan terapi supportif seperti olah raga teratur, fisioterapi dan memperhatikan pola makan, latihan gerak teratur akan meningkatkan efektifitas penggunaan dopamine diotak, mempertahankan elastisitas otot dan sendi serta mempertahankan keseimbangan tubuh.

Hidup dengan penyakit Parkinson akan mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan, pasien akan membutuhkan bantuan dari lingkungan sekitarnya, merasa tidak berdaya, mood yang jelek dan mungkin jatuh dalam keadaan depresi karena kondisinya, oleh sebab itu dukungan dan perhatian dari keluarga merupakan obat yang paling penting dalam penetalaksanaan penyakit Parkinson.

 

Ditulis oleh dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.S

Kebersihan Tangan

Keselamatan pasien telah menjadi isu global. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit, yaitu: keselamatan pasien, keselamatan petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan yang berdampak terhadap pencemanaran lingkungan dan keselamatan “bisnis” rumah sakit yang terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit.

Namun harus diakui bahwa kegiatan institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien. Karena itu keselamatan pasien merupakan prioritas utama.

Keselamatan Pasien adalah unsur yang paling penting dalam pelayanan kesehatan, oleh karena itu Sasaran Keselamatan Pasien merupakan salah satu bab dasar dalam penilaian akreditasi. Kelompok sasaran ini menggarisbawahi mengenai ketepatan identitas, peningkatan komunikasi, keamanan obat, pembedahan yang aman, pengurangan resiko infeksi, dan pengurangan resiko pasien jatuh.

Salah satu cara pengurangan resiko infeksi adalah dengan cuci tangan. Cuci tangan 6 langkah menurut WHO dapat meminimalisir terjadinya penyebaran infeksi di Rumah Sakit.

Kebersihan Tangan

Kebersihan tangan mengacu pada proses membersihkan tangan dengan melakukan cuci tangan dengan menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol. Dalam pengaturan kesehatan, cuci tangan yang benar adalah cara paling sederhana untuk mengurangi lintas transmisi mikroorganisme yang terkait dengan infeksi yang menyebabkan peningkatan lama waktu dirawat , peningkatan biaya perawatan, dan bahkan kematian.

Mengukur Kepatuhan Cuci Tangan Pelayan Kesehatan RS Panti Rapih

Proses pengukuran Kepatuhan Cuci Tangan Pelayan Kesehatan di RS Panti Rapih mencakup semua Pelayan Kesehatan: dokter, perawat, asisten perawat, dan pelayan kesehatan lain yang berada di Instalasi rawat Jalan, IGD, Rawat Inap (16 ruang rawat inap), Instalasi Hemodialisa, Laboratorium, dan Instalasi Radiologi. Unsur yang diukur meliputi Kepatuhan Cuci Tangan 6 Langkah dan 5 Moment. Komite Mutu dan Keselamatan Pasien (KMKP) RS Panti Rapih bersama dengan Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) RS Panti Rapih, manajemen rumah sakit dan pemangku kepentingan klinis telah bekerja sama untuk menyempurnakan program kebersihan tangan sejak tahun 2013. Program yang dilakukan termasuk pelatihan dan penilaian Pelayan Kesehatan di semua bagian.

Komite Mutu dan Keselamatan Pasien dan Komite Pencegahan bersama Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi RS Panti Rapih melakukan monitoring kepatuhan Pelaksanaan 6 Langkah Cuci Tangan dan Kepatuhan Pelaksanaan 5 Moment Kebersihan Tangan Pelayan Kesehatan melalui observasi tertutup. Ini berarti bahwa Pelayan kesehatan tidak menyadari bahwa mereka sedang diamati oleh auditor. Hal ini dilakukan karena auditee cenderung memiliki kecenderungan untuk mengubah perilaku mereka ketika mereka tahu bahwa mereka sedang di audit (Hawthorne effect). Kepatuhan Pelaksanaan 5 Moment didefinisikan sebagai jumlah Pelayan Kesehatan yang melalukan five moment cuci tangan dengan benar dibagi dengan jumlah Pelayan Kesehatan yang dilakukan survey , dikalikan dengan 100 dan dinyatakan sebagai persentase. RS Panti Rapih mengadopsi pedoman Organisasi Kesehatan Dunia “WHO” pada “5 Moments of Hygiene” ¹, yaitu : Sebelum bersentuhan pasien, sebelum melakukan tindakan invasif, setelah bersentuhan dengan ekskresi, setelah menyentuh pasien, dan setelah menyentuh lingkungan pasien.

Kepatuhan Pelaksanaan 6 Langkah Cuci Tangan didefinisikan sebagai jumlah petugas yang melakukan 6 langkah cuci tangan dengan benar dibagi jumlah petugas yang dilakukan survey, dikalikan dengan 100 dan dinyatakan sebagai persentase.

Pelatihan staf Pelayan Kesehatan tentang  kebersihan tangan dilakukan bersamaan dengan orientasi bagi pegawai baru, penempelan poster tentang teknik mencuci tangan diletakkan di lokasi-lokasi strategis, pelaksanaan ronde cuci tangan, edukasi kepada pasien dan pengunjung  saat healing garden,  telah meningkatkan kesadaran Pelayan Kesehatan tentan pentingnya kebersihan tangan.

Grafik 1  di bawah ini menunjukkan tingkat kepatuhan Pelayan Kesehatan RS Panti Rapih dalam Pelaksanakan 5 Moment Kebersihan Tangan.

Grafik 2 di bawah ini menunjukkan tingkat kepatuhan Pelayan Kesehatan RS Panti Rapih dalam Pelaksanakan 6 Langkah Cuci Tangan.

Referensi: “First Global Safety Challenge: Clean Care is Safer Care”, 2009, WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care

Demam

Keceriaan anak atau aktivitas orang dewasa kerap kali terganggu oleh demam. Tulisan ini akan menguraikan sedikit tentang demam sehingga pandangan kita terhadap demam dapat lebih menyeluruh.

Demam menurut kamus umum adalah suhu tinggi yang abnormal dan biasa diikuti dengan menggigil, sakit kepala, dan bila sudah parah: mengigau. Ensiklopedia online menjelaskan demam dengan definisi yang agak lain.
Ada definisi lain yang bisa ditemukan dan menjadi pegangan para pelayan kesehatan. Demam dikatakan sebagai naiknya set-point suhu tubuh di hipotalamus. Dengan bergesernya set-point (patokan) ini, hipotalamus mengirimkan sinyal untuk menaikkan suhu tubuh. Sebelum memahami tentang gejala penyakit paling umum ini, kita perlu tahu bagaimana suhu tubuh kita diatur.

Suhu tubuh diatur di hipotalamus. Hipotalamus adalah bangunan kecil di bagian bawah otak yang kira-kira hanya berukuran 0,3% dari total volume otak. Walau demikian, bangunan ini mengatur integrasi yang luar biasa, meliputi pengendalian cairan dan elektrolit tubuh, keseimbangan energi, reproduksi, suhu, sistem kekebalan, dan lain-lain. Para pelajar dan mahasiswa kadang mengacaukan hipotalamus ini dengan hipofisis (pituitary) oleh karena letak dan peranannya yang sama-sama kompleks. Hipotalamus dapat menjalankan fungsi tersebut karena diatur oleh hubungan melalui sistem saraf, sistem peredaran darah, dan kemungkinan juga melalui cairan otak (cairan serebrospinal).

Suhu tubuh dapat diukur dengan berbagai cara menggunakan termometer. Cara pengukuran yang paling lazim dilakukan adalah dengan meletakkan termometer di ketiak. Selain itu, termometer dapat pula diletakkan di mulut, anus, atau vagina. Pengukuran yang paling baik tentu di anus karena dekat dengan pusat tubuh dan tidak terlalu banyak faktor pengacau. Pengukuran di mulut mudah dilakukan sekaligus akurat, namun dapat terganggu oleh kebiasaan bernafas lewat mulut, suhu minuman, dan lain-lain.

Suhu normal tubuh kita diukur di mulut adalah 36,7(36– 37,4C) pada pagi hari. Suhu di anus dan vagina adalah setengah derajat lebih tinggi, dan suhu di ketiak setengah derajat lebih rendah. Suhu tubuh kita berfluktuasi sebesar setengah sampai satu derajat setiap harinya. Paling rendah pada pagi hari dan paling tinggi pada awal malam hari.

Patokan suhu tubuh di hipotalamus dapat naik karena peran prostaglandin.  Prostaglandin  timbul akibat induksi pirogen endogen (sitokin). Sitokin dihasilkan oleh sel-sel sistem kekebalan tubuh karena adanya infeksi atau adanya cedera pada jaringan. Sampai saat masih belum jelas benar bagaimana suatu infeksi atau cedera pada suatu jaringan bisa menginduksi reaksi kenaikan set-point suhu tubuh. Sebagian besar obat turun panas  bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin dalam tubuh.

Kenaikan patokan suhu tubuh pada hipotalamus ditanggapi tubuh dengan menambah produksi panas, dengan jalan menggigil dan menaikkan laju metabolisme basal. Dengan produksi panas yang bertambah, suhu tubuh menjadi naik. Apabila sumber keluarnya sitokin telah disingkirkan, patokan suhu tubuh kembali ke normal. Pada waktu ini, tubuh tahu bahwa suhu tubuh lebih tinggi daripada patokan yang ditentukan. Segera hipotalamus bereaksi dengan merangsang keringat untuk menurunkan suhu tubuh.

Mengapa suhu tubuh harus naik akibat adanya sitokin? Ini juga belum sepenuhnya jelas. Demam mungkin bermanfaat sebab mikroorganisme penyebab penyakit tumbuh dalam rentang suhu yang sempit sehingga kenaikan suhu akan menghambat pertumbuhannya. Sistem kekebalan tubuh juga diuntungkan dengan adanya demam karena produksi antibodi meningkat dengan adanya demam. Walau demikian, suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat merusak sistem saraf dan dapat mematikan.

Kontroversi manfaat demam tersebut juga membawa konsekuensi terhadap penanganan demam. Dokter seringkali meresepkan obat penurun panas (antipiretik) untuk menurunkan demam. Namun ada literatur pula yang mengatakan bahwa apabila penderita merasa cukup nyaman dengan suhu tersebut, obat antipiretik tidak diperlukan dan lebih baik beristirahat sebagai kompensasi hilangnya energi akibat pembentukan panas.

Walau demikian, penting untuk waspada, sebab demam adalah gejala penyakit yang paling umum dan paling sering dijumpai. Tidak perlu terburu-buru minum atau meminumkan obat penurun panas. Tindakan yang paling bijaksana adalah istirahat, mengukur suhu, mencatat suhu, dan mengawasi pola demam.

Catatan anda yang berisi fluktuasi suhu selama satu hari akan membantu dokter untuk mengerucutkan kemungkinan penyebab demam. Sebagai contoh, pada demam (berdarah )dengue, penderita akan mengalami panas tinggi mendadak pada tiga hari pertama, disusul penurunan suhu pada dua hari berikutnya, disusul kenaikan kembali (tidak mencapai suhu panas pertama) pada dua hari berikutnya.

Penting pula untuk mencatat apakah demam tersebut muncul berulang dengan periode waktu tertentu, pemicunya, mereda dengan apa, dan apakah fungsi sosial anda terganggu oleh demam. Sebagai contoh, gejala khas malaria adalah demam berulang pada hari ketiga atau keempat. Siklus demamnya khas, diawali dengan panas dan menggigil, gelisah, dan diakhiri dengan keringat banyak dan tidur pulas.

Pada anak-anak, dokter anak akan sangat terbantu apabila orang tua dapat menceritakan waktu pertama kali timbul panas (pagi, siang, sore, malam), apakah ada aktivitas sebelumnya yang terganggu (misalnya: tidak masuk sekolah), apakah ada kelesuan beberapa hari sebelum demam (tidak mau bermain), dan bagaimana gambaran suhunya ketika mulai panas (langsung panas tinggi atau tidak).

Tidak semua demam pada setiap waktu memerlukan pemeriksaan darah di laboratorium. Ingatlah bahwa pemeriksaan darah ini adalah pemeriksaan penunjang. Penggalian riwayat dan pemeriksaan fisik oleh dokter biasanya sudah bisa mengerucutkan penyebab penyakit, sehingga pemeriksaan darah dibatasi yang penting dan menunjang diagnosis saja. Pemeriksaan laboratorium yang tidak perlu (misalnya periksa Widal pada hari ketiga demam tinggi) hanya akan memboroskan sumber daya tanpa manfaat yang berarti.

Harapan Tentang Pemberantasan HIV AIDS

Harapan tentang pemberantasan HIV AIDS –terutama pada anak–  yang perlu mendapatkan dukungan kita semua

Perayaan Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) pada Jumat, 1 Desember 2017 memiliki tema ‘hak atas sehat’ (Right to health), dengan menyoroti hak 36,7 juta orang atau semua orang yang hidup dengan HIV, untuk tetap sehat. Apa yang harus disadari?

Pada tahun 2015, para pemimpin global telah menandatangani Sasaran Pembangunan Berkelanjutan, dengan tujuan  untuk mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC) pada tahun 2030. Di bawah slogan “Everybody counts“, 36,7 juta orang tersebut harus memperoleh akses terhadap obat yang aman, efektif, berkualitas dan terjangkau, termasuk prosedur diagnostik dan layanan perawatan kesehatan yang dibutuhkan, sekaligus  memastikan bahwa mereka dilindungi terhadap risiko beban pembiayaan. Dengan UHC, maka tidak boleh ada lagi orang yang tertinggal, layanan kesehatan harus yang berkualitas tinggi, dan layanan HIV, tuberkulosis dan hepatitis harus terintegrasi. Selain itu,  orang yang hidup dengan HIV, termasuk anak, memiliki akses terhadap perawatan yang terjangkau.

Secara global diperkirakan 3,2 juta anak hidup dengan HIV pada akhir tahun 2013. Infeksi HIV pada anak terutama disebabkan penularan dari ibu, yaitu pada periode kehamilan, selama dan setelah persalinan. Data dari Ditjen PP & PL Kemkenkes RI pada 18 Mei 2016 menunjukkan bahwa, sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Desember 2016,  HIV-AIDS tersebar di 407 (80%) kabupaten/kota di seluruh  Indonesia. HIV-AIDS pertama kali ditemukan di Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2012.

Kemenkes juga melaporkan prevalensi HIV/AIDS sudah turun menjadi 0,33% (697.142 orang) di tahun 2016. Hingga Juli tahun 2017, yang masih terus mendapatkan obat ARV (Anti Retro Viral) sebanyak 83.517 orang. Dengan intervensi yang manjur (efficacious interventions), risiko penularan HIV dari ibu-ke-bayi  (mother-to-child HIV transmission) dapat dikurangi menjadi 2%.  Namun, intervensi semacam itu masih belum dapat diakses secara luas atau tersedia di kebanyakan negara atau daerah yang terbatas sumber daya, tetapi beban HIV tinggi.  Jumlah anak di bawah 15 tahun yang menerima ARV di negara berpenghasilan rendah dan menengah meningkat dua kali lipat dari tahun 2009 sampai 2013, dari 355.000 sampai 740.000 orang.  Pada akhir tahun 2013, kurang dari seperempat (23%) anak yang hidup dengan HIV menerima ARV di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dibandingkan dengan lebih dari sepertiga (37%) dari orang dewasa pada tahun 2009.

Kementerian Kesehatan RI Tahun 2014 memberikan panduan kapan kita harus memikirkan adanya infeksi HIV pada anak, dengan cara  melakukan temuan kasus (case finding).  Masalah terbesar adalah menentukan cara diagnostik yang terbaik.  Bayi dan anak wajib menjalani tes HIV, apabila anak menderita penyakit yang berhubungan dengan HIV, seperti  TB berat atau mendapat OAT berulang, malnutrisi, atau pneumonia berulang, dan diare kronis atau berulang. Juga bayi yang  lahir dari ibu terinfeksi HIV dan sudah mendapatkan perlakuan pencegahan penularan dari ibu ke anak. Selain itu, bila  salah satu saudara kandungnya didiagnosis HIV; atau salah satu atau kedua orangtua meninggal oleh sebab yang tidak diketahui, tetapi masih mungkin karena HIV. Kasus lain adalah anak yang terpajan atau potensial terkena infeksi HIV, baik melalui jarum suntik yang terkontaminasi, menerima transfusi darah berulang ataupun  mengalami kekerasan seksual.

Untuk memastikan diagnosis HIV pada anak dengan usia < 18 bulan, dibutuhkan uji virologi HIV  yang dapat memeriksa virus atau komponennya.  Anak dengan hasil uji virologi HIV positif pada usia berapapun, artinya terkena infeksi HIV. Bila ada anak berumur < 18 bulan dan dipikirkan terinfeksi HIV, tetapi perangkat laboratorium untuk PCR HIV tidak tersedia, dokter diharapkan mampu menegakkan  diagnosis presumtif atau dugaan.

Dugaan infeksi HIV harus ditentukan apabila ada 1 kriteria berikut:  PCP (Pneumocystis Carinii Pneumonia), meningitis kriptokokus, kandidiasis esophagus, toksoplasmosis, atau malnutrisi berat yang tidak membaik dengan pengobatan standar.  Selain itu, bila ditemukan minimal ada 2 gejala berikut : oral thrush, pneumonia berat, sepsis berat, penyakit atau kematian ibu yang berkaitan dengan HIV, atau CD4+ T Lymphocyte  <20%.

Oral thrush adalah lapisan putih kekuningan di atas mukosa lidah (pseudomembran) atau bercak merah di lidah, langit-langit mulut atau tepi mulut, yang disertai rasa nyeri, dan tidak bereaksi dengan pengobatan zalf anti jamur. Pneumonia adalah batuk atau sesak napas pada anak dengan adanya tarikan dinding dada, suara napas tambahan (stridor),  penurunan kesadaran, tidak dapat minum atau menyusu, muntah, dan adanya kejang selama episode sakit sekarang, meskipun dapat membaik dengan pengobatan antibiotik. Sepsis adalah demam atau hipotermia pada bayi muda, dengan tanda yang berat seperti bernapas cepat, tarikan dinding dada, ubun-ubun besar menonjol, letargi, gerakan berkurang, tidak mau minum atau menyusu, dan kejang.

Pemeriksaan uji HIV cepat (rapid test) pada anak dengan hasil reaktif, harus dilanjutkan dengan 2 tes serologi yang lain.  Bila hasil pemeriksaan tes serologi lanjutan tetap reaktif, anak harus segera mendapat obat ARV. Sedangkan diagnosis infeksi HIV pada anak > 18 bulan sudah dapat menggunakan cara yang sama dengan uji HIV pada orang dewasa.  Perhatian khusus harus diberikan untuk anak yang masih mendapat ASI pada saat tes dilakukan,  karena uji HIV baru dapat diinterpretasi dengan baik, apabila ASI sudah dihentikan selama > 6 minggu. Pada anak umur > 18 bulan, ASI bukan lagi sumber nutrisi utama. Oleh karena itu, cukup aman bila ibu diminta untuk menghentikan ASI sebelum dilakukan diagnosis HIV.

Momentum Hari AIDS Sedunia Jumat, 1 Desember 2017 juga mengingatkan tentang slogan kampanye global  *’Stop AIDS. Keep the Promise’.* Slogan yang digunakan sepanjang tahun itu untuk meminta  pertanggungjawaban pemerintah atas komitmennya terkait HIV dan AIDS, juga pada anak  di semua negara, termasuk Indonesia.

Sekian
Semoga bermanfaat.

Terimakasih.

Yogyakarta, 28 November 2017
*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Siloam dan RS Panti Rapih  Yogyakarta, Alumnus S3 UGM,

WA: 081227280161

e-mail :  fxwikan_indrarto@yahoo.com

Cara Pemberian Obat pada Anak dan Bayi

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh orangtua anak maupun bayi di Farmasi RS Panti Rapih:

Apa yang diperhatikan dokter saat memberikan obat pada bayi atau anak?

Saat meresepkan obat untuk bayi dan anak, dokter akan melihat:

  1. Diagnosa penyakit berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium (jika diperlukan).
  2. Usia bayi. Semakin kecil usia bayi semakin banyak obat yang belum boleh diberikan.
  3. Berat badan bayi. Dosis obat diberikan berdasarkan berat bayi sehingga penimbangan berat badan sangat penting.

Jika obat si kecil tersisa, bolehkah diberikan kembali bila suatu waktu ia mengalami penyakit yang sama?

Bergantung jenis obatnya, jika:

  1. Antibiotik. Tidak boleh! Apapun bentuknya baik itu sirup atau puyer. Antibiotik harus dihabiskan atau sesuai instruksi dokter.
  2. Racikan. Baik sirup maupun puyer sebaiknya tidak diberikan, dikhawatirkan terdapat jenis obat yang tidak bisa dikonsumsi kembali.
  3. Obat sirup. Boleh diberikan, misalnya obat penurun panas, batuk, pilek, dan lain-lain.
  4. Puyer, seperti obat kejang atau obat emergency lainnya, bisa diberikan asalkan kondisi obat tidak berubah, baik warna atau tekstur (menggumpal/tidak). Serta, berat badan atau usia bayi tidak jauh berbeda saat obat tersebut diberikan.

Obat sirup dapat tahan berapa lama setelah kemasannya dibuka?

Sebenarnya tidak ada waktu yang pasti. Ibu sebaiknya mengecek kembali kondisi dan tanggal kadaluwarsa obat.

Bagaimana cara penyimpanan yang baik untuk obat sirup sisa?

  1. Tutup botol obat dengan rapat, cuci/lap dengan air hangat untuk menghilangkan sisa obat di luar botol.
  2. Letakkan di tempat yang tertera dalam kemasan obat. Jika diminta di dalam lemari pendingin, sebaiknya tidak di freezer, tempatkan pada wadah terpisah yang tertutup agar tidak terkontaminasi dari sayuran atau bahan lainnya yang ada dalam lemari pendingin.
  3. Simpan dalam suhu ruangan yang terjaga (26 - 27 derajat Celsius) dan hindarkan dari sinar matahari langsung.

Bolehkah si kecil diberikan obat milik bayi atau anak lain?

Lihat kondisi si kecil. Prinsipnya boleh saja, terbatas obat untuk pertolongan pertama, misalnya penurun panas, asalkan usia atau berat badan antara bayi satu dengan lainnya tidak jauh berbeda, bisa menggunakan aturan pemakaian yang sama. Tapi bila berbeda berat badan maupun usianya tanyakan kepada apoteker Anda. Untuk obat-obat selain obat penurun panas disarankan untuk memeriksakan ke dokter agar pengobatan sesuai dengan kondisi dan dosis yang diperlukan.

Mana lebih baik, obat penurun panas golongan paracetamol atau ibuprofen?

Dua-duanya sama saja, namun kadang ada yang merasa lebih cocok menggunakan paracetamol dibandingkan ibuprofen atau sebaliknya.

Tapi biasanya untuk anak yang memiliki riwayat kejang atau panas yang sulit turun, dokter mungkin mengombinasikan 2 jenis obat penurun panas yang diberikan secara selang-seling.

Untuk kasus yang diduga demam berdarah dengue, pemberian parasetamol menjadi pilihan. Dikarenakan pemberian ibuprofen diduga dapat mengakibatkan turunnya jumlah trombosit.

 

Kapan boleh diberikan obat penurun panas ulang setelah pemberian yang pertama?

Pemberian diulang 4 - 6 jam setelah pemberian obat sebelumnya. Jika panas sulit turun, ibu dapat memberikan bayi minum lebih banyak dan mengompres badannya dengan air hangat.

 

Mana lebih baik, obat penurun panas lewat mulut atau anus?

Sama saja, namun obat yang diberikan melalui anus bereaksi lebih cepat. Tetapi pemberiannya disesuaikan juga dengan keluhan si kecil. Jika bayi muntah, obat akan diberikan melalui anus. Namun jika bayi menderita diare, akan lebih efektif jika obat diberikan lewat mulut.

Bolehkah menghentikan pemberian antibiotik sebelum waktunya?

Tidak boleh karena dapat menimbulkan resistensi/kebalnya kuman terhadap obat. Ibu juga tidak boleh mengganti aturan minumnya, misal: 4x1 menjadi 3x1 karena tiap antibiotik memiliki masa kerjanya sendiri. Seandainya si kecil terlewat 1x waktu minum antibiotik, Ibu tetap memberikannya sesuai petunjuk pemakaian dengan selang waktu lebih singkat, misalnya: seharusnya bayi minum obat pukul 9 tapi dipercepat menjadi pukul 6.

Benarkah pemberian antibiotik pada bayi dapat mengakibatkan gigi kuning saat anak besar?
Saat Ibu masih kecil, ada jenis antibiotik Tetracycline. Nah, jenis ini dapat menyebabkan gigi kuning saat si kecil besar. Namun jangan khawatir karena sekarang sudah jarang digunakan.

Apakah obat paten lebih baik daripada obat generik?

Antara paten dan generik memiliki kualitas yang sama. Dikarenakan memiliki kandungan yang sama pula. Obat paten biasanya jauh lebih mahal dibandingkan obat generiknya dikarenakan bahan tambahan, biaya pengemasan dan biaya promosinya. Namun kadang dokter meresepkan obat paten dikarenakan ada beberapa jenis obat yang belum tersedia generiknya.

 

Mungkinkah terjadi reaksi alergi pada bayi saat pemberian obat? Jika ya, bagaimana ciri-cirinya?
Reaksi alergi karena pemberian obat sangat mungkin terjadi.

Ciri-ciri yang timbul bergantung pada sistem apa yang terkena, misalnya:

  1. Pencernaan, ditandai bayi mengalami mual, muntah sampai diare.
  2. Pernapasan, ditandai dengan suara grok-grok akibat produksi lendir yang berlebih. Bahkan bisa sampai terjadi sesak napas.
  3. Kulit, timbul bercak-bercak merah, gatal sampai melepuh.

Reaksi alergi ini dapat timbul langsung sehabis obat diberikan atau bahkan beberapa hari setelahnya. Jadi, ibu disarankan untuk menyimpan copy resep maupun kuitansi pembayaran obat si kecil guna mencari tahu obat mana yang menimbulkan reaksi alergi. Dengan adanya data obat apa saja yang pernah digunakan, ibu dapat mengetahui riwayat pengobatan si kecil pula.

Apa tindakan orangtua jika bayinya mengalami reaksi alergi obat?

Yang pertama dilakukan adalah menghentikan penggunaan obat untuk menghindari reaksi yang lebih lagi.

Tindakan yang dapat dilakukan bergantung keluhan yang timbul, jika:

  1. Ringan, sebatas gatal dan merah-merah, Ibu cukup menghentikan pemberian obatnya dan beri obat topikal pada daerah yang terkena.
  2. Berat, seperti muntah-muntah, diare sampai sesak, segera hentikan pemberian obat dan bawa ke pusat kesehatan terdekat.

 

Bolehkah menaikkan/menurunkan dosis obat secara mandiri oleh orangtua?

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter, jangan menurunkan/menaikkan dosis secara mandiri. Jika overdosis, dapat mengakibatkan gangguan hati dan ginjal pada jangka panjang. Namun, jika dosisnya kurang, maka obat tidak dapat bekerja secara optimal.

Bagaimana jika bayi memuntahkan obat?

Jika obat yang diberikan langsung dimuntahkan, Ibu bisa memberikan lagi dengan dosis yang sama. Namun jika si kecil muntah setelah 30 menit, Ibu tidak perlu mengulangi, karena usus akan menyerap sebagian besar obat pada waktu 30 - 45 menit setelah pemberian.

Hubungi dokter anak Anda, bila si kecil bolak-balik muntah. Pemberian dosis obat yang terlalu sering bisa menyebabkan muntah maupun diare, terutama pada beberapa jenis antibiotika. Kalau sudah begini, pemberian antibiotika bisa dilakukan dengan cara disuntik.

Bolehkah mencampur obat, misalnya obat sirup dicampur puyer?

Boleh, tetapi Ibu harus memerhatikan waktu pemberiannya. Jangan menggabungkan obat yang seharusnya diminum sebelum makan dengan obat setelah makan.

Manakah yang lebih baik, obat sirup atau puyer?

Sama saja, namun jika obat yang diresepkan jumlahnya banyak, maka demi kepraktisan biasanya dokter meresepkan obat racikan agar si kecil tidak perlu meminum banyak obat.

Bolehkah memberikan obat pada bayi dengan dicampur madu?

Anak-anak sering tidak nyaman dengan rasa obat yang sebagian besar pahit. Untuk memperbaiki rasa sebaiknya bisa diberikan air gula maupun madu murni. Namun kadang dikhawatirkan madu yang beredar belum tentu baik, kadar gula yang tinggi juga bisa menyebabkan batuk. Jika terpaksa harus memberikan puyer yang pahit, Ibu bisa meminta tambahan penetralisir rasa di apotek terdekat.

Bolehkah bayi langsung meminum susu setelah minum obat?

Bergantung jenis obatnya. Ada yang bisa namun ada juga yang menunggu 30 menit setelah pemberian obat, karena ada beberapa obat tertentu yang larut dalam susu.

Ada beberapa obat yang boleh diberikan bersama dengan susu. Misalnya sediaan serbuk Lactobacillus (yang biasa digunakan untuk mengatasi diare pada anak). Namun susu harus diminum semuanya agar obat yang diterima si kecil sesuai dengan dosisnya.

Tip mudah memberikan obat pada bayi?

  1. Ciptakan suasana yang santai, jika si kecil suka mendengar musik maka mainkan musik. Alihkan perhatian agar ia tidak tahu akan diberi obat.
  2. Hindari penggunaan suara keras saat memberikan obat. Gunakan nada lembut dan Ibu dalam kondisi rileks.
  3. Posisikan bayi dengan kepala lebih tinggi agar obat tidak masuk ke paru-paru. Umumnya, memberi obat pada bayi lebih susah, karena ia suka berontak. Makanya, posisi tubuhnya musti pas. Caranya? Pangku si kecil, lalu aturlah agar posisinya setengah duduk.

Catatan: Jangan menelentangkan bayi, sebab obat bisa masuk ke paru-paru. Khusus bayi, sebaiknya obat cair diberikan dengan pipet. Bayi kan belum bisa menelan dari sendok! Ada triknya agar obat tadi benar-benar ditelan si kecil. Misalnya, letakkan pipet di sudut mulut bayi, lalu secara perlahan-lahan keluarkan obat. Letakkan ujung pipet obat di bibir bawah si kecil, biarkan obat mengalir ke dalam mulut.

Leptospirosis Pasca Banjir

Bencana banjir pada puncak siklon tropis Cempaka di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Timur selatan pada Selasa, 28 November 2017 sangat memprihatinkan. Bahaya ikutan setelah banjir surut adalah *penyakit leptospirosis yang mematikan.* Leptospirosis adalah penyakit akibat infeksi bakteri Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia  (zoonosis). Apa yang perlu kita waspadai?

Leptospirosis pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 oleh Dr. Adolf Weil dengan gejala *demam tinggi disertai beberapa gejala saraf serta pembesaran hati dan limpa.* Penyakit dengan gejala tersebut di atas oleh Goldsmith 1887 disebut sebagai Weil's Disease. Pada tahun 1915 Dr. Inada berhasil membuktikan bahwa "Weil's Disease" *disebabkan oleh bakteri Leptospira icterohemorrhagiae.*

Pada tahun 2016  yang lalu kasus leptospirosis di Indonesia mencapai 343 orang, meninggal  47 orang dan CFR (Case Fatality Rate) 13,70%, sedangkan di DIY dengan jumlah kasus 17 orang, meninggal 6 orang, *maka CFR di DIY sangat tinggi, yaitu 35,29%.* Pada usia lebih dari 50 tahun kematian mencapai 56%. Di beberapa publikasi angka kematian dilaporkan antara 3-54% tergantung sistem organ yang terinfeksi.

*Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease).* Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. *Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir.* Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan, *karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira.* Leptospirosis dapat juga mengenai anak, yang tinggal *di lingkungan padat perkotaan dengan banyak tikus rumah yang berkeliaran.*

Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2-26 hari. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan *kadang tanpa gejala, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis, apalagi pada infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat.* Hampir 40% penderita terpapar infeksi tidak bergejala *tetapi pemeriksaan serologis positif.* Sekitar 90% penderita akan *mengalami mata dan kulit kuning ringan, sedangkan 5% kuning berat yang dikenal sebagai penyakit Weil.* Perjalanan penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase, *yaitu fase septisemik dan fase imun.* Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita mungkin terlihat membaik.

*Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh.* Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahan otot. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meningitis), serta *pembesaran limpa dan hati.* Fase Imun sering disebut *fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin,* dan mungkin tidak didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal.

Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit kepala. Pada pemeriksaan hati didapatkan kulit kuning, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun.

*Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai kulit dan mata kuning atau jaundis, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan.* Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu. Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas. Penderita dengan kuning berat lebih mudah terkena gagal ginjal, perdarahan, dan kolaps kardiovaskular. *Kasus berat dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40%.*

Diagnosa Leptospirosis biasanya *dilakukan dengan pemeriksaan serologis.* Antibodi dapat ditemukan di dalam darah pada hari ke-5-7 sesudah adanya gejala klinis. Selain pemeriksaan serologis, untuk mengkonfirmasi infeksi Leptospirosis adalah *Microscopic agglutination test (MAT).* Kultur atau pengamatan bakteri Leptospira di bawah mikroskop berlatar gelap umumnya tidak sensitif. Selain itu, diagnosa juga dapat dilakukan melalui pengamatan bakteri Leptospira pada spesimen organ yang terinfeksi, dengan menggunakan imunofloresen.

Leptospirosis dapat *diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, amoksisillin, eritromisin* dan antibiotika yang lebih baru. Namun demikian, keterlambatan pengobatan, kesalahan diagnosis, ataupun terjadinya Sindrom Weil, *dapat meningkatkan angka kematian atau CFR (Case Fatality Rate).*

Bencana banjir karena siklon tropis Cempaka di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus diantisipasi sebaik mungkin. *Tidak hanya dengan rekonstruksi bangunan paska banjir, tetapi juga peningkatan kewaspadaan akan bahaya leptospirosis.*

Semoga bermanfaat

Yogyakarta, 29 November 2017
*) Sekretaris IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta dan RS Siloam @LippoPlaza, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

e-mail :  fxwikan_indrarto@yahoo.com