HIPERTIROIDISME DAN MANIFESTASI KLINISNYA

Suatu ketika datang kepada saya seorang wanita muda usia 24 tahun dengan keluhan berat badan yang menurun hampir 4 kg dalam 1 bulan dan cepat capai disertai frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari tanpa diare. Pasien merasa bahwa dirinya terkena penyakit kencing manis, tetapi pada saat dilakukan pemeriksaan gula darah sesaat, ternyata hanya 95 mg/dL. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium akhirnya didapatkan diagnose pasien tersebut adalah penderita Hipertiroid dan dengan penanganan yang tepat, gejala yang dirasakannya membaik dan berat badan kembali normal.

Kondisi seperti pasien tersebut banyak didapatkan dalam praktek sehari-hari. Hipertiroid adalah istilah yang menggambarkan adanya produksi hormone tiroid yang berlebihan sehingga menimbulkan gejala klinis. Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar hormone yang terletak di leher, berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang dikenal sebagai Free T4 dan Free T3 atas stimulasi dari Tiroid Stimulating Hormone (TSH) dari kelenjar hipofise. Hormon tiroid bertanggung jawab atas berbagai metabolisme dalam tubuh. Apabila tubuh mengalami kelebihan hormone ini disebut hipertiroid dan bila kekurangan disebut hipotiroid.

Penderita dengan hipertiroid akan menunjukkan gejala-gejala penurunan berat badan, tidak tahan terhadap cuaca panas, rambut rontok, jantung berdebar-debar, sering buang air besar, dan tangan gemetar. Mata yang tampak menonjol (exopthalmus) juga sering ditemukan pada penyakit Graves’ . Kondisi seperti ini disebabkan tertimbunnya jaringan lemak di belakang bola mata yang akan mendorong mata keluar sehingga batas atas kornea tidak tertutup kelopak mata. Sekilas terlihat seperti orang yang sedang marah.  Untuk menegakkan diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kadar Free T4 dan TSHs.  Apabila didapatkan kadar Free T4 yang meningkat dan kadar TSHs yang rendah, maka disebut Hipertiroidisme. Peningkatan kadar free T4 tidak selalu berkorelasi dengan besar-kecilnya kelenjar tiroid. Penyebab hipertiroidisme ini antara lain karena penyakit Graves’ atau autoimun dan  peradangan pada kelenjar tiroid (tiroiditis). Pembesaran kelenjar tiroid pada penyakit Graves’ umumnya bersifat difus atau merata dan teraba lunak. Pada tumor tiroid benjolan teraba keras, bahkan tidak disertai kelainan fungsi tiroid.

Kegawatan yang terjadi pada kondisi hipertiroid disebab Krisis tiroid atau badai tiroid. Kasus ini jarang dijumpai, bahkan pengalaman penulis selama menjalani tugas sebagai dokter penyakit dalam baru dua kasus yang dijumpai. Krisi tiroid terjadi akibat pengeluaran hormone tiroid yang berlebihan, biasanya dipicu oleh infeksi berat, tindakan operasi atau manipulasi kelenjar tiroid yang berlebihan. Kondisi ini memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif dan pasien selalu disertai demam.

Penanganan hipertiroid dapat dilakukan dengan obat-obatan, iodium radioaktif atau pembedahan. Obat yang sering digunakan adalah Propil Thyouracil atau Metimazole yang bisa diberikan sampai jangka waktu yang lama. Monitoring kadar free T4 secara periodik diperlukan untuk mengevaluasi dosis obat yang diberikan. Apabila dengan dosis terkecil, kadar Free T4 berada pada kisaran normal, obat bisa diberhentikan dulu tetapi monitoring kadar Free T4 tetap dilakukan karena ada kalanya kondisi tersebut relaps (kambuh). Pengobatan dengan Iodium radioaktif masih sering dikhawatirkan oleh sebagian pasien. Pengobatan ini tidak perlu dikhawatirkan karena pada prinsipnya hanya memberikan Iodium radioaktif dengan dosis kecil di mana radioaktif tersebut akan mematikan sel-sel kelenjar tiroid yang memproduksi hormon secara berlebihan. Efek samping yang mungkin timbul apabila semua sel-sel kelenjar tiroid tidak berfungsi, maka akan timbul kondisi Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid dan harus minum Levothyroxin seumur hidup. Pengobatan ini menjadi kompetensi dokter spesialis kedokteran nuklir. Operasi atau pembedahan pada dasarnya hanya untuk mengurangi volume atau besarnya kelenjar tiroid, jadi lebih bersifat kosmetik. Berbeda pada tumor ganas tiroid, pembedahan sifatnya harus dilakukan dan secara radikal atau total dan semua jaringan tiroid akan diambil beserta kelenjar getah bening di sekitarnya,  selanjutnya juga dilakukan pengobatan dengan iodium radioaktif untuk mematikan sel-sel ganas yang masih tersisa.

Hal yang terpenting bagi pasien hipertiroid apapun sebabnya, minum obat secara teratur dan monitoring kadar hormone tiroid secara berkala sangat diperlukan. Konsultasi dengan dokter yang menangani akan membantu keberhasilan terapi.

 

Oleh :

dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD

(Bagian Penyakit Dalam-Endokrinologi RS Panti Rapih)

Posted in Penyakit Dalam and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *