Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk!

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

photo by google images

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

 

Oleh:

Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD

 

Posted in Bedah, Penyakit Dalam and tagged , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *