Kategori PPI

  • Tuberculosis(TB) dan Pelayanan Pojok Dots RS Panti Rapih

    Tanggal 24 maret adalah hari Tuberculosis (TB) sedunia, dan menderita penyakit TB bukanlah berakhirnya dunia, dengan semangat dan ketekunan serta kedisliplinan pengobatan niscaya TB dapat di sembuhkan. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri Mycobakterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penularan kuman Mycobacterium Tuberculosis penyebab TBC (yang resminya disingkat TB) ditularkan melalui droplet atau bercak dahak dari pasien yang terinfeksi. Penularan hanya terjadi ketika daya tahan tubuh seseorang berada dalam kondisi sangat lemah. Kondisi sangat lemah tersebut seperti lansia, bayi, penderita HIV/AIDS, penderita Diabetes,penderita kanker dan penyakit penyakit yang menurunkan daya tahan tubuh. Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan Cina. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar 140.000 kematian disebabakan oleh TB. Di Indonesia Tuberkulosis (TB) adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia. Pentingnya edukasi kepada penderita untuk disiplin dalam pengobatan mampu mencegah penularan kuman yg resistensi terhadap OAT (Obat Anti TB). Apabila pasien yang menderita TB dan terpapar obat atau telah mendapat pengobatan namun kemudian belum sembuh sudah putus obat maka kuman yg akan di tularkan termasuk kuman yang resisten terhadap OAT (Obat Anti TB) dan hal ini akan mempersulit penyembuhan penderita TB. Penderita TB RO (TB Resisten Obat) inilah yg berisiko menularkan TB yang resisten obat dimana nanti OAT menjadi tidak efektif lagi. TB resisten bisa terjadi akibat pengobatan TB yang tidak tepat atau tidak standar. Misalnya akibat pasien tidak meminum obat dengan disiplin atau menghentikan pengobatan sebelum saatnya. Bisa pula akibat petugas kesehatan memberikan obat kurang tepat, seperti panduannya, dosis dan lama pengobatan. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menjadi acuan menegakkan diagnosa apakah kita menderita TB atau tidak yaitu TBC dapat dideteksi melalui pemeriksaan dahak. Beberapa tes pendukung lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit menular ini adalah foto Rontgen dada, tes darah, atau tes kulit (Mantoux).Setelah kita benar benar terdiagnosa TB maka dokter akan memberikan kita OAT(obat anti TB), obat yang harus diminum rutin selama waktu tertentu dan dalam pantauan dokter. Maka Pojok DOTS menjadi penting keberadaannya di setiap fasilitas kesehatan untuk memantau secara serius penderita penderita yang sedang dalam pengobatan TB.DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) adalah strategi penyembuhan TB jangka pendek dengan pengawasan langsung yang telah direkomendasikan oleh WHO sejak tahun 1993. DOTS adalah strategi yang paling efektif saat ini untuk menangani pasien TB, dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95 persen. Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung. Pokok bahasan kali ini mengenai TB atau Tuberkulosis, yang di kenal sebagai TBC pada orang dewasa dan istilah flek pada anak anak dan pelayanan Pojok DOTS di RS Panti Rapih. Menurut Ibu Sutini,AMd.Kep perawat Rumah Sakit Panti Rapih yang menggawangi Pojok DOTS, menyebut terdapat penderita baru sekitar. 50-70 penderita setiap tri wulan di setiap tahunnya. Menurut Ibu Sutini yang sudah berkarya sebagai perawat Rumah Sakit Panti Rapih sejak tahun 1989 ini, kasus read more

  • Vaksinasi Mencegah Kesakitan, Kematian, dan Kecacatan Anak

    Merupakan keinginan semua orang tua untuk mempunyai anak yang sehat, tidak sakit, dan tidak cacat. Pertumbuhan dan perkembangannya optimal.  Paradigma anak sehat meliputi sehat fisik, sehat kognitif dan sehat emosi-sosial-moral. Sehat fisik, artinya pertumbuhan dan perkembangan fisik optimal, ditunjukkan dengan perubahan tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, pematangan fungsi organ-organ tubuh sesuai dengan umur. Sehat kognitif. Anak  mempunyai kemampuan untuk mengenali, mengerti, mengingat, membandingkan, mencocokkan, menggabungkan, merangkai, mengekspresikan, menghasilkan ide, pengetahuan, dan ketrampilan baru. Sehat emosi-sosial-moral.  Anak gembira, berani, optimis, percaya diri, dapat mengeksplorasi lingkungan, dapat mengendalikan diri, beradaptasi dengan lingkungan, mengerti baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh. Mengapa anak bisa sakit? Anak sakit karena kekebalan (imunitas) tubuh alamiah tidak cukup mampu melindungi tubuh. Ketika penyebab sakit tidak bisa ditolerir oleh tubuh, maka anak akan sakit. Penyebab sakit antara lain: infeksi, kelainan bawaan, gangguan metabolisme, kekurangan gizi, cedera, kecelakaan, keracunan, penyakit imunologi, dan degeneratif. Sebaliknya, seseorang akan menjadi kebal (imun) terhadap suatu penyakit karena adanya sistem imunitas. Imunitas terbagi menjadi 2 yaitu imunitas alami dan imunitas didapat. Imunitas alami  bersifat aktif dan pasif. Imunitas alami aktif merupakan reaksi tubuh terhadap suatu infeksi, misalnya bila seseorang menderita cacar air, maka dalam tubuhnya kan terbentuk sistem imunitas yang menjaga terulangnya infeksi cacar air.  Imunitas alami pasif didapatkan bayi dari ibunya melalui jalur plasenta. Disini sistem kekebalan ibu “menular” ke janin melalui plasenta. Imunitas didapat mengandung arti bahwa tubuh mendapatkan kekebalan dari rangsangan  luar tubuh. Tubuh disuplai sistem kekebalan dari luar. Suplai disini bisa berupa sel-sel kekebalan yang sudah jadi (injeksi antibodi, disebut imunitas didapat pasif) maupun perangsangkekebalan pada tubuh pasien (vaksinasi, disebut imunitas didapat aktif). Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 dan Survei Demografi dan Kesehatan (SKDI) 2002-2003, kematian  satu bayi (0-12 bulan) terjadi tiap 3, 1 menit dan kematian balita tiap 2, 5 menit. Vaksinasi adalah memberikan kekebalan aktif (kuman) pada seseorang untuk merangsang kekebalan pada tubuh pasien sehingga ia menjadi kebal dan terlindungi dari penyakit tertentu. Mengapa vaksinasi penting? Vaksinasi akan meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah penyakit berbahaya dan komplikasi yang bisa ditimbulkannya. Vaksin merupakan salah satu media intervensi paling efektif untuk mengurangi dan mencegah penyakit infeksi berbahaya. 26 penyakit di dunia ini diketahui dapat dicegah dengan vaksin. Vaksinasi pun sudah dicanangkan sebagai proteksi global. Program Imunisasi di Indonesia ada dua, yaitu PPI  dan non PPI. PPI adalah Program Pengembangan Imunisasi dimana program ini diwajibkan bagi anak pada usia tertentu dan didanai oleh pemerintah. Yang termasuk PPI adalah vaksinasi Hep B, BCG, DPT, anti-Polio, Campak. Non PPI adalah vaksinasi HiB, Hepatitis A, MMR, Varicella, Typhoid. PPI adalah program dasar dan wajib. Bayi umur 6 bulan mendapatkan 16 kali suntikan. Hal tersebut menjadi salah satu sebab program imunisasi kurang berhasil. Jumlah suntikan yang diterima bayi menjadi kekhawatiran orang tua dan hal tersebut menyebabkan terjadinya “drop out”. Solusi untuk mengurangi jumalh suntikan? Dibuatlah vaksin kombinasi. Vaksin Kombinasi adalah vaksin yang terdiri dari dua atau lebih antigen (kuman) berbeda yang dikombinasikan / digabung dalam satu sediaan. Keuntungan vaksin kombinasi adalah: Lebih praktis dan ekonomis Jumlah suntikan berkurang sehingga lebih nyaman. Jumlah kunjungan ke penyedia layanan read more

  • Dermatitis Kontak

    Belakangan ini banyak pasien datang ke rumah sakit dengan gejala ruam kemerahan seperti luka lecet yang disertai keluhan rasa panas dan perih atau gatal. Ruam ini terjadi setempat pada kulit dan kadang-kadang menyebar hingga timbul bercak merah pada beberapa bagian tubuh seperti lengan, leher dll. Dokter mendiagnosis keadaan ini sebagai dermatitis kontak (DK). DK merupakan reaksi kulit terhadap sesuatu seperti alergen atau iritan. Jika terasa panas dan perih, penyebabnya iritan misalnya zat kimia seperti deterjen atau terpentin. Jika ada rasa gatalnya, penyebabnya alergen misalnya serangga atau tanaman (toksikodendron). Orang awam sering menyebutnya luka karena dikencingi coro (lipas kecil). Berbeda dengan biduran (urtikaria) yang muncul dan hilang dalam waktu beberapa menit hingga beberapa jam, DK memerlukan waktu beberapa hari sebelum gejala tsb menghilang. Hilangnya keluhan dan gejala terjadi ketika alergen atau iritan sudah tidak mengenai kulit lagi. Kalau tidak, akan terjadi DK yang kronis. Umumnya DK diobati dengan kombinasi krim steroid untuk mengurangi reaksi inflamasi (merah, nyeri dan bengkak) dan krim antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri. Pada keadaan yang berat, dokter juga meresepkan obat minum kortikosteroid seperti metilprednisolon dan antihistamin seperti loratadin atau cetirizin. Kendati kelihatannya mengerikan terutama kalau ruamnya luas dan mengenai beberapa tempat, DK akan sembuh sendiri ketika kulit sudah tidak terkena alergen atau iritan. dr. Andry Hartono

  • Apendisitis Akut

    Apendisitis (radang usus buntu) adalah peradangan pada apendiks vermiformis (umbai cacing/ usus buntu). Umumnya apendisitis disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) apendiks oleh timbunan tinja/feces yang keras (fekalit), hiperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, kanker dan pelisutan. Faktor kebiasaan makan makanan rendah serat dan konstipasi /susah buang air besar (BAB) menunjukkan peran terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan meningkatkan tekanan lumen usus yang berakibat sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan flora normal usus. Tipe apendisitis: Apendisitis  akut (mendadak). Gejala apendisitis akut adalah  demam, mual-muntah, penurunan nafsu makan, nyeri sekitar pusar yang kemudian terlokalisasi di perut kanan bawah, nyeri bertambah untuk berjalan, namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang, atau mual-muntah saja. Apendisitis kronik. Gejala apendisitis kronis  sedikit mirip dengan sakit asam lambung dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut. Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak apendiks itu sendiri terhadap usus besar, Apabila ujung apendiks menyentuh saluran kemih, nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi apendiks ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik. Perjalanan penyakit apendisitis: Apendisitis akut fokal (peradangan lokal) ↓ Apendisitis supuratif (pembentukan nanah) ↓ Apendisitis Gangrenosa (kematian jaringan apendiks) ↓ Perforasi (bocornya dinding apendiks ) ↓ Peritonitis (peradangan lapisan rongga perut); sangat berbahaya, dan mengancam jiwa Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh Tim Kesehatan untuk menentukan dan mendiagnosis adanya Apendisitis, diantaranya adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi : Pemeriksaan fisik. Pada apendisitis akut, dengan pengamatan akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi). Pada perabaan (palpasi) didaerah perut kanan bawah, seringkali bila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah. Kecurigaan adanya peradangan apendiks semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga. Suhu dubur yang lebih tinggi dari suhu ketiak, lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu. Pemeriksaan Laboratorium. Pada pemeriksaan laboratorium darah, yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah putih (leukosit) . Pemeriksaan radiologi. Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit. Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis (71 ?97 %), terutama untuk wanita hamil dan anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan (93-98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks. Bila diagnosis sudah pasti, maka penatalaksanaan standar untuk penyakit apendisitis (radang usus buntu)adalah operasi. Pada kondisi dini apabila sudah dapat langsung terdiagnosis kemungkinan read more

  • Urtikaria: bentol-bentol Biduran

    Urtikaria (urticaria, wheal, hives, biduran, kaligata, liman) adalah reaksi alergi (melibatkan pembuluh darah atau vaskuler) pada kulit dan selaput lendir yang ditandai dengan bentol-bentol (adakalanya hanya berupa bercak merah) pada kulit, berwarna merah atau berwarna keputihan dan gatal, sebagai akibat pembengkaan antar sel. Berdasarkan waktunya, urtikaria dapat berlangsung akut (≤6 minggu), kronis (> 6 minggu) dan berulang (kambuhan). Angka kejadian urtikaria sekitar 15-20% populasi dalam masa hidupnya. Tidak ada perbedaan ras dan umur. Hanya saja, pada urtikaria kronis (berulang dan lama), lebih sering dialami pada wanita(60%). Faktor pencetus urtikaria, antara lain: makanan tertentu, obat-obatan, bahan hirupan (inhalan), infeksi, gigitan serangga, faktor fisik, faktor cuaca (terutama dingin tapi bisa juga panas berkeringat), faktor genetik, bahan-bahan kontak (misalnya: arloji, ikat pinggang, karet sandal, karet celana dalam, dll) dan faktor psikis. Urtikaria terjadi sebagai akibat pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kepekaan pembuluh darah kecil (kapiler) sehingga menyebabkan pengeluaran cairan dari dinding pembuluh darah, akibatnya terjadi bentol pada kulit. Kondisi ini dikarenakan adanya pelepasan histamin yang dipicu oleh paparan allergen. Urtikaria mudah dikenali, yakni bentol atau bercak meninggi pada kulit, berwarna merah dan berwarna keputihan jika ditekan, gatal, dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran. Penampakan urtikaria beragam, mulai yang ringan berupa bentol merah dan gatal hingga  bengkak pada kelopak mata (bisa satu mata atau keduanya), bibir, daun telinga dan adakalanya disertai demam. Pengelolaan: Menghindari penyebabnya Makanan, diketahui dengan cara: i.Memperhatikan riwayat hubungan antara setiap makan makanan tersebut dengan timbulnya urtika, yakni apakah timbul bila makan dan tidak timbul bila tidak makan makanan tersebut. ii.Yang biasanya menyebabkan, antara lain: ikan, udang, kepiting, telur, jamur, zat aditif: pengawet (asam benzoate), pewarna(golongan azo), ragi. Obat, diketahui dengan cara: Riwayat hubungan penggunaannya dengan timbulnya urtika. Provokasi jika perlu dan tidak membahayakan. iii. Yang biasanya menyebabkan: penisilin, aspirin, vaksin, serum Inhalan, diketahui dengan cara: Riwayat hubungan antara pajanan dengan timbulnya urtika. Yang biasanya menyebabkan: tepung sari, bulu binatang, debu. Gigitan serangga Psikis Tekanan: pada tempat-tempat yang tertekan: ikat pinggang, gelang, jam. Fisik: digores dengan benda kecil, timbul urtika Sinar: pada tempat yang kena sinar matahari Dingin: termasuk udara dingin, bisa dites dengan provokasi dengan tabung berisi air es. Menghilangkan gejalanya Bila ringan, gatal bisa dikurangi dengan kompres dingin, mandi air dingin, bedak calamine yang mengandung menthol. Obat-obat yang lazim digunakan, diantaranya: Antihistamin, secara umum akan menghambat pelepasan histamin pada fase awal dan mengurangi datangnya sel-sel radang. Antihistamin generasi pertama biasanya menimbulkan rasa kantuk yang hebat serta memiliki dampak kurang nyaman pada pasien seperti berdebar–debar. Sedangkan antihistamin generasi kedua memiliki efek kantuk yang rendah pada dosis anjuran, tidak menimbulkan rasa berdebar–debar dan penggunaannya cukup satu kali dalam sehari. Diphenhydramine injeksi. Dosis dewasa: 10-20 mg per dosis, diberikan 3-4 kali sehari, dosis anak: 0,5 mg per kg berat badan per dosis, diberikan 3-4 kali sehari. Hydroxyne HCl (bestalin). Dosis dewasa: 25 mg, diberikan 3-4 kali sehari, dosis anak: 0,5 mg per kg berat badan per dosis, diberikan 3 kali sehari. Cetirizine 10 mg (cetymin, cirrus, estin, falergi, histrine, ryzen, dll), diminum 1×1 sehari. Loratadine 10 mg (alernitis, anlos, clarihis, claritin, clatatin, inclarin, rahistin, dll), read more

  • Infeksi Saluran Kemih (ISK)

    “ISK dapat mengenai semua orang, mulai dari bayi baru lahir sampai dengan orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.” Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih. ISK adalah jenis infeksi yang sangat sering terjadi. ISK dapat terjadi di ginjal, saluran ginjal (ureter), kandung kemih (bladder), atau saluran kencing bagian luar (uretra). ISK secara klinik timbul sebagai ISK bagian bawah dan ISK bagian atas. ISK bagian bawah adalah ISK yang paling sering terjadi.  ISK bagian atas biasanya sering disebabkan oleh kuman yang sama dengan ISK bagian bawah, hal ini terjadi karena ISK bagian bawah tidak diobati secara tepat sehingga kuman tersebut naik dari kandung kemih ke ginjal, dan dapat menyebabkan infeksi yang serius dari ginjal. Urin (air seni) merupakan media yang baik bagi pertumbuhan kuman. Maka dalam urin terdapat  kuman tetapi dalam  jumlah yang masih normal. Mengosongkan kandung kemih adalah cara alami yang dilakukan tubuh agar jumlah kolonisasi kuman dapat ditekan, sekaligus mencegah kuman naik ke saluran kemih bagian atas (ginjal). Di samping itu, tubuh menjaga agar urin yang dikeluarkan memiliki tingkat osmolalitas tinggi, konsentrasi urea tinggi, dan pH asam. Kondisi tersebut menyebabkan urin mempunyai ‘efek antibakteri’. Adanya gangguan terhadap mekanisme alami itulah yang memudahkan terjadinya ISK. Contohnya adalah pasien diabetes melitus, dimana terjadi konsentrasi glukosa urin yang meningkat menjadi media yang sangat baik bagi kolonisasi kuman. ISK dapat mengenai semua orang, mulai dari bayi baru lahir sampai dengan orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.  ISK lebih sering ditemukan pada bayi atau anak kecil dibandingkan dengan dewasa.  Pada bayi sampai umur tiga bulan, ISK lebih sering pada laki-laki daripada perempuan, tetapi selanjutnya lebih sering pada perempuan daripada laki-laki. Wanita lebih sering terkena ISK karena saluran kencing wanita lebih pendek dibanding pria. Ini menyebabkan bakteri lebih mudah masuk ke kandung kemih karena saluran kencing lebih dekat ke sumber bakteri seperti daerah dubur. Pada wanita dengan seksualitas aktif, terdapat faktor lainnya untuk berkembang menjadi ISK, seperti penggunakan kontrasepsi diafragma (kondom wanita) dan metode seksual yang dilakukan. Pada wanita hamil, dapat lebih sering terkena ISK karena adanya perubahan hormonal dan perubahan dari posisi saluran kencing selama kehamilan. Semasa hidup seseorang, risiko ISK meningkat 1-2%. Statistik menunjukkan prevalensi ISK pada wanita muda yang semula hanya 1-2% akan meningkat menjadi 2,8-8,6% di usia 50-70 tahun. Pada pria, prevalensi ISK di atas usia 80 tahun juga tinggi, mencapai 20%. Semakin tua seseorang, status imunnya akan semakin menurun. Maka, semakin mudah pula orang tersebut mengalami infeksi. Kaum geriatrik (lansia) dengan gangguan mood dan penurunan faal kognitif cenderung sulit merawat diri. Kebersihan tubuh terutama daerah genital kurang terjaga. Akibatnya, kuman mudah berkoloni di daerah tersebut sehingga terjadilah infeksi. ISK dibagi menjadi 2 tipe yaitu tidak berkomplikasi (uncomplicated) dan berkomplikasi (complicated). Prinsipnya, semua ISK yang ditemukan pada pria tergolong ISK berkomplikasi, karena struktur anatomi saluran kemih pria menyulitkan terjadinya ISK. Sebaliknya, definisi ISK berkomplikasi pada perempuan lebih ‘lunak’ yaitu bila ditemukan adanya kelainan struktur pada sistem saluran kemih, batu, retensi urin, abses, atau terjadi karena penyebaran melalui aliran darah. ISK pada usia lanjut sebagian besar adalah read more

  • Demam Chikungunya

    Demam Chikungunya disebabkan oleh infeksi virus Chikungunya. Virus ini masih satu keluarga dengan Virus Dengue, penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes Albopictus yang juga nyamuk penular DBD. Demam Chikungunya sering rancu dengan DBD karena mempunyai gejala yang awal yang hamper sama, tetapi gejala nyeri sendi merupakan gejala yang penting pada demam Chikungunya. Tetapi untuk pasti membedakannya adalah dengan pemeriksaan laboratorium darah pada demam hari ke 3. Serangan demam Chikungunya dalam bentuk KLB (kejadian luar biasa) sudah sering terjadi, terutama pada musim penghujan. Nyamuk Aedes yang sudah terinfeksi virus Chikungunya bila menggigit manusia akan menularkan virus Chikungunya. Di dalam tubuh manusia, virus tidak serta merta menimbulkan gejala, tetapi memerlukan masa berkembangbiakan (masa tunas) 1-12 hari untuk dapat menimbulkan gejala. Gejala-gejala Demam Chikungunya adalah Demam mendadak tinggi, disertai menggigil dan muka kemerahan. Panas tinggi selama 2-4 hari kemudian kembali normal. Sakit persendian. Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam dan dapat bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita merasa lumpuh. Sendi yang sering dikeluhkan: sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang. Nyeri otot. Nyeri bisa terjadi pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah bahu. Kadang terjadi pembengkakan pada pada otot sekitar mata kaki. Bercak kemerahan ( ruam ) pada kulit. Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih sering pada hari ke 4-5 demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan, tangan, dan kaki. Kadang ditemukan perdarahan pada gusi. Nyeri kepala: nyeri kepala merupakan keluhan yang sering ditemui. Kejang, biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi, jadi bukan secara langsung oleh penyakitnya. Gejala lain. Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher. Penderita demam Chikungunya sebaiknya diisolasi dari gigitan nyamuk, sehingga dapat mencegah penularan ke orang lain. Setiap orang dapat mencegah gigitan nyamuk vektor dengan kelambu, repelan, obat nyamuk bakar dan semprot atau dengan kasa anti nyamuk. Pencegahan terbaik adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Adanya gerakan PSN di suatu desa atau wilayah hunian akan berdampak pada penurunan angka kejadian Demam Chikungunya. Pengobatan demam Chikungunya adalah pengobatan simptomatis (menghilangkan gejala) dengan obat demam, dan  atau anti-nyeri, disertai istirahat, dan makan minum cukup. Perjalanan penyakit ini umumnya cukup baik, karena bersifat self limited, yakni akan sembuh sendiri. Belum ditemukan obat spesifik untuk penyakit ini. Juga belum ditemukan vaksinasi yang berguna sebagai tindakan preventif. Namun pada penderita yang telah terinfeksi timbul imunitas / kekebalan terhadap penyakit ini dalam jangka panjang. http://www.chikungunya.in http://www.who.int

  • Flu Babi (Swine Flu)

    Secara internasional, flu babi disebut sebagai swine flu. Jadi jangan sepolos saya yang mencari di search engine dengan keyword: pig flu. Duh, bodohnya saya. Beranjak dari kebodohan itu, mari kita bahas satu-satu mengenai flu ini, dan mengapa kita tidak perlu panik menghadapinya. Pandemi Spanish Flu tahun 1918 membuat para ahli kesehatan masyarakat selalu waspada atas potensi pandemi yang sama. Setelah SARS dan avian influenza (flu burung, walau lebih tepat disebut flu unggas), kini ada ancaman serupa yang disebut sebagai flu babi atau swine flu. Potensi pandemi ini telah menyalakan alarm kewaspadaan di seluruh perbatasan negara di dunia termasuk Indonesia. Total kematian akibat flu ini dalam beberapa minggu ini telah melampaui seluruh korban meninggal akibat flu burung di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Flu babi disebabkan oleh virus influenza A H1N1. Bedakan dengan flu burung yang H5N1. Sama dengan flu burung, ada tiga tingkatan diagnosis flu babi, yaitu kasus suspect, probable, dan confirmed. Seseorang dikatakan suspect flu babi bila menderita suatu penyakit saluran nafas dengan demam yang tiba-tiba dengan salah satu kondisi berikut: Kontak dengan penderita kasus flu babi confirmed dalam 7 hari terakhir, atau Melakukan perjalanan ke Amerika Serikat atau daerah lain di mana terdapat minimal satu kasus confirmedflu babi, atau Tinggal di tempat di mana ada minimal satu kasus confirmedflu babi. Seseorang dikatakan probable flu babi bila menderita suatu penyakit saluran nafas dengan demam yang tiba-tiba dan memenuhi salah satu kriteria berikut ini: Positif untuk influenza A namun negatif untuk H1 atau H3 dengan RT PCR. Positif untuk influenza A dengan influenza rapid test atau immunofluorescent assay ditambah memenuhi kriteria suspect. Seseorang dikonfirmasi sebagai penderita flu babi bila menderita suatu penyakit saluran nafas dengan demam yang tiba-tiba dengan konfirmasi virus influenza H1N1 yang diperiksa dengan real time PCR atau kultur virus. Mari kita tidak usah pusing dengan klasifikasi tersebut. Mari kita fokus pada bagaimana gaya hidup kita bisa menghindarkan kita dari resiko penularan flu babi. Tidak ada literatur yang saya baca di CDC menyebutkan keterlibatan babi dalam penularan virus flu ini. Virus ini memang menular dengan sangat cepat di antara babi-babi di peternakan, tapi sedikit sekali kasus manusia tertular dari babi, apalagi dari dagingnya. Itulah sebabnya saya heran kenapa Indonesia serta merta menghentikan impor daging babi. Manajemen emosional khas Indonesia. Walau demikian, babi memang menjadi tempat yang potensial perkembangan strain virus baru yang berbahaya bagi manusia mengingat tingginya kompatibilitas manusia dengan babi. Flu babi menular melalui droplets bersin orang sakit. CDC menggarisbawahi bahwa tidak mungkin satu perilaku dapat mencegah penularan flu babi. Perlu beberapa perilaku, yaitu cuci tangan (dengan sabun atau bahan yang mengandung alkohol), menutup mulut dan hidung saat batuk, tinggal di rumah saja selama sakit (kecuali untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan), dan meminimalkan kontak dengan anggota rumah tangga yang lain. Apabila memerlukan diri untuk keluar dari rumah, orang sakit diharapkan mengenakan masker atau respirator (bentuknya seperti yang biasa dipakai para pekerja sampah). Bila keduanya tidak ada, boleh memakai sapu tangan atau sleyer saja. Membatasi kontak sosial juga merupakan langkah yang penting. Kontak sosial sementara lewat sini saja dulu. CDC menetapkan jarak 6 kaki (WHO menulis kira-kira satu meter) sebagai jarak yang bisa diterima bila harus melakukan kontak sosial bagi penderita sakit saluran pernafasan. Nah, kapan anda read more

  • Mencegah Penyakit Pneumokokus

    Orang Dewasa Juga Perlu di Vaksinasi, untuk mencegah penyakit Pneumokokus. Apakah yang Dimaksud dengan Penyakit Pneumokokus? Penyakit Pneumokokus adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus. Infeksi yang ditimbulkan adalah : Meningitis : infeksi pada jaringan yang mengelilingi sumsum tulang belakang dan otak Pneumonia : infeksi paru-paru Bakteremia : bakteria dalam aliran darah Otitis Media : infeksi telinga tengah Gejala dari Penyakit Pneumokokus meliputi : demam menggigil nyeri dada peningkatan denyut jantung batuk lemah mual sesak nafas Otitis Media menyebabkan : mengakibatkan menangis, menarik telinga, demam, lekas marah, kurang pendengaran dan kadang diare serta muntah. Pneumococcus adalah spesies bakteri pertama ditemukan ada sebagai diploid, dua organisme bersama-sama. Sebagai bakteri membagi asosiasi ganda & baru untuk membentuk rantai panjang yang memungkinkan bakteri untuk tetap bersama dan membentuk koloni. Bakteri ini sekarang semakin kebal terhadap antibiotik (resisten) dikarenakan ia mudah berevolusi. Sehingga dikawatirkan dikemudian hari sulit sekali diobati. Orang Dewasa Mempunyai Risiko Untuk Mengidap Penyakit Pneumokokus Ya. Orang dewasa tetap bisa terkena bakteri ini. Orang dewasa muda mempunyai risiko terhadap penyakit pneumokokus jika mempunyai faktor resiko sebagai berikut : merokok, menderita flu, menderita penyakit kronik tertentu seperti penyakit kronik pada jantung, asma, hati, paru, ginjal dan diabetes. Menderita penyakit pneumokokus dapat mengubah hidup anda. Orang dewasa usia lanjut lebih beresiko terhadap penyakit pneumokokus karena fungsi kekebalan tubuh yang menurun. Bagaimana Cara Mencegah Penyakit Pneumokokus ? Vaksinasi : vaksinasi sangat penting untuk mencegah penyakit pnemokokus dan komplikasinya. Vaksinasi merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membantu mencegah infeksi yang akan datang atau penyakit Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa vaksinasi dapat melindungi anak dan orang dewasa terhadap penyakit pnemokokus vaksinasi adalah langkah yang dapat menurunkan insiden penyakit pnemokokus dan mencegah terjadinya penyakit pnemokokus di masa depan. Satgas imunisasi dewasa indonesia merekomendasikan pemberian vaksinasi untuk mencegah penyakit pneumokokus pada anak dan dewasa. vaksinasi semua orang berusia 50 tahun ke atas vaksinasi orang berusia 19 tahun ke atas dengan kondisi berikut : imunokompromais (immunodefisiensi bawaan atau dapatan, HIV/AIDS, gagal ginjal kronis, sindroma nefrotik, leukemia, limfoma, Hodgkin disease, kanker, immunosupresi iatrogenik, pasien yang mendapatkan transplantasi organ, mieloma multipel), asplenia fungsional atau anatomis (sickle cell desease / kelainan hemoglobin lain), pasien dengan implan koklea, dan kebocoran cairan serebrospinal. Mereka yang termasuk dalam klelompok diatas dan belum pernah vaksinasi PPSV23, dianjurkan untuk vaksinasi 1 dosis PCV13 terlebih dahulu. Lanjutkan dengan vaksinasi PPSV23 minimal 8 minggu setelah pemberian vaksin PCV13 Vaksinasi seluruh calon jemaah haji dan umrah; perlu diperhatikan agar vaksinasi telah memberikan proteksi sebelum jemaah haji/umrah berangkat Bila sebelumnya sudah pernah vaksinasi PPSV23, berikan vaksin PCV13 dengan jeda minimal 1 tahun setelah pemberian vaksin PPSV23 Ada banyak hal dalam hidup Anda yang tidak dapat dikendalikan, jangan abaikan yang dapat Anda kendalikan untuk meningkatkan kualitas hidup Anda. Vaksinasi dewasa dan pemeriksaan berkala, adalah bagian dari penuaan yang sehat, jika dilakukan bersama dengan diet seimbang dan latihan jasmani.

  • Kebersihan Tangan

    Keselamatan pasien telah menjadi isu global. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit, yaitu: keselamatan pasien, keselamatan petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan yang berdampak terhadap pencemanaran lingkungan dan keselamatan “bisnis” rumah sakit yang terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Namun harus diakui bahwa kegiatan institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien. Karena itu keselamatan pasien merupakan prioritas utama. Keselamatan Pasien adalah unsur yang paling penting dalam pelayanan kesehatan, oleh karena itu Sasaran Keselamatan Pasien merupakan salah satu bab dasar dalam penilaian akreditasi. Kelompok sasaran ini menggarisbawahi mengenai ketepatan identitas, peningkatan komunikasi, keamanan obat, pembedahan yang aman, pengurangan resiko infeksi, dan pengurangan resiko pasien jatuh. Salah satu cara pengurangan resiko infeksi adalah dengan cuci tangan. Cuci tangan 6 langkah menurut WHO dapat meminimalisir terjadinya penyebaran infeksi di Rumah Sakit. Kebersihan Tangan Kebersihan tangan mengacu pada proses membersihkan tangan dengan melakukan cuci tangan dengan menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol. Dalam pengaturan kesehatan, cuci tangan yang benar adalah cara paling sederhana untuk mengurangi lintas transmisi mikroorganisme yang terkait dengan infeksi yang menyebabkan peningkatan lama waktu dirawat , peningkatan biaya perawatan, dan bahkan kematian. Mengukur Kepatuhan Cuci Tangan Pelayan Kesehatan RS Panti Rapih Proses pengukuran Kepatuhan Cuci Tangan Pelayan Kesehatan di RS Panti Rapih mencakup semua Pelayan Kesehatan: dokter, perawat, asisten perawat, dan pelayan kesehatan lain yang berada di Instalasi rawat Jalan, IGD, Rawat Inap (16 ruang rawat inap), Instalasi Hemodialisa, Laboratorium, dan Instalasi Radiologi. Unsur yang diukur meliputi Kepatuhan Cuci Tangan 6 Langkah dan 5 Moment. Komite Mutu dan Keselamatan Pasien (KMKP) RS Panti Rapih bersama dengan Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) RS Panti Rapih, manajemen rumah sakit dan pemangku kepentingan klinis telah bekerja sama untuk menyempurnakan program kebersihan tangan sejak tahun 2013. Program yang dilakukan termasuk pelatihan dan penilaian Pelayan Kesehatan di semua bagian. Komite Mutu dan Keselamatan Pasien dan Komite Pencegahan bersama Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi RS Panti Rapih melakukan monitoring kepatuhan Pelaksanaan 6 Langkah Cuci Tangan dan Kepatuhan Pelaksanaan 5 Moment Kebersihan Tangan Pelayan Kesehatan melalui observasi tertutup. Ini berarti bahwa Pelayan kesehatan tidak menyadari bahwa mereka sedang diamati oleh auditor. Hal ini dilakukan karena auditee cenderung memiliki kecenderungan untuk mengubah perilaku mereka ketika mereka tahu bahwa mereka sedang di audit (Hawthorne effect). Kepatuhan Pelaksanaan 5 Moment didefinisikan sebagai jumlah Pelayan Kesehatan yang melalukan five moment cuci tangan dengan benar dibagi dengan jumlah Pelayan Kesehatan yang dilakukan survey , dikalikan dengan 100 dan dinyatakan sebagai persentase. RS Panti Rapih mengadopsi pedoman Organisasi Kesehatan Dunia “WHO” pada “5 Moments of Hygiene” ¹, yaitu : Sebelum bersentuhan pasien, sebelum melakukan tindakan invasif, setelah bersentuhan dengan ekskresi, setelah menyentuh pasien, dan setelah menyentuh lingkungan pasien. Kepatuhan Pelaksanaan 6 Langkah Cuci Tangan didefinisikan sebagai jumlah petugas yang melakukan 6 langkah cuci tangan dengan benar dibagi jumlah petugas yang dilakukan survey, dikalikan dengan 100 dan dinyatakan sebagai persentase. Pelatihan staf Pelayan Kesehatan tentang  kebersihan tangan dilakukan bersamaan dengan orientasi bagi pegawai baru, penempelan poster read more