Nyeri Pascaherpes

“Dokter, kulit saya sudah bersih tidak ada herpes lagi, tapi mengapa rasanya masih sakit?”. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang kerap diutarakan oleh pasien yang pernah mengalami herpes zoster di kulit. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana cara menanganinya? Artikel ini akan membahas secara khusus tentang nyeri pasca herpes atau dikenal pula dengan istiah pastherpetic neuralgia (PHN).

Virus Varicellazoster merupakan salah satu jenis virus yang sering menginfeksi manusia. Pasien yang terinfeksi virus Varicella zoster untuk pertama kalinya akan mengalami penyakit varicela atau biasa disebut ‘cacar air’ oleh orang awam.

Penyakit tersebut ditandai dengan adanya benjolan di kulit yang berisi carian, tersebar diseluruh tubuh, disertai oleh keluhan lain seperti demam dan lemas. Penyakit ‘cacar air’ ini bisa muncul pada anak. Dengan penanganan yang tepat, penyakit ‘cacar air’ akan membaik dalam waktu kurang lebih 7 hari. Meski demikian, virus Varicella zoster sebagai penyebab dari penyakit tersebut tidak mati, melainkan ‘bersembunyi’ di dalam selaput saraf sensoris (serabut saraf penerima rangsang) penderitanya.

Pada saat kekebalan tubuh penderita menurun, virus Varicella zoster yang “bersembunyi” tersebut akan kembali menginfeksi tubuh untuk kedua kalinya dan menimbulkan penyakit yang disebut dengan herpes zoster atau biasa disebut sebagai “dompo” oleh masyarakat Jawa. Rentang waktu dari serangan infeksi pertama dengan serangan infeksi kedua ini sangat bervariasi, dapat mencapai belasan hingga puluhan tahun. Wujud kelainan kulit pada penyakit herpes zoster mirip dengan penyakit “cacar air” yaitu adanya benjolan di kulit yang berisi cairan.

Perbedaannya adalah pada herpes zoster benjolan tersebut bergerombol di area tertentu tergantung dari lokasi serabut saraf yang terinfeksi, sedangkan pada “cacar air” benjolan tersebut tersebar di seluruh tubuh. Daerah yang sering mengalami herpes zoster adalah daerah dada dan pinggang.

Penderita herpes zoster juga akan mengalami rasa nyeri pada bagian tubuh yang terserang. Sebagian pasien mendeskripsikan nyeri yang dirasakan sebagai rasa perih, seperti tertusuk-tusuk, atau sensasi panas. Nyeri akan muncul terus menerus dalam jangka waktu yang lama (3 bulan atau lebih) meski permukaan kulit sudah sembuh. Kondisi inilah yang disebut sebagai PHN. Dengan kata lain, PHN merupakan komplikasi dari herpes zoster.

Nyeri pada PHN termasuk nyeri dengan intensitas sedang hingga berat sehingga sangat menganggu aktivitas, dapat menimbulkan gangguan tidur, dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Beberapa pasien bahkan dapat mengalami depresi aktivitas PHN. Penyakit herpes zoster dan PHN dialami oleh orang dewasa. Semakin tua usia seseorang dan semakin rendah daya kekebalan tubuh seseorang, maka risiko untuk mengalami herpes zoster dan PHN akan semakin meningkat.

Derajat keparahan PHN dapat diturunkan dengan pengobatan yang adekuat serta sedini mungkin saat pasien masih mengalami herpes zoster. Pemberian obat antivirus seperti asiklovir, tamsiklovir dan valasiklovir adalah obat pilihan dalam menangani herpes zoster. Pada pasien yang telah mengalami PHN, tujuan utama dari pengobatan adalah untuk menurunkan derajat keparahan nyeri sehingga kualitas hidup menjadi lebih baik. Peanganan yang diberikan dapat berupa kombinasi dari beberapa obat seperti obat anti depresan, obat anti kejang, obat antiperadangan, dan obat anti nyeri lainnya.

Penyakit herpes zoster biasa ditangani oleh dokter spesialis kulit, sedangkan PHN biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Apabila Anda mengalami kondisi seperti tersebut di atas, segeralah berkonsultasi dan mencari pengobatan dari dokter yang tepat. Penanganan herpes zoster sedini mungkin dan penanganan PHN yang tepat akan menurunkan derajat keparahan nyeri dan memperbaiki hidup penderita.

 

Oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

Dokter RS Panti Rapih

Posted in Kulit dan Kelamin and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *