Puasa Tidak Hanya Melangsingkan Tubuh tetapi juga Membuat Awet Muda

Umat muslim di seluruh dunia sedang menyambut dengan suka cita datangnya bulan Ramadhan. Pada bulan suci ini umat Islam menjalankan ibadah puasa selama 30 hari penuh. Bagi sebagian besar orang, bulan puasa dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menurunkan berat badan. Lebih dari itu, menurut Shinya (2014), dalam bukunya Keajaiban Enzim Awet Muda, puasa sebenarnya memberikan sedikit rasa lapar agar tubuh memiliki kesempatan untuk membangkitkan pabrik daur ulang tubuh, dengan membangkitkan enzim awet muda dan kemampuan regenerasi tubuh.

Selama berpuasa, umat muslim di Indonesia, pantang makan dan minum selama kurang lebih 14 jam. Tubuh yang telah terbiasa menerima makanan lezat dan berkalori tinggi setiap harinya akan mulai terlempar dari zona nyamannya. Akibatnya, mulai timbul perlawanan tubuh berupa keluhan kesehatan di awal-awal berpuasa seperti rasa pusing, lambat berpikir, mual, lemas, mengantuk, keringat dingin, dan rasa mudah marah.  Namun tahukah Anda, dibalik penderitaan dan ketidaknyamanan saat berpuasa, mengendalikan, dan menahan rasa lapar, ada begitu banyak manfaat berpuasa bagi kesehatan tubuh manusia, terutama bagi mengembalikan kondisi vitalitas organ tubuh menjadi lebih muda.

Beberapa penelitian terkini di bidang kedokteran antiaging, meskipun sebagian besar masih terbatas pada uji hewan dan sel jamur, membuktikan manfaat besar puasa bagi fungsi metabolism tubuh, dan melawan penuaan. Beberapa penelitian tentang efek puasa pada model hewan uji membuktikan bahwa berpuasa dan pemangkasan kalori sebesar 10-30% memiliki efek memperpanjang usia.

Seorang ahli biologi Jepang, Yoshinori Ohsumi menerima hadiah nobel di bidang kedokteran tahun 2016 untuk penelitiannya mengenai efek puasa pada sel jamur. Menurut Ohsumi, puasa mengaktifkan proses autofagi, suatu proses dalam sel yang dapat memperlambat proses penuaan dan meremajakan sel. Proses autofagi adalah suatu proses pembersihan sampah sel dan berperan dalam proses detoksifikasi atau penawaran racun yang sangat dibutuhkan oleh semua organisme, termasuk manusia.

Menurut salah satu teori penyebab penuaan, penuaan disebabkan oleh penumpukan sampah-sampah sel yang mengganggu proses pembentukan energi di mitokondria, kerusakan, dan kematian sel. Meningkatnya kerusakan dan kematian sel merupakan proses awal terjadinya penyakit kronis, seperti penyakit kepikunan (demensia),  jantung, dan stroke. Melalui proses puasa, terjadi peningkatan aktivitas pembersihan sampah sel (autofagi), proses daur ulang sampah menjadi protein-protein baru untuk fungsi regenerasi organ/jaringan. Lingkungan intrasel yang kembali bersih, akan meningkatkan fungsi mitokondria sebagai penghasil energi. Dengan demikian kesehatan dan vitalitas tubuh kita terjaga, fungsi regenerasi dan peremajaan organ tubuh menjadi jauh lebih baik.

Lalu, bagaimanakah efek puasa pada manusia? Beberapa ilmuwan dari Jepang yang dipimpin oleh Dr. Takayuki Teruya, dari Okinawa Institute of Science and Technology Graduate University, yang dimuat dalam jurnal Nature, 2019, telah melakukan penelitian tentang efek puasa pada manusia. Okinawa sendiri adalah nama suatu daerah di Jepang yang sangat terkenal dengan penduduknya yang awet muda, sehat, berumur panjang, dan memiliki jumlah penduduk berusia lebih dari 100 tahun terbanyak di dunia.

Penelitian tersebut menjawab pertanyaan tentang apa saja yang terjadi dalam tubuh manusia selama berpuasa? Puasa tampaknya sebagai proses pasif, saat dimana tubuh seakan-akan beristirahat untuk sementara waktu. Namun ternyata, saat tubuh kelaparan, terjadi peningkatan aktivitas metabolisme. Peningkatan aktivitas metabolisme ditandai dengan peningkatan 44 jenis metabolit (asam amino dan protein), yang diantaranya bahkan meningkat sebanyak 60 kali dibandingkan kondisi normal. Hasil metabolit yang terbentuk menunjukkan bahwa selama berpuasa terjadi aktivitas perbaikan pembakaran energi oleh mitokondria, peningkatan aktivitas pembersihan sampah sel, proses antiperadangan, dan peremajaan sel di seluruh tubuh.

Penelitian tersebut juga menghasilkan suatu penemuan di luar dugaan, yang belum pernah ditemukan sebelumnya: bahwa puasa ternyata juga meningkatkan kandungan senyawa asam amino purine dan pyrimidine. Peningkatan senyawa amino tersebut menunjukkan bahwa saat berpuasa terjadi peningkatan sintesis protein dan perbaikan ekspresi gen. Artinya, saat puasa, sel-sel tubuh manusia lebih aktif melakukan fungsi regenerasi dengan meningkatkan sintesis berbagai jenis protein yang dibutuhkan. Peningkatan purine dan pyrimidine juga merupakan suatu tanda bahwa tubuh meningkatkan pembentukan antioksidan. Antioksidan yang meningkat saat berpuasa diantaranya adalah ergothioneine dan carnosine. Antioksidan adalah senyawa yang dibentuk oleh tubuh dalam melawan radikal bebas akibat stres oksidatif penyebab penuaan dini dan penyakit kronis.

Manfaat berpuasa diatas tentu saja harus diimbangi dengan pemilihan diet yang baik dan benar saat berbuka puasa, yaitu dengan tetap memperhatikan jumlah kalori yang masuk dan keseimbangan jenis zat gizi. Itulah tantangan terbesar dalam berpuasa. Saat berpuasa, tubuh akan cenderung untuk memilih makanan yang manis secara berlebihan selama berbuka. Selain itu penekanan nafsu makan selama berpuasa akan menimbulkan dorongan untuk mencari makanan yang lezat kaya lemak dan makan berlebihan.

Oleh sebab itu, agar pembaca mendapatkan manfaat berpuasa secara optimal, saya akan memberikan tips-tips diet yang sehat dan benar. Pertama dan yang paling penting adalah dengan menghindari makanan yang terlalu manis dari karbohidrat sederhana. Jenis gula itu akan meningkatkan proses glikasi yaitu pengikatan protein oleh glukosa menghasilkan senyawa Advance Glycation End Products (AGEs). Peningkatan AGEs akan mempercepat proses penuaan organ tubuh, juga menjadikan kulit mudah keriput dan berjerawat. Contoh  sumber karbohidrat sederhana adalah gula pasir, gula sukrosa dan fruktosa yang terdapat dalam minuman kemasan, tepung-tepungan, dan nasi putih. Mie, pasta, dan roti adalah suatu bentuk karbohidrat kompleks yang memiliki sifat seperti karbohidrat sederhana, sehingga harus dibatasi juga asupannya. Mulailah beralih pada konsumsi karbohidrat yang lebih sehat, yaitu jenis karbohidrat kompleks berkualitas tinggi yang kaya vitamin, mineral, dan antioksidan seperti nasi merah, nasi hitam, oat, ubi-ubian, dan perbanyak sayuran serta buah yang kaya warna. Gantilah gula pasir dengan jenis gula lain yang lebih sehat, seperti ekstrak daun stevia atau menggunakan daun stevia asli.

Cara kedua adalah menghindari berbuka puasa dengan makanan yang mengandung lemak jenuh seperti gorengan, martabak, dan makanan yang kaya santan. Lemak jenuh mengandung LDL yang mudah mengendap di pembuluh darah, menghasilkan plak lemak, dan apabila plak tersebut lepas akan mengakibatkan penyakit jantung koroner dan stroke.

Demikian, ulasan secara ilmiah mengenai manfaat berpuasa bagi kesehatan dan fungsi awet muda tubuh. Semoga di bulan puasa nan penuh berkah ini, pembaca senantiasa diberi kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa, dan memperoleh manfaat sebesar-besarnya berpuasa bagi kesehatan. Sehingga pada saat hari kemenangan tiba, tidak hanya rohani dan jiwa para sahabat yang menjadi baru kembali, namun tubuh pun menjadi lebih baru dan bugar, wajah lebih tampak awet muda, dan berseri. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Posted in Umum and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *