SKIZOFRENIA (GANGGUAN JIWA BERAT YANG BISA TERKONTROL DAN BERAKTIVITAS)

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat, dimana penderita mengalami gangguan realita dan  logika. Biasanya muncul saat masa remaja/dewasa muda, tetapi juga telah diketahui muncul pada orang di atas 40 tahun.

Pada pasien dengan gangguan skizofrenia terdapat dua gejala yakni: gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif yang timbul antara lain berupa: gangguan waham di mana terjadi gangguan isi pikir dimana pasien mengalami keyakinan yang tidak rasional/masuk akal (menjadi orang besar, curiga berlebihan, rasa permusuhan); adanya halusinasi yakni pengalaman panca indra tanpa rangsang/sumbernya; sikap pasien gaduh, gelisah, tidak dapat diam, agresif, mondar-mandir; terjadi alam pikir yang kacau dan ditunjukkan dari isi pembicaraan yang kacau, pasien juga merasa dikendalikan, disisipi, disiarkan, disedot pikirannya, dll. Sedangkan gejala negatif yang timbul pada pasien, meliputi: alam perasaan tumpul, datar/tdk ada ekspresi; menarik/mengasingkan diri, tidak mau bergaul/kontak dengan orang lain, suka melamun; kontak emosi miskin, sukar diajak bicara; sulit berpikir abstrak; mengabaikan kebersihan pribadi; pasif & apatis

Berbicara tentang gangguan jiwa, tentu bermacam-macam penyebabnya. Penyebab gangguan jiwa dapat berasal dari faktor: biologis, psikologis, dan sosial. Penyebab faktor biologis ini biasanya disebabkan oleh adanya peningkatan neurotransmitter di dalam otak sehingga muncul gejala-gejala seperti yang sudah diuraikan. Penyebab psikologis terdiri dari tiga hal, yakni: dari individu tersebut (kepribadian rentan), situasi (stressor sosial), dan reaksi (respon individu setelah mendapat stresor menimbulkan sakit). Penyebab sosial antara lain: terjadi peristiwa yang menimbulkan perubahan dalam kehidupan seseorang, dan tidak semua orang dapat melakukan adaptasi sehingga menimbulkan keluhan kejiwaan.

Penanganan gangguan skizofrenia dewasa ini belum cukup memuaskan karena ketidaktahuan keluarga atau masyarakat tentang penyakitnya, terlebih adanya stigma yang berpendapat bahwa skizofrenia tidak dapat diobati dan berujung pada perlakuan yang diskriminatif dan pertolongan yang tidak memadai. Meskipun skizofrenia dapat menyusahkan dan menakutkan, tidak berarti bahwa orang dengan gangguan ini tidak dapat memiliki kualitas hidup yang baik dan mungkin untuk dipekerjakan. Sama seperti orang lain yang memiliki penyakit jangka panjang atau berulang, orang dengan skizofrenia dapat belajar untuk mengelola kondisi mereka dan melanjutkan kehidupan mereka

Penyakit Skizofrenia cenderung berlanjut menjadi kronis dan menahun sehingga terapi perlu lama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menekan sekecil mungkin angka  kekambuhan. Terapi diperlukan secara komprehensif dan holistik (menyeluruh). Terapi yang dilakukan terdiri dari terapi psikofarmakologi, psikoterapi, terapi sosial (bertujuan agar pasien dapt berinteraksi kembali secara sosial), terapi rohani (bertujuan agar pasien dapat melakukan kegiatan keagamaan kembali), terapi rehabilitasi (terapi ini dilakukan pada pasien skizofrenia yang mengalami kekambuhan, dan bertujuan untuk mempersiapkan penempatan kembali ke keluarga dan masyarakat. Terapi ini diintegrasikan dengan terapi keterampilan seperti: mengasah keterampilan, bercocok tanam, rekreasi, kesenian, kerajinan, dll)

Menjaga agar tidak terjadi kekambuhan merupakan hal yang penting. Kekambuhan mungkin terjadi bila obat dihentikan/tidak digunakan secara rutin, maka sangat penting penderita skizofrenia agar sepakat dengan dokter serta keluarga mengenai rencana terapi dan pencegahan kekambuhan. Jika  minum obat, penting menggunakan obat yang diresepkan pada dosis dan waktu yang tepat setiap hari. Salah satu kendala upaya penyembuhan adalah STIGMA sehingga penderita  disembunyikan, dikucilkan, diisolasi, dipasung. Dewasa ini pemerintah pun juga turut membantu berupaya untuk menghilangkan stigma tersebut. Program ini bersama-sama dengan tenaga kesehatan untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang hal  gangguan, sehingga pasien  dapat berperan serta dalam upaya pencegahan, terapi, rehabilitasi, dapat menerima kembali penderita ke keluarga  masyarakat, tidak merasa fobia dan diskriminatif.

Pasien skizofrenia yang memiliki dukungan keluarga dan sering mendapatkan terapi atau bekal keterampilan hidup (berfungsi) lebih baik dibandingkan yang terisolasi. Mereka yang hidup sendiri  masih perlu dukungan dari keluarga dan teman. Sebuah lingkungan yang stabil dapat membantu pasien mempertahankan terapi dan tetap menjaga komunikasi secara rutin dengan dokter mereka dan tenaga kesehatan. Keberhasilan terapi gangguan jiwa berat (skizofrenia) tidak hanya terletak pada terapi obat dan jenis terapi lainnya, tetapi juga peran serta keluarga & masyarakat turut menentukan.

 

Oleh :

dr. MG Rini Arianti, SpKJ

(Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Panti Rumah)

 

 

 

 

Posted in Rehabilitasi Medik and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *