STOP STIGMA SELAMA PANDEMI COVID-19

Pandemi merupakan suatu situasi dimana terdapat sebuah penyakit yang dialami oleh masyarakat di berbagai negara di dunia dalam waktu yg relatif bersamaan. Seperti yang telah kita ketahui bersama, dunia tengah dilanda pandemi COVID-19. Kasus positif COVID-19 pertama di Indonesia diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020. Segera setelah kasus tersebut diumumkan, rakyat Indonesia bergegas mempersiapkan diri untuk menghadapi penyakit tersebut.

Pemerintah, petugas medis, petugas paramedis, hingga relawan bahu membahu mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki untuk menangani dan mencegah penyebaran penyakit ini. Para donatur dari berbagai kalangan senantiasa memberikan bantuan material yang diperlukan oleh tenaga kesehatan. Dukungan juga datang dari dunia pendidikan, dimana sekolah dan perguruan tinggi mengganti kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi kegiatan belajar mengajar jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi. Tempat ibadah dan para pemuka agama dari berbagai agama juga menghimbau para umatnya agar beribadah di rumah masing-masing untuk sementara waktu. Gerakan social distancing, physical distancing, dan stay at home juga turut digalakkan dikalangan masyarakat.  Seluruh hal tersebut merupakan upaya untuk mencegah penyebaran virus corona.

Stigma di Tengah Pandemi COVID-19
Dibalik seluruh perjuangan yang tengah kita lakukan saat ini, ternyata masih ada sekelompok orang yang memberikan stigma kepada para petugas medis, petugas paramedis, dan bahkan kepada para pasien. Beberapa waktu yang lalu, kita sempat dihebohkan dengan adanya berita pengusiran dokter dan perawat dari tempat tinggalnya. Sempat juga terdengar berita bahwa para tenaga medis maupun paramedis mendapat perilaku yang tidak menyenangkan dari orang-orang di sekelilingnya, seperti dijauhi dan dicemooh. Mereka diberi cap sebagai “pembawa virus” atau “penyebar virus”.
Hal ini tentu sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Mengingat tenaga medis dan paramedis telah berjuang keras mengerahkan tenaga, pikiran, dan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk menangani pasien-pasien. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya keterbatasan alat pelindung diri (APD), tenaga medis dan paramedis tetap bersedia melayani para pasien.

Beban kerja yang meningkat selama pandemi ini menuntut mereka untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada waktu di rumah. Rasa lelah baik secara fisik maupun psikis adalah hal utama yang mereka rasakan. Dalam masa-masa seperti ini, dukungan secara psikologis sangat diperlukan bagi mereka.

Para pasien pun juga tidak luput dari stigma tersebut. Sebagian pasien, khususnya dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) atau bahkan telah terkonfirmasi menderita penyakit COVID-19 diperlakukan dengan tidak baik oleh orang-orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Keluarga pasien dijauhi dan dianggap membawa penyakit. Sempat juga kita dengar beberapa kasus di suatu daerah dimana masyarakat sekitar menolak pemakaman jenazah dengan penyakit ini.
Kesedihan yang mendalam tentu dirasakan oleh keluarga yang pasien. Mereka tidak hanya sedih karena kematian salah satu anggota keluarganya, tetapi juga terluka akibat perlakuan diskriminatif orang-orang disekelilingnya. Alih-alih memberikan perhatian dan bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan, masyarakat justru mengucilkan dan berlaku tidak adil. “Sudah jatuh, tertimpa tangga” itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Stop Stigma Sekarang Juga
Setiap fasilitas kesehatan pasti memiliki standard operating procedure (SOP). SOP merupakan sebuah dokumen yang berisi instruksi terkait kegiatan atau tindakan yang rutin dilakukan. SOP yang ada di fasilitas kesehatan bermacam-macam jenisnya dan mencakup berbagai tindakan. Setiap SOP dibuat dengan tujuan untuk menjaga keselamatan petugas dan pasien. Para petugas medis dan paramedis selalu bekerja dengan mematuhi aturan-aturan tersebut, termasuk perihal pemakaian dan pelepasan APD serta perawatan pasien infeksius. Segera setelah selesai bertugas, petugas medis dan paramedis juga dihimbau untuk langsung membersihkan diri dan mengganti baju sebelum pulang. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya tidak perlu cemas berlebih hingga mendiskriminasi petugas medis dan paramedis karena mereka semua pasti bekerja sesuai dengan standar.

Jika masyarakat tetap mendiskriminasi petugas medis dan paramedis, siapakah yang akan menolong dan merawat ketika masyarakat sakit? Bagaimana jika suatu saat tenaga medis dan paramedis gugur satu per satu oleh karena tidak mendapat dukungan?
Situasi tentu akan lebih kacau. Tidak semua orang bisa dan mampu menjadi petugas medis maupun paramedis. Diperlukan pendidikan khusus selama bertahun-tahun untuk bisa menyandang gelar dokter, perawat, apoteker, dan gelar profesi lainnya.

Penanganan jenazah PDP maupun yang telah terkonfirmasi COVID-19 juga seharusnya tidak perlu menjadi momok bagi masyarakat. Pemerintah dan fasilitas kesehatan sudah menetapkan langkah-langkah yang harus dipenuhi untuk menangani jenazah tersebut. Apabila senantiasa menjaga kebersihan diri, mematuhi aturan pemerintah, dan tenaga kesehatan, masyarakat tidak perlu takut secara berlebih hingga merugikan orang lain.Stop stigma selama pandemi COVID-19. Jangan memperkeruh suasana. Dukunglah para tenaga medis, tenaga paramedis, dan pasien dengan cara sederhana, seperti tidak menyebar ujaran kebencian, tidak mengucilkan, dan tidak menyebar berita bohong. Pada masa sulit seperti ini, kita harus bekerja sama, bahu membahu, dan mendukung satu sama lain demi kebaikan diri kita sendiri dan sesama. Semoga kita semua dapat melalui pandemi ini bersama-sama.

 

Oleh :

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi

(Dokter Umum RS Panti Rapih)

Posted in Penyakit Dalam and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *