Jantung Anak

Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 September. Bertujuan untuk menciptakan sebuah komunitas global pahlawan jantung (Heart Heroes). Pahlawan ini adalah setiap orang dari semua lapisan masyarakat, yang bertindak untuk hidup lebih lama, lebih nyaman dan lebih baik, karena memiliki jantung yang lebih sehat. Caranya adalah dengan membuat berbagai janji. Pertama, janji untuk keluarga kita masing-masing, yaitu akan memasak dan makan yang lebih sehat. Kedua janji untuk anak, yaitu akan mendampingi berolahraga lebih banyak dan lebih aktif, untuk mengatakan tidak kepada rokok dan membantu orang yang kita cintai untuk berhenti. Ketiga janji sebagai seorang profesional kesehatan untuk membantu pasien berhenti merokok dan menurunkan kadar kolesterol. Semuanya adalah sebuah janji sederhana untuk jantung kita.

Penyakit jantung terutama karena pola hidup yang tidak sehat adalah pembunuh nomor satu di dunia saat ini, tetapi pada bayi dan anak sedikit berbeda. Dr. Nikmah Salamiah, SpA (K), PhD dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap insan, termasuk bayi dan anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil, guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh seorang anak. Sayangnya, 7 hingga 8 bayi per 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat ruang jantung, penyempitan atau sumbatan katup atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung, ataupun abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah. Kelainan struktur tersebut dapat bersifat tunggal ataupun berkombinasi, sehingga menimbulkan PJB kompleks. Kendati terdapat ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe. Tipe pertama disebut dengan PJB biru (sianotik), yaitu jenis PJB yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir terutama di daerah lidah, bibir dan ujung-ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah. Tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak. PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menetek atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi.

Tergantung pada jenis dan kompleksitas kelainan, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa. Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kulit kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda klinis yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. Untuk itu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya PJB. Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat ‘timing’ yang tepat untuk tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan. Terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan, hingga anak tumbuh sampai dewasa. Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi ataupun intervensi kateter (non-bedah).

Sejauh ini, penyebab PJB belum diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan penelitian, diduga bersifat multifaktorial, yaitu melibatkan kerentanan genetik (bawaan) dan faktor lingkungan. Paparan rokok saat kehamilan (baik ibu perokok aktif maupun pasif), konsumsi obat tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Down, dilaporkan meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Yang penting diperhatikan adalah pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan, dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat Ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Untuk itu, penting bagi setiap Ibu untuk menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan.

Nyeri dada adalah keluhan klinik tersering yang terkait dengan kelainan jantung, biasanya dipicu atau bertambah berat dengan aktivitas fisik (exertional chest pain), disertai keluhan jantung berdebar atau irama jantung tidak teratur. Anak agak besar sering melaporkan sebagai nyeri seperti ditekan, atau terdapat beban di atas dada dan mungkin menjalar, atau diikuti gejala pingsan atau hampir pingsan, dan pusing yang disertai mata berkunang-kunang. Untuk menyingkirkan kelainan jantung, pada umumnya dibutuhkan pemeriksaan tambahan berupa rekam listrik jantung (elektrokardiografi atau EKG) dan ultrasonografi jantung (ekokardiografi). Pada anak besar, juga dapat dilakukan tes latihan dengan treadmill atau sepeda statis, untuk melihat apakah gejala nyeri dada dan perubahan EKG terjadi dengan aktivitas fisik atau olahraga.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2019 mengingatkan kita, akan peran besar para pahlawan jantung (Heart Heroes), termasuk untuk Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak.

Sudahkah kita bertindak bijak?

 

Oleh:

Dr. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

Bayi Jo & Gangguan Pendengaran

Anak imut nan menggemaskan dan aktif itu bernama Johanes Arjuna Mahardika Sihombing, dia seperti anak kebanyakan aktif tidak mau diam dan lucu. Putera pertama dari Cesilia Kurnia dan Sabat Immanuel Sihombing ini seperti anak kebanyakan, tak ada yang menyangka anak tampan tersebut harus sudah memakai alat bantu pendengaran di kedua telinganya.

Sang Ayah yang berprofesi sebagai marketing sebuah produk mobil Jepang kenamaan mulai merasa ganjil saat mengamati putera kesayangannya tersebut, yang tidak pernah merasa terganggu dengan suara sekeras apapun, si kecil Jo tdk pernah menoleh ke asal sumber suara, beruntung ia memiliki ayah yang peka dengan perkembangannya.Diskusi panjang antara ayah dengan sang ibu yg juga Perawat RS Panti Rapih yang bertugas di ruang anak ini kemudian menghasilkan kesepakatan bahwa mereka harus melakukan cek up terhadap Putera kesayangan mereka.

Mereka membawa putranya ke RS Panti Rapih menemui dr. Agus Surono, PhD, M.Sc, Sp. THT – KL. Hasil konsultasi dan pemeriksaan, dokter menyarankan untuk pemeriksaan OAE. OAE (Oto Accoustic Emission) adalah skrining (deteksi dini) atau tes pendengaran bayi baru lahir yang menangkap emisi pada koklea, dan hasilnya adalah REFER yg artinya tidak ada respon suara sama sekali pada kedua telinganya. Tak dapat dipungkiri kekecewaan dan kesedihan meliputi hati orang tua Jo, bayi yang dilahirkan spontan pada tanggal 11 September 2017 dengan berat badan 2325 gr.

Orang tua Jo segera menempuh langkah langkah untuk penegakan diagnosa supaya gangguan pendengaran yang di alami putranya tidak menghambat tumbung kembang Jo.

Orang tua Jo menemui dr. Ashadi P, M.Sc, Sp. THT – KL di RS Panti Rapih, dan dokter menyarankan untuk pemeriksaan lanjutan BERA. Brain Evoked Response Auditory (BERA) adalah pemeriksaan pendengaran yang dilakukan pada anak umur 1-3 tahun dan ASSR (Auditory Steady-State Response) adalah sebuah pemeriksaan pendengaran objektif, hasilnya pun menunjukan bahwa Jo mengalami Profound Hearing Loss / Gangguan Pendengaran kategori Berat yaitu di tingkat >110 db pada telinga kanan maupun yg kiri.

Menurut Nia demikian ibu Jo biasa dipanggil, penyebab Jo mengalami gangguan pendengaran seperti penjelasan dokter adalah akibat terserang virus rubella saat masa kehamilan. Ibu Jo mengungkapkan selama masa kehamilan yang dirasakan adalah gatal – gatal diseluruh tubuh yang dialami selama 9 bulan penuh dimasa kehamilannya. Ibu muda berusia 30 thn ini mengatakan tidak mengetahui jika terdapat virus rubella saat mengandung Jo, ia merasa biasa – biasa saja, hingga kemudian ia menyadari putranya tersebut mengalami gangguan pendengaran.

Menurut beberapa sumber, hal yang sering menjadi penyebab gangguan pendengaran pada anak adalah saat hamil si ibu mendapat serangan virus misal campak, cacar, rubella, cacar air atau varicella dan virus-virus lain termasuk infeksi gondong. Jika salah satu atau beberapa virus ini menyerang ibu hamil, anak berisiko terkena total deafness atau gangguan pendengaran.
Gangguan pendengaran pada anak

umumnya sulit untuk disadari oleh orang tua maupun orang lain yang berinteraksi dengan si bayi. Orangtua seringnya tidak menyadari bayi mereka mengalami gangguan pendengaran hingga saat anak mulai bertambah usia mulai bertanya tanya kok anaknya sudah mulai besar tapi belum juga lancar bicara. Gangguan pendengaran sejak masa bayi atau balita akan berpengaruh pada kemampuan berbahasa, sosial, dan emosionalnya.

Menurut Nia, dr. Agus Surono, PhD, M.Sc, Sp. THT – KHL membenarkan bahwa gangguan pendengaran yang teratasi dengan alat bantu dengar seawal mungkin akan mencegah anak menjadi gagap dan bahkan bisu, namun tidak semua anak yang menggunakan alat bantu pendengaran bisa mendengar dan berbicara maksimal seperti yang diharapkan, ada solusi lain selain menggunakan ABD ( alat batu dengar ) yaitu dengan Operasi Implan Koklea, tetapi itupun juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Saat ini Jo pun telah memakai alat bantu dengar di kedua telinganya, orang tua Jo berharap tumbuh kembang putra mereka akan seperti anak – anak biasa lainnya. Maka mengapa alat bantu dengar sangat di perlukan sejak dini seperti halnya pada bayi Jo, yang sejak usia 12 bulan sudah memakai alat bantu dengar. Kini Jo bisa mendengar suara dan berisiknya dunia, dunia bayi lucu itu tidak lagi sunyi dan si bayi yang adalah harapan kedua orang tuanya akan tumbuh sehat sempurna sekalipun mengalami gangguan pendengaran.

Setiap tanggal 3 Maret diperingati sebagai World Hearing Day (WHD) atau Hari Pendengaran Sedunia. Pendengaran yang sehat berawal dari telinga sehat. Pendengaran yang sehat akan meningkatkan kualitas hidup dan produktifitas untuk mencapai kebahagiaan. Oleh sebab itu setiap orang tua hendaknya melakukan pemeriksaan/deteksi dini adanya gangguan pendengaran pada anak anak sejak dini.
Berdasarkan data WHO diperkirakan ada sekitar 360 juta (5.3%) orang di dunia mengalami gangguan cacat pendengaran, 328 juta (91%) diantaranya adalah orang dewasa (183 juta laki-laki, 145 juta perempuan) dan 32 juta (9%) adalah anak-anak (data Kemenkes 2018).

Bayi Jo dan bayi – bayi yang lain yang mengalami gangguan pendengaran dan dideteksi sejak dini diharapan bakal tumbuh normal seperti anak anak biasa, jika anak yg lain memerlukan kacamata dan memakainya , begitupula Jo memakai alat bantu dengarnya dan ia terlihat keren dan tetap lucu.

Semoga kelak jadi anak harapan orang tua dan Tuhan, Johanes Arjuna Mahardika Sihombing.

Saat ini Nia juga menjadi salah satu anggota komunitas Rumah Ramah Rubella, dimana komunitas ini menjadi ajang berbagi antar ibu – ibu yang memiliki pengalaman yang sama.

 

Oleh :
Katharina indah Aryanti
(Perawat RS Panti Rapih Yogyakarta)
Dari berbagai sumber

Mengatasi Pick Eater

Anak sering memilih-milih makanan dan celakanya tidak menyukai buah serta sayuran yg kaya akan vitamin-mineral bagi pertumbuhannya. Memang secara naluriah, anak akan lebih menyukai makanan yg terbuat dari daging serta lemak seperti satai atau steak, dan minuman manis seperti soft drink atau teh manis, mengingat pertumbuhan anak memerlukan banyak protein sementara aktivitasnya yang tinggi membutuhkan banyak karbohidrat serta lemak/minyak.

Anak-anak yang senang memilih-milih makanannya dinamakan “Pick Eater” atau sang pemilih makanan. Pertanyaannya sekarang bagaimana kiat-kiat utk mengatasi persoalan pick eaters ini?

KIAT MENGATASINYA

Anak menyukai minuman dgn sedotan. Karena itu, juice buah sebetulnya menjadi pilihan penting utk memperkenalkan anak pada buah dan sayuran. Pilihan lainnya adalah makanan seperti salad yg diberi keju, mayones atau dressing spt thousand islands.

Saya pernah mencoba mencicipi juice kemasan merk terkenal yang terbuat dari campuran sayuran (brokoli) dan buah. Rasanya cukup enak walaupun  manis. Mungkin juice ini bisa menjadi pengantar untuk beralih kepada juice buatan sendiri.

Hanya saja kadar gula yg cukup tinggi ( mungkin fruktosa) sering membuat anak hilang selera makannya shg tidak dianjurkan pemberian juice sebelum makan. (Sebaiknya diberikan bersama makanan camilan di antara jam-jam makan atau pada saat anak beraktivitas spt berenang yg memerlukan tambahan kalori). Pemberian juice pada malam hari sebelum anak tidur dikhawatirkan membuat anak gemuk krn kalori dari minuman tsb yg berbentuk KH sederhana dan tidak terpakai sbg sumber tenaga utk aktivitas akan diubah menjadi lemak/gajih.

JUICE YANG ENAK DAN SEHAT

Sayuran seperti brokoli yg akan dijuice sebaiknya dicelupkan sebentar ke dalam air mendidih dan rasa langunya bisa ditutupi dgn juice apel hijau lokal. Juga bisa ditambahkan sedikit perasan jeruk lemon, madu atau sirup maple, dan agar-agar, nata de coco atau aloe vera dgn remukan es batu. Juice jangan terlalu dingin karena enzim kita bekerja pada suhu tubuh sehingga jika terlalu dingin juice tsb tidak tercerna dan terserap dengan cepat di dalam usus.

ZAT ANTIMINERAL

Anak-anak tidak boleh diberi teh apalagi bersama makanan. Teh mengandung asam tannat dan fitat yg akan mengikat mineral penting seperti zat besi dan kalsium.

Kita tahu besi diperlukan untuk pembentukan hemoglobin dalam sel darah merah. Hb anak seringkali rendah. Rendahnya Hb yg berfungsi utk membawa oksigen menandakan anemia yg membuat anak cepat lelah, sesak dan berdebar-debar.

Sementara itu, kalsium merupakan bahan untuk pembentukan tulang dan gigi. Untuk pembentukan bagian tubuh ini juga diperlukan fosfat dan vitamin D.

Sayuran juga mengandung asam fitat tetapi karena anak juga menyukai daging, zat besi yg diberikan daging akan menggantikan zat besi yg terikat asam fitat apabila kedua jenis makanan ini dimakan bersama.

PENUTUP

Untuk variasi menu makanan anak  bisa dibaca buku-buku menu yg diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Salah satu penulisnya adalah Ibu Purna, MP, seorang pakar pangan dan gizi, yg juga menulis buku cara membuat mie pelangi dan mengolahnya dalam berbagai variasi menu. Di Kanisius, setiap menu makanan dibuat dahulu sebelum ditulis dalam bentuk buku. Semoga Tip-tip ini bermanfaat.

dr Andry Hartono, SpGK

Vaksinasi Mencegah Kesakitan, Kematian, dan Kecacatan Anak

Merupakan keinginan semua orang tua untuk mempunyai anak yang sehat, tidak sakit, dan tidak cacat. Pertumbuhan dan perkembangannya optimal.  Paradigma anak sehat meliputi sehat fisik, sehat kognitif dan sehat emosi-sosial-moral.

Sehat fisik, artinya pertumbuhan dan perkembangan fisik optimal, ditunjukkan dengan perubahan tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, pematangan fungsi organ-organ tubuh sesuai dengan umur.

Sehat kognitif. Anak  mempunyai kemampuan untuk mengenali, mengerti, mengingat, membandingkan, mencocokkan, menggabungkan, merangkai, mengekspresikan, menghasilkan ide, pengetahuan, dan ketrampilan baru.
Sehat emosi-sosial-moral.  Anak gembira, berani, optimis, percaya diri, dapat mengeksplorasi lingkungan, dapat mengendalikan diri, beradaptasi dengan lingkungan, mengerti baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh.

Mengapa anak bisa sakit? Anak sakit karena kekebalan (imunitas) tubuh alamiah tidak cukup mampu melindungi tubuh. Ketika penyebab sakit tidak bisa ditolerir oleh tubuh, maka anak akan sakit. Penyebab sakit antara lain: infeksi, kelainan bawaan, gangguan metabolisme, kekurangan gizi, cedera, kecelakaan, keracunan, penyakit imunologi, dan degeneratif.

Sebaliknya, seseorang akan menjadi kebal (imun) terhadap suatu penyakit karena adanya sistem imunitas. Imunitas terbagi menjadi 2 yaitu imunitas alami dan imunitas didapat. Imunitas alami  bersifat aktif dan pasif. Imunitas alami aktif merupakan reaksi tubuh terhadap suatu infeksi, misalnya bila seseorang menderita cacar air, maka dalam tubuhnya kan terbentuk sistem imunitas yang menjaga terulangnya infeksi cacar air.  Imunitas alami pasif didapatkan bayi dari ibunya melalui jalur plasenta. Disini sistem kekebalan ibu “menular” ke janin melalui plasenta.

Imunitas didapat mengandung arti bahwa tubuh mendapatkan kekebalan dari rangsangan  luar tubuh. Tubuh disuplai sistem kekebalan dari luar. Suplai disini bisa berupa sel-sel kekebalan yang sudah jadi (injeksi antibodi, disebut imunitas didapat pasif) maupun perangsangkekebalan pada tubuh pasien (vaksinasi, disebut imunitas didapat aktif).

Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 dan Survei Demografi dan Kesehatan (SKDI) 2002-2003, kematian  satu bayi (0-12 bulan) terjadi tiap 3, 1 menit dan kematian balita tiap 2, 5 menit.

Vaksinasi adalah memberikan kekebalan aktif (kuman) pada seseorang untuk merangsang kekebalan pada tubuh pasien sehingga ia menjadi kebal dan terlindungi dari penyakit tertentu. Mengapa vaksinasi penting? Vaksinasi akan meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah penyakit berbahaya dan komplikasi yang bisa ditimbulkannya.

Vaksin merupakan salah satu media intervensi paling efektif untuk mengurangi dan mencegah penyakit infeksi berbahaya. 26 penyakit di dunia ini diketahui dapat dicegah dengan vaksin. Vaksinasi pun sudah dicanangkan sebagai proteksi global.

Program Imunisasi di Indonesia ada dua, yaitu PPI  dan non PPI. PPI adalah Program Pengembangan Imunisasi dimana program ini diwajibkan bagi anak pada usia tertentu dan didanai oleh pemerintah. Yang termasuk PPI adalah vaksinasi Hep B, BCG, DPT, anti-Polio, Campak. Non PPI adalah vaksinasi HiB, Hepatitis A, MMR, Varicella, Typhoid.

PPI adalah program dasar dan wajib. Bayi umur 6 bulan mendapatkan 16 kali suntikan. Hal tersebut menjadi salah satu sebab program imunisasi kurang berhasil. Jumlah suntikan yang diterima bayi menjadi kekhawatiran orang tua dan hal tersebut menyebabkan terjadinya “drop out”.

Solusi untuk mengurangi jumalh suntikan? Dibuatlah vaksin kombinasi. Vaksin Kombinasi adalah vaksin yang terdiri dari dua atau lebih antigen (kuman) berbeda yang dikombinasikan / digabung dalam satu sediaan. Keuntungan vaksin kombinasi adalah:

  • Lebih praktis dan ekonomis
  • Jumlah suntikan berkurang sehingga lebih nyaman.
  • Jumlah kunjungan ke penyedia layanan kesehatan berkurang.

Contoh vaksin Kombinasi:

  • DPT (Difteri, Pertussis, Tetanus)
  • MMR (Mumps, Measles, Rubella)
  • Hepatitis A +B
  • DPaT – HiB – Polio (5 in 1)

Vaksin Kombinasi terbaru yang telah tersedia di Indonesia adalah  DPaT – HiB – Polio.

Apa saja isi vaksin tersebut?

  • Komponen DPaT: Diphteria – Pertusis – Tetanus

o   Diphteria

Penyakit infeksi oleh bakteri C. diphteriae, menyebabkan sumbatan jalan napas dan mengganggu otot jantung, mudah menular, dan menyebabkan kematian yang tinggi pada anak dan manula.

Komponen racun (toksoid) bakteri ini yang yang dijadikan vaksin.

o   Pertusis (Batuk Rejan, 100 hari)
Penyakit infeksi oleh Bordatella pertussis, menyebabkan batuk lama dan berat, sangat menular.

Bakteri mati dijadikan komponen vaksin, ada 2 jenis:

  • DPwT: pertussis whole cell, bakteri utuh mati
  • DPaT: pertussis aseluler , lebih menguntungkan karena efek samping panas, bengkak dan kemerahan jauh berkurang.

o   Tetanus
Penyakit infeksi oleh Clostridium tetani, menyebabkan kaku otot mulut, dada, punggung, perut. Merupakan 10 penyebab kematian tertinggi.

Toksoid tetanus dijadikan sebagai komponen vaksin.

  • Komponen HiB
    Vaksin HiB ini mencegah penyakit yang disebabkan Hemophylus influenza tipe B, seperti meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru berat)
  • Komponen Polio
    Vaksin Polio mencegah infeksi virus polio yang menyebabkan poliomyelitis (lumpuh layu).

Bentuk sediaan vaksin polio ada 2 macam:

  • Vaksin polio tetes, lebih sering diikuti kejadian ikutan pasca imunisasi, seperti lumpuh layu.
  • Vaksin polio suntik, merupakan bagian dari vaksin kombinasi.

Jadwal pemberian vaksin kombinasi DPaT-HiB-Polio berdasarkan rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)2010:

  • Usia minimal 6 minggu
  • Jadwal: 2,3,4 bulan atau 2, 4, 6 bulan, dan mendapat booster(ulangan) pada tahun ke 2 (18 bulan).

Imunisasi telah terbukti menyelamatkan jutaan bayi dan balita. Dengan adanya vaksin kombinasi akan semakin memperbaiki cakupan keberhasilan program imunisasi. Petugas kesehatan mempunyai tugas untuk memberikan informasi yang benar tentang imunisasi kepada masyarakat. Jangan sampai orang tua lebih takut pada efek samping daripada takut pada penyakitnya.

 

(sumber: dr. A. Ratnaningsih, Sp.A)

Diare Pada Anak

APA ITU DIARE ?

Diare atau Gastro Enteritis Akuta adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih.

Bila hal ini terjadi maka tubuh anak akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi.

Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Diare menjadi penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Penyebab diare :

1.Faktor infeksi, yaitu infeksi bakteri, infeksi virus.

2.Faktor mal absorbsi, misalnya dalam mengabsorbsi karbohidrat, lemak,protein.

3.Faktor psikologis, misalnya rasa takut dan rasa cemas.

Gejala-gejalanya :

Mula-mula cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan tidak ada kemudian diare.

Mekanisme timbulnya diare :

  1. Gangguan osmotik
    Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus, isi rongga usus menjadi berlebihan, ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya, sehingga timbul diare.
  2. Gangguan sekresi
    Akibat ada rangsangan tertentu ( misalnya racun ) pada dinding usus, maka akan terjadi peningkatan air ke rongga usus, usus penuh, sehingga terjadi diare.
  3. Gangguan mobilitas usus
    Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan-kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik menurun akan menyebabkan bakteri tumbuh berlebihan dan menjadi diare.

Akibat dari diare adalah dehidrasi / kekurangan cairan yang dapat bersifat :

  1. Ringan, dengan tanda :
  • Haus
  • Kencing sedikit
  • Mulut kering
  1. Sedang, dengan tanda :
  • Ubun-ubun besar dan cekung
  • Mata cowong
  • Tegangan kulit menurun
  1. Berat, dengan tanda :
  • Nafas cepat
  • Kesadaran menurun
  • Tidak sadar

Pengobatan :

Pencegahan Diare

Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:

  1.  Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting: 1) sebelum makan, 2) setelah buang air besar, 3) sebelum memegang bayi, 4) setelah menceboki anak dan 5) sebelum menyiapkan makanan;
  2.  Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;
  3.  Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
  4.   Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

Yang paling pokok adalah mengganti cairan yang hilang dengan cara :

  1. Minum yang banyak cairan oralit.
  2. Jika tidak ada oralit, beri minum larutan gula dan garam.
  3. Segera bawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Perawatan

Pada kondisi diare, penderita diharuskan  mengkonsumsi sejumlah air yang mencukupi untuk menggantikan yang hilang, lebih baik bila dicampur dengan elektrolit untuk menyediakan garam yang dibutuhkan dan sejumlah nutrisi.

Diare dapat menjadi gejala penyakit yang lebih serius, seperti disentrikolera atau botulisme, dan juga dapat menjadi indikasi sindrom kronis seperti penyakit Crohn. Meskipun penderita apendisitis umumnya tidak mengalami diare, diare menjadi gejala umum radang usus buntu. Oleh karena itu kita harus tetap waspada dan harus mengerti gejala diare yang membutuhkan perawatan khusus.

Diare di bawah ini biasanya diperlukan pengawasan medis:

  • Diare pada balita
  • Diare menengah atau berat pada anak-anak
  • Diare yang bercampur dengan darah.
  • Diare yang terus terjadi lebih dari 2 minggu.
  • Diare yang disertai dengan penyakit umum lainnya seperti sakit perut, demam, kehilangan berat badan, dan lain-lain.
  • Diare pada orang berpergian(kemungkinan terjadi infeksi yang eksotis seperti parasit)
  • Diare dalam institusi seperti rumah sakit, perawatan anak, institut kesehatan mental.

MODY= DMT2 pada anak

MODY merupakan singkatan Maturity Onset of Diabetes in the Young yang sebenarnya merupakan DM Tipe 2 pada anak-anak dan remaja. DM  tipe 2 (DM tidak tergantung insulin) umumnya dimulai pada usia pertengahan dengan gangguan terutama pada reseptor insulin. Reseptor insulin bisa diibaratkan pintu masuk sel. Glukosa (gula darah) yang akan dijadikan energi oleh mitokondria sel dibawa masuk lewat pintu tersebut dengan bantuan hormon insulin.

Gangguan reseptor insulin yang disebut resistensi insulin merupakan ciri utama baik DM tipe 2 maupun MODY. Bentuk yang terakhir ini kini semakin kerap ditemukan. Biasanya pada anak-anak terjadi DMT1 dengan ciri tubuh yang kurus dan ketoasidosis akibat kerusakan sel beta penghasil insulin. DMT1 menempati 5% dari seluruh kasus DM sedangkan DMT2 95%.

Sebaliknya gejala MODY pada anak-anak berupa obesitas dengan penimbunan lemak di bagian perut karena MODY merupakan DMT2. Anak-anak ini mungkin tidak memiliki keluhan apa pun kecuali selera makannya yang luar biasa dan berat badannya yang terus bertambah.

Pemeriksaan laboratorium sering menunjukkan kenaikan trigliserid (TG). Kadar gula darah mungkin naik tapi masih di bawah 126 mg/dL. Angka 126 merupakan kriteria diagnostik DM. Semua ini terjadi karena hiperinsulinisme yang menimbulkan obesitas, kenaikan TG dan  intoleransi glukosa (kadar GD 110-126).

Penyebab MODY diperkirakan karena anak dan remaja semakin banyak mengonsumsi KH sederhana seperti gula dan tepung gandum selain lemak jenuh. Sementara itu, anak dan remaja tidak menyukai KH kompleks seperti sayur dan buah. Kehidupan yang kurang gerak karena adanya kendaraan bermotor dan alat elektronik juga meningkatkan insidensi MODY.

Menurut situs www.naturefood.com, pemakaian alloxan sebagai pemutih bahan pangan seperti misalnya tepung gandum turut menambah pelik masalah ini karena masyarakat modern semakin menyukai roti putih, mie instan, gorengan dengan tepung dll dengan meninggalkan camilan tradisional yang alami. Dalam laboratorium alloxan dipakai  untuk menjadikan tikus percobaan menderita diabetes.

Pencegahan MODY dapat dilakukan dgn meningkatkan makanan berserat seperti roti gandum utuh, kacang-kacangan, beras merah/beras tumbuk, sayuran dan buah. Mengajarkan kepada anak dan remaja untuk kembali menyukai makanan tradisional ketimbang junk food merupakan tindakan yang bijaksana.

Cara Pemberian Obat pada Anak dan Bayi

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh orangtua anak maupun bayi

di Farmasi RS Panti Rapih :

Apa yang diperhatikan dokter saat memberikan obat pada bayi atau anak?

Saat meresepkan obat untuk bayi dan anak, dokter akan melihat:

  1. Diagnosa penyakit berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium (jika diperlukan).
  2. Usia bayi. Semakin kecil usia bayi semakin banyak obat yang belum boleh diberikan.
  3. Berat badan bayi. Dosis obat diberikan berdasarkan berat bayi sehingga penimbangan berat badan sangat penting.

Jika obat si kecil tersisa, bolehkah diberikan kembali bila suatu waktu ia mengalami penyakit yang sama?

Bergantung jenis obatnya, jika:

  1. Tidak boleh! Apapun bentuknya baik itu sirup atau puyer. Antibiotik harus dihabiskan atau sesuai instruksi dokter.
  2. Baik sirup maupun puyer sebaiknya tidak diberikan, dikhawatirkan terdapat jenis obat yang tidak bisa dikonsumsi kembali.
  3. Obat sirup. Boleh diberikan, misalnya obat penurun panas, batuk, pilek, dan lain-lain.
  4. Puyer, seperti obat kejang atau obat emergency lainnya, bisa diberikan asalkan kondisi obat tidak berubah, baik warna atau tekstur (menggumpal/tidak). Serta, berat badan atau usia bayi tidak jauh berbeda saat obat tersebut diberikan.

Obat sirup dapat tahan berapa lama setelah kemasannya dibuka?

Sebenarnya tidak ada waktu yang pasti. Ibu sebaiknya mengecek kembali kondisi dan tanggal kadaluwarsa obat.

Bagaimana cara penyimpanan yang baik untuk obat sirup sisa?

  1. Tutup botol obat dengan rapat, cuci/lap dengan air hangat untuk menghilangkan sisa obat di luar botol.
  2. Letakkan di tempat yang tertera dalam kemasan obat. Jika diminta di dalam lemari pendingin, sebaiknya tidak di freezer, tempatkan pada wadah terpisah yang tertutup agar tidak terkontaminasi dari sayuran atau bahan lainnya yang ada dalam lemari pendingin.
  3. Simpan dalam suhu ruangan yang terjaga (26 – 27 derajat Celsius) dan hindarkan dari sinar matahari langsung.

Bolehkah si kecil diberikan obat milik bayi atau anak lain?

Lihat kondisi si kecil. Prinsipnya boleh saja, terbatas obat untuk pertolongan pertama, misalnya penurun panas, asalkan usia atau berat badan antara bayi satu dengan lainnya tidak jauh berbeda, bisa menggunakan aturan pemakaian yang sama. Tapi bila berbeda berat badan maupun usianya tanyakan kepada apoteker Anda. Untuk obat-obat selain obat penurun panas disarankan untuk memeriksakan ke dokter agar pengobatan sesuai dengan kondisi dan dosis yang diperlukan.

Mana lebih baik, obat penurun panas golongan paracetamol atau ibuprofen?

Dua-duanya sama saja, namun kadang ada yang merasa lebih cocok menggunakan paracetamol dibandingkan ibuprofen atau sebaliknya.

Tapi biasanya untuk anak yang memiliki riwayat kejang atau panas yang sulit turun, dokter mungkin mengombinasikan 2 jenis obat penurun panas yang diberikan secara selang-seling.

Untuk kasus yang diduga demam berdarah dengue, pemberian parasetamol menjadi pilihan. Dikarenakan pemberian ibuprofen diduga dapat mengakibatkan turunnya jumlah trombosit.

Kapan boleh diberikan obat penurun panas ulang setelah pemberian yang pertama?

Pemberian diulang 4 – 6 jam setelah pemberian obat sebelumnya. Jika panas sulit turun, ibu dapat memberikan bayi minum lebih banyak dan mengompres badannya dengan air hangat.

Mana lebih baik, obat penurun panas lewat mulut atau anus?

Sama saja, namun obat yang diberikan melalui anus bereaksi lebih cepat. Tetapi pemberiannya disesuaikan juga dengan keluhan si kecil. Jika bayi muntah, obat akan diberikan melalui anus. Namun jika bayi menderita diare, akan lebih efektif jika obat diberikan lewat mulut.

Bolehkah menghentikan pemberian antibiotik sebelum waktunya?

Tidak boleh karena dapat menimbulkan resistensi/kebalnya kuman terhadap obat. Ibu juga tidak boleh mengganti aturan minumnya, misal: 4×1 menjadi 3×1 karena tiap antibiotik memiliki masa kerjanya sendiri. Seandainya si kecil terlewat 1x waktu minum antibiotik, Ibu tetap memberikannya sesuai petunjuk pemakaian dengan selang waktu lebih singkat, misalnya: seharusnya bayi minum obat pukul 9 tapi dipercepat menjadi pukul 6.

Benarkah pemberian antibiotik pada bayi dapat mengakibatkan gigi kuning saat anak besar?
Saat Ibu masih kecil, ada jenis antibiotik Tetracycline. Nah, jenis ini dapat menyebabkan gigi kuning saat si kecil besar. Namun jangan khawatir karena sekarang sudah jarang digunakan.

Apakah obat paten lebih baik daripada obat generik?

Antara paten dan generik memiliki kualitas yang sama. Dikarenakan memiliki kandungan yang sama pula. Obat paten biasanya jauh lebih mahal dibandingkan obat generiknya dikarenakan bahan tambahan, biaya pengemasan dan biaya promosinya. Namun kadang dokter meresepkan obat paten dikarenakan ada beberapa jenis obat yang belum tersedia generiknya.

Mungkinkah terjadi reaksi alergi pada bayi saat pemberian obat? Jika ya, bagaimana ciri-cirinya?
Reaksi alergi karena pemberian obat sangat mungkin terjadi.

Ciri-ciri yang timbul bergantung pada sistem apa yang terkena, misalnya:

  1. Pencernaan, ditandai bayi mengalami mual, muntah sampai diare.
  2. Pernapasan, ditandai dengan suara grok-grok akibat produksi lendir yang berlebih. Bahkan bisa sampai terjadi sesak napas.
  3. Kulit, timbul bercak-bercak merah, gatal sampai melepuh.
  4. Reaksi alergi ini dapat timbul langsung sehabis obat diberikan atau bahkan beberapa hari setelahnya. Jadi, ibu disarankan untuk menyimpan copy resep maupun kuitansi pembayaran obat si kecil guna mencari tahu obat mana yang menimbulkan reaksi alergi. Dengan adanya data obat apa saja yang pernah digunakan, ibu dapat mengetahui riwayat pengobatan si kecil pula.

Apa tindakan orangtua jika bayinya mengalami reaksi alergi obat?

Yang pertama dilakukan adalah menghentikan penggunaan obat untuk menghindari reaksi yang lebih lagi.

Tindakan yang dapat dilakukan bergantung keluhan yang timbul, jika:

  1. Ringan, sebatas gatal dan merah-merah, Ibu cukup menghentikan pemberian obatnya dan beri obat topikal pada daerah yang terkena.
  2. Berat, seperti muntah-muntah, diare sampai sesak, segera hentikan pemberian obat dan bawa ke pusat kesehatan terdekat.

Bolehkah menaikkan/menurunkan dosis obat secara mandiri oleh orangtua?

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter, jangan menurunkan/menaikkan dosis secara mandiri. Jika overdosis, dapat mengakibatkan gangguan hati dan ginjal pada jangka panjang. Namun, jika dosisnya kurang, maka obat tidak dapat bekerja secara optimal.

Bagaimana jika bayi memuntahkan obat?

Jika obat yang diberikan langsung dimuntahkan, Ibu bisa memberikan lagi dengan dosis yang sama. Namun jika si kecil muntah setelah 30 menit, Ibu tidak perlu mengulangi, karena usus akan menyerap sebagian besar obat pada waktu 30 – 45 menit setelah pemberian.

Hubungi dokter anak Anda, bila si kecil bolak-balik muntah. Pemberian dosis obat yang terlalu sering bisa menyebabkan muntah maupun diare, terutama pada beberapa jenis antibiotika. Kalau sudah begini, pemberian antibiotika bisa dilakukan dengan cara disuntik.

Bolehkah mencampur obat, misalnya obat sirup dicampur puyer?

Boleh, tetapi Ibu harus memerhatikan waktu pemberiannya. Jangan menggabungkan obat yang seharusnya diminum sebelum makan dengan obat setelah makan.

Manakah yang lebih baik, obat sirup atau puyer?

Sama saja, namun jika obat yang diresepkan jumlahnya banyak, maka demi kepraktisan biasanya dokter meresepkan obat racikan agar si kecil tidak perlu meminum banyak obat.

Bolehkah memberikan obat pada bayi dengan dicampur madu?

Anak-anak sering tidak nyaman dengan rasa obat yang sebagian besar pahit. Untuk memperbaiki rasa sebaiknya bisa diberikan air gula maupun madu murni. Namun kadang dikhawatirkan madu yang beredar belum tentu baik, kadar gula yang tinggi juga bisa menyebabkan batuk. Jika terpaksa harus memberikan puyer yang pahit, Ibu bisa meminta tambahan penetralisir rasa di apotek terdekat.

Bolehkah bayi langsung meminum susu setelah minum obat?

Bergantung jenis obatnya. Ada yang bisa namun ada juga yang menunggu 30 menit setelah pemberian obat, karena ada beberapa obat tertentu yang larut dalam susu.

Ada beberapa obat yang boleh diberikan bersama dengan susu. Misalnya sediaan serbuk Lactobacillus (yang biasa digunakan untuk mengatasi diare pada anak). Namun susu harus diminum semuanya agar obat yang diterima si kecil sesuai dengan dosisnya.

Tip mudah memberikan obat pada bayi?

  1. Ciptakan suasana yang santai, jika si kecil suka mendengar musik maka mainkan musik. Alihkan perhatian agar ia tidak tahu akan diberi obat.
  2. Hindari penggunaan suara keras saat memberikan obat. Gunakan nada lembut dan Ibu dalam kondisi rileks.
  3. Posisikan bayi dengan kepala lebih tinggi agar obat tidak masuk ke paru-paru. Umumnya, memberi obat pada bayi lebih susah, karena ia suka berontak. Makanya, posisi tubuhnya musti pas. Caranya? Pangku si kecil, lalu aturlah agar posisinya setengah duduk.

Catatan: Jangan menelentangkan bayi, sebab obat bisa masuk ke paru-paru. Khusus bayi, sebaiknya obat cair diberikan dengan pipet. Bayi kan belum bisa menelan dari sendok! Ada triknya agar obat tadi benar-benar ditelan si kecil. Misalnya, letakkan pipet di sudut mulut bayi, lalu secara perlahan-lahan keluarkan obat. Letakkan ujung pipet obat di bibir bawah si kecil, biarkan obat mengalir ke dalam mulut.

Demam

Keceriaan anak atau aktivitas orang dewasa kerap kali terganggu oleh demam. Tulisan ini akan menguraikan sedikit tentang demam sehingga pandangan kita terhadap demam dapat lebih menyeluruh.

Demam menurut kamus umum adalah suhu tinggi yang abnormal dan biasa diikuti dengan menggigil, sakit kepala, dan bila sudah parah: mengigau. Ensiklopedia online menjelaskan demam dengan definisi yang agak lain.
Ada definisi lain yang bisa ditemukan dan menjadi pegangan para pelayan kesehatan. Demam dikatakan sebagai naiknya set-point suhu tubuh di hipotalamus. Dengan bergesernya set-point (patokan) ini, hipotalamus mengirimkan sinyal untuk menaikkan suhu tubuh. Sebelum memahami tentang gejala penyakit paling umum ini, kita perlu tahu bagaimana suhu tubuh kita diatur.

Suhu tubuh diatur di hipotalamus. Hipotalamus adalah bangunan kecil di bagian bawah otak yang kira-kira hanya berukuran 0,3% dari total volume otak. Walau demikian, bangunan ini mengatur integrasi yang luar biasa, meliputi pengendalian cairan dan elektrolit tubuh, keseimbangan energi, reproduksi, suhu, sistem kekebalan, dan lain-lain. Para pelajar dan mahasiswa kadang mengacaukan hipotalamus ini dengan hipofisis (pituitary) oleh karena letak dan peranannya yang sama-sama kompleks. Hipotalamus dapat menjalankan fungsi tersebut karena diatur oleh hubungan melalui sistem saraf, sistem peredaran darah, dan kemungkinan juga melalui cairan otak (cairan serebrospinal).

Suhu tubuh dapat diukur dengan berbagai cara menggunakan termometer. Cara pengukuran yang paling lazim dilakukan adalah dengan meletakkan termometer di ketiak. Selain itu, termometer dapat pula diletakkan di mulut, anus, atau vagina. Pengukuran yang paling baik tentu di anus karena dekat dengan pusat tubuh dan tidak terlalu banyak faktor pengacau. Pengukuran di mulut mudah dilakukan sekaligus akurat, namun dapat terganggu oleh kebiasaan bernafas lewat mulut, suhu minuman, dan lain-lain.

Suhu normal tubuh kita diukur di mulut adalah 36,7(36– 37,4C) pada pagi hari. Suhu di anus dan vagina adalah setengah derajat lebih tinggi, dan suhu di ketiak setengah derajat lebih rendah. Suhu tubuh kita berfluktuasi sebesar setengah sampai satu derajat setiap harinya. Paling rendah pada pagi hari dan paling tinggi pada awal malam hari.

Patokan suhu tubuh di hipotalamus dapat naik karena peran prostaglandin.  Prostaglandin  timbul akibat induksi pirogen endogen (sitokin). Sitokin dihasilkan oleh sel-sel sistem kekebalan tubuh karena adanya infeksi atau adanya cedera pada jaringan. Sampai saat masih belum jelas benar bagaimana suatu infeksi atau cedera pada suatu jaringan bisa menginduksi reaksi kenaikan set-point suhu tubuh. Sebagian besar obat turun panas  bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin dalam tubuh.

Kenaikan patokan suhu tubuh pada hipotalamus ditanggapi tubuh dengan menambah produksi panas, dengan jalan menggigil dan menaikkan laju metabolisme basal. Dengan produksi panas yang bertambah, suhu tubuh menjadi naik. Apabila sumber keluarnya sitokin telah disingkirkan, patokan suhu tubuh kembali ke normal. Pada waktu ini, tubuh tahu bahwa suhu tubuh lebih tinggi daripada patokan yang ditentukan. Segera hipotalamus bereaksi dengan merangsang keringat untuk menurunkan suhu tubuh.

Mengapa suhu tubuh harus naik akibat adanya sitokin? Ini juga belum sepenuhnya jelas. Demam mungkin bermanfaat sebab mikroorganisme penyebab penyakit tumbuh dalam rentang suhu yang sempit sehingga kenaikan suhu akan menghambat pertumbuhannya. Sistem kekebalan tubuh juga diuntungkan dengan adanya demam karena produksi antibodi meningkat dengan adanya demam. Walau demikian, suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat merusak sistem saraf dan dapat mematikan.

Kontroversi manfaat demam tersebut juga membawa konsekuensi terhadap penanganan demam. Dokter seringkali meresepkan obat penurun panas (antipiretik) untuk menurunkan demam. Namun ada literatur pula yang mengatakan bahwa apabila penderita merasa cukup nyaman dengan suhu tersebut, obat antipiretik tidak diperlukan dan lebih baik beristirahat sebagai kompensasi hilangnya energi akibat pembentukan panas.

Walau demikian, penting untuk waspada, sebab demam adalah gejala penyakit yang paling umum dan paling sering dijumpai. Tidak perlu terburu-buru minum atau meminumkan obat penurun panas. Tindakan yang paling bijaksana adalah istirahat, mengukur suhu, mencatat suhu, dan mengawasi pola demam.

Catatan anda yang berisi fluktuasi suhu selama satu hari akan membantu dokter untuk mengerucutkan kemungkinan penyebab demam. Sebagai contoh, pada demam (berdarah )dengue, penderita akan mengalami panas tinggi mendadak pada tiga hari pertama, disusul penurunan suhu pada dua hari berikutnya, disusul kenaikan kembali (tidak mencapai suhu panas pertama) pada dua hari berikutnya.

Penting pula untuk mencatat apakah demam tersebut muncul berulang dengan periode waktu tertentu, pemicunya, mereda dengan apa, dan apakah fungsi sosial anda terganggu oleh demam. Sebagai contoh, gejala khas malaria adalah demam berulang pada hari ketiga atau keempat. Siklus demamnya khas, diawali dengan panas dan menggigil, gelisah, dan diakhiri dengan keringat banyak dan tidur pulas.

Pada anak-anak, dokter anak akan sangat terbantu apabila orang tua dapat menceritakan waktu pertama kali timbul panas (pagi, siang, sore, malam), apakah ada aktivitas sebelumnya yang terganggu (misalnya: tidak masuk sekolah), apakah ada kelesuan beberapa hari sebelum demam (tidak mau bermain), dan bagaimana gambaran suhunya ketika mulai panas (langsung panas tinggi atau tidak).

Tidak semua demam pada setiap waktu memerlukan pemeriksaan darah di laboratorium. Ingatlah bahwa pemeriksaan darah ini adalah pemeriksaan penunjang. Penggalian riwayat dan pemeriksaan fisik oleh dokter biasanya sudah bisa mengerucutkan penyebab penyakit, sehingga pemeriksaan darah dibatasi yang penting dan menunjang diagnosis saja. Pemeriksaan laboratorium yang tidak perlu (misalnya periksa Widal pada hari ketiga demam tinggi) hanya akan memboroskan sumber daya tanpa manfaat yang berarti.

Harapan Tentang Pemberantasan HIV AIDS

Harapan tentang pemberantasan HIV AIDS –terutama pada anak–  yang perlu mendapatkan dukungan kita semua

Perayaan Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) pada Jumat, 1 Desember 2017 memiliki tema ‘hak atas sehat’ (Right to health), dengan menyoroti hak 36,7 juta orang atau semua orang yang hidup dengan HIV, untuk tetap sehat. Apa yang harus disadari?

Pada tahun 2015, para pemimpin global telah menandatangani Sasaran Pembangunan Berkelanjutan, dengan tujuan  untuk mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC) pada tahun 2030. Di bawah slogan “Everybody counts“, 36,7 juta orang tersebut harus memperoleh akses terhadap obat yang aman, efektif, berkualitas dan terjangkau, termasuk prosedur diagnostik dan layanan perawatan kesehatan yang dibutuhkan, sekaligus  memastikan bahwa mereka dilindungi terhadap risiko beban pembiayaan. Dengan UHC, maka tidak boleh ada lagi orang yang tertinggal, layanan kesehatan harus yang berkualitas tinggi, dan layanan HIV, tuberkulosis dan hepatitis harus terintegrasi. Selain itu,  orang yang hidup dengan HIV, termasuk anak, memiliki akses terhadap perawatan yang terjangkau.

Secara global diperkirakan 3,2 juta anak hidup dengan HIV pada akhir tahun 2013. Infeksi HIV pada anak terutama disebabkan penularan dari ibu, yaitu pada periode kehamilan, selama dan setelah persalinan. Data dari Ditjen PP & PL Kemkenkes RI pada 18 Mei 2016 menunjukkan bahwa, sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Desember 2016,  HIV-AIDS tersebar di 407 (80%) kabupaten/kota di seluruh  Indonesia. HIV-AIDS pertama kali ditemukan di Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2012.

Kemenkes juga melaporkan prevalensi HIV/AIDS sudah turun menjadi 0,33% (697.142 orang) di tahun 2016. Hingga Juli tahun 2017, yang masih terus mendapatkan obat ARV (Anti Retro Viral) sebanyak 83.517 orang. Dengan intervensi yang manjur (efficacious interventions), risiko penularan HIV dari ibu-ke-bayi  (mother-to-child HIV transmission) dapat dikurangi menjadi 2%.  Namun, intervensi semacam itu masih belum dapat diakses secara luas atau tersedia di kebanyakan negara atau daerah yang terbatas sumber daya, tetapi beban HIV tinggi.  Jumlah anak di bawah 15 tahun yang menerima ARV di negara berpenghasilan rendah dan menengah meningkat dua kali lipat dari tahun 2009 sampai 2013, dari 355.000 sampai 740.000 orang.  Pada akhir tahun 2013, kurang dari seperempat (23%) anak yang hidup dengan HIV menerima ARV di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dibandingkan dengan lebih dari sepertiga (37%) dari orang dewasa pada tahun 2009.

Kementerian Kesehatan RI Tahun 2014 memberikan panduan kapan kita harus memikirkan adanya infeksi HIV pada anak, dengan cara  melakukan temuan kasus (case finding).  Masalah terbesar adalah menentukan cara diagnostik yang terbaik.  Bayi dan anak wajib menjalani tes HIV, apabila anak menderita penyakit yang berhubungan dengan HIV, seperti  TB berat atau mendapat OAT berulang, malnutrisi, atau pneumonia berulang, dan diare kronis atau berulang. Juga bayi yang  lahir dari ibu terinfeksi HIV dan sudah mendapatkan perlakuan pencegahan penularan dari ibu ke anak. Selain itu, bila  salah satu saudara kandungnya didiagnosis HIV; atau salah satu atau kedua orangtua meninggal oleh sebab yang tidak diketahui, tetapi masih mungkin karena HIV. Kasus lain adalah anak yang terpajan atau potensial terkena infeksi HIV, baik melalui jarum suntik yang terkontaminasi, menerima transfusi darah berulang ataupun  mengalami kekerasan seksual.

Untuk memastikan diagnosis HIV pada anak dengan usia < 18 bulan, dibutuhkan uji virologi HIV  yang dapat memeriksa virus atau komponennya.  Anak dengan hasil uji virologi HIV positif pada usia berapapun, artinya terkena infeksi HIV. Bila ada anak berumur < 18 bulan dan dipikirkan terinfeksi HIV, tetapi perangkat laboratorium untuk PCR HIV tidak tersedia, dokter diharapkan mampu menegakkan  diagnosis presumtif atau dugaan.

Dugaan infeksi HIV harus ditentukan apabila ada 1 kriteria berikut:  PCP (Pneumocystis Carinii Pneumonia), meningitis kriptokokus, kandidiasis esophagus, toksoplasmosis, atau malnutrisi berat yang tidak membaik dengan pengobatan standar.  Selain itu, bila ditemukan minimal ada 2 gejala berikut : oral thrush, pneumonia berat, sepsis berat, penyakit atau kematian ibu yang berkaitan dengan HIV, atau CD4+ T Lymphocyte  <20%.

Oral thrush adalah lapisan putih kekuningan di atas mukosa lidah (pseudomembran) atau bercak merah di lidah, langit-langit mulut atau tepi mulut, yang disertai rasa nyeri, dan tidak bereaksi dengan pengobatan zalf anti jamur. Pneumonia adalah batuk atau sesak napas pada anak dengan adanya tarikan dinding dada, suara napas tambahan (stridor),  penurunan kesadaran, tidak dapat minum atau menyusu, muntah, dan adanya kejang selama episode sakit sekarang, meskipun dapat membaik dengan pengobatan antibiotik. Sepsis adalah demam atau hipotermia pada bayi muda, dengan tanda yang berat seperti bernapas cepat, tarikan dinding dada, ubun-ubun besar menonjol, letargi, gerakan berkurang, tidak mau minum atau menyusu, dan kejang.

Pemeriksaan uji HIV cepat (rapid test) pada anak dengan hasil reaktif, harus dilanjutkan dengan 2 tes serologi yang lain.  Bila hasil pemeriksaan tes serologi lanjutan tetap reaktif, anak harus segera mendapat obat ARV. Sedangkan diagnosis infeksi HIV pada anak > 18 bulan sudah dapat menggunakan cara yang sama dengan uji HIV pada orang dewasa.  Perhatian khusus harus diberikan untuk anak yang masih mendapat ASI pada saat tes dilakukan,  karena uji HIV baru dapat diinterpretasi dengan baik, apabila ASI sudah dihentikan selama > 6 minggu. Pada anak umur > 18 bulan, ASI bukan lagi sumber nutrisi utama. Oleh karena itu, cukup aman bila ibu diminta untuk menghentikan ASI sebelum dilakukan diagnosis HIV.

Momentum Hari AIDS Sedunia Jumat, 1 Desember 2017 juga mengingatkan tentang slogan kampanye global  *’Stop AIDS. Keep the Promise’.* Slogan yang digunakan sepanjang tahun itu untuk meminta  pertanggungjawaban pemerintah atas komitmennya terkait HIV dan AIDS, juga pada anak  di semua negara, termasuk Indonesia.

Sekian
Semoga bermanfaat.

Terimakasih.

Yogyakarta, 28 November 2017
*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Siloam dan RS Panti Rapih  Yogyakarta, Alumnus S3 UGM,

WA: 081227280161

e-mail :  fxwikan_indrarto@yahoo.com