Diet Vegan Mengurangi Risiko Diabetes

Penelitian terakhir the Adventist Health Study memperlihatkan penurunan risiko terkena DM yg signifikan pada kelompok vegan jika dibandingkan pada kelompok pemakan daging (nonvegan). Dari populasi ~60 000 pria dan wanita pengikut diet vegan yg diteliti dalam penelitian tsb ditemukan prevalensi diabetes lebih-kurang sepertiga dari prevalensi DM pada nonvegan (2.9% vs 7.6%), sementara kelompok lakto-ovo vegetarian (vegan yg masih makan telur dan produk susu), pesco-vegetarian (vegan. yg juga makan ikan), dan  semivegetarian (vegan yg makan ikan atau unggas kurang dari sekali seminggu), memiliki prevalensi DM di antaranya, yaitu masing2 sebesar 3.2%, 4.8%, and 6.1%.

Mengapa demikian ?

Ada beberapa hipotesis yg dikemukakan utk menjelaskan hasil penelitian di atas. Dalam hal ini makanan vegan yg dimaksud berupa makanan alami yang tadu biji-bijian utuh dan sereal sebagai sumber KH, kacang-kacangan sebagai sumber protein, sayur dan buah. Jadi bukan tepung gandum, roti atau mie dan makanan olahan lain termasuk gluten dari tepung terigu yang dijadikan bahan pangan pengganti daging.

Hipotesis tsb a.l.

1. Kelompok vegan memiliki profil lipid yg lebih baik daripada nonvegan mengingat makanan vegan tidak mengandung kolesterol (yg menjadi ciri lemak hewani krn senyawa sterol dlm nabati adalah fitosterol atau sitosterol yg justeru mampu menurunkan kadar kolesterol darah) tapi kaya akan serat. Sebaliknya makanan hewani kaya akan kolesterol tapi tidak mengandung serat.

Gangguan pada profil lipid (dislipidemia) ternyata meningkatkan risiko terkena gangguan metabolisme KH yg kita kenal sebagai penyakit DM.

2. Serat solubel dalam makanan vegan bukan hanya menurunkan indeks glisemik makanan (IG mengukur berapa besar kenaikan kadar gula darah setelah seseorang makan makanan tertentu dibandingkan gula glukosa) tetapi juga menghambat kerja enzim termasuk alfa-glikosidase yg memfasilitasi penyerapan gula di dalam usus.

Asupan serat yg tinggi juga memperlambat pengosongan lambung dan menurunkan kadar gula darah sesudah makan di samping mengurangi pula respons insulin (mencegah hipoglikemia pada pasien DM).

3. Kelompok vegan ternyata memiliki tubuh yg lebih ramping daripada nonvegan. Dalam penelitian di atas, indeks massa tubuh (BMI atau body mass index) pada vegan rata-rata sebesar   23.6 (di bawah nilai 25 yg menjadi batas kegemukan pada orang barat) sedangkan BMI rata2 pada nonvegan adalah 28.8 (di atas nilai 25). Orang yg gemuk memiliki risiko terkena pradiabetes (sindrom metabolik) dibandingkan orang yg tubuhnya normal yaitu BMI antara 18 dan 25.

4. Senyawa heme yg banyak dalam daging ternyata dapat menjadi radikal bebas yg merusak sel beta penghasil insulin dalam pankreas. Sebaliknya heme atau zat besi organik dalam sayuran dan kacang2an yg berwarna merah (bit merah, bayam merah dan kacang polong) tidak sebanyak daging shg mengurangi bahaya radikal bebas di dalam tubuh.

5. Daging sering mengandung nitrosamin yg merupakan hasil penguraian bahan pengawet daging sodium nitrit ketika daging itu dibakar atau digoreng. Nitrosamin bukan hanya menyebabkan kanker tapi juga dapat merusak sel beta.

Nitrosamin ditemukan bersifat toksik bagi sel beta pankreas dan meningkatkan risiko DM tipe 1 dan tipe 2 pada percobaan binatang dan risiko DM tipe 1 pada beberapa penelitian epidemiologi.

6. Makanan nabati umumnya kaya akan magnesium krn kandungan klorofilnya. Ingat, hemoglobin dan mioglobin dalam sel darah merah dan otot/daging memiliki inti zat besi yg membuatnya berwarna merah sementara klorofil dalam sayuran hijau dan kacang hijau memiliki inti magnesium yg membuatnya berwarna hijau.

Korelasi terbalik antara risiko DM dan asupan magnesium mungkin disebabkan oleh efeknya pada sensitivitas insulin, kerja insulin, dan metabolisme glukosa.

 

Sumber referensi:

Kate Marsh, PhD; Jennie Brand-miller, PhD,
Vegetarian Diets and Diabetes,  Am J Lifestyle Med. 2011;5(2):135-143. © 2011 Sage Publications, Inc.